Chapter 3: That Student Knows
.
Ini dia chapter3!~ *ditimpukin* Oke, maap kalo lama, dan untuk ke depannya bakal lebih lama lagi!~ *makin ditimukin*
Okelah!~ Silahkan langsung baca!~
Disclaimer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso-sensei! Saya cuma pinjem chara-chara-nya yang super keren!~
Warning: AU, typo(s), OOC, gender bender, SebasxFem!Ciel, alurnya kelambatan gak sih? *plak* And at least DLDR!
"Ya, ya. Baiklah, selama masih belum genting jangan libatkan aku, ya! Selamat bekerja!" ucap Ronald sambil beranjak pergi meninggalkan rekannya yang sedang mendengarkan pembicaraan di rumah Sebastian.
"Huh, sesukamulah!" gerutu pria itu sambil kembali fokus mendengarkan.
Red Moon
by: Kuroschiffer P.
…
"Hei, sekarang sudah cukup sore. Ibuku akan mengomel kalau aku pulang larut!" kata Elizabeth mengingatkan ketiga temannya yang sampai sekarang masih asyik coretbertengkarcoret bercanda.
"Ah, iya! Benar juga pasti dari tadi sudah menunggu." ujar Alois menambahkan sambil melirik jam dinding yang tergantung di dinding ruang tamu Sebastian.
"Ya, ya. Memang dari tadi aku sudah ingin pulang! Kalau saja kau tidak cari gara-gara denganku, Alois!"gerutu Ciel sambil terus memelototi Alois.
"Ah masa? Harusnya kau senang, dong menjenguk Sebastian sang pacar tercinta!~" goda Alois yang sukses membuat Ciel kembali naik pitam dan melempari Alois dengan segala macam barang yang ada di meja tamu Sebastian.
"Oi, oi! Kalau mau mengamuk jangan di rumah orang lain! Tak sopan, 'kan?" ucap Sebastian sambil menghentikan tangan Ciel yang sudah siap untuk melempari Alois. Nada kesal terselip di kata-katanya.
"Huh, masa bodoh! Aku tak takut kelihatan tidak sopan, apalagi di depanmu! Aku juga rela-rela saja jika disuruh membuat ruang tamumu seperti kapal pecah!" ucap Ciel sekarang menentang Sebastian. Sedikit serabut merah menghiasi pipinya karena tangan Sebastian kembali memegangi tangannya.
"Ow! Sekarang pertengkaran suami-istri telah dimulai nih!" celetuk Alois tiba-tiba yang langsung dihadiahi death glares dari kedua remaja yang tadinya saling adu kata-kata.
Tampaknya Ciel mulai terbiasa menghadapi ledekan-ledekan Sebastian serta keisengan Alois. Buktinya ia sudah mulai bisa menjawab dan menanggapi tiap perkataan mereka walaupun sifat pemarahnya masih tetap menguasai.
Setelah keempat remaja itu cukup puas berteriak-teriak, tertawa, dan semacamnya, mereka memutuskan untuk pulang. Alois, Elizabeth, serta Ciel keluar dari apartemen Sebastian. Ciel kemudian mengantar dua sahabatnya itu ke lantai dasar dan kembali ke ruangannya sendiri. Sesampainya Ciel di apartemennya, ia melirik jam dinding yang menggantung di atas buffet sebentar.
"Ha-ah? Sudah jam 8 saja. Perasaan waktu keluar tadi baru jam 4-an deh!" ucap Ciel sambil mendudukkan tubuh kecilnya ke sofa.
"Maylene pasti sudah pulang." gumam Ciel lagi sambil beranjak dari sofanya dan berjalan ke balkon apartemennya.
Tirai merah marun yang menutupi jendela balkon ia sibakkan. Ia pun memutar kenop kunci yang mengunci jendela besar setinggi 2,5 meter itu. Saat jendela itu terbuka sedikit, angin malam mulai terasa dan masuk melalui celah itu. Ciel pun melangkahkan kakinya keluar dan merasakan angin malam membelai tubuhnya hingga ujung rambutnya ikut menari.
Ya, beginilah kebiasaan Ciel saat malam hari bila ia sedang tidak ada kerjaan. Keluar balkon dan menatap pemandangan malam kota London dari atas sini. Yang paling sering ia amati di saat seperti ini adalah langit malam nan kelam yang ditaburi gemerlap bintang dan cahaya rembulan yang teduh.
Bulan di saat itu hampir purnama. Mungkin besok lusa baru akan purnama? Ciel terus diam melamun sambil menatap keluar.
"Oi, tidak baik melamun malam-malam! Nanti kesambet, lho!" ujar suara yang sangat tidak asing di telinga Ciel tiba-tiba.
"Huh, suka-sukaku 'kan? Kau sendiri ngapain keluar malam-malam begini, eh?" tanya Ciel sambil menengokkan kepalanya ke asal suara yang ternyata milik Sebastian.
Ingat kalau mereka bertetangga? Balkon mereka juga sudah pasti bersebelahan dan hanya terpisah sejarak 32 kaki.
"Aku hanya iseng keluar balkon, kok. Kemudian aku lihat kau sedang bengong sendiri, makanya aku di sini." jawab Sebastian sambil menatap ke bawah.
"Aku tak perlu ditemani. Sudah kau masuk sana! Nanti kau bakal masuk angin dan tak sembuh-sembuh!" ujar Ciel kembali mengalihkan kepalanya ke langit kelam yang terhampar di atasnya.
"Oh, jadi kau ingin aku cepat-cepat masuk sekolah, begitu? Ahaha, terima kasih sudah khawatir padaku, Ciel!" seru Sebastian sambil tersenyum dan menengokkan kepalanya ke arah Ciel.
"Siapa yang khawatir? Aku cuma ingin sendiri sekarang!" sergah Ciel sambil membuang muka ke arah yang berlawanan dengan Sebastian. Ia tidak ingin wajahnya yang sekarang agak memerah dilihat Sebastian.
"Oh begitu." jawab Sebastian pelan sambil kembali menatap ke bawah.
Sekarang, tak ada yang berniat bicara atau pun beranjak dari tempatnya masing-masing. Keheningan menimpa mereka sesaat. Ciel merasa sedikit terganggu dengan keheningan ini. Menurutnya lebih baik jika Sebastian pergi atau meledeknya seperti biasa. Karena kalau diam seperti ini entah mengapa Ciel merasa sedikit―sangat―gugup dan canggung.
"Hei, Ciel!" ucap Sebastian tiba-tiba membuka pembicaraan.
"A-Apa?" jawab Ciel sedikit terbata.
"Tidak, aku hanya heran kenapa kau bisa bersikap dingin terhadap orang? Aku tau sebenarnya kau orang yang baik!" ujar Sebastian sambil menatap Ciel yang sekarang terdiam.
"Aku tidaklah baik!" bantah Ciel sambil tertunduk.
"Aku juga tidak tau apa yang membuatku menjadi dingin dan pemarah seperti ini. Kata orang, aku yang dulu sangatlah ceria dan sering tersenyum. Kata mereka, aku menjadi begini setelah orang tuaku tiada. Aku…" jeda Ciel "...Ah, aku ini ngomong apa sih? Maaf kau jadi dengar yang tidak-tidak, Sebastian!" ucap Ciel sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum dipaksakan.
Ciel sendiri heran, mengapa ia jadi bicara panjang lebar dan agak melantur begitu. Tetapi, dalam hatinya merasa sedikit lega setelah menceritakannya kepada orang lain.
Sebastian yang merasa tidak enak ikut terdiam. Ia sendiri agak kaget mendengar Ciel mengucap kata 'Maaf' padanya. Ia pun kembali menatap Ciel yang sedang tertunduk dan berniat menghampirinya. Ia pun melompati pagar pembatas balkon dan kembali melompat menuju balkon Ciel.
Tep
"Maaf aku jadi membuatmu mengingat hal yang macam-macam." ucap Sebastian sambil mengangkat wajah Ciel yang tertunduk dengan memegang ujung dagunya dengan ibu jarinya.
Serabut merah menghiasi kedua pipi putih Ciel seketika. Degup jantungnya pun berdetak lebih cepat dari yang biasanya. Kedua cerulean-nya bertatapan langsung dengan kedua crimson yang berkilau indah tertimpa cahaya bulan dan menyebabkan gadis berambut kelabu itu gugup seketika.
"E-e... A-ah, ak-aku s-su-sudah tak apa-apa, kok!" jawab Ciel kentara sekali sangat gugup.
Ciel langsung memalingkan wajahnya yang sekarang entah sudah semerah apa. Jantungnya bertalu-talu seakan bisa melompat keluar saat itu juga.
"E-err, terima kasih, Sebastian." gumam Ciel sangat pelan namun masih dapat tertangkap oleh telinga Sebastian.
"Ha? Untuk apa?" tanya Sebastian bingung sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Ah, pokoknya aku hanya ingin berterima kasih! Itu saja!" ucap Ciel salah tingkah sambil terus membuang muka dari hadapan Sebastian.
"Huh, dasar aneh!" jawab Sebastian sambil menepuk kepala Ciel dan tersenyum serta menggumamkan sesuatu—Ciel tak melihat dan mendengarnya.
"Ih, apa sih, kau? Dasar gak sopan!" gerutu Ciel sambil menjauhkan tangan Sebastian dari kepalanya karena hal itu—menurut Ciel—bisa menyebabkan dirinya pingsan mendadak disebabkan banyaknya darah yang naik ke wajahnya.
"Hei, ngomong-ngomong, bagaimana caramu bisa melompat sampai ke sini? Jarak balkon kita 'kan lumayan jauh." tanya Ciel bingung sambil menengok ke arah Sebastian dan mencoba menetralisir detak jantungnya yang tadi sempat tak normal. Rasa heran mulai mengambil alih pikirannya.
Tentu saja heran! Setaunya lompatan terjauh yang tercatat di buku rekor oleh Mike Powell hanya sejauh 29 kaki. Bagaimana bisa seorang Sebastian Michaelis yang hanya murid biasa melampaui rekor seorang atlet pelompat jauh yang terlatih? Sekarang rasa heran memuncak dalam pikiran Ciel.
Sebastian yang merasa dirinya dipandangi dengan tatapan terintimidasi hanya balas menatap Ciel sambil tersenyum tak berdosa.
"Apanya yang jauh? Lihat saja ke samping. Hanya terpisah 18 kaki, kok!" ucap Sebastian enteng.
Ciel pun menengokkan kepala. Ia agak terkejut dan bingung. Ia berani jamin, selama ia tinggal di sini ia hafal betul jarak, ukuran, serta bentuk apartemennya luar dalam. Ia sangat yakin selama ini jarak balkon antar apartemen tidaklah sedekat ini.
Ia mengucek matanya berkali-kali—berusaha meyakinkan diri. Tetapi, tetap jarak antar balkon mereka tak berubah. Kemudian ia menengok ke arah balkon tetangga lainnya tetapi hasilnya tetap sama. Dekat.
"Hah! Bagaimana bisa?" gumam Ciel terheran-heran.
"Bagaimana apanya?" tanya Sebastian balik.
"Tidak, aku merasa jarak antar balkon tiap apartemen tidaklah sedekat ini seharusnya!" ujar Ciel kentara sekali rasa herannya.
"Huh, apa sih maksudmu? Bukannya dari dulu memang jaraknya segini, ya?" bantah Sebastian sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Ah, masa sih? Aku 'kan sudah lama tinggal di sini! Aku tau benar jaraknya, kok!" seru Ciel masih bertanya-tanya. "Argh, sudahlah, aku bingung!" ujar Ciel pada akhirnya sambil memegang sebelah kepalanya.
"Ih, kau saja yang aneh sendiri!" cibir Sebastian.
"Sudah ah! Kau pulang sana! Mengganggu saja!" omel Ciel sambil kedua pipinya bersemu merah.
"Huh, kau kerjanya marah-marah melulu, ah! Dasar imut!" ujar Sebastian sambil mencubit pipi kana Ciel dengan gerakan cepat.
"Akh, apa-apan, sih!" omel Ciel bersemu kemudian menoleh ke arah Sebastian yang sekarang sedang bersiap melompat kembali ke apartemennya.
"Ahahaha… Sayonara, Ciel!" teriak Sebastian dari balkonnya dan bersiap masuk ke apartemennya.
"Huh, dasar menyebalkan!" teriak Ciel balik sambil menjulurkan lidah dan ujung telunjuk di bawah matanya.
Sedangkan orang yang diledek hanya tertawa dan masuk ke apartemennya tenang-tenang saja.
Setelah Sebastian masuk ke dalam apartemennya, Ciel kembali termenung menghadap langit kelam di atasnya. Tanpa sadar, tangannya sekarang memegang pipi kanannya yang tadi sempat dipegang oleh Sebastian. Tiba-tiba pipinya bersemu kemerahan dan jantungnya berdetak lebih cepat dari semula.
"Argh! Kenapa jadi kepikiran?" gerutu Ciel. "Lebih baik aku tidur saja." ujarnya sambil berbalik kembali ke apartemennya.
…
Permata kebiruan indah itu terbuka perlahan. Sedikit pening tersisa di kepalanya.
"Ugh, sekarang lebih baik!" ucap Ciel sambil memegangi sebelah kepalanya dan mengucek matanya.
Semalam, saat Ciel sudah sampai di tempat tidur, tiba-tiba kepalanya terasa berat dan sangat pening. Ciel sendiri heran karena setaunya kondisi tubuhnya kemarin siang sehat-sehat saja. Dan pagi ini, rasa pening itu sudah hampir menghilang sepenuhnya.
Ciel beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi serta bersiap berangkat ke sekolah. Sesampainya Ciel di halte bis tempatnya biasa menunggu bis arah sekolahnya, pemuda berambut hitam telah berdiri di antara orang-orang.
Seperti biasa pula, pemuda itu menghampiri Ciel dan bermaksud berangkat bersama dengannya. Pagi yang agak cerah ini berlangsung seperti pagi-pagi biasanya. Si pemuda asyik meledek dan mengisengi sedangkan si pemudi sibuk melempar death glare serta omelan menanggapi ocehan si pemuda tadi.
Bis yang mereka naiki pun sampai di Lanchester High School. Seperti hari-hari sebelumnya, Sebastian tidaklah masuk bersama-sama Ciel. Ia selalu menghilang entah ke mana. Sedangkan Ciel tidak mempermasalahkan hal itu dan langsung melangkahkan kakinya ke halaman depan Lanchester High School.
"Cieeeeel!~" pekik suara yang tak asing dari belakang.
Ciel menengok dan melihat sepupunya yang berambut kuning sudah mendekapnya dari belakang.
"Ugh, Liz-Lizzie! Ha-haruskah k-ki-kita s-se-lalu mm-me-lak-k-kukan ini ti-tiap p-pagi?" ucap Ciel terengah sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Elizabeth.
"Hihi, maaf, ya! Habis kau selalu imut, sih tiap hari!" ujar Elizabeth senang sambil menggandeng lengan Ciel untuk masuk ke kelas.
Sesampainya di kelas, kondisinya tidaklah berubah. Selalu penuh oleh murid yang berlalu lalang, mengobrol, dan lain-lain. Alois terlihat sedang menaruh tasnya di mejanya. Tampaknya ia juga baru sampai.
"Hoi, Lizzie, Ciel!" sapa Alois sambil menyuruh kedua sahabat itu menghampirinya.
"Pagi, Alois!" balas Elizabeth sambil tersenyum dan menaruh tasnya di meja.
"Hei, kalian nonton Headline News tadi malam tidak?" tanya Alois antusias kepada dua orang teman dekatnya itu.
"Tidak, memangnya ada apa?" jawab Ciel sambil menggeleng dan duduk di bangkunya.
"Oh, aku nonton, kok! Ya, benar-benar berita yang sangat aneh, ya?" ucap Elizabeth sambil ikut duduk di bangku menghadap Ciel.
"Memangnya ada apa sih?" tanya Ciel mulai penasaran.
"Itu lho! Terjadi pencurian bank besar-besaran kemarin di pusat London!" ujar Alois semangat sambil duduk menghadap Ciel di atas meja Sebastian yang masih kosong.
"Lho, bukannya pencurian itu hal biasa, ya?" kata Ciel sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Ya, memang biasa, tapi yang tak biasa adalah yang dirampok adalah bank darah central!" ucap Elizabeth memperjelas perkataan Alois sebelumnya.
"Hah? Untuk apa darah dicuri? Siapa pelakunya?" tanya Ciel heran dan bingung. Ia sendiri menganggap pelakunya konyol dan kurang kerjaan. Untuk apa coba mencuri darah?
"Nah, itu dia masalahnya! Sampai sekarang polisi masih menyelidiki motifnya. Bukti pun sama sekali tidak ditemukan. Pokoknya pencurian itu sangat rapi, deh!" ujar Alois semangat sambil tersenyum riang. Rupanya kasus ini memang kelihatan sangat menarik.
Lihat saja murid-murid lain yang sedang mengobrol. Rata-rata topik obrolan mereka sama seperti apa yang Alois katakan. Mereka juga menunjukkan ekspresi penasaran dan riang menceritakan hal yang menggemparkan itu.
"Ya, bahkan kalau jumlah stok darah yang terdapat di bank itu tidak di cek sore harinya, mungkin mereka tidak akan tau kalau berliter-liter darah di sana telah hilang dicuri." tambah Elizabeth riang karena rasa ingin taunya memuncak.
"Sampai seperti itukah? Berarti pencurinya hebat sekali, ya! Kenapa pencurinya tidak sekalian saja merampok bank Inggris? Pasti tak akan ketahuan juga." ucap Ciel sedikit antusias karena memang kasus ini menggelitik rasa penasarannya.
"Itu karena mereka tidak membutuhkan uang." jawab sebuah suara bass yang tak asing bagi mereka bertiga.
"Michaelis! Kau mengagetkan saja!" pekik Alois sambil melompat berdiri dari meja Sebastian.
Sedangkan Sebastian yang tadi hanya berdiri di belakang mereka hanya tersenyum—senyum khasnya—dan berjalan ke mejanya untuk menaruh tasnya.
"Sebastian, apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Elizabeth penasaran. Ciel juga ikut menoleh ke arah Sebastian walaupun dirinya malas melakukan hal itu.
"Ya seperti kata-katanya. Mereka memang tak membutuhkan uang, karena kalau iya mereka pasti sudah sering merampok bank Inggris dan sudah hidup sangat makmur sekarang. Dan siapapun pelakunya pastilah suatu organisasi dan bukan perorangan karena yang dicuri adalah darah dalam jumlah yang sangat banyak." jelas Sebastian santai dengan wajah yang santai pula.
"Sepertinya kau tau sesuatu, ya?" ujar Ciel sambil memandang malas Sebastian.
"Tidak juga, itu hanya pemikiran yang cukup logis 'kan?" ucap Sebastian balik.
KRIIIIIIIIINGG
Bel masuk pun berbunyi. Seperti pagi-pagi biasanya, anak-anak yang tadi bising dan ribut mulai tenang dan kembali ke tempatnya masing-masing. Ciel dan kawan-kawan juga kembali ke tempatnya masing-masing dan mengeluarkan buku pelajaran yang akan digunakan.
…
Sebastian melangkahkan kakinya ke halaman belakang sekolah yang agak sepi. Kegiatan yang biasa ia lakukan saat waktu istirahat tiba. Di halaman yang cukup luas itu, terdapat ruangan kecil terpisah dari gedung sekolah yang itu kecil dan usang serta hanya digunakan untuk petugas non-official sekolah seperti tukang kebun, tukang bersih-bersih, penjaga sekolah, dan semacamnya.
"Yo, Sebas!~ Apa yang kau lakukan di sini?" tanya tukang kebun nyentrik bermata hijau terang berambut hitam jabrik(1).
"Seperti tak tau saja! Sudah pasti dia mau minta itu 'kan?" jawab seorang pemuda berambut kuning sebahu bermata hijau terang yang parasnya agak mirip perempuan(2).
"Memang kemarin kau tidak ambil jatahmu, eh?" tanya tukang kebun berambut hitam tadi.
"Huh, mana sempat? Kemarin setelah melakukannya aku langsung mati-matian pulang!" tukas pemuda bermata ruby itu sambil duduk dan menyambar tas hitam yang tadi tergeletak bebas di atas meja.
"Hahaha, kasihan sekali dirimu, Sebby! Memang susah, ya jadi keturunan asli?" ujar pemuda berambut kuning tadi sambil menepuk pundak Sebastian.
"Jangan begitu, lah!~ Biar begini dia juga kesayangan orang itu 'kan?" tambah tukang kebun jabrik tadi sambil tertawa kecil dan melirik ke arah Sebastian.
"Kalian ini! Itu karena aku satu-satunya. Sudah ah, jangan banyak omong. Kalian tak mau 'kan omongan barusan terdengar oleh orang lain?" ujar Sebastian santai sambil merogoh isi tas hitam tadi.
"Tentu saja, Sebby! Lagipula siapa juga yang akan mendengar omongan kita tadi?" ucap si rambut jabrik hitam santai.
"Jangan begitu! Sebby ada benarnya juga. Nah, kalau urusanmu sudah selesai lebih baik kau kembali sana! Sebelum ada yang lihat." kata pemuda berambut kuning tadi.
"Huh, tanpa kau ingatkan pun aku tau! Sudah, ya." ucap Sebastian sambil beranjak dan bersiap keluar dari tempat itu.
"Oh iya, jangan sembarangan meletakkan tas itu. Kalian tak mau kena hukum orang itu 'kan? Dah!" ujar Sebastian sesaat sebelum ia melangkah keluar dari pintu dan menghilang dari pandangan kedua orang itu.
…
"Ciel, tunggu dong!" tukas Sebastian yang sedang berlari kecil mengejar Ciel yang sedang berjalan menuju halte tempat mereka biasa menunggu bis untuk pulang.
"Apa sih? Kalau mau pulang, pulang saja sendiri." ucap Ciel menghentikan langkah dan menengokkan kepalanya ke belakang.
"Ih, kau ini makin lama makin galak saja, sih? Ah, tapi tak apalah, dengan begini kau tambah imut!~" goda Sebastian sambil menyamakan langkahnya dengan Ciel.
"Hhhh! Sesukamulah! Sudah, pulang sana!" tukas Ciel sambil melambaikan tangannya―mengusir Sebastian.
"'Kan aku pulang sama kau, Ciel!~" jawab Sebastian enteng sambil menoleh ke arah Ciel.
"Hari ini aku tidak langsung pulang, kok! Jadi aku bisa terbebas darimu siang ini!~" jawab Ciel balik sambil tersenyum penuh kemenangan dan balas menoleh ke arah Sebastian.
"Kalau begitu aku ikut denganmu saja agar kau tetap dalam pengawasanku!~"sahut Sebastian riang sambil balas tersenyum menggoda. –Pas ngebayangin, Author pingsan di tempat-
"AP-APA? Tidak mau! Aku tidak perlu kau awasi, ya!" protes Ciel penuh dengan nada penolakan sambil menggeleng.
"Harus mau! Aku ini 'kan teman yang baik yang mau menemanimu ke manapun kau pergi!~" jawab Sebastian ringan.
"Apanya yang teman? Kau seperti stalker, tau! Sudah pulang, sana!" usir Ciel.
"Ah, kau jahat sekali, sih! Kalau kau ngomel terus, lama-lama aku serang, lho! Habis kalau ngomel kau makin imut, sih!~" ucap Sebastian iseng tetapi jujur.
"Ih, apaan sih? Dasar mesum! Pervert! Malah makin seram kalau aku ditemani olehmu!" geram Ciel salah tingkah dan pipinya mulai memerah.
"Ahaha, aku 'kan cuma bercanda! Tapi memang benar, sih kalau kau ngomel mukamu jadi super duper imut! Hahaha…" jawab Sebastian sambil tertawa-tawa kecil.
"Berisik, ah! Bercandamu gak lucu, tau!" ucap Ciel lagi makin salah tingkah.
Mereka berdua melangkahkan kaki mereka menuju bis yang sudah sampai. Seperti hari-hari kemarin, Ciel duduk di dekat jendela dengan Sebastian di sampingnya.
"Hahaha, oke-oke! Memangnya kau mau ke mana?" tanya Sebastian setelah puas menggoda Cielnya. Cielnya? Tidak, Ciel bukan miliknya. Belum.
"Ke London Cemetery. Memangnya kau mau ikut ke tempat macam itu, eh?" tanya Ciel balik dengan nada rendah.
"Hm? Memang kenapa? 'Kan aku sudah bilang, ke manapun aku akan temani! Kau mau berziarah ke makam siapa?"
"Orang tuaku. Tiap minggu di hari Rabu aku selalu ke sana. Yah, kau tau, melepas rindu." ujar Ciel lirih di akhir.
"Oh, begitu. Kau memang benar-benar baik, ya!" ucap Sebastian sambil memandang lurus ke depan.
"Huh, sudah kubilang. Aku tidak baik! Bahkan saat mereka meninggal, aku tak ada di samping mereka." ujar Ciel masih dengan nada sedikit rendah.
Sebastian hanya diam dan mendengarkan. Rasa sedih sedikit menyelip di hatinya. Entah mengapa, tiap emosi yang dirasakan Ciel bisa dia rasakan juga. Sebastian sendiri bingung ia bisa memiliki perasaan seperti itu. Seharusnya ia tidak boleh memiliki emosi apapun apalagi saat sedang menjalani misinya.
"Kau masih bilang dirimu tidak baik? Lalu, menurutmu aku ini bagaimana? Aku ada di dekat mereka tetapi aku tak bisa menyelamatkan mereka. Aku terlalu lemah dan bodoh tidak bisa menyelamatkan mereka waktu itu. Bahkan aku tidak tau di mana makam mereka!" ucap Sebastian lirih. Nada bicaranya benar-benar sedih dan menyimpan banyak penyesalan.
"Ah, maaf aku jadi bercerita panjang lebar begini! Aku harusnya menghiburmu, ya? Bukannya membuatmu makin sedih!" kata Sebastian lagi sambil tersenyum khasnya dan menoleh ke arah Ciel yang sedari tadi masih terpaku dengan kata-kata Sebastian.
"E-eh, tak apa, kok, Sebastian! Aku seharusnya yang minta maaf hingga membuatmu mengingat hal yang paling ingin kau lupakan. Aku tidak tau kalau kau sama denganku. Aku—" ucap Ciel terpotong karena dihalangi telunjuk Sebastian yang menempel di bibirnya.
"Sst… Tidak apa-apa, kok! Oh, iya, kau tidak membawa bunga kalau mau ziarah?" ucap Sebastian mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Toko bunga dekat dengan letak pemakaman, kok! Jadi sekali jalan bisa." jawab Ciel.
"Oh, okelah. Aku kira kau mengunjungi orang tuamu tanpa membawa apapun." respon Sebastian sambil terkikik pelan.
"Enak saja. Aku tidaklah sepelit itu hingga membeli bunga saja tak bisa!" gerutu Ciel sambil menggembungkan pipinya sedikit.— Author mimisan pas ngebayangin itu.—
"Hihihi, kau makin imut tau kalau seperti itu!" ucap Sebastian sambil mencubit pipi Ciel dengan kedua tangannya.
"A-ah! Ampun! Sakit tau!" protes Ciel gelagapan karena jarak mereka sangat dekat ditambah kedua tangan Sebastian di wajahnya hingga menimbulkan efek sengatan kecil aneh bagi Ciel.
"Hahahaha!~ Benar-benar, deh kau ini!" ucap Sebastian balik sambil terus terkekeh senang.
Bis yang mereka tumpangi sampai di halte tujuan mereka. Mereka berjalan ke toko bunga dan membeli dua ikat white lily. Sesampainya di London Cemetery, mereka melangkahkan kaki memasuki area suram khas pemakaman.
Mereka menyusuri jalan setapak yang terbuat dari semen dan ditaburi bebatuan konglomerat. Disekeliling jalan itu sudah dapat dipastikan makam-makam orang berjejer rapi. Suasana suram khas pemakaman terasa jelas. Siang itu tak terlalu banyak peziarah yang datang dikarenakan hari kerja.
Akhirnya mereka sampai di depan makam bernisan salib hitam besar terbuat dari marmer yang berdiri berdekatan. Terukir nama pemilik makam tersebut. Tulisan yang terpatri di salib kiri sebagai berikut;
In Memory of
Vincent Phantomhive
Died: Decemeber 13th, 1999
Born: June 18th, 1963*
Sedangkan yang terukir di salib kanan, yaitu;
In Memory of
Rachel Phantomhive
Died: Decemeber 13th, 1999
Born: October 2nd, 1965*
Ciel berlutut di antara kedua malam orang tuanya. Dia menatap kedua makam itu bergantian dan menaruh dua ikat bunga yang tadi dibelinya di depan makam masing-masing. Ciel kemudian menunduk dalam-dalam dan berdoa dengan khusyuk sambil memejamkan mata.
Sebastian hanya berdiam diri di belakang Ciel. Ia menunggu Ciel bangun dari berlututnya. Mata red ruby-nya terus mengamati tulisan-tulisan yang terpatri di kedua nisan di hadapannya.
'1999? 11 tahun lalu? Apalagi persis tanggal segitu?' pikir Sebastian sambil terus memerhatikan tulisan di makam itu.
'Mengapa tanggal itu sama seperti tanggal bertemunya aku dan orang itu?' pikir Sebastian lagi heran. Otaknya masih berusaha mengingat sesuatu karena semenjak pertama ia melihat Ciel dan mendengar namanya, rasanya ada sesuatu di dalam pikirannya yang ingin membuncah keluar hingga membuatnya penasaran sampai sekarang.
'Orang itu juga mengincar darah enchantoid dalam tubuh Ciel dan menyuruhku mengawasinya tanpa memberi tahu aku apapun. Mungkin benar, banyak sekali yang tidak kuketahui.' pikir Sebastian lagi.
'Aku harus cari tahu!' Setelah lama berpikir, Sebastian akhirnya memutuskan untuk mencari tahu segalanya.
Ketika sedang asyik dengan pikirannya sendiri, Sebastian tersentak sadar karena sekarang Ciel bangun dari berlututnya dan berbalik ke arahnya.
"Aku sudah selesai. Ayo pulang!" ajak Ciel sambil memegang tali tasnya.
"Eh, tunggu sebentar!" jawab Sebastian sambil terburu-buru duduk berlutut di depan makam orang tua Ciel.
Ciel yang melihat tingkah Sebastian hanya menaikkan sebelah alisnya dan berkata, "Oi, kau sedang apa?"
Setelah cukup lama berlutut, Sebastian kembali berdiri dan menghadap Ciel lagi.
"Tentu saja berdoa! Memangnya apalagi?" tanya Sebastian balik. Kini ia yang heran dengan pertanyaan Ciel yang menurutnya sudah jelas jawabannya.
"E-eh, iya juga ya? T-te-terima kasih, deh!" jawab Ciel gugup sambil kedua pipinya bersemu merah.
Ya, dirinya terkejut sekaligus senang. Orang lain yang bahkan baru dikenalnya beberapa hari lalu mau repot-repot mendoakan orang tuanya.
"He? Kau kenapa, sih? Demam, ya?" ujar Sebastian heran dengan tingkah Ciel yang menurutnya tidak biasa. Kemudian ia menjulurkan tangannya ke dahi Ciel untuk memastikan.
"Ah! Aku tak apa-apa, kok! Sudah, ah! Ayo pulang!" pekik Ciel sedikit panic sambil menyingkirkan tangan Sebastian dari dahinya. Dirinya heran tiap kali tangan Sebastian menyentuhnya pasti terasa seperti getaran listrik yang melumpuhkan dan membuat jantungnya berdentum lebih cepat.
Mereka pun berbalik keluar dari London Cemetery dan berjalan pulang. Seperti biasa, dalam perjalanan selalu diwarnai oleh kikikkan Sebastian dan pekikkan Ciel.
"Ciel, boleh aku tanya sesuatu?" ucap Sebastian memecah keheningan yang tercipta di dalam lift apartemen mereka yang hanya berisikan mereka berdua.
"Apa?" jawab Ciel bingung.
Mereka melangkahkan kaki mereka keluar dari kapsul transportasi itu. Ciel masih menatap Sebastian bingung.
"Kampung orang tuamu dimana?" tanya Sebastian dengan nada yang sedikit berbeda dari yang biasa Ciel dengar.
"Di Monroeville. Memang kenapa, sih?" tanya Ciel balik. Ia menyadari nada bicara Sebastian agak berbeda. Terdengar lebih serius.
Red ruby Sebastian sempat membola mendengar jawaban Ciel barusan. Kemudian kembali seperti biasa. Mereka telah sampai di depan pintu apartemen masing-masing.
"Tidak, hanya bertanya. Oh, iya Ciel. Bisa ajak aku ke sana kapan-kapan?" tanya Sebastian lagi sebelum masuk ke dalam apartemennya.
"Memangnya ada apa sih?" tanya Ciel semakin heran.
"Tidak, kampung orang tuamu sama denganku. Aku cuma ingin kembali ke kampung halamanku sesekali. Bukankah bagus kalau ada yang menemani?" ucap Sebastian sambil bersiap masuk ke dalam apartemennya.
"Oh, boleh saja, sih. Kebetulan 2 bulan lagi aku ingin ke sana. Ya sudah, aku masuk, ya!" ucap Ciel kemudian sambil memasuki apartemennya.
"Ya, selamat malam!" kata Sebastian sambil ikut memasuki apartemennya.
…
.
To Be Continued
.
F.N: (1), (2)= Mereka bukan OC saya. Mereka OC-nya Yana Toboso yang perannya jadi shinigami baru di OVA 5!~
*= Tanggal lahir mereka saya ambil dari pertama kali mereka muncul di manga dan anime. Search di Google aja!~
.
A.N: Huft!~ Akhirnya selesai juga ngetik ini!~ Saya sempet males buat lanjutin ini-_- Abis saya sedikit bingung harus ngasih jalan cerita gimana, sedangkan di pikiran saya cuma terbayang endingnya.#plak! Oke, semoga cukup puas dengan romance yang saya buat karena memang saya sulit banget mikir adegan romance! Dx
Thank You for Yer Reviews (_ _)
Sora Shieru, Nana Hizaki Irokui, Aiko Enma, Kesha, Shigure Haruki, Kamiya Yuki
.
Aiko Enma: Makasih udah review!~ xD Tapi tetep aja bagi saya bikin romance itu susah, gampangan bacanya!~ #plak! Te-tegang! Makasih lagi! xD Semoga chapter ini memuaskanmu, ya! Revi lagi sangat diterima~
Kesha: Makasih atas semua pujianmu! Serasa melayang saya!-_- Haha, iya! Emang libur tuh bikin males!~ #plakk Makasih banyak selalu review fiksi ini(_ _) Semoga chapter ini makin bikin kau penasaran, ya! ;D ~ #plakk! Jangan bosen revi fiksi saya, ya?~ *dijitak*
Shigure Haruki: Tak apa-apa! Situ baca saja saya udah senang~xD Ini lanjutannya. Makasih udah sempet review, Haruki-san!~
.
Yak, saya ga bakal banyak omong lagi, jadi, Mind to clicking 'Review' icon below and gimme some reviews?~
.
The Clumsiest Author,
.
.
Kurofer P.
