Chapter 4: That Student's Relation

.

Here it's!~ Chapter 4, well, just read it then!~


Disclaimer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso-sensei! Saya cuma pinjem chara-chara-nya yang super keren!

Warning(s): AU, typo(s) perhaps(?), OOC, gender bender, SebasxFem!Ciel, alurnya kelambatan gak sih? *plak* And at least DLDR!


"Oh, boleh saja, sih. Kebetulan 2 bulan lagi aku ingin ke sana. Ya sudah, aku masuk, ya!" ucap Ciel kemudian sambil memasuki apartemennya.

"Ya, selamat malam!" kata Sebastian sambil ikut memasuki apartemennya.


Red Moon

by: Kuroschiffer P.

Pemuda berkacamata itu berjalan menyusuri lorong remang-remang yang hanya diterangi lilin-lilin di sepanjang dindingnya. Di lorong itu tidak ada siapapun kecuali dirinya. Sesampainya di pertigaan yang membagi lorong itu menjadi tiga arah, ia berbelok ke lorong paling kanan. Ia hendak menuju ruangan tempat atasannya biasa mengurung diri. Langkahnya terhenti sejenak menyadari seseorang menepuk bahunya dari belakang.

"Jarang aku melihatmu berkeliaran di sini." ucap sosok ceria yang menepuk pundaknya. Pemuda itu membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang baru saja menyapanya. Walaupun cahaya di tempat itu sangatlah minim dan hampir tidak membantu penglihatan sama sekali, tetapi mata terlatih pemuda itu dapat mengenali sosok yang sedang berdiri di hadapannya.

"Knox." ujar pemuda itu datar.

"Hai! Apa ada hal yang sangat penting terjadi sampai kau mau repot-repot datang ke tempat ini, eh Tuan Penjaga Barat?" tanya pemuda yang selalu bergelagat ceria itu sambil ikut menyesuaikan langkahnya dengan pemuda yang disebut Penjaga itu.

"Hm, sebegitu anehkah untuk aku datang ke tempat ini sampai-sampai bawahan langsung sepertimu heran dengan keberadaanku di sini?" Pemuda Penjaga itu bertanya balik dengan nada sama datarnya dengan yang tadi.

"Heheh, aku tidak bilang kau aneh, lho! Yah, bukankah wajar jika aku bertanya seperti itu? Mengingat kau SANGAT JARANG dan HANYA kemari jika ada sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan." balas Ronald Knox dengan nada meledek yang ditekankan dalam kalimatnya.

"Huh, memangnya untuk apalagi aku ke sini kalau bukan untuk 'pekerjaan'?" Pemuda itu tetap mempertahankan nada datar dalam kalimatnya. Ia tidak terganggu dengan ledekan pemuda yang berjalan di sebelahnya ini.

"Ha-ah~ Kau tidak seru! Yah, sesekali bermain untuk melihat keluarga jauhmu ini tidak salah 'kan?" ujar Knox masih dengan nada bicara ceria khasnya.

"Mungkin kata 'keluarga' kurang tepat bagiku. Mengingat aku dan kalian di sini tidak ada hubungan darah sama sekali." balas pemuda itu sambil menaikkan kacamatanya.

"Kalau begitu kau menganggap kami ini apa, Bung? Ingat, kau juga bagian dari kami!~" protes Knox sambil mengernyitkan dahinya.

"…Saudara senasib, mungkin?" ucap pemuda itu tak yakin. Memang dirinya menganggap semua orang di organisasi ini tak lebih dari orang-orang yang sama seperti dirinya―orang-orang yang diubah menjadi seorang enchanterire.

Enchanterire adalah manusia yang memiliki darah vampir dalam pembuluh darah mereka. Tetapi, mereka bukanlah vampir dan tetap memiliki umur seperti manusia. Darah vampir diinjeksikan ke dalam pembuluh darah mereka hingga mereka memiliki kemampuan dan kebutuhan layaknya vampir.

Mata hijau kekuningan terang menyala adalah salah satu tanda yang paling jelas bahwa orang tersebut adalah seorang enchanterire. Walaupun tanda seorang enchanterire dapat sangat jelas terlihat, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui istilah dan keberadaan para enchaterires.

"Huh, saudara dan keluarga tidaklah berbeda jauh, kau tahu?" ujar Knox dengan nada mengejek terselip di kalimatnya barusan.

"Bagiku…tetap saja berbeda." balas pemuda itu sama datarnya seperti biasa. Namun, kali ini nada bicaranya agak terdengar kesepian dan lebih dingin.

"Hum, memang apa bedanya?" tanya Knox heran sambil menaikkan salah satu alisnya.

"…Bedanya…pikirkan saja sendiri." jawab pemuda itu tetap datar dan stoik.

"Dasar pelit! Kau sama sekali tak berubah, eh Tuan Penjaga! Atau kusebut saja si cuek nan datar, William!~" Knox kembali mengernyitkan dahi dan mengeluarkan nada meledek yang ceria khasnya.

"Hmph, kau sendiri juga tak berubah. Sama menyebalkan seperti biasa." Pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah William T. Spears itu terus saja berjalan menyusuri koridor itu ditemani oleh Knox yang tadi menghampirinya. Sampai akhirnya langkah mereka berhenti di depan pintu kayu besar bercat coklat dengan besi melingkar di kedua daun pintu yang sedang menutup itu.

William mengangkat tangannya dan memasukkannya ke dalam mulut sebuah gantungan pintu berbentuk laba-laba berkaki 12 yang terbuat dari besi yang terpancang di tengah-tengah pintu besar itu. Tak lama setelah aksi William barusan, ke-12 kaki laba-laba besi itu bergerak meregang.

William melepas tangannya dari laba-laba besi itu dan pintu besar itu pun terbuka perlahan. Setelah terbuka lebar, kedua pemuda berkacamata itu memasuki ruangan yang lebih mirip perpustakaan sebab lemari-lemari panjang nan tinggi berisikan buku-buku berdiri melingkari ruangan yang cukup luas itu.

Ruangan itu berbentuk lingkaran dan berdinding tinggi, seperti ruangan kastil-kastil jaman dulu. Di tengah ruangan itu tergantung lampu besi yang penerangannya berasal dari lilin-lilin yang didirikan di lampu itu.

Di ujung tengah ruangan itu, terdapat pintu kecil―tidak sebesar dan setinggi pintu pertama. Kedua pemuda itu meneruskan langkah mereka memasuki ruangan itu hingga kembali berhenti di depan pintu kecil yang juga terbuat dari jenis kayu yang sama dengan pintu pertama.

Seperti tadi, William kembali menaruh tangannya ke dalam mulut gantungan pintu yang terpasang di pintu itu. Bedanya, kali ini gantungan itu berbentuk kepala kelelawar yang bertaring. Ketika kedua mata kelelawar besi itu menyala, William menarik kembali tangannya dan berlutut―Knox juga ikut berlutut.

"William T. Spears, Penjaga Barat. Keperluan?" Suara berat dan asing yang entah datang dari mana, bergema di ruangan itu. Namun, suara itu tidaklah asing bagi kedua pemuda yang sedang berlutut itu.

"Aku membawa laporan seputar keponakanmu dan 'anak' kesayanganmu." ucap William datar masih dalam posisi berlutut menghadap pintu itu.

Tak lama kemudian, pintu kecil itu mengayun terbuka ke dalam, mempersilahkan kedua pemuda itu masuk ke dalam ruangan tempat atasan mereka berada. Di ujung ruangan yang tak sebesar ruangan tadi, terdapat meja kayu besar dan berkesan tua ditumpuki buku-buku tebal dan sama tua dengan meja itu.

Di belakang meja besar itu, duduklah seorang lelaki berambut hitam pendek, sedang menenggak wine merah dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya memegang sebuah buku yang sedang dibaca. Ia mengalihkan pandangannya yang tadinya tertumpu pada buku itu, ke depan pintu yang baru saja terbuka. Senyum tipis terbentuk di wajah kaku tampan nan pucatnya.

"Sudah lama sekali, William."

Gadis berambut kelabu itu mengernyitkan matanya yang terpejam. Berusaha melawan kantuk dan keluar dari bunga tidurnya. Akhirnya kedua permata cerulean Ciel terbuka, menampilkan sedikit air mata yang bertengger di kedua matanya. Ya, ia akui ia masih sangat mengantuk. Namun, jika ia tidak segera beranjak dari tempat tidurnya, ia akan terlambat datang ke sekolah.

Dengan malas, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk mengganti penampilan lusuh nan kuyunya menjadi bersih, rapi, dan segar. Setelah ia selesai berseragam dan sarapan, ia melangkahkan kakinya keluar apartemen seperti pagi-pagi biasanya.

Ketika ia keluar dari gedung berlantai 40 itu, ia menyadari kalau hari ini ia bangun lebih pagi dari biasanya sebab matahari sama sekali tak terlihat kala itu, walaupun sudah pukul 7.15 am. Biasanya ia keluar dari apartemen itu tepat pukul 7.30 am atau lewat sedikit, namun pagi ini, entah apa yang merasuki gadis ini hingga ia melupakan kebiasaannya bangun siang dan bangun lebih pagi dari biasanya.

Ia pun melangkahkan kakinya ke halte tempat ia biasa menunggu bis merah menuju sekolahnya. Kini ia memutuskan untuk duduk di kursi halte yang tersedia karena mengetahui dirinya akan menunggu bis lebih lama dari biasanya―mengingat ia sampai di halte bis lebih cepat dari biasanya.

Halte bis itu belum seramai seperti yang biasa ia datangi. Ciel hanya duduk sambil membaca salah satu buku pelajarannya untuk membunuh waktu. Tak lama ia mulai membaca, sebuah tangan besar menepuk bahunya.

"Oi, Ciel! Tumben kau datang lebih pagi!" Pemilik tangan itu menyapa Ciel dengan nada ceria seperti pagi-pagi biasanya. Ya, siapa lagi kalau bukan Sebastian Michaelis, tetangga sekaligus teman sekelas Ciel yang sedang berdiri di depannya dan barusan menyapa Ciel dengan cengiran khasnya.

"Hm, memangnya salah jika aku datang lebih awal darimu, eh?" ujar Ciel datar tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya. Tanpa menengok pun ia tahu siapa pemilik suara ―yang menurutnya― menyebalkan itu.

"Tidak, sih. Aku hanya heran saja karena kau 'kan biasa bangun telat." ucap Sebastian dengan tampang kalemnya yang biasa.

"Huh, tahu dari mana kalau aku sering bangun tel― Ah!" Ciel menutup mulutnya refleks sebab ia mengakui kebiasaan buruknya yang sering bangun telat. Ia juga tentunya heran karena setahunya ia tidak pernah memberi tahu Sebastian akan hal ini.

"Hehehe, tak usah berdalih, Ciel! Kau baru saja mengakuinya!~" ledek Sebastian seperti yang ia biasa lakukan tiap pagi hanya terhadap Ciel. Yah, dirinya sendiri heran mengapa ia betah sekali adu mulut dengan gadis temperamen macam Ciel. Menurutnya hal itu selalu…menghibur.

"Hmph! Dasar stalker!" umpat Ciel dengan tampang datar dan empat siku-siku tersemat di dahinya.

"Aku tidak men-stalk kau, lho!~" bantah Sebastian sambil terus menampilkan cengiran khasnya yang menawan. 'Ya, aku hanya mengawasimu' tambah Sebastian dalam hati tentunya.

"Tidak mungkin! Kalau begitu, darimana kau tahu…" jeda Ciel, "…em…yah…hobi jelekku?" tanya Ciel setelah mencari kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan kebiasaan jeleknya bangun telat.

"Alois yang bilang padaku. Yah, sedikit banyak aku tahu tentangmu dari dia lah." jawab pemuda berambut hitam itu enteng.

"APA?" pekik Ciel tiba-tiba hingga membuat semua orang di halte itu menoleh ke arahnya. Ciel yang refleks menutup mulutnya hanya bisa menyesali dirinya berteriak tadi. Sedangkan Sebastian, ia hanya terkikik geli melihat Ciel yang sekarang wajahnya sudah seperti udang rebus.

"Pfft…hahahaha…" kikik Sebastian tertahan, sebab gadis di hadapannya sudah melempar tatapan tajam ke arahnya.

"Puas kau tertawa-tawa." ujar Ciel datar dan sangat dingin disertai pandangan menusuk ke Sebastian. Jika pandangan dapat membunuh, mungkin sudah lama Sebastian mati terpotong-potong disebabkan pandangan mematikan Ciel.

"Ah, makin lama kau makin galak saja, sih?" protes Sebastian masih sambil terkikik sedikit. "Yah, tapi walau bagaimana pun, kau memang paling manis kalau sedang marah." tambah Sebastian dengan nada yang terdengar meledek. Padahal pernyataannya yang satu itu sangatlah jujur dari hati.

"D-dasar mesum!" tukas Ciel sedikit terbata di awal disertai seluruh wajahnya kembali memerah. Ciel sedikit heran dengan reaksi tubuhnya yang selalu seperti ini jika sedang berada di dekat Sebastian. Tetapi Ciel memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu lebih jauh.

"Kalau aku mesum, kau pasti sudah 'habis' dari pertama kita bertemu, kau tahu?" balas Sebastian dengan seringaian mesumnya yang setia bertengger di wajah rupawannya.

"Ih! 'Kan benar, kau bukanlah orang baik-baik. Sekarang menyingkirlah!" perintah Ciel dengan dahi mengernyit. Ia hendak bangun dari kursi halte itu sebab menyadari bahwa bis yang ditunggunya sebentar lagi sampai di halte tempatnya menunggu.

"Hahaha, Yes, My Lady!" Sebastian sedikit tertawa dan melangkahkan mundur―mempersilahkan Ciel lewat dengan membungkukkan punggungnya sedikit ke depan dan tangan kanan di depan dada―seperti butler.

"A-ap-apa-apaan sih, kau! Semua orang jadi melirik kita, 'kan?" Ciel berbisik dengan sedikit tergagap dan wajah memerah karena malu. Bagaimana tidak? Aksi tidak biasa Sebastian barusan, otomatis mengundang perhatian banyak orang di sekitarnya.

"Hehehe, kau terlalu khawatir, Ciel. Ya sudah, ayo berangkat!" ujar Sebastian setelah menegakkan kembali tubuhnya dan segera menyambar tangan Ciel dan menyeretnya ke dalam bis yang sudah menunggu.

Ciel yang memang tidak siap hanya terdiam pasrah ditarik Sebastian dengan jantung yang berdetak tak karuan serta wajah yang entah sudah semerah apa sekarang.

"Yak, sekian penjelasan dari saya. Ingat, pelajari Bab X sampai Bab XI untuk ujian minggu depan. Enjoy your break time, then!" Guru berambut cokelat yang selalu terlihat ceria itu berjalan meninggalkan kelas.

Murid-murid di kelas pun mengikuti jejaknya―meninggalkan kelas untuk menikmati waktu istirahat mereka dengan cara masing-masing. Tak terkecuali Ciel dan kawan-kawan. Mereka bertiga beranjak keluar kelas dan menuju kantin untuk makan siang.

"Cepat sekali, ya? Dua minggu lagi sudah libur musim panas lagi." ujar Elizabeth membuka pembicaraan.

"Ah, bagiku sih masih lama! Dua minggu full belajar dan ulangan. Otakku bisa kering saat liburan tiba nanti!" bantah Alois sambil mengacak rambutnya dan mengernyitkan dahinya. Kentara sekali ia sangat tidak puas.

"Tidak ada salahnya, 'kan? Bukannya lebih baik 'bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian'?" balas Elizabeth kemudian meminum lemon tea-nya.

"Tetap saja! Bagiku, dua minggu full belajar dan ulangan sangatlah 'sakit'!" gerutu Alois lagi sambil melahap beef di garpunya dengan tidak sabar.

"Kenapa sih kau menggerutu terus kalau berhubungan dengan sekolah? Sekolah tidak buruk-buruk amat, kok!" sanggah Elizabeth sambil memberikan tatapan heran kepada Alois.

"Huh, kalau kau seperti itu terus, kau tidak akan bisa meneruskan , tahu?" komentar Ciel enteng sambil melahap salad-nya dengan tenang.

"Ashall au au shajha yhhaa, auh hidha au mhenhehushan huhass ehephhothhan hiu!" bantah Alois tidak jelas sebab ia berbicara sambil mengunyah beef-nya.

"Hah? Telan dulu makananmu, baru bicara! Suaramu sama sekali tidak jelas, tahu!" tukas Elizabeth sedikit kesal melihat tingkah anak kecil temannya itu.

"…Hh, asal kau tahu saja ya, aku tidak mau meneruskan tugas merepotkan seperti itu!" ulang Alois dengan suara yang sangat jelas terdengar sebab ia sudah menelan semua yang ada dalam mulutnya sebelumnya.

"Hm? Seharusnya kau bersyukur dengan itu kau tidak perlu lagi repot-repot cari kerja, tahu?" ujar Ciel dengan nada datar biasa.

"Tau ih! Kau 'kan enak, sudah punya pekerjaan pasti untuk masa depanmu!" Elizabeth menambahkan kata-kata Ciel dengan nada sedikit kesal seperti tadi.

"Huh, pokoknya aku tetap tidak mau pekerjaan membosankan seperti mengurus perusahaan dan semacamnya." ucap Alois pada akhirnya dengan nada malas menandakan ia benar-benar tidak tertarik meneruskan pekerjaan ayahnya.

"Ha-ah, terserah kau saja, deh!" ujar Elizabeth sambil menghela napas tanda ia menyerah untuk menasihati Trancy muda di hadapannya.

"Kebiasaan jelekmu memang tak berubah, ya?" Ciel kembali berkomentar dengan nada datar seperti biasa. Setelah diam sebentar, tiba-tiba dahi Ciel berkenyit menyadari sesuatu yang tadi pagi lupa ia tanyakan kepada Trancy muda itu.

"Ng? Ada apa, Ciel?" tanya Elizabeth menyadari sepupunya mendadak berhenti makan dan terdiam.

"Ah, tidak. Ngomong-ngomong tentang kebiasaan jelek, aku mau tanya." Ciel memberi jeda perkataannya sambil melempar pandangan mematikan ke arah Alois, yang kemudian ikut berhenti makan dan bergidik ngeri. "H-hah? A-ada a-ap-apa?" Alois bertanya sambil tergagap dan langsung berusaha mengingat-ingat apa kesalahannya terhadap Ciel hingga Ciel menatapnya seperti itu.

"…Kenapa kau beri tahu manusia menyebalkan itu tentang kebiasaan jelekku, eh Alois?" Ciel bertanya dengan wajah santai namun bernada datar, dingin, menuntut, menyeramkan,―dan semacamnya― hingga Alois yang sedang sibuk mengingat-ingat, bertambah gelisah hingga keringat dingin mengucur di dahinya. Ya, Ciel dalam 'mode' seperti ini memang sangat menyeramkan.

"E-eh, a-ah? M-mm-maksudmu a-apa, C-Ciel?" tanya Alois balik masih sambil gelagapan. Tentu saja ia makin gugup dan wajahnya memucat seketika.

"Tentang apa, sih? Aku tidak mengerti yang kau maksud, Ciel." sela Elizabeth dengan nada yang dibuat santai. Ia cukup bijak untuk ikut bertanya demi 'menyelamatkan' Alois dari Ciel, walaupun dirinya sendiri ikut gugup sekaligus bingung melihat perubahan seketika Ciel.

"Yah, aku hanya mau tahu alasanmu memberi tahu segala macam tentangku kepada Michaelis menyebalkan itu." Ciel masih berbicara dengan santai sambil kemudian menenggak lemon tea-nya sementara aura tubuhnya sudah seperti orang siap membunuh kapan saja.

"O-oh! M-maksudmu Sebastian? I-itu…Aku tidak bilang yang macam-macam, kok! Aku waktu itu hanya kelepasan cerita." jawab Alois gugup di awal dengan sejujur-jujurnya.

"Yakin hanya kelepasan? Dia bilang kau memberi tahunya lebih banyak, lho!" Ciel kembali bicara dengan nada santai dan tersenyum innocently.

"Yah, seperti kau tidak tahu Alois saja, Ciel!" Elizabeth mencoba mengalihkan Ciel dari Alois. Sungguh, ia amat mengerti situasi Alois yang sekarang bermandikan keringat dingin dan tampang pucat.

"T-tapi, aku tidak cerita yang macam-macam tentangmu, kok Ciel! Sungguh!" ujar Alois dengan nada memohon. Ia memberanikan diri menatap mata dingin Ciel dengan tatapan memelasnya.

"Memangnya kenapa sih, Ciel? Dia 'kan sudah jadi teman kita selama 2 bulan. Kau masih saja tidak mempercayainya." Pernyataan Elizabeth lebih terdengar seperti pertanyaan bagi Ciel. Ciel hanya diam dan menunjukkan ekspresi biasa saja. Aura mencekam yang tadi menggantung pekat di sekitar Ciel pun perlahan-lahan menghilang. Ciel sudah lebih tenang rupanya.

"Hm, tetapi selama 2 bulan itu, bukannya menjadi lebih baik malah bertambah menyebalkan kau tahu? Siapa yang sudi jadi temannya!" Ciel menggerutu seperti biasanya, seakan Ciel dalam 'mode' tadi tak pernah ada.

"Tetapi, aku lihat sih kalian malah terlihat makin akrab, lho!" ujar Elizabeth jujur sambil tersenyum. Elizabeth tidak bermaksud meledek Ciel atau apapun. Ia hanya berkata apa yang ada dipikirannya. Jujur dan polos, eh?

"H-hah? Ap-apa kau tak salah lihat, Liz?" Ciel sedikit tergagap menanggapi pernyataan sepupunya itu. Ciel heran dengan dirinya yang tiba-tiba menjadi gugup hingga melakukan hal memalukan―menurutnya―seperti tadi. Sedang Elizabeth dan Alois kembali menatap Ciel dengan tatapan heran sebab tidak biasanya seorang Ciel Phantomhive terlihat gugup, apalagi bicara terbata seperti tadi.

"Ciel, hari ini kau lagi kenapa, sih?" tanya Alois penasaran.

"Iya, tidak biasanya mood-mu berganti secepat dan seaneh kali ini." ujar Elizabeth menambahkan. Mereka memang baru pertama kali melihat sikap Ciel seperti itu. Beda dengan seseorang yang cukup sering melihatnya.

"A-ah, tidak apa-apa, kok! Ya sudah, ayo kita kembali ke kelas saja." Ciel mengajak kedua temannya yang masih saja menatap Ciel dengan pandangan menyelidik dan tak percaya. Tetapi, mereka tetap mengikuti Ciel berjalan kembali ke kelas sebab mereka memang sudah selesai makan sedari tadi.

Selama perjalanan menuju kelas, Alois terus saja menanyai Ciel yang macam-macam sementara Elizabeth memperhatikan Ciel dengan tatapan menyelidiknya.

"Hoi, Ciel! Tunggu!" Seseorang berteriak dari belakang, tak terlalu keras tetapi cukup untuk membuat ketiga manusia itu berhenti dan menoleh. Rupanya Sebastian yang barusan memanggilnya dan sedang berjalan menuju mereka.

"Hai Lizzie, Alois!~" sapa Sebastian kemudian setelah ia mencapai mereka.

"Hai, Sebastian!" sapa Elizabeth balik dengan ramah.

"Kukira kau lupa dengan kita sebab kau hanya menyapa Ciel tadi." ucap Alois sambil tersenyum dengan niatan meledek Ciel yang sedari tadi mendadak diam saja. Elizabeth yang mengerti maksud Alois hanya ikut terkikik. Ciel tetap diam saja, berpura-pura tidak mendengar ledekan Alois.

"Hm? Tentu saja aku tidak lupa. Masa baru berpisah beberapa menit saat istirahat aku langsung lupa dengan kalian?" tanya Sebastian dengan wajah rupawannya menunjukkan kalau ia memang benar-benar heran.

Ciel yang mendengar jawaban Sebastian barusan hanya mendesah lega sebab ia merasa bisa terbebas dari ledekan Alois. Sedangkan Alois dan Elizabeth hanya tertawa tertahan mendengar jawaban polos Sebastian.

"Ng? Kenapa sekarang kalian malah tertawa?" ucap Sebastian heran melihat kedua manusia berambut pirang di sampingnya.

"Hehe, tidak, tidak. Sebenarnya maksudku, kenapa kau hanya memanggil Ciel tadi, bukannya Lizzie? 'Kan tadi yang berdiri paling belakang dia." tanya Alois memperjelas pernyataannya yang tadi sembari menunjuk Lizzie.

"Ooh, aku hanya ingin memanggil Ciel saja, memangnya tak boleh?" tanya Sebastian lagi sambil menunjukkan senyum khasnya.

"Hihi, kami tak melarangmu, kok!" jawab Elizabeth masih sambil terkikik.

"Malah kami dengan senang hati mempersilahkanmu sering-sering memanggil Ciel." tambah Alois kemudian sambil melirik dan menyenggol siku Ciel pelan.

"A-ap-apa sih?" Ciel akhirnya bersuara meski terbata. Ia bingung, amat bingung dengan dirinya sekarang ini. Perasaannya sekarang bercampur aduk antara bingung, senang, kesal, malu, dan berbagai perasaan lainnya yang Ciel sendiri tidak tahu namanya.

"Ng? Kau kenapa Ciel? Sakit?" tanya Sebastian heran melihat wajah pucat Ciel yang memerah. Refleks ia meletakkan tangannya di atas kening Ciel. Alois dan Elizabeth yang melihat adegan―yang menurut mereka romantis―itu, segera memisahkan diri dari kedua manusia―meski Sebastian bukan―yang sedang berdiri di depan mereka itu.

"A-a-ak-aku tak apa-apa, kok!" bantah Ciel kembali tergagap sambil cepat-cepat menepis tangan Sebastian dari keningnya. Tahu tidak? Saat itu jantung Ciel bekerja ekstra cepat, mengantarkan darah naik ke kepalanya hingga wajahnya bertambah merah. Oh Ciel, betapa dirimu aneh sekali hari ini!

"Hari ini kau aneh, deh! Ada apa sih?" tanya Sebastian pada akhirnya.

"T-tidak ada apa-apa, kok! Sudahlah, ayo kita kembali ke kelas saja." ucap Ciel pada akhirnya sambil mendahului berjalan ke kelas meninggalkan Sebastian yang masih mentapnya dengan tatapan heran dan…curiga.

Namun, ia tetap menyusul Ciel dan kembali mengobrol dengan Ciel, yang memang sebagian besar omongan mereka berisi perdebatan dan ledekan Sebastian serta gelagapan Ciel.

"Hm, baiklah. Dengan ini kau kembalilah, William." Laki-laki itu mengarahkan wajah tampannya kembali ke arah William. "Dan kau, Ronald, antar William kembali ke depan!" lanjut lelaki itu dengan nada yang sama. Monoton.

"Yes, My Lord!" ucap William dan Ronald bersamaan sambil kembali berlutut kepada orang yang sedang duduk di hadapannya itu. Kemudian mereka bergegas bangkit dan meninggalkan ruangan atasannya itu.

Setelah mereka keluar dari ruangan besar yang menyerupai perpustakaan suram itu, Ronald kembali memulai pembicaraan di antara mereka.

"Jadi, Michaelis sudah mulai curiga, begitu?" tanya Ronald dengan nada santai khasnya.

"Hm, bukan curiga, lebih tepatnya ia mulai mengingat masa lalunya walau belum sepenuhnya." jelas William masih dengan nada datar tanpa ekspresinya.

"Oh, dan menurutmu hal itu terjadi karena ia berada di sekitar enchantoid itu?" tanya Ronald lagi masih ingin memastikan.

"Ya." jawab William singkat dan datar.

"Kalau begitu, mengapa Lord kita menyuruhnya mengawasi enchantoid itu? Bahkan berada di dekatnya. Bukankah hal itu cukup dilakukan oleh kau seorang?" Ronald kembali memberikan segudang pertanyaan demi memperjelas keraguannya. Sedangkan William yang diberi pertanyaan-pertanyaan itu tidak kelihatan keberatan sama sekali. Rupanya mood-nya sedang bagus.

"Itu untuk mempermudah jalan kita mendapatkan darah enchantoid itu. Kau tahu 'kan kalau Phantomhive masih dalam pengawasan organisasi 'Sacred Moon' itu? Mereka tentu saja curiga jika seorang enchanterire seperti aku berada di dekatnya. Maka dari itu, Lord menyuruh Michaelis yang mendekat sebab keberadaannya masih belum diketahui mereka." William menjelaskan jawaban pertanyaan Ronald sesingkat yang ia bisa.

"Oh, jadi soal ingatan Michaelis kembali bangkit berada diluar perhitungan Lord?" Ronald mulai sedikit mengerti tentang permasalahan ini.

"Bisa dibilang demikian, bisa juga tidak. Lord tidak berkomentar apa-apa mengenai hal ini. Beliau hanya menyuruhku untuk tetap mengawasi mereka." jawab William lagi masih setia dengan nada datar khasnya. Ia menaikkan kacamatanya sedikit.

"Hm, jadi begitu." Ronald mengangguk-angguk tanda ia mengerti apa yang daritadi mengganjal pikirannya.

Mereka kemudian terus saja berjalan menyusuri lorong remang-remang panjang yang seperti tanpa akhir itu dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah langkah mereka sampai ke sebuah aula besar sunyi berdinding batu, William menoleh ke arah Ronald.

"Baiklah, dari sini cukup aku sendiri. Kau kembali saja." ucap William dingin nan datar sambil kemudian kembali berbalik dan berjalan meninggalkan Ronald.

"Hm, ya. Sering-seringlah mengunjungi 'saudara'mu, oi si datar penjaga barat!" teriak Ronald iseng yang langsung dihadiahi tatapan mematikan dari William yang sempat menoleh dan menggeram kemudian kembali berjalan pergi.

Sedangkan Ronald yang puas berhasil mengerjai William, kembali melangkah masuk ke lorong tadi hingga dirinya tak terlihat lagi.

.

.

To Be Continued


A.N.: Heheh, saya berhasil nyelesain chapter ini tepat waktu!~ *plakk* Ya, berhubung minggu ini saya masih MOPDB doang, jadi masih sempet lah buat bikin nih chapter. Nah, minggu depan baru udah full belajar, jadi saya gak yakin bakal punya banyak waktu luang buat ngetik fiksi ini. Jadi, bagi readers yang setia membaca karya multichap pertama saya yang abal ini, harap sabar menunggu, yaa~ (kayak ada yang nungguin ae!) *plakk*. Sa, sekian curahan hati saya (ceilah, bahasanye!) Saya cuma pengen ngomong; besok saya LDKA!~ (sumpah ga penting banget!) *ditampar massa* Oh iya, bagi yang sering baca fiksi HxH, cek fiksi baru saya di fandom itu, ya!~ *promosi gak laku, dilempar!*

Thank You for Yer Reviews!~ (_ _)

KuroshitsujiLover234, Rii-chan the 12th Alchemist, Sora Shieru, Kesha, Aiko Enma

.

Kesha: Haha, makasih-makasih. Ah, emang cuma itu adegan romance tergampang yang terpikir oleh saya -_- Sukur deh kalo puas!~ *plakk*Abis saya kehabisan chara, yaudah saya pake mereka aja!~ Sukur deh kalo tau. Hh, gomen, untuk next chap paling cepet saya bikin 2 minggu, paling lama yaa, tak tahu juga *plakk* tapi saya bakal usahain gak ngaret banget-bangetan, deh!~ Sekali lagi makasih revi dan praises-nyaa!~ Ayo revi lagi! *duakk*

Aiko Enma: Makasih dan sukur deh kalo udah cukup puas ='D Oke, saya bakal usahain mikir adegan romance yang bagus. Ada saran buat saya? Jawaban pertanyaanmu, liat nanti aja deh!~ Saya udah kasih clue tersirat pokoknya, haha~ *plakk* Oke, ayo revi lagi! *tampar bolak-balik*

Oke, langsung saja, Review kalo mau saya lanjutin cerita ini! Harus, kudu, mesti! *ditabok readers gara-gara maksa* Saya gak maksain kok, cuma ngancem! *ditendang ke luar angkasa!*

.

One Helluva Newbie Author,

.

Kurofer P.