Chapter 2:

Setelah seminggu semenjak Kepergian Kaito, Meiko masih saja mengurung diri di kamarnya, dan enggan berbicara dengan siapa pun. Termasuk kakaknya sendiri.

"Meiko, aku muak melihatmu seperti ini!" seru Meito, kakak laki-lakinya pada Meiko yang sedari tadi hanya memandang keluar jendela.

Meiko tidak bergeming. Tatapannya kosong.

Meito yang melihatnya Cuma mendengus kesal. "Kau masih belum bisa melupakan sosok Kaito?" tanyanya kemudian.

DEGH! Begitu nama "Kaito" di sebutkan hatinya mulai bereaksi. Reaksi bodoh... batinnya sambil memukul kepalanya pelan. Meiko menatap Meito sambil tersenyum. Senyum yang di paksakan... "Tidak ada yang dapat menggantikan sosoknya..." ujarnya sambil berlalu.

Meito hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

.

"Meiko, kita main ke taman bermain yuk! Dreamy Land! Kamu pasti senang di sana!" ajak Luka tiba-tiba. "Aku dapat 2 tiket gratis kesana! Ayo!" tambahnya.

"Hah?" tanya Meiko cengo.

"Ayo!" ajak Luka sambil menarik paksa tangan Meiko.

Meiko hanya mangut-mangut saja melihat tangannya di tarik paksa oleh Luka.

Di Taman bermain...

"Meiko! Aku mau ke WC dulu! Kamu mau ikut?" Tanya Luka begitu mereka sudah berada di taman bermain.

Meiko tertawa sambil menggelengkan kepalanya "Tidak terima kasih... kurasa aku akan membeli minuman dulu. Aku haus." Jawabnya sambil menunjuk sebuah counter minuman.

Luka mengangguk dan melambaikan tangannya ke arah Meiko. Meiko tersenyum dan membalas lambaian tangan Luka.

.

5 menit kemudian, Luka belum kunjung datang. Meiko yang ditinggalkannya sendirian langsung merasa resah. Takut sahabatnya tertimpa sesuatu. Meiko mulai berdiri dari kursi tempat dia beristirahat tadi. Dia berjalan menuju kamar mandi yang letaknya ada di ujung. Dia terus berjalan hingga akhirnya dia di panggil oleh seseorang.

"Hei kau, gadis berambut cokelat..."

Meiko menoleh. Di lihatnya seorang wanita berpakaian serba ungu-gelap. Dia seperti seorang... paranormal? Atau peramal? Meiko mendekati wanita –Yang wajahnya tidak terlalu jelas karena tertutup pakaiannya- itu.

"Ya? Ada apa?" tanya Meiko kemudian.

Wanita itu terdiam untuk beberapa saat."Kau... Meiko Sakine?" tanya wanita itu.

"Ya! Bagaimana kau bisa tau namaku?"

Wanita itu tersenyum "Aku tau segalanya..." ujar wanita itu yang membuat Meiko menaikkan sebelah alisnya. "Hei, apa kau mempunyai keinginan? Keinginan dari hatimu yang terdalam? Misalnya... mengulang waktu?" tanya wanita misterius itu.

Meiko terperanjat mendengar ucapan wanita misterius itu. Mengulang waktu? Apa benar wanita ini dapat mengulang waktu yang telah berlalu? Kalau itu benar, berarti aku...

"Bagaimana? Kau tertarik dengan tawaranku?" Tanya wanita itu sambil tersenyum. Meiko memandangnya ragu. "Oh, ayolah... aku tau kalau kau sebenarnya sangat tertarik dengan tawaranku ini, dan aku bisa melihat masalahmu saat ini... kau di tinggal mati oleh seseorang yang sangat kau cintai, bukan?" tambah wanita itu.

Meiko terkejut. Bagaimana wanita ini bisa tau?

"Bagaimana? Kau tertarik?" tanya wanita itu lagi.

Meiko terdiam sesaat, lalu dia menaikkan kepalanya. "Baiklah... aku mendengarkanmu."

Wanita itu tersenyum. "Bagus... sebelumnya akan aku beri tahu sesuatu. Nama sihir ini adalah Time Slip. Time Slip ini hanya akan bekerja sesuai kesepakatan kita, dan saat kesepakatan itu berakhir, sihir ini akan hilang dan kau akan kembali ke waktu semula. Waktu saat kuberikan sihir ini." jelasnya.

"Tunggu sebentar! Jadi maksudmu... sihir ini tidak Permanent? Kenapa? " potong Meiko.

Wanita itu tersenyum "Sekalipun Permanent, itu percuma, Meiko... "

"Kenapa begitu?" tanya Meiko dengan nada yang lebih tinggi. "Berarti itu hanya akan seperti mimpi? Begitu?"

"Itu bukan mimpi Meiko..." potong wanita itu. "Itu kenyataan. Itu benar-benar kenyataan. Hanya saja, sihir ini memerlukan syarat. Yaitu kau harus bisa 'Mengubah' kenyataan yang telah terjadi sebelumnya. Jika tidak, sihir ini akan mengembalikanmu keadaan semula." Jelasnya lagi.

Meiko jadi tidak mengerti apa yang sebenarnya di maksud oleh wanita misterius itu. "Lalu apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan sihir itu?" tanya Meiko kemudian.

"Itu pertanyaan yang sangat bagus!" ujar wanita itu sambil tersenyum sinis. "Tapi sebelum aku menjawab pertanyaan itu, apa kesepakatan kita? Oh, mungkin begini seharusnya, apa yang paling ingin kau wujudkan setelah kuberikan sihir itu?" tanya wanita itu sambil menatap Meiko tajam.

Meiko menatap wanita itu. "A-Aku..." wajah Meiko seketika memerah. "Aku ingin agar... aku punya kesempatan kedua untuk mewujudkan kisah cintaku... aku ingin bersamanya..." jawabnya sambil tertunduk malu.

Wanita itu tersenyum "Baiklah kalau begitu... aku akan menentukan waktu berakhirnya sihir ini... yaitu sampai kau bisa mewujudkan impianmu itu."

"Hanya sampai itu?" tanya Meiko nggak percaya.

"Ya... dan saat itu berakhir, aku akan menangih sesuatu darimu, Meiko..."

"Menagih a-"

"Jiwamu..." potong wanita itu sambil tersenyum.

Meiko terdiam. Apa? Aku harus memberikan jiwaku padanya? "Jangan bercanda dong!" seru Meiko kemudian.

"Aku tidak bercanda, dan memang hanya itu caranya. Berikan aku jiwamu... maka semua kuanggap impas." Jelas wanita itu.

"Nggak! Nggak mungkin! Kalau begitu... kalau begitu percuma sa-"

"Aku sudah bilang, sihir ini tidak permanent, dan kalau kamu mencoba 'Mengubah' kenyataannya pun, kau akan mati karena kau tidak mempunyai jiwa. Kau hanya akan menjadi buih, Meiko..." Meiko terdiam. "Sihir ini juga, di sebut Sihir Keputusasaan." Tambah wanita itu lagi. "Bagaimana? Apakah kita setuju?" Tanya wanita itu sambil mengulurkan tangan ke arah Meiko.

Meiko memandang uluran tangan itu. Terbesit di pikirannya beberapa pertanyaan.

Apakah aku termasuk orang yang putus asa? Kupikir ya...

Meiko menatap wanita itu...

Apakah aku akan menyesal saat melakukan hal ini?

Meiko menjabat tangan wanita itu. Menatapnya dengan tegas. "Baiklah... aku setuju..."

Tidak... aku pikir tidak...

Wanita itu tersenyum. Dia menebaskan sesuatu ke arah Meiko. Tiba-tiba ada seberkas Cahaya yang menyelimuti Meiko. Cahaya itu... sangat terang... terang... tapi tiba-tiba cahaya itu meredup dan padam. Hampa...

Tidak ada yang perlu aku sesali...