Chapter 5: That Student, Vacation


Disclaimer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso-sensei! Saya cuma pinjem chara-chara-nya yang super keren!

Warning(s): AU, typo(s) perhaps?, OOC, gender bender, SebasxFem!Ciel, My First Multichapter Fiction! DLDR!


"Hm, ya. Sering-seringlah mengunjungi 'saudara'mu, oi si datar penjaga barat!" teriak Ronald iseng yang langsung dihadiahi tatapan mematikan dari William yang sempat menoleh dan menggeram kemudian kembali berjalan pergi.

Sedangkan Ronald yang puas berhasil mengerjai William, kembali melangkah masuk ke lorong tadi hingga dirinya tak terlihat lagi.


Red Moon

by: Kuroschiffer P.

"Fuwaah haha!~" Pemuda berambut pirang pucat bermata biru yang kita ketahui bernama Alois Trancy itu menaikkan kedua tangannya sambil menguap sekaligus tertawa. Ia terlihat senang dan puas sekali.

"Alois, kau aneh kalau seperti itu, tahu?" ujar Elizabeth yang sedang berjalan di sampingnya. Sedangkan Ciel yang sedari tadi berjalan di samping Alois hanya terdiam mendengar tingkah aneh teman baiknya itu.

"Hahaha!~ Habis, aku tak bisa berhenti tersenyum dan tertawa mengetahui fakta kalau besok sudah libur musim panas!~~" ujar Alois girang sendiri.

"Huh, hanya libur panas, kau sudah seperti ini, bagaimana nanti libur lulus sekolah coba?" tanggap Elizabeth sambil menggelengkan kepala.

"Libur lulus sekolah memang lebih lama dari ini?" tanya Alois lebih antusias dari sebelumnya. Maniak libur memang, padahal kehidupan sekolahnya biasa saja. Benar, biasa saja. Punya teman banyak dan orang-orang senang padanya, taka da yang menjauhi. Benar-benar kehidupan sekolah yang biasa, bukan? Entah apa yang membuatnya senang sekali libur. Tugas dan ulangan yang menumpuk mungkin? Ehem, sepertinya ini masalah pribadi author fiksi gaje ini. *ditendang readers*

"Ha-ah, suka-suka kau lah, Alois!~" ujar Elizabeth pada akhirnya.

"Oh iya, Ciel, kau libur musim panas ini pulang lagi ke kampung, bukan?" tanya Elizabeth kepada Ciel yang sedari tadi ikut berjalan di samping mereka namun tak berbicara apapun. Bukan berarti ia tidak mendengarkan semua ocehan dan percakapan teman-temannya itu, lho!

"Hm, iya. Aku akan membantu peternakannya lagi seperti musim dingin lalu. Lagipula aku memang sedikit rindu kepada Bibi dan Kakek." jawab Ciel jujur sambil terus menatap ke depan.

"Haha, aku juga kangen dengan Bibi dan Kakek. Hei, bagaimana kalau liburan kali ini aku ikut denganmu, Ciel? Lumayan mengisi liburan, mumpung tak ada tugas apapun!" usul Elizabeth riang sambil menatap Ciel.

"Wah, aku ikut dong kalau begitu!~" timpal Alois yang memang mendengarkan percakapan mereka sedari tadi.

"Aah, lebih baik jangan deh! Aku ke kampung bukan untuk sekedar liburan santai-santai, lho!" jawab Ciel sedikit keberatan. Sebenarnya ia mau saja mengajak teman-temannya ke kampungnya, tetapi ia takut merepotkan mereka dan Bibinya sebab kalau mereka ikut, Bibi juga akan menyediakan makanan tambahan untuk mereka, bukan?

"Yah, Ciel!~ Kenapa?" tanya Alois kecewa dengan nada memelas. Sedang berusaha mengubah keputusan teman dekatnya ini, tentunya.

"Iya, Ciel! Kenapa sih kau tidak pernah mau mengajak kami? Kami mau-mau saja kok disuruh melakukan pekerjaan peternakkan. Malah kelihatannya seru, 'kan?" Elizabeth ikut memelas membantu Alois agar mereka diperbolehkan ikut ke kampung halaman Ciel.

"Ayolah, Ciel!~ Ciel baik, deh! Ciel imut, deh!~" ujar Alois dengan nada―sengaja dibuat―super manis dengan senyum imutnya yang seperti anak perempuan innocent.

"Hihihi, iya, Ciel baik, deh! Ciel cantik, deh! Boleh, yaa?" tanya Elizabeth lagi dengan nada sama manisnya dengan Alois namun kalau Elizabeth yang bicara rasanya sudah biasa terdengar ditelinga siapapun.

Sedangkan gadis yang sedari tadi diam dibujuk, dirayu, digoda (?), diminta oleh teman-temannya itu hanya berjalan sambil tertunduk dengan wajah hampir seluruhnya memerah. Malu, tentu saja.

"Hhh… S-sudah kubilang, 'kan? Kalau nanti kalian tak betah, aku akan susah untuk memulangkan kalian!" jawab Ciel sedikit terbata masih dengan semburat merah yang perlahan menghilang dari wajah imutnya.

"Kami pasti betah, kok! Janji!" teriak Alois dan Elizabeth bersamaan dengan nada antusias yang sama serta mata yang berbinar-binar.

"Dan kalaupun kami tak betah, kami tak akan merengek-rengek minta pulang, kok! Ayolah Ciel, boleh ya?" tambah Elizabeth lagi dengan senyum manis dan nada meyakinkan agar sepupunya yang keras kepala itu mau merubah pikirannya.

"Iya, Ciel! Boleh, yaa?" pinta Alois lagi.

Ciel yang dihujani rengekan, mohonan, wajah memelas teman-temannya hanya bisa terdiam pasrah. Ia tak tahu lagi bagaimana menolak permintaan mereka. Padahal liburan sebelumnya mereka tak pernah meminta sangat keras seperti sekarang.

Ciel pun menganggukkan kepala pelan, tanda setuju. Alois dan Elizabeth pun langsung meloncat girang sambil tersenyum senang.

"Asyik! Ciel baik, deh! Kenapa tidak dari tadi saja bilang 'iya'?" ujar Alois masih riang.

"Hm. Kalian boleh ikut asal tidak membuat repot, lho!" ucap Ciel sambil sedikit membuang napas pasrah sambil menunjuk teman-temannya.

"Tidak, kok! Tenang saja Ciel!" jawab Elizabeth sambil mengedipkan sebelah matanya meyakinkan Ciel.

"Baiklah kalau begitu. Kalian ke apartemenku saja lusa jam 8. Kita akan berada di sana sekitar seminggu." jelas Ciel kepada teman-temannya sesampainya mereka di depan gerbang sekolah.

"Oke! Soal itu sih tenang saja!~" Kali ini giliran Alois yang mengedipkan sebelah matanya sambil mengacungkan jempolnya serta tersenyum dengan gigi terlihat sedikit mengkilap. Mirip pose seseorang, ya? Tebak siapa hayo? *plak* Oke, lanjut.

"Well, sampai jumpa lusa, teman-teman!" Ciel pun melambaikan tangan sejenak kepada teman-temannya sebelum berjalan meninggalkan mereka. Ingat 'kan kalau Ciel pulang berbeda arah dan kendaraan dengan kedua teman blonde-nya itu?

"Sampai lusa nanti!~" Elizabeth dan Alois balas melambai dengan senyum riang gembira yang mungkin tak akan pernah lepas dari wajah imut mereka.

.

.

"Liburan nanti kau kemana, Ciel?" tanya pemuda rupawan berambut hitam dengan senyum khasnya yang setia bertengger di wajahnya yang kini tengah duduk di tempat biasa ia duduk. Ya, di kursi penumpang di sebelah gadis manis berambut kelabu panjang duduk.

"Mau kemana pun bukan urusanmu, 'kan?" tanya Ciel balik dengan sedikit nada malas. Rupanya Ciel mulai sedikit terbiasa dengan segala tingkah laku Sebastian dan mulai hafal dengan segala sifat dan sikap pemuda rupawan itu.

"Hm, kau sudah pintar menjawab rupanya, eh Ciel?" tanya Sebastian lagi dengan nada meledek dan senyum coretmesumnyacoret masih menggantung di wajahnya.

"Dan kau tidak ada habisnya meledekku, eh Sebastian?" Ciel membalikkan lagi perkataan Sebastian tersebut. Sudah mulai terbiasa, kan?

"Ah, kau tidak bisa diajak bercanda ih!" jawab Sebastian sambil mencubit sebelah pipi Ciel. "Kau butuh tersenyum lebih banyak agar kau tidak cepat tua, kau tahu?" ujar Sebastian lagi masih sambil mencubit pipi Ciel supaya gadis itu tersenyum, masih sambil tersenyum iseng dan terkekeh kecil.

"Ugh, s-sakit Sebastian! L-lepaskan tanganmu, cepat!" perintah Ciel sedikit gelagapan dengan semburat merah bermunculan di wajah pucatnya. Degup jantungnya juga ikut berloncatan tak karuan sebab tangan dingin Sebastian bersentuhan dengannya. Ia sedang berusaha melepas cubitan Sebastian yang tidak mau lepas dari wajahnya.

"Ney-ney, aku tak mau melepaskannya sampai kau tersenyum!~" balas Sebastian riang masih sambil mencubit pipi Ciel pelan.

"Ha-ah, baik, kau menang!" ujar Ciel menyerah sambil menunjukkan senyum corettermaniscoret terpaksa yang kalau dilihat orang-orang pasti akan ikut tersenyum atau terkekeh sebab wajah Ciel kala itu sangatlah lucu, imut, dan menggemaskan. Bayangkan saja wajah Ciel memerah dan senyum yang dipaksakan yang malah membuatnya lucu, oh, para lelaki yang melihatnya pasti sudah nosebleed! Kecuali Sebastian tentunya.

"Hahaha, nah begitu! 'Kan kau jadi terlihat imut!~" ucap Sebastian sambil tertawa puas seraya melepaskan cubitannya. "Kau belom menjawab pertanyaanku yang tadi, lho!" tagih Sebastian santai.

"Hm? Liburan ya? Aku mau pulang ke kampung. Puas?" jawab Ciel sedikit ketus sambil memegangi pipinya yang masih agak kemerahan. Tenang saja, Ciel. Itu adalaha tanda cinta Sebas untukmu, kok!~ *Author dihajar*

"Ke kampung, ya?" jawab Sebastian pelan dengan nada serius. Kemudian ia terdiam sejenak. Ciel yang menyadari perubahan nada dan sikap Sebastian langsung menolehkan kepala dan memasang ekspresi heran luar biasa. Tentu saja ia heran, sebab ia amat jarang sekali melihat Sebastian kelihatan seserius ini.

"Kau kesambet apa, eh Sebastian?" tanya Ciel heran dan untuk memastikan kalau ehemtemannyaehem ini baik-baik saja. Ckck, kau gak sopan, Ciel! *Author ditendang entah kemana*

"Hee, tumben kau menanyaiku seperti itu, Ciel!~" jawab Sebastian kembali ke nada dan wajah riangnya yang biasa. Seperti Sebastian yang serius tadi tak pernah ada.

"Huh, sesukamu sajalah!" tukas Ciel kembali dengan raut cemberut dan nada sedikit kesal.

"Haha, jangan marah begitu, dong! Kau bilang kau mau pulang ke kampung, 'kan?" Sebastian kembali dengan nada riang tetapi tak seriang biasanya. Ciel yang mendengar nada bicara Sebastian yang sedikit aneh, lantas langsung menolehkan pandangannya ke arah Sebastian.

"Hm, memangnya kenapa?" tanya Ciel balik dengan satu alis terangkat.

"Kau ingat kata-katamu 2 bulan lalu?" tanya Sebastian lagi dengan nada iseng yang―menurut Ciel―menyebalkan.

"Hm? Memangnya aku ngomong apa?"

"Coba saja ingat-ingat dulu. Tentang kau mau ke Monroeville." jawab Sebastian iseng. Sok dimisteriuskan. Ciel tampak berpikir sejenak. Berusaha mengingat apa yang pernah ia katakan kepada Sebastian.


"Oh, iya Ciel. Bisa ajak aku ke sana kapan-kapan?" tanya Sebastian sebelum masuk ke dalam apartemennya.

"Memangnya ada apa sih?" tanya Ciel semakin heran.

"Tidak, kampung orang tuamu sama denganku. Aku cuma ingin kembali ke kampung halamanku sesekali. Bukankah bagus kalau ada yang menemani?" ucap Sebastian sambil bersiap masuk ke dalam apartemennya.

"Oh, boleh saja, sih. Kebetulan 2 bulan lagi aku ingin ke sana." jawab Ciel santai dan tak ada nada keberatan dari kalimatnya.


"HAH! Sebastian! Jangan bilang kau…" teriak Ciel tiba-tiba dengan nada horor, syok, kaget, dan semacamnya yang hanya membuat Sebastian tetap tersenyum menjengkelkan seperti biasa.

"Ya! Aku akan ikut denganmu ke sana!~" jawab Sebastian riang sambil tersenyum lebar hingga red rubies-nya tertutup sepenuhnya.

Ciel yang melihat dan mendengar kalimat Sebastian barusan hanya diam, kaku, pandangannya kosong, dan wajahnya memucat seketika. Seperti baru saja terkena hujatan angin topan atau semacamnya.

Sedangkan Sebastian hanya tersenyum puas dan penuh kemenangan.


Somewhere we don't know yet

"Kau sudah dengar, Lord? Sebastian akan ikut ke Monroeville bersama enchantoid itu." ujar pemuda berambut kuning-coklat berkacamata dengan nada amat sopan.

Pria yang dipanggil 'Lord' oleh pemuda tadi hanya diam sambil membaca bukunya tanpa mengalihkan iris hitamnya sedikitpun dari halaman buku tersebut.

"Haruskah kita mencegahnya atau membiarkannya, Lord?" tanya pemuda itu lagi masih dalam posisi berlutut di depan meja kebesaran pria yang dipanggil 'Lord' itu.

"Tidak. Biarkan saja ia melakukan apa yang ia mau." jawab suara bass sang Lord berambut hitam tenang, masih dengan pandangannya tertumpu pada bukunya.

"Tapi, My Lord, kalau ia berhasil mengingat segala masa lalunya di sana lalu malah berbalik menyerang kita bagaimana?" tanya pemuda itu lagi dengan nada sedikit menentang. Tidak, ia bukannya menentang keputusan Lord-nya melainkan mencemaskan Lord-nya itu.

"Dia tidak akan mengkhianati kita. Biarkan saja ia bertindak sesukanya. Kalau kita mengekangnya, itulah yang berbahaya, ia malah tak akan percaya kepadaku lagi." ujar Lord itu sambil menutup bukunya dan menatap ke arah bawahannya yang masih berlutut di depannya.

"Biarkan saja ia ikut dengan Phantomhive. Kalau ia mengetahui segalanya pun ia tetap akan berada di pihak kita. Bagaimanapun, 'Sacred Moon'-lah yang bersalah. Mereka yang membunuh semua klanku dan orang tuanya." Saat mengatakan kalimat itu, tangan sang Lord mengepal keras, seakan ia menyimpan dendam amat hebat dengan organisasi itu.

"Tetapi siapa yang akan mengawasi mereka di sana? Kalau di London sudah ada William dan saya. Kami pun tak bisa meninggalkan tempat ini, bukan?" ujar pemuda enchanterire itu yang berdasarkan deskripsi di atas, bernama Ronald Knox.

"Aku sudah mengutus 'duo itu' untuk pergi ke sana." ujar Lord itu tenang sambil mengambil gelas wine beningnya itu lalu meminumnya.

"Maksudmu kedua enchanterires yang kemarin beraksi di Bank Darah London?" ulang Ronald lagi untuk memastikan.

"Ya, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau boleh pergi sekarang, Knox." ucap Lord itu pada akhirnya sambil menyatukan kedua jari tangannya dan menaruhnya di depan wajahnya sambil tersenyum.

"Yes, My Lord!" ujar Knox yang kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan sang Lord. Setelah Ronald pergi, sang Lord berdiri dari kursi beludru kebesarannya dan berjalan menuju jendela besar yang terletak di belakang kursinya. Ia pun menyibakkan tirai beludru merah marun yang menutupi jendela yang besarnya satu setengah kali dari tubuhnya itu.

"'Sacred Moon', kalian akan lihat kalau enchantoid itu telah kutemukan dan berada di genggamanku." gumam sang Lord sambil menyeringai puas dengan iris hitamnya yang berubah warna menjadi red dark berry menyala-nyala sambil menatap keluar jendela ruangan suram itu.


2 days later…

"Liz, banyak sekali bawaanmu! Kau bukannya mau pindah rumah, 'kan?" tanya Ciel sambil sedikit sweat drop melihat jumlah bawaan Elizabeth yang memang kelewat banyak untuk seminggu. Bagaimana Ciel tidak kaget, Elizabeth membawa tiga koper geretan besar-besar sekaligus!

"Hm? Sepertinya aku sudah meminimalkan barang-barangku, deh!" ujar Elizabeth agak bingung sambil menggaruk pipinya dengan telunjuknya.

"Err, ya sudahlah. Ayo masuk dulu, baru kau saja yang sudah datang." ujar Ciel sambil mundur agar Elizabeth dapat masuk ke dalam apartemennya.

Elizabeth pun menarik ketiga kopernya masuk ke dalam apartemen Ciel. Ciel yang melihat hal itu hanya bisa ber-sweat drop sambil bertanya-tanya, 'Tenaga seperti apa yang dimiliki Elizabeth hingga ia menarik koper-koper yang kelihatannya amat berat itu dengan tampang santai dan biasa saja?'

"Duduk saja dulu, Liz! Aku masih harus membereskan beberapa barangku lagi." ucap Ciel pada sahabatnya itu setelah ia menutup pintu apartemennya. "Kalau mau sesuatu, ambil saja di dapur. Kau sudah tahu, 'kan?" ujar Ciel lagi sebelum pergi meninggalkan sepupunya itu.

"Oke. Tenang saja, Ciel!~" ucap Elizabeth riang sambil mengedipkan sebelah matanya tanda setuju.

Ciel pun masuk kembali ke kamarnya dan merapikan kamarnya yang akan ditinggal untuk satu minggu lamanya. Tak lama kemudian, ia merapikan dan mengecek kembali tas dan barang-barang bawaannya.

"Hm, pakaian, celana, piyama, dompet, sabun, sikat gigi, ponsel, sepatu, apalagi yang belum?" Ciel mengecek kembali kopernnya dan mengabsen barang-barangnya supaya tak ada yang tertinggal.

"Oh, charger, shampoo, dan buku!" gumam Ciel setelah menyadari apa yang kurang. Ia pun lekas mengambil barang-barang tadi dan memasukkannya ke dalam tas tentengan kecil. Setelah ia rasa semua barangnya sudah lengkap dan apartemennya sudah cukup rapi dan bersih untuk ditinggal, ia lekas menarik kopernya ke ruang tamu ke tempat Elizabeth menunggu. Tak lupa tas tenteng kecil tersampir di bahunya.

"Alois masih belum datang juga?" tanya Ciel kepada Elizabeth yang sedang mengganti channel-channel di televisi yang ada di ruang tamu Ciel.

"Hm, belum―"

TING TONG

Ucapan Elizabeth barusan terpotong oleh bel apartemen Ciel yang berbunyi.

"Mungkin itu dia." ucap Elizabeth lagi sambil menatap Ciel dan menatap ke arah pintu.

Ciel pun membuka pintu apartemennya. Dan benar saja, si blonde satu lagi telah tiba. Dialah Alois Trancy. Ciel pun kembali di sweat drop-kan oleh sahabat bermata sewarna sapphire ini.

"Morning, Ciel!~" sapa Alois riang dengan nada dan wajah innocent-nya yang khas.

"Err…Alois, kau tidak berencana tinggal di kampungku selamanya, 'kan?" tanya Ciel mencoba memastikan.

"Eh? Tidak, kok! Memangnya kenapa?" tanya Alois polos dan heran sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Lalu benda-benda di belakangmu itu apa?" tanya Ciel lagi dengan nada amat sangat heran sambil menunjuk benda-benda di belakang Alois. Mungkin kalau ini adalah anime, sfx-sfx yang bakal muncul dari tadi adalah "Jreng!".

"Hah? Tentu saja barang-barangku. Kita akan menginap untuk seminggu, 'kan?" tanya Alois balik tak mengerti. Ia tak tahu apa yang salah dengan bawaannya.

"Iya, kita akan ke sana hanya SEMINGGU. Bukan SELAMANYA." ujar Ciel memberi penekanan pada kalimatnya. Ya, ia heran dengan cara pikir teman-temannya itu. Mereka hanya pergi untuk seminggu tetapi bawaan mereka sudah seperti orang yang mau bertransmigrasi.

"Hm, kenapa Ciel?" tanya Elizabeth yang baru saja muncul di samping Ciel.

"Hai, Liz!~" sapa Alois riang masih sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Ya ampun, Alois! Bagaimana caramu membawa 1, 2,… 5 koper itu, hah?" tukas Elizabeth ikut heran sekaligus sweat drop sambil menunjuk koper-koper itu.

"Ya…tinggal kau seret saja, 'kan? Apa yang aneh dengan itu?" tanya Alois lagi heran. Sungguh ia benar-benar tidak mengerti apa yang diherankan teman-temannya.

"Ha-ah, ya sudahlah. Daripada makin rumit, kau masuk saja dulu, Alois." ucap Ciel sambil mendesah sebentar sambil menggaruk pipinya dengan telunjuknya.

"Hm? Kenapa tidak langsung berangkat saja, Ciel?" tanya Alois.

"Iya, 'kan Alois sudah datang. Tunggu apalagi?" tanya Elizabeth bingung sambil menaikkan sebelah alisnya.

"…" Ciel ragu untuk memberi tahu mereka kalau Sebastian lah yang ia tunggu. Pasti kedua sahabatnya itu akan meledeknya macam-macam kalau tahu Sebastian ikut.

"…Masuk saja dulu. Kita masih harus menunggu satu orang lagi." ucap Ciel pada akhirnya sambil kembali masuk ke apartemennya. Alois dan Elizabeth yang tak mengerti hanya berpandangan sekilas dan ikut masuk ke dalam apartemen Ciel.

Alois dan Elizabeth pun duduk di sofa ruang tamu Ciel. Ciel yang baru saja menutup pintu juga duduk di sofa satu lagi.

"Memang siapa lagi yang kita tunggu, Ciel?" tanya Alois heran sambil menyandarkan punggungnya di sofa. Duduk sesantai dan senyaman mungkin.

"Iya, bukanlah kita akan menaiki London Express sendiri?" tambah Elizabeth sambil menunjukkan raut heran kepada Ciel.

"…Hhh, ada satu orang lagi yang akan ikut ke kampungku." jawab Ciel pada akhirnya dengan pelan. Ia pun segera menyiapkan diri dengan berbagai pertanyaan yang sebentar lagi akan dilontarkan kedua temannya itu.

"HAH? Siapa, Ciel?" tanya Alois sontak bangun dari posisi santainya dengan raut wajah kaget luar biasa.

"Iya! Siapa, Ciel? Salah satu teman kita kah?" tanya Elizabeth sama penasaran dan excited-nya seperti Alois.

"Kok kau langsung membolehkan orang itu ikut, sedangkan kami harus memohon-mohon dulu?" tambah Alois protes.

"Siapa sih, Ciel?" tanya Elizabeth lagi dengan nada yang lebih tenang dari yang tadi.

Sedangkan yang dihujani pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya diam di tempat sambil memasang tampang datar. Ya, Ciel tahu pasti reaksi teman-temannya bakal heboh seperti ini. Ciel hanya memejamkan mata sejenak sembari mendesah. Tarik napas, buang. Sepertinya Ciel agak keberatan memberi tahu teman-temannya siapa yang sedang mereka tunggu. Tetapi, karena teman-temannya sudah memasang raut anat sangat ingin tahu, Ciel tak punya pilihan selain memberi tahu mereka. Toh, nanti juga mereka akan tahu saat orang yang mereka tunggu datang.

"Oke-oke… Orang itu―"

TING TONG

Perkataan Ciel terpotong oleh bunyi bel apartemen Ciel yang kembali berbunyi. Mereka bertiga sontak menoleh ke arah pintu apartemen Ciel dengan tatapan kaget dan penasaran. Reaksi mereka seperti aktor pemain film horor yang kaget sebab hantu muncul secara mendadak di balik pintu.

Ciel pun bersiap membuka pintu, diikuti Alois dan Elizabeth di belakangnya.

CKREK

"Pagi, Ciel!~" sapa sebuah suara yang tidak asing bagi mereka setelah Ciel membuka pintu apartemennya.

"SEBASTIAN!" teriak Alois dan Elizabeth bersamaan layaknya dua aktor film horor yang baru saja bertemu makhluk yang aneh. Untuk kata 'makhluk yang aneh' memang ada benarnya juga.

"Hoo, ada Alois dan Lizzie juga!" tambah suara itu lagi riang disertai senyum khas di wajah rupawannya.

"Nah, kalian sudah tahu, 'kan? Ya sudah, kita berangkat saja sekarang." ucap Ciel sambil kembali masuk ke apartemennya, hendak membawa tas dan kopernya.

"Fufufu~ Pantas saja kau bersikeras agar kami tak ikut, Ciel!~" Alois terkekeh sambil tersenyum iseng sambil menutup mulutnya dan sedikit semburat merah muncul di pipinya.

"Hihihi, rupanya sepupuku sudah dewasa, ya?" Elizabeth menambahkan pernyataan Alois sebelumnya sambil ikut tersenyum dan tertawa pelan. Untuk pertama kalinya Elizabeth mendukung perkataan Alois dan berbicara seperti itu.

Empat siku-siku sudah tersebar di kepala Ciel, sedangkan wajah pucat putih halusnya sekarang sudah memerah layaknya tomat. Kini Ciel siap meledak (?).

"Ap-apa maksud kalian, hah? Dan kau, Liz! Ngapain kau ikut-ikutan otak mesum Alois, sih? Seperti bukan kau saja!" teriak Ciel kepada teman-temannya ini.

Sebastian yang melihat kejadian-kejadian di depannya hanya terkekeh dan tersenyum. Menikmati show gratis pikirnya. Setelah rasanya cukup lama berdiam diri saja di luar pintu apartemen Ciel, ia kemudian membuka suara.

"Ehem, kapan kita akan berangkat, kawan-kawan? London Express yang menuju Monroeville akan berangkat jam 11 nanti, lho!" peringat Sebastian sambil melihat jam hitam yang melingkar di tangan kirinya.

"Ah, iya juga! Sekarang sudah jam 10! Ayo kita berangkat ke stasiun saja, teman-teman!" ujar Elizabeth setelah ia melihat sekilas jam tangan hijau pemberian ayahnya yang melingkar manis di tangan kanannya.

.

.

London Station, 10.45 am

Keempat remaja tersebut tengah menunggu di peron 9, tempat kereta mereka akan datang. Stasiun London kali ini memang agak ramai dari biasanya mengingat hari ini sedang libur musim panas. Banyak juga yang membawa perlengkapan renang dan diving mengingat musim panas waktunya orang-orang berlibur ke pantai.

"Biasanya berapa jam kalau kau pulang kampung, Ciel?" tanya Alois yang sedang duduk di belakang jejeran koper-kopernya sendiri. Sebastian, Ciel, dan Elizabeth tidak mau tahu cara ia membawa koper-koper tersebut.

"Hm, tak lama kok. Hanya 3 jam." jawab Ciel sambil iris cerulean-nya terus memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di depannya.

"Kau tidak mabuk perjalanan, 'kan Alois?" tanya Elizabeth sambil menatap Alois.

"Tidak sih. Tapi agak membosankan saja hanya diam duduk di kompartemen selama 3 jam." tutur Alois sambil memperbaiki tali sepatunya yang lepas.

"Kau tinggal bolak-balik saja ke toilet biar tak bosan. Gampang, 'kan?" usul Sebastian sambil menunjukkan senyum khasnya yang biasa. Saat Sebastian mengeluarkan senyum andalannya itu, terdengar beberapa pekikan gadis-gadis, wanita, bahkan ibu-ibu yang lewat di depan mereka. Entah mereka fangirling-an atau apa, yang jelas senyuman Sebastian memang amat memesona. Dan percaya atau tidak, dada Ciel sedikit sakit saat para wanita kecentilan itu melirik-lirik Sebastian. Namun Ciel yang tidak ambil pusing terhadap hal itu hanya diam saja.

"HAHA, lucu sekali Sebastian! Aku akan ikuti saranmu." seru Alois sambil memberi penekanan dalam kalimatnya dan melirik Sebastian dengan tatapan sinis. Iya, sinis sebab Sebastian memang selalu menarik perhatian kaum hawa dimanapun dan kapanpun ia berada. Dasar Alois…

"Haha, untuk kali ini aku setuju denganmu, Sebastian!" tambah Ciel sambil tertawa kecil meliahat Alois yang biasanya meledeknya diledek orang lain.

"Wah, akhirnya wajah datarmu bisa tertawa juga, 'kan? Sering-sering saja tertawa, Ciel! Manis, lho!" komentar Sebastian saat―amat jujur dari lubuk hati terdalam―melihat wajah super imut Ciel yang tertawa walau sebentar. Sedangkan yang dimaksud hanya tertunduk dengan merah mendominasi wajah manisnya.

"Ehem, kalian tak lupa 'kan kalau ada kami?" Alois berdehem sambil melirik Sebastian dan Ciel bergantian dengan lirikan isengnya serta senyum jahil di wajah manisnya.

"Ap-apa sih, kau Alois?" Ciel mengalihkan pikirannya dengan mengomeli Alois yang memang senang sekali menggodanya kalau sedang malu-malu seperti ini. Tunggu!

Malu-malu?

Ciel langsung menggelengkan kepalanya dengan maksud mengusir pikirannya itu jauh-jauh. Malu-malu? Bisa-bisanya seorang Phantomhive terakhir yang biasanya dikenal datar dan dingin malu-malu seperti layaknya anak gadis yang sedang jatuh cinta?

Jatuh cinta?

Ah, kini Ciel hanya memukul-mukul belakang kepalanya dengan tangannya. Berharap apa yang dipikirkannya itu lekas keluar dari kepalanya.

"Ahaha, kenapa kau, Ciel?" tanya Elizabeth kemudian sebab heran melihat tingkah aneh teman perempuannya itu.

"Hihihi, pasti lagi salting, yaa?~" tambah Alois lagi sambil tertawa-tawa puas sambil menunujuk-nunjuk Ciel.

"Ih! A-a-ap-apa m-maksudmua, sih, Alois? Aku tidak sedang salting atau apalah itu!" bantah Ciel sedikit tergagap sebab tebakan Alois―sepertinya―tepat sasaran. Semburat merah masih menghiasi wajah Ciel yang putih pucat bagai salju hingga dapat terlihat dengan jelas.

"Ahahaha~" Sebastian hanya ikut tertawa melihat teman-temannya itu, terutama melihat tingkah Ciel. Ya, ia puas sekali bisa melihat Ciel tertawa, malu, salting, dan semacamnya itu sebab hal-hal itu sangat JARANG ditemukan dalam diri Ciel.

"Huh, awas saja, kalian!" gerutu Ciel pada akhirnya. Ya, ia menyerah.

"Ahaha, eh teman-teman, itu keretanya sudah datang! Ayo!" ucap Elizabeth sambil menunjuk gerbong kereta yang sudah terbuka di depan mereka.

Mereka pun membawa masuk barang bawaannya masing-masing. Ciel dan Sebastian jelas tidak repot sebab mereka hanya membawa satu koper. Wah-wah, kompak, ya? Sedangkan Elizabeth memang sedikit kerepotan menaiki kereta sebab gerbong kereta yang sempit hingga ia harus memasukkan kopernya satu per satu. Nah, bagaimana dengan Alois? Kita skip saja bagian ia membawa koper-kopernya yang super besar itu sebab kalian tidak akan mau tahu bagaimana caranya. *Author dihajar satu negara*

Setelah mereka selesai menaruh barang masing-masing di bagasi barang, mereka berempat memasuki kompartemen mereka dan duduk berhadapan. Satu kompartemen di kereta itu cukup untuk diisi oleh 4 orang. Pas sekali bukan dengan jumlah mereka?

Jangan kira Ciel duduk bersebelahan dengan Sebastian, sebab Ciel sudah memberi tanda 'sayang' kepada Alois yang mengusulkan hal itu, yaitu berupa satu benjolan besar di kepala pirangnya. Ciel duduk di dekat jendela kereta―tempat favoritnya―dan di sebelahnya adalah Elizabeth.

Walaupun Ciel tidak bersebelahan dengan Sebastian, tetap saja, orang―kalau memang bisa disebut orang―yang duduk dihadapan Ciel adalah Sebastian. Bukankah lebih bagus bertatap-tatapan daripada bersebelahan? Ahaha~ *Author ditendang Ciel gegara otak bejatnya*

Oke, dikarenakan Author sedang malas mengetik detil-detil kejadian yang terjadi di kompartemen mereka, mari kita skip saja dan langsung ke 3 jam kemudian. *Readers nyodorin clurit dan kawan-kawannya* Pokoknya yang terjadi hanyalah hal biasa, seperti Ciel diledek Alois atau Sebastian, Elizabeth yang terkadang membela Ciel atau hanya terkikik sebab tak tahan dengan lelucon kawan-kawannya, dan canda tawa mereka berakhir saat Alois dan yang lainnya sudah mulai mengantuk dan akhirnya jatuh tertidur.

Ya, semua memang tertidur kecuali satu orang. Tidak, lebih tepatnya satu makhluk. Makhluk menyerupai manusia yang amat rupawan itu hanya terduduk diam sambil menumpukan lengannya di dekat jendela serta iris scarlet-nya menatap malas keluar jendela yang sebagian besar hanya terdiri dari pepohonan hutan. Jangan tanya mengapa ia tak tertidur atau merasa mengantuk. Vampire hanya menganggap tidur sebagai kemewahan dan mereka memang tidak suka tidur.

Ia mengalihkan iris scarlet-nya ke arah gadis manis di depannya ini yang sedang jatuh tertidur. Ia mengamatinya lama, mengagumi tiap garis wajah yang tercipta di wajah porselen milik Ciel. Perlahan ia bangun dari posisi duduknya dan mendekati Ciel. Ia berlutut di lantai kompartemen untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Ciel yang sedang terduduk tak sadar.

Perlahan, Sebastian mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut kelabu panjang Ciel yang jatuh terurai di samping tubuhnya. Merasa nyaman dengan menyentuh ujung rambutnya, tangannya pun bergerak menyusuri rambutnya hingga ujung kepala Ciel. Kemudian iris scarlet-nya kembali menatap wajah manis Ciel yang tertidur. Masih dengan tangannya menyentuh pinggiran wajah Ciel.

"Hmmh…" Ciel mendesah pelan namun masih dalam kondisi tidur lelap. Tak sadar. Hal itu sempat membuat Sebastian terkejut dan langsung menarik tangannya dari wajah Ciel.

Menyadari Ciel tidak bangun, ia tetap memandangi wajah Ciel. Entah apa arti tatapannya. Tatapan kagum atau…tatapan lapar?

Mungkin ia sendiri sedang berperang batin dan pikiran. Antara lapar atau tidak. Antara menyerang atau tidak.

Namun, harum darah Ciel yang memang sangat menggoda bagi kaum seperti dirinya ini, yang sedari dulu dapat dan selalu Sebastian hirup dengan jelas, kali ini tercium amat kuat. Amat kuat hingga membuat nafsu Sebastian perlahan bangkit.

Sebastian kembali mengulurkan tangannya ke arah Ciel. Kali ini tidak menyentuh wajahnya, melainkan menyibakkan rambut Ciel yang menutupi lehernya dengan amat perlahan.

Iris scarlet-nya berubah menjadi sewarna dark berry yang menyala-nyala. Perlahan tangan Sebastian menyentuh leher Ciel, tepatnya tempat pembuluh darah Ciel berada. Pemuda raven itu pun perlahan mendekatkan wajahnya ke arah leher Ciel. Mulutnya pun sudah sedikit terbuka dan dapat terlihat kedua taringnya telah memanjang melebihi ukuran taring normal manusia.

Hanya tinggal beberapa inchi lagi taring Sebastian menyentuh permukaan kulit leher Ciel. Sebastian pun dapat merasakan desah napas Ciel menerpa kepalanya, namun hal itu tak cukup untuk membuatnya kembali sadar.

Ujung taring Sebastian sudah hampir menempel di kulit leher Ciel.

Apa yang selanjutnya akan terjadi?

.

.

To be Continued


A/N:Sebelumnya tolong singkirkan parang, clurit, pisau dapur, dan semacamnya dari hadapan saya. /plak Oke, saya benar-benar MINTA MAAF untuk apdet yang SUPER TELAT ini. High School life is so though! Saya jarang banget dapet waktu senggang sekarang ini!

Huhu, kalau tetep mau nyalahin, salahin saja kehidupan SMA! Bahkan semenjak saya masuk SMA, untuk pertama kalinya saya liburan kemanapun selalu bawa-bawa buku pelajaran beserta alat tulisnya! Duh, udah berasa orang pinter ae, padahal itu tuh lagi dikejar-kejar sama tugas pe-er yang selesai satu, tumbuh seribu! /desh

Sebagai permintaan maaf, chapter ini sedikit lebih panjang dari yang lainnya. Biasanya saya hanya 3.9+ atau 4.1+ words, kali ini saya dapet 4.5+ words! Saya aja kaget liat hasilnya, kok bisa banyak banget -_-"a Oke, semoga chapter ini cukup memuaskan readers sekalian yang terhormat!~

Danke untuk semua readers dan silent readers!~ Makasih juga yang udah mau repot-repot kasih reviews!~

Keshahaha, Aiko Enma, Ferra Rii, Keikoku Yuki, SoraShieru

.

Aiko Enma: Nih udah saya buat jelas, 'kan siapa Sebastian di sini? Ufufu~ Makasih juga udah mau repot-repot ngecek fiksi abal saya di fandom itu, maap belum bisa apdet /desh. Untuk kisu, tunggu saja yah, saya bakal masukin adegan itu kalau waktunya tepat(?) x3 Makasih reviewnya, ayo RnR lagi!~~

Sekian rambling gaje saya, apdet selanjutnya saya tak tahu kapan. Doakan saja saya banyak waktu luang! Oh iya, mulai Senin besok saya ulangan! Doakan saya yah biar dapet kemudahan dan cepet lanjutin fict ini!~ /shot *siape lu?*

The Lost Author,

.

Kurofer