Meiko POV
Semua menggelap...
Apa yang terjadi padaku?
"...Ko..."
Tunggu... aku mendengar suara...
"...Iko..."
Suara... yang sangat aku rindukan...
"MEIKO!" teriak seseorang yang sukses membuatku terbangun dan terkejut begitu kulihat pemilik suara itu...
"Kaito..."
Normal POV
"Kaito..." Meiko terdiam untuk beberapa saat. Dia benar-benar tidak percaya dengan pengelihatannya saat ini. Ini... Mimpi?
"Hallo Meiko... kau baik-baik saja?" Tanya Kaito sembari melambaikan tangannya di depan wajah Meiko.
Meiko mengerjapkan matanya. "Ka-Kaito... A-Aku baik-baik saja..." jawabnya sambil terus menatap Kaito.
Tuhan... Apakah ini mimpi?
Apakah ini... kesempatan kedua yang kau berikan untukku?
Kaito mengangguk-angguk. "Lalu kakimu tidak apa-apa?" tanyanya kemudian.
Meiko menaikkan sebelah alisnya "Ka-Aduh!" dia mulai menunduk dan melihat kakinya yang... terkilir? Tiba-tiba dia teringat sesuatu. "KAITO! Sekarang bulan apa? Tanggal berapa? Hari apa? Jam berapa? Di mana?" tanya Meiko –setengah berteriak- pada Kaito.
"Se-Sekarang bulan Februari, hari sabtu, tanggal 27... eum... tadi kamu tanya apa lagi, ya? Aku lupa..."
"Jam berapa, dan sekarang kita lagi di mana?"
"Oh, sekarang jam... setengah 6, dan seperti yang kau lihat... kita sedang berada di tepi pantai." Jawabnya polos.
Meiko mulai mengingat-ingat kembali. Tunggu... ini waktu yang sama dengan waktu itu! Waktu di mana aku terkilir, dan Kaito menggendongku sampai rumah... lalu setelah itu diadakan upacara kelulusan... dan 1 minggu setelah acara perpisahan sekolah dia akan... meninggal? Tidak! Itu berarti aku hanya punya waktu 1 bulan lagi? Kenapa... kenapa harus secepat itu, sih? Kenapa penyihir itu harus memberi batas waktu padaku? Meiko menundukkan kepalanya. Berharap air matanya tidak akan tumpah sekarang... Berharap kalau ini akan bertahan selamanya... berharap kalau semua "Sihir" ini menjadi kenyataan... tapi... apa dia bisa mengubahnya? Ya... dia harus bisa mengubahnya. Bagaimanapun caranya... tapi... bagaimana?
"Meiko? Kau tidak apa-apa? Bisa berdiri?" Tanya Kaito kemudian.
Meiko menegadah "Ya... aku tidak apa-apa... tapi... sepertinya kakiku terkilir... hehe..." jawabnya sambil tertawa kecil.
Adakah kesempatan untukku?
Kaito mengangguk-angguk lagi. Kali ini dia melakukan hal yang sama seperti saat itu. Membelakangiku dan berjongkok.
"Kok bengong?" tanya Kaito kemudian.
Meiko tersenyum. "Memangnya kau ingin aku ngapain, Kaito?"
"Naik, laah~ nanti aku gendong sampai rumah, deh!"
Meiko tersenyum sambil memeluk leher Kaito yang ber-syal itu. Dia bisa merasakan debaran hatinya yang terasa sangat kencang. "Kaito... makasih ya..."
"Ya... sama-sama..." jawabnya pelan.
Meiko terdiam sambil terus memeluk leher Kaito... perasaannya makin kuat. Dia tidak ingin kehilangan Kaito... tidak lagi...
"Kaito... bisa turunkan aku sebentar?" Tanya Meiko kemudian.
"Oh, tentu..." Kaito mulai menurunkan Meiko dengan perlahan dan mulai menatapnya "Ada apa?" tanyanya sambil tersenyum manis.
Meiko menatap Kaito. Aku harus bisa mengungkapkannya... batinnya. "Kaito... aku... sebenarnya aku... aku... aku..."
"Meiko, kenapa kau bicaranya terbata-bata gitu? Lidah kamu terkilir juga?" Sela Kaito.
"BUKAN! MANA BISA LIDAH TERKILIR, BAKA!" teriak Meiko. Lho? Kenapa aku jadi marah-marah begini? Salah! Harusnya aku bilang kalau aku suka dia! Ya! Ayo berjuang Meiko! Batinnya. "Bu-Bukan begitu, Kaito...Tapi aku... sebenarnya aku..."
"Kamu Hamil?" tanya Kaito nggak nyambung.
"BAKAITO! BISA DIAM NGGAK? AKU SERIUS, NIH!" teriak Meiko kesal.
"Terus? Kamu kenapa?" tanya Kaito bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Ck... Aku... Aku... aku menyukaimu..." ujar Meiko dengan suara –yang SANGAT- pelan.
"Hah? Kamu ngomong apa, Meiko?" tanya Kaito.
"Aku menyukaimu..." ujarnya lagi.
"Hah? Kamu..."
"AKU MENYUKAI KAMU, BAKA! DENGAR?" ulang Meiko sembari mengalihkan pandangannya dari Kaito.
Hening sejenak di antara mereka. Meiko enggan bicara. Kaito pun sama saja. Sampai akhirnya Kaito memecahkan keheningan.
"Maaf Meiko... aku tidak pernah menyukaimu..."
DEGH! Dunia serasa berhenti berputar. Atau... itu hanya perasaan Meiko? Ya... mungkin itu hanya perasaan Meiko. Ugh... seharusnya aku tau itu... batinnya. Perasaannya saat ini... hancur... cintanya yang dia pendam selama ini... harus berakhir di sini? Tidak... aku tidak boleh egois... ujar Meiko sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Ini akhir dari semuanya...
Akhir dari perasaan cintaku padanya...
Meiko mulai merasakan pelupuk matanya basah. Tidak! Aku tidak boleh menangis di depannya, bukan? Aku tidak boleh! Batinnya. "Ok kalau begitu, Kaito. Aku permisi dulu ya!" ujarnya sambil melangkah dengan pincang.
"Hei! Tunggu, Meiko!" seru Kaito sembari mencengkram kuat tangan Meiko.
"Le-Lepaskan, Kaito..." ujar Meiko sambil terus menarik tangannya tanpa melihat wajah Kaito. Dia tidak ingin Kaito melihatnya dalam keadaan terpuruk sepeti ini...
"Kenapa?" tanya Kaito.
"Kenapa apanya?" ujar Meiko balik bertanya pada Kaito.
"Kenapa kau kabur sebelum mendengar lanjutan dari perkataanku?" Tanya Kaito.
"Apa yang harus aku dengarkan, Kaito? Semua sudah jelas, kan? Kau menolakku..." ujar Meiko lirih sambil terus menunduk.
"Aku tidak pernah bilang kalau aku menolakmu, kok..."
"Apa?" Meiko menoleh. "Lalu tadi apa? Lalu tadi kamu bilang apa, baKaito?" tanyanya –setengah berteriak- pada Kaito.
Kaito mendesah pelan. "Ya, tadi aku bilang aku tidak pernah menyukai-"
"IYA! DAN ITU ARTINYA KAMU MENOLAKKU, BAKA!" potong Meiko sambil berteriak pada Kaito. Dia mengusap matanya yang sudah terbasahi oleh air mata. Sial! Kenapa aku harus menangisi dia lagi, sih? Tidak cukupkah air mata ini untuknya? Tidak cukupkah rasa cintaku padanya? Ugh! Kenapa aku bisa mencintai orang bodoh seperti dia? Kenapa aku tidak mencintai orang lain saja? Kenapa aku harus terus merasakan pahitnya cinta? Tanya Meiko yang Lebih pada dirinya sendiri.
Kaito menggenggam kedua tangan Meiko dan menatapnya lekat. "Iya, aku memang bilang aku tidak pernah menyukaimu... tapi aku mencintaimu Meiko..."
Meiko menoleh. "Apa?" Aku... nggak salah denger?
Kaito membuang muka. "Masa aku harus bilang lagi?"
"Bilang lagi!" pinta Meiko. Ulangi lagi! Agar aku yakin, pendengaranku nggak salah!
"Ng-Nggak ada siaran ulang! Salah sendiri punya kuping kok kapuran?"
"APA? KA-"
"Aku CINTA kamu, Meiko! Dengar, sekarang?" potong Kaito sambil menekan kata Cinta.
God... berarti aku nggak salah dengar, kan? Tanya Meiko dalam hati. "Terus?" tanya Meiko polos.
"Kenapa malah tanya gitu?" ujar Kaito malah balik bertanya.
"Habis, aku bingung... kupikir... kipikir..."
"Memangnya kau pikir apa?" Tanya Kaito sambil melihat Meiko.
Meiko menatap Kaito. Wajah Kaito... memerah... "Kupikir ini akhir dari segalanya..." jawab Meiko sambil menunduk. Kenapa aku malah jawab begitu? Batinnya.
Kaito mulai mengelus pipi Meiko. Menghapus sisa air mata yang ada di sana. Lalu turun menyentuh dagu Meiko, dan mengangkatnya hingga wajah Meiko yang tadi tertunduk jadi terlihat jelas oleh Kaito. "Ini bukan akhir... ini sebuah permulaan..." ujarnya lirih, lalu dia mencium Meiko dengan lembut.
ini bukan sebuah akhir... Tapi sebuah permulaan...
Benarkah?
