Meiko POV
Aku terduduk di kasurku sembari memeluk sebuah bantal. Aku mengingat-ingat kejadian kemarin yang, sungguh, sampai sekarang pun aku masih belum bisa mempercayainya. Ini seperti mimpi... mimpi yang menjadi kenyataan...
"Ini bukan akhir... ini sebuah permulaan..." suara Kaito terngiang-ngiang di benakku.
benarkah?
Atau ini hanya sebuah mimpi indah?
"MEIKO! BANGUN! JEMPUTANMU SUDAH DATANG!" teriak Meito, kakak laki-lakiku.
"Hah? Jemputan apa?" tanyaku tidak kalah keras sambil membuka pintu kamarku.
"Lihat saja di jendela kamarmu... pangeranmu sudah datang, tau." Jawab Meito sambil meneguk rootbeer.
Aku berlari menuju jendela,menyibaknya dengan kasar, dan di sana... ada Kaito yang sedang melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. Aku melambaikan tanganku padanya dan menyuruhnya menungguku dengan bahasa isyarat yang di sambung dengan anggukan kepalanya.
Jadi... itu bukan mimpi?
Normal POV
Meiko menjejakkan kakinya di kelasnya bersama Kaito. Spontan semua orang di dalam kelas itu langsung melirik mereka dan mulai bersorak.
"Wha! Jadi benar kalian sudah jadian? Selamat ya! PJ, PJ!" crocos Neru sambil mendekati Meiko yang cuma bisa blushing.
"Be-benar? Wow... selamat..." ucap Haku polos seperti biasa.
"Slamat bro! Akhirnya kalian jadian juga..." ujar Gakupo sambil menepuk pundak Kaito yang cuma bisa nyengir.
"WOI! PJ WOI!" teriak Gumiya.
"JUPE AJA!" sela Akaito.
"Apaan sih, kalian? Ga nyambung banget..." ucap Luka sembari mendekati Meiko. "Meiko, selamat ya... aku turut bahagia nih..."
"Ah... eum... makasih, Luka..." ujar Meiko sambil tertunduk malu, sedangkan Kaito sudah di tarik oleh Gakupo entah kemana.
Luka mengamati keadaan... melihat Kaito sudah pergi atau belum. "Meiko! Kau serius jadian dengan dia?" tanya Luka –Setengah berteriak- pada Meiko.
"Hehehe... Iya." Jawab Meiko santai sembari duduk di bangku kesayangannya.
"Dia emang cowok baik, sih. Tapi apa kau yakin cukup dengan Kaito saja?" Tanya Luka -dengan nada yang sedikit tinggi- pada Meiko.
"Iya. " jawab Meiko.
"Dia itu cowok bodoh yang mengulang ujian, sampai 7 mata pelajaran, lho!"
"Iya. "
"Belum lagi tingkahnya sampai sekarang yang nggak putus-putusnya selalu mencoba menyibak rok anak cewek, dan mengintip saat kita ada di ruang ganti putri ! Bersama Gakupo, Gumiya, Mikuo, dan Akaito pula!"
"Iya. "
"Minatnya juga nggak umum! Dia juga selalu memakai baju yang aneh-aneh, kan?"
"Iya! "
"Lalu kenapa, Meiko?" tanya Luka. Heran, kenapa sahabatnya yang –Yah, setidaknya dia bisa mendapatkan cowok yang lebih baik dari Kaito.
"Nggak apa-apa kok, karena aku memang suka semuanya. " jawab Meiko sambil berlalu.
"Ow! Sinar kebahagiaanmu terlalu silau, Meiko!" seru Luka sambil tertawa.
Meiko hanya tersenyum mendengar ucapan Luka.
Mau Time Slip, atau mimpi, apa saja terserah, deh! Kalau ini memang mimpi, semoga aku tidak akan terbangun lagi.
Akhirnya... Aku punya kesempatan kedua untuk memulai kehidupan yang menyenangkan bersamanya...
.
.
.
Sudah 3 minggu semenjak mereka jadian, dan selama itu pula Meiko mulai merasa gelisah. Sebentar lagi tanggal 27... tanggal di mana Kaito akan meninggal karena kecelakaan...
1 minggu lagi... ya... aku hanya punya waktu 1 minggu lagi...
Meiko memeluk bantalnya. Saat ini dia sedang berada di dalam kamarnya. Memikirkan apa yang terbaik untuk melanjutkan semua ini... semua mimpi buruk yang sangat indah ini...
"Kau bingung?" Tanya sebuah suara yang sontak membuat Meiko terlompat kaget.
"Kau..."
"Ya, aku penyihir waktu itu... tentu kau masih ingat, kan?" ujar wanita itu sambil menatap Meiko.
"Apa maumu?" tanya Meiko ketus.
Wanita itu tersenyum menatap Meiko. "Mauku?" ulang penyihir itu. "Tentu saja jiwamu, Meiko..." jawab penyihir itu sembari mengelus pipi Meiko dengan lembut. Meiko hanya menepisnya dengan kasar. "Percayalah Meiko... Waktumu sudah habis... kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan..." ucap penyihir itu.
"Apa maksud-" belum sempat Meiko melanjutkan ucapannya, penyihir itu sudah hilang tepat di depan mata Meiko. "Apa maksud penyihir aneh, itu?" gumam Meiko kesal.
Waktumu sudah habis... Meiko mulai menerjemahkan kata-kata itu. Jangan-jangan... penyihir jahat itu akan mempercepat Kematian Kaito? TIDAK! Itu tidak boleh terjadi!
DRRRTTT... DDRRRRTTT...
Meiko mentap Handphone-nya yang mulai berdering. Dibacanya sebuah nama yang tertera di layar mini itu... Kaito...
"Halo..." ujar Meiko lirih.
"Halo Mei-chan! Kau bisa ke taman nggak, hari ini? Aku punya sesuatu untuk di bicarakan, nih!" seru Kaito.
"Oh... baiklah... kapan?"
"Sekarang! Aku tunggu kamu di Voca Park, ya! Dagh!"
Lalu telepon terputus... Meiko hanya mendesah dan mulai bersiap-siap menuju Taman...
.
Di Voca Park...
Meiko mulai mencari sosok Kaito di taman itu. Taman itu hari ini tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu sepi. Dan kebanyakan pengunjung taman itu adalah para remaja.
Meiko melihat sosok Kaito yang tengah duduk di salah satu taman di sana. "Kaito!" serunya sembari mendekati Kaito. "Maaf lama..."
"Tidak apa-apa... ayo duduk! Aku punya kabar gembira!" ujarnya sembari memberi isyarat agar Meiko duduk di sebelahnya.
"Wha? Masa? Apa itu?" Tanya Meiko sembari duduk.
"Aku akan turun main ke pertandingan basket!" jawab Kaito.
"Benarkah? Wha... hebat! Kapan pertandingannya?"
"Yah, sekitar tanggal 27..."
DEGH! Itu tanggal dia akan meninggal... nggak! Aku nggak bisa biarkan dia meninggal secepat itu!
"Nggak boleh..." gumam Meiko.
"Hah?"
"Hari itu kamu nggak boleh keluar..."
Kaito diam sejenak untuk berpikir, lalu dia berkata "Oh, kau marah karena aku terlalu sering aktif di klub, dan tidak mengajakmu main, ya?" tanyanya sambil tertawa.
"Bukan! Bukan karena itu!" jawab Meiko sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. "Itu karena... karena..."
"Karena apa, Meiko?" Tanya Kaito penasaran.
"Karena... Karena saat itu, kau akan meninggal, Kaito!" jawab Meiko –setengah berteriak- pada Kaito.
"Apa?" Tanya Kaito kaget. "Kau mau ngajak bertengkar, atau apa sih, Meiko?" Kaito mulai meninggikan nada bicaranya.
"Bu-Bukan begitu! Masa depan... eh, bukan! Aku melihatnya di mimpi!"
"Mimpi? Rasa cemasmu sudah benar-benar keterlaluan, Meiko!"
Meiko mencari alasan lain. Dia bisa melihat kalau hampir seisi taman itu sedang 'Menonton' pertengkaran mereka. Aduh... mana mungkin aku bilang kalau aku datang dari masa depan, dan tau apa yang akan terjadi! Batin Meiko. "Kaito! Aku serius! Kau akan mati karena kecelakaan!" Ucapnya sembari memegang lengan Kaito dengan erat. Berharap kalau Kaito akan mempercayainya. "Maka dari itu, kumohon! Kau jangan pergi ke pertandingan i-"
"MAU ADA KECELAKAAN ATAU APA, AKU AKAN TETAP PERGI KE PERTANDINGAN ITU, MEIKO!" teriak Kaito -yang sukses membuat Meiko kaget- sambil berdiri dari tempat duduknya tadi. "Aku nggak mengerti jalan pikiran mu, Meiko... ku pikir kamu akan ikut senang saat kau tau hal itu..." ujarnya sambil berlalu. Sedangkan Meiko masih mematung di tempat duduknya.
Tuhan... Ku mohon... semoga pertengkaran kami tadi hanyalah mimpi...
Mimpi... bukannya ini mimpi?
Meiko tersadar dari lamunannya "Ka-Kaito!" seru Meiko sambil berusaha mengejar Kaito. Tapi ternyata, Kaito sudah hilang dari pandangannya.
Kaito... jangan pergi...
jangan tinggalkan aku sendirian lagi...
Kumohon...
Tetaplah di sini...
"Sudah kubilang, kan? Mimpimu tidak akan menjadi kenyataan, Meiko..." ujar seseorang. Meiko hanya terdiam. Dia yakin kalau orang yang ada di sampingnya itu adalah sang penyihir. "Aku akan menunggu sampai saatnya tiba..."
Sampai nanti saatnya tiba...
Akankah aku menemukan akhir yang bahagia?
Happy end?
.
.
.
DRRTT... DRRRT... –Piip-
"Meiko, kau bertengkar dengan Kaito?" Tanya Luka -to-the-point, tanpa say hello- begitu Meiko menempelkan handphone-nya ke telinganya.
Meiko menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Yah... begitulah..."
"Kenapa?" tanya Luka singkat.
"Aku bilang dia akan mati..." jawab Meiko sambil menatap kosong kearah langit-langit.
Hening sejenak...
"MEIKO? KAMU GILA? JELAS DIA MARAH SAMA KAMU, LAH!" Teriak Luka.
Meiko menjauhkan telinganya dari handphone-nya sesaat, dan menempelkannya lagi. "Nggak kok... aku serius... dia akan mati tanggal 27 bulan ini..."
Hari terjadinya kecelakaan itu semakin dekat...
Apa 'Kami' akan bisa menghabiskan waktu seperti ini dengan selamat tanpa ada kejadian apa-apa?
Bisakah?
"Meiko, aku tau kamu gila, tapi untuk kali ini aja... please, ngomong yang bener, oke?" tahan Luka.
Meiko mendecak kesal."Tau ah, Luka. Aku lagi males berdebat nih... aku serius, aku datang dari masa depan... aku tau apa yang akan terjadi, Luka! Percaya sama aku, please?" ujar Meiko sembari terus berharap kalau Luka, sahabatnya, akan percaya pada ucapannya.
Luka terdiam sesaat. Di hatinya masih ada keraguan akan ucapan Meiko yang –Yah, anggap saja seperti ucapan orang ngelantur-. "Kamu jangan bohong ah, Meiko. Nanti kena karma lho..."
"Aku serius! Aku berani sumpah! Kaito akan meninggal tanggal 27 besok!" teriak Meiko.
Luka terdiam sesaat... "Beneran? Kalau beneran, terus Kaito mati karena apa?" tanya Luka pada akhirnya.
"Beneran! Dia mati karena kecelakaan lalu lintas saat dia menuju tempat pertandingan!" jawab Meiko.
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan mencoba mengubah takdir..."
"Gila..."
"Aku serius, Luka! Aku sudah menjual jiwaku pada seorang penyihir!"
"Gila..."
"Beneran! Dan aku cuma punya batas waktu sampai tanggal 27! Aku harus bisa mengubah takdirnya, kalau tidak... aku akan menjadi buih..." jelas Meiko sambil tertunduk.
"Gila..."
"Luka, sekali lagi kamu bilang 'Gila', akan kubunuh kau!" ujar Meiko kesal.
"Iya, iya... kidding... tapi, kamu serius ngejual jiwa kamu ke penyihir? Di bayar berapa?" Tanya Luka kemudian.
"Bayarannya aku bisa kembali ke masa lalu..."
"Oh... Lalu, sekarang gimana? Kamu mau aku bantu?"
"Aku hopeless, Luka... aku nggak tau aku harus ngapain... aku bener-bener takut kehilangan dia lagi..." Curhat Meiko.
"Kenapa hopeless? Kamu ke sini buat dia, kan? Kamu kembali ke sini buat menyelamatkan dia, kan? Lalu kenapa kau harus bingung?"
Meiko terdiam... Benar apa kata Luka... kenapa aku harus bingung seperti ini?
"Kalau kau mau, aku bisa membantumu..." tambah Luka kemudian.
Meiko tersenyum. "Makasih Luka... kau memang sahabatku yang paling baik..." ujarnya sambil tertawa kecil.
Luka terkekeh "Hey, itu gunanya sahabat, kan? Ya sudah, aku harus pergi... sampai nanti."
"Sampai nanti..."
-PIP -
Meiko terdiam. Ya... dia harus bisa melakukan sesuatu untuk mencegah kecelakaan itu... tapi masalahnya, dia tidak pernah tau kapan kejadian itu akan terjadi!
"Meiko... aku akan melakukan segala cara untuk menggagalkan rencanamu..."
Meiko menoleh ke sumber suara "KAU!"
Penyihir itu tersenyum sinis. "Kau tidak akan bisa Meiko... takdir selalu berkata lain..." ujarnya untuk yang terakhir kalinya, dan langsung menghilang dari pandangan Meiko.
Aku tidak akan bisa?
Benarkah?
Akankah takdir berpihak padaku?
