Takdir...
Aku mencoba mengubah takdir yang telah terjadi...
Bisakah?
Hari ini Meiko tengah menatap jam dindingnya yang terus berdetak. Waktu demi waktu sudah dia jalani... dan inilah saatnya untuk mengubah takdir itu.
Aku... Kalau aku pasti bisa menyelamatkannya...
Hanya Aku yang bisa menyelamatkannya...
Meiko mulai melangkah keluar kamarnya, dan dia melihat sosok yang sudah tidak asing lagi baginya. "Apa Mau-mu?" Tanya Meiko ketus.
Penyihir itu tersenyum sinis "Aku hanya ingin memberitahumu kalau... Waktumu sudah habis..."
"Ap-" DEGH! Meiko langsung jatuh terduduk di lantai sembari menggenggam bajunya. Dia mulai merasakan sakit yang sangat luar biasa dari seluruh badannya. Terutama jantungnya. Apa yang...
"Bagaimana?" Tanya penyihir itu sambil tersenyum licik "Akan aku beri tahu sesuatu. Kaito akan mati pada pukul 12 siang tepat, dan saat itu juga..." Penyihir itu sengaja menggantungkan kalimatnya, dan mulai mengangkat dagu Meiko "Kau akan menghilang..."
Meiko merasa tubuhnya sangat lemah dan sakit, sampa-sampai dia tidak dapat membalas ucapan penyihir itu.
Penyihir itu tersenyum penuh kemenangan, dan mulai beranjak pergi "Oiya, kau perlu tau satu hal lagi... Tubuhmu akan segera menipis. Mulai dari... sekarang." Ujarnya sebelum dia benar-benar hilang dari pandangan Meiko.
"Si-sial!" geram Meiko.
Meiko mulai mengambil ponselnya untuk memberitahukan hal ini pada Luka. Begitu dia menggenggamnya, ponselnya langsung terjatuh. Cepat-cepat Meiko menggenggam tangannya sendiri yang ternyata sudah mulai menipis. Meiko mulai terdiam sesaat.
Waktu kepergianku... Mulai berjalan?
DRRRTT... DRRRTT...
Meiko memandang ponselnya dan mulai mencoba untuk menyentuhnya. Dan ternyata, dia dapat menyentuhnya kembali.
-PIIIP-
"Halo?"
"Halo Meiko! Ini Luka!" seru suara di ujung sana. "Kau tidak apa-apa? Hari ini Kaito akan pergi jam-"
"Tengah hari..." potong Meiko.
"Hah?"
"Penyihir itu bilang Kaito akan meninggal pada tengah hari..." ulang Meiko, kini lebih jelas. "Dan saat itu juga... aku akan menghilang..." tambahnya.
Luka terkejut bukan main "Me-Meiko..."
"Tubuhku mulai menipis, Luka..."
Luka terlonjak kaget "APA?"
"Hiks..."
Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat. Yang terdengar hanya suara isakan Meiko. Luka juga nggan berbicara karena bingung harus berkata apa saat ini.
"Luka..." gumam Meiko di sela-sela isakannya.
"Ya?"
"Apa aku harus menyerah?"
Luka terdiam untuk beberapa detik "Menyerah?" Ulang Luka dengan nada yang lumayan tinggi. "Kalau kau mau menyerah sekarang, buat apa kamu datang ke sini, Meiko? Buat apa kamu menjual jiwamu pada penyihir gila itu?" Meiko cuma terdiam. "Meiko, sekarang jam 10 lebih 15 menit, kalau kau ingin mencari Kaito dan menggagalkan Kematiannya, akan aku bantu! Tapi kalau kau mau menyerah... lebih baik kau diam saja di sana! Menanti ajalmu, dan ajal Kaito datang menjemput kalian!" tambah Luka.
Meiko mendengus kecil "Kau mau membantuku?" tanyanya lirih.
"Tentu saja! Aku ada di belakangmu!" jawab Luka mantap.
"Baiklah... ayo kita pergi..."
.
.
Kaito mulai menatap langit sambil mendesah pelan. Dia heran dengan perkataan Meiko beberapa hari yang lalu. Dia akan mati? Apa maksudnya? Sungguh, dia tidak ingin bertengkar seperti ini dengan Meiko... Meiko... gadis yang sangat dia cintai...
"Kaito, kau akan pergi?" Tanya Gakupo pada kaito yang masih terdiam memandang langit.
Kaito mulai tersadar dari lamunannya "Y-ya... aku akan menyusul." Jawabnya lirih.
Gakupo mulai menenteng tas basketnya. "kau yakin, tidak mau bareng?"
"Yakin..." jawab Kaito kosong.
Gakupo mulai mendekati Kaito "Kau kenapa? Kok lesu gitu? Harusnya kan, kau senang! Semangat! Karena bisa turun tanding di pertandingan penting ini!" hibur Gakupo.
Kaito menatap Gakupo lesu "Meiko..."
"Kau bertengkar lagi dengannya?" tabak Gakupo.
Kaito hanya tersenyum masam sambil mengangguk kecil.
"Memangnya ada apa?"
"Dia bilang aku akan mati hari ini..."
"Hah? Serius?"
Kaito menganggguk, lalu menghela nafas "Tapi... kalau aku harus mati karenanya, aku rela. Aku yakin, aku akan bahagia di alam sana..." ujarnya sambil menenteng tasnya dan berjalan bersama Gakupo.
Gakupo hanya tersenyum masam tanpa bisa memberi komentar.
.
.
Meiko mulai mengusap peluhnya. Dia telah mencari kaito hampir ke seluruh penjuru kota. Tapi hasilnya nihil, dia tidak menemukannya.
"UKH!" Meiko jatuh terduduk untuk yang kedua kalinya. Jantungnya terasa sangat sakit, dan tubuhnya pun semakin menipis. Meiko mencengkram lengannya untuk menahan sakit yang dia rasakan.
DRRRT... DRRRT...
Meiko mengambil poneselnya. Luka...
"Halo, Luka?"
"Halo! Meiko! Sekarang Kaito sedang ada di stasiun F! Dia baru saja turun dari kereta! Ayo cepat, susul kesana!" perintah Luka –Setengah berteriak- pada Meiko.
Meiko mengangguk –walaupun dia tau Luka tidak dapat melihatnya- "Bagaimana kau bisa tau?" tanya Meiko sambil berlari menuju stasiun F.
"Jangan banyak tanya! Aku tau hal itu!" jawab Luka. Meiko hanya tersenyum sendiri, mematikan ponselnya, dan berlari secepat yang dia bisa.
Aku harus bisa menyelamatkan Kaito!
.
Luka menutup ponselnya sambil mendesah pelan "Kalau kau ingin mereka berdua mati, kenapa kau menyuruhku untuk memberitau Meiko tentang lokasi Kaito sekarang?" tanyanya sambil menatap tajam kearah wanita berjubah ungu-panjang yang tengah berdiri di depannya.
Wanita misterius itu tersenyum "Aku suka drama, Luka. Sudah lah, Diam, dan perhatikan saja apa yang akan terjadi..."
.
Meiko berlari menuju stasiun F. Dia melirik kearah sebuah jam besar yang berada di sana. 11.30. dia juga sudah merasakan tubuhnya yang makin menipis. Aku harus berjuang! Seru Meiko dalam hari sembari terus berlari mencari sosok Kaito.
.
Kaito berdiri bersama Gakupo, dan Mikuo di depan Zebra Cross sambil melihat jam tangannya. 11.40...
Akankah Meiko datang?
Tidak terasa lampu hijau untuk penyeberang jalan sudah menyala. Tetapi Kaito masih bergeming di sana sambil memperhatikan jam tangannya. Mikuo yang sudah sampai di ujung jalan itu, mulai merasa ada satu temannya yang tertinggal. Begitu tau kalau itu Kaito, dia langsung berseru "BAKAITO! NGAPAIN KAU DI SANA? CEPAT KESINI!"
Kaito tersadar dari lamunannya "Ah, ya! Aku akan segera kesana!" serunya sambil melambai, dan berjalan menyebrangi jalan besar itu.
Tanpa dia sadari, saat itu Meiko tengah berlari kearahnya, Lampu penyeberangan jalan sudah berubah menjadi merah, dan sebuah bis besar yang tengah menuju kearahnya dengan kecepatan tinggi...
.
Pukul 11.41
Meiko melihat sosok Kaito yang melambai pada Mikuo, dan mulai menyeberangi jalan itu dengan santai. Saat itu juga, Meiko berlari menuju Kaito.
"KAITO!" Teriak Meiko. Tapi sepertinya Kaito tidak mendengarnya.
Meiko mulai melirik kearah lampu penyebrangan yang sudah berubah menjadi merah, dan sebuah bis besar yang tengah menuju kearah Kaito dengan kecepatan tinggi.
"TI-TIDAK! KAITO!"
CKIIITT... BRAAAKKK!
Saat itu juga, Meiko sudah tidak tau apa yang tengah terjadi...
.
Pukul 11.49
"Ugh..." Kaito merasakan kepalanya yang telah berbenturan langsung dengan pagar pembatas jalan... sakit... beberapa detik kemudian, dia langsung teringat sesuatu. "Oiya! Meiko!" Kaito menyadari kalau Meiko telah menyelamatkannya dari kecelakaan tadi, dengan cara mendorongnya hingga ke trotoar seperti sekarang.
Kaito melihat tubuh meiko yang sudah bersimbah darah, dan tergeletak tidak jauh darinya. "Me-MEIKO! BANGUN, MEIKO! BANGUN!" teriak Kaito sembari mengguncang-guncang tubuh Meiko yang terkulai lemas tidak berdaya.
.
Pukul 11.51
"Meiko!" teriaknya lagi. Tanpa terasa air matanya jatuh, dan saat itulah, Meiko tersadar.
Meiko tersenyum saat melihat sosok Kaito di hadapannya "Dasar bodoh... ngapain kamu... ukh... nangis?" Tanya Meiko dengan suara yang sangat berat, dan nafas yang terengah-engah.
Kaito masih menangis "Lalu apa yang kau lakukan, bodoh? Untuk apa kau melindungiku? Untuk apa?" Teriak Kaito.
Meiko tersenyum sambil mengelus pipi Kaito yang terbasahi oleh air matanya sendiri. "Kaito, sebentar lagi aku akan menghilang dan menjadi buih..." ujarnya lirih "Kau jangan tangisi kepergianku, ya..."
Kaito menggeleng kuat-kuat dan langsung memeluk tubuh Meiko yang mulai memudar...
.
Pukul 11.53
"Nggak, Meiko! Aku nggak mau kamu pergi! Aku mencintaimu, aku ingin selalu bersamamu!" Teriak Kaito lagi.
.
Pukul 11.54
"Cinta..." gumam Meiko lirih.
.
Pukul 11.55
"Cinta adalah kata-kata gombal yang sangat aku benci, Kaito... kau tau jelas hal itu..."
.
Pukul 11.56
Meiko melepaskan pelukan Kaito dan menatapnya dengan seulas senyuman di wajahnya.
"Tapi, aku tidak akan pernah menyesal karena pernah mengucapkannya padamu, Kaito..."
.
Pukul 11.59
"Kaito... aku sangat, sangat mencintaimu..." ucapnya lirih sembari mencium bibir Kaito dengan lembut untuk terakhir kalinya.
.
Pukul 12.00
...FUTS...
Sosok Meiko menghilang dari hadapan Kaito. Saat itu juga, Kaito menangis, dan berteriak sekencang-kencangnya...
Meiko...
.
.
Kini, Meiko tengah berdiri di suatu dimensi lain. Dia hanya dapat melihat kegelapan... kegelapan yang tenaga menyelimuti dirinya...
"Kaito... aku... mencintaimu..." Ujarnya lirih sambil menangis
Tidak ada yang perlu aku sesali...
Karena ini jalan yang aku pilih...
.
Luka Menatap langit yang mulai menggelap karena mendung. "Tapi sepertinya usahamu akan gagal, penyihir bodoh..." gumam Luka lirih.
Penyihir itu menengok kearah Luka "Apa?"
"Usahamu akan gagal, penyihir bodoh..." ulangnya sambil tersenyum.
"Kenapa?" Tanya Penyihir itu dengan nada yang penasaran.
Luka berbalik menghadap penyihir itu dan tersenyum "Karena mereka saling mencintai..."
.
Meiko yang tengah menangis itu, tiba-tiba berhenti ketika dia melihat seberkas cahaya. Cahaya yang sangat terang. Dia mulai berdiri, dan mendekati cahaya tersebut. Begitu Meiko mendekatinya, dia mendengar sebuah suara yang memanggilnya... suara orang yang sangat di cintainya...
"Meiko... jangan pergi... aku membutuhkanmu sekarang..." ujar suara itu lirih.
"Ka-Kaito?" serunya sembari berlari kearah cahaya itu sambil menangis "Kaito! Aku nggak mau kehilangan kamu! Nggak lagi!" serunya sambil mencoba menggapai cahaya itu.
.
Penyihir itu menatap Luka tajam "Lalu kenapa kalau mereka saling mencintai? Meiko akan tetap berubah menjadi buih karena tidak mempunya jiwa, ka-"
"Kau salah." Potong Luka "Meiko mungkin tidak mempunyai jiwanya lagi... tapi, saat Kaito mencintainya sepenuh hati, maka saat itu juga, Meiko sudah mempunyai setengah dari jiwa Kaito..."
.
Kaito yang masih terisak mulai mengusap air matanya, dan tiba-tiba saja seberkas cahaya muncul di hadapannya. Cahaya itu sangat indah. Sampai-sampai Kaito hanya memandangnya tanpa berkedip, dan bertapa terkejutnya dia saat dia melihat sesosok gadis di dalam cahaya itu. Gadis itu... Meiko...
"Me-MEIKO?" Teriak Kaito sembari menggenggam cahaya itu –Yang tiba-tiba berubah menjadi sosok Meiko yang terkulai lemah. Cepat-cepat dia peluk tubuh Meiko agar tidak terjatuh menyentuh tanah.
.
Penyihir itu tersenyum –sedikit terkekeh- pada Luka "Aku sudah tau ini akan terjadi, kok...
Luka menaikkan sebelah alisnya "Maksudmu?"
"Secret..." ujarnya untuk yang terakhir kalinya, dan menghilang dari hadapan Luka.
Luka hanya tersenyum dan bergumam "Dasar bodoh..."
Hari ini Meiko memandang langit musim semi yang terasa... sangat indah...
Bagian dari Hatiku...
"Mikirin siapa?" Tanya seseorang sambil bersender ke punggung Meiko.
Bagian dari Hatiku... Sudah di pastikan untukmu...
Meiko tertawa Kecil "Mikirin ujian yang sebentar lagi kelar... kalau kamu, Kaito?"
"Mikirin kamu, dong..." jawab Kaito sambil tertawa kecil.
Kemudian...
"Aku masih nggak percaya sama kejadian kemarin, deh... rasanya semua seperti..."
"Mimpi..." ucap mereka bersamaan yang akhirnya di lanjutkan oleh tawa kecil mereka berdua...
Kemudian Bagian dari hatimu...
Meiko mulai menggenggam tangan Kaito sambil menatapnya "Tapi Kaito, kalau ini hanyalah mimpi, mungkin aku tidak akan ingin terbangun selamanya."
Kaito tersenyum sambil mencium kening Meiko "Aku juga... kita awali hari ini dengan lembaran baru, ya!" ujar Kaito sambil tersenyum.
"Iya!"
Kemudian Bagian dari Hatimu... sudah di pastikan untukku...
Fin~
Yosh! akhirnya tamat juga~ hehehe... maaf karena di awal2 saya tidak menuliskan tentang disclaimernya...
saya lupa. ^^"
tolong di Review, yaa... XD
