Hallo minna.. :D
Kagoya kembali dengan chapter 2.. :D
Enjoy..!
Fighting, Sasuke!
Summary: Sasuke, si 'Pangeran Es' sedang berjuang untuk mendapatkan cintanya. Kita lihat yuk, perjuangannya!
Let the story begins..
"Saku, 'dia' datang." kata Sasori.
Pipi Sakura merona tipis.
"Benarkah?" tanyanya memastikan.
Kedua kakaknya mengangguk.
"Baiklah. Pastikan aku tidak akan menemuinya di S.E.K.O.L.A.H ini." kata Sakura sambil menekankan kata 'sekolah'. Rona di pipinya sudah hilang.
Sasori dan Deidara tertawa. "Berarti, di luar sekolah, boleh?" goda mereka.
Sakura menggeleng. "Tidak. Tidak di manapun." sahutnya tegas.
"Apanya yang tidak di manapun?" tanya sebuah suara di belakang Sakura.
Deg!
Jantung Sakura seolah berhenti berdetak. Astaga, suara ini...
"Kyaaa~ Tampannya.." jerit Karin, cewek paling menyebalkan di KHSS.
"Yo, Pein!" sapa Deidara. Princes dan Princesses-minus Sakura-memandang sosok pemuda berambut oranye di hadapan mereka ini. Sosoknya yang cool (bener-bener jiplak Sasuke!) ternyata sangat menawan.
"Sakura~" kata Pein sambil memeluk leher Sakura dari belakang.
Sakura tersentak.
"Lepaskan aku!" serunya sambil menjauh dari Pein. Sasuke bersumpah, kalau bukan di sekolah, Sasuke sudah menghantarkan pemuda itu balik ke tanah! (cemburu berat!)*Sasu: "kenapa, Author rese? Gak boleh cemburu?"**Author: "Hehe.."* Ayo kembali ke cerita!
"Sakura.." lirih Pein sambil memasang puppy eyes miliknya.
"Jauhi aku! Huh! Kau sama saja!" dengus Sakura sambil berjalan, hendak menuruni tangga. "Ayo, Ini, Hinata, Temari, Tenten, Tayuya!" seru Sakura.
Ino, Hinata, Temari, Tenten dan Tayuya menatap pacar-pacar mereka, lalu segera menyusul Sakura.
"Kau suka sekali sih, dengan stroberi?" tanya Sasuke, ketika Princes dan Princesses sedang makan siang di atap sekolah.
Sakura menatapnya dan Sasuke sudah merona. Tapi, wajah cool Sasuke sudah kembali terpampang, sedangkan jantungnya berdebar.
"Hn." komentar Sakura sambil kembali memandang buah stroberi di tangannya.
Sasuke menaikkan alis bingung. "Kau kenapa?" tanya cowok itu DINGIN!
Sakura menggeleng, lalu berdiri. Tindakan Sakura itu sukses membuat Sasuke makin bingung.
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke.
Sakura hanya diam sambil terus berjalan. Ia membuka pintu atap sekolah, menoleh ke arah Sasuke, tersenyum lalu menjawab pertanyaan pemuda cool itu.
"Ke kantin. Aku mau membeli buah stroberi lagi. Kau mau tomat?" tanya gadis pink itu.
Sasuke menggeleng. Sakura tersenyum dan mengangguk, kemudian menutup pintu dan menuruni tangga, menuju kantin. Sasuke mengarahkan kepalanya lurus ke depan, memandang sahabat-sahabatnya, lalu menengadah, memandangi awan yang berarak.
"Ooi, Teme!" panggil Naruto.
"Hn?" sahut Sasuke sambil memandangi Naruto plus sahabat-sahabatnya yang lain yang kini berkumpul di depannya.
"Kenapa kau masih saja dingin sih di hadapan Sakura?" selidik Ino.
Sasuke menghela nafas. Ia selalu blak-blakkan (gengsi Uchiha-nya ilang) di hadapan teman-teman dekatnya itu.
"Lalu aku harus bagaimana, Ino? Aku selalu gugup bila berada di dekatnya." keluh Sasuke.
Ino mendecak. "Kenapa kau harus selalu gengsi, sih! Jadilah dirimu sendiri, Sasuke! Kalau kau ingin manja bila di dekatnnya, ya, kau jangan pasang muka dinginmu itu! Tunjukkan padanya keromantisanmu, agar dia tahu bahwa kau sangat mencintainya!" celoteh Ino panjang lebar.
Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. Otaknya berusaha mencerna perkataan Ino barusan.
"Bagaimana kalau aku cemburu?" tanya Sasuke.
Ino mendecak lagi. "Tunjukkan pada Sakura, bahwa dia tidak boleh lagi ramah dengan pemuda sembarangan, karena kau bakal cemburu!" jawab Ino.
Sasuke terdiam. Sejenak kemudian, ia tersenyum tipis.
"Akan kulakukan semua saranmu, Ino." kata Sasuke yang dibalas oleh anggukkan teman-temannya.
"Ne, Sakura.." panggil Ino ketika Kakashi Sensei belum datang ke kelas.
"Hm?" sahut Sakura.
"Engg.. Kau kelihatan murung. Ada apa?" tanya Ino.
Sakura menggeleng lemah.
"Ne, Sakura-chan~.. Kau tidak boleh memendam keresahanmu sendiri. Berbagilah dengan kami." seru Naruto yang duduk di seberang depan Ino.
"Betul kata Duren." angguk Tenten yang duduk di belakang Sakura.
Sakura tersenyum. "Sungguh, aku baik-baik saja."
"Tapi matamu terlihat lelah, Sakura-chan." sahut Hinata.
"Kau lelah?"
Sakura segera menoleh ke arah kanan. Sasuke berdiri di sampingnya. Sakura menggeleng. Tangan Sasuke terangkat dan mengelus kepala Sakura. Pipinya merona tipis. Sakura pun tersenyum setelah berhasil menguasai rasa terkejutnya.
"Kau khwatir?" tanya Sakura.
"Tentu saja." sahut Sasuke.
Sakura tersenyum. "Terima kasih, Sasuke-kun." kata gadis itu.
Sasuke mengangguk senang. Rona di pipinya terlihat lebih jelas. Ino dkk hanya cekikikan.
"Nah, kita kedatangan murid baru hari ini. Masuklah." kata Kakashi-sensei.
Seluruh murid di kelas itu-minus Sakura-menatap murid baru itu. Sasuke tidak melepas pandangannya dari murid baru berambut oranye itu. Yap, dialah pria yang memeluk Sakura tempo hari.
"Nah, perkenalkan dirimu." ucap Kakashi-sensei.
Pria itu mengangguk. "Namaku Nagato Pein, tapi panggil saja Pein. Tampan, jenius, kaya raya (? *pede sekali diaaa...*), pewaris Nagato Ring Company. Aku.. Pindahan dari Ame. Aku ke sini.. untuk mengejar Haruno Sakura." ucap Pein.
Sontak, seluruh kepala memandang Sakura yang masih menatap ke luar jendela.
"Hm?"
"Sakura, kau kenal pria ini?" tanya Karin.
Sakura memandang Pein, lalu kembali menatap ke luar jendela.
"Hn."
"Halo, Hime^." sapa Pein pada Sakura. Kini pria itu berdiri di samping kanan Sakura.
"Hn."
"Astaga, kau masih saja dingin." gurau Pein. Sakura hanya diam.
CUP!
Mata emerald Sakura membesar. Tadi.. Pein mencium pipinya?
"Cieee...!"
"Cuit.. Cuit.."
"Cieee... Sakura..."
Sakura bangkit berdiri.
"Kau mau kemana Sakura?" tanya Pein.
Sakura membuka pintu kelas, tersenyum pada Pein. "Toilet." jawabnya.
Yeeeeyyy...!
Akhirnyaaa...
Chapter 2 selesaaiii...!
:D
Makasih ya buat reviewnya..
*Kagoya membungkuk dalam-dalam* hontou ni arigato gozaimasu, minna-san..
:)
Oh, iya..
Fic ini belum selesai..
Kagoya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan fic ini..
Sooooo...
Review, please?
^= putri
