Halo, minna..

Kagoya kembali dengan chapter 4..

Nah, chapter ini adalah chapter terakhir..

Dan sesuai permintaan, Kagoya akan menampilkan adegan Gaara dan Tayuya disini..

:D

Sooo...

Just enjoy...

Fighting, Sasuke!

Summary: Sasuke, si 'Pangeran Es' sedang berjuang untuk mendapatkan cintanya. Kita lihat yuk, perjuangannya!

Let the story begins..

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 4

"Hei, Gaara-kun." panggil Tayuya.

"Hm?"

"Bagaimana menurutmu?"

"Apanya?"

"Sasuke."

"Ada apa dengan dia?"

Tayuya mendecak. "Astaga! Maksudku, bagaimana menurutmu tentang Sasuke dan Sakura? Hubungan mereka? Bagaimana caranya menyatukan mereka?" tanya Tayuya, setengah kesal dan setengah gemas dengan kekasihnya ini.

Gaara menatap Tayuya. "Kenapa kau menanyakan itu padaku?"

Tayuya merona ditatap intensif seperti itu oleh Gaara. Ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. "Yah—kau hampir mirip dengan Sasuke." jawab Tayuya.

Gaara masih menatap Tayuya yang menunduk, sambil menaikkan sebelah alisnya. "Aku?"

Tayuya mengangguk. "Kau dingin seperti dia. Cuek." jawab gadis itu.

Gaara tersenyum. Ia mengangkat wajah Tayuya dengan jarinya. Lalu memandang dalam mata Tayuya penuh cinta. "Kalau begitu, kenapa kau jatuh cinta denganku?" tanya Gaara. Mulai iseng.

Tayuya makin merona. "Eeh—itu.."

"Hm?" tanya Gaara lagi. Nada suaranya terdengar semakin nakal (?).

"Karena.. Kau—tampan, pintar, daaan... Kau romantis terhadapku." jawab Tayuya malu-malu.

Gaara tersenyum, lalu memeluk Tayuya. "Kalau begitu, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sakura-lah yang harus menentukan alasan dia menyukai Sasuke. Atau alasan dia tidak menyukai Sasuke." jawab Gaara.

Tayuya tersenyum mendengar jawaban Gaara. "Aaah, satu lagi, Gaara-kun. Aku jatuh cinta padamu, karena kau sangat bijaksana." batin Tayuya.

Bila Tayuya menanyakan hal itu pada Gaara, maka Hinata, Temari, Tenten dan Ino juga menanyakan hal yang serupa pada Naruto, Shikamaru, Neji dan Sai.

"Ne—Naruto-kun.. Menurutmu bagaimana, ya? Cara menyatukan Sasuke dan Sakura-chan?" tanya Hinata.

Naruto berpikir sebentar. "Aah—Hinata-chan. Biarkan saja mereka yang menyelesaikan semua ini sendiri." jawab Naruto.

"Bukan begitu, Naruto. Kita hanya sedikit kasihan dengan Sasuke. Lagipula, kita kan juga ingin tau pendapat Sakura tentang Sasuke." tukas Tenten.

"Benar juga, ya. Selama ini Sakura tidak pernah bercerita tentang siapa yang disukainya." sahut Ino.

"Mungkinkah Sakura itu lesbian?" sembur Temari.

Tenten dan Ino memberikan gadis pirang itu tatapan tajam.

"Hei!" sahut Ino. "Sakura itu gadis normal, Temari!"

Temari nyengir.

"Aah, maaf kalau begitu." ujar Temari.

"Tapi, aku setuju dengan pendapat Naruto." sahut Neji.

"Aduh, Neji-kun.. Aku kan hanya ingin membantu." tukas Tenten, seolah-olah dia yang salah.

Neji tersenyum, lalu mengelus kepala Tenten. "Aku tau itu."

Tenten balas tersenyum pada Neji, dan membenamkan wajahnya di dada bidang cowok itu.

"Tapi.."

"Apa, Sai?" tanya Ino.

"Aku juga ingin tahu perasaan Sakura terhadap Sasuke. Ah, ya! Aku punya ide!" seru Sai sambil mengambil ponselnya, dan menekan-nekan tutsnya.

"Kau menelepon siapa, Sai?" tanya Shikamaru ketika melihat Sai menempelkan ponselnya di telinganya.

"Sasuke." jawab cowok itu santai.

"Hah?" Shikamaru bengong.

"Halo."

"Ah, halo, Sasuke. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

"Apa?"

"Kau bisa datang kan ke rumah Temari?"

"Hn."

"Kuanggap itu, iya. Baiklah, kutunggu." Sahut Sai, lalu memutuskan telepon.

"Sai?" tanya Ino.

"Tenanglah, sayang. Semua akan baik-baik saja." kata Sai.

Ino dkk hanya semakin tidak mengerti.

Tak lama kemudian, Sasuke pun datang.

"Kita langsung to the point saja, deh." kata Sai membuka percakapan.

"Hn." sahut Sasuke.

"Baiklah, Sasuke. Aku yakin, sebagai pria kau tidak bisa lagi menunggu wanita yang kau cintai lebih lama dari ini." ujar Sai.

Sasuke menatap cowok itu bingung. "Sakura, maksudmu?"

Sai memutar bola matanya. "Oh, Sasuke Uchiha!" desahnya. "Adakah wanita lain yang kau cintai selain Sakura?"

Sasuke menggeleng.

"Bagus." ujar Sai. "Nah, kita ingin kau bergerak cepat."

"Hah?" Sasuke tidak mengerti. (Aduh, cowok cakep kok rada lola, sih?)

"Begini, Sasuke." ujar Sai mulai serius. (Berarti dari tadi, gak serius, dong?) "Kau harus menembak Sakura."

"Hah? Jangan, Sai! Aku tidak mau dia mati!" seru Sasuke tertahan.

Sai cengo sesaat. "Bukan itu maksudku, baka!" serunya. "Maksudku, menyatakan perasaan. Begitu, lho." lanjutnya gemas.

"Oooh..." Sasuke hanya ber'oh'ria. *Sasu: Duuh! Kok gw lemot banget, sih? Ooi, Author! Kok gw dibikin kayak gini?**Author: (hanya bersiul-siul)**Sasu: Oooooi, Authoorrr!**Author: ayo kembali ke cerita..**Sasu: (bad mood)*

"Aah, itu ide yang bagus, Sai!" seru Hinata dan Naruto berbarengan. (dasar emang jodoh!)

"Menurutku itu juga ide yang bagus." sahut Sasuke. "Ajarkan aku bagaimana."

Sai dkk hanya kembali cengo. "Sasuke." giliran Ino yang berbicara. "Menurutku, kau utarakan saja perasaanmu. Tak perlu berbelit-belit."

Sasuke mengangguk paham. (udah gak lola lagi, dia.)

"Oke, kalau gitu, besok. Di kantin, kamu nembak dia. Gimana?" tantang Naruto.

"Oke, dobe!" sahut Sasuke.

"Bagus. Itulah Teme yang kukenal." sahut Naruto berbangga hati.

Esok paginya, Sasuke dkk segera melancarkan aksinya. Sakura yang sedang mau masuk ke kantin, langsung ditarik Ino.

"Hei, Ino!" pekik Sakura kaget.

Setelah sampai di meja kosong, Ino segera berteriak sambil menggebrak meja.

"WOOI, DIEEMMM! ADA PENGUMUMAN PENTING, NIIIH!"

Sasuke dkk yang bersembunyi menutup kuping mereka karena suara Ino yang cempreng. Bahkan Sakura sampai mengiris.

"Astaga, Sai.. Kenapa kamu betah dengan cewek cempreng itu?" tanya Shikamaru.

Sai hanya nyengir.

Lalu, Sasuke dkk keluar dari persembunyian dan berjalan mendekat ke arah Sakura dan Ino. Murid dan guru yang lain hanya menonton.

"Ehm, Sakura.." panggil Sasuke. Keringatnya bercucuran.

"Ya?"

"Ehm.. Itu.."

"Hm?"

Sasuke mengambil nafas sejenak. "Aku sudah lama menyukai—ah bukan, mencintaimu Sakura. Maukah kau menjadi pacarku?" tanya Sasuke dengan muka merona bak kepiting rebus.

"CIEEEEEEEEEE...!"

Sakura tersenyum. "Ah-akhirnya. Akhirnya, kau mengucapkannya juga. Tentu saja, Sasuke. Ya, aku mau." jawab Sakura.

Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. "Tunggu—maksudmu, kau menungguku mengucapkan ini?" tanya cowok itu setengah tidak percaya.

Sakura mengangguk. "Bukan hanya pria kan yang bisa cuek? Wanita pun bisa." sahut Sakura sambil tersenyum.

Sasuke tersenyum, lalu memeluk pacar barunya itu. Sementara, di kejauhan, Pein hanya bisa tersenyum kecut.

"Aku sudah terlambat.." gumamnya pedih.

THE END

Kyaaa...

Akhirnya, selesai juga fict ini...

Kagoya sangat senaaang...

But, still..

Review, please?