Hai, ketemu lagi…
Sebelumnya Ara mau ucapin terima kasih buat yang udah kasih tau typo di chap pertama. Terima kasih….
Juga buat yang udah mau baca fict gak jelas ini, apalagi buat yang review..
Ara bener-bener ucapin terima kasih
Oke, langsung kita mulai ja, ya.
Tittle : Sulit
Disclaimer : Yana Toboso, lah.. masa' punya saya. Jadi apa kuroshitsuji nanti..
Pairing : SebaXCiel, pasti…..
Rated : T, M, T, M, T, M, ….., T ja lah dulu…
Warning : OOC, yah.. pokoknya gitu, deh.. yang jelas ini fict YAOI/ Sho-ai/ boys love/ boysXboys/dlsb
Tak selamanya yang keras itu kuat
Tak selamanya yang keras itu tangguh
Tak selamanya yang keras itu menang
Karena dengan kelembutannya
Air dapat mengikis batu
Sulit
Chapter 2
CIIITT.
Sebuah limausin hitam berhenti tepat di depan perpustakaan pusat di kota Buckingham. Kemudian, turunlah dua orang pemuda dengan bantuan seorang pria tinggi berkacamata yang membukakan pintu untuk mereka berdua.
"Kau tunggu di sini saja, Claude." Ujar Alois kepada pria yang membukakan pintu mobil tadi. Rupanya pria itu adalah butler keluarga Trancy yang ditugaskan secara khusus untuk melayani putra tunggal keluarga Trancy.
"Yes, Your Highness." Balas butler tersebut sambil menyilangkan sebelah tangannya di depan dada dan sedikit membungkuk. Alois pun terus berjalan memasuki perpustakaan diikuti dengan Ciel di belakangnya.
…..
"Ciel, aku sudah dapat bukunya. Bagaimana kalau kita mengerjakan makalahnya bersama-sama?" tawar Alois pada Ciel yang sejak tadi hanya terdiam. Memang begitulah Ciel, tak akan bicara jika tidak dianggap perlu. Ciel hanya mengangguk menanggapi ajakan Alois. Toh, tidak ada ruginya juga kalau ia bekerja sama dengan pemuda pirang yang ceria itu. Sementara Ciel sedang asyik membaca sebuah buku di bangku pengunjung, Alois pergi meninggalkan Ciel sendiri. Sepertinya ia sudah meminta izin pada Ciel untuk ke toilet tadi. Tapi Ciel terlalu hanyut dalam kegiatannya itu sehingga ia tidak memperhatikan perkataan Alois. Di tengah keasyikannya membaca, tiba-tiba….
TEP.
Sepasang tangan menutupi kedua mata Ciel yang langsung mendapatkan protes dari si yang empunya mata.
"Alois.. jangan kekanak-kanakan. Aku sedang sibuk." Ujar Ciel ketus. Namun tampaknya orang yang tengah megerjainya saat ini menampakkan tampang kecewa. Dilepaskannya tangannya yang menutupi sepasang mata milik Ciel. Kemudian si pelaku berlari cepat meninggalkan Ciel.
Begitu bisa melihat dengan biasa lagi, Ciel menoleh ke belakang, berniat bisa memarahi Alois yang hobi sekali mengerjai orang. Namun ekspresi Ciel berubah heran saat ia tak mendapati siapa pun di dekatnya. Kedua alisnya mengerut, mencoba mencerna apa yang barusan terjadi. Ia pun celingak-celinguk untuk mencari orang yang mungkin mengerjainya.
"Kau sedang cari apa, Ciel?" tiba-tiba Alois muncul dari arah depan Ciel.
"Tidak.. ke mana saja, kau?" tanya Ciel.
"Bukannya aku sudah bilang kalau aku mau ke toilet. Karena kau diam saja, makanya aku langsung pergi."
"Baiklah kalau begitu. Aku masih ada urusan setelah ini. Aku duluan ya, Alois." Kemudian Ciel pun melangkah keluar dari perpustakaan, meninggalkan alois sendiri. Tapi itu tak masalah bagi Alois karena ia masih ingin berada di sini.
"Hati-hati, Ciel.."
…
Ciel melangkahkan kakinya menuju suatu tempat yang sudah menjadi tempat perjanjian antara dirinya dan kenalan bibinya yang merupakan pemilik sebuah kafe, Lau namanya. Lau bilang, ia boleh bekerja part time di kafenya sebagai pelayan. Selain karena Ciel adalah keponakan dari temannya, dengan wajah yang manis itu, Lau yakin Ciel bisa menarik banyak pelanggan. Posisi pelayan memang cocok sekali untuknya.
Udara yang semakin dingin membuat Ciel mengutuki dirinya sendiri yang lupa memakai mantel mengingat tadi pagi ia terburu-buru-sangat. Langkah demi langkah coba ia percepat agar bisa segera sampai di tempat tujuannya. Setidaknya tidak akan terasa begitu dingin jika berada di dalam ruangan.
"Permisi.." ujar Ciel yang mulai memasuki sebuah kafe dengan nuansa klasik yang sangat khas dengan gaya timur. Seorang pria dengan rambut hitam pendek segera menghampiri Ciel begitu ia masuk ke ruangan itu. Ciel tahu, dialah Lau. Ia pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya. Mungkin saat umurnya tujuh tahun.
"Waahh.. Ciel. Kau sudah besar rupanya." Pria itu kemudian memeluk Ciel layaknya seorang ayah yang sudah lama tidak bertemu dengan anaknya.
"Ma..maaf, Master Lau.. bisakah kau lepaskan?" pinta Ciel yang wajahnya sudah tak keruan warnanya lantaran malu bercampur kesal plus sulit bernapas.
"Oh, ayolah Ciel.. jangan panggil aku Master, panggil saja Lau." Lau pun melepaskan pelukannya yang membuat Ciel sedikit kesulitan bernapas.
"Baiklah err… Lau. Bisakah aku mulai bekerja?" tanya Ciel. Lau tampak berfikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Sepertinya belum hari ini, Ciel. Hari ini kau baru akan melihat-lihat dulu. Besok kau baru mulai bekerja." Ciel mengangguk paham.
"Sekarang akan kuperkenalkan kau pada pegawai-pegawai di sini. Ayo." Kemudian Lau menyeret Ciel menuju ke bagian belakang kafe.
Lau mulai memperkenalkan satu persatu pegawainya. Mulai dari seorang pelayan berambut merah dengan kacamata besarnya, bernama Maylene. Kemudian seorang bartender bernama Bard yang selalu tampak merokok sambil membicarakan berbagai macam senjata perang keluaran baru. Finnian, seorang pemain keyboard yang biasanya mengiringi siapa saja yang mau menyumbangkan lagu di kafe ini. Tapi biasanya sich Lau yang bernyanyi.
"Ummm.. aku tak melihat kokinya. Di mana dia?" tanya Ciel yang sejak tadi memperhatikan pelosok dapur yang kosong.
"Mungkin ia masih sibuk. Masih mahasiswa juga, sich.. tapi kan ada Ran yang siap membantu." Ujarnya sambil menunujuk seorang wanita berambut hitam panjang yang dikucir dua. Wanita bernama Ran tersebut adalah isteri dari Lau. Ciel hanya ber-oh-ria saat mendengarkan penjelasan Lau.
Setelah puas melihat-lihat seluruh isi kafe dan mencatat semua pekerjaan -yang akan jadi pekerjaannya besok- di dalam otaknya, Ciel pamit pulang pada Lau. Ia masih harus mengerjakan makalahnya.
….
Ciel sudah sampai di depan pintu apartemennya. Segera ia merogoh kantung celananya untuk mengambil kunci apartemennya. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, segera ia masukkan kunci tersebut ke dalam lubang di pintu.
CKLEK.
Bunyi itu bukan berasal dari pintu apartemen Ciel yang terbuka karena Ciel belum memutar anak kuncinya. Bunyi itu berasal dari pintu apartemen sebelah Ciel, tetangga Ciel. Ciel pun menoleh karena penasaran dengan tetangganya yang belum sempat berkenalan karena ia baru sampai kemarin sore dan pergi di pagi harinya.
Namun niatnya untuk berkenalan seakan kandas tergilas ombak saat melihat rambut raven yang dibelah tengah dengan poni menjulur di sisi rahang, mata beriris semerah darah, plus seringaian yang jelas-jelas ditujukan untuk dirinya.
"Waa… kenapa aku harus bertetangga denganmu?" teriak Ciel shock. Dan dengan tidak sopannya pula, Ciel menunujuk-nunjuk ke arah Sebastian yang berada sekitar lima meter dari tempatnya berdiri.
"My, my. Ternyata aku bertetangga dengan si PENDEK yang LAMBAN ini, ya?" ujar Sebastian seperti tak punya dosa. Mendengar itu, Ciel langsung memutar anak kuncinya, membuka pintu dan menutupnya dengan cara membantingnya.
'Kenapa aku harus selalu bertemu dengannya, sich? Kami-sama, apa dosaku?' lafal Ciel dalam hati. Sejujurnya, ia sendiri merasa agak aneh setiap kali bertemu dengan pria itu. Kata-kata orang itu selalu saja membuatnya kesal. Namun di saat yang bersamaan, ia juga berdebar. Entah karena takut atau kesal. Karena perasaannya yang tak keruan itu, Ciel memilih untuk langsung mandi dan kemudian mengerjakan makalahnya.
.
.
Setelah Ciel menutup (baca:membanting) pintu apartemennya, Sebastian masih sibuk memeriksa apakah apartemennya sudah cukup aman dari pencuri jika ditinggal. Tanpa ambil pusing atas sikap tetangga barunya barusan, Sebastian melangkahkan kaki meninggalkan apartemen yang sudah empat tahun belakangan ini menjadi tempat tinggalnya. Tak lupa ia memasang seringai yang sejak tadi semakin menjadi saja.
'My, my. Sepertinya kita memang berjodoh, ya.'
.
.
.
Saat sedang konsentrasi mengerjakan makalahnya, tiba-tiba ponsel Ciel bergetar pendek menandakan ada sebuah pesan masuk. Dengan ogah-ogahan Ciel membuka pesan tersebut. Dan dalam waktu beberapa detik, tampaklah sebuah pertigaan di kening Ciel. Mau tahu apa isi pesan tersebut?
From : 0000XXXXX
"Sedang apa, Cantik?"
'Cantik? Dia pikir aku perempuan, Hah?'Ciel yang terpancing amarah sepertinya mulai melupakan kegiatannya semula dan malah membalas pesan dari orang misterius tersebut.
To :0000XXXXX
"Maaf, tapi saya seorang lelaki. Kalau boleh tahu, siapakah Anda?"
Tak berapa lama kemudian, datanglah balasan pesan Ciel.
From :0000XXXXX
"Aku tahu, tapi biarpun kau lelaki, kau tetap Cantik. Dan masalah siapa aku, itu RAHASIA"
"Tck." Ciel mendengus kesal saat membaca balasan tersebut. Ia tak berniat membalas pesan yang jika dibalas lagi tak akan ada habisnya itu. Ia pun lebih memilih pergi menuju pulau kapuk dan beristirahat.
….
Udara pagi ini terasa agak lembab, mungkin akibat hujan kemarin sore. Di suatu ruangan, seorang pemuda berambut kelabu tampak sedang mengerjap-ngerjapkan matanya yang beriris safir. Perlahan ia bangkit dari posisi tidur sambil memegangi kepalanya. Entah mengapa, tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat berat. Dengan langkah yang sedikit terhuyung, Ciel berjalan menuju kamar mandi. Hari ini ia harus kembali ke kampus.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 sekarang, namun Ciel masih tampak santai di meja belajarnya untuk melanjutkan makalah yang sempat tertunda akibat ulah seorang anak manusia yang kurang kerjaan. Hari ini ia hanya mendapatkan dua kelas. Kelas pertama baru akan mulai pukul 10.00 nanti dan dilanjutkan kelas kedua yang dimulai setelah jam kelas pertama usai. Karena itulah, saat ini Ciel masih bersantai-santai.
Makalahnya sudah hampir jadi, tapi saat ini ia sedang mentok. Bingung harus menulis apa. Pemuda pemilik safir itu pun berfikir untuk menyentuh alat musik pemberian bibinya saat baru lulus SMA tempo hari. Sebuah grand piano yang sebenarnya pada awalnya ditolak halus oleh Ciel dengan alasan mempersempit apartemen. Namun apa daya, bibinya malah mencarikannya apartemen yang lebih luas dan elit dari apartemen pilihan Ciel sebelumnya. Namun sekarang ia berfikir, tak ada salahnya juga menerima piano itu. Dengan begitu, Ciel tak harus selalu terpaku akan biola peninggalan almarhum ibunya yang meskipun sudah tua, namun masih tampak baru.
Walaupun kepalanya masih terasa sedikit berat, Ciel tetap menuju ke tempat pianonya diletakkan. Tak jauh dari ranjang tidurnya, tepat menghadap beranda kamarnya yang saat ini terbuka, membiarkan cahaya matahari -yang selalu minim di kota itu- masuk ke kamarnya. Ciel pun duduk di bangku kecil di depan piano itu. Jemarinya yang lentik mulai menekan satu persatu tuts piano, terkadang tampak beberapa tuts ditekan bersamaan sehingga membuat sebuah rangkaian nada yang indah. Kedua belah bibirnya pun ikut melantunkan lagu agar permainan pianonya tak terasa hambar.
Hana mo ki mo bokura mo kanashii
Sora ni mukatte nobiru shikanai
Utsumuku tabi ni bokura wa kizuku
Soshite mata miageru
Kedua matanya terpejam demi menghayati setiap nada yang keluar. Sungguh, permaiannya sangat bagus. Andai saja saat ini ada produser musik yang mendengar dan melihat kepiawaian Ciel, pasti tak lama kemudian Ciel akan terkenal.
Nemuru anata wa kanashi sou de
Warui yume demo miteru you da
Boku wa koko da you tonari ni iru yo
Dokoe mo mou ikanai
How do I live without you
Perlahan, rasa berat di kepalanya menghilang. Digantikan dengan perasaan yang tenang dan damai. Lagu ini adalah salah satu lagu favorit Ciel, karena saat memainkannya Ciel merasa kalau ia sedang bersama kedua orangtuanya dulu. Karena itu pula, lagu ini juga bisa menjadi obat saat Ciel sedang rindu pada orang tuanya. Dan satu alasan lagi mengapa pemuda berambut kelabu tersebut menyukai lagu ini. Karena lagu ini adalah lagu pertama dan terakhir yang diajarkan oleh ibunya, Rachel Phantomhive.
Hito wa mina sora o miru
Miagete wa me o fuseru
Itsuka mi…
KLONTANG. KLONTANG.
Di tengah keasyikannya bernyanyi, Ciel dikejutkan oleh suara benda-seperti kaleng- yang jatuh di beranda kamarnya. Sontak Ciel menghentikan permainannya dan menautkan kedua alisnya kini. Karena penasaran, akhirnya Ciel putuskan untuk melihat keadaan di beranda. Kakinya melangkah melawan arah angin semilir yang membuat rambut kelabunya tampak menari-nari. Saat sampai di beranda, mata safirnya menangkap sebuah kaleng selai rasa cokelat tergeletak di berandanya. Ciel pun mulai berfikir, siapa yang dengan sangat kurang kerjaannya melempar kaleng selai ke berandanya. Ia pun celingak-celinguk untuk mendapatkan jawabannya. Memang, apartemennya bukanlah satu-satunya yang berada di lantai tiga, karena itu ia pun harus mencari ke segala arah.
"Hei! Siapa yang melempar kaleng selai ke berandaku?" teriak Ciel karena tak melihat adanya tanda-tanda kehidupan di sekitarnya. Saat ini pun ia tengah meremat kaleng selai tersebut saking kesalnya. Namun tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.
"Kau itu, pagi-pagi begini sudah berisik." Seorang pemuda berambut raven yang tampak berantakan muncul dari beranda di sebelah kanan kamar Ciel. Pemuda itu tampak seperti masih ogah-ogahan untuk hidup. Terbukti dari cara matanya yang beriris merah yang baru membuka separuhnya. Melihat sosok itu, lantas membuat Ciel makin geram saja. Ia yakin, orang itulah yang melempar kaleng yang kini berada di tangannya.
"Kau… APA MAKSUDMU MELEMPAR KALENG INI, HAH?" nah lho, Ciel ngamuk. Author gak berani…..
Orang yang diketahui bernama Sebastian-yang sedang diamuk Ciel itu lho- hanya menutup sebelah kupingnya saat Ciel berteriak.
"Apa kau tahu, aku lembur semalam, dan kau itu menganggu tidurku." Ujar Sebastian santai.
"Masa bodoh dengan kau yang lembur. Memangnya apa urusanku. Nih!" Ciel melemparkan kaleng selai yang ada di tangannya dengan seluruh amarahnya, namun berhasil ditangkap oleh si raven dengan mudahnya. Ciel menghentakkan langkahnya memasuki ruangannya kembali. Ia sudah tak bisa berfikir lagi sekarang, maka dari tiu ia putuskan untuk pergi ke kampus saja –walaupun masih kepagian- daripada melihat kelakuan orang iseng yang sejak kemarin terus mengganggunya. Hey, sejak kemarin? Ya, sejak pertemuan pertama di kereta, pemuda bermata crimson itu terus saja menjahilinya. Sebenarnya apa maksud orang itu? Ciel tampak semakin frustasi saat memikirkan hal itu.
.
.
.
Setelah siap untuk beragkat ke kampus, Ciel pun menuju pintu utama apartemennya. Ia meletakkan biolanya bersandar di diding saat ia mulai mengunci pintunya. Sesekali ia masih menggumamkan umpatan untuk orang yang sudah berkali-kali mengerjainya.
.TAP.
Pagitiu, hanya derap langkah kaki Ciel yang terdengar. Suasana apartemen susun ini begitu sepi dan terasa….mencekam. tanpa peduli apapun lagi, Ciel mempercepat langkahnya. Tujuannya hanya satu sekarang, stasiun kereta api. Namun saat ia hendak berbelok untuk mendapatkan tangga menuju ke bawah, tiba-tiba…
"CIEELLL….!" Seorang pemuda berambut pirang yang sedikit lebih tinggi dari Ciel memeluknya dari arah depan. Mata Ciel terbelalak kaget.'kenapa Alois bisa sampai kemari?' begitulah yang ada di benak Ciel sekarang.
"Al..Alois.. bisa kau lepaskan?" pinta Ciel yang wajahnya sudah memerah lantaran kekurangan oksigen.
"Eh, maaf…" ujar Alois seraya melepaskan pelukannya. Namun kemudian ia kembali tersenyum. "Kita berangkat sama-sama, yuk.." ajak Alois pada Ciel yang masih berusaha mengatur nafasnya. Betapa berat hidupnya, memiliki penggemar yang selalu menjahilinya, dan teman hiperaktif yang selalu mengejutkannya.
"Haahh…" Ciel menghela nafas panjang." Tapi dari mana kau bisa tahu rumahkua?" tanya Ciel.
"Tentu saja karena aku punya seorang butler yang hebat. Iya kan, Claude." Ujar Alois yang kemudian tersenyum ke arah pria tinggi nan tegap yang berada di belakangnya.
"Hai'. Terima kasih, Danna-sama." Ujar butler bernama Claude itu seraya membungkukkan badannya.
Tak perlu waktu lama bagi Alois untuk bisa menyeret tubuh Ciel –yang memang lebih kecil darinya- untuk mengikutinya menuju mobilnya yang sudah siap terparkir di depan gedung apartemen Ciel. Ciel hanya bisa pasrah saat tubuhnya diseret oleh teman pirangnya itu. Namun di tengah jalan menuju mobil, tiba-tiba Ciel merasakan kepalanya pusing dan ia pun menghentikan langkahnya. Sontak Alois pun berhenti dan menoleh ke arah Ciel yang sednag meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Ada apa, Ciel? Kau kenapa?" tanya Alois dengan nada khawatir yang tak terelakkan. Wajah Ciel tampak pucat kali ini. Entah kenapa, sejak bangun tidur tadi kepalanya terasa begitu sakit.
"Ciel? Kau sakit? Wajahmu pucat. Kuantar ke rumah sakit, ya." Usul Alois yang langsung mendapatkan bantahan dari Ciel.
"Tdak usah ke rumah sakit. Kta ke klinik bibiku saja." Ujar Ciel disela rasa sakitnya. Ya, dia memang selalu ke klinik bibinya bila merasa tubuhnya kurang beres. Kalian tahu sendiri, dengan tubuh yang super slim itu, Ciel cepat sekali terserang penyakit seperti flu, demam, dan lain-lain. Tanpa pikir panjang, Alois pun memerintahkan Claude untuk menuju ke klinik keluarga Burnett untuk memeriksa keadaan Ciel. Tapi tanpa disangka-sangka oleh mereka berdua, ada seseorang dengan port hitamnya mengikuti laju limausin milik keluarga Earl Trancy tersebut. Wajah orang yang mengendarai port tersebut pun tampak tagang seperti wajah alois sebelumnya. Berharap tak terjadi sesuatu yang serius pada Ciel.
.
.
.
"Kapan terakhir kau makan?" tanya seorang wanita berambut merah sebahu dengann tampang yangsedikit horor. Bukannya menjawab, yang ditanya malah tampak cengok. Pemuda bermata biru-yang terbaring di ranjang klinik- itu mencoba mengingat-ingat.
"Mmmm… Aku lupa.. Madam.." jawab Ciel sedikit ragu. Oh, Ciel… kau yang jenius begitu, kenapa bisa lupa kapan terakhir kali kau makan.
"Apa katamu?" tampang Madam Red-sapaan akrab Ciel kepada Bibi Angelina- semakin horor sja sekarang. Alois yang berada satu ruangan dengan dua orang tersebut, hanya bisa mengeluarkan keringat dingin saat merasakan aura aneh yang keluar dari bibi temannya itu. Alois juga tak bisa menyalahkan bibi Ciel yang saat ini sedang mengomel panjang kepada Ciel. Salah sendiri, sudah tahu punya maag, tapi malah lupa makan. Parahnya lagi, ia lupa kapan terakhir ia makan. Alois hanya geleng-geleng kepala melihat temannya diceramahi oleh bibinya. Ia bingung harus bagaimana untuk menyelamatkan temannya dari situasi ini. Ia yakin betul kalau Ciel sedang mengharapkan bantuannya sekarang.
"Maaf. Mrs. Angelina. Buakn maksudku untuk lancang, tapi aku dan Ciel harus ke kampus sekarang juga." Fiuhh… akhirnya Madam Red menghentikan ceramahnya dan mengijinkan Ciel pergi setelah menyerahkan beberapa bungkus obat pada keponakan kesayangannya itu. Wanita bernuansa merah tersebut paling tidak tega kalau satu-satunya keluarga yang ia miliki sakit.
Alois dan Ciel pun segera keluar dari klinik yang luamayan besar itu. Mereka kembali ke dalam limausin dan segera pergi menuju kampus. Seseorang yang berada tak jauh dari pintu masuk klinik tampak menyunggingkan sebuah senyuman sambil terus memandangi limausin yang membawa sosok yang diperhatikannya-sejak tadi- pergi.
'Ternyata cuma maag. Kukira ada apa. Bikin khawatir saja.'
.
.
.
.
-Bersambung-
.
Yey, chap dua udah update nih…
Saya sengaja meninggalkan fict saya yang lain demi mempertahankan eksisitensi saya di FKI. Ha ha ha…
Terima kasih buat KuroshitsujiLover234, Ms. Albino Irokui, manusia semelekete, Mousy Phantomhive, abaikan-san, dan arthemis-san. Makasih buat reviewnya…
Buat usul yang WillXGrell itu.. sebenarnya saya setuju banget. Saya ngefans berat sama Grell, jadi Grell harus tetep tampil di tiap fict saya. Tapi saya masih bingung harus memulainya dari mana untuk pairing yang satu itu.
Hmmm… pokoknya, saya ngucapin terima kasih kepada readers sekalian. Semoga terhibur oleh cerita GaJe dari saya ini.
Ciel : jangan banyak omong, dasar siluman..! cepet minta review! Ntar kalo gak ada yang review, gimana dengan honor gue coba? ( Chara laen ngangguk-ngangguk)
Author : yo wes, review ya, readers….
Salam katak, Ara-kun…
Pooofffpphhhh…..
