Kita lanjut ke chap 3…
.
.
Tittle : Sulit
Disclaimer : Yana Toboso, lah.. masa' punya saya. Jadi apa kuroshitsuji nanti..
Pairing : SebaXCiel, pasti…..
Rated : T, M, T, M, T, M, ….., T ja lah dulu…
Warning : OOC, typo, yah.. pokoknya gitu, deh.. yang jelas ini fict YAOI/ Sho-ai/ boys love/ boysXboys/dlsb
Batu itu kuat
Air itu lembut
Jika keduanya digabungkan,
Hal apakah yang mungkin tercipta?
Sulit
Chapter 3
-Pukul 14.00 di Buckingham University-
Seorang pemuda berambut kelabu tampak sedang menikmati hembusan angin di bawah sebuah pohon besar. Ia tak sendirian, seorang pemuda berambut pirang yang sejak pagi tadi selalu bersamanya juga tampak sedang menikmati suasana siang yang sejuk itu. Menikmati waktu istirahat mereka setelah menyelesaikan dua mata kuliah hari ini. Keduanya sama-sama duduk di bawah pohon yang rindang itu. Sampai si rambut kelabu alias Ciel memperhatikan jam tangannya.
"Gawat! Sepertinya aku harus pergi sekarang" ujar si bermata safir yang kemudian bangkit dari duduknya.
"Ada apa, Ciel?" tanya Alois yang ikut berdiri. Ciel menyambar ransel dan biolanya kemudian menoleh ke arah teman pirangnya.
"Aku harus ke tempat Lau. Mulai hari ini aku part time di sana." Jawab Ciel.
"Di mana tempatnya?" tanya Alois lagi.
"Kafe bergaya timur yang ada di dekat hypermall itu, lho. Sudah ya, nanti aku terlambat." Ciel pun mulai berlari meninggalkan Alois yang masih meneriaki namanya.
"Ciel! Tunggu! Kuantar, ya.." namun Ciel hanya membalasnya sambil melambaikan sebelah tangannya. Alois jadi merengut dibuatnya. Namun sesaat kemudian, si pirang itu tersentak dan menepuk keningnya sendiri.
"Oh, iya. Aku harus ke tempat latihan." Alois pun hengkang kaki dari pohon rindang tersebut. Well, yang dimaksud Alois di sini, ia mau latihan band bersama teman-temannya. Alois memang memiliki sebuah group band dengan dirinya sebagai vokalis merangkap gitaris.
.
.
.
KRIIING.
Pintu kafe terbuka, menampakkan sesosok makhluk berambut kelabu dengan sepasang safir di kedua lubang matanya. Sosok bernama Ciel tersebut langsung menuju ke arah dapur di mana ia akan mengganti pakaian untuk bekerja. Lau yang mengetahui kedatangan orang yang sudah dianggapnya sebagai keponakannya itu, langsung mengantar Ciel menuju tempat yang seharusnya.
Ciel pun sampai di dapur kafe milik Lau. Matanya kembali mengamati sekelilingnya. Sampai akhirnya ia mendapati sesosok manusia yang akhir-akhir ini menjadi pikirannya. Seorang pemuda yang sering sekali bertemu dengannya-entah kebetulan atau tidak- namun ia belum mengetahui namanya. Pemuda yang –setiap kali bertemu- selalu membuat Ciel jengkel bukan main. Ya, pemuda bermata ruby dengan kulit seputih salju. Mata Ciel pun tak kuasa untuk tidak terbelalak. Lau yang melihat ekspresi janggal dari Ciel hanya tersenyum simpul.
"Namanya Sebastian. Sebastian Michaelis. Apa kau sudah mengenalnya?" ucap Lau.
Ciel tidak menjawab, ia masih terbelenggu dalam keterkejutannya, rasa tak percayanya. 'Mengapa aku harus selalu bertemu dengan orang ini, sich? Bikin sial saja!' rutuk Ciel dalam hati.
"Oh, jadi ini yang namanya Ciel, Bos?" tanya Sebastian pura-pura tidak tahu. Padahal ia sangat mengetahui bahwa pemuda mungil di hadapannya itu adalah Ciel Phantomhive, pemuda yang secara tidak sadar sudah merebut hati Sebastian sejak pertemuan pertama mereka di kereta. Tapi yang namanya Sebastian, kalau disuruh mengungkapkan perasaannya duluan, pasti ia akan menolak. Gitu-gitu juga Sebastian orangnya jaim tingkat akut, lho… #digampar Sebas#
"B-bagaimana kau bisa tahu namaku? Kau menguntit aku ya..?" Ciel jadi histeris saking gugupnya. Siapa yang tidak akan gugup jika dipandangi terus menerus oleh ruby Sebastian?
"Ha ha ha.. mana mungkin…" jawab Sebastian sambil tertawa ringan. (Author: bohong, tuch… #dibekep Sebas#)
"Lalu, dari mana kau bisa tahu namaku?" tanya Ciel lagi, masih dengan intonasi yang sama-maksa-.
"Tentu saja dari Bos. Ya 'kan, Bos?" kini Sebastian memandangi Lau yang sejak tadi mulai cengar-cengir gak jelas.
"Ya.. begitulah Ciel." Jawab Lau ringan. "Sekarang, sebaiknya kau bantu Maylene. Pelanggan sudah mulai ramai." Dan Lau pun berlalu.
Kini hanya tinggal Sebastian dan Ciel yang berada di dapur. Suasana hening namun todak seperti yang ada di dalam pikiran mereka masing-masing. Otak Sebastian yang mulai memikirkan cara agar makhluk Tuhan paling indah yang ada di hadapannya itu bisa menjadi miliknya. Sedangkan Ciel yang mulai memikirkan cara agar tidak terlalu berhubungan dengan pemilik batu delima yang selalu tampak ingin menerkam mangsanya itu. Karena menurut Ciel, Sebastian itu….. BERBAHAYA.
"Ciel… cepat bantu aku, aku kewalahan, nih…" teriakan dari Maylene sontak membuat Ciel terbangun dari lamunan tak pentingnya.
"I-iya.. aku ke sana.." Ciel pun pergi meninggalkan Sebastian sendiri di dapur. Meninggalkan Sebastian yang kini tampak menyeringai, tanda ia telah menemukan strategi ampuh untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 sekarang. Kafe sudah tutup namun karena kafe milik Lau itu merangkap bar, jadi hanya kafenya yang tutup. Seluruh pekerja di kafe kini berkumpul di ruangan yang memang disediakan untuk beristirahat. Semua tampak kelelahan, terlebih Ciel. Ini hari pertamanya bekerja, tapi pengunjung seperti tak ada habisnya. Namun ada seorang yang masih sibuk di dapur. Kalian pasti tahu siapa orangnya. Pemuda berambut raven itu tengah membawa enam potong chocolate cake di atas nampan. Begitu sampai di ruang istirahat, Sebastian langsung membagikan cake-cake tersebut kepada rekan-rekan dan bos-nya.
Potongan terakhir telah sampai di hadapan Ciel. Namun Sebastian tak langsung memberikannya pada Ciel. Orb miliknya mencoba meneliti, apakah Ciel benar-benar menginginkan cake buatannya itu. Dan.. gotcha…! Ciel menatap dengan pandangan penuh harapan, berharap bisa memakan cake itu juga. Jujur saja, ia juga lapar sekarang.
"Mmm… Kau mau?" tanya Sebastian sambil menyodorkan potongan terakhir yang masih berada di nampan. Ciel yang wajahnya memerah karena menahan malu hanya bisa memalingkannya agar si raven tak begitu bisa membaca isi kepalanya.
"Kalau boleh." Jawab Ciel singkat. Melihat ekspresi Ciel yang begitu manis, membuat Sebastian tak bisa menahan seringaiannya. Tapi tangannya tetap pada tugasnya, menyerahkan umpan di tangannya kepada sang buruan. Ciel pun menerimanya dengan senag hati.
"Kau yakin, akan memakannya?" tanya Sebastian tiba-tiba saat Ciel hendak memasukkan suapan pertamanya.
"T-tentu saja. Memangnya kenapa?" tanya Ciel yang kini tengah kebingungan.
"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, apa kau benar-benar tak akan menyesal kalau memakan itu?" well, pertanyaan Sebastian kali ini sangatlah mengganggu pikiran Ciel. Sebenarnya apa yang tengah direncanakan oleh iblis satu ini.
"Well, sebenarnya kau mau aku memakannya atau tidak?" nampaknya Ciel sudah mulai kesal saat ini.
"Ya.. ya.. aku sih inginnya kau memakannya." Sebastian pun berlalu untuk kembali ke dapur. Sedangkan Ciel, walaupun masih bingung, tetap saja ia memakan cake Sebastian itu.
Ciel sudah mnyelesaikan acara makan cake nya, begitu pula dengan rekan-rekannya yang lain. Saat ini mereka sedang mengobrol santai sebelum pulang, rutinitas yang biasa mereka lakukan. Ciel yang teringat makalahnya yang belum selesai berniat pulang saat itu juga. Ia pun bangkit dari tempat ia duduk dan berpamitan kepada semuanya. Namun, baru sampai di pintu, seseorang memanggilnya. Finnian.
"Ada apa, Finn?"
"Apa kau yakin, Ciel?" Finnian malah balik bertanya namun pandangannya tidak mengarah pada Ciel, tapi piring cake-nya tadi.
"Yakin akan hal apa?" Ciel semakin dibuat bingung. Kemudian Finnian menunjuk-nunjuk piring yang dimaksud tadi. Ciel pun melangkahkan kakinya kembali, memperhatikan apa yang ada di piring itu. Ternyata sebuah kertas… surat… memo… atau apalah itu. Ciel yang penasaran langsung membacanya.
"Aku, Ciel phantomhive. Karena telah bersikeras memakan cake Sebastian, membuktikan bahwa aku bersedia menjadi kekasih….nya.." dan bodohnya ia, volumenya saat membaca isi kertas itu bisa dibilang tidak kecil sehingga seisi ruangan itu bisa mendengarnya. Karena tindakan bodohnya itu, kini ada seseorang yang menyeringai puas.
"Eh?" nampaknya anak itu baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. "Ti-tidak.. it-itu tidak mungkin…" Ciel meracau tak jelas dengan wajahnya yang sudah merah lantaran malu bercampur kesal.
"Seorang lelaki tidak boleh menarik kata-katanya lho, Dear…" ujar seseorang dari belakang Ciel, tepat di sebelah telinga Ciel hingga bisa membuat Ciel bergidik. Ciel menoleh, mendapatkan si biang iblis yang telah menjebaknya.
"SEBASTIIIAAANN…..!"
.
.
.
"Kau marah, Ciel?" tanya Sebastian yang sudah entah keberapa kalinya. Namun jawabannya tetap sama. Tak ada jawaban. Jelas saja Ciel marah. Semua pekerja di tempat ia bekerja sekarang menyangka mereka benar-benar jadian.
Sekarang mereka berdua sedang berada di perjalanan pulang. Ya, mereka pulang bersama itu juga karena mereka tetanggaan. Malam sudah semakin larut saat itu, jalanan sudah sepi. Sesekali hanya tampak para pemabuk dan wanita-wanita tak jelas yang masih berada di pinggir jalan. Udara malam yang begitu menusuk membuat Ciel semakin merapatkan mantelnya yang sebenarnya belum cukup menghangatkannya. Melihat Ciel yang agak menggigil, Sebastian melepaskan mantelnya dan memakaikannya kepada ciel.
"Eh?' Ciel yang kaget langsung menghentikan langkagnya.
"Pakai saja. Kau kedinginan 'kan?"
"Gak butuh!" ujar Ciel sambil menepis tangan Sebastian yang memasangkannya mantel.
"My, my. Kau masih marah, ya. Tapi kau tambah manis kalau sedang kesal." Mendengar kata-kata Sebastian, Ciel langsung memnundukkan tubuhnya kemudian berdiri lagi.
BUGH!
"Akh!"Sebuah batu yang ukurannya sebesar bola baseball tepat mengenai dada bidang Sebastian. Cukup membuat si crimson itu mengaduh. "Well, kau ini galak juga, ya."
Sedikit kesal karena sikap Ciel, sebastian menarik pergelangan tangan Ciel sehingga membuat pemuda berambut kelabu tersebut merintih menahan sakit di pergelangan tangannya.
"K-kau mau apa?" tanya Ciel yang salah tingkah karena ditatap intens olah orb milik Sebastian. Kali ini ganti Sebastian yang tak menjawab. Sebelah tangannya yang bebas malah memagut dagu milik Ciel. Ciel semakin dibuat takut olehnya.
"H-hey.. ap-.." sebelum selesai kalimatnya, bibirnya sudah dilumat oleh bibir Sebastian. Belum merasa pusa, Sebastian memperdalam ciumannya. Dipeluknya erat-erat tubuh Ciel yang terlampau kecil itu. Menekan belakang kepala Ciel untuk bisa memperdalamnya. Ciel yang kehilangan akal sehatnya sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Meronta pun ia tak akan menang.
Sebastian mencoba memasukkan lidahnya ke dalam mulut Ciel, namun mendapatkan penolakan keras dari deretan gigi Ciel. Memaksa, menggigit bibir bawah Ciel yang sukses membuat Ciel membuka mulutnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Sebastian. Lidahnya kini tengah bergulat dengan lidah Ciel, mengabsen tiap gigi Ciel. Mencoba mendominasi di dalam rongga basah milik Ciel. Menyatukan salivanya dengan milik Ciel.
"Nggh.." desahan dari Ciel membuat Sebastian makin bersemangat. Namun paru-parunya yang semakin kosong membuatya melepaskan ciuman selama lima menit tersebut.
"Hahh.. hah… dasar BRENGSEK..!" Ciel menendang tulang kering sebastian dan berlari meninggalkan Sebastian -yang mengaduh kesakitan- dengan wajah yang sudah tak jelas warnanya sambil membersihkan sisa saliva yang masih ada di sekitar bibirnya. Sebastian hanya bisa menikmati pemandangan Ciel yang kabur sambil menyeringai lagi. "Lembut dan…Manis.."
.
.
'TIDAK MUNGKIN.. itu tadi first kiss-ku. Bagaimana bisa direbut oleh orang macam dia!' rutuk Ciel dalam hati masih sambil terus berlari.
"Hahh.. hahh…" Ciel menunduk sambil memegangi kedua lutunya setelah yakin kalau Sebastian tak mengejarnya. Ia pun melanjutkan perjalanannya dengan langkah yang agak gontai. Otaknya tak bisa mencerna dengan baik kejadian yang baru saja dialaminya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah pulang dan istirahat. Ia masih harus ke kampus besok.
.
.
.
.
-Pagi hari di apartemen Ciel-
Ciel yang sudah siap berangkat ke kampus tengah berjalan ke pintu keluar di apartemennya. Begitu membuka pintu, Ciel dikejutkan oleh sebuah bingkisan yang dibungkus seperti hadiah ulang tahun. Dengan kotak berwarna biru dan pita biru yang warnanya lebih gelap, seakan tahu akan selera warna Ciel.
Ciel mengambil kotak itu dan sebuah surat yang diletakkan di bawah kotak itu. Karena penasaran, Ciel membaca surat tersebut. Surat sederhana yang ditulis dengan tinta kitam yang tulisannya terbilang err… sangat bagus.
Dear, Ciel.
Maafkan aku atas kejadian semalam. Aku sungguh minta maaf.
Tapi aku yakin kau tidak akan memaafkanku semudah itu.
Apa pun untukmu, Ciel. Asalkan kau mau memaafkanku.
Itu Cake kesukaanmu, Chocolate Cake dengan hiasan krim kocok.
Kuharap kau mau memakannya.
Dan jangan lupa minum obatmu.
-Sebastian-
Lama Ciel memandangi surat dan cake itu bergantian. Ada sedikit perasaan bersalah karena telah meninggalkan sebastian semalam. Sepertinya pemikirannya tentan sebastian selama ini harus diubah.
"Tck! Kenapa sich aku ini!" Ciel pun akhirnya membawa serta cake itu ke kampus untuk dimakannya di sana.
.
.
.
.
-Bersambung-….
Oke… sekarang kita telah mencapai forum balasan review…
Cekodok..(baca: cekidot)
Vi Ether Muneca : ada apa dengan batu?
Manusia semelekete : jawabannya sudah ketemu 'kan?
Mousy Phantomhive : Mousy-san juga sudah bisa menemukan jawabannya kan?
Nah…. Cukup sekian dari author gaje nan tidak berguna satu ini. Buat yang mengharapkan WillXGrell… sabar ja. Atau saya bikin fict khusus mereka saja, ya?
Yo wes lah… akhir kata,
REVIEW… yg banyak ya….
Salam Katak, Ara-kun…
Poffffppphhh…
