Chapter 4 hadir…..
Hmmm… kira-kira fict saya yang ini bisa kelar sesuai perkiraan gak ya?
Mohon doa para readers aja dah…
Ara juga minta maaf cz di chap 3 kemaren banyak bngt typo nya. Maklum, Author jg manusia.
.
.
Tittle : Sulit
Disclaimer : Yana Toboso, lah.. masa' punya saya. Jadi apa kuroshitsuji nanti..
Pairing : SebaXCiel, pasti…..
Rated : T, M, T, M, T, M, ….., T ja lah dulu…
Warning : OOC, yah.. pokoknya gitu, deh.. yang jelas ini fict YAOI/ Sho-ai/ boys love/ boysXboys/dlsb
.
Batu dan Air memang tidak bisa menyatu
Tapi jika keduanya digabungkan
Maka terciptalah suatu keindahan
Yang hanya bisa diciptakan
Oleh mereka berdua
Sulit
Chapter 4
.
.
Buckingham University Library, 11.45 a.m.
Seorang pemuda berambut grayish tampak sedang termenung di bawah sebuah pohon mapple sambil memandangi sebuah kotak yang berada di tangannya. Pemuda tersebut kini tengah dilanda kebimbangan. Ada seseorang yang ingin ia temui, namun ia ragu harus bertemu dengan orang itu atau tidak. Jujur saja, kalau bertemu dengan orang itu, perasaannya jadi campur aduk tidak karuan. Antara kesal, marah, senang, malu, dan… nyaman.
"Hhahh…." Pemuda bernama Ciel itu kini menghela nafas panjang. Keputusannya sudah final. Maka dari itu, ia melangkahkan kedua kaki mungilnya menuju sebuah gedung yang berisi para calon koki.
Sepanjang perjalanan, Ciel banyak diperhatikan oleh mahasiswa di sana, terutama saat ia mulai memasuki jurusan memasak yang ada di lantai empat. Walaupun ia mencoba bersikap acuh, tetap saja rasanya tidak enak. Apalagi saat ada segerombol mahasiswa yang memandanginya sambil cekikikan tidak jelas. Dan saat mulai merasa jenuh karena tidak kunjung menemukan yang ia cari, otaknya mulai berfikir untuk bertanya ke salah satu mahasiswa yang mungkin mengenal orang yang ia cari, walaupun dengan seribu keraguan. Ciel bertemu dengan seorang pemuda berpakaian serba hitam dengan rambut berwarna perak panjang yang poninya menutupi wajahnya.
"Maaf.. boleh aku bertanya?" sapa Ciel kepada pemuda yang sedang asyik membaca buku tersebut. Pemuda yang ditanya pun menoleh dan memandang ke arah Ciel lewat matanya yang tertutup poni.
"Bertanya apa?" tanya pemuda itu masih dalam posisi duduk yang sejajar dengan Ciel yang masih berdiri.
"Mmm.. apa kau mengenal orang yang bernama…. Sebastian?" tanya Ciel ragu-ragu.
"Sebastian Michaelis maksudmu?" pemuda tersebut malah balik bertanya ditambah dengan tersenyum dengan senyuman yang aneh. Ciel mengangguk menanggapi pertanyaan orang tersebut.
"Tunggu.." tiba-tiba pemuda berambut perak tersebut memagut dagu Ciel yang sontak membuat Ciel terkejut tapi tidak bisa melepaskan diri dari tatapan yang tak tampak dari orang yang kini hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.
"H-hey.. apa yang.. kau lakukan?" Ciel meronta namun sia-sia saja. Ia tak bisa menggunakan kedua tangannya karena tak ingin cake yang ada di dalam kotak yang ia pegang hancur.
"Jadi yang seperti ini yang disukai Sebastian?" tanya pemuda itu lebih kepada dirinya sendiri.
"K-kalau-kau kenal-dengannya.. b-bisa beritahu aku, di mana ia berada-sekarang?" nampaknnya Ciel berusaha mati-matian menahan rasa takutnya. Namun yang ditanya sepertinya acuh saja padanya.
"Kalau kucicipi… Sebastian marah tidak ya..?" kali ini pemuda berambut perak tersebut mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Ciel. Sedangkan Ciel hanya bisa berharap akan ada seseorang yang menolongnya saat ini juga.
5 senti…..
3 senti…
Ciel hanya bisa memejamkan matanya, tak berani menyaksikan reka ulang adegan yang dilakukan Sebastian tadi malam.
1,5 senti…
"Hey.. hey…" sebuah suara terdengar dari mulut seseorang yang tiba-tiba sudah berada di antara mereka berdua, suara yang terdengar santai namun menekan. "Bukankah sudah kubilang, jangan sembarangan menyentuh yang bukan milikmu. Apalagi itu milikku. MENGERTI?" seorang pemuda yang sejak tadi dicari oleh Ciel, mendorong wajah pemuda berambut perak tersebut agar menjauh dari wajah Ciel.
Ciel yang sudah membuka matanya dan memandang ke arah Sebastian, hanya bisa menahan nafas lega. "Se-Sebastian.." ucap Ciel lirih.
Tanpa aba-aba, Sebastian langsung merangkul tubuh Ciel dan membawanya pergi dari situ. Menuju sebuah koridor yang sepi dan mulai memojokkan Ciel lagi.
"Apa yang kau lakukan di sini? Di sini berbahaya, kau tahu?" sedikit nada marah terdengar dari kalimat Sebastian. Membuat Ciel makin merapat ke dinding karena takut dengan kemarahan Sebastian.
"A..aku.. aku… hanya mencarimu, itu saja." Ciel benar-benar menciut kali ini. "Memangnya itu salah.." Ciel sendiri juga bingung, sebenarnya untuk apa dia mencari Sebastian. Ia juga tidak tahu apakah itu tindakan yang benar atau justru sangat salah.
Mendengar pengakuan Ciel yang tampak kecewa, Sebastian jadi merasa bersalah. Crimson miliknya kini ia pertemukan dengan safir milik Ciel. Menatap bola mata azzure itu lekat.
"Itu memang tidak salah, Ciel. Tapi kita bisa bertemu di tempat lain kalau kau mau." Ujar sebastian lembut.
"Aku hanya ingin minta maaf.." Sebastian terbelalak mendengar pernyataan Ciel barusan. Bagaimana bisa, ada seorang yang ciumannya direbut, malah minta maaf?
"Eh?" sebastian mencoba memastikan pendengarannya.
"Karena itu, aku ingin makan cake ini bersamamu.." kali ini semburat berwarna merah muda sudah menghiasi kedua pipi Ciel. Entah bagaimana perasaan keduanya saat ini. Hanya mereka berdua yang tahu.
Lama keduanya saling diam, sampai akhirnya pemuda yang bertubuh lebih besar angkat bicara.
"Boleh saja. Tapi tidak di sini. Bagaimana kalau di taman saja?"
Mereka pun akhirnya berjalan berdampingan menuju taman yang berada tak jauh dari kampus mereka. Saat menuruni tangga menuju lantai dua, seseorang-yang entah sengaja atau tidak- menabrak punggung Ciel sehingga pemuda bertubuh mungil tersebut kehilangan keseimbangan. Sebastian yang kurang siaga saat itu, gagal mengangkap tangan Ciel.
"Akh.." pekik Ciel saat akhirnya ia sampai di dasar anak tangga. Sebastian buru-buru menghampiri Ciel dan menanyakan keadaannya.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Sebastian yang sedang panik setengah mati setengah hidup.
"Cake-nya.. aah.. syukurlah.." yang dikhawatirkan malah mengkhawatirkan kotak berisi cake yang memang selamat dari insiden barusan.
"Kau ini bagaimana, sich? Malah mengkhawatirkan cake lagi." Ujar Sebastian sambil membantu Ciel berdiri. "Biar aku yang bawa." Sebastian kemudian merebut kotak cake yang ada di tangan Ciel. Ciel hanya bisa merengut dan mulai berjalan mengikuti Sebastian. Tapi…
"Aawww.." rintih Ciel saat dirasakannya kaki kirinya mau patah saat dipakai berjalan.
"Kau kenapa Ciel?" tanya Sebastian yang tidak melihat wajah Ciel yang menahan sakit karena Ciel buru-buru menutupi ekspresinya dengan cengiran memaksa.
"Ti-tidak apa-apa, koq.." jawab Ciel yang sudah jelas bohong. Ciel pun memutuskan untuk terus berjalan mengiringi Sebastian yang kecepatan jalannya benar-benar sulit diikuti oleh Ciel. Berkali-kali Ciel tertinggal dan mengomel dengan alasan langkah Sebastian yang lebar-lebar. Dan hasilnya dibalas ejekan oleh Sebastian yang mengatai kalau Ciel itu pendek dan lamban.
.
.
.
Setelah kurang lebih lima belas menit berjalan, sampailah mereka-Sebastian dan Ciel- di sebuah taman yang cukup luas. Karena waktu yang baru mencapai tengah hari, suasana taman itu sedikit sepi. Biasanya taman itu ramai kalau hari sudah sore. Arena bermain anak-anak yang setiap sore selalu diisi oleh anak-anak kecil yang saling berebut giliran, kini kosong karena jam segini biasanya anak-anak harus tidur siang. Ya, kan? Siapa yang masih suka tidur siang? Hayo ngaku… masih anak-anak atau udah besar…?
Lupakan author yang otaknya kena arus pendek itu. Kembali kepada dua sejoli yang sedang duduk berhadapan di bangku tman yang berbentuk seperti potongan batang kayu dengan sebuah meja berbentuk lingkaran di tengahnya. Keduanya hanya terdiam sejak tadi, tak ada yang mau buka mulut walaupun sebenarnya sangat ingin.
Pemuda bernama Sebastian-yang bertubuh lebih besar- mulai membuka kotak berisi cake yang tadi ia rebut dari tangan Ciel-pemuda yang bertubuh mungil- tadi. Membagi cake yang memang ukurannya cukup untuk dimakan oleh dua orang dengan sebuah sendok cake yang sudah ada di dalam kotak tersebut.
"Kau benar-benar niat membuatkanku cake ini, ya. Sampai-sampai disediakan sendoknya." Ujar Ciel saat Sebastian tengah memotong cake-nya dengan hati-hati.
"Begitulah." Sebastian yang sudah selesai memotong menyerahkan sepotong cake-nya pada Ciel. "Aku tidak pernah main-main untuk orang yang kusuka."
Mendengar kata-kata terakhir Sebastian membuat tubuh Ciel sedikit menegang. Ada sedikit perasaan aneh yang meliputinya saat ini. Ia rasa, wajahnya sudah merah saat ini dikarenakan seluruh darahnya mengalir ke wajahnya. Entah mengapa jantungnya seperti hendak keluar dari rongga dadanya. Yang jelas ia merasa….. malu. Sangat.
"Oh, ya. Kau bilang kau ingin minta maaf padaku?" tanya Sebastian yang mulai menyeringai lagi. Aura di sekitar pemuda bermata ruby tersebut berubah menyesakkan bagi pemuda bermata sapphier yang ada di hadapannya. Ciel hanya mengangguk pelan sambil menggigit sendok cake-nya. Ia terlalu malu untuk menjawabnya dengan kata-kata.
"Kalau begitu ada syaratnya." Ciel langsung mendongak untuk melihat wajah orang yang berkata barusan. Seringaian dari bibir Sebastian membuat Ciel merasakan sesuatuyang buruk.
"Apa itu?" tanya Ciel dengan agak ragu.
"Sabtu nanti aku ingin kita berkencan. First date…"
"Apa-apaan itu?" tanya Ciel sedikit emosi begitu mendengar syarat dari Sebastian. "First date apanya? Memangnya siapa yang mau jadi pacarmu? Hah?
"Oh, Ciel… kau lupa? Kau sendiri yang bilang, 'kan? Baru tadi malam, masa' kau sudah lupa?" Sebastian mengingatkan Ciel pada kejadian setelah Ciel makan cake jebakan Sebastian.
Ciel merasa bingung. Ia bingung harus bilang apa. Ia akui, ia memang mengatakan hal tersebut waktu itu. Tapi, come on, guys.. itu kecelakaan. Ketidaksengajaan. Kelengahan. Dan well, kebodohan diri Ciel sendiri.
"T-tapi itu kan hanya kecelakaan!" ujar Ciel yang mulai panik.
"Well. Bukankah aku sudah mengingatkanmu sebelum kau memakan cake buatanku malam itu?" balas Sebastian.
Oh, Tuhan.. kenapa kata-katanya selalu menunjukkan fakta? Rutuk Ciel dalam hati.
"Bagaimana? Deal?" tanya Sebastian. Dan dengan sangat amat terpaksa sekali, Ciel berkata, " Ya. Tapi setelah itu kita putus!" kemudian Ciel meninggalkan Sebastian. Walaupun langkah pertamanya tertahan akibat efek terkilir tadi, ia tetap pergi.
"baiklah kalau begitu. Kau mau ke tempat Lau kan? Kita pergi bersama saja." Tiba-tiba Sebastian sudah menggandeng tangan Ciel dan menyeretnya sambil bersiul-siul riang. Tanpa tahu kalau yang diseret sedang menahan sakit di kakinya setengah mati.
Dalam hati Ciel masih tak habis pikir, kenapa ia harus menyetujui syarat gila dari Sebastian itu. Walaupun ya.. memang Sebastian tak sepenuhnya jahat. Dia hanya sedikit licik. Tapi itu semua hanya untuk orang yang benar-benar ia suka. Eh? Tunggu. Dari mana Ciel berpikir kalau dia adalah orang yang benar-benar Sebastian sukai?
.
.
.
Caffe milik Lau, 18.35 p.m.
GUBRAK. PRANG. BRUK.
Sebuah suara yang seharusnya tak ada di dapur, terdengar begitu jelas dari arah dapur. Pastinya hal itu membuat semua orang terutama yang bekerja di tempat itu berhambur menuju sumber suara.
Sebastian yang kala itu memang sedang senggang dan paling dekat dengan sumber suara, menjadi orang pertama yang menyaksikan pemandangan mengerikan yang disajikan oleh seorang pemuda berambut kelabu yang masih memakai seragam kerjanya-kemeja birumuda, celana hitam panjang, plis celemek putih berenda- tersungkur dengan berbagai macam pecahan benda pecah-belah.
"CIIEELL!" pekik Sebastian yang langsung membantu Ciel berdiri. Melihat ekspresi kesakitan dari Ciel, Sebastian langsung mencari tahu apa yang membuat Ciel kesakitan.
Dilihatnya tak ada pecahan kaca yang mengenai Ciel. Pandangannya beralih pada pergelangan kaki Ciel yang sedikit terbuka dan menampakkan sesuatu sebesar bola pingpong yang berwarna biru-keunguan.
"Astaga, Ciel! Bagaimana kau bisa terkilir?" tanya Sebastian yang kemudian menggendong Ciel brydal style menuju kursi di tempat mereka biasa beristirahat. Pegawai café yang lain hanya bisa melihat adegan mesra dari dua orang –yang mereka pikir benar-benar jadian- itu sambil cengar-cengir dan bisik-bisik tetangga. Namun yang dibicarakan sepertinya tidak mau ambil pusing dengan omongan teman-teman mereka.
Sebastian mendudukkan Ciel di sebuah kursi kemudian berluutu di hadapan Ciel. Jemari pucat milik Sebastian menyibakkan celana hitam panjang yang dikenakan oleh Ciel.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Ciel serba salah. Wajahnya kini terasa sangat panas dan ia yakin, untuk kesekian kalinya hari ini wajahnya memerah.
Sebastian diam tak menjawab apapun. Pandangannya sibuk memperhatikan bengkak di kaki Ciel yang sudah sangat besar itu. Kemudian ia mencoba menekannya dengan telunjuk tangan kanannya.
"AWW! Sakit, bodoh!"
"Kita ke dokter, ya?" ajak Sebastian dengan pandangan yang lembut menandakan kekhawatirannya.
""Tidak usah!" jawab Ciel nyaring sambil memalingkan pandangannya dari wajah Sebastian. Wajahnya pasti semakin merah sekarang. Bagaimana tidak. Ditatap demikian ole seorang Sebastian Michaelis.
".. ke klinik bibiku saja. Jam segini masih buka, koq?" jawab Ciel lirih. Mendengar itu, Sebastian tersenyum lembut. Dalam hati ia bersyukur, Ciel mau diajak berobat. Karena ia tak akan tega membiarkan Ciel terus-terusan kesakitan begitu.
.
.
.
.
Klinik Burnett, 19.25 p.m.
"Ya ampun, Ciel… kapan kau bisa menjaga dirimu dengan baik. Aku jadi tak tega meninggalkanmu sendirian di tempat itu. Bla.. bla.. bla….."
Sementara Bibi Ann masih sibuk menyeramahi Ciel perihal Ciel yang baru beberapa hari terkena maag, sekarang terkilir parah. Kalau saja terlambat sedikit lagi, mungkin tulangnya bisa retak.
"Ngomong-ngomong, terima kasih banyak, Mr. Michaelis. Anda sudah mau mengantarkan keponakan saya yang bandel ini." Ujar Mrs. Angelina ramah kepada Sebastian. Sementara Ciel hanya bisa merengut kesal karena sudah dijelek-jelekkan do depan orang yang paling menyebalkan baginya.
"Tidak masalah, Madam. Lagipula seain bandel, keponakan Anda yang satu ini juga sangat manis."
"Hey! Apa maksudmu bilang begitu!" bentak Ciel tiba-tiba.
"Ciel! Jaga ucapanmu. Itu tidak sopan." Mrs. Angelina mengingatkan.
Kemudian Ciel kembali diam dang merengut. Mendengarkan obrolan kedua orang yang sibuk membicarakan kecerobohannya.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit berada di klinik milik bibinya, Ciel minta pulang dengan alasan ingin istirahat. Sebastian yang memang tanggap, langsung meminta izin pamit pada bibi Ciel.
"Jaga Ciel baik-baik, ya. Aku titip dia. Maaf kalau dia sedikit merepotkan." Ujar Mrs. Angelina saat mereka memasuki taksi yang akan kami gunakan untuk ke apartemen. Tidak mungkin kan, mereka jalan kaki? Dan lebih tidak mungkin lagi kalau Ciel harus digendong Sebastian sampai aparteman. Bisa-bisa ia kehabisan nafas sebelum sampai.
"Tenang saja, Madam. Aku akan menjaganya. Terima kasih, Bye.."
Mereka pun berpisah. Kini tinggal Sebastian dan Ciel yang ada di dalam taksi.
Sebastian memandangi wajah Ciel yang kini terlelap karena kelelahan. Crimson out pun menyipit akibat efek sebuah senyuman tulus dari kedua belah bibirnya. Sungguh pemandangan yang sangat langka. Andai Ciel bisa melihat senyuman tulus Sebastian saat ini, mungkin hari sabtu nanti ia tidak akan mau putus dari Sebastian. Mungkin.
"Oyasumi, My Princess."
Bersambung….
Gomen… gomen… gomen…
Lama banget update ya?
Hape saya rusak, sarana buat ngetik juga nge-hank.
jadi sya mohon maaf sebesar-besarnya. Karena saya butuh waktu untuk memperbaiki semuanya.
Sudikah para readers untuk me-review fict ini?
Saya sangat senang jika readers sekalian me-review.
Please…. Review…
Salam Katak, Ara-kun.
Pppoofffppphhh…..
