Waahh… sudah lama ya saya gak update *plack*

Readers : dasar author gak tau diri. Ke mana aja lu? Hah?

Gomen.. neh saya dah update.. sebelumnya thanks bwt yang udah pada review ya…

Tittle : Sulit

Disclaimer : Yana Toboso, lah.. masa' punya saya. Jadi apa kuroshitsuji nanti..

Pairing : SebaXCiel, pasti…..

Rated : T, M, T, M, T, M, ….., T ja lah dulu…

Warning : OOC, yah.. pokoknya gitu, deh.. yang jelas ini fict YAOI/ Sho-ai/ boys love/ boysXboys/dlsb

.

.

.

Sulit

Chapter 5

Apartement Ciel, 07.00 a.m.

"Ukh.." suara rintihan terdengar beriringan dengan terbukanya sepasang saffire yang sejak semalam menutup itu. Sebelah tangan pemuda bernama Ciel itu meraba keningnya sendiri karena ada sedikit rasa sakit di bagian itu. Kemudian ia menolehkan kepalanya ke sisi ranjang. Di sana ia menemukan seorang pemuda dengan wajah terlelap damai di atas kedua lengannya yang terlipat.

Awalnya Ciel bingung, kenapa orang ini bisa ada di ruangan yang ia kira kamarnya ini? Namun setelah mengingat kejadian kemarin sore, pemuda berambut kelabu tersebut menghela nafas lega.

"Apakah dia menjagaku semalaman penuh?" ujar Ciel lirih. Kemudian ia mencoba bangkit perlahan. Sebisa mungkin agar tidak membangunkan Sebastian yang tertidur.

Kakinya sudah tidak terlalu sakit sekarang, walaupun masih membuat cara jalannya sedikit aneh. Perlahan, Ciel menuju ke kamar mandi. Namun saat baru sampai di ambang pintu kamar mandi, sebuah suara terdengar dari atas meja dekat tempat tidurnya. Dilihatnya ponsel milik Sebastian menyala seperti ada panggilan masuk.

Awalnya Ciel acuh. Tapi lama kelamaan, telinganya jengah juga karena sang empunya ponsel tidak kunjung bangun. Akhirnya Ciel putuskan untuk menjawab panggilan tersebut tanpa melihat nama penelpon terlebih dahulu..

"H-Halo..?" sapa Ciel agak gugup.

"Ah.. Ciel, ya? Ini aku, Lau." Ujar suara di seberang sana.

"Oh.. ada apa, Master Lau?"

"Sudah kubilang, jangan pakai 'Master'. Oh, ya mana Sebastian?" Tanya Lau. Ciel pun melirik pemuda yang masih terlelap di sampingnya.

"Mmm.. masih tidur. Perlu kubangunkan?"

"Oh, tak usah. Aku hanya ingin menanyakan keadaanmu padanya. Atau kutanya langsung saja sekarang."

"Aku baik-baik saja. Hanya terkilir sedikit."

"Syukurlah, tapi kalau kau rasa belum bisa bekerja, istirahat saja dulu, oke?"

"Hn."

"Ya sudah kalau begitu, aku masih ada pekerjaan. Bye."

"Bye." Ujar Ciel yang kemudian terlonjak kaget karena wajah Sebastian sudah ada di depan wajahnya.

"Apa yang kau lakukan dengan ponselku?" Tanya Sebastian masih dengan nada yang ogah-ogahan-khas orang baru bangun tidur-. Ciel yang masih terkena efek kaget hanya bisa mengelus dadanya.

"Bisa tidak, tidak mengagetkan seperti itu?" ujar Ciel ketus seraya menyerahkan ponsel Sebastian kepada pemilik aslinya. "Master Lau menelponmu. Karena kau tak kunjung bangun, jadi aku yang jawab." Ciel bicara sambil ngeloyor ke kamar mandi. Sementara Sebastian memperhatikan cara jalan Ciel yang sudah seperti kakek-kakek kena encok, tentunya sambil menyeringai.

"Sungguh.. pacar yang pengertian…" ujar Sebastian dengan nada yang dibuat-buat tentunya. Sengaja membesarkan volume suaranya agar dapat didengar oleh Ciel yang berada di kamar mandi.

BUGH.!

Dan itulah sambutan yang didapat oleh Sebastian. Sebuah lemparan benda keras yang di arahkan ke pintu kamar mandi-tentunya dari dalam-. Sebastian malah tertawa puas karena berhasil menggoda Ciel pagi-pagi begini.

Sementara itu, di kamar mandi. Ciel mulai membuka pakaiannya setelah menyesuaikan suhu air yang akan digunakan untuk mandi. Setelah pakaiannya gugur semua, ia mulai menyelupkan tubuh putih mulus miliknya ke dalam bak berisi air hangat tersebut. Menenggelamkan setengah kepalanya, berusaha agar pikirannya tenang kembali.

Entah kenapa, akhir-akhir ini ia jadi sering memikirkan sosok pemuda yang masih berada di apartementnya pagi ini. Ruby milik orang itu begitu menarik perhatiannya karena-jujur- bola mata seperti itu jarang sekali ada. Ia tak habis pikir mengenai sikap pria tersebut padanya. Pada awal pertemuan, pria itu begitu menyebalkan dan hampir membuatnya selalu naik darah. Tapi sekarang, pria itu malah terlalu baik padanya.

Perubahan sikapnya itu, lho..

MENCURIGAKAN..

.

.

.

Begitu selesai mandi, Ciel langsung keluar dari kamar mandi dengan berbalutkan handuk putih di pinggangnya. Kemudian ia berjalan tertatih menuju tempat tidurnya. Ciel sedikit terkejut melihat ranjangnya yang sudah rapi dan di atasnya sudah terdapat satu set pakaiannya-lengkap dengan pakaian dalamnya-.

Ciel mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang diduganya sebagai pelaku kasus ini. Namun nihil. Tak ada siapa-siapa di kamarnya. Maka ia memutuskan untuk segera memakai pakaiannya dan melanjutkan pencariannya setelah tubuhnya sudah terbalut kain yang pantas.

.

.

"Sebastian.. kau di mana?" Ciel berteriak tak jelas begitu ia selesai memakai baju. Ia mulai mencari-cari Sebastian. Mulai dari ruang tamu, toilet, ruang khusus musiknya, dan terakhir..dapur.

"Ternyata kau ada di sini." Ciel memandang kea rah Sebastian yang tengah sibuk membersihkan counter dapur milik Ciel. Tampaknya ia baru selesai memasak.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ciel yang melihat Sebastian masih sibuk bersih-bersih.

"Tidur! Tentu saja memasak. Kau pikir apa yang biasa orang lakukan di dapur kalu bukan memasak." Jawab Sebastian asal. Sebenarnya ia berharap mendapatkan ekspresi kesal dari Ciel. Namun yang ia dapat hanya Ciel yang kini memandanginya lekat. Seolah menuntut sesuatu untuk dijelaskan.

Sebastian menghentikan kegiatannya dan berbalik menghadap Ciel. Kini mereka berdua hanya terhalang oleh sebuah meja makan yang ukurannya tidak terlalu besar.

"Kenapa memandangku seperti itu? Risih tahu!" ujar Sebastian ketus. Namun Ciel tidak membalasnya melainkan hanya menggumam pelan, "Tuh, 'kan." Begitu katanya.

"Apanya yang 'tuh,kan'?" Tanya Sebastian yang bingung dengan tampang bego bin autist-nya *JLEB-author dilempar pisau dapur sama Sebastian-*

"Kamu itu, lho.. sebentar jahil, sebentar jahat, sebentar baik, sebentar jahil lagi, sebentar judes, trus baik lagi. Bikin bingung." Ujar Ciel sambil melipat kedua lengannya di depan dada.

"Ya sudah.. kalau gitu nanti aku jahatnya yang lama, gak Cuma sebentar. Trus.. lebih lama lagi jahilnya.. biar bias jahilin kamu terus." Ujar Sebastian dengan tampang mesum mode on nya. Ciel yang menyadari aura berbahaya yang keluar dari Sebastian hanya bisa sweatdrop.

"S-Sudahlah.. mandi dulu sana! Baumu itu lho.. bikin ayam tetangga mati tahu!" ciel mencoba menghindari Sebastian yang menatapnya balik dengan tatapan mesum. Sebastian pun berjalan menuju tempat Ciel berdiri. Ciel agak berjengit sedikit kemudian terbelalak kaget saat tiba-tiba Sebastian mengecup kilat pipinya. Semburat merah muda tampak jelas di kedua pipi milik Phantomhive muda itu.

"Terima kasih, My Princess." Ujar Sebastian setengah berbisik kemudian melenggangkan langkahnya menuju kamar mandi.

"AKU INI LAKI-LAKI! KENAPA KAU PANGGIL PRINCESS!" teriak Ciel histeris. Tentu saja ia tak terima panggilan macam itu. Hey, hey.. sejak kapan Ciel mulai menikmati perannya sebagai pacar Sebastian? Wah, wah… tanda-tanda, nih..

"Tapi kau cerewet, seperti perempuan!" Sebastian balas teriak dari dalam kamar mandi. Dan..

BUGH.!

Sebuah lemparan kea rah pintu kamar mandi kembali terjadi, namun kali ini dari arah luar. Dan pelakunya masih sama dengan yang tadi, yaitu Ciel.

"Dasar, BRENGSEK!".

.

.

.

.

"Aku selesai!" ujar Ciel ketus setelah menyelesaikan sarapannya yang berupa sepiring nasi goring special buatan tangan Sebastian. Dalam hati Ciel mengakui rasa masakan Sebastian yang memang.. mm… luar biasa enak. Bibinya saja belum pernah memasak seenak ini. Tapi mengingat perlakuan Sebastian kepadanya, Ciel berusaha menyembunyikan kekagumannya akan masakan Sebastian. Bias ge-er dia nanti.

"Mmm.. jadi, hari Sabtu nanti jam berapa?" Tanya Sebastian tiba-tiba. Tangannya kini sibuk membereskan piring bekas sarapan penuh cinta bersama Ciel.

"Terserah!" ujar Ciel ketus.

"Bagaimana kalau sebelum jam makan malam. Jam…. 5 ya..?" Tanya Sebastian yang masih ditanggapi dengan tampang ogah-ogahan dari Ciel.

"Hn." Hanya itu yang Ciel katakan. Ia tak mau ambil pusing dengan janji kencan itu. Toh, setelah hari itu berakhir, mereka akan putus.

Sebastian memperhatikan Ciel yang tengah memegangi kepalanya dengan sebelah tangan. Sepertinya kepalanya sakit lagi. Setelah mengeringkan tangannya, Sebastian berjalan menghampiri Ciel yang masih duduk di bangku meja makannya.

"Jangan lupa minum obatnya." Ujar Sebastian lembut dengan dibumbui sedikit nada khawatir. Pria tegap itu mengambil posisi duduk di bangku sebelah Ciel.

"Iya. Iya. Dasar cerewet!" omel Ciel yang nyatanya tetap beranjak dari kursinya dan menuju kamarnya untuk mengambil obat.

.

.

"Pulang sana!" usir Ciel saat ia hendak kembali mengerjakan makalahnya yang sempat terbengkalai. Kini Ciel sudah menghadap komputernya yang sudah menyala.

"Mau kubantu?" Tanya Sebastian yang tidak mempedulikan usiran Ciel barusan.

"Sudah kubilang, pulang sana! Memangnya kau tidak ke kampus apa?" ciel tetap ngotot mengusir Sebastian.

"Aku libur hari ini. Tidak tahu, ya?" Tanya Sebastian dengan nada mengejek. Sekarang ia malah mengambil sebuah kursi di dekatnya dan duduk di samping Ciel yang tengah berkutat dengan komputernya. "Sedang buat apa, sich? Asyik sekali kelihatannya." Sebastian melongokkan kepalanya agar bisa melihat apa yang sedang Ciel kerjakan.

Ciel agak bergidik karena tiba-tiba wajah Sebastian menjadi sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan hembusan nafas Sebastian dapat ia rasakan menerpa pipi sebelah kirinya. Saking gugupnya, jemari Ciel otomatis menghentikan pekerjaannya. Sedangkan Sebastian masih pasang tampang innocent-nya sambil menunggu kelanjutan tulisan Ciel.

"S-Sudah kubilang pergi. K-Kau mengganggu tahu!" ujar Ciel yang sudah bisa mengendalikan diri sambil mendorong wajah Sebastian agar menjauh darinya. Wajah Ciel kini sudah bias menyamai warna tomat, mungkin. Entah mengapa selalu begitu tiap kali Sebastian berada di dekatnya. Jantungnya serasa berdebar lebih cepat dari biasanya. Bicaranya yang biasanya angkuh pun berubah jadi gugup. Ciel sendiri bingung kenapa dirinya bisa begitu hanya karena Sebastian-orang yang sangat menyebalkan baginya- berada di dekatnya.

"Aku kan hanya ingin membantumu. Kenapa sinis begitu, sich?" Tanya Sebastian yang masih ngotot duduk di samping Ciel.

"Aku harus segera menyelesaikan tugasku. Dan aku tidak bisa berpikir kalau kau ada di dekatku!" Ciel kembali mencak-mencak. Sekarang ia sudah ada di posisi berdiri karena itu sekarang ia (agak) lebih tinggi dari Sebastian yang masih duduk. Sebastian agak mengernyit setelah mendengar ucapan Ciel barusan.

"Kenapa begitu? Anggap saja aku tak ada. Beres, kan?" sanggah Sebastian enteng. Ciel sudah mulai frustasi sekarang. Ia meremat helaian kelabu di kepalanya sebagai bentuk curahan hatinya yang sedang semerawut.

"Aarrrggghhh.. bagaimana bisa begitu sedangkan kau berada sangat dekat denganku!" walaupun ada kata 'bagaimana' dalam kalimatnya, namun kalimat Ciel barusan bukan merupakan pertanyaan, melainkan sebuah ungkapan isi hatinya yang sedang bingung.

"Kumohon pulanglah.. aku harus mengumpulkannya hari ini.." sedikit nada memelas terdengar di antara kata yang diucapkan oleh Ciel. Menaggapi hal tersebut, akhirnya Sebastian bangkit dari duduknya dan menatap keduan cerulean milik Ciel secara intens. Setelah terjadi hening selama kurang lebih lima detik, Sebastian mulai menyunggingkan seringaian khasnya sambil menatap nakal ke arah Ciel.

"Aku akan pergi setelah dapat jatah dari 'pacarku tersayang'." Ujar Sebastian sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ciel-lagi. Menyadari sesuatu yang buruk, Ciel mulai panik sambil menghindari tatapan menusuk dari Sebastian.

"A-apa yang ma-mau k-kau lakukan?" Ciel tergagap-gagap saking gugup dan paniknya.

Tanpa aba-aba, tangan Sebastian meraih belakang kepala Ciel di saat yang bersamaan dengan bibirnya yang meraih bibir Ciel lembut sekaligus menuntut. Ciel mencoba meronta, namun semua tahu hal itu tak akan berhasil. Sebelah tangan Sebastian yang bebas menarik pinggang Ciel agar tubuh keduanya makin merapat. Sebastian memperdalam ciuman-sepihak-nya.

Kali ini Sebastian menjilati bibir bawah Ciel, meminta izin masuk ke rongga basah milik Ciel. Namun Ciel malah merapatkan giginya, menjadikannya tameng agar lidah Sebastian tidak masuk. Merasa ditolak, Sebastian menggigit bibir bawah Ciel, cukup keras namun tak sampai menimbulkan luka. Ciel yang terkejut spontan membuka mulutnya dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh Sebastian.

Merasakan benda asing yang kini mendominasi rongga basahnya, tanpa disadari Ciel terpancing permainan Sebastian. Lidah mereka kini salin bergulat. Namun apa mau dikata. Sebastian jauh lebih lihai dibandingkan Ciel.

"Ngnghh.. hh…" desahan dari Ciel membuat Sebastian semakin menikmati permainan yang sangat menyenangkan tersebut. Lagi dan lagi. Lidah Sebastian kini mengabsen seluruh deretan gigi Ciel yang tertata begitu rapi. Walaupun sedikit terasa rasa obat yang baru saja diminum oleh Ciel, tetap saja hal itu terasa begitu manis bagi Sebastian.

Saat pasokan oksigen di paru-paru menipis, Sebastian melepaskan ciumannya walaupun ia masih ingin menikmatinya. Wajah Ciel sudah sangat merah karena kekurangan oksigen. Keduanya tampak terengah-engah. Sebastian yang pulih lebih dulu langsung mengecup pelan kening Ciel yang masih tertunduk lemas. Kedua lengan Sebastian menyangga tubuh Ciel yang sepertinya akan ambruk tersebut-saking lemasnya-.

Ciel memegangi kepalanya dengan sebelah tangan. Kali ini ia benar-benar merasakan kalau dunia sedang berputar. Pandangannya mengabur perlahan. Tubuhnya juga terasa semakin lemas. Kakinya tak sanggup menopang berat badannya lebih lama lagi. Seandainya tangan Sebastian tak memeganginya, mungkin ia sudah ambruk ke lantai dengan tak berdosanya.

"Hey! Kau bisa berdiri?" Tanya Sebastian saat melihat Ciel tak kunjung berdiri dengan kakinya sendiri.

Menunggu. Namun Ciel tak menjawabnya. Nampaknya ia masih linglung karena dicium Sebastian sampai kehabisan nafas seperti ini.

Tanpa menunggu lagi, Sebastian menggendong Ciel bridal style untuk membaringkannya di ranjang. Ciel yang tenaganya habis tak bisa melawan. Walaupun tidak ditunjukkan, namun Sebastian merasa sangat panik saat ini. Ada sedikit-Cuma sedikit lho- rasa bersalah dalam dirinya. Well, ia memang agak keterlaluan tadi. Tapi itu kan karena Ciel yang menolaknya. Seandainya saja Ciel menurut saja, pasti tidak sampai terjadi hal seperti ini kan? Well, itu juga belum pasti, sich.. (Author dilempar wajan bolong).

Setelah membaringkan Ciel di atas kasurnya, Sebastian berlari menuju dapur untuk mengambil segelas air. Langkahnya terburu-buru menandakan betapa paniknya pemuda beriris merah tersebut.

"Minum ini." Ujar Sebastian yang sudah membantu Ciel ke posisi duduk. Ia pun membantu Ciel meminum air di dalam gelas itu. Ciel menegaknya perlahan sampai isinya benar-benar tandas. Segera Sebastian membaringkan Ciel lagi dan menaruh gelas kosong yang ada di tangannya di atas meja samping ranjang Ciel.

"Sudah baikan?" Tanya Sebastian saat melihat Ciel yang mulai bernapas secara normal.

"Dasar bodoh! Kau mau membunuhku, ya?" Tanya Ciel dengan suara lemah namun menusuk.

"Maafkan aku. Tapi aku tak bermaksud menyakitimu." Suara Sebastian tak kalah lemah disbanding suara Ciel. Namun hal itu dikarenakan rasa bersalahnya terhadap Ciel.

"Gara-garra kau, aku pasti dimarahi Mr. Aberline." Tukas Ciel.

"Istirahatlah." Kata Sebastian. "Kau belum sembuh benar,'kan?"

"Cih! Bagaimana aku bisa istirahat sementara tugasku meronta minta dikerjakan?"

"Kubilang istirahat, Ciel." Ulang Sebastian. Asal kalian tahu, Sebastian tak suka dibantah.

"Tidak sebelum aku menyelesaikan tu-" Ciel yang hendak bangkit langsung ditahan oleh Sebastian. Dan cara Sebastian menahannya itu lho, yang bikin Ciel kaget setengah mampus.

Bagaimana tidak? Saat ini kedua telapak tangan Sebastian berada di sisi kanan dan kiri tubuh Ciel. Mata merahnya menatap tajam ke arah saffire milik Ciel yang berada di bawahnya. Sebastian mengunci tubuh Ciel di bawah tubuhnya. Wajah mereka juga sangat dekat sekarang. Mungkin… sebentar author ukur dulu ya.. *bletak* sekitar lima sentimeter.

Ciel bisa merasakan nafas Sebastian yang menerpa wajahnya-yang ia yakin sudah sangat merah-. Untuk yang ke sekian kali, Ciel merasa panik. 'Bisa-bisa asma ku kumat nich.' Batin Ciel tak keruan.

"Ciel.. aku datang menjengukmu. Ci-..el..?" suara seorang pemuda pirang yang menerobos masuk ke kamar Ciel-tanpa mengetuk pintu tentunya- terdengar lirih di akhir. Barang bawaannya jatuh seketika saat melihat pemandangan di depan iris turquoise-nya.

Sontak kedua orang yang tadinya saling berpandangan langsung memandang ke arah pemuda pirang bernama Alois tersebut. Keduanya terbelalak kaget. Bingung harus mencari alasan apa untuk menjelaskan posisi mereka saat ini.

"Err.. Begini..ng.. Al.."

b-e-r-s-a-m-b-u-n-g…

fyuh…. Gimana? Lumayan panjangkah?

Ciel : gila tuh Sebas! Gue dicium sampe semaput.

Sebby : maaf, Ciel. Kalau mau menyalahkan, salahin tuh author stress yang nyuruh gue ngelakuin hal

Tidak berperikeCielan itu.

Ciel : tapi lu juga seneng,'kan?

Sebby : he he (garuk-garuk pantat-eh-kepala)

Ciel : dasar mesum!

Author n Sebby ber-high-five-ria.

Sebby : thanks ya, bro..laen kali yang lebih 'hot', ya..

Author : tengang aja.. rated nya bakal naek tingkat, koq.

Sebby : hazzeeekkk…. (Joget-joget gaje)

Author N Sebby : *BLETAK* (dilempar meja billiard sama Ciel)

Ciel : daripada baca percakapan gak penting antara author stress dan butler mesum itu, mendingan reader semua baca satu kata di bawah ini dan melakukannya.

REVIEW…..

Author : oke? Oke?

Salam Katak, Ara-kun.

Pooffffppphhhh…... .