Thank's to:
Aiko Enma,manusia semelekete,Neko, Meg chan,Kamiya Yuki, Mousy Phantomhive, KuroshitsujiLover234,gia, Fara, Vi Ether Muneca, arthemis, abaikan, and Ms. Albino Irokui
Thanks for read and review, guys
Met baca…
Tittle : Sulit
Disclaimer : Yana Toboso, lah.. masa' punya saya. Jadi apa kuroshitsuji nanti..
Pairing : SebaXCiel, pasti…..
Rated : T, M, T, M, T, M, ….., T ja lah dulu…
Warning : OOC, yah.. pokoknya gitu, deh.. yang jelas ini fict YAOI/ Sho-ai/ boys love/ boysXboys/dlsb
.
.
Cerita sebelumnya:
"Ciel.. aku datang menjengukmu. Ci-..el..?" suara seorang pemuda pirang yang menerobos masuk ke kamar Ciel-tanpa mengetuk pintu tentunya- terdengar lirih di akhir. Barang bawaannya jatuh seketika saat melihat pemandangan di depan iris turquoise-nya.
Sontak kedua orang yang tadinya saling berpandangan langsung memandang ke arah pemuda pirang bernama Alois tersebut. Keduanya terbelalak kaget. Bingung harus mencari alasan apa untuk menjelaskan posisi mereka saat ini.
"Err.. Begini..ng.. Al.."
Sulit
Chapter 6
Ciel -yang bingung setengah mati- hanya bisa gelagapan gak jelas sambil memebelalakan mata pada sosok berambut pirang di ambang pintu kamarnya. Buah-buahan yang dibawa oleh pemuda pirang tersebut, jatuh berceceran-menggelinding- ke segala arah di kamar Ciel. Mulai dari apel, jeruk, pear, dan lain-lain. Hanya dengan sepuluh ribu rupiah saja, Anda bisa mendapatkan buah segar langsung dari ke-PLAK! BAGH!BUGH! CKLEK!DZIING!
Hening.
Tak ada suara di tengah kebengongan mereka yang berada di dalam ruangan pribadi Ciel tersebut. Hingga akhirnya Sebastian mulai bergerak untuk memperbaiki posisinya dengan Ciel yang errr… sedikit 'mengundang' tanda tanya itu.
"Well, aku mau pulang." Ujar Sebastian seraya melangkahkan kaki. Pandangan Ciel –otomatis- menuju ke Sebastian yang berjalan.
"Eh, pintu keluarnya bukan di situ, Sebastian!" teriak Ciel yang mengetahui arah langkah Sebastian adalah menuju ke ruang musiknya.
"Aku tahu, aku hanya ingin mengambil barang yang ketinggalan." Seru Sebastian yang sudah tak tampak batang hidungnya lagi.
"Alois, masuklah." Ciel mempersilahkan Alois yang masih bengong untuk masuk ke kamarnya. "Tumben sekali kau kemari. Ada apa?" tanya Ciel kemudian.
"Ah, ano.. aku dengar dari Claude kalau kau sakit. Jadi aku dating menjengukmu." Alois menghampiri Ciel yang masih berbaring di kasurnya. Kepalanya masih terasa berat, jadi ia memutuskan untuk beristirahat dulu sebentar. Setidaknya ia butuh istirahat dan mengumpulkan tenaga untuk menyelesaikan makalahnya nanti.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu depan yang tertutup- dengan tidak manusiawinya- menandakan kalau Sebastian sudah keluar dari apartemen Ciel. Kedua orang yang masih betah pada posisi masing-masing, kemudian saling pandang.
Hening. Lagi.
Keduanya sama-sama diam. Bingung harus bicara apa. Suasana jadi kaku saat ini. Sampai akhirnya salah satu dari mereka mengambil alih pembicaraan.
"Bagaimana keadaanmu? Bagian mana yang sakit?" tanya si prang a.k.a. Alois Trancy.
"Yah.. hanya terkilir. Dan sekarang sudah lebih baik." Jawab Ciel sekenanya. Alois manggut-manggut paham mendengar jawaban Ciel.
"Oh, ya. Bagaimana dengan makalahmu?"tanya Ciel
"Aku sudah mengumpulkannya kemarin. Punyamu?"jawab Alois yakin.
"Bagaimana kalau kubantu menyelesaikannya?" tawar Alois dengan senyum terpatri di wajahnya.
"Eh?" Ciel cuma bisa melongo begitu mendengar ucapan Alois. "Tidak usah. Aku hanya perlu menulis beberapa halaman lagi. Akan kacau kalau orang lain ikut campur." Ciel berkata sambil senyum tak enak. Ya, memang Ciel tak pernah membiarkan siapapun mencampuri urusannya. Baik dalam hal tugas sekolah maupun masalah pribadi, Ciel selalu menyelesaikannya sendiri. Melihat Ciel yang benar-benar tak ingin dibantu, Alois hanya bisa tersenyum maklum.
"Baiklah, aku tak memaksa. Tapi… ini." Alois menyerahkan selembar kertas yang ia keluarkan dai saku kemeja ungu kotak-kotaknya.
"Apa ini?" tanya Ciel seraya meraih kertas tersebut dari tangan Alois.
"Sabtu nanti, band-ku mengadakan konser. Kau datang, ya?" pinta Alois. Tunggu! Sabtu? Bukankah hari itu ia ada janji kencan dengan Sebastian. Ya kan, Ciel?
"Jam berapa konsernya?" tanya Ciel agak ragu.
"Jam 2 siang. Kau bisa datang, kan? Tak mudah loh mendapatkan tiket itu…" bujuk Alois.
'Haaahhh.. untung saja. Kalau jam 2 sih aku masih bisa datang.' Batin Ciel meracau tak jelas.
"Baiklah. Aku akan datang." Ujar Ciel mantap.
-Frog-
.
.
Sementara itu, di suatu tempat yang bisa kita sebut kampus.
Seorang pria berbadan tegap, berambut raven belah tengah tampak sedang berjalan menyusuri koridor sebuah fakultas yang bukan jurusannya. Setiap orang yang dilewatinya selalu berhenti dari kegiatannya hanya untuk menatap penuh arti ke arah pria bermata merah tersebut. Banyak yang berbisik-bisik sambil cekikikan centil begitu pria tersebut lewat, dan pastinya itu untuk wanita. Sedangkan untuk pria yang dilewati, mereka hanya bisa menatap sambil menerawang. Mambayangkan kalau tubuh dan paras sempurna itu adalah milik mereka.
Ya. Siapa sich, mahasiswa Buckingham University yang tak kenal dengan Sebastian Michaelis? Putra tunggal dari donator terbesar di kampus itu. Mahasiswa semester akhir jurusan masak memasak, atau apalah namanya. Tampan, jenius, kaya raya, murah senyum-mesum-, dan terkenal royal. Perfect. Satu kata itulah yang tergambar di benak setiap orang yang melihatnya.
Tapi masalahnya, buat apa Sebastian yang notabene adalah mahasiswa jurusan koki, berada di fakultas musik di jam kuliah begini? Sambil menenteng sebuah benda yang berbentuk seperti laporan pula.
Kaki jenjangnya kemudian berhenti di depan sebuah daun pintu yang terdapat tulisan 'Mr. Aberline'. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu kayu berwarna cokelat tua yang terdapat banyak ukiran tersebut.
Tak lama terdengarlah suara dari arah dalam ruangan yang pintunya diketuk tadi. "Masuk." Begitulah suaranya.
Tanpa ragu, Sebastian membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam ruangan dosen musik tersebut. Mr. Aberline yang tadinya sedang sibuk memeriksa beberapa tugas dari anak didiknya, sontak membelalakan mata begitu mengetahui siapa yang mencoba menemuinya saat itu. Gugup melanda dosen berambut cokelat tersebut.
"M-Mr. Michaelis? A-Ada perlu apa?" tanya Mr. Aberline tergagap-gagap.
"Langsung saja." Ujar Sebastian yang kemudian menaruh benda yang sedari tadi dibawanya ke meja di hadapannya. "Aku kemari ingin meyerahkan tugas milik Mr. Phantomhive. Dia sedang sakit, jadi tak bisa menyerahkannya langsung. Sekalian izinkan dia untuk kelas yang diikutinya hari ini dan beberapa hari ke depan."
Mr. Aberline hanya bisa manggut-manggut sambil menyimak ucapan orang di hadapannya. Tak ingin melakukan kesalahan karena akan berakibat fatal jika berurusan dengan orang ini.
"B-Baik." Hanya itu jawaban yang terdengar sebelum suara pintu yang ditutup memecahkan keheningan di ruangan itu.
-Frog-
.
.
"Hati –hati di jalan. Maaf tak bisa mengantar sampai depan." Ujar Ciel yang masih berbaring di kasurnya pada Alois yang sudah berdiri-hendak pergi-. Alois hanya tersenyum.
"Tak masalah, Ciel. Cepat sembuh, ya." Ujar Alois. Dan..
Cup.
Wajah Ciel tiba-tiba saja memerah karena barusan saja Alois mengecup pipinya. Tak terasa Ciel memegangi pipinya yang tadi dikecup Alois. Tentu saja setelah Alois keluar dari kamarnya.
'Ah, daripada bengong. Lebih baik aku kerjakan tugasku.' Ciel yang sudah sadar dari keterkejutannya bermonolog dalam hati. Kemudian pemuda berambut kelabu itu bangkit dari kasurnya dan berjalan pelan menuju ruang musiknya -tempat komputernya berada-.
Tapi belum sampai dia ke pintu kamarnya, ponselnya berdering sesaat, menandakan ada pesan masuk. Ciel pun berbalik arah dan meraih ponselnya yang tergeletak tak bernyawa di meja kamarnya. Dibukanya pesan tersebut.
From : Unknown Number
Mail : makalahmu dapat nilai bagus. Kalau tidak percaya, kau bisa tanya Mr. Aberline besok.
Cepat sembuh, My princess.
Kata terakhir cukup membuat Ciel mengetahui – benar – benar mengetahui - kalau pengirim pesan itu adalah Sebastian. Ciel lantas langsung berlari -pelan tentunya- menuju ruang musiknya. Manghampiri komputernya dan mencari-cari sebuah benda kacil tempat semua data kuliahnya berada. Mencari sebuah flashdisk yang merupakan nyawanya itu. Namun..
Nihil. Ia tak menemukannya dimanapun. Saat itulah ia benar-benar percaya akan pesan dari Sebastian. Langsung saja ia meraih ponselnya untuk membalas pesan tadi.
To : Freak Devil (disini Ciel langsung menamai nomor Sebastian begitu melihat pesan tadi)
Mail : Dasar BRENGSEK! Beraninya kau mencuri Flasdisk-ku.! CEPAT KEMBALIKAN!
Ciel pun tertawa ringan setelah melihat display ponselnya bertuliskan 'Message delivered'
-Frog-
.
.
.
Trancy's Mansion, 21.00 p.m.
Seorang pemuda berambut pirang tampak termenung memandangi langit melalui jendela kamarnya. Ia kini berdiri menyandar pada salah satu sisi jendela yang sangat besar itu. Matanya menerawang memandangi sebuah objek yang ada di langit. Sebuah benda bulat besar berwarna putih yang memantulkan cahaya dari matahari sehingga bisa terlihat bersinar.
Lamunannya terbangun saat tiba-tiba ia mendengar suara pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Pandangannya teralihkan namun tubuhnya tak beranjak.
"Masuk." Hanya satu kata berbasis perintah yang keluar dari Trancy muda tersebut. Tampaknya pemuda pirang tersebut sudah tahu siapa yang berada di balik pintu itu.
Kemudian muncullah seorang pria tinggi tegap dengan setelan hitam-hitam khas kepala pelayan keluarga Trancy. Mata emasnya yang sipit tersembunyi di balik kacamata minus kebanggaannya. Di lengannya tersampir sebuah selimut tebal berwarna ungu muda. Pria tersebut berjalan ke arah pemuda pirang yang masih tidak beranjak dari posisinya semula.
"Sudah malam. Sebaiknya Anda tidur, Danna-sama." Ujar pria berbalut hitam-hitam tersebut sambil mengenakan selimut yang ia bawa ke tubuh pemuda pirang di hadapannya.
Pemuda pirang itu tidak melawan dan menurut saja untuk digiring menuju ranjang tempat tidurnya. Membaringkan tubuhnya dengan rileks di atas kasur dikamarnya yang bernuansa ungu itu.
"Claude.." panggil sang Tuan. Otomatis orang yang dipanggil Claude itu manghentikan langkahnya menuju keluar dan berbalik menuju Tuannya.
"Ada apa, Danna-sama." Tanya Claude datar.
"Bantu aku mendapatkan'nya', ya?" pinta pemuda pirang tersebut sambil menyembunyikan bola turquoise-nya di balik kelopak matanya.
"Yes, Your Highness." Jawab Claude sebelum kemudian beranjak pergi lagi. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti. Kali ini karena ada seseorang yang menarik pergelangan tangannya.
"Kau di sini saja sampai aku tertidur." Ujar pemuda pirang yang merupakan pelaku 'penarikan pergelangan tangan Claude'.
"Yes, Your Highness." Claude pun duduk di sebuah kursi yang ada di samping ranjang Tuannya dan terus memegang tangan mungil pemuda pirang itu sampai ia rasa pemuda itu benar-benar sudah terlelap.
'Oyasumi, My Highness.' Batin pria tegap tersebut sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kayu besar yang tertutup.
-Frog-
.
.
Ciel's Apartement, 06.00 a.m.
"Huuuaaaoohhhmmm…" seorang pemuda berambut grayish tampak sedang menggeliyat sambil menguap lebar pagi ini. Pemuda yang biasa disapa Ciel itu kini tampak bangkit dari posisi-tidur-nya. Setelah meregangkan otot-ototnya – yang tidak pernah dilatih- sesaat, Ciel pun beranjak dari ranjangnya dan menuju kamar mandi.
Kakinya sudah sembuh setelah seharian kemarin ia beristirahat. Total! Plus perawatan dari Sebastian. Kalian tahu? Malam harinya, Sebastian datang lagi ke rumah Ciel untuk mengantarkan makan malam. Sebastian sengaja membuatkan makan malam untuk Ciel. Dan Ciel tidak menolak sama sekali. Bagaimana bisa? Toh, makanan itu tidak ada racunnya.
Flashback
.TOK.
'Siapa yang bertamu malam-malam begini?' pikir pemuda berambut kelabu yang semula tengah duduk di sisi ranjangnya. Dilihatnya jam dinding yang ia pajang di tembok ruang tamu apartemennya. Pukul 20.35. dengan berat hati pemuda bernama Ciel itu berjalan menuju pintu depan apartemennya.
Dibukanya perlahan pintu bercat cokelat tua itu sehingga menampakkan sosok pemuda berambut raven belah tengah. Pemuda yang memiliki mata crimson itu tampak tersenyum sebelum akhirnya pemuda pemilik rumah itu –Ciel- mempersilahkan (baca: menyuruh) –nya masuk.
"Ada apa malam-malam begini datang ke rumah?" tanya Ciel saat keduanya sudah duduk berhadapan di kursi di ruang tamu Ciel.
"Aku hanya ingin memastikan kalau kau makan teratur dan meminum obatmu. Aku yakin kau lupa meminumnya." Jawab Sebastian tegas sambil mengeluarkan sebuah kotak berisi dua porsi beef steak yang ia buat di kafe Lau sebelum pulang tadi.
Ciel terbelalak mendengar penuturan Sebastian. Ia memang lupa meminum obatnya. Jangankan minum obat, untuk makan saja ia lupa.
"Gak usah sok perhatian begitu. Aku bukan anak kecil, tahu!" ujar Ciel sambil memalingkan kepalanya menghindari tatapan Sebastian yang mungkin akan membaca pikirannya. Senburat merah menghiasi kedua pipi sepucat bulan purnama yang bersinar malan ini.
"Aku sudah capek-capek memasak ini untukmu. Ayolah.. makan sama-sama, ya?" bujuk Sebastian pada Ciel yang masih membuang muka. (Author: pungutin yuukk..)
"Siapa suruh masak untukku. Aku tidak memintanya, kan?" tanya Ciel yang lebih ke penolakan. Tapi nampaknya penolakan itu akan segera berakhir. Saat Ciel mulai melirik menu yang Sebastian bawa. Akhirnya Ciel tergiur juga. Liat aja tuh, ilernya ke mana-mana *PLAK*.
"Ayolah Ciel.. kau harus cepat sembuh. Kau tidak mau berdiam diri di rumah terus kan?" Sebastian yang sebenarnya sudah tahu isi hati Ciel yang memang menginginkan menu yang ia bawa, hanya berusaha mengulur waktu sampai Ciel benar-benar mengakuinya.
"Kalau kau memaksa.. okelah." Jawab Ciel pada akhirnya.
Jadilah mereka makan malam-yang kemalaman- berdua di rumah Ciel. Mereka makan dalam diam. Mood Ciel terlanjur hancur gara-gara kedatangan Sebastian. Jadi tak ada yang berani buka mulut. Ciel sendiri sebenarnya merasa sangat canggung karena harus makan malam berdua dengan Sebastian. Entah perasaan apa yang membuat jantungnya selalu berdetak lebih cepat bila bersama pemuda bermata ruby di hadapannya ini.
.
.
"Tidurlah. Aku akan pulang." Ujar Sebastian setelah memastikan Ciel meminum obatnya dengan benar.
"Ya. Pulang sana! Lagian siapa juga yang menyuruhmu kemari, hah?"
"Kau ini… judes sekali, sih! Pantas saja tak ada wanita yang melirikmu." Ejek Sebastian sembil mencubiti pipi Ciel.
"Dasar BRENGSEK! Sakit, tahu! Cepat pulang sana!" usir Ciel sambil mendorong Sebastian dengan sebelah tanagnnya sedangkan tangannya yang satu lagi digunakan untuk mengelus pipinya yang memerah akibat dicubit Sebastian.
"Well. Kalau ada apa-apa, telepon aku. Oke?"
"Tidak akan ada apa-apa!"
"Baiklah. Good Night, My Princess." Ujar Sebasian sambil mengecup pelan pipi Ciel yang malah tambah merah. Dan…
BUGH!
Sambutan yang hangat bukan? Sebuah kepalan melayang ke pipi kiri Sebastian. Tidak bisa dibilang pelan karena yang meninjunya adalah seorang pria. Biarpun berbadan kecil tapi cukup bertenaga juga ternyata.
End of Flashback
.
.
Setelah selesai dengan urusannya, Ciel menyambar tas biolanya dan berjalan menuju pintu depan apartemennya. Dan Ciel sangat terkejut begitu melihat Sebastian sudah stand by di depan pntu rumahnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah.. Sebastian yang tiba-tiba mendorong tubuh Ciel untuk kembali masuk ke rumah dan menutup pintinya.
Kedua tangan Sebastian menekan bahu Ciel dan merapatkannya ke tembok. Mata Sebastian yang tampak sangat berkilau plus seringai yang terpampang di wajah sempurna Sebastian cukup membuat Ciel begidik. Ciel mencoba menjauhkan tubuh Sebastian yang makin merapat ke tubuhnya. Namun sia-sia.
"Ja-Jangan Se-Sebastian… kumo-" belum selesai Ciel bicara, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Sebastian yang harus ia akui… sangat lembut. Ini yang ketiga kalinya semenjak mereka jadian-sepihak-. Ciel selalu berusaha menolak walaupun sia-sia. Dan jujur saja, Ciel juga sebenarnya merasa menikmati sentuhan Sebastian yang satu ini. Entah mengapa.
Karena tak ada perlawanan dari Ciel seperti kemarin, Sebastian mulai meminta izin untuk masuk. Ciel yang merasa harus melakukan permintaan Sebastian-atau akan berakhir seperti kemarin- hanya bisa meluluskan permintaaan Sebastian. Ciel membuka mulutnya, mengizinkan lidah Sebastian bergulat dengan lidahnya di dalam rongga basah miliknya.
"Hhh… nngghh…" suara itu terus meluncur dari bibir Ciel yang terkunci oleh bibir Sebastian. Membuat Sebastian menyeringai di tengah agresinya ke 'dalam' Ciel.
BRUK.
Tas biola Ciel jatuh saat kepalanya mulai pening akibat serangan Sebastian. Namun begitu Ciel tampak menikmatinya. Terbukti dari matanya yang terpejam, membiarkan cairan bening yang biasa disebut saliva keluar dari mulutnya. Saliva Ciel dan Sebastian yang bercampur.
Lima menit. Kemudian ciuman itu berakhir dengan Ciel yang terengah-engah. Pemuda barmata saffire itu menatap tajam ke arah Sebastian yang menatapnya sambil tersenyum senang. Kemudian Sebastian mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Ciel dan menjilati sisa saliva yang masih tersisa di sekitar bibir Ciel.
"Morning Kiss-ku tak adarasanya. Kau belum sarapan, ya?" tanya Sebastian yang kini mulai menyerang perpotongan leher Ciel. Membuka satu kancing kemeja biru kotak-kotak Ciel yang paling atas dan mengekspos bahu 'menggoda' milik Ciel. Sedangkan Ciel tak bisa melawan. Ia hanya pasrah. Seperti yang sudah and abaca tadi, sebenarnya Ciel menikmatinya juga. Sekali lagi. Entah kenapa.
Sebastian menciumi leher Ciel dan menjilatinya. Membuat Ciel mendesah tak keruan. Tangan mungil Ciel kini meremat kemeja merah marun yang Sebastian pakai.
"Ssshhh…. Aahhh…. Se-Sebas..tiaann.. hen..ti.. aakkkhh..!" Ciel menjerit saat Sebastian menggigit perpotongan lehernya dan meninggalkan tanda di sana. Tanda berwarna kemerahan yang kemudian diperjelas dengan dihisap dalam oleh si pelaku.
Tak puas hanya sampai itu, Sebastian mulai membuka kancing kedua teratas kemeja Ciel.
Ketiga.
Keempat.
Dan habislah kancing Ciel. Semua kancing kemeja Ciel sudah terlepas.
Sebastian kembali membungkam mulut Ciel dengan mulutnya. Sedangkan tangannya mulai 'beraksi' di balik kaus dalam putih yang Ciel kenakan. Sebastian mulai meraba dada mulus milik Ciel yang terasa hangat itu. Dan tiba-tiba saja..
CKLEK.
Kriiikk… kriiik…
BLAM!
"Huwaa….." terdengar suara jeritan dari arah luar dan dalam apartemen Ciel.
Bersambung…
Apa yang sebenarnya terjadi?
Dan bagaimanakah cerita selanjutnya?
Jeng.. jeng… jeng… *BLETAK* ditimpuk all chara. ( brisik tahu!)
Buat Meg-chan, dsni sudah jelas kan, Alois berperan sebagai apa? *BLETAK* (readers: bagian mana yang ngejelasin?)
Buat neko, maaf, asma Cile belom bisa kumat di chap ini. Mungkin chap-chap depan.
Buat manusia semelekete, Sebas memang 'berbahaya', disini malah makin berbahaya. Ya,kan? Ya,kan? Ya,kan?
Buat Aiko Enma, nih dah update. Thanks RnR nya ya…
Buat Mousy Phantomhive, sudah lebih 'hot' kah? Atau masih kurang. He he.. thanks reviewnya.
Buat yang laen, nama-nama di atas itu patut di contoh. Mereka review fict gak mutu saya ini.
Nah, klo begitu. Ditiru ya…
REVIEW, PLEASE…..
Salam Katak, Ara-kun.
Ppoooofffffppppphhh…..
