Haaaiii…. Minna-san…
Siluman Katak kembali lagi nich…
Masih setiakah Anda pada fict saya yang satu ini?
Kalau iya, saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.
Di saat saya sedang sakit begini, yang paling membuat saya bahagia adalah melanjutkan fict ini. Ide yang udah moncrot-moncrot(?) dari otak saya benar-benar bikin saya kelimpungan.
Yo wes lah, kita simak saja langsung ya…
Thank's to:
Aiko Enma,manusia semelekete,Neko, Meg chan,Kamiya Yuki, Mousy Phantomhive, KuroshitsujiLover234,gia, Fara, Vi Ether Muneca, arthemis, abaikan, and Ms. Albino Irokui
Thanks for read and review, guys
Tittle : Sulit
Disclaimer : Yana Toboso, lah.. masa' punya saya. Jadi apa kuroshitsuji nanti..
Pairing : SebaXCiel, pasti…..
Rated : karena di chap ini belum akan ada adegan 'panas', jadi masih T. dan untuk chap depan mungkin sudah bisa readers sekalian cari di rated M. oke?
Warning : OOC, OC(dikit), Typo(s), PoV ganti-ganti, YAOI/ Sho-ai/ boys love/ boysXboys/dlsb
CKLEK.
Kriiikkk… kriikkk…
BLAM!
"Huwaaaa…." Terdengar teriakan dari arah luar dan dalam apartemen Ciel.
…...
Sulit
Chapter 7
Ciel's PoV
"Huwaaaa…" aku menjerit sekuat tenaga karena rasa terkejutku yang amat sangat. Bagaimana tidak? Aku kepergok sedang dalam keadaan yang membuat orang salah paham. Terlebih lagi oleh temanku sendiri. Walaupun hanya sekilas kulihat rambut pirang pucatnya, namun aku sudah tahu pasti kalau orang itu adalah Alois Trancy.
Dengan sangat terburu-buru aku membenahi pakaianku yang berantakan. Sementara seorang yang menjadi dalang dari semua peristiwa pagi ini hanya berdiri diam sambil menatapku yang kelabakan. Mata crimsonnya memandangku dengan pandangan yang datar-sangat datar- hingga aku tak bisa memastikan apa yang tengah dipikirkannya kini.
Setelah yakin kancing bajuku terpasang semua, aku meraih knop pintu dan hendak segera berlari untuk mengejar Alois. Aku ingin menjelaskan semua kesalahpahaman yang mungkin menimbulkan tanda tanya besar di kepala Alois.
Namun tampaknya aku harus mengurungkan niatku terlebih dahulu. Karena saat aku hendak keluar dan mengejar teman pirangku, tangan Sebastian yang kokoh mencengkeram salah satu pergelangan tanganku.
"Al…! tunggu dulu..!" teriakku sambil berusaha lepas dari cengkeraman Sebastian.
"Lepaskan aku, Sebastian!" perintahku dengan tegas.
"Memangnya kau mau apa?" tanya Sebastian dengan sedikit menggeram. Sungguh, tatapannya saat ini membuatku ciut.
"A-Aku mau menjelaskan yang terjadi pada Alois!" ujarku sedikit gugup karena ditatap begitu intens oleh orb merah tersebut.
"Tak ada yang perlu dijelaskan lagi, bukan? Semuanya sudah jelas." Bisik Sebastian yang sudah mendekatkan wajahnya ke telinga kananku. Hembusan nafasnya begitu terasa di tengkukku kini. Kali ini aku merasa benar-benar kesal. Orang ini, selalu saja seenaknya.
Aku pun mendorong tubuh Sebastian agar menjauh dari tubuhku. Sebastian yang lengah pun bisa terdorong oleh tenaga yang berasal dari kekesalanku.
"Tentu saja aku harus menjelaskan semuanya! Aku tidak ingin Alois salah paham dengan apa yang ia lihat!" aku benar-benar menumpahkan kekesalanku sekarang.
"Memangnya apa yang dia lihat? Bukankah itu hal yang wajar untuk dilakukan oleh sepasang kekasih?" tanyanya enteng. Enak sekali ia bicara. Dia pikir dia siapa?
"Dengar, ya! AKU BUKAN KEKASIH, PACAR, ATAU SIAPA-SIAPAMU YANG BISA KAU PERLAKUKAN SEPERTI ITU!"
"Jadi ucapanmu setelah memakan cake dariku waktu it-"
"-itu bukan kemauanku!" aku memotong kalimat Sebastian. "Aku tidak pernah berniat untuk jadi pacarmu! Kau yang menjebakku!"
Hening.
Kami berdua saling menabrakkan pandangan kami. Aku memandang matanya -yang masih tampak tenang- dengan kedua saffire ku yang terbelalak. Dadaku naik turun dengan cepat akibat emosiku yang memuncak.
Gawat! Aku mulai sesak nafas. Seharusnya aku tidak terbawa emosi begini. Bisa berbahaya kalau asmaku kumat di saat seperti ini.
"Baiklah." Ujar Sebastian akhirnya. Ia mulai melangkah menuju pintu keluar. "Aku tak akan mengganggumu lagi. Tapi ingat, kau masih punya janji denganku besok. Sampai jumpa." Ujar Sebastian datar seraya meninggalkan aku yang kini berusaha mengatur nafasku yang mulai terasa –sangat- sesak.
"Ugghh…" aku memegangi dadaku yang semakin sesak. Entah kenapa, saat mendengarnya mengucapkan kata-kata tadi, hatiku serasa dibanting dari gedung lantai 100 dan jatuh di lantai dasar. Sungguh sakit di dada ini. Menambah rasa sakit akibat asmaku yang mulai kambuh. Mendengar kata-katanya tadi mungkin seperti mendengar kata 'putus' dari kekasih tercinta. Tapi kenapa aku harus merasa sesedih ini? Bukankah aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya?
Tubuhku merosot pelan karena kakiku yang sudah tak kuat menopang berat badanku. Kepalaku serasa berputar. Aku teus memegangi yang terakhir kuingat setelah itu adalah suara derap langkah yang terburu-buru ke arahku dan pandanganku yang berubah gelap.
End of Ciel's PoV
Now, Alois' PoV
Aku sungguh tak menyangka kalau Ciel akan melakukan hal itu. Hatiku seperti disayat ribuan pedang saat harus menyaksikan –sekilas dan tanpa sengaja- adegan yang disajikan oleh Ciel dan laki-laki yang sepertinya kukenal.
Aku berlari kencang menyusuri lorong apartemen yang kupijaki kini. Berusaha mengusir memori yang terus berputar seperti kaset rusak di kepalaku.
Aku terus berlari tanpa mempedulikan sekitarku. Aku hampir menangis saat ini. Namun harga diriku sebagai lelaki tak mengijinkanku untuk melakukan hal itu. Sebisa mungkin aku menyapu cairan bening yang ada di sudut mataku dengan menggunakan lengan bajuku, saat kurasa cairan bening tersebut akan turun membentuk sebuah sungai yang mengalir melalui pipi menuju dagu lancipku.
BRUK.
"Aw.." aku hampir saja terjatuh apabila tak ada tangan yang menopangku saat aku bertabrakan dengan seseorang.
"Maafkan saya, Danna-sama." Ujar orang itu gugup. Ternyata orang yang kutabrak adalah Claude, butler setiaku. Sesaat setelah kupandangi sepasang amber miliknya, aku langsung menerjang lelaki tegap berseragam jas hitam di hadapanku. Aku memeluknya dengan sangat erat. Claude pun sepertinya terkejut atas tingkahku yang tidak biasanya ini.
"Claude.." ujarku lirih. Berusaha menahan tangisku yang hampir pecah. Aku meneggelamkan wajahku dibahu Claude yang saat ini sedang berlutut untuk menyamai tinggiku.
"Sssshh… ada apa, Danna-sama? Apa yang bisa saya bantu?" tanya Claude penuh perhatian. Tanpa kusadari aku telah menangis. Cairan bening hangat yang kuusahakan untuk tidak kukeluarkan kini tumpah sudah. Aki benar-benar merasa seperti anak kecil saat ini. Anak kecil yang hanya tahu menangis. Setidaknya aku hanya bisa begini saat bersama orang ini. Orang kepercayaanku, Claude Faustus.
End of Alois' PoV
Claude's PoV
Aku sungguh bingung harus berbuat apa. Tuan muda yang sangat kusayangi, kini tengah menangis dipelukanku. Dalam hati aku bersumpah akan menghancurkan orang yang membuat Tuan mudaku jadi seperti ini.
Aku mencoba menenangkannya sebisaku. Jujur saja, aku paling lemah dalam hal ini. Aku tersentak saat tiba-tiba Danna-sama melepaskan pelukannya. Kemudian ia mengusap air matanya dengan kedua punggung tangannya. Benar-benar seperti anak kecil.
"Claude.." suaranya terdengar bergetar saat memanggil namaku. Ia menatapku dengan tatapan sendu yang sangat kubenci dari sekian banyak tatapan yang ia berikan padaku.
"Yes, Your Highness." Jawabku datar. Kukeluarkan sebuah saputangan berwarna hitam dari dalam saku jasku. Kubantu ia membersihkan sisa air mata dan cairan lain yang keluar melalui hidungnya (baca:ingus).
"Seperti-nya, a-aku benar-benar ti-tidak bisa mendapatkan'nya'. Apa-apa yang harus aku- lakukan, Claude.." ujarnya disela isak tangisnya yang masih tersisa.
"Yang perlu anda lakukan hanyalah menunggu, Danna-sama." Aku memberikan saran padanya. Saran yang sama dengan apa yang kulakukan kini. Menunggu.
"Menunggu sampai 'dia' menyadari bahwa Anda mencintainya." Aku mengakhiri saranku seraya bengkit berdiri.
"Aku mau pulang." Ujar Tuanku sambil melangkah gontai. Aku pun segera membantunya berjalan. Mendampinginya agar ia tak terjatuh. Aku tak berniat menanyai tujuan awalnya untuk menjemput bocah kelabu dan pergi ke kampus bersama. Sudah cukup aku melihat Tuanku menderita setelah mengenal bocah itu.
End of Claude's PoV
Normal PoV
Saturday, 01.00 p.m.
Ciel sudah keluar dari apartemennya dengan kepala menunduk. Setelan jeans dan kemeja abu-abu list hitam yang ia kenakan, tidak lebih menarik perhatian ketimbang wajahnya yang kusut sekali. Otaknya kembali memutar memori saat ia terbangun tengah malam tadi.
Flashback.
"Ugghh…" Ciel terbangun sambil memegangi kepalanya yang agak berdenyut. 'di mana ini?' batin Ciel sudah khawatir saat ia lihat ruangan gelap yang ia tempati. Ciel mencari sesuatu yang bisa menerangi ruangan ini. Sebuah lampu meja kini menerangi semua yang ada di ruangan itu. Setelah melihat baik-baik, akhirnya Ciel sadar kalau ia sedang berada di kamarnya.
Tapi tunggu! Siapa yang membawanya ke sini. Bukankah terakhir kali ia pingsan karena asmanya kumat. Pemuda berambut kelabu itu pun mengedarkan pandangannya, mengharapkan keberadaan seseorang yang bisa menjelaskan alas an kenapa ia bisa berbaring di sini.
"Eh?" Ciel membelalakan mata birunya saat melihat sebuah kertas terlipat yang ada di meja samping tempat tidurnya. Segera ia ambil kertas tersebut dan membuka lipatannya agar bisa dilihat isinya.
Maaf, aku tak tahu kalau kau punya sama.
Aku tak bisa membantu banyak
Aku hanya berharap kau bisa cepat pulih dan datang besok.
Aku tak ingin kencan TERAKHIR kita tidak berjalan lancar.
Sabtu, jam 05.00 p.m. kutunggu kau di taman dekat kampus.
Sebastian
Ciel benar-benar merasa bingung saat itu. Akhirnya ia pun hanya menangis dalam diam. berusaha mencari cara agar Sebastian mau memaafkannya. Bagaimana pun ini salahnya, bukan? Ia sendiri yang menerima dirinya sebagai pacar Sebastian. Seharusnya ia bisa konsekuen sampai hubungan mereka benar-benar berakhir.
Flashback End.
Ciel benar-benar tak bisa fokus dengan apa tujuannya saat ini. Hari ini ia meminta libur pada Lau untuk menepati janjinya pada Alois. Sejak hari itu juga ia belum bertemu Alois, walaupun sebenarnya ia sudah menelepon pemuda pirang tersebut. Dan hasilnya, Alois tampak biasa saja saat bicara di telepon. Setidaknya satu beban pikirannya sudah terangkat, begitu pikir Ciel.
.
.
.
Usai konser, Alois tampak berlari kecil dati belakang panggung bersama personel band lainnya. Tiga orang triplet berambut ungu dengan setelan kemeja putih, rompi cokelat tua dan celana panjang hitam. Sedangkan Alois menggunakan kemeja putih, rompi cokelat tua, celana hitam sepaha, stocking hitam sampai menutupi hampir seluruh kakinya, dan sepatu hitam ( pakaian ala Alois banget dah!)
Mereka berempat berjalan mengahmpiri Ciel yang sedang berdiri di dekat pintu keluar aula yang dijadikan tempat konser tersebut.
"Ciel..!" panggil Alois ketika melihat Ciel hendak beranjak pergi. Sontak Ciel pun menghentikan langkahnya dan menoleh. Ia tak jadi pergi.
"Bagaimana aksi kami tadi?" tanya Alois antusias. Ciel hanya tersenyum tipis (wow) menanggapi pertanyaan sahabat pirangnya itu.
"Kau suka?" tanya Alois lagi karena merasa belum puas dengan jawaban-senyuman-Ciel.
"Ya. Aku suka sekali. Lain kali undang aku lagi, ya." Jawab Ciel dengan nada riang yang dibuat-buat.
"Kami duluan, Trancy." Ujar salah satu triplet yang poninya jatuh ke tengah.
"Oh, ya. Hati-hati Timber, Thompson, Cunterbury."
"Errr.. aku juga sepertinya harus pergi, Al." ujar Ciel ragu. Sebenarnya ia memang harus segera pergi mengingat sekarang sudah hampir pukul lima sore.
"Kau mau ke mana?"
"Aku ada janji dengan seseorang. Maaf, ya. Nanti malam kuhubungi. Daa…!" Ciel berlari kecil sambil melambaikan tangannya. Sedangkan Alois hanya bisa menatap kepergian ciel sambil tersenyum getir.
"Pasti janji dengan si Michaelis itu." Gumam Alois.
.
.
Ciel melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya untuk yang ke sekian kali. Sudah lebih satu jam ia menunggu kedatangan orang yang membuat janji dengannya. Pikiran-pikran negatif mulai melanda otaknya. Ditambah lagi langit yang sepertinya akan menumpahkan air matanya. Langit begitu gelap karena tertutup awan kelabu pekat.
"Dia niat datang tidak, sich!" gerutu Ciel yang masih sibuk bolak-balik melirik jam tangannya. Sudah hampir waktu makan malam. Dan Sebastian belum muncul juga.
"Sebegitu tak inginnya kah dia putus denganku?" lagi-lagi Ciel menggerutu. Langit sepertinya sudah tidak bersahabat. Hujan mulai turun, memaksa pemuda mungil tersebut mencari tempat berteduh. Di bawah atap sebuah bangunan kecil menyerupai pos jaga. Tak ada siapa-saiap di taman itu sekarang. Sepi dan dingin.
Ciel memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Ia tak menyangka kalau hari ini akan turun hujan,jadi ia tak memakai mantel atau apapun yang bisa melindunginya dari hawa dingin.
"Hai… cantik.." mendengar suara yang terdengar dari arah belakang, Ciel memutar badannya 180 derajat. Dan ia menemukan-melihat- beberapa orang pria –yang ia anggap preman- datang mendekatinya. setelah dicermati, ternyata mereka berjumlah tiga orang. Hanya tiga orang namun cukup membuat Ciel agak begidik.
"Kalian mau apa?" tanya Ciel dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Tapi yang ditanya malah tertawa tak jelas sambil meracau ke teman-temannya seperti ini, "mau apa katanya. Hahahaha."
"Tentu saja kami mau tubuhmu yang kelihatan mulus itu, Sayang." Ujar salah satu preman itu.
Tanpa mempedulikan guyuran hujan, Ciel segera berlari menjauh dari orang-orang di hadapannya. 'sebegitu inginnya kah kau mengerjaiku, Sebastian.' Ujar Ciel dalam hati sambil ia berlari. Preman –preman itu mengejar Ciel yang notabene larinya lebih lambat. Ditambah dengan tubuhnya yang mulai menggigil.
"Cieeell..!" tiba-tiba saja terdengar suara seseorang memanggil Ciel. Samar-samar dapat Ciel lihat siluet orang tersebut. Hujan menghalangi pandangannya, namun ia bisa menebak siapa orang itu.
"Aaalll…! Tolong aku.." Ciel balas teriak agar suaranya dapat mengalahkan gemuruh hujan.
TEP.
"Mau kemana, Manis?" tanya pria-preman- yang sudah berhasil menangkap tangan Ciel. Ciel berusaha memberontak sebisa mungkin. Tapi preman itu malah menjatuhkannya ke tanah. Menimpa tubuh Ciel yang sudah basah kuyub. Ciel yang sudah kehabisan tenaga dan mulai sesak napas lagi, hanya bisa malancarkan tatapan pasrah.
Preman itu langsung menyerang pakaian Ciel yang dengan mudah disobeknya. Namun kaus dalam Ciel masih bisa melindunginya dari serangan langsung orang itu. Dengan penuh nafsu, preman itu menyobek kaus dalam Ciel dengan pisau lipat yang ia bawa.
CRASSHH!
Sedikit luka gores yang diakibatkan kulitnya berinteraksi dengan pisau, membuat sensasi perih di bagian dekat perut Ciel.
"Akkhh.. Ssshh" Ciel meringis merasakan perih luka di tubuhnya yang terhantam hujan.
Segera setelah dada mulus Ciel terekspos, preman itu langsung menyerang perpotongan leher Ciel. Membuat Ciel mengerang dan mendesah tertahan. Tangan kasar nan nista preman itu mulai menyerang tonjolan kecil di dada Ciel. Kemudian ia kembali menciumi, menjilat, menggigit, dan menghisap apa yang ia ingin rasakan dari bocah mungil yang kini terkulai lemah di bawahnya. Bibir, leher, dada, perut. Dan saat preman itu hendak menarik celana Ciel..
BUAGH!
Sebuah hantaman benda keras mengenai kepala preman itu. Preman itu pun terhuyung ke belakang sementara pelaku pemukulan tengah membantu 'korban' berdiri.
"Kau baik-baik saja, Ciel! Hey! Ciel!" pemuda pirang yang rambutnya basah itu mengguncang tubuh Ciel yang seperti mayat hidup itu. Ciel kelihatan sangat sulit bernapas. Wajahnya sudah sangat pucat pula. Ditambah darah yang mengalir melalui luka di tubuhnya. Hujan membuat luka itu mengeluarkan banyak darah.
"Kau serakah, sich! Makanya bagi-bagi. Eh? Ada satu lagi."ujar preman yang tadi sempat tertinggal diikuti satu temannya lagi.
"Beraninya kalian menyakiti Ciel!" teriak Alois memecahkan suara hujan. Alois kini berlutut sambil memegangi tubuh Ciel agar tidak ambruk setelah meletakkan balok kayu yang tadi ia pakai untuk memukul preman yang menyerang Ciel. Alois juga memakaikan mantel ungu gelap kesayangannya kepada Ciel walaupun mantel itu juga sama basahnya dengan tubuh Ciel.
"anak kecil berani melawan, hah?" salah satu preman mendekat ke arah kedua pemuda yang masih terduduk dan berlutut tadi. Pisau lipatnya sudah berada dalam posisi menyerang.
BUGH! BUGH! BUGH!
Dan preman itu mental sebelum berhasil menyerang Alois dan Ciel. Alois mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang melakukannya.
Seorang pria tegap berambut hitam, dengan pakaian serba hitam tengah berdiri di hadapan mereka. Kuda-kudanya mantab dan sepertinya orang ini kuat.
"Berani kalian sentuh Danna-sama. Kukirim kalian ke neraka." Pemuda tersebut berkata sambil mengeluarkan aura membunuhnya. Ketiga preman yang merasa tak akan menag itu, langsung lari tunggang langgang tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Anda tidak apa-apa, Danna-sama?" tanya orang yang sudah dapat dipastiakan bernama Claude tersebut sambil menghampiri Tuannya yang masih memeluk erat sahabatnya.
"Claude, tolong Ciel." Ujar Alois panik. Dengan segera Claude membopong tubuh Ciel dan memeriksa keadaan bocak tersebut.
Dilihatnya Ciel sudah sangat pucat dan sulit bernapas. Langsung saja Claude mengajak Tuannya untuk pulang dan merawat Ciel di kediaman Trancy.
.
.
.
Trancy's Mansion, 21.05 p.m.
"Ukkhh… di mana ini?' tanya seorang pemuda berambut kelabu yang baru saja terbangun. Ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang sangat besar dengan dirinya di atas sebuah ranjang berukuran besar.
"Ssshh.." pemuda bernama Ciel itu meringis saat ia hendak bangun untuk duduk. Perih melanda bagian perutnya. Ia pun dengan susah payah akhirnya dudukbersandarkan kepala ranjang. Perlahan ia meraba perutnya sendiri. Terdapat perban yang melingkar rapi melilit perut dan sebagian pinggangnya.
CKLEK.
"Ah, kau sudah sadar, Ciel!" sorak seorang pemuda pirang yang masuk bersama seorang pria tegap yang kita kenal sebagai butlernya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan?" tanya Alois kemudian.
"Aku… janji itu… OH, TIDAK!" pekik Ciel yang mengingat kembali kejadian yang baru saja dialaminya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sudahlah Ciel.. sekarang kau aman." Ujar Alois seraya mendekap tubuh Ciel yang berbalut piyama biru polos.
DRRRTTT… DRRRTT…
Ponsel yang berada di meja samping tempat tidur itu bergetar. Ponsel Ciel. Alois langsung meraihnya karena tak ada respon dari sang pemilik. Turquoise Alois langsung membulat ketika membuka mail yang diterima di ponsel tersebut.
"Ciel… bukankah kau tadi ada janji dengan Michaelis?" tanya Alois hati-hati. Ciel langsung membuka wajahnya lagi dan mengangguk lemah kepada Alois.
"Kenapa wajahmu seperti itu, Al. apa yang kau lihat?" tanya Ciel yang mencoba meraih ponselnya namun dicegah oleh Alois.
"Kembalikan, Al. apa yang kau lihat?" tanya Ciel lagi masih sambil mencoba meraih ponselnya.
"Tapi aku tak yakin kalau kau mau melihatnya. Aahh…" Alois kalah. Ponsel berhasil kembali ke pemiliknya. Tapi lihat apa yang terjadi selanjutnya.
"Tidak.. tidak mungkin." Ciel meracau tak jelas setelah melihat isi mail untuknya. "Ini pasti bohong." Air mata mulai keluar dari saffire itu. Alois langsung memeluk tubuh Ciel yang gemetar.
"Tenanglah, Ciel.." ujar Alois menenangkan Ciel yang tengah terisak di bahunya.
"Sebegitu bencinya kah dia padaku. Aku jadi tak mengerti maksud kebaikannya selama ini padaku." Ciel berujar lirih. Terlampau lirih malah. Namun hal itu masih dapat didengar oleh Alois yang sangat dekat dengan Ciel.
PLUK.
Ponsel Ciel pun terlepas dari gengganman Ciel. Ponsel yang menampilkan sebuah foto. Foto yang di dalamnya terdapat seorang pria berambut raven belah tengah yang tampak topless yang sedang tidur sambil memeluk seorang wanita berambut hitam keriting yang juga kelihatannya topless. Bisa kalian bayangkan sendiri bagaimana pose tidur pengantin baru yang walaupun hanya sebatas dada, tetap saja membuat pikiran orang yang melihatnya menjurus ke satu hal.
Dan Sebastian tega melakukan hal itu pada Ciel yang menunggunya sampai larut dan diserang oleh preman, hanya demi menunggu kedatangannya.
Oh, sungguh malang nasibmu Ciel.
Tapi, jauh dalam hatinya, Ciel tak percaya, atau tak ingin percaya akan foto itu. Walaupun dia bilang tidak punya perasaan apa-apa pada Sebastian. Tetap saja hatinya terasa sakit saat mengetahui kebenaran bahwa Sebastian benar-benar tak serius dengannya. Seharusnya Ciel merasa senang, karena awalnya ia memang menginginkan kata 'putus' menghampiri hubungan mereka. Namun sepertinya pemuda mungil itu telah benar-benar terjerat perasaan khusus yang ditawarkan oleh pria yang sangat menyebalkan baginya itu.
Bersambung…
Buuuaahhh…. Ini yang terpanjang, bro…
Di tengah suhu badan saya yang tinggi, saya malah makin semangat buat ngerjain fict satu ini.
Oh, ya. Saya mau kirim salam khusus buat Debby-chan 'n Hikari yang udah setia menghibur saya.
Ha ha ha…
Karena saya udah mulai ngantuk, jadi tolong perhatikan satu kalimat di bawah ini,ya..
REVIEW, PLEASE….
Salam Katak, Ara-kun.
Ppoooofffffppphhhh….
