ho ho ho..
saya balik lagi..
sebelumnya, ada yang perlu saya sampaikan.
Thank's to:
Aiko Enma, Hiphip Hurararaa, mika, manusia semelekete, Debby Phantomhive, gia, Meg chan, KuroshitsujiLovers234, and resharave
Thank's for read and review nya, guys..
Buat para silent reader juga makasih dah nyempetin buat baca fict ara yang satu ini.
Tittle : Sulit
Disclaimer : Yana Toboso, lah.. masa' punya saya. Jadi apa kuroshitsuji nanti..
Pairing : SebaXCiel, pasti….. slight ClaudeXAlois
Rated : sudah naik ke M…, yyeyy…
Warning : OOC, OC(dikit), Typo(s), PoV ganti-ganti, YAOI/ Sho-ai/ boys love/ boysXboys/dlsb
Sulit
Chapter 8
Trancy's Mansion, 06.13 a.m.
CKLEK..
Pintu sebuah ruangan dibuka perlahan oleh seorang pria berbalutkan pakaian serba hitam. Mata ambernya terlindung di balik kacamata minusnya. Pergerakan orang itu sungguh pelan, bermaksud agar tak mengusik tidur nyenyak sang Tuan. Walaupun tujuan awalnya memang untuk membangunkan sang Tuan a.k.a. Alois Trancy. Perlahan pria tersebut meletakkan sebuah nampan perak di sebuah meja dekat tempat tidur. Nampan itu berisi sebuah teko besar dengan satu cangkir penuh ukiran indah menyerupai laba-laba, lengkap dengan tatakan cangkirnya.
"Danna-sama, waktunya bangun. Morning tea Anda sudah siap." Ujar pria tersebut sambil menuangkan secangkir teh ke dalam cangkir yang disebutkan tadi.
Sang Tuan yang memang sudah terbangun sejak tadi, langsung mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Menerima secangkir teh yang disodorkan oleh butlernya-Claude.
"Apakah Ciel sudah bangun?" tanya sang Tuan-Alois- pada butlernya yang masih menunggu Tuannya menghabiskan tehnya.
"Belum, Danna-sama. Perlu saya bangunkan?" jawab dan tanya sang butler.
"Tidak! Tidak perlu. Kau bantu aku persiapkan diri. Aku yang akan membangunkannya." Ujar Alois yang kemudian beranjak turun dari tempat tidurnya.
"Yes, Your Highness." Kata Claude. Kemudian sang butler pun mulai melepas semua kancing piyama sang Tuan. Mulai melepas semua pakaian yang melekat di tubuh Alois hingga tubuh pemuda pirang tersebut polos..los..los.. Claude pun melingkarkan sebuah handuk di pinggang Tuannya dan menggendong Tuannya bridal style menuju kamar mandi.
Begitulah Alois Trancy. Seorang tuan muda yang segalanya harus dilayani. Dan bagi Claude yang sudah menjadi butlernya sejak Alois masih berusia 2 tahun, hal itu merupakan suatu rutinitas yang tidak mengganggunya sama sekali. Malahan, ia merasa sangat senang karena bisa melayani Alois setiap hari seperti ini.
.
.
.
Sebastian's Apartemen, 07.00 a.m.
"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang pemuda berkulit gelap yang memakai penutup kepala menyerupai sorban kepada pemuda lainnya yang memiliki rambut perak dengan poni yang menutupi sebagian besar wajahnya..
"Demamnya sudah turun tapi dia masih belum sadar juga. Bagaimana dengan ayahnya?" tanya balik pemuda berambut perak a.k.a. Undertaker. Pemuda berkulit gelap –Agni- hanya menghela nafas berat seraya kembali duduk di kursi dekat tempat tidur. Tempat tidur yang di atasnya terbaring seorang pria berambut raven yang masih menyembunyikan crimson di balik kelopak matanya.
"Mr. Michaelis terlalu sibuk. Mungkin beliau tak akan datang sampai Sebastian sadar seaklipun."
"susahnya punya ayah seperti itu." Undertaker menghela nafas juga. "Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah kemarin ia ada janji dengan bocah pelayan itu?" Undertaker bertanya hampa.
Mereka tak habis pikir. Semalam saat mereka pulang dari pesta kampus, mereka secara kebetulan menemukan Sebastian yang tergeletak tak bernyawa *plak* tak sadarkan diri di taman dekat kampus.
Flashback
Central Park, 00.05 a.m.
"Agni. Kau lihat itu? Bukankah itu seperti Sebastian?"tanya Undertaker pada Agni. Yang ditanya pun langsung memberikan perhatian pada arah yang ditunjuk oleh temannya.
"Eh? Iya. Tapi mana mungkin?" ujar Agni tak percaya. Akhirnya mereka memutuskan untuk menghampiri sosok tersebut dan memastikan dugaan mereka.
Benar saja dugaan mereka temukan tak lain adalah sosok Sebastian yang terbaring tengkurap di pinggir jalan setapak taman itu.
"ya, ampun! Taker, lihat sini!" Agni menunjukkan tangannya yang sebelumnya digunakan untuk membenarkan letak kepala Sebastian. Cairan merah yang sudah mulai mongering tampak menempel di tangannya.
"Kita bawa ke rumah sakit." Ujar Undertaker cepat sambil membantu Agni membopon tubuh Sebastian yang walaupun ramping tetap saja berat.
"Jangan! Kau ingin dia mengamuk saat bangun? Kita bawa ke klinik dekat sini saja. Lalu rawat di apartemennya." Agni membantah karena Sebastian yang sangatmembenci bau rumah sakit.
"Tidak buruk juga idemu." Undertaker menyetujui usul temannya itu. Masih jelas ingatan mereka tentang amukan Sebastian yang membuat mereka trauma. Saat Sebastian yang terserempet motor dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh mereka berdua. Esoknya, saat Sebastian bangun mereka langsung dihujani makian dan benda-benda rumah sakit yang berterbangan.
"Ogah banget diamuk Sebas lagi. Cukup deh sekali itu aja." Ujar Agni dan Undertaker bersamaan saat membopong Sebastian yang tak sadarkan diri.
End of Flashback
Kedua teman baik Sebastian itu pun larut dalam pikirannya masing-masing. Bukankah seharusnya Sebastian sedang berkencan dengan bocah keras kepala yang mereka mata-matai selama ini? Berada di sebuah hotel dan melakukan 'ini itu' dengannya sampai pagi. Well, itu pikiran yang berlebihan dari Undertaker yang sengaja saya ke mana bocah itu? Bagaimana ia bisa meninggalkan Sebastian dalam keadaan seperti itu.
Trancy's Mansion, 07.15 a.m.
Di sebuah ruangan yang bisa kita sebut dengan kamar tamu, terdapat tiga orang yang sedang sibuk dengan acaranya masing-masing.
Pemuda berambut kelabu yang sejak semalam belum bangun dari tidurnya. Entah apa yang ia impikan. Sampai-sampai tidurnya pulas sekali.
Kemudian ada seorang pemuda berambut pirang pucat yang sedang duduk di sebuah kursi di samping anak berambut kelabu tadi tertidur. Pemuda bernama Alois itu terus menggenggam erat tangan pemuda yang tertidur sejak kedatangannya ke kamar ini.
Dan jangan lupakan seorang lagi. Seorang pria tegap yang memakai setelan hitam-hitam yang tengah berdiri di belakang sebuah troli yang berisi beberapa menu makanan yang sudah siap disantap.
"Anda mau sarapan lebih dulu, Danna-sama?" tanya Claude untuk ke sekian kalinya. Namun masih sama dengan sebelumnya. Hanya gelengan yang ia dapat dari sang Tuan. Dan ia sudah cukup mengerti maksud Tuannya itu. Ia ingin sarapan bersama temannya yang masih belum bangun itu. Sarapan bersama Ciel.
"Tidakkah lebih baik kalau kita bangunkan saja?" tanya Claude lagi.
"Jangan!" tolak langsung membalik tubuhnya agar dapat menatap langsung amber milik butlernya itu. "Biarkan dulu seperti ini. Jangan ganggu dia." Pandangannya kembali ke pemuda yang tertidur.
"Tapi Anda harus sarapan dan minum ob-"
"-Claude… please.." ujar Alois dengan nada memelas. Claude pun akhirnya menyerah. Ia menghela nafas sejenak sebelum akhirnya undur diri dari ruangan itu.
Tangan Alois yang bebas kini meraih pipi pucat Ciel yang terasa begitu halus saat menyentuh kulitnya. Pemuda pirang itu masih tak habis pikir terhadap seseorang yang ia duga sebagai orang yang mencampakkan Ciel. Sebastian Michaelis.
Yang ia tahu, Sebastian adalah putera dari donator terbesar di kampus tempat ia mencari ilmu. Yah, walaupun keluarga Trancy juga merupakan keturunan bangsawan yang sangat terkenal. Mungkin sama terkenalnya dengan keluarga Michaelis yang merupakan pengusaha tersukses di Inggris.
Kembali ke Sebastian Michaelis. Bukankah Sebastian adalah seorang mahasiswa jurusan memasak yang akan segera menamatkan kuliahnya sekitar dua semester lagi. Bagaimana mungkin seorang Sebastian Michaelis yang sempurna bisa menjalin hubungan dengan sesama jenisnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat pemuda pirang itu sendiri.
"Claude!" panggil pemuda berambut pirang itu. Tak lama kemudian, sang butler pun datang.
"Ada apa, Danna-sama?"
"Cepat kau cari tahu siapa yang menyebabkan Ciel sampai seperti ini." Titah sang Tuan muda.
"Tapi, Danna-sama. Bukankah pelakunya adalah ketiga orang berandalan itu."
"Pasti ada yang membayar mereka. Firasatku mengatakan demikian. Cepat kau lakukan perintahku." Ujar Alois lantang di depan butler tercinta(?)nya itu.
Claude tampak tertegun sejenak. Raut wajahnya menjadi susah ditebak. Seperti sedang galau dan bimbang. Alois yang menyadari kalau butlernya tidak segera menjawab perintahnya, langsung memicingkan pandangannya ke arah Claude.
"Ada apa, Claude?" tanya Alois hati-hati.
"Sebenarnya… ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Danna-sama. Berdua." Kata Claude dengan menegaskan kata 'berdua'.
"Tidak biasanya kau begini. Jelaskan sekarang."
"Tapi ini sangat penting Danna-sama. Saya mohon." Kali ini Claude membungkukkan badannya. Alois memandanginya sebentar sebelum akhirnya mengikuti kamauan Claude. Mereka pun meninggalkan Ciel kembali sendirian di kamar tamu keluarga Trancy.
Sebastian's Apartemen, 08.23 a.m.
"Jadi.." seorang pemuda berambut raven tengah duduk bersandar pada kepala ranjangnya sambil memijit-mijit kepalanya yang pening. "..aku belum menemuinya?" pemuda itu bertanya, lebih kepada dirinya temannya yang masih setia menemani (Ceileh..) hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.
"Kira-kira, siapa yang menyerangmu semalam, Sebs?" tanya Undertaker. Yang masih berpikir setelah diceritakan apa yang terjadi pada pemuda raven itu semalam.
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus tahu. Kalian tahu apa maksudku kan?" tanya pemuda bernama Sebastian itu sambil melayangkan deathglarenya pada kedua orang temannya itu.
"Kami mengerti. Kami usahakan secepatnya." Setelah Undertaker berkata demikian, kemudian mereka-Undertaker dan Agni- beranjak dari kediaman Sebastian.
"Setidaknya satu hal yang aku syukuri saat ini." Sebbastian kembali membaringkan tubuhnya di kasur dan menghela nafas panjang. "Kita belum putus." Katanya sambil tersenyum tipis.
Trancy's Mansion, 08.30 a.m.
"A..Aku tidak percaya!" Alois membelalakan matanya lebar-lebar. Di hadapannya kini tengah berlutut soerang Claude Faustus, orang kepercayaannya yang mungkin sudah tak dipercaya olehnya lagi. "Itu tidak mungkin! Kau bohong kan, Claude!"
Claude yang kerah bajunya ditarik oleh sang majikan hanya bisa diam. ia sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kepada Tuannya ini atas apa yang ia perbuat. Semalam.
"JELASKAN PADAKU MENGAPA KAU LAKUKAN ITU SEMUA!" air mata mengaliri pipi pucatnya di sela isak tangisnya yang makin menjadi.
"Sudah saya katakan, saya melakukannya demi Anda, Danna-sama."
"Tapi kenapa? Kenapa, Claude?" kali ini Alois memukuli dada butlernya yang masih anteng tak bergeming dari posisinya.
"Tadi juga sudah saya katakan. Itu karena saya mencintai Anda, Danna-sama." Claude yang sudah tak tahan lagi, akhirnya memeluk tuan mudanya itu. "Karena saya mneginginkan kebahagiaan Anda, Danna-sama."
"Tidak mungkin." Alois membalas pelukan sang butler. "Kau tahu itu dilarang kan, Claude.." ujar Alois lirih. Masih sambil menangis.
"Saya sangat mengetahuinya, Danna-sama." Ujar Claude seraya mengeratkan pelukannya.
Ciel's Room, 10.00 a.m.
"Terima kasih atas semuanya. Tapi sepertinya aku harus segera kembali ke rumah." Ciel kini sedang berpamitan pada Alois yang dikawal oleh Claude. Setelah diyakinkan oleh Ciel bahwa ia akan baik-baik saja, Alois akhirnya mau melepas dan membiarkan Ciel pulang. Tentu dibantu oleh Claude yang turut meyakinkan sang Tuan muda pirang itu.
Ciel pun berpamitan setelah seorang pelayan alois yang lainnya datang untuk mengantar Ciel pulang kembali ke apartemennya. Sedangkan Alois hanya bisa mengantar Ciel sampai pintu utama mansionnya.
"Maaf, aku hanya bisa mengantarmu sampai sini. Aku agak kurang enak badan." Ujar Alois yang tangannya menjabat tangan Ciel.
"Tidak perlu minta maaf. Kau sudah terlalu baik padaku. Terima kasih banyak." Ujar Ciel seraya melepaskan jabatan tangannya dan membungkuk tanda terima kasih.
Setelah yakin mobil yang Ciel tumpangi melewati gerbang utama mansionnya, Alois berbalik menghadap butlernya, Claude.
"Aku ingin bicara denganmu. 'Berdua'" Claude pun mengikuti langkah tuannya menuju lantai atas.
Alois menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Membuat dirinya dan seorang pria berpakaian hitam-hitam terkurung di dalamnya. Hanya berdua. Kemudian pemuda pirang tersebut melangkah perlahan ke arah Claude dengan melayangkan pandangan menantang.
"Katakan mengapa kau menyuruh orang untuk menyerang Sebastian dan Ciel?" nada menuntut jelas terdengar dari kata-kata bangsawan muda kita.
"Akan saya ulangi. Itu karena saya ingin hubungan mereka hancur sehingga Anda bisa mendapatkan Ciel, Danna-sama. Saya hanya memikirkan An-"
PLAK!
Alois menampar keras pipi kiri Claude dengan tangan kanannya yang kini gemetaran. Aolis menunduk sambil memandangi tangannya yang barusan ia pakai untuk menampar.
"Kalau kau mencintaiku, seharusnya kau bilang sejak awal." Trancy muda itu kini menangis lagi. Walaupun Claude tidak melihat wajah Alois secara langsung, bisa dipastikan dari bahunya yang bergetar dan isakan yang terdengar.
"Danna-sama.."
"Bukankah kalau kau bilang sejak awal, AKU BISA MEMBALAS PERASAANMU! DASAR CLAUDE BODOH!" Alois memukuli butlernya yang tidak bergeming itu. Claude terlampau shock atas kalimat yang barusan didengarnya.
"Danna-sama… Anda.."
SREET!
Dalam sekejap, Alois menangkap rahang kokoh milik Claude dan menyatukan bibir mereka. Claude yang terkejut refleks membungkuk untuk menyamai tinggi tuannya. Mereka berciuman. Ciuman yang awalnya didominasi oleh sang tuan muda, namun pada akhirnya harus dikuasai oleh sang butler yang tampaknya lebih mahir.
Claude melingkarkan lengannya ke pinggang Alois sementara Alois mulai menikmati permainan Claude di 'dalam' sambil mengalungkan tangannya ke leher Claude. Alois sedikit mendesah saat lidah Claude mengabsen satu-persatu giginya dan mencampur saliva mereka di dalam. Adda sedikit yang keluar dari mulut Alois, namun mereka abaikan.
Setelah mereka rasa harus menghentikan aksi mereka barusan karena persediaan oksigen yang menuntut, mereka saling berpandangan.
"Danna-sama, yang tadi itu-"
"Hukuman! Itu hukuman karena kau tak membicarakannya terlebih dahulu denganku!" alois memotong kalimat Claude.
"Tapi, bukankah itu dilarang?" sekarang Claude benar-benar tak mengerti jalan pikiran tuan mudanya ini.
"Siapa peduli. Karena kau sudah menyatakannya. Jadi, mulai sekarang kau milikku. Dan aku adalah milikmu. Mengerti!"
"Yes, Your Highness." Ujar Claude seraya membungkuk dan menyilangkan sebelah tangannya ke dada.
.
.
.Bersambung.
Hooeee…. Kenapa malah ClaudeXAlois nih? Author parah nih…#PLAK#
Tapi chapter ini perlu demi chapter-chapter depan. Saya ngetik ini sambil dengerin lagunya Gazette yang Shiver, jadinya saya kepikir Alois mulu. (KSJ 2 ep 1 kan openingnya Alois semua gambarnya)
Selain itu, juga karena saya lagi ngefans sama Alois~
Sekalian saya mau ngucapin terima kasih banyak buat Debby-chan yang udah support n ngingetin akan kewajiban saya. Ara-nee saying Debby-chan~ *pleuk2*
Buat readers, tolong reviewnya ya, saya juga minta saran, enaknya nih fict mau happy ending atau sad ending, atau sweet sad ending?
Bingung kan? Sama, saya juga bingung.*PLAK*
Oke, akhir kata. Mohon..
REVIEW…..
Salam Katak, Ara-kun.
Ppooooofffffpphhh…..
