Tittle : Sulit
Disclaimer : Yana Toboso, lah.. masa' punya saya. Jadi apa kuroshitsuji nanti..
Pairing : SebaXCiel, pasti….. slight ClaudeXAlois
Rated : sudah naik ke M…, yyeyy…
Warning : OOC, OC(dikit), Typo(s), PoV ganti-ganti, YAOI/ Sho-ai/ boys love/ boysXboys/dlsb
Sulit
Chapter 9
.
.
Seorang pemuda berambut kelabu tampak sedang menyusuri lorong menuju apartemennya yang berada di lantai 5 itu. Saat pemuda itu –Ciel- sampai di depan pintu apartemennya, manik birunya sekilas melirik ke arah pintu apartemen tetangganya. Pintu yang bertuliskan 'Michaelis'. Pintu yang tertutup rapat. Tatapan mata pemuda mungil tersebut menyiratkan amarah yang begitu dalam. Tangannya mengepal sebelum akhirnya bergerak untuk membuka pintu apartemennya.
'Aku akan selesaikan semuanya hari ini!'
.
.
.
Trancy Mansion, Alois' Room.
.
.
"Kuharap belum terlambat.." gumam seorang pemuda pirang yang tampak sudah siap untuk pergi. Manik turquoise miliknya menerawang langit yang tampak sedikit mendung. Di belakangnya berdiri seorang pria berkacamata yang kita kenal sebagai butler keluarga Trancy.
"Kita berangkat, Claude." Sang Trancy muda memberikan titah kepada butler merangkap kekasihnya itu.
"Yes. Your Highness." Respon sang butler seraya menunduk dan menyilangkan sebelah tangannya ke depan dada.
Mereka berdua pun segera memasuki sebuah limausin yang telah dipersiapkan sejak awal.
.
.
.
Sebastian's Apartement.
TOK. TOK. TOK.
"Masuk." Michaelis muda yang sedang sibuk membaca buku di atas ranjangnya itu menyahut tanpa mengintrograsi siapa yang mengetuk pintu. Suara langkah yang perlahan namun pasti terdengar mendekat ke arah pemilik apartemen. Sedangkan Sebastian-pemilik apartemen itu- tetap fokus pada bacaannya. Tanpa ia sadari, orang yang ia persilahkan masuk tadi sudah berada di hadapannya.
"Aku ingin menyelesaikan semuanya."
Ruby Sebastian membola saat mendengar suara dan ucapan yang terlontar dari bibir sang tamu yang sekarang ia ketahui adalah Ciel. Ciel Phantomhive. Orang yang sangat ia cintai. Buku yang ia baca tadi, kini terjatuh ke pangkuannya.
"C-Ciel…" Sebastian tergagap saking terkejutnya. Ia tak menyangka kalau Ciel akan dattang menemuinya. Tidak. Ia hanya berpikir kalau Ciel tidak mungkin ingin bertemu dengannya setelah kejadian yang belum jelas kemarin.
"Ya, ini aku. Dan aku kemari untuk menyelesaikan urusanku. DENGANMU." Ujar Ciel dengan sombongnya. Manik birunya menatap angkuh kepada Sebastian yang kini menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"T-tunggu dulu. Aku akan jelaskan." Sebastian bangkit dari posisinya dan berdiri di hadapan Ciel. Sebastian mencoba menyentuh pundak Ciel namun langsung ditepis oleh Ciel seolah tak rela dirinya disentuh oleh Sebastian.
"Tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah jelas. Aku paling benci dipermainkan. Padahal, aku sudah mulai menaruh sedikit kepercayaan dan perasaanku padamu. Tapi…"
"Ciel.. tolong dengarkan aku dulu.."
"Sudah kubilang! Tak ada yang perlu dijelaskan!" Ciel membalikkan badannya bermaksud untuk keluar dari ruangan itu. "Sekarang kita…."
.
.
.
-Sementara itu-
"Danna-sama! Jangan begitu. Pelan-pelan saja. Tidak baik untuk tubuh Anda!" Claude terus memperingatkan tuan mudanya yang sejak turun dari mobil terus saja berlari kencang untuk mencapai apartemen Sebastian.
'Ciel… kumohon, jangan katakan hal itu dulu pada Sebastian…' Alois terus berharap dalam hatinya. Di setiap langkahnya yang terpacu demi menyelamatkan hubungan sepasang manusia yang menurutnya sudah digariskan, ia menyimpan harapan besar agar Sebastian bisa sedikit mengulur waktu untuknya.
-Kembali ke pasangan kita-
"Sekarang kita…"
"CIIIEEELLL…..!"
BRAKK!
Kedua insane yang berada di ruangan sontak menoleh ke arah seorang pemuda yang –dengan sopannya- menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. Pemuda berambut pirang dengan setelan ungunya yang kini tampak terengah-engah, sedang menyandarkan sebelah tangannya ke dinding ruangan itu.
"A-Al… Apa yang…" manik biru Ciel mencoba memberikan informasi ke otaknya tentang apa yang ia lihat saat ini.
"Danna-sama." Akhirnya, sang butler dapat mencapai tempat tuan mudanya berdiri. Segera butler bernama Claude Faustus itu menopang tubuh majikannya yang sudah tampak kelelahan. Sedangkan Sebastian menatap penuh selidik ke arah dua orang yang baru saja bergabung di ruangannya itu.
"Aku mohon, jangan katakana apa yang ingin kau katakana tadi." Pinta Alois kepada Ciel dengan wajah memelas. Seketika sapphire milik Ciel membola. Kemudian tubuh mungilnya bergerak mendekati sahabat baiknya itu. Mencengkram kedua pundak sahabatnya itu-namun tidak terlalu keras-.
"Apa maksudmu?" tatapan heran jelas ia berikan kepada pemuda pirang yang kini memasang ekspresi yang sulit dijelaskan. Agak mirip dengan ungkapan…. merasa berrsalah? Begitu pula dengan Sebastian yang sejak tadi diam namun tetap waspada.
"Sebenarnya.." baru Alois akan bicara, Claude memberikan isyarat kepada tuannya untuk diam.
"Biar saya yang jelaskan." Ujar butler berkacamata itu.
.
.
.
Otak jenius milik Ciel sedang bekerja keras untuk mencerna informasi yang diberikan oleh Claude kepadanya dan Sebastian. Ciel masih belum percaya kalau selama ini Alois menyukainya. Dan masih tidak percaya kalau Claude sanggup merencanakan kejahatan kepadanya dan Sebastian.
Sedangkan Sebastian kini bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan Claude mengenai siapa dan apa alasan ia dan Ciel diserang malam itu. Sebastian pun senang karena akhirnya Ciel tahu bahwa dirinya tak bersalah.
"Benarkah begitu, Al?" Ciel bertanya untuk kesekian kalinya. Dan lagi-lagi dijawab dengan anggukan dari Alois.
"Urusan kami di sini sudah selesai. Untuk kelanjutannya, itu terserah kalian." Ujar Claude yang kemudian menggendong Alois bridal style keluar ruangan. Sementara Sebastian dan Ciel hanya saling berpandangandengan tatapan cengo-?-
"Mereka pacaran, ya?" tanya Sebastian dengan tampang autist-nya*plakk*
"Mana kutahu.. memangnya itu urusanku.." tanggap Ciel cuek seraya ngeloyor pergi menuju pintu keluar. Namun langkahnya tertahan saat punggungnya merasakan sesuatu yang merayap. Tubuh Ciel menegang, matanya membulat, keringat dingin mulai bercucuran keluar dari pori-pori kulit putihnya.
"Katanya kau masih punya urusan denganku?" tanya Sebastian dengan tidak ada maksud bertanya sama sekali. Ia hanya ingin menggoda Ciel yang tampak mulai ketakutan merasakan pergerakan telapak tangannya yang mulai merayap masuk ke dalam pakaian Ciel. Gial loe, Bas! Pintu masih kebuka, tuh! Tutup dulu gih!
BLAM.
Suara berdebam kecil terdengar saat sebelah tangan Sebastian yang bebas menutup pitu yang tadinya akan dilewati Ciel. Sementara sebelah tangannya yang lain masih 'bermain' di balik punggung Ciel.
"A-apa m-maksudmu?" tanya Ciel dengan nada gemetar yang kentara.
Sebastian segera membalikkan tubuh Ciel agar menghadap padanya. Tampak jelas wajah Ciel yang sudah mejikuhibiningu karena menahan segala perasaannya. Kemudian Sebastian maju beberapa langkah sementara Ciel mundur hingga menempellah punggung Ciel di dinding. Ciel tak dapat melawan ataupun mengelak. Sudah pasti karena ia kalah postur.
"Selesaikan kalimatmu tadi." Nada datar namun menuntut yang keluar dari bibir Sebastian membuat Ciel agak bergidik.
"Kalimat yang mana?"
" Kalimat…'Sekarang kita..' itu lho.. " Sebastian mengeluarkan seringaiannya kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Ciel. "Atau kau mau aku yang melanjutkan? Hah?" Sebastian kemudian menggigit telinga Ciel dan menjilatinya, membuat tubuh Ciel semakin bergetar dan panas. What? Panas? Ya ya.. jujur saja, Ciel juga sedang menahan hasrat yang sejak tadi ia sembunyikan namun tetap saja diketahui oleh iblis kita tercinta, Sebastian Michaelis.
"K-kau ma-maunya di-dilanjutkan bagaimana?" Ciel malah memancing seriangaian Sebastian agar semakin lebar. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, Sebastian langsung mengangkat Ciel bridal style dan berjalan menuju ranjangnya.
"H-hey! Kau mau bawa aku ke mana?" sang Phantomhive muda itu memberontak sebisanya. Tapi ya… sudah jelas itu sia-sia, kan?
"Melanjutkan kalimat tadi." Jawab Sebastian dengan ringannya. "Kalimat tidak harus dilanjutkan dengan kalimat, kan?"
Bunyi 'Bruk' pelan terdengar saat Ciel mendarat di ranjang milik Sebastian. Sebastian langsung mengunci Ciel di bawahnya. Sebelah tangan kokohnya mengunci kedua tangan Ciel ke atas kepala. Ia pun mulai 'menyantap' hidangan lezat di hadapannya. Mulai dari memberikan ciuman yang sangat dalam dan penuh arti sampai memberikan satu persatu tanda kepemilikan di tubuh mulus Ciel, namun baru sebatas leher karena Ciel masih memakai kemejanya. Desahan dan erangan terdengar di ruangan itu. Membuat Sebastian semakin tidak sabar untuk menikmati menu utamanya.
Sebelah tangan Sebastian yang awalnya hanya bermain-main di dua buah tonjolan kecil di dada Ciel, kini mulau meraih satu persatu kancing kemeja Ciel untuk dibuka. Setelah kancing terakhir terlepas, barulah terekspos dada mulus Ciel yang sedikit berbekas seperti bekas kissmark? Sebastian sempat terkejut lantaran ia mengetahui benar sifat Ciel yang tidak mungkin mau disentuh orang lain. Selain dirinya, mungkin.
"Ughh… Sebas.." kali ini bukan desahan atau erangan nikmat yang terdengar. Namun lebih seperti rintihan. Seketika Sebastian tersontak saat merasakan tangannya yang menjelajahi bagian depan Ciel seperti basah oleh cairan lengket dan pekat. Kemudian Sebastian mencoba melihat ke bagian perut Ciel yang masih di plester dengan kain kasa. Kain kasa yang awalnya putih itu kini berubah warna akibat rembesan darah dari luka Ciel yang memang masih basah.
"Ciel! Bertahanlah!" Sebastian melepaskan pegangannya pada tangan Ciel dan menaruh sebelah tangan Ciel di atas luka itu. "Tekan sedikit. Aku akan cari bantuan."
Baru saja Sebastian akan keluar dari pintu, pintu itu terbuka dengan kasarnya.
"SEBASTIAN..!" dua sahabat Sebastian datang, Undertaker dan Agni. "Kami sudah temukan berandalan-berandalan itu. Dan kami sudah menghabisi mereka." Lapor mereka pada Sebastian.
"Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal itu. Cepat! Bantu aku!" Sebastian langsung menarik kedua temannya menuju kamarnya. Kemudian menuju ke arah Ciel yang membuat seprai Sebastian semakin banjir darah. Kesadaran bocah itu juga sudah diambang batas. Napasnya memburu diimbangi dengan wajahnya yang memucat.
"Bantu aku membawanya ke tempat Madam Red. Secepatnya!"
"Baik!"
.
.
.
"Sudah tidak apa-apa." Madam Red mencoba menenangkan Sebastian yang sedari tadi masih berada di samping ranjang Ciel. Darah yang keluar memang banyak, tapi tidak sampai mengancam nyawanya, walaupun kalau sampai terlambat, nyawa Ciel bisa saja lewat tadi. Madam Red, Mrs. Angelina, atau yang kita ketahui adalah bibi Ciel, sudah mendengar semua yang tejadi dari Sebastian.
"Ciel beruntung, memilikimu." Ujar Mrs. Angelina seraya menepuk pelan pundak Sebastian.
"Terima kasih, Madam.." ujar Sebastian lirih.
Bersambung…
Maunya sih ending di chap ini. Tapi ditunda dulu ah, endingnya..
A/N: haha.. saya balik lagi setelah sekian lama… maaf untuk para readers yang nungguin (Siapa coba?) lanjutan fict saya yang satu ini. Akhirnya bisa curi2 waktu buat ngetik chap ini. Sampe jam 2 pagi euy… untungnya gak ketahuan…wkwkwk curcol dikit ah…
Yang jelas, saya ingin berterima kasih kepada semua yang telah mendukung saya sepenuh hati. Maaf kalau selama ini merepotkan semuanya… saya juga manusia biasa yang masih harus banyak belajar…. Buat seseorang yang sudah memutuskan kontaknya dengan saya, saya berdoa untuk segala kemudahan dalam setiap hal yang kamu lakukan. Ingat? Itu janji saya.
Oke chap depan saya usahakan ada lemonnya. Saya juga gak yakin sih, bisa ngetik lemon.. hahaha.. wahhh.. kayaknya udah kepanjangan nih..
Saya sudahi dulu ya… sampai ketemu di chap depan..
Salam Katak, Ara-kun.
Pooooffffphh….
