Dream ? Or not ?
Author : Sanao Mikaru
Warning : This story contain YAOI (Boy x Boy) *blush* ,typo, rating yang akan naik seiring dengan jalan cerita, dll
Pairing : SasuNaru [main], slight OtherNaru
Rate : T
Disclaimer : I don't own Naruto….. *sigh*
Summary : Di sudut kota ini, Sasuke seorang vampire, bertemu dengan Naruto seorang manusia biasa. Apa benar Naruto hanya manusia biasa?
Find out inside. RnR please. And This story contain YAOI.
p.s : Vampire dengan darah dicerita ini sama seperti manusia dengan air.
-Thank you for Kiryuu yang sudah mereview
=Yup, 'sosok itu' memang kenalan Sasuke ^^ Ehehe, maaf deh yang ini telat updatenya.
-Thank you for Yuuchan no Haru999 yang sudah mereview
=Halo~ Ahaha, kayaknya sih enggak. Kata Sasuke, untuk dia enggak. Soalnya diakan sudah jenius. XD
-Thank you for mechakucha no aoi neko yang sudah mereview
=Jawabannya ada di… chapter ini! ^^ yup, Sanao pasti buat yaoi XD
-Thank you for Micon yang sudah mereview
= Ya ampun, Sanao kurang teliti ^^a. Yosh, Dengan semangat masa muda Sanao akan berusaha sebaik mungkin!
-Thank you for Uchy-san yang sudah mereview
=Siap! *salute captain*
-Thank you for Namikaze Shiruna yang sudah mereview
=Ehehe, jadi malu.. *blush* Kurang panjang? Hmm.. Sanao coba panjangin deh untuk chapter selanjutnya... Sabar ya, chapter Sanao yang sekarang masih pendek-pendek... ^^
-Thank you for Pink yang sudah mereview
=Sanao usahakan ya ^-^
Thank you for the readers yang sudah menyempatkan waktu untuk RnR, favorit dan meng-alert story Sanao dan juga para silent readers[?], Sanao ucapkan terima kasih banyak. *bow*
' blablalablabla' = suara Sasuke dalam hati
"bla bla bla bla" = percakapan biasa
blablabla = ganti tempat
Enjoy
Flashback =
Pintu itupun terbuka, dan keluarlah seseorang. Mataku membesar melihat sosok itu.
"Ka-kamu…"
Dream ? Or not ?
Chapter 4.1 : The Reunion
Sasuke P.O.V
"Ka-kamu…-" aku melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Tanpa kusadari kubuka mulutku dan berteriak di samping Naruto sambil menunjuk ke arah 'sosok itu'.
"ITACHI-ANIKI!"
Aniki a.k.a Itachi langsung ketawa cengengesan ketika melihatku. Akupun mengeluarkan jurus 'Uchiha death glare!' kepada anikiku satu-satunya itu. Tak kusangka dia mengeluarkan jurus yang sama. 'Che, dasar baka aniki!'
Akhirnya setelah beberapa menit, diapun berkata, "Aku senang kamu masih hidup otouto."
'Masih hidup katanya? Apanya yang masih hidup! Aku hampir mati karena mencari-cari dia kesana kemari!' tampak urat-urat di dahiku
"Hnn… kau juga aniki." Aku menjawabnya dengan singkat
Kulihat Naruto berdiri disampingku dengan senyuman menghiasi wajahnya. 'Bener-bener deh..udah tahu aura disini enggak enak gara-gara Itachi, dan suhu disekitar yang turun drastis karna death glare dari dua Uchiha. Tapi kenapa dia masih pasang wajah senyum?' pikirku bingung.
'Hah~ mungkin karena Naruto yang bodoh…' aku menghela napas
"Akhirnya kalian berdua bertemu lagi"
"Iya nih, serasa reunian" jawab Itachi
'Reunian apanya!' Jerit wujud chibi-ku
"Naruto, mengapa aniki ada disini?" tanyaku penasaran
Naruto mengalihkan pandangannya dari Itachi kepadaku.
"Loh Sasuke, memangnya kamu tidak tahu. Kakakmu kan 'knight ' ku juga." jawabnya dengan ekspresi bingung.
Setelah mendengar jawaban dari Naruto. Heningpun menyelimuti kami. Sampai-sampai hanya terdengar bunyi air yang memancar di kolam teratai.
"AAAAPPAaaaa!" hmm… sepertinya teriakanku bisa memecahkan sesuatu. Karena terdengar suara 'PRANG!' dari arah mansion Naruto, yah mungkin karna saking merdunya suaraku.
"Aniki, apa benar aniki 'knight'nya Naruto… juga?" tanyaku dengan sweatdrop di samping kepalaku.
"Yup, benar otouto. Aku adalah 'knight'nya Naruto." jawab Itachi yang menampakan senyum innocentnya kepadaku.
"Aniki, kenapa kamu tidak memberitahuku tentang hal ini!"
"Aku… aku lupa… Hehehe" aku yang mendengar jawabannya langsung mendidih. Ya, darah vampireku mendidih dan sangat ingin merobek-robek vampire yang ada di hadapanku ini. Asap pun muncul di atas kepalaku.
"MATI kamu ITACHI!" aku meraih kedua pedangku, dan mengacungkannya ke arah Itachi.
"Sasuke sudahlah… yang terpenting sekarang kamu sudah bertemu kembali dengan kakakmu." kata Naruto
Dengan wajahnya yang menyejukkan hati, entah mengapa darah vampireku yang tadi mendidih ikut tersejukkan. Aku terdiam sejenak.
"Otouto, maafkan aku. Tadinya aku pikir setelah bertemu tuan Naruto. Aku akan menyuratimu. Tapi… aku lupa…"
"Yup, yup… aku tahu aniki. Kamukan sudah kakek-kakek jadi maklum kalau kamu lupa. Kakek-kakekkan suka pikunan." kataku dengan nada mengejek.
"Kamu… Little… DEVIL!" Itachi menunjuk-nunjukkan senjatanya yang berupa pedang samurai ke arahku.
"Sudahlah Sasu, Tachi. Kalian ini… baru saja reunian, sudah bertengkar. Sasuke, Itachikan melakukan ini demimu juga. Buktinya sekarang kamu jauh lebih kuat dibanding yang dulu, ya kan?"
'Kalau dipikir-pikir omongan Naruto… benar juga sih… Mungkin kalau aku tidak berpisah dengan aniki, sampai sekarang aku akan tergantung padanya.'
"Oh ya ngomong-ngomong Sasuke/otouto."
"Hmm?"
"Welcome to your new home!"
Tanpa sadar aku menunjukkan senyum tulusku kepada mereka berdua.
Kamipun berjalan masuk ke rumah ini.
Chapter 4.2 : The Reunion part 2
Sasuke P.O.V
Aku dan Naruto bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan, lalu mengganti dengan pakaian baru.
Naruto memakai kaos lengan pendek hitam dengan celana putih selutut, rantai masih menghiasi celananya. Cincin mentarinya terlihat di salah satu rantai.
Sedangkan aku memakai kaos putih tak berlengan dengan celana cream selutut.
Untung saja, sebelum aku menggendong Naruto dan menuju ke rumah baru, aku tidak lupa dengan tasku. Tas yang berisi pakaian, makanan dan uang.
Itachi menunjukkan ruangan-ruangan yang ada di mansion Naruto.
Ketika pukul setengah satu siang, kami [aku dan Itachi] menuju ruang makan, melihat Naruto sedang menyiapkan makanan untuk makan siang.
Setelah selesai, Kamipun duduk di kursi. Kursi di ruang makan ini ada delapan, dengan meja berbentuk persegi panjang.
Naruto duduk di kursi pertama, Itachi di sebelah kanannya, dan aku di sebelah kiri Naruto.
Setelah selesai makan, Naruto membereskan meja, aku membawa alat-alat makan yang kotor ke dapur, dan Itachi mencucinya.
Kami bertiga duduk di ruang santai. Terdapat televisi dengan dvd, dan cd player, ps dan psp. Delapan sofa cokelat lembut disusun memutari meja bundar yang berada di tengah-tengah sofa. Di sebrang dari sofa terdapat sebuah grand piano yang berdampingan dengan jendela-jendela menuju balkon.
"Naruto."
"Hm?" Naruto mengalihkan pandangan matanya dari komik Pandora heart yang ada di tangannya ke arahku.
"Saat kita pertama kali bertemu, apa itu kebetulan atau kamu memang sedang mencariku?" tanyaku penasaran.
Itachi tidak melepaskan pandangannya dari buku apapun yang sedang ia baca, tapi aku bisa melihat diapun mendengarkan pembicaraan aku dan Naruto, terlihat dari kepalanya yang sedikit menoleh.
"Itu kebetulan."
"Kebetulan?"
"Yup. Sebenarnya, malam itu aku keluar rumah karena aku akan mengirim naskahku lewat kantor pos untuk ceritaku selanjutnya. Sebenarnya, aku bisa mengirim naskahku lewat internet tetapi koneksi wi-fi dirumah ini sedang error dan belum diperbaiki. Dikarenakan telah habis waktu dead line, terpaksa aku harus pergi ke kantor pos. Saat itu Itachi sedang tidur, jadinya aku pergi sendiri."
"Aniki, kamu malah tidur! Bukannya jagain Naruto!"
"Hey jangan salahin aku, akukan ketiduran di ruang tamu."
"Sudahlah Sasuke, Itachi jangan bertengkar lagi." Setelah memastikan kami tidak bertengkar, Naruto melanjutkan ceritanya.
"Sepulang dari kantor pos, aku melihat vampire hunters berkeliaran. Dan tiba-tiba mencium aroma darah. Aku bukan vampire, tetapi ketajaman penciumanku melebihi ketajaman manusia normal, tentu saja berkat darah klanku. Karena penasaran akupun mencari sumber darah itu dan menemukan Sasuke yang sedang duduk sambil memegangi pedangnya. Awalnya aku ragu, bahwa vampire itu adalah Sasuke. Agar para vampire hunters tidak menggangguku, aku memasang 'barrier' di daerah sekitarku dan Sasuke. Akupun mendekatimu dan melihat wajahmu. Aku yakin vampire itu adalah kamu Sasuke." Naruto menyelesaikan ceritanya dengan mata yang dipenuhi dengan bintang-bintang.
"Kalau begitu, kamu tahu itu aku dari mana Naruto?"
"Tentu saja dari itachi. Itachi pernah memperlihatkan foto keluarganya kepadaku. Foto itupun sampai sekarang masih tersimpan di dompetnya."
"Benarkah itu aniki?" aku menolehkan kepalaku ke arah Itachi.
"Tentu saja. Nih fotonya." Itachi menyerahkan dompet hitamnya kepadaku. Aku membuka dompet itachi dan melihat foto keluarga. Ada ayah Fugaku, bunda Mikoto, aniki Itachi dan aku Sasuke.
Foto itu diambil pada saat aku berumur sebelas tahun dan Itachi berumur enam belas tahun [menurut sudut pandang manusia].
"Aniki, punya foto yang lain?"
"Ada. Aku punya tiga." Tiga copy foto yang sama.
"Aku minta satu, ya?"
"Yup."
"Thank you aniki." Saat pembantaian klan Uchiha, para vampire hunters membakar kompleks perumahan Uchiha agar tidak ada satupun anggota Uchiha yang selamat dari pembataian maupun dari kepungan api dan asap.
Beruntung saat itu ayah dan bunda sudah menyadari akan kedatangan vampire hunters, membekalkan barang-barang yang akan kami butuhkan, seperti: beberapa stel pakaian, makanan, minuman, obat-obatan, beberapa uang dan tabungan.
Kami berhasil menyelamatkan diri dari maut, sedangkan ayah dan bunda tidak sempat menyelamatkan diri. Mereka mati dibunuh oleh para vampire hunters itu.
Setelah itu, kami hidup berpindah-pindah. Untung saja uang yang ada di tabungan Uchiha sangat banyak, sehingga cukup untuk membiayai kehidupan kami.
Setelah aku menginjak umur lima belas tahun, Itachi menghilang entah kemana. Sejak saat itu, dimulailah pencarian Itachi dan pelarian menghindari vampire hunters.
"Sama-sama otouto." Aku menolehkan kepalaku ke arah Naruto.
"Naruto, sebenarnya pohon besar sebelum kita masuk ke mansion ini apa?"
"Oh… itu. Pohon besar itu, key of illusion barrier yang aku ciptakan untuk melindungi tempatku dari musuh, manusia ataupun vampire. Makanya kami mencari pekerjaan yang dapat dikerjakan secara online lewat internet. Ngomong-ngomong tentang online. Itachi, kamu pergi ke kota untuk memanggil manusia untuk membenarkan jaringan wi-fi." suruh Naruto.
"Baik, tuan Naruto."
"Naruto, sebenarnya pekerjaan apa yang kamu dan aniki lakukan?"
"Itachi, dia mengarang novel horror, sedangkan aku membuat komik dan merancang busana." jawab Naruto dengan wajah penuh senyum.
Itachipun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan, "Tuan Naruto, otouto aku pergi dulu. Jaga tuan Naruto, otout!"
"Tentu aniki." Aku melihat Itachi yang berjalan ke luar mansion dari jendela dekat piano.
"Naruto, kalau nanti manusia yang memperbaiki jaringan wi-fi itu sampai kemari. Lokasi rumahmu akan ketahuan." Aku berjalan mendekati Naruto yang masih duduk di sofa, komik Pandora heartnya ia letakkan di atas meja bundar.
"Tenang saja Sasuke, Itachi mempunyai mata sharingan, dia dapat menciptakan ilusi yang kuat. Akupun dapat merubah hutan-hutan disekeliling rumah menggunakan ilusi." Melihat aku yang masih memasang tubuh kaku, Narutopun melanjutkan perkataannya.
"Tenang saja Sasuke, Itachi akan baik-baik saja. Aku telah memasang ilusi di seluruh tubuhnya, bila dia keluar dari rumah ini, dia tidak akan dikejar-kejar vampire hunters."
'Bagaimana bisa, Naruto melakukannya?' seakan mengetahui yang aku tanyakan, Naruto menjawab pertanyaanku.
"Aku memberikan Itachi sebuah cincin bintang yang ia kaitkan di rantainya. Cincin itu mempunyai fungsi yang beragam. Pertama, cincin itu memasang ilusi dengan cepat saat vampire hunters ada didekat. Dapat mengaburkan indera penciuman vampire lain yang berada di dekat, sehingga vampire itu akan berasumsi vampire yang memakai cincin itu bukan vampire. Dapat memanggil senjata dan jurus-jurus dengan cepat. Sebagai petunjuk lokasi dimana orang atau vampire yang memakai cincin ini berada."
Naruto memejamkan matanya sejenak, membisikkan kalimat asing yang tidak pernah aku dengar, kedua tangannya dia dekatkan mirip dengan orang yang sedang berdoa. Cahaya biru berbentuk bola terlihat ditengah-tengah kedua tangan Naruto.
Setelah Naruto selesai, cahaya biru itu memudar dan muncullah sebuah cincin berbentuk bintang dan rantai. Naruto memberikan cincin dan rantai itu kepadaku.
"Kaitkanlah rantai ini di sakumu, lalu masukkan cincin itu di salah satu rantai. Bila kamu ingin mengeluarkan atau memasukkan cincin itu dari rantainya, kamu cukup berbisik nama panjangmu. Bila kamu ingin membuka ilusimu ataupun memanggil senjatamu. Pikirkan wujudnya dan pegang cincin itu, maka ilusi atau senjatamu akan keluar. Tetapi, ilusi tidak akan mempan bila terlihat oleh orang atau vampire yang memakai cincin yang sama ataupun vampire atau manusia yang memiliki level kekuatan yang sama ataupun lebih tinggi."
Akupun mencoba cincin ini.
"Sasuke Uchiha" kedua pedangku muncul dan ketika aku bayangkan pedang itu tidak ada. 'Poof!' pedang itupun tak ada.
'Praktis.'
Tiba-tiba aku mencium aroma darah manusia dan Itachi.
"Naruto, Aniki sudah sampai di depan pohon besar."
"Oke." Naruto memejamkan mata dan berkonsentrasi. Perlahan-lahan hutan-hutan yang mengelilingi mansion Naruto tergantikan oleh jalan.
'Yang ini ilusi yang hebat.'
Itachi dan manusia itupun berjalan ke arah mansion.
Itachi P.O.V
'Seperti biasa ilusi Naruto, memang hebat.'
'SREEET!'
Aku menoleh ke arah kananku, dan tidak melihat apapun yang ganjil.
'Aneh, padahal tadi aku merasakan ada sesuatu di sana. Di balik semak itu.'
"Ada apa tuan Uchiha?" tanya manusia yang berdiri di samping kiriku.
"Oh tidak ada apa-apa." Kamipun berjalan menuju mansion.
Sasuke P.O.V
'Mengapa aniki berhenti. Dan menoleh ke kanan dengan alis yang mengkerut seperti itu? Tadi, ada sedikit aroma yang tidak dikenal tiba-tiba muncul di sekitar sini.'
Naruto membukakan pintu dan menjelaskan kepada manusia itu tentang jaringan wi-finya yang perlu diperbaiki.
Setelah semua selesai diperbaiki. Kami bertiga mengunci pintu dan mengantarkan manusia itu sampai keluar dari hutan, curiga sesuatu akan menyerang manusia ini.
Kami kembali menuju mansion dengan berbagai canda mengenai manusia yang tadi berkunjung sampai di depan pintu mansion.
Kami bertiga tertawa sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah atau mansion. Tanpa menyadari ada bahaya yang mengincar Naruto.
Dan terlihat dua mata merah bersinar dibalik semak-semak.
∞∞∞∞∞∞TBC∞∞∞∞∞
Bahaya apa yang mengincar naruto?
Jawabannya ada di chapter selanjutnya… ^^
Sanao tunggu kritik, ide dan sarannya.
Next Chapter : The Uzukaze Clan
Sanao sudah mempubliskan naruto xover Monochrome Factor dengan judul
'Monochrome Sekai'
Summary : Sasuke Uchiha, the wolf demon shadow, terjebak di sebuah tempat dan waktu yang tak diketahui, tempat itu dikenal dengan nama Abysiss. Disegel oleh kakaknya tersayang saat pembantaian klan Uchiha. Takdir membuat dia menjadi seseorang shadow. The one and only Naruto Uzumaki. Bagaimana kisah selengkapnya?
Find out This story contain YAOI.
Pairing : SasuNaru [main],AkiraNaru [yaoi], or SasuNaruAkira [threesome]
Warning : Yaoi [boyxboy],salah ketik,gaje,dll.
P.s : Akira yang disini adalah Akira Nikaido.^^
Please Read and Review minna san … *teriak pake toa*
Hope you like this chapter… *smile*
Jyaaa
