Yukiko Hiruma Proudly Present
An Eyeshield 21 multichapter FanFic,
Choice
[Karena kau-lah oksigenku, hal terpenting bagiku]
.
.
Eyeshield 21 © Riichirou Inagaki & Yuusuke Murata
Warning (s): cerita kali ini—seperti yang telah direncanakan—agak panjang dan maksa, HiruMamo, Ooc, Abal, kayak sinetron, 3rd POV, Deathchara, Abal tenan, di akhir fic ini ada cerita garing yang maksa, romance gagal, friendship, dsb
Don't like? Don't read, ya!
2rdDown: Teman dan Kotak Kaca
Flashback
"Apa kamu menolak tawaran itu, Mamo?" tanya Ibunya dengan nada lembut. Tapi, di telinga Mamori—yang sedang galau, kalimat sewajar itu terdengar seperti pertanyaan sekaligus larangan. Mamori menunduk. Otaknya terasa akan meledak, padahal ia tidak sedang mengerjakan taktik-taktik untuk setiap pertandingan Deimon Devil Bats—klub amefuto kesayangannya. Entah apa yang merasuki Mamori saat itu, ia berkata "Kaa-san, kalau aku menerimanya, apa yang harus kulakukan dengan perasaanku ini? Aku menyukai—"
Flashback end
.
.
"Aku menyukai—"
"Menyukai apa?" potong Mami Anezaki penasaran. Ia menatap heran putri tunggalnya itu. Sementara, yang ditatap hanya menundukkan kepalanya. Mami Anezaki hanya menghela nafas. Di ruangan ini hanya terdengar suara isakan lirih dari Mamori. Melihat perubahan sikap putrinya, Nyonya Anezaki langsung membelai rambut auburn putrinya itu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat putrinya menangis seperti ini. Apalagi saat ini Mami tidak mengetahui penyebab tangisan putrinya itu. Hal itu diam-diam membuat Mami ikut sedih.
"Kau menyukai apa, Mamo?" pertanyaan itu kembali terulang. Mamori mengusap air mata yang dari tadi berjatuhan dari pelupuk matanya. Ia menggeleng kepalanya pelan. Tapi sejujurnya, Mamori tahu betul kenapa ia menangis. Bulir-bulir air bening itu langsung keluar dari matanya saat ia memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya apabila ia menerima hal itu.
Tidak ada pertemuan lagi dengan teman-temannya.
Itu cukup buruk.
Tidak ada creampuff.
Itu—sangat—buruk.
Tidak ada belaian orang tuanya.
Itu—jauh—lebih buruk.
Tidak ada Hi—
Mamori tersentak. Matanya kembali memanas dan berkabut saat ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu. Terutama kemungkinan terakhir yang sepertinya sulit untuk diakuinya.
"Sudahlah, Mamo. Lebih baik kamu pikirkan dulu tentang hal ini. Besok-besok kita pikirkan bersama lagi, ya?" Ibunya memberi saran. Mamori mendongak demi melihat senyuman Ibunya. Gadis yang matanya sedikit sembab itu mengangguk kemudian memaksakan bibirnya untuk mengukir sebuah lengkungan indah di wajahnya. Mami Anezaki menepuk kepala putrinya pelan kemudian meninggalkan kamar yang di dominasi warna kalem itu.
Ckrek, pintu tertutup.
"Selamat tidur, Mamo." Terdengar suara lembut dari balik pintu kayu berwarna coklat muda itu.
"Hn." Mamori menjawab singkat kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Iris safir matanya menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan yang tidak jelas. Sedih, senang, marah, kesal, dan rindu kini bercampur aduk di hatinya dan membentuk kata lainnya; Galau. Ia menutup matanya dan bertekad tidak akan menangis lagi. Bisa jadi gawat ceritanya kalau tangisannya ini membuat matanya bengkak. Bisa dipastikan besok teman-temannya akan mencengkokinya dengan berbagai macam pertanyaan. Mulai dari pertanyaan basa-basi sampai yang pertanyaan paling konyol. Mamori sudah tahu hal itu.
Entah dorongan apa yang membuatnya ingin melirik ke arah kiri. Melirik ke arah sebuah bingkai kayu coklat yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Mata Mamori sedikit menyipit karena sinar lampu kamarnya langsung terbias ke bingkai itu, membuat silau matanya.
Tangannya yang mulus bergerak untuk meraih bingkai itu. Saat buku-buku jarinya menyentuh pinggiran bingkai itu, ada perasaan bergetar dalam hati gadis yang dalam beberapa bulan ini akan meninggalkan SMA Deimon itu. Mamori menahan keras tangisnya saat ia menggeser pelan bingkai itu dan mendapati sebuah foto di dalamnya. Foto anggota Deimon Devil Bats. Sebentar lagi, ia akan berpisah jauh dengan kawan-kawannya itu. B-E-R-P-I-S-A-H. Ya, pada malam-malam sebelumnya ia memang sempat memikirkan hal ini. Tapi, perkiraannya melenceng. Ia berpikir kalau ia hanya akan berpisah universitas. Tapi—kalau ia menerima hal itu, ia dan kawan-kawannya akan berpisah sangat jauh, bukan hanya berpisah gedung penimbaan ilmu, tapi juga berpisah ribuan kilometer.
"Bayangkan! Ribuan kilometer!" Hati Mamori menjerit.
Mamori memerhatikan satu persatu wajah teman-temannya itu. Tapi, secara naluriah mata Mamori terpusat pada satu titik. Pojok paling kiri dari foto tersebut. Pojok kiri yang menjadi keindahan tersendiri bagi gadis itu. Pojok dimana ia bisa melihat lelaki yang sudah setahun ini menjadi penghias mimpi-mimpinya. Tapi kini, ia akan terpisahkan tembok tidak terlihat yang bernama jarak. Itulah kemungkinan terakhir yang tidak mau Mamori akui.
Sungguh, aku tidak mau berpisah dengan lelaki itu..
Tapi, bagaimapun juga aku harus mengejar cita-citaku..
Tes.
Tes.
Tes.
Malam itu, setelah keputusan itu dibuat,
kesedihan menggantung di langit-langit kamar Mamori.
Di tempat lain,
"Aku menyukai—"
.
.
.
PRAAAK
Sebuah benda elektronik yang bernama headphone kini tergeletak lemah (?) di atas lantai berwarna abu-abu itu. Seseorang yang berdiri di dekat headphone hitam itu kini terlihat kesal. Pemilik headphone itu berdecak, mengucapkan sumpah serapah, melemparkan teropong kecil yang dari tadi menemaninya, memukul tembok, menendang apapun yang ada di hadapannya dan klimaksnya; berteriak—entah kepada siapa. Untung saja orang itu berada di tempat yang sepi, sehingga tidak ada seorangpun yang memerhatikannya. Ehm—sebenarnya, kalau pun ia melakukan hal itu di depan umum, pasti tidak ada yang berani mengganggu 'kegiatan'nya itu.
Lelaki itu kini mencengkram pagar pembatas lantai tertinggi apartemen-nya itu. Kulitnya yang putih tampak semakin memutih—memucat—karena angin musim gugur yang sedari tadi berhembus kencang menerpa tubuhnya. Angin musim gugur terus saja mengganggu lelaki itu. Angin itu mengacak-ngacak rambut pirang lelaki itu dan juga menggoyang-goyangkan kedua anting yang selalu setia bergantung di telinga elf empunya itu. Angin itu sepertinya ingin mengetes kesabaran lelaki itu—sepertinya angin itu tidak tahu siapa yang ia ganggu. Tapi lelaki itu tidak peduli, atau lebih tepatnya tidak mau memedulikannya. Otaknya yang jenius itu memikirkan hal yang menurutnya lebih penting. Oh! Tentu saja hal itu berhubungan dengan apa yang dilihatnya beberapa menit yang lalu melalui teropongnya. Tangisan. Itulah hal yang baru saja Yoichi Hiruma saksikan dengan mata-kepalanya sendiri—dengan bantuan media teropong tentunya. Sayang, ia tidak tahu apa yang membuat 'mangsa'nya malam ini menangis karena alat penyadap yang ia pasang di tas Manajer Sialannya itu tiba-tiba tidak berfungsi. Walaupun begitu, setan itu tetap menyeringai.
"Kapan-kapan akan kupasang penyadap yang lebih baik lagi! KE KE KE KE KE KE! Menguntitnya memang menyenangkan!" gumam Hiruma sambil tetap diiringi kekehannya itu. Tapi, dalam satu detik, ekspresinya kembali berubah. Garis wajahnya kembali menjadi tegas dan serius. "Apa yang terjadi pada Manajer Sialan itu?"
Malam itu seharusnya Hiruma tahu kalau tidak akan ada lagi 'kapan-kapan'..
SMA Deimon, 07.31 a.m
"Semuanya, silahkan isi formulir penentuan universitas ini," sahut lelaki tua beruban itu sambil berjalan mengedarkan sebuah formulir berwarna putih itu ke seluruh bangku. Tak lama, guru itu kembali ke mejanya. Dahi lelaki tua yang merupakan wali kelas itu tampak terlipat. Bukan hanya satu, melainkan empat lipatan sekaligus. Ehm—sebenarnya tiga, karena yang satu lagi—setelah author lihat-lihat—merupakan keriputnya. Diedarkannya mata coklatnya itu ke ruangan kelas bercat putih tersebut. Keadaan kelas itu nampak berbeda. Namun, bukan dari segi fisiknya. Melainkan tidak ada sorak-sorai, tidak ada saling lempar kertas, dan yang lebih aneh lagi; tidak ada suara kekehan setan terdengar dari dalam kelas yang terletak di lantai 3 gedung SMA Deimon itu. Tentu saja tidak terdengar kekehan ataupun suara tembakan karena pemilik akuma techou itu sedang memikirkan sesuatu—yang amat-sangat-penting.
Yoichi Hiruma menatap datar seseorang yang duduk membelakanginya, Mamori Anezaki. Kenapa manajer sialan itu diam saja? Apa kue sus sialan itu menghentikan kinerja otaknya? Hiruma bertanya-tanya dalam hati. Atau jangan-jangan karena kejadian kemarin itu?
Entah kenapa, salah satu guru senior di SMA Deimon itu meneteskan keringat dingin saat iris mata ebony-nya bersirobrok dengan iris hijau tosca milik salah satu muridnya. Hiruma Youichi-lah pemilik iris hijau tosca itu! Pantas saja guru beruban itu merasakan adanya getaran ketakutan yang hebat sampai-sampai bulir-bulir keringatnya menetes jatuh!
Yoichi Hiruma, lelaki yang sukses membuat 'guru'nya membeku di tempat hanya meletupkan balon dari permen karet less sugar-nya. Sebenarnya Hiruma tidak melakukan apapun selain menatap 'guru'nya itu. Setelah otaknya berhenti mengulangi nama Mamori Anezaki a.k.a Manajer Sialan—yang tidak mau lepas dari otaknya sejak kemarin malam, ia baru menyadari kalau kertas formulir itu tidak sampai ke mejanya, dan menanyakan hal itu lewat kilatan matanya. Namun, karena guru itu hanya diam saja, Hiruma langsung mengambil senjata AK-47-nya—entah darimana—dan menodongkannya tepat1800 ke arah dahi 'guru'nya itu. Ia langsung mengeluarkan seringai setan andalannya. Pikirannya yang jenius menghasilkan ide yang—menurutnya—sangat brilian.
"Yo, Guru Sialan. Kenapa kau tidak memberikanku kertas sialan itu, HAH?" bentaknya. Orang yang dimaksud 'the commander from hell' itu langsung berlari kecil menuju bangku Hiruma. Walaupun saat itu pinggang lelaki itu sedang sakit, ia memaksakan dirinya untuk berlari. Biarlah pinggangku ini encok, itu lebih baik daripada peluru itu menembus kepalaku, pikir Guru itu. Tepat saat guru—malang[1]—itu berada di depan bangku Mamori—yang tepat di depan bangku Hiruma, Hiruma berkata—memerintah, "Berhenti!"
Tanpa perlu dikomando untuk yang kedua kalinya, guru itu berhenti tepat di depan bangku Mamori. "Biarkan cewek sialan itu yang memberikannya padaku," perintah Hiruma datar. Dan untuk yang berjuta-juta kalinya, perintah Hiruma terkabulkan. Guru itu dengan pasrah menaruh kertas formulir itu di atas meja salah satu murid kesayangannya. Jantung guru itu berdetak lebih kencang, mengalahkan degup jantung murid-muridnya yang sedang menatap Hiruma dengan tatapan takut-tapi-mau-lihat-apa-yang-terjadi-berikutnya. Setelah kertas itu diletakkan di meja Mamori, guru itu kembali ke tempat duduknya.
"Nih," Mamori membalikkan badannya demi memberikan kertas formulir itu. Saat itu pula, senyum—seringai—Hiruma mengembang. Semua sesuai dengan perkiraannya; Mam—manajer sialan itu akan membalikkan badannya selama 3 detik, kemudian kembali ke posisi awal—membelakanginya. Tiga detik itulah yang Hiruma incar.
Detik pertama..
Saat tubuh Mamori berbalik ke belakang, Hiruma memfokuskan matanya pada kertas formulir milik Mamori—yang Hiruma yakin sudah diisi oleh pemiliknya.
Detik kedua..
Mata Hiruma langsung memfoto seluruh kata-kata dalam kertas formulir itu.
Detik ketiga..
Dengan menggunakan impuls kecepatan dewa milik Agon, Hiruma sukses mengingat semua kata-kata dalam formulir itu dan informasi itu langsung bisa ia proses. Hiruma menyeringai senang. Entah untuk yang keberapa kalinya, rencana quarterback Deimon Devil Bats itu berhasil dilaksanakan.
Detik keempat..
Mata Hiruma terbelalak kaget saat otaknya sudah memberikan hasil informasi yang telah ia baca;
Nama : Mamori Anezaki
Jenis kelamin : Perempuan
Pilihan pertama : London University, jurusan kedokteran
Pilihan kedua : Saikyoudai University, jurusan kedokteran
"Tidak menolong guru sialanmu eh, Manajer sialan?" di saat rasa kaget sekaligus tidak percaya hinggap di tubuhnya, Hiruma malah menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu. Oh! Tentu saja untuk menetralisir kekagetannya.
".." Mamori membalikkan badannya lagi, tapi tidak menjawab 'ajakan perang' dari Hiruma. Ia hanya menatap Hiruma datar kemudian kembali ke posisi awal. Seakan tidak memiliki gairah hidup, tidak memiliki semangat lagi, Mamori hanya terdiam. Matanya memang tidak terlalu bengkak, tapi masih terlihat sembab. Hiruma yang sempat melihat iris safir Mamori tidak cerah seperti biasanya langsung berpikir cepat. Dalam waktu 4 detik, ia bisa langsung menyimpulkan kalau Manajer Sialannya itu semalaman menangis karena ia memang akan pergi ke London University.
"Kemungkinan kertas sialan yang kemarin itu surat beasiswa atau panggilan untuk pergi ke Universitas sialan itu. Keh! Pantas saja kemarin ia menangis!" sahut Hiruma dalam hati sambil menyeringai puas karena bisa menyatukan teka-teki yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman. "Nah, sekarang kita lihat apakah Manajer Sialan itu punya nyali untuk meninggalkan cream puff sialannya itu?" tanya Hiruma dalam hati sambil memainkan pulpen di jarinya. Dalam hati kecilnya yang paling dalam ia berharap Mamori tidak akan pergi demi cream puff menjijikan itu.
Tapi otak jenius Hiruma tahu benar, Mamori akan pergi dan tidak ada yang bisa menghentikannya..
SMA Deimon, 05.39 p.m
Sore ini—seperti biasa—adalah sore yang spesial untuk malaikat dalam bentuk manusia itu; Mamori Anezaki. Dengan langkah yang lesu, dia meyambangi lapangan dimana klub amefuto biasa latihan. Rambut auburn-nya yang indah itu terlihat berkilauan di bawah sinar mentari sore yang bersinar gentle. Aroma vanilla menyeruak dari tubuhnya saat tubuhnya bergerak kaku. Indah, memesona, sempurna, tapi tak bernyawa. Itulah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan keadaan Mamori saat ini. Gadis itu—seperti yang tadi diutarakan di atas—memang seperti malaikat dalam bentuk manusia. Akan tetapi, iris mata biru sapphire-nya tidak tampak berkilat-kilat seperti biasa. Ah! Wajahnya yang biasanya berseri-seri saat tersentuh angin musim gugur kini tampak muram. Tidak berekspresi. Bahkan tatapan matanya kosong. Dilihat dari sisi manapun, semua orang bisa menyadari, ada sesuatu yang menghilang dari malaikat itu.
"Yo, kuso mane!"
Telinga Mamori terasa geli—namun nyaman—saat ia mendengar suara berat menyapanya dari belakang. Ia langsung menengokkan kepalanya ke belakang. Sejenak, wajah Mamori kembali ke wajahnya yang biasa; penuh semangat, bercahaya, dan bahagia. Namun, sedetik kemudian ekspresi wajahnya kembali berubah. Kembali muram, bahkan jauh lebih muram saat ia menyadari kalau di belakangnya itu tidak ada siapapun. Lebih tepatnya, hanya ada daun pohon yang sudah berguguran. Apa Mamori menjadi gila? Entahlah, tapi berharaplah supaya hal itu tidak terjadi. 'Kakak perempuan' dari Sena itu hanya menatap daun itu dengan mata yang sayu. Mamori merasa dirinya seperti daun yang berguguran itu. Tidak memiliki apa-apa lagi. Mamori menggigit bibir bagian bawahnya. Seperti baru dibangunkan, ia kembali berjalan menuju lapangan. Tangannya yang mulus memegang erat sekotak manisan lemon yang mungkin menjadi manisan lemon terakhir yang ia berikan kepada teman-temannya.
"Yaa~! Mamo-nee!" seperti biasa, orang yang pertama kali menyapanya adalah Suzuna Taki. Mamori—memaksakan untuk—tersenyum lembut pada gadis yang ia pikir mempunyai hubungan lebih dengan 'adik'nya itu. Dari kejauhan ia bisa melihat kalau latihan sudah selesai. Suzuna—yang menjadi manajer tim baru—tengah membagikan minuman dan handuk kepada anggota tim Deimon Devil Bats yang baru selesai menjalani latihan neraka. Mamori yang berniat membantu Suzuna langsung berlari kecil menghampiri mereka.
"Suzuna, bolehkah aku membantu?" tanya Mamori hati-hati. Bagaimanapun juga ia harus meminta izin untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan anggota team kepada manajer baru berambut biru itu.
"Yaa~! Tentu saja~!" sahut Suzuna kelewatan riang. Untuk saat ini, iris sapphire milik Mamori terlihat kembali bercahaya. Saat membantu anggota tim amefuto kebanggaannya ini, Mamori seperti menemukan kembali apa yang sedari tadi menghilang dari dirinya; kebahagiaan.
"Mamori-san, ano.." Monta menepuk pundak Mamori, membuat Mamori menoleh kepadanya sambil memberikan senyuman angel-nya—dengan ikhlas. Monta yang memang ngeceng Mamori—sejak pertama kali mereka bertemu—hanya bisa menelan ludah untuk menahan darah keluar dari hidungnya. Sesaat Monta lupa apa yang ia harus tanyakan. "Ada apa, Monta-kun?" tanya Mamori.
Hening sesaat.
Tiba-tiba Monta menjetikkan jarinya, sepertinya lelaki yang mirip monyet itu mengingat apa yang harus ia tanyakan. "Apa benar Mamori-san akan melanjutkan kuliah di London?" tanya Monta dengan suara yang tegas, membuat anggota-anggota lain yang sedang sibuk berkutat dengan kelelahan meliriknya, "Wali kelas Mamori-san yang kebetulan guruku tadi menyebutkan kalau Mamori-san akan kuliah di London University, apa itu benar?" tanyanya kembali. "Aku tidak tahu soal itu! Jadi kecewa MAX~!" sambungnya tanpa ampun.
"Benarkah itu.. Mamori-neechan?" tanya Sena mewakili curiousty seluruh anggota Deimon Devil Bats. Suzuna yang biasanya cerewetpun terdiam mendengar percakapan Monta dan Mamori.
"Itu..." Tenggorokan Mamori tercekat.
"Aku sebenarnya.." Ia menatap seluruh anggota Deimon Devil Bats yang berkumpul hari itu. semua kenangan bersama mereka memenuhi pikiran Mamori.
"Hal itu.." Air mata mulai menyembul dari kedua pelupuk mata Mamori.
"It's damn right," jawab seseorang. Mamori menengok ke belakang. Ia mendapati Yoichi Hiruma tengah berdiri di belakangnya. Sesaat Mamori hampir kehilangan kendalinya saat ia menyadari kalau punggungnya bersentuhan dengan dada bidang Hiruma. Merasa dadanya sesak, Mamori berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Namun, pikirannya setengah mabuk karena ia menghirup aroma mint yang sangat kuat dari tubuh Hiruma yang begitu dekat dengannya.
Semua orang langsung saja merasa dunia mereka sedikit bergetar mendengar jawaban Hiruma. Oh, kecuali sang Eyeshield 21. Sena menatap perempuan yang sudah ia anggap menjadi Kakak perempuannya itu dengan pandangan sayu. Sejak dulu Sena tahu benar kalau Mamori sangat ingin mendapatkan beasiswa kuliah di London University. Sena tahu benar kalau Mamori belajar dengan giat agar ia bisa kuliah di sana. Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang itupun mengabulkan do'a malaikat tersebut. "Tapi, kenapa Mamori-neechan tidak terlihat bahagia? Bahkan ia malah menangis, ada apa ini?" tanya Sena dalam hati.
"Mamori-neechan.." panggil Sena dengan suara bergetar saat melihat Mamori semakin terisak. Semua mata tertuju pada Mamori, tapi tidak ada satupun yang bergerak, mereka tidak melakukan apapun. Lebih tepatnya mereka tidak tahu apa yang mereka harus lakukan. Bahkan Hiruma sedari tadi hanya berdiri di belakang Mamori, tidak bergerak sedikitpun.
"Aku.. aku tidak mau meninggalkan kalian! Kalian sudah menjadi bagian penting dari hidupku. Selain itu, aku mencintai amefuto, sama seperti kalian. Kalau aku pergi ke sana.. aku tidak bisa bermain amefuto bersama kalian lagi.." Mamori terus mengutarakan perasaan yang ia pendam selama 24 jam ini. Ia sudah tidak sanggup menahannya. Setidaknya, sekarang ia sudah merasa sedikit lebih tenang.
PLETAAK!
Sebuah tangan besar baru saja menjitak kepala Mamori. Semua orang yang sedari tadi serius berpikir dengan pikirannya masing-masing langsung menoleh kepada sumber suara tersebut. Tapi, setelah mengetahui siapa yang menjitak Mamori sekeras itu, mereka semua terdiam. Mamori yang tadi dijitak oleh Hiruma hanya menoleh ke belakang sambil memelototi Hiruma. Melihat wajah Hiruma yang lebih garang daripada biasanya, Mamori hanya terdiam.
"WOY~! KAU INI BODOH ATAU APA, EH?" tanya Hiruma dengan suara yang terdengar. Umm.. marah?
"HANYA KARENA ITU SAJA KAU MENANGIS SEPERTI ORANG GILA, HUH? KEMANA OTAKMU YANG CERDAS ITU, MANAJER SIALAN? Sudah kuduga cream puff itu membuatmu bodoh! KALAU KAU INGIN BERMAIN AMEFUTO, MAINKAN SAJA! KAU BISA KAN MENGGUNAKAN INTERNET? PAKAI INTERNET SIALAN ITU UNTUK MEMBANTU KITA DISINI MEMBUAT STRATEGI! ITU SAMA SAJA KAN SEPERTI MEMBANTU MEREKA? MAKANYA JANGAN GAPTEK!" teriak Hiruma tepat di telinga Mamori. Semua anggota DDB langsung sweat drop melihat Hiruma yang marah-marah.
Hiruma kemudian mencondongkan sedikit tubuhnya yang lebih tinggi dari Mamori dan membisikkan sesuatu pada tepat di sebelah telinga Mamori, "Pergilah ke Universitas sialanmu dan jangan kembali sebelum kau lulus dengan nilai sempurna. Ingatlah ini Manajer Sialan; jarak hanyalah kotak kaca sialan yang tidak terlihat. Sama seperti kotak kaca yang bisa dihancurkan dengan benda tumpul, hancurkanlah jarak dengan teknologi sialan, baka mane,"
Mamori mendongak sedikit demi melihat ekspresi wajah Hiruma. Namun, cahaya mentari yang hampir kembali ke peraduannya membuat ekspresi wajah Hiruma tersamarkan. Entah kenapa, Mamori bisa merasakan kalau Hiruma tersenyum tipis. Tapi dibalik senyuman tipis itu Mamori merasakan 'sesuatu' yang aneh.
"Itu benar sekali, Mamo-nee, sejauh apapun jarak memisahkan kita, kita kan tetap teman," sahut Suzuna yang ternyata sudah menangis, ia pun memeluk Mamori erat. Hiruma pun berjalan meninggalkan kerumunan yang sedang menyemangati Mamori. Tanpa Hiruma sadari, sepasang iris sapphire tengah menatapnya sambil menahan tangis. Hiruma.. kalau kau menyuruhku pergi, kenapa wajahmu muram seperti itu?
Be Continue:
Last Down: It Is What It Is.
.
Cerita dalam cerita :
[1]guru malang:
Jadi gini ceritanya, saat pembagian wali kelas untuk setiap kelas, ada guru muda yang—sialnya—mendapatkan posisi terhormat sebagai wali kelas Hiruma, tapi, guru muda itu dengan liciknya meminta kepada kepala sekolah untuk mengubah keputusannya.
"Bapak kepala, bukankah lebih baik murid seperti Hiruma-kun itu diberi wali kelas yang sudah senior? Siapa tahu pengalaman menangani murid-murid nakal para guru senior itu bisa menjinakkan Hiruma." Rayunya. Dan bodohnya, kepala sekolah malah mengiyakan saja. Jadilah guru tua itu yang dipilih untuk menjadi wali kelas Hiruma. Tapi guru tua itu hanya berkata dengan nada ringan:
"Wah, lumayan di tahun terakhir saya ngajar, saya bakal nyobain jadi wali kelas setan. Lumayan, siapa tahu jadi bisa tahun yang mengesankan,"
Setelah kejadian di atas, guru tua itu langsung mengajukan surat pensiun dini.
"Daripada saya mati dini, lebih baik pensiun dini!"
Untung saja Hiruma tidak tahu
.
.
KRIK KRIK KRIK
#ada suara jangkrik
Ternyata ceritanya G-A-R-I-N-G!
Waktunya Tralala-Trilili with Author GAJE~!
Haaa~h! apa yang sudah saya tulis?
G-A-J-E amat yah =,=
Maaf apabila di chapter kedua ini teryata fic saya tidak mengalami perubahan; tetap abal dan garing. Terus juga saya belum sempat baca ulang fic ini karena tugas sudah berteriak-teriak minta dikerjakan. Jadilah saya langsung publish.
Oke, daripada kita ngomongin fic abal, lebih baik kita balas review dari chapter 1:
Natsu Hiru Chan: hai Natsu! Asik, aku disambut :) kamu suka? Makasih :)) #senyum malu. Btw, kebetulan banget tebakan kamu bener. Aku jadi mikir.. jangan-jangan kamu punya indra keenam? #atau cerita aku yang mudah di tebak? Btw, datang untuk me-review lagi yaa~h! :D
Sasoyouichi: ini dia chapter selanjutnya! Terimakasih sudah menyambutku ^^ btw, tetap me-review yaa ^^d
G-Dragon BigBang: ini lanjutannya! Tetap review yah~! ^^
Undine-Yaha: kyaa~! fic aku dipuji~! #nari-nari dipojokan. Ini lanjutannya ^^ umm, sepertinya homey. Ehhehehe, saya yang salah #malu. Terimakasih untuk mengingatkan. Aku coba untuk lebih teliti lagi, deh. Btw, tetap me-review yaa~!
Keigo Sumikura: hehehe, aku memang sengaja bikin kalian penasaran #dibazooka. Apakah cerita ini sudah dibuat? Jawabannya B-E-L-U-M sama sekali. Tapi garis besarnya sudah dibuat kok, dan memang terpikirkan 3 chapter. Doakan semoga tidak meleset dari target ya ^^ tetep review yaa~!
.
Makasih banyak kepada teman-teman semua yang sudah me-review ceritaku,
Ditunggu di review cerita berikutnya~!
.
.
Ayo silahkan lupakan—dua—cerita abal di atas,
Kalau cerita ini sudah menimbulkan efek samping pada otak Anda,
Silahkan membuang keluh-kesah Anda pada kotak review saya =)
Sign,
Yukiko Hiruma.
