WINTER VACATION

Pandora Hearts © Jun Mochizuki-sensei

Genre: Friendship, Humor

Rated: T (buat jaga-jaga)

Warning(s): OOC, Typo, Abal, Gaje, Crazy, Lebay, Alay, dll.

Summary: (Chapter 2) Pemaksaan oleh Sharon untuk meminta para sahabatnya menginap di rumahnya ternyata membuat hasil yang buruk. Kebosanan yang dimiliki mereka akhirnya terpecahkan oleh terbentuknya 2 tim yang saling tidak mau kalah. Bagaimanakah nasib kedua tim ini, Tim Cega dan Tim Coco?

A/N: Hai, hai! Hello, Hello! Akhirnya chapter 2 update! Ya, walaupun update-nya termasuk lama. Yeah… Mungkin fanfic ini terlalu gaje untuk dibaca, tapi saya tetap semangat membuat kelanjutannya.. .
Dalam fanfic ini, para tokoh dibuat sebagai karakter anak gaul, jadi sengaja memakai kata sapaan gue-loe dan agar membuat fanfic ini lebih gila lagi. *Plak!*
Saya juga minta maaf karena chapter 2 ini ceritanya hanya sedikit. Yosh! Don't like, don't read please!

Enjoy! ^^

.

Chapter 2: Tim CEGA vs. Tim COCO

Baiklah. Bisa kita lihat di sisi kanan kita ada Sharon, Alice, dan Eida sebagai Tim CEGA (Cewek Gaul). Lalu di sisi kiri kita ada Gil dan Oz sebagai Tim COCO (Cowok Cool). Nah, bagaimanakah pertandingan antara Tim CEGA dan Tim COCO? Kita lihat di Chapter ini! XD

Yak! Sharon dan Eida yang bermodalkan sapu yang cukup..err…. besar, dan Alice yang bermodalkan sapu lidi yang cukup tajam, telah siap sedia sebagai Tim CEGA! Tujuan mereka ialah mengalahkan Tim COCO yang telah menembakkan peluru peperangan kepada Alice, anggota setia (?) dari Tim CEGA!

Dibandingkan dengan Tim CEGA, Tim COCO yang terdiri atas Oz dan Gil tidak bermodalkan suatu apapun. Namun, target peperangan (maksudnya bantal) sedang berada di tangan mereka.

Mari kita mulai…
TENG! TENG! TENG!

Baiklah. Bisa kita saksikan, Alice Baskerville dari Tim CEGA mencoba menyerang duluan kepada Gilbert Nightray, atau yang sering kita sapa Gil! Lidi-lidi tajam yang berasal dari sapu itu begitu menusuk di pantat Gil! Yak! Alice kembali memukul-mukul Gil dengan serangan sapu lidi super tajamnya dan dapat kita lihat Gil sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kesakitan. Alice yang menyerang terlebih dahulu kelihatannya telah naik darah, dan… oh! Kini Alice menyerang dengan kekuatan penuh! Kecepatan dari gerak tangannya yang memukul Gil dengan sapu lidi tidak dapat dilihat dengan kasat mata.

Di samping itu, kita dapat melihat Oz Vessalius yang sedang berusaha menjaga target peperangan dari serangan hantaman oleh Eida dan Sharon. Pukulan-pukulan tanpa kasih sayang yang diberikan adik Oz kepada dirinya sendiri ini begitu menyakitkan. Tangan-tangan lincah Sharon yang selalu berusaha mengambil target peperangan membuat Oz sedikit pusing. Ya, mau bagaimana lagi. Kini posisi Oz sedang berada dalam situasi yang tidak mengenakkan. Bukannya diperebutkan oleh 2 wanita tapi malah disiksa oleh 2 wanita!

"Berikan bantalnya, Oz!" teriak Sharon.

"Oh, tidak bisa…"

SYUT!

Tangan Sharon selalu menyerang tanpa henti.

"Eits!"

Tangan Sharon yang hampir mendapatkan target peperangan begitu mudah ditepis oleh Oz.

Sharon yang kesal akhirnya ia membantu Eida dengan memukul-mukul Oz menggunakan sapu dengan gerakan tangan yang tak kalah cepatnya.

Eida yang melihat Sharon memukulnya dengan cepat dan kuat tidak mau kalah. Yak! Ia memukul Oz dengan lebih cepat dan kuat!

"Hei, Gil! Tolong gue!" teriak Oz.

"Gak bisa, Bego!"

"Kenapa gak bisa, hah! Loe jaga aja nih bantal!"

"Tetep gak bisa! Loe gak lihat apa, posisi badan gue sekarang?"

"Emang kenap- BUUUUH! So sexy, Gil! Hahahaha!"

Gil sedang menungging dengan pantatnya yang dinaikkan lebih ke atas dan hebatnya dia diam saja dipukuli Alice dengan tenaga super kuat menggunakan sapu lidi.

"Diam loe!"

"Hahah- Aduh!"

Yak. Oz kembali diserang beruntun.

Akhirnya pertahanan Oz kalah! Kini target peperangan telah berada di tangan Tim CEGA!
*PLOK! PLOK! PLOK!*

"Hebat, Sharon! Udah, berdiri loe!" sorak Alice sambil menendang bokong Gil dari belakang dan lantai yang bersih anti kuman itupun tercium dengan bebasnya oleh Gil.

"Auw! Sakit, Kelinci Bodoh!" kata Gil meringis kesakitan sambil mengelus-elus sayang pantatnya.

"Emang gue pikiran! Week!" balas Alice sambil menjulurkan lidahnya dan menarik kelopak bawah sebelah matanya. "Sharon, Eida, kalian urus Tim Coco, biar gue saja yang jaga bantalnya."

"Oke!"

"Yes, Madam."

Yak. Kini pertahanan Tim CEGA semakin kuat. Tapi Tim COCO masih maju tanpa gentar. Tangan yang halus dan tangan yang kekar dari Tim COCO selalu berusaha menyelinap mengambil peluru peperangan yang sedang dijaga oleh induknya (?). Namun sayang sekali, hasil mereka NIHIL.

Sepertinya salah satu anggota dari Tim COCO , Oz Vessalius kelelahan. Dia segera mengambil posisi kembali duduk di sofa yang empuk. "Gil, gue lelah."

"UAPPAAHH?" Gil bertanya (baca: berteriak) tepat di depan muka Oz dan mengakibatkan hujan lokal di wajah Oz. "Woi! Muncraattt! Wajah tampan gue!" balas Oz dengan kesal dan histeris. Akhirnya Oz melampiaskan kekesalan itu dengan menendang bokong Gil yang selalu menjadi sasaran tersebut.

"Iya, iya. Sorry, deh. Gue kan hanya manusia biasa yang sering melakukan kesalahan," sahut Gil lebay.

"LEBAY!" sahut Oz, Alice, dan Sharon bersamaan. Sedangkan Eida hanya cengar-cengir, ketawa-ketiwi.

Ketika siap untuk ronde ke-100 (?), tiba-tiba terdengar suatu suara yang menggema sampai ke ruang angkasa.

"Anak-anak~ Sudah malam~ Ayo tidur. Kalian pasti lelah sekali sehabis pergi dari Ragunan…" kata Ayah Sharon, pemilik suara yang bisa menggema sampai ke ruang angkasa itu.

Mereka akhirnya mau tidak mau tapi malu (?) berbaris dan berjalan menuju kamar mereka sendiri.

"Sebelum tidur jangan lupa sikat gigi dulu, ya~" teriak Ayah Sharon lagi.

"Baik!"

Merekapun masuk ke kamar mereka masing-masing dan Ayah Sharon memberikan ucapan sebelum mereka tidur, "Selamat tidur, anak-anak! Mimpi indah, ya~"

JLEB!

Seketika lampu 2 kamar itu mati. Tak lama kemudian terdengar bunyi ketukan pintu kamar Oz dan Gilbert. Ketukan itu halus namun keras.

"I-Iya, tunggu sebentar!" teriak Gil yang terbangun. Dia membuka pintu kamarnya dan mendapati wajah seorang wanita dengan nuansa gelap menatapnya dengan tatapan membunuh.

"HIYYY! OZ!" teriak Gil ketakutan yang mendapat respon ditubruk Oz dari belakang karena terkejut.

"Ada apa, Gil? Eh? Eh? Sharon?" tanya Oz bingung. "Eh? Gil di mana?" tanyanya lagi pada Sharon.

"Di bawah kakimu," jawab Sharon datar.

Oz segera memutar bola matanya ke bawah kakinya, dan ternyata dia menginjak tubuh Gilbet!

"Huaaa! Maaf, Gil. Loe gak apa-apa?" tanya Oz panik sembari membantu Gilbert berdiri. Gilbert seperti ingin menangis. "Wah, jangan nangis, dong! Gue kan gak sengaja," kata Oz lagi.

"Bukan itu, Oz. Tapi… hiks… aku baru ngeliat hantuuu…" kata Gil terisak.

"Eh? Hantu di mana?"

"Tadi ada… hiks… di depan pintuuu…"

BUAGH!

Dalam hitungan 0,12345 sekon serangan mendadak dari harisenpun datang menyambar kepalanya.

"Bodoh! Itu gue, Dodol!" kata Sharon.

"Eh? Elo?" tanya Gil datar.

BUGH! Harisenpun kembali diahlikan.

"Ayo, ikut gue. Bawa bantal, selimut, dan senter kalian. Kita ngumpul di ruang santai aja," katanya sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.

"Baiklah," jawab mereka serempak.

Ahkirnya merekapun kembali berkumpul di ruang santai. Namun, mereka sengaja untuk tidak menghidupkan lampu ruangan tersebut agar tidak ketahuan oleh Ayah Sharon.

Mereka berkumpul dan membentuk suatu lingkaran. Mereka menghidupkan senter masing-masing agar dapat melihat wajah mereka satu sama lain. "Eh, cerita-cerita hantu, yuk!" ajak Oz.

"Boleh juga, tuh!" sahut Sharon.

"Tapi, Eida takuuuttt," kata Eida sambil memeluk erat boneka kelincinya. "Tidak apa-apa, Eida. Jangan percaya pada hantu," ujar Gil sok berani. Padahal dalam hatinya dia berkata, "Oh, tidak! Jangan sampai cerita hantu! Aku mohon!"

Merekapun memulai cerita-cerita mengenai hantu. Dimulai dari Oz dan yang lainnya menyimak dengan baik. Alice yang ketakutan bersembunyi di balik selimut merah bermotif kelinci hitam miliknya. Setelah Oz, ganti giliran ke Sharon. Namun ketika giliran Alice tiba, ia hanya diam.

"Alice?" tanya Sharon ragu.

Perlahan Sharon membuka selimut yang menutupi Alice, dan mendapatinya sedang tidur dengan nyenyaknya. Buktinya saja ia tertidur dan di sudut mulutnya keluar saliva serta bergumam, "Hmm… Nyam… Nyam… Daging…" Semuanya langsung salting melihat Alice kecuali… Gilbert.

Gilbert yang mengira gumaman Alice adalah suara hantu langsung lari terbirit-birit sambil melemparkan senternya dan jatuh mengenai punggung Alice. Sekejap Alice langsung terbangun dari mimpi indahnya dan menatap bingung teman-temannya yang sedang melongo. "Hn? Ada apa sih?" Alice mendengar suara derap kaki dan ia menyadari bahwa Gil tidak bersama mereka. Ia bisa menebak bahwa Gil-lah yang menciptakan suara derap kaki tersebut. Akhirnya ia ikut melongo bersama teman-temannya.

Di sisi Gilbert, dia masih berlari. Sesekali dia menoleh ke belakang, takut seorang hantu mengejarnya. "HUAA! HANTUUU!" teriaknya sangar. Dia tidak terlalu memperdulikan tempat yang dia lalui saat berlari. Hingga dia menemukan sebuah pintu kamar, dia pikir mungkin pintu itu adalah pintu kamarnya. Tanpa segan dan malu, Gil pun masuk ke dalam kamar tersebut. Segera menaiki tempat tidur yang ada, dan bersembunyi di bawah selimut besar yang telah tersedia.

"Hiks… Hiks… Hantuuu…" isaknya di bawah selumut. Tiba-tiba dia merasa ada seseorang, oh lebih, yang juga berada di tempat tidur tersebut.

"Ada apa, Gil? Kau mau tidur bareng Oom dan Tante, ya?" Suara itu! Ya, tidak salah lagi! Suara Ayah Sharon! Kalau begitu kamar yang dimasuki Gil adalah kamar…

"HUAAA! Eng… Eh… Eng…" Gil sangat gugup sampai-sampai dia tidak mampu berkata apapun dan telah dirasakannya keringat dingin bercucuran.

"Ah, Gil tidak usah malu-malu…"

"HUAAA! GUE BUKAN ANAK MAAMIIIIH!" Dengan secepat kilat, Gil berlari meninggalkan kamar tersebut.

"Hihihi… Gil lucu sekali," ujar Ayah Sharon, lalu kembali tidur bersama istri tercinta.

Pagi harinya…

Pagi itu, di meja makan keluarga Rainsworth terlihat Gilbert dengan wajah lesunya. Dia bahkan tidak menyentuh sedikitpun makanan yang ada di hadapannya. Lain hal dengan Alice, yang sudah menghabiskan 27,96 porsi. "Gil, loe sedang gak niat makan?" tanya Oz hati-hati.

"Hn."

Hn? Jawaban apa itu.

"Coba deh makan walau hanya sedikit," sambung Sharon.

Sebenarnya mereka sedikit takut melihat Gilbert pagi ini. Lihat aja matanya udah kayak mata panda, ada hitam-hitam di kelopak bawah matanya. Dan belum lagi ekspresinya yang kelewat datar!

Gilbert mencoba minum air putih yang terletak di depannya. "Pahit," ujarnya.

"Eh?" sontak semuanya kaget.

"Kau sakit?" tanya Ibu Sharon.

"…"

BRUK!

Oh! Gilbert jatuh dari kursi yang dia duduki. Dan posisi jatuhnya, bersama dengan Sang Kursi! Intinya (aduh, ribet!) dia jatuh menjulang ke bawah.

"HUWAAA! GILBERT!"

Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Gilbert? Apakah dia sakit? Atau karena hal lainnya?

TBC

.

Ah~ Akhirnya selesai juga.

=="

Maaf kalau fanfic yang satu ini lama banget update-nya. Niatnya sih mau selesaikan saat masih musim dingin, tapi… sekarang udah masuk musim semi!

*PLAK!*

Sekali lagi saya mohon maaf atas sedikitnya cerita di chapter 2 ini. Author yang awalnya santai entah kerasukan apa jadi stress mikirin UN tanggal 25. Yah, padahal gak takut-takut amat, sih!

(Pede amat!)

*BUAGH*

Doakan saya, ya! XD

Sekali lagi saya minta maaf karena chapter 2 ini tidak sesuai harapan. T.T

So, review minna-san?

*Puppy eyes*