WINTER VACATION

Pandora Hearts © Jun Mochizuki-sensei

Genre: Friendship, Humor

Rated: T (buat jaga-jaga)

Warning(s): OOC, Typo, Abal, Gaje, Crazy, Lebay, Kacau, dll.

Summary: (Chapter 3) Gilbert sakit dan hal ini membuat kehebohan yang tiada tara kegilaannya terjadi di kediaman Rainsworth. Baik itu berasal dari Sharon dan kawan-kawan, juga berasal dari kedua orang tua Sharon.

A/N: Yang lagi bosen, yang lagi bingung, dan yang lagi bengong, silahkan baca fanfic ini. *PLAK*Jika Anda berminat. ^^

Enjoy! ^^

.

Chapter 3: Gilbert's Sick

"HUWAAA! GILBERT!"

Sontak seluruh penghuni meja makan itu segera menghampiri Gil yang terjatuh dengan tidak etisnya. Semuanya memasang wajah cemas dan bingung, begitu juga Alice walaupun ia masih menyantap daging super gede yang khusus disiapkan untuknya.

Ibu Sharon menghampiri Gilbert dan meletakkan tangannya tepat di wajah Gilbert.

"Wajahnya panas," gumamnya.

"Eh? Benarkah?" Sharon ikut-ikutan meletakkan tangannya di wajah Gilbert. "Eh, iya benar!" serunya.

"Apa benar?" Oz kurang percaya dan ikut-ikutan meletakkan tangannya di wajah Gilbert. Dan ketika Oz belum melepaskan tangannya, Eida dan juga Alice ikut-ikutan meletakkan tangan mereka di wajah Gilbert. Dan entah mengapa, Sharon, Ibu Sharon, dan Ayah Sharon juga ikutan meletakkan tangannya di wajah Gilbert. Ingat, di wajah bukan di jidat.

"Wo—"

"Panas!"

"Iya, benar!"

"Woiii! Ak—"

"Wah, panas sekali! Kok bisa, ya?"

"Entahlah."

"Woiii! Gue sulit bernafas, lepaskan tangan kalian semua dari wajahku yang cool ini!"

Serentak semuanya melepaskan tangan mereka masing-masing. Nafas Gilbert memburu dan dia mulai menegakkan kepalanya. Tapi sayang-sayang anak (?), Gilbert kembali jatuh terkulai lemas.

"HUWAAA! GILBERT!"

"Cepat bawa dia ke kamar!" perintah Ayah Sharon. Kalau dilihat, saat ini gentle-nya Ayah Sharon cukup terlihat. Yah, mungkin karena itulah Ibu Sharon mau menikah dengannya?

Sharon, Alice, Oz, dan Eida bergotong-royong mengangkut Gil menuju kamar. Dan setelah melewati padang, gurun, sungai, bukit, dan lembah (?) akhirnya mereka sampai di kamar dan meletakkan Gilbert dengan hati-hati di kasur yang telah tersedia.

Entah mengapa kalau kita perhatikan baik-baik, wajah Ibu Sharon menjadi gusar. Dia terlihat bingung, sedih, dan juga gugup. Entahlah, mungkin memang dari sananya ia melihat orang sakit seperti itu?

Perlahan-lahan Ayah Sharon menaikkan selimut ke tubuh Gilber hingga sebatas leher. Wajah Gilbert mulai merah dan rasa dingin mulai menyelimuti kakinya.

"Baiklah, Anak-Anak! Pada hari ini kalian harus merawat Gilbert dengan baik. Mengerti?" ujar Ayah Sharon.

"Yes, Sir!" jawab mereka kompak.

"Bagus."

BUGH! DUAGH! JEGER! PRANG! KRUYUK! (?) BUAGH!"

Ada apa gerangan? Suara itu sepertinya berasal dari ruang tengah. Mari kita lihat apa yang sedang terjadi di ruang tengah.

BUAGH! DUGH! JEGER! PRAANG!

Ternyata suara bising tersebut timbul karena Ibu Sharon yang sedang err- mengamuk tidak wajar. Jangan bingung dan jangan merasa aneh, karena hal ini adalah biasa. Mengapa? Itu dikarenakan Ibu Sharon sering bertindak tidak wajar jika ada seseorang yang sakit di rumahnya. Yah, mungkin trauma masa lalu yang tidak perlu kita ketahui karena author juga tidak tahu. #ditendang

Baiklah, kita tinggalkan saja Ibu Sharon yang sedang dimabuk kegilaan. Kita kembali kepada Gilbert yang kini sedang terkulai lemah bagaikan orang tak berdaya sehabis puasa. Dia terbaring kaku di atas tempat tidur dan kini keempat sahabatnya plus Ayah Sharon sedang mengelilinginya di sisi-sisi kasur sambil melihat Gil dengan raut wajah yang khawatir dan begitu dramatis.

"Rumput Laut, kau belum makan, kan?" tanya Alice. Gilbert tidak menjawab dikarenakan kondisi tubuhnya yang tidak mengizinkannya. "Gue ambilkan makanan untuk loe, ya…" Alice segera berlari menuju dapur dan mengambil beberapa persediaan yang ada. Ia kembali sambil membawa beragam jenis makanan: daging ayam, daging sapi, daging ikan, sup daging, daging bakar, daging guling, dan sejenis daging lainnya.

Alice menaruh makanan yang super banyak itu-entah bagaimana caranya ia bisa membawanya-di atas meja yang terdapat di sisi kiri tempat tidur Gilbert.

"A-Apa i-itu?" Gilbert bertanya sambil berbata-bata eh –maksudnya dengan terbata-bata sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah makanan yang disiapkan oleh Alice.

"Ini makanan untuk elo."

"Be-Benar…kah?"

"Tentu saja. Setelah ini kau harus minum obat dan cepat tidur agar panasmu menurun."

"Ta-Tapi… gu-gue tak s-sang-gup ma-kan sebanyak i-ini."

"Hmm, begitu ya?" Alice menggosok-gosokkan dagunya (emang setrika?) pertanda bahwa ia sedang berpikir. "Ah! Aku ada ide!" katanya tiba-tiba.

Alice mengalihkan pandangannya kepada Gilbert.

"Kau tidak akan memakan semuannya, ya?"

"Me-memangnya ke-kena-pa?"

"Buat aku aja, ya! Thanks, Rumput Laut!"

Alice segera mengambil alih makanan yang tergeletak di atas meja tersebut dan dengan lahap memakan semuanya. Seluruh makhluk hidup yang ada di sana sweat dropped, belum lagi ditambah kegaduhan yang tiada taranya yang ditimbulkan oleh Ibu Sharon. Dan hal itu masih berlanjut sampai sekarang.

BUAGH! JEGER! CRAACK! BUMM! PRANG! BUGH!

"Gilbert-nii, Eida ambilkan obat, ya…" seru Eida lalu berlari mencari kotak P3K.

Tak butuh waktu lama, Eida menemukan kotak tersebut yang berisi obat-obatan. Ia menyempatkan diri untuk membaca kandungan apa saja yang terdapat di dalam obat-obat tersebut. Ada obat mual, diare, sakit perut, pusing, bahkan obat anti maling pun ada.

"Kalau hanya begini saja, Gilbert-nii tidak akan cepat sembuh," batinnya.

Eida segera merogoh tasnya-yang kebetulan ia bawa-dan mengeluarkan sebuah botol kecil yang didalamnya terdapat suatu zat cair berwarna ungu.

"Kalau ditambah dengan ini, pasti reaksinya akan cepat dan Gilbert-nii akan cepat sembuh."

Perlahan-lahan, Eida mencampurkan setetes demi setetes cairan yang ada di dalam botol itu ke dalam botol obat. Experiment ini tidak berlangsung lama, dengan sigap dan dengan penuh debaran hati, Eida membawa obat itu kepada Gilbert.

"Gilbert-nii, minumlah obat ini. Semoga cepat sembuh."

"Hn."

Sejenak Gilbert melihat kearah botol dan dia membaca tulisan 'rasa jeruk' pada label yang tertempel di botol tersebut.

"Kenapa rasa jeruk, sih? Gue 'kan sukanya strawberry…" ringis Gilbert dalam hati.

"Ayo diminum obatnya, Gilbert-nii…" Eida menyodorkan botol obat yang masih terisi penuh tersebut ke mulut Gilbert dengan tiba-tiba.

"Huwaaa! Eida! Jangan meminumkan semuanya ke Gil, donk!" teriak Oz panik. Semuanya juga panik atas perbuatan Eida yang begitu tiba-tiba itu.

GLEK! GLEK! GLEK!

Oow, gawat! Semuanya sudah diminum dengan Gilbert dengan… sangat terpaksa.

"Kalau obatnya yang diminum banyak, pasti sembuhnya bakalan lebih cepat, Nii-san," ujar Eida polos kepada kakak lelakinya itu, Oz.

"Tapi, Eida harus mengikuti dosis yang ada, dong… Masa' Eida mau Gil jadi overdosis?"

Belum sempat Eida menjawab, tiba-tiba wajah Gilbert berubah menjadi ungu.

"Aaa…neh… ra…sa…nya… aa…neh…" seru Gil bagaikan zombie.

"Gilbert! Mengapa wajah loe menjadi ungu?" teriak Sharon sambil menunjuk-nunjuk kearah Gilbert.

"A…pa?"

"Mengapa wajah loe gak jadi warna pink aja? Kan lebih bagus!" teriak Sharon lagi.

"Eh? Warna hijau lebih bagus, deh…," seru Oz.

"Tidak, tidak! Merah lebih bagus!" ujar Alice yang masih memakan cemilan besarnya.

"Err… Eida rasa kuning lebih bagus lagi," ujar Eida sambil mengangkat tangannya layaknya pemberi pendapat.

"WOI! Bukan itu! Artinya ada yang aneh dengan obat ini!" teriak Gilbert yang membuat semua peserta (?) yang hadir saat itu segera mengalihkan pandangan mereka terhadap Gilbert.

"Hmm… Iya, juga. Apakah kau ada memasukkan sesuatu ke dalam obat tersebut?" tanya Sharon dengan wajah innocent.

"Eida hanya menambahkan ramuan yang Eida bikin supaya Gilbert-nii bisa cepat sembuh," ujar Eida polos dengan wajah yang tersipu malu.

"A-Apa? Pantas saja rasanya bukan rasa jeruk!" teriak Gilbert.

"Jadi rasa apa?" tanya Oz.

"Rasanya seperti katak mati!"

"Eh? Ramuannya memang dari lendir katak, kok!" ujar Eida dengan penuh semangat.

Semuanya membeku di Kutub Timur.

"OMG! Ini gawat!" keluh Oz sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri.

"Memangnya lendir katak bisa dimakan, ya?" tanya Alice polos.

"TENTU SAJA TIDAK!" teriak Gil mulai emosi.

"Sudah, sudah. Gil, lebih baik kau tidur. Gue akan membacakan sebuah novel agar loe bisa nyaman," ujar Sharon.

"Huh, semoga yang ini lebih baik," ujar Gilbert dalam hati.

Sharon mengambil sebuah novel dengan tebal 2000 halaman dan berat 500 gram. (Emangnya ada?)

Sharon duduk dengan anggunnya di sisi Gilbert dan mulai membuka halaman pertama novel romance itu.

"Cerita ini dimulai ketika… Oh, My GOD! Perjuangan cinta seorang gadis… Sang Pangeran yang tertindas… Oh, Gilbert! Novel ini! Gue udah baca berkali-kali tapi gak bosen-bosen, deh! Begitu mengharuukaaan!" ucap Sharon sambil mnggoyang-goyangkan tubuh Gil yang hampir mirip dengan mayat hidup saking antusiasnya.

"Oh, Alice! Lihat, lihat! Eida juga lihat! Beginilah perjuangan Sang Gadis dan Pangeran mempertahankan cinta mereka… Dan… dan…"

"Mana? Mana? Mana?" sahut Alice.

"Yang ini! Yang ini!"

"OMG! Ceritanya romantis banget, Nee-chan!" seru Eida.

"Ooh, tentu saja! Ini 'kan novel pilihan Nee-chan!" balas Sharon mantap.

"Ouuuh, romantis banget!" kata Eida gemas.

"Hmm, membosankan!" celetuk Alice yang membuat Sharon shock dan membatu di tempat.

"Kau tidak mengerti, Alice! Perjuangan meraih cinta, konflik yang tidak berkesudahan, dan ending yang membuat orang berdebar! Semuanya! Oh, tidak! Lalu… Lalu…"

BUAGH! JEGER! DUGH! PRANG!

Yang ini tidak perlu ditanya. Asal suara tidak lain dan tidak bukan adalah dari Ibu Sharon sendiri.

"Ah, aku tidak mengerti," celetuk Alice asal.

"Cobalah dibaca dulu, Alice! Ceritanya begitu… bergelora!" kata Sharon semangat. Sedangkan Eida hanya manggut-manggut saja.

"Coba gue baca." Alice mengambil novel dari tangan Sharon dan mulai membaca dengan raut wajah setengah minat.

"Bagaimana? Bagaimana?" tanya Sharon gugupan.

"Gue baru baca 1 kata, Sharon."

"Oke. Gue tunggu."

TIK! TIK! TIK!

DUAGH! JEGER! JEGER! JEGER! DUAAAARRRR! BUGH! PRAAANGG!

"Bagaimana, Alice?"

"Gue baru baca 2 kalimat, Sharon."

"Hn."

"Wo—" Ini suara Gilbert.

"Nanti saja, deh, gue baca. Bosen. Hoaaam!" kata Alice akhirnya.

"Ah! Ini lama!" sahut Oz tiba-tiba. "Gilbert harus cepat sembuh. Gue akan melakukan sesuatu padanya."

"Sesuatu?" Alice mengangkat sebelah alisnya.

"Iya. Dengan ini! TARA~" Oz mengeluarkan sekeranjang besar bunga mawar dari dalam tas kecilnya. Entah bagaimana caranya, memang sekeranjang mawar itu keluar dari tasnya.

"Untuk apa ini?" Sharon bertanya sembari mengambil setangkai mawar yang jatuh dari keranjangnya.

"Untuk apa saja boleh."

BLETAK!

"Jawab yang benar, Baka!"

"Baik, baik." Oz mengusap-usap kepalanya yang sudah benjol satu tingkat. " Tentu saja mawar-mawar ini bakalan gue gunakan untuk menyembuhkan Gilbert dengan suatu—"

"?"

"—ritual."

"Ritual?" tanya Eida.

"Yap. Saat berada di perpustakaan, gue pernah menemukan sebuah buku bertuliskan "Ritual Bunga Mawar Ajaib! Salah satu isinya, terdapat cara bagaimana melakukan ritual menggunakan bunga mawar untuk menyembuhkan orang sakit."

"Kalau begitu, cepat lakukan saja!" sahut Alice.

"Baik, baik." Oz segera menyiapkan segala sesuatunya dengan menggunakan bunga mawar untuk melakukan ritualnya.

'Perasaanku tidak enak,' batin Gilbert. Keringat telah bercucuran di pelipisnya.

Dan inilah Oz! Sang Bocah Mawar! JENG, JENG!

Dengan beberapa mawar yang dirangkai seolah bagaikan mahkota dia kenakan di kepalanya. Lalu sabuk yang menghiasi pinggangnya yang juga berasal dari rangkaian mawar. Kemudian kelopak-kelopak mahkota mawar yang telah digunting-gunting berbentuk seperti kucing telah siap di kotak mawar mungil buatannya sendiri.

Sungguh! Amazing!

Oz menutup matanya sambil menggenggam erat kotak mawar buatannya. Mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra dan angin sepoi-sepoi lewat mengayunkan rambutnya.

Tiba-tiba dia berteriak," Wahai, Dewa Mawar! Demi ketajamannya duri mawar, demi keharumannya mahkota mawar, dan demi fanatiknya saya terhadap mawar, sembuhkanlah Gilbert dari penyakitnya!"

Lalu Oz mengangkat sebelah kakinya dan memutar badannya. Lalu berganti kaki sebelahnya yang diangkat, kemudian berputar. Terus begitu sambil menebarkan potongan kelopak mahkota mawar berbentuk kucing itu kepada Gilbert. "Seeembuuuhhlaaahhh… Seeemmbuuuhlaaaah…"

Mata Oz masih terpejam. Tapi gerakan kaki dan tangannya terus begitu sampai potongan kelopak mahkota mawar itu habis.

"Seeembuuuhlaaah… Seembuuuhlaaaahh… Seeeemmmbuuuhhlaaahhh…."

Kacau.

Dan pada saat potongan kelopak mahkota mawar terakhir, Oz diam. Dia kembali menggenggam kotak mawarnya dan merapatkan kedua kakinya. Matanya masih terpejam. "Semoga Dewa Mawar mendengar permohonanku… Dan kau Gilbert, ketika aku membuka mataku, kau telah sembuh."

Ozpun menebarkan (baca: melempar) potongan terakhir itu tepat di hidung Gilbert. Setelah itu, perlahan-lahan namun pasti, Oz membuka matanya.

"Bagaimana, loe sudah sembuh, Gil? Coba cek, Eida."

Eida meletakkan tangannya di muka Gilbert. Ia menghembuskan nafas kecil sambil menutup matanya. Akhirnya ia menggeleng-gelengkan kepalanya yang berarti Gilbert belum sembuh.

"Apa ada yang salah dengan ritualmu, Oz?" tanya Sharon.

"Tidak ada, kok!" jawab Oz mantap.

"Coba diingat-ingat kembali," sahut Alice.

"Hmmm…" Oz tampak berpikir sejenak. "Oh, iya!" Dia memandang Gilbert dengan tatapan bersalah. Perlahan-lahan dia melepaskan busana ritualnya lalu berjalan mendekati Gilbert.

"Maaf," ucapnya lirih.

"Ada apa, Oz?" tanya Sharon bingung.

"Maaf. Sebenarnya ritual yang aku lakukan memang untuk orang sakit. Tapi…"

"Tapi apa?"

"Tapi untuk orang sakit jiwa."

Hening. Tapi…

BUGH! DUAAAR! JEGERRR! DUAAAAGHHH! PRANG! DUAAASSH!

Suara itu masih terdengar.

"Nii-chan bagaimana, sih? Masa' Gilbert-nii jadi orang gila!" sahut Eida tak percaya.

'Haaah, dasar kakak-beradik yang aneh,' seru Gilbert dalam hati.

"Sudahlah, Anak-anak. Sudah Oom duga kalau semuanya tidak berjalan lancar. Hanya 1 resep yang paling ampuh untuk orang sakit," sahut Ayah Sharon tiba-tiba.

"Apa itu?" tanya Sharon.

"Kecupan."

"APA? KAGAK MAUUUU!" seru Gilbert tiba-tiba. Dia berteriak sekuat tenaga yang dia bisa saat ini.

"Tenanglah, Gil. Kalau memang itu satu-satunya cara terampuh, mau tidak mau harus dilakukan juga," kata Oz pasrah.

'Sungguh teganya engkau, Oz.'

"Jadi, tenanglah, Gilbert. Biar Oom yang memberikan kecupan untukmu."

Ayah Sharon mulai mendekat, semuanya memerah.

'Oh, tidak! Tidak! Kami-sama! TOLONG! Gak mau! OGAAAAAHHH!' jerit Gilbert dalam hati.

Detik demi detik berlalu. Dan akhirnya…

CUP~

Sebuah kecupan manis di pipi Gilbert akhirnya tersampaikan juga. Gilbert makin melemah. Rohnya seakan melayang.

"Bagaimana? Sudah merasa baikan?" tanya Ayah Sharon santai.

Gilbert menggeleng lemah.

Eida kembali meletakkan tangannya di muka Gilbert. "Masih panas."

"Benarkah? Huh, artinya resep terakhir itu gagal." Ayah Sharon tampak putus asa.

"Gilbert…" Semua teman-teman Gilbert memandang kasihan terhadap Gilbert. Tidak ada salah satu dari mereka yang bisa merawat ataupun menyembuhkan Gilbert dengan cepat. Semuanya merasa khawatir, bersalah, dan bingung.

Benar-benar persahabatan yang indah.

Gilbert tidak tahan dengan sorotan mata teman-temannya itu. Apa lagi dia sebenarnya ingin mengungkapkan sesuatu yang mengganjal hatinya sedari tadi. Mungkin batas kesabarannya telah habis?

"Kalian itu…"

"Tenanglah, Gil."

"Loe harus tidur."

"Kalian…"

"Sudah, tidak usah memikirkan kami, Gil."

"Kami akan melakukan segala macam cara untuk menyembuhkanmu."

"Gue…"

"Loe sedang sakit, Gil."

"Tidurlah."

"Gil, gue akan mencoba ritual bunga mawar lainnya. Jadi kau tenang, ya…"

"Kami akan menemanimu."

"Loe tidak perlu takut!"

"Bukan, gue…"

"Loe tidak perlu cemas, Gil."

"Kami semua ada di sini menemanimu."

"BUKAN! MAKSUD GUE, KENAPA KALIAN TIDAK MENELEPON DOKTER UNTUK DATANG KE SINI?"

Baiklah, kesabaran Gil sudah habis. Tubuhnya semakin panas, bahkan dia tidak akan sanggup lagi untuk berbicara.

"Ah, iya juga! Kenapa tidak terpikirkan dari tadi, ya? Ibuuu!" teriak Ayah Sharon. "Ibu, tolong telepon dokter untuk datang ke sini!"

BUAGH! JEGER! PRANG! DUAAASH! BRAK! BRUK! BRAAAK!

"Ba-Baik!"

Baiklah, mari kita lihat ruang tengah –tempat Ibu Sharon berada saat ini.


Ruangan yang bisa dikatakan luas untuk ukuran sebuah ruang tengah itu sangat berantakan –ups, luar biasa berantakan! Pecahan vas keramik bertebaran di mana-mana, keripik-keripik dan makanan kecil lainnya bertebaran tak berdosa di mana-mana, TV, sofa, meja, Koran, dan berbagai macam barang lainnya sudah tidak berbentuk dan tidak diketahui lagi wujud aslinya. Sepertinya hari esok adalah hari yang berat untuk Kepala Keluarga Rainsworth karena tabungannya akan berkurang 50%.

Ibu Sharon yang kelihatan sudah sangat kusut dengan rambut yang acak-acakan dan mata yang menggantung, berjalan terhuyung-huyung menuju telepon yang hebatnya masih utuh. Dengan tangan yang gemetaran, ia mengangkat ganggang telepon dan mulai menekan beberapa angka. Pikirannya kalut, ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih.

"Halo?"

"Halo? Rumah sakit?"

"Bukan. Di sini Malaikat Pencabut Nyawa. Ada perlu?"

"Ah—dokter, segera datang ke rumahku. Terima kasih."

"Saya bukan—Huh! Baiklah, aku akan datang."

TUT! TUT! TUT!

Sambungan teleponpun terputus. Ibu Sharon menaruh kembali ganggang telepon ke tempat semula kemudian…

BRAAAK! PRAAANGGG!

Menjatuhkan (baca: melempar) telepon itu ke lantai dan kini telepon itu dalam keadaan sekarat.

Tiba-tiba, pintu utama rumah itu terbuka secara tiba-tiba.

WUUUSHHH!

Angin kencang dan kepulan asap memenuhi ruangan, dan akhirnya muncullah seseorang berambut merah dengan wajah stoic-nya masuk dan mulai berjalan mendekati Ibu Sharon.

Ibu Sharon hanya melihat dengan mata setengah terbuka dan masih dalam keadaan labil.

"Perkenalkan, saya Malaikat Pencabut –eh, maaf. Perkenalkan, saya dokter yang baru saja Anda hubungi. Bisakah saya segera bertemu dengan pasien saya?"

"Hn. Dia ada di lantai atas," kata Ibu Sharon.

"Baiklah, terima kasih."

Dokter itu segera naik melalui tangga ke lantai atas dan tanpa babibu lagi, dia segera memasuki ruangan yang dia yakini di dalamnya terdapat orang sakit.

"Permisi…"

"Iya. Kamu dokter, ya?" sambut Ayah Sharon

"(Tidak, sebenarnya saya Malaikat Pencabut Nyawa) Iya, benar. Perkenalkan, nama saya Rufus Barma."

"Hn, salam kenal, Dokter."

"Tapi, rasanya gue gak pernah ngelihat dokter ini, deh," seru Oz tiba-tiba.

"Hmm, gue juga," sahut yang lainnya. Gilbert hanya memandang dokter itu dengan mata setengah niat.

"Saya memang berbeda dari dokter lainnya. Saya dokter paling ampuh dan mujarab, khusus datang untuk Gilbert Nightray dari Negeri Khayangan."

"Bagaimana Anda bisa tahu namanya adalah Gilbert? Dan—Negeri apa itu? Khayangan?"

"Tentu saja. Bukankah sudah saya katakan? Saya dokter yang berbeda dari dokter lainnya. Saya memang berasal dari khayangan, sebenarnya saya adalah Malaikat Pencabut Nyawa, istri Anda sendiri yang menelepon saya."

'Ibu…' batin Ayah Sharon dan Sharon bersamaan.

"Ja-Jadi, dokter ke sini mau mengambil nyawa Gilbert-nii?" tanya Eida was-was.

"Kebetulan saya ke sini dengan maksud baik. Saya tidak akan mengambil nyawanya. Boleh saya periksa?"

"Ba-Baiklah…"

Dokter itu meletakkan punggung tangannya di jidat Gilbert, lalu meletakkan lagi di lehernya, tangannya, dan kakinya. Kemudian dia mengeluarkan thermometer dan meletakkannya di ketiak Gilbert.

"Hmm…"

"Bagaimana hasilnya?"

"Dia hanya demam biasa. Tapi panasnya hingga mencapai 40 derajat. Mungkin ini dikarenakan ketakutan yang berlebihan."

Semuanya hanya ber'oh'ria.

"Saya akan memberi obat yang mancur, tapi dengan dosis yang cukup tinggi." Dokter itu mengobrak-abrik tasnya, lalu mengeluarkan beberapa obat di dalamnya. "Untuk kapsul ini, cukup diminum 6 kali sehari, yang ini 3 kali sehari, lalu sirup rasa strawberry ini 8 kali sehari."

'Mampus gue!' batin Gilbert.

"Semoga cepat sembuh, Nak!"

Setelah berkata begitu, angin kuat dan asap kembali mengepul, mengelilingi Malaikat Pencabut Nyawa itu. Kemudian, dia menghilang.


Esok harinya, semuanya berkumpul di kamar Gilbert. Sinar mentari yang masuk karena gorden yang tiba-tiba terbuka itu, menyeruak masuk, dan membuat mata Gilbert yang terpejam menjadi silau.

Perlahan-lahan dia membuka matanya.

"Ummm, sudah pagi rupanya…"

"GILBERT! Bagaimana keadaanmu?"

"Sudah baikan?"

"Kau bisa bernafas? Apakah kau masih hidup?

"Gilbert-nii, panasmu sudah turun."

Gilbert mengedip-kedipkan matanya beberapa kali sampai matanya bisa terbuka seutuhnya.

"Kalian…"

"Huwaaa! Gilbert(-nii), akhirnya loe (nii-chan) bisa sembuh juga!" teriak semuanya sambil memeluk Gilbert.

"I-Iya, terima kasih."

Mereka melepas pelukannya.

"Oh, ya…"

Gilbert mulai membuka pembicaraan.

"Bukankah kita sudah berada 3 hari di sini?"

"I-Iya juga… Ini artinya…" Alice menyahut.

"Kami harus pulang, Sharon," kata Oz.

"A-Apa?"

Sharon terdiam, matanya membulat, dan keringat mulai membasahi wajahnya.

Keadaan berubah…

TBC

.

Fyuh, chapter 3 selesai dengan selamat (mungkin).
=o=

Beberapa minggu ini author terkena beberapa hal yang "cukup" sial. Dimulai dari telapak tangan yang terluka sampai HP yang dimaling orang. Huwaaa! Kalau bicara mengenai "maling", "pencuri", dan sejenisnya itu author kembali shock dan trauma! Benar-benar trauma!

D'X

Huhu… Hiksu…
;(

Sekarang maling sudah berkeliaran di mana-mana. Lebih baik readers hati-hati dan jangan suka memainkan HP sendirian di tempat yang sepi karena biasanya maling mencari suasana yang sepi agar dapat menerkam mangsanya. Lalu… Lalu…

Huwaaa! Kalau mengingatnya saya jadi merinding. Sampai gak mood ngapa-ngapain. Huhu…
T.T

Ja-Jadi, jangan hiraukan bacotan saya yang ada di atas.

Chapter depan adalah chapter terakhir. Gak yakin bisa update cepat atau tidak, soalnya author masih bingung bikin ending-nya.

#dilempar katak

Tidak akan banyak ber-bacot-ria lagi, review please?
:D