WINTER VACATION
Pandora Hearts © Jun Mochizuki-sensei
Genre: Friendship, Humor
Rated: T
Warning(s): OOC, Typo, AU, super pendek, dll.
Summary: (Chapter 4) Hari ini adalah hari terakhir bagi teman-teman Sharon untuk menginap. Tapi, sepertinya Sharon tidak bisa dengan mudahnya melepaskan teman-temannya yang hobby buat rusuh itu. Jadi, bagaimana cara mereka meloloskan diri?
A/N: HAPPY NEW YEAR! XD
Enjoy! ^^
.
Chapter 4: Last Day
Pagi itu biasanya disambut dengan kicauan burung pipit, hangatnya sinar mentari, dan udara yang sejuk. Tapi hari ini berbeda. Mereka disambut dengan geraman pemaksaan, aura gelap di sekujur tubuh, dan jantung yang berpacu lebih cepat daripada kecepatan sebuah jet.
"A-Ano… Sharon…"
"Jangan sebut nama gue, Oz!"
GLEK!
"Sharon, kami akan pergi—"
"Apa?"
"Pe-Pergi ke ruang tengah maksudku," ujar Gilbert sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal ala monyet di Ragunan. Keringatnya mulai mengalir di pelipisnya.
"Sharon-nee gak capek mundung di pojokan ruang makan seperti itu?" tanya Eida polos.
"Ha?" sahut Sharon galak.
HIIIII!
"O-Oz-nii… Ta-Takut," kata Eida sambil bersembunyi di balik punggung Oz.
GLEK!
"Ada daging di sini?" tanya Alice sambil memegangi perutnya.
BUGH!
"Loe gak bisa ngelihat keadaan ya? Daging ada tuh di sono!" sahut Gilbert sambil memonyong-monyongkan bibirnya menunjuk ke arah sebuah lemari es.
"Oh. Oke!" kata Alice sambil melaju mendekati kulkas.
"Alice!" seru Sharon tiba-tiba.
DEG!
Alice menghentikan gerakannya. "A-Ada apa, Sharon?"
"'Sharon' katamu?"
"Ma-Maksudku Sharon-nee…"
Bahkan Alicepun ga berkutik.
"Kau salah memanggilku! Sebagai hukumannya, kau tidak boleh makan daging yang ada di kulkas!" seru Sharon setengah berteriak.
"Kalau yang ada di atas meja boleh kan?"
"Kagak!"
GLEK!
"Hallo, semuanya…! Selamat pagi! Hari ini begitu cerah ya… Tidak lengkap kalau kita tidak menikmati teh di pagi hari ini…," seru ayah Sharon tiba-tiba.
"Iya. Ibu sudah menyiapkan Darjeeling Tea untuk pagi ini. Ayo semuanya kita pindah ke balkon!" sahut ibu Sharon dengan semangat.
"Tapi enggak untuk Sharon, Om," ujar Gilbert sambil menunjuk Sharon dengan jempolnya.
"Oh, My God!" histeris ayah Sharon sambil tiba-tiba mengguncangkan tubuh ibu Sharon. "Ayo, cepat, Ibu! Cepat!"
"I-Iya, tunggu!" kata ibu Sharon sambil melesat pergi dari ruang makan itu.
"Huaaah! Sharon-ku!" teriak ayah Sharon dengan lebaynya.
"Eng… Om, memangnya ada apa, sih?" tanya Gilbert takut-takut.
"Sharon, dia… dia…," ucapnya gelagapan.
"Ini, Ayah!" seru ibu Sharon dari ambang pintu sambil menunjukkan sebuah kamera digital kepada suaminya.
"Iya, iya! Ayo cepat sini!" perintah ayah Sharon tidak sabaran.
Sharon yang masih pundung di pojokan itu sebenarnya tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi ia memilih untuk tetap diam, sambil mengais-ngais keramik di hadapannya.
"Kamera itu buat apa, Om?" tanya Alice penasaran.
"Tentu saja untuk memfoto Sharon!" ujar ayah Sharon semangat.
EEEH…?
"Ayo cepat, Ayah!" seru ibu Sharon.
"Iya, iya. Sabar."
JEPRET!
"Sekali lagi!"
JEPRET! JEPRET!
"Sekali lagi!"
JEPRET! JEPRET! JEPRET!
"Sekali lagi, Ayah!"
JEPRET! JEPRET! JEPRET!
"Cuma perasaan gue saja atau emang kata-katanya 'sekali lagi' tapi itu bisa sampai 2 atau 3 kali, ya?" ujar Oz.
"Jangan heran. Dari pertama kali bertemu mereka gue sudah merasa mereka 'cukup' aneh dari biasanya," sahut Gilbert sambil menekankan kata 'cukup' di kalimatnya.
JEPRET! JEPRET!
"Yap! Sudah selesai!" ujar ayah Sharon senang.
"A-Ano, Om. Kok Sharon-nee lagi kesal begitu malah di foto?" tanya Eida dengan polosnya.
"Tentu saja!" jawab ayah Sharon cepat.
Semuanya menaikkan sebelah alis mereka.
"Kalian tahu? Sharon kesal sampai pundung begitu hanya terjadi 13 tahun sekali!" sambungnya dengan penuh semangat dan mengharukan.
"A-Artinya ini baru pertama kali, dong? Berhubung Sharon berumur 15 tahun," sahut Oz.
"Tepat sekali! Seribu untukmu, Nak!" kata ayah Sharon dengan mata bling-blingnya.
"Di mana-mana yang ada itu seratus setahu gue," gumam Gilbert sweatdrop.
"Ya sudahlah. Ayo, anak-anak. Kita pindah ke balkon menikmati Darjeeling Tea!" seru ibu Sharon sambil berjalan menuju balkon diikuti oleh suaminya yang sepertinya masih bangga akan hasil jepretannya.
"Gimana, nih? Masa kita mau ninggalin Sharon sendirian di sini?" ujar Gilbert bingung.
"Gimana kalau Ganggang Laut temani Sharon di sini?" usul Alice.
"Lah? Kaliannya?"
"Tentu saja menikmati Darjeeling Tea di balkon!" jawab Alice dengan kejujurannya dan Gilbert hanya menyipitkan matanya.
"Yang ada itu elo yang temani Sharon di sini! Kan elo adik kesayangannya!" balas Gilbert.
"Hah? Gue? Eh, loe gak nyadar Eida itu juga adik kesayangan Sharon? Masa cuma gue aja," sahut Alice tidak terima.
"Emang gue pikirin!"
"Sudah, sudah! Kalian ini udah tua masih juga bertengkar!" lerai Oz.
"Tua? Hello! Gue itu masih muda, Oz!" seru Alice. "Yang tua itu dia!" tuding Alice pada hidung Gilbert.
"Ha? Gue? Ha?"
"Udahan, ah! Sekarang, kita mau menikmati Darjeeling Tea atau membujuk Sharon?" tanya Oz.
"Mana yang terbaiklah," ujar Alice santai.
"Yang mana aja oke," sahut Gilbert yang masih kesal.
"Kalau Eida?" tanya Oz pada adiknya.
"Kalau Eida sih, ikutan Oz-nii saja," jawabnya polos.
"Kok kalian tidak memberikan jawaban yang berarti, sih? Gue kan jadi bingung!" ujar Oz frustasi.
"Salahkan diri loe yang bertanya!" tuding Alice di mulut Oz.
Oz hanya bisa pasrah. Dia berpikir sejenak sementara teman-teman dan adiknya menatapnya dengan wajah polos dan tampak tidak berniat untuk berpikir sama sekali.
"Hmm, gue punya ide!" seru Oz sambil menyeringai tipis.
"Loe yakin Oz?" tanya Gilbert ragu-ragu sambil menatap Oz yang merubah "kostum"nya pagi ini.
"Ya eyalah!" sahut Oz mantap sambil merapikan kerah "kostum" yang dipakainya itu.
"Iiih, loe jelek banget, Oz!" seru Alice sweatdrop.
"Oz-nii jadi aneh," gumam Eida prihatin.
"Aduh, loe pada seharusnya mendukung gue donk!" ujar Oz.
"Eng… Tapi gue gak yakin, Oz," kata Alice sambil memandang Oz dari ujung kaki ke ujung kepala.
"God bless you, Oz," kata Gilbert pasrah.
"Udahan, ah! Percaya sama gue! Pasti ide ini berhasil!"
"Semoga. Kalau nggak gue bisa mati kutu kena harisen Sharon," sahut Gilbert.
TAP! TAP! TAP!
Mereka berjalan mendekati Sharon yang masih pundung di pojokan ruang makan itu.
Oz mengambil nafas sejenak, dan mengeluarkannya dalam hembusan nafas yang panjang. Untung Oz gak makan pete ataupun jengkol. Kalau iya, aroma luar bin biasa itu bisa-bisa membuat Alice pingsan dadakan.
'Satu… Dua… Tiga…'
"Hallo, Sharon! Kak Xarks udah pulang nih!" teriak Oz kepedean sambil mengibarkan jubah dan ugh—mengedipkan sebelah matanya yang membuat orang-orang bisa muntah berjamaah, tak lupa wig berwarna silver yang hampir jatuh. Belum lagi sepatu boots yang kebesaran yang -entah dari mana asalnya- Oz pakai.
Hening…
Sharon sama sekali tidak bergeming. Bahkan sedetikpun.
"Mampus! Malu tingkat dewa!" gumam Gilbert sambil menepuk jidatnya.
"Apanya yang berhasil, Baka? Itu ide yang buruk!" ujar Alice yang pertama kali bingung mau naruh mukanya di mana. Padahal ngapain bingung? Taruh aja di meja. #plak
"O-Oz-nii, hentikan… Me-malukan…," kata Eida syok bercampur bingung dan malu.
"Ga-Gagal, ya?" tanya Oz entah pada siapa.
…SIIING…
Sunyi.
Sepi.
Kacau.
Memalukan.
"Padahal gue tahu kalau cara ini gak bakalan berhasil," kata Oz sok sedih.
"Kalau tahu kenapa masih maksa dilakuin juga, Oz?" kata Gilbert hampir berteriak frustasi.
Tiba-tiba Sharon menoleh ke belakang, menoleh pada teman-temannya.
"Sharon-nee?" panggil Eida.
'A-Apakah berhasil?' seru Gilbert dalam hati dengan penuh harap.
"Oz…," panggil Sharon.
"Y-Ya…?" Badan Oz sudah mulai menggigil.
"Ngapain loe pake baju begituan? Mau konser di Taman Lawang, ya? Kepagian tahu! Entar malem aja!" ujar Sharon to-the-point lalu kembali dengan aktifitas mojok-sendiri-di-sudut-ruang-makan-nya.
'Gagal,' batin Gilbert pasrah.
"Apa gak ada ide lain?" sahut Alice tiba-tiba.
"Ide lain? Hmm…" Gilbert tampak berpikir.
"Gue capek mikir! Tinggal loe pada deh yang mikir! Gue mau ganti baju dulu!" seru Oz grasak-grusuk. "Aduh! Nih wig kok ribet banget ya? Apa banyak kutunya? Beruban lagi!"
Gilbert, Alice, dan Eida hanya bisa speechless melihat Oz yang ngedumel sendirian dengan gajenya itu.
"Ada yang punya alat pengukur gila?"
Ruang makan keluarga Rainsworth itu berbentuk balok. Di sudut kanan depan pojok ruangan, terlihat Sharon yang masih pundung sambil ngais-ngais keramik. Sedangkan di sudut kiri depan pojok ruangan, kini terlihat Oz yang ikutan pundung karena idenya GATOT alias GAGAL TOTAL! Kemudian di sudut kiri belakang pojok ruangan terdapat Gil, yang berusaha menahan malu atas aksi yang baru saja dilakukan Oz. Dan yang terakhir –sudut kanan belakang pojok ruangan, terdapat Eida yang lesu dan Alice yang sedang menikmati daging.
"Aduh, Anak-Anak! Kalian pada ngapain sih di pojok-pojok! Padahal sudah oom tunggu dari tadi di balkon. Tapi kalian malah menanam jamur di pojokan," kata ayah Sharon setelah beberapa menit. Ibu Sharon hanya bisa geleng-geleng kepala.
TET! TEEET!
"Ah, bunyi bel! Siapa gerangan yang datang?" kata ayah Sharon seraya menuju ruang utama untuk membuka pintu.
TET! TEEET!
"Aduh, iya, yang sabar dong!"
KRIEEET
"AYAAAAAH~!"
BRUK!
Ayah Sharon langsung mengalami jump high di jantungnya ketika seseorang yang berada di balik pintu itu tiba-tiba memeluknya.
"Wah, wah. Ada apa ini—" Ibu Sharon datang untuk melihat.
"—Xarks?" lanjutnya lagi.
"IBUUU~!" ujar pemuda yang dipanggil Xarks tadi oleh ibu Sharon dan langsung memeluk ibu Sharon.
"Haha, kau ini seperti anak kecil. Bagaimana dengan tugasmu di Afrika?" tanya ibu Sharon setelah melepas pelukannya.
"Luar biasa!" katanya sambil mengacungkan jempol.
"Luar biasa apanya?"
"PANASNYA!"
"Haha, kau ini! Oh, ya, sepertinya ada yang harus segera kau lakukan, Xarks."
"Apa?"
"Ayo ke dapur," kata ibu Sharon sambil menarik pemuda yang ada dihadapannya.
"XERXES! LAIN KALI JANGAN MENGAGETKAN AYAH!" teriak ayah Sharon sambil berusaha menenangkan jantungnya.
"Sharon, ada kejutan untukmu~!" ujar ibu Sharon sambil menarik lengan pemuda tadi.
Sharon melirik sebentar kemudian kembali pundung.
"Sharon-chan?" panggil pemuda itu.
Sharon langsung berbalik dan mulutnya langsung menganga. Ia segera bangkit dan pergi dari tempat terkutuk itu dan datang ke pelukan pemuda itu. "Xarks-nii!" seru Sharon.
"Xarks-nii?" seru teman-teman Sharon yang masih berada di tempat keramatnya masing-masing.
"Xarks-nii, kenapa kulitmu jadi hitam begini?" tanya Sharon sambil memperhatikan kakak kesayangannya itu.
"Sexy, kan?"
"Jelek."
Lagi-lagi teman-teman Sharon hanya bisa speechless, terpaku di tempat.
Dengan gugup, Oz mulai membuka suara, "A-Ano, Sharon. Jadi kami boleh—"
"Kalian kenapa belum pulang, hah? Ini kan sudah 3 hari. Apa kalian betah tinggal di sini?" potong Sharon.
'WHAAAT? Siapa juga yang ngambek dari tadi?'
"Ka-Kami akan pulang, kok," ujar Oz sambil senyum seadanya.
Sharon hanya mengangguk sambil senyam-senyum, seolah-olah tidak ada hal buruk yang pernah terjadi.
Ketika teman-teman Sharon bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba Xerxes teringat sesuatu. "Ah!"
"Ada apa, Xarks-nii?"
"Aku diberi tugas untuk pergi ke Amerika—"
"Kapan?"
"—di musim panas."
Dengan segera, Sharon menatap teman-temannya sambil ber-smirk-ria.
"A-Ada apa, Sharon?"
"Hmm, summer vacation. Oke? Ditunggu. Tiga hari aja."
Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya sampai bosan, teman-teman Sharon hanya speechless di tempat.
THE END
.
Hallo, semua! XD Akhirnya fict WV selesai juga. XD Sebenernya udah geregetan (?) sejak dulu buat nyelesaiin fict ini. Yah, tapi mau bagaimana lagi, saya selalu kena MALARIA (berMALAs RIA)! DX
Kayaknya chapter ini paling gaje deh. ==a Udah cerita dengan ide pas-pasan, alur gak ngeh banget, ditambah lagi ending yang ugh—parah banget amat-amat. =="
Oh, ya, ada yang masih ingat fict Last and Forever? Gak ada kayaknya. -,- Cuma mau ngasih info, fict itu akan saya selesaikan bulan ini. Yah, paling cepat pertengahan bulan ini. Soalnya tinggal chapter terakhir doang yang belum di-update. Udah setengah taon lebih saya telantarin tuh fict, kasihan banget. T^T
Okeh, segini aja bacotan dari author yang lagi galau ini. *ea!* Silahkan tinggalkan jejak kalian berupa review. FLAME? Diterima. CONCRIT? Sangat diterima! :D
Arigatou! XD
~Special thanks~
Shinju-R
Reborn Angel From the Past
Misa Baskerville
anryn leicesterberry
Siebte Gloxinia
And YOU!
Thanks for reading my fict.
