Terkadang aku tak mengerti dengan jalan hidupku sendiri. Selalu berubah tiba-tiba tanpa ada pertanda jelas di depan mataku. Seperti… kau tahu kan?
CRIIING~
TA-DA~!
Yeah, sulap. Aku tahu, aku tahu. Itu terdengar konyol. Bahkan aku sempat berpikir kalau aku ini memang orang konyol.
…
Ingatkan aku untuk meninju ayah ketika aku datang berkunjung.
Bleach © Tite Kubo
A/N: ah, kayaknya aku belum ngasih tahu ini di chapter sebelumnya. Cerita ini gak ada plot. Cuma drabble panjang IchiRuki. == Rate berubah karena permintaan emak Hiru~ yah… walo belum sepenuhnya lemon. Masi nyolek-nyolek lime sama pikiran mesum Ichigo. Hehehe… lemon menanti.
Matahari pagi terlalu menyilaukan. Membuat mataku sakit. Tak usah membuka mulut. Aku tahu apa yang akan kau katakan padaku! Cih! Kukatakan saja, aku sama sekali tak cocok dengan pagi hari. Penyebabnya sudah jelas. Ayah selalu berusaha membunuhku ketika aku sedang tidur ketika pagi tiba. Tapi semenjak aku pindah dari rumah dan menyewa flat sendiri, setidaknya aku bisa bernafas lega dan tidur sedikit lebih lama. Ingat kata kuncinya. Sedikit. Jangan kau lupakan gadis mungil berambut hitam dan bermata biru-violet dengan titel Rukia.
Dia seperti punya seribu—atau lebih—cara untuk menggangguku sampai terasa menusuk ke tulang dan membuat kepala mendidih. Tapi jika pada akhirnya aku melihat senyumnya mengembang, rasa kesalku jadi hilang begitu saja. Yeah? Memangnya kenapa kalau aku terlihat lembek di hadapan Rukia? Aku suaminya, dan aku berhak membentuk karakter sesuka hati di sekitar wanitaku! Piss off!
Tapi hari ini sepertinya ada yang lain. Biasanya dia akan membangunkanku dengan berbagai cara. Mulai dari penganiayaan sampai cara paling manis. Kalau kau bertanya, aku lebih suka cara terakhir. Yeah… itu membuat hormonku mendidih. Oke. Stop berbicara hal yang mengarah menuju vulgar. Lagipula ini masih pagi. Tapi… sex pagi hari terdengar tidak buruk. HA? STOP!
Seperti yang kubilang tadi, ada yang aneh di hari ini. Ketika aku membuka mataku, aku masih mendapati Rukia tertidur pulas di sampingku. Tubuh mungilnya terbungkus selimut tebal dengan kerutan di dahi yang bisa menyaingi milikku. Karena sedikit ragu dengan jam bangunku, aku melirik jam weker di meja samping yang berdetik pelan.
06.09 am
T-terlalu pagi! Ini masih masa cutiku! Aku hanya ingin bermalas-malasan, bukannya malah terbangun pagi-pagi sekali karena sesuatu yang tak kumengerti apa sebabnya.
Aku berganti posisi dan kini menghadap Rukia. Ekspresi wajahnya belum berubah. Bahkan mungkin bisa dibilang jika sepertinya terlihat semakin buruk. Apalagi ditambah dengan keringat yang menetes dari dahinya. Ah, padahal pendingin ruangan kunyalakan seperti biasa. Ketika aku menyentuh dahinya, ya Tuhan… tubuhnya panas. Dia demam.
Karena saking paniknya, aku langsung membuka err… melempar selimut dan… kau tahu apa yang kulihat? Yeah! Tubuh istriku tanpa busana dengan sinar matahari pagi dari sela tirai jendela yang tak tertutup rapat. Oh, Ichigo berhentilah menjadi mesum dan cepat bertindak!
Aku yang gelagapan menarik kembali selimut dan merapatkannya di tubuh Rukia. Insting dokterku langsung keluar dan aku bergegas mencari boxer milikku yang entah dibuang ke arah mana oleh Rukia semalam. Ah, masa bodoh dengan pakaian! Ini rumahku dan tak ada orang selain Rukia dan aku yang berada di sini. Aku keluar kamar tanpa menutup pintu dan langsung berlari menuju kamar mandi untuk mengambil obat. Setelah ketemu, langsung kurampas dari rak di balik kaca dan juga mengisi segelas air.
Saat keluar dari kamar mandi, aku seperti terkena serangan jantung!
"KYAAAA~! ONII-CHAN!"
"AAAAAAAAGH!"
"WOOOOO~ KAU HEBAT ANAKKU!"
Bayangkan teriakan penuh tenaga dari tiga orang bermarga Kurosaki di saat yang bersamaan. Entah itu melengking, penuh horror dan kesenangan, hanya satu jawaban. Kau akan sakit telinga dan harus dirawat intensif.
Dari belakang, bisa dilihat Karin yang menyaksikan semuanya dengan tampang bosan sambil menutup dua telinganya.
Ugh! Harusnya aku menyewa flat dengan kamar mandi di dalam kamarku!
Aku duduk dengan wajah bertekuk dengan sedikit rona merah, dua tangan terlipat di depan dada dan memandang dengan penuh hawa membunuh yang kutujukan pada ayah yang kini tengah terkikik. Serius. Aku heran dengan ayahku sendiri. Bagaimana caranya dia bisa terkikik seperti itu dan terdengar seperti gadis SMA yang sedang jatuh cinta?
Oh, dan aku sudah berpakaian. L.E.N.G.K.A.P.
Di dapur, Yuzu tengah membuat sup untuk Rukia. Karin yang dari awal memang bosan hanya duduk di sampingku sambil memainkan saluran televisi dengan remot di tangannya. Dan di kamar, Rukia masih tidur… setidaknya dia sudah berpakaian. (sempat terbangun gara-gara mendengar teriakan trio Kurosaki)
Semua ini pasti ulah ayah. Kepalanya selalu penuh dengan hal konyol yang tak bisa kutoleransi sejak dulu. Yuzu yang polos dan manis tak mungkin mengusulkan untuk mengunjungiku tiba-tiba. Dia selalu memberitahuku lewat telepon atau e-mail sebelum datang, sedangkan Karin, ia akan datang jika dipaksa ikut oleh Yuzu atau juga mengirim e-mail kepada Rukia.
Lihat saja wajah ayah yang sekarang sedang tersenyum hingga hampir mencapai telinganya. Oke, itu menakutkan dan mengingatkanku pada seseorang.
"Apa maumu, ayah?" dengan suara sedikit menggeram dan gigi bergemeletuk karena menahan emosi yang ingin cepat-cepat diledakkan, aku menambah intensitas tatapan membunuhku pada ayah.
"Ohohohoh~ tak ada Ichigo! Apa salahnya jika ayahmu ini ingin mengunjungi anak laki-laki satu-satunya?" mata kiriku berkedut ketika dia mengedipkan sebelah matanya padaku.
"Tak ada yang salah dengan itu. Yang salah hanya waktu, dan kenapa kau bisa mendapat duplikat kunci flat-ku?"
"Ooooh… kau harus waspada dengan keadaan sekitarmu, Ichigo. Tak ingin ada orang lain yang memergokimu seperti tadi kan?" oke, baru satu urat nadi kepalaku yang berkedut.
"Aku akan berkunjung sesuka hatiku. Apalagi aku rindu dengan Rukia-chan. Kau tega menyimpannya hanya untuk dirimu sendiri," menarik… langsung menjadi empat.
"Kalau kunci flat… khukhukhu… kau tak mau tahu bagaimana aku memperolehnya. Jangan kau meremehkan ayahmu yang hebat ini Ichigo…" cukup! Aku sudah gelap mata. Bahkan ketika melihat ekspresi ayah yang melihatku dengan dagu terangkat tinggi dengan sebelah tangannya yang ia pakai untuk menutup mulut, semakin membuat kepalaku sakit karena terlalu banyak urat yang berkedut.
Daaaaan… begitulah ketika akhirnya aku membiarkan ayah istirahat sejenak di bawah tangga dengan hidung patah dan darah yang masih sedikit mengalir. Setidaknya amarahku sedikit reda karena pelepasan tadi.
"Karin, apa kau tak ada kelas?" aku menatap adikku yang kini balik menatapku dengan tatapan apa-kau-bercanda? "Hm? Apa? Kenapa kau memasang wajah seperti itu?"
"Ichi-nii, entah karena ini masih pagi atau syaraf di otakmu yang sudah mulai tak berfungsi, kuberi tahu satu informasi hebat yang tak bisa terregistrasi ke dalam sana. Ini hari sabtu. Kelas libur kecuali jika kau ingin menjilat dosen." Dengan itu, dia kembali melirik televisi dengan tatapan bosannya yang terkenal itu. Dia bahkan mengutarakan kalimat tadi dalam satu tarikan nafas dan membiarkanku menatapnya dengan sedikit rasa canggung.
Ketika kupikir sekali lagi, yeah… ini hari sabtu. Dan… sepertinya aku melupakan sesuatu yang penting. Ah, sudahlah. Toh nanti ingat sendiri.
"Ichigo…" aku menoleh dan mendapati Rukia berdiri tak jauh dariku sambil mengusap mata dengan sebelah tangan dan tangan satunya lagi menyeret selimut. Terkadang aku berpikir. Apa aku ini lolicon? Coba lihat Rukia dengan tingkahnya yang seperti itu. Apalagi dia memakai kaos milikku yang memang terlihat seperti dress jika ia pakai. Pikiranku sedikit melenceng jika melihat dia yang seperti itu. Pasti yang terlintas di pikiranku, 'apa dia memakai pakaian dalam?'
Ugh! Sadar kau, mesum!
"Hey… kenapa turun? Kau harus istirahat." Aku berdiri dan menghampirinya. Ketika aku telah berada di hadapannya, ia menjatuhkan selimutnya dan memelukku erat-erat. Aku terbelalak sebentar sebelum kemudian meletakkan tangan kiriku di punggungnya dan tangan kananku mengelus rambut paginya yang memang berantakan.
"Aku tak mau kalau kau tak ada…" ia menggumam terlalu pelan sampai aku tak bisa mendengarnya.
"Hn? Kau bilang apa? Katakan dengan jelas," aku mencium bagian atas kepalanya dan menghirup sedikit aromanya sebelum menunduk untuk menatapnya tepat di mata.
"Kau tak ada. Aku tak mau sendiri di sana." Oh, sial. Aku baru ingat, dia terlalu manja jika sakit. Ini sama sekali di luar dugaanku. Sia-sia rencanaku untuk mengajaknya makan malam di luar nanti. Ah, benar! Ini hari sabtu dan aku sudah memesan tempat di salah satu restoran untuk kami berdua. Sebaiknya cepat menelpon untuk membatalkannya. Kalau tidak, bisa repot.
"ugh… baiklah kutemani kau istirahat. Ayo." Aku berusaha melepas pelukan Rukia yang terlalu erat itu. Setidaknya biarkan aku bernafas kecuali jika kau mau terus sendirian. Tapi dia sama sekali tak mau melepas dan menggelengkan kepalanya.
"Aku bosan di kamar. Tak ada hiburan. Tak ada kau…" aku hanya menghela nafas menghadapi Rukia yang seperti ini. Jarang sekali Rukia jatuh sakit. Kalau bisa dibilang, malah aku yang lebih sering sakit daripada dia. Karena pasrah dan tak bisa menolak Rukia, aku menuntunnya ke sofa. Dia yang semula duduk di sampingku mulai naik ke pangkuanku dan memelukku sambil menyandarkan kepalanya dengan santai di atas dadaku. Ah, mungkin dengan begini dia akan tertidur lagi. Jaminannya, badanku yang akan terasa sakit karena duduk dalam kondisi yang tak berubah. Tak mau ambil resiko, aku mengubah posisi sofa agar bagian bawahnya dapat terangkat karena ini memang sofa bed.
Setidaknya aku merasa sedikit nyaman. Satu yang tak kusadari, ternyata sedari tadi Karin menatapku sambil memegang handy cam di tangannya dengan cengiran terpampang di wajahnya. "Untuk apa itu, Karin?" aku hanya menatap Karin datar, tak sadar jika tangan kananku mulai mengelus kepala Rukia.
"Oh, kau tak tahu betapa berharganya rekaman ini, Ichi-nii…" cengiran Karin bertambah lebar ketika aku mengangkat satu alisku dengan heran.
"Karin-chan, kau membawa handy cam?" dari arah dapur, Yuzu datang sambil membawa nampan berisi makanan untuk Rukia. Entah darimana ia tahu kalau Rukia sudah ada di sini.
"Tentu saja Yuzu. Kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi di rumah Ichi-nii. Setiap datang berkunjung, pasti selalu ada hal menarik yang terjadi. Seperti ini contohnya. Lagipula, anggap saja ini sebagai kegiatan klub."
"Jadi selama ini kau selalu merekam jika datang kemari?" aku sedikit kaget dengan apa yang baru kuketahui.
"Hee… aku sudah melakukan ini sejak pertama kau pindah kemari Ichi-nii. Dan kau baru menyadarinya sekarang?" dari ujung mataku, aku melihat Yuzu menaruh nampan tadi di meja yang terletak di sampingku untuk memudahkanku mengambilnya.
"Jangan salahkan aku. Lagipula kau gunakan untuk apa rekaman-rekaman itu?"
"Blackmail…" Karin dengan gamblang memberitahuku alasan yang sebenarnya. Mulutku ternganga menatapnya. Mengapa semua anggota keluargaku seperti ini? Setidaknya Yuzu tak seperti itu. "Benar kan, Yuzu?"
Tunggu… APA?
"K-kau juga ikutan, Yuzu?" dengan cepat aku berbalik menatap Yuzu.
"Ehehe… sepertinya menyenangkan. Lagipula, aku belum pernah melakukan hal seperti itu." Y-Yuzu… jangan mengatakan hal seperti itu sambil tersenyum manis terhadapku. Aku tak percaya! Satu-satunya adikku yang manis terkontaminasi pikirannya oleh hal-hal tak jelas.
"Karin, kenapa kau harus mengajak Yuzu?" aku kembali menatap Karin.
"Oh, ayolah Ichi-nii, tak semua orang berhati murni. Lagipula jika aku mendapat adegan bagus atau memalukan, Renji pasti membayar tinggi. Ups…" Renji… Renji… Renji… nama itu terus berputar-putar di kepalaku. Ternyata dia yang berada di balik semua ini.
"Karin, matikan kameramu."
"Ohoho… tidak bsa Ichi-nii. Ini sudah berada di luar jangkauanmu." Karin masih terus merekam sambil duduk santai di dekatku. Ia sama sekali tak beranjak atau kabur karena tahu aku tak bisa bergerak dengan Rukia yang tertidur di pangkuanku. Aku yang membuka mulut untuk protes kepada Karin malah menemukan sesendok penuh sup panas yang tiba-tiba menginvasi mulutku.
"A-AAAGH… HANAAAAHHHHH…" mulut dan lidahku terbakar karena sup yang masih panas. Dengan mata sedikit berair, aku menatap sang tersangka yang dengan polosnya memegang semangkuk sup dan menyodorkan sesendok lagi kepadaku sambil tersenyum. "Panas, Rukia…"
"Aku tahu. Tapi yang ini sudah kutiup. Cepat buka mulutmu. Aaaaaah…" entah karena reflek atau apa, aku membuka mulut dan menelan sup yang disodorkan Rukia. Geh! Sebenarnya siapa yang sakit? Aku kembali ditarik ke alam nyata setelah mendengar beberapa orang yang terkikik bersamaan.
"Oh, ini akan menjadi berita besar." Dengan wajah memerah aku menatap Karin yang kini tengah tersenyum lebar sambil menahan tawa.
Aku benci hidupku.
"Hnnn… I-Ichigo! C-cepat! Ugh…" aku hanya sedikit menggeram dan mempercepat gerakanku. Oh, kau tak tahu betapa aku menunggu saat-saat seperti ini.
"I-Ichi… hnnn…" yeah… sebentar lagi hingga aku mencapai klimaks. Rukia menegang dan aku tahu kalau aku tak bisa menahan lebih lama lagi.
Ketika aku membuka mataku, aku menatap sepasang biru-violet yang menatapku lekat dengan muka sedikit memerah dan juga suara tawa Karin, kikikan ayah dan wajah Yuzu yang memerah menahan malu.
"Ichigo, kau bermimpi apa? Kau terus-terusan mendesah sambil menyebut namaku berulang kali…" m-mimpi? Kami-sama! Buatlah lubang di bawahku dan telan aku bulat-bulat sekarang juga! Lagipula Rukia… mengapa kau harus bertanya seperti itu keras-keras? Tidakkah itu sudah cukup menjelaskan apa mimpiku?
"Ichi-nii… tak kusangka! Hahahahahaha…" Karin masih memegang handy cam di tangan kanan dan tangan kiri memegang erat perutnya karena menahan sakit akibat tertawa terlalu banyak.
"Masaki! Mengapa anak kita terangsang dalam mimpi tapi tak bisa membuat cucu untuk kita?" ayah dengan heboh mengadu pada foto mungil ibu yang segera ia keluarkan dari dompet dan ia elus-eluskan di pipinya.
Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa. Aku ingin menghilang saja. Tapi mimpi tadi terasa begitu nyata. Atau mungkin itu dikarenakan Rukia yang sedari tadi duduk di pangkuanku? Mungkin aku terlalu capek.
"Ugh… Rukia, aku mau ke kamar mandi. Bisakah kau duduk sendiri?" aku berusaha mengangkat Rukia dari pangkuanku. Tapi yang bersangkutan malah mengubur mukanya di dadaku dan kembali memelukku.
"Aku ikuuuut…" Geh! Entah jadi seperti apa wajahku saat ini mendengar tawa Karin yang semakin kuat, tangisan ayah yang bertambah kencang dan Yuzu yang kini pingsan karena tidak tahan.
Yuzuuuuuu… mengapa kau tak mengajakku sekalian?
Akhirnya mereka pulang. Setidaknya aku bisa sedikit tenang karena penganiayaan mereka berakhir. Aku berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan dengan malas ketika mereka pulang. Di belakangku, Rukia berdiri sambil memeluk pinggangku. Sedari tadi dia tak mau lepas dariku. Butuh waktu hingga akhirnya tadi aku bisa pergi ke kamar mandi.
Sendirian.
Ah, aku masih sedikit khawatir dengan keadaannya. Memang demamnya sudah turun. Tapi dia sama sekali tak ingin tidur. "Kau pasti pergi jika aku tidur…" alasan konyol dan kekanakan. Tapi aku tak menginginkan Rukia yang berbeda dari dirinya yang kini milikku. Rukia yang sudah membuatku jatuh cinta hingga berulang kali hanya dengan menatap matanya.
Apa? Memangnya aku tak boleh berkata romantis? Ayolah… setiap pria akan menjadi puitis jika berada di sekitar wanitanya. Jadi aku ini normal.
Setidaknya, sampai aku berhenti berpikir jika aku memang lolicon…
An end?
A/N2: khukhu… gak tahu lagi kesambit apa. Perlu pemanasan sebelum menuju hal besar. Benar kan? Ah, sudahlah. Silahkan sodorkan review~ XD
