Bagiku, sebenarnya tidur larut malam tak masalah. Apalagi jika semua urusanku telah selesai. Tidur terasa lebih menyenangkan ketika seluruh tubuhku seperti habis dibanting pegulat profesional. Tentu saja ini menjadi salah satu kesenanganku. Jangan salah sangka, ada kalanya ketika aku membenci rasa kantuk.

Kau tahu apa maksudku kan?


Bleach © Tite Kubo

A/N1: Yo! Setelah lama cari wangsit(?) saya berhasil dapet ide. Keluar masuk gua mimpi tak bercahaya itu benar-benar sedikit berguna, walau yang lainnya sudah ada di otak mesum saya. Hehe… Spesial untuk para pecinta lime seperti saya~ The important scene isn't coming yet. You know what I mean.

Warning: OOC, lime.


Dalam sehari, kau mungkin akan merasa bosan untuk menghitung berapa kali mataku terpejam. Saking bosannya, mungkin kau akan lebih memilih untuk melihat debat politik di televisi daripada waktu tidurku yang terlalu sering ini. Apalagi jika dalam keadaan seperti ini; cuti. Seharian lebih merawat Rukia versi manja ketika sakit membuat jam tidur santaiku berkurang. Ketika pada akhirnya dia sudah baikan, dia malah menjauhkan diriku dari tempat tidur atau tempat nyaman lain.

Sebut saja sekarang. Dengan malas aku menyeret kakiku, mengikuti ritme langkah kaki Rukia yang terlampau bahagia lima meter di depan. Dress coklat muda selutut yang dikenakannya berkibar pelan ketika ia mulai berlari kecil. Tak sadar, ujung bibirku sedikit naik ketika melihatnya berbalik dan melempar senyum singkat kepadaku.

Aku sama sekali tak tahu kemana dia akan pergi. Dia terlihat sangat gembira, tentu saja aku tak bisa menolak ketika ia mengajakku untuk pergi ke luar. Apalagi cuaca sedang bagus walau ini sudah pukul lima sore.

Ketika memasuki kota, jalanan mulai ramai. Sedikit cemas karena tinggi badannya yang mengkhawatirkan, aku yang tak ingin kehilangan dirinya di tempat ramai, mulai berjalan cepat untuk menghampiri dan menggandeng tangannya. Dia sama sekali tak keberatan, malah sekarang dia tengah bergembira menyandarkan kepalanya di tanganku, sambil sesekali menggoyangkan kedua tangan kami yang berpautan.

Ah… aku merasa seperti kembali ke masa sekolah dulu. Perasaan yang kini tengah berkecamuk di dalam diriku sama seperti kencan pertama waktu itu. Tapi setidaknya, sekarang aku tak lagi gugup atau bertindak bodoh di hadapannya.

Kami terus saja berjalan, menikmati udara yang sedikit dingin dengan guguran daun Momiji di sepanjang jalan. Tak sepatah katapun yang keluar dari bibirku maupun bibirnya. Aku sudah tahu apa yang dia pikirkan hanya dengan melihat sekilas ke dalam sepasang permata biru-violetnya. Begitu juga sebaliknya. Aku dan Rukia bukan tipe orang dengan kata-kata. Menurutku, kami lebih cocok dengan mengekspresikan yang kami rasakan daripada harus mengeluarkannya lewat bibir. Tapi jika itu tindakan lain yang bersangkutan dengan bibir a.k.a sentuhan bibir, dengan senang hati kulakukan hingga berulang kali.

Pada akhirnya kami berhenti dan duduk di salah satu bangku yang ada. Dari sini, aku bisa melihat seluruh kota Karakura dengan jelas. Di sampingku, Rukia duduk sambil menikmati sekantung shiratama yang sempat dibelinya di jalan tadi. Di ujung mataku, aku melihat beberapa pasangan yang tengah berdansa dengan diiringi musik. Jika kudengar dan kuperhatikan baik-baik, ini seperti di gedung opera. Hanya saja tak ada penyanyi seriosa.

Kini Rukia tengah bersandar di dadaku setelah aku menaruh tangan di atas sandaran bangku. Entah bagaimana shiratama yang dinikmatinya tadi sudah raib. Aku tak pernah bisa menebak selera makan Rukia jika sudah menyangkut makanan kesukaannya. Pernah suatu hari aku dibuatnya panik. Ia mengancam tak mau tidur denganku lagi jika tak ada shiratama saat itu juga. Sebagai seorang pria dengan hormon mendidih, ancamannya membuatku kalut. Bagaimana tidak? Wanita yang kau cintai tak ingin tidur denganmu lagi hanya karena sekantung shiratama. Sama sekali tak masuk akal. Apalagi saat itu aku benar-benar tak tahan karena sudah dua minggu aku pergi ke Kyoto karena pekerjaan.

Hei hei… jangan melihatku seperti itu. Dua minggu lebih tak menyentuh wanita bisa membuat seorang pria frustasi. Itu sangat N.O.R.M.A.L. Dan menunjukkan kalau aku sehat fisik dan mental. Tak perlu mengejekku.

Ah, entah sejak kapan aku mulai memainkan rambut Rukia. Mungkin ini kebiasaan baruku. Semenjak ia memotong rambut hingga membuat lehernya terlihat jelas, aku terlalu suka untuk memilin ujung rambutnya di antara jariku. Hal itu bisa membuatku merasa tenang karena aku tahu ia berada dekat denganku.

"Ichigo…" suaranya lirih, hampir tak terdengar olehku.

"Hm?"

"Apa kau cinta padaku?" aku sedikit tersentak ketika mendengar pertanyaan Rukia yang sedikit aneh. Hampir saja aku tersedak oleh ludahku sendiri.

"Kenapa bertanya begitu? Bukankah sudah jelas?" aku menggumam jawaban dari sela-sela rambut hitamnya.

"Aku tahu. Hanya saja…" aku menatap heran Rukia. Jarang sekali ia bersikap seperti ini. Apa dia masih sakit?

"Hanya saja apa?" aku bertanya sambil menekan telapak tanganku di dahinya. Sama sekali tak panas. Ia masih sehat, sama seperti tadi pagi.

"A-ah… tidak. Tidak apa-apa." Dengan cepat ia berdiri dan mengecup singkat bibirku. Ketika aku mengedipkan mata, ternyata ia sudah berjalan menjauh dariku dengan kedua tangan yang ia kaitkan ke belakang. Sejenak, aku yang masih merasa bingung hanya memperhatikannya dari tempatku duduk. Ketika ia berbalik dan menatapku, aku baru sadar kalau ia sudah berada cukup jauh. Aku segera berdiri dan mulai menghampirinya yang kini berhenti menungguku. Senyum kecil di wajahnya yang tersipu kemerahan karena cuaca dingin membuatku tersenyum balik kepadanya.

"Kau akan sakit lagi nanti," aku merapatkan jaketku ke tubuh mungilnya yang kulihat sedikit menggigil.

"Tidak akan." Jawaban keras kepala dari bibir mungilnya tak membuatku berhenti merapatkan jaketku. Aku tertawa kecil dan mencium bibirnya yang tengah cemberut ke arahku.

"Tak usah keras kepala, midget. Kau dan sakit jika disatukan dalam satu kalimat merupakan bencana. OW!" aku mengelus pelan tulang kering kananku yang berhasil menjadi sasaran kaki mungil yang terbalut sepatu flat putih.

"Rasakan. Huh!" dia melipat kedua tangan dan segera berbalik meninggalkanku. Tapi dari ujung mataku, aku melihat ia tersenyum lebar sambil tetap merapatkan jaketku di tubuhnya. Heh… setidaknya wanita itu milikku.


Duduk berdampingan di sebuah warung ramen, aku melihat Rukia yang menikmati tsukemen pesanannya. Di hadapanku hanya ada sebotol sake dan sebuah cawan. Aku sedang tak berselera makan ramen. Tak tahu kenapa, melihat Rukia makan sudah membuat perutku kenyang.

Tak sampai setengah jam, kami sudah berjalan lagi untuk pulang. Pada akhirnya, Rukia menyeretku untuk membelikannya strap ponsel berbentuk chappy setelah keluar dari warung ramen. Mengapa setiap aku pergi dengannya, harus ada benda mengerikan itu di tengah-tengah? Heran… dan anehnya, Rukia sedikit lebih riang daripada sebelumnya.

Karena bosan dan capek, aku mengajak Rukia pulang. Di jalan pulang, ia kembali merangkul tanganku dan bersandar di pundakku. Karena merasa sedikit—oke, sangat—senang, perjalanan pulang terasa cepat. Hanya seperti mengedipkan mata, dan kemudian kami sudah berada di depan pintu flat. Rukia melepas rangkulannya untuk memudahkanku mengambil kunci dan membuka pintu.

Ketika masuk dan tengah melepas sepatu, aku merasa Rukia menyentuh punggungku dan mulai membuat pola aneh dengan ujung jarinya. Bulu romaku seketika berdiri merasakan sentuhan ringannya di punggungku yang kini beranjak naik ke leher. Saat berbalik, aku tak menyangka jika Rukia akan terang-terangan menyerangku. Dilingkarkannya kedua tangan mungilnya ke leher dan mulai menciumku, dalam. Kakinya yang sudah tak bersepatu itu sedikit berjinjit, sehingga membuat dadanya menekan dadaku.

Kedua tanganku yang tadinya berdiam di pinggangnya, kini mulai bergerak tak karuan. Naik, merasakan kontur tubuhnya yang terbentuk sempurna, menekan ke belakang untuk melarikan kedua tanganku ke punggung yang hanya terbalut kain tipis, semakin ke bawah untuk merasakan bagian tubuhnya yang sedikit sensitif dan mulai menyingkap terusannya hingga tanganku tenggelam di dalamnya.

Ciumannya tak berhenti walau hampir kehabisan nafas. Ketika aku melepas ciumannya, ia menatapku dengan matanya yang tampak sensual dan mulut sedikit terbuka. Dari celah mungil di bibirnya, aku merasakan sengalan nafas hangatnya menyentuh wajahku. Darahku mendidih dan jantungku berpacu cepat melihatnya seperti ini.

"Kapan kau minum alkohol, Rukia?" suaraku yang kini terdengar berat dan sedikit parau membuatnya semakin menekan tubuhnya pada tubuhku.

"Di warung ramen, ketika kau tak melihat. Mmmh…" dia menggumamkan jawabannya di sela-sela ciumannya di garis rahangku. Aku hanya memejamkan mata, berusaha menikmati perhatiannya padaku. Tanganku yang tak mau diam, sedari tadi hanya mengelus pahanya naik dan turun. Ia mendesah pelan ketika jariku menyentuh sedikit pakaian dalamnya.

"Rukia…" aku hanya bisa mendesiskan namanya ketika dua telapak tangannya kini mulai memberi dadaku sedikit perhatian. Disentuhnya perlahan mulai dari pundak hingga ke perut. Menggeram pelan ketika ia menyentuh bagian tubuhku yang paling sensitif.

"Apa kau sudah tak sabar, Ichigo?" suaranya yang terdengar erotis di telingaku dan ciumannya di leherku membuat aku tak bisa menahan diri lebih lama. Kupojokkan ia di dinding dan mulai menciumnya. Tak butuh waktu lama bagiku untuk merasa tubuhku seperti terbakar. Aku bisa menjadi seperti ini walau hanya melihat tubuhnya terbuka sedikit. Dan jangan bayangkan apa yang akan terjadi jika ia terang-terangan menginginkanku saat ini juga.

"Hnnn…" di sela ciuman yang semakin panas, kedua tanganku yang masih mengelus pahanya kini mulai menyentuh bibir dalam Rukia yang masih terbungkus pakaian dalam. Dia sedikit gemetar merasakan sentuhanku. Kedua tangannya menarik rambutku dan mengusap belakang leherku. Karena semakin tak tahan, aku menyampingkan pakaian dalamnya hingga aku bisa memasukkan jari telunjuk dan jari tengahku. Perlahan aku mulai menyentuhnya dari bawah ke atas. Jariku basah karena cairan yang dikeluarkannya. Telingaku panas ketika Rukia melepas ciuman dan semakin kencang meneriakkan namaku sambil mengambil nafas dengan cepat.

Bibirku yang tak ingin diam, beralih menyerang garis rahang hingga mengulum daun telinga kirinya. Ia semakin mendesah ketika jari tengahku perlahan kumasukkan ke dalam dirinya. Terus kumasukkan hingga semua digit tenggelam di dalamnya. Kemudian kubawa masuk dan keluar secara perlahan, merasakan dinding kewanitaannya mengencang dan seakan menarikku semakin ke dalam.

Aku yang merasa bertambah panas kini turut memasukkan jari telunjukku dan membuatnya bergerak lebih cepat. Kedua tangan Rukia kini mulai mencengkeram pundakku karena sensasi yang tengah ia rasakan. Aku tetap saja menggerakkan kedua jariku keluar masuk sambil memberi leher jenjangnya beberapa tanda kemerahan dari bibirku. Satu tanganku yang lain menopang tubuh mungilnya dengan memegang erat pinggangnya agar ia tak bergerak terlalu banyak.

Rukia semakin gemetar ketika jempolku menemukan satu titik yang teramat sensitif. Sembari kedua jariku masih bermain di dalam dirinya, aku mengusap klitorisnya hingga terasa menegang dan mengeras di bawah sentuhanku. Ketika aku menekannya sedikit, aku merasa cairan Rukia keluar dengan intensitas yang cukup banyak. Mengetahui jika ia telah sampai pada titik puncak orgasme, aku mengeluarkan kedua jariku. Ketika aku melihatnya, telapak tanganku turut basah oleh cairannya. Tanpa ragu, aku menjilat tanganku di depan Rukia yang menatapku dengan mata setengah tertutup. Dia mendesah melihat pemandangan di depan matanya.

Merasa tak puas, aku langsung berlutut di hadapannya. Langsung saja kumasukkan kepalaku ke dalam terusannya dan menarik turun celana dalam putihnya dengan menggunakan mulut dan gigiku. Ketika ia melempar celana dalamnya dengan sebelah kaki, aku menghembuskan nafas di kewanitaannya dan mencium wanginya yang menguar. Di sela cahaya remang karena masih berada di dalam terusannya, aku melihat cairan berwarna putih yang menetes dari ujung rambut halus berwarna hitam miliknya. Ini membuat celanaku terasa semakin ketat dan menyakitkan.

Setelah puas menghirup wangi kewanitaannya, langsung saja aku menjilat labia yang masih basah dengan cairannya. Kedua tanganku menopang tubuh Rukia yang kurasakan kini tengah merosot dari dinding. Perlahan aku menempatkan kedua kakinya di pundakku dan mulai menikmati apa yang ada di hadapanku. Rukia semakin mendesah tak karuan ketika merasakan lidahku yang mulai kumasukkan ke dalam dirinya dan jari-jariku yang kembali memainkan klitorisnya.

Rasanya sungguh luar biasa. Aku bingung jika harus mengatakannya. Semua ini terlalu familiar buatku. Tapi tetap saja terasa seperti saat aku baru melakukannya untuk pertama kali. Nafsuku yang sudah tinggi kini semakin meroket ketika Rukia kembali menegang dan mengeluarkan cairannya ke dalam mulutku. Dengan cepat aku menelan semuanya dan menjilat kewanitaannya hingga bersih.

Ketika aku mengeluarkan kepalaku dari dalam terusannya, Rukia merosot dari pundak dan kini duduk di pangkuanku. Dadanya naik turun dengan cepat, matanya tertutup dan mulutnya terbuka untuk membantunya mengambil nafas. Kini kewanitaannya terpampang jelas di mataku jika aku melihat ke bawah, sebab kedua kaki Rukia masih berada di pundakku. Saat ia membuka mata, wajahku sudah berada di depan wajahnya. Tak ambil pusing, aku langsung menciumnya dalam. Membiarkannya merasakan dirinya sendiri.

Aku merasa kedua kakinya ia turunkan dari pundakku dan kini ia kaitkan di belakang pinggangku. Kedua tanganku mulai sibuk untuk melepaskan terusan yang dipakainya. Kami melepas ciuman sebentar hanya untuk melepas terusannya. Aku kembali menciumnya dan mulai memijat pelan kedua payudaranya yang masih tertutup bra. Bisa kurasakan putingnya yang sudah mengeras di telapak tanganku. Saat lidahku dan lidahnya berpagutan, aku meraih kaitan bra di punggungnya untuk kulepas. Setelah Rukia benar-benar tanpa busana di pelukanku, baru aku benar-benar melepas ciuman dan mulai menatapnya dari permata biru-violetnya sampai ke kewanitaannya yang kembali mengeluarkan cairan. "Kau curang… Ichigo…" ia berusaha bicara di sela nafasnya yang semakin cepat.

"Hm? Curang kenapa?" aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan kemudian menjilat bibirnya. Rukia sama sekali tak menjawabku. Malahan ia menarik pelan baju yang masih kukenakan. Mundur dari wajahnya dan menatap ke bawah, aku baru sadar jika aku masih berpakaian lengkap. Bahkan sweater hitamku sama sekali belum kulepas. Mengetahu hal ini, aku hanya menyeringai ke arahnya.

"Jangan… menyeringai… bodoh." Nafasnya yang panas itu kembali kurasakan di wajahku. Aku hanya tertawa pelan dan mulai menjilat garis rahangnya hingga ke telinga. Aku menghujani wajahnya dengan kecupan singkat dan berakhir di bibir manisnya. "Ichigo…"

"Hmm…" kini ciumanku beralih ke lehernya. Kembali aku menghujaninya dengan kecupan kecil. Seketika aku berdiri dengan membawa tubuh mungilnya di pelukanku dan berjalan menuju sofa. Setelah duduk dengan nyaman, aku membiarkan dirinya duduk mengangkang di pangkuanku. Kedua tangannya ia lingkarkan di leherku. Tak ketinggalan, kedua tanganku pun kulingkarkan di pinggangnya. Saat aku menarik diri dari lehernya, aku hanya menatapnya walau celanaku semakin terasa terlalu kencang. Mungkin ia sudah merasakan ujung kejantananku yang menyentuh kewanitaannya sedari tadi.

Dengan masih melihat kedua mataku, aku tahu kedua tangannya turun dari belakang leherku dan meuju pundak. Dan kini keduanya tengah membuka satu per satu kancing berwarna hitam dari sweater yang tengah kukenakan. Dia sengaja melakukannya secara perlahan untuk menyiksaku. Walau aku tetap menatap matanya, tapi dari ujung mataku aku masih bisa melihat tubuhnya dengan bantuan cahaya bulan yang menerobos dari sela tirai jendela di samping sofa dengan jelas.

Kedua dadanya yang mungil dengan puting berwarna kemerahan, leher jenjangnya, kulit putih bagai porselen dan wangi tubuhnya yang membuatku gila. Aku tak pernah merasa lelah jika harus melihat pemandangan ini seumur hidupku. Bahkan kalau perlu, hentikan saja waktunya agar aku bisa terus menatap dewi di hadapanku ini.

Entah apa yang ia lakukan, kini aku baru sadar jika sweater dan kaos yang tadi kukenakan sudah tak kupakai lagi. Dia melepas pandangan matanya dari mataku dan mulai melihat dadaku yang kini terpampang jelas di depannya. Kedua tangannya mulai bereksplorasi secara bebas dari tangan hingga otot perutku. Aku berusaha menekan desahan yang ingin keluar kari bibirku ketika mulut manisnya mulai memberi ciuman basah di sepanjang leherku. Seketika itu aku menutup mata dan menyandarkan kepalaku di sandaran sofa. Memberinya lebih banyak akses ke leherku.

"Ichigo…" aku sedikit menggeram merasakan Rukia mengigit leherku. "Aku…" ia mulai menjilati leherku dan sampai di telingaku. "Hamil…" satu kata terakhir dari mulut manisnya yang kini mengulum daun telingaku seraya membuat kedua mataku terbelalak lebar dan tubuhku menegang.


Another end?


A/N2: CRUEL! Apa itu yang ada di pikiran anda? Khukhukhu~ #plak! Well… saya rasa endingnya bagus di situ. Kalau saya lanjutin aksinya sampai selesai, rasanya berita gembira itu jadi terasa hambar. Yang mau saya tekankan di chapter ini bukan tentang sex, tapi apa yang mau diomongin Rukia. Uuuh~ anggap aja Rukia gak tahan sama alkohol. Oke, aku tahu orang hamil gak boleh minum alkohol, dia cuma minum dikit kok. #samaajabego! Ah, kejam. Jangan ngeroyok dong… ngamuk aja di Review. Bye-Bye~ XD