New Year Party of 2014
Source : Shin Megami Tensei Persona 4
Disclaimer : ATLUS own Persona 4. Kalau aku yang punya, ceritanya bakalan jadi full SouNao.
Author's Note : Ini chapter 1 part 2-nya. Kalau digabung, takutnya terlalu panjang, makanya aku bagi dua. Untuk Togane Shiro senpai dan The God Emperor of Mankind senpai yang udah review chapter 1 part 1 makasih banyak ya! Mudah-mudahan aku bisa menjadi lebih baik berkat review dari senpai semua ^^ Selamat membaca~
~ Chapter 1: The First Day ~
Part 2
"Ya… salju yang indah… dan putih…" lanjut Souji. "Oh iya, ini. Kau juga gunakan saja sarung tanganku ini, a—" kalimatnya terpotong ketika Naoto menggenggam kedua tangannya.
"Tidak usah senpai… tidak apa-apa," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Senpai sudah membuatku merasa hangat dengan syal ini dan aku tidak mau malah senpai sendiri yang menjadi kedinginan…" ucapnya sambil tersenyum tipis. Warna merah masih terlihat di hidungnya. "Terima kasih."
Souji menuruti Naoto dan kembali memakai sarung tangannya dengan rapi. "Sama-sama, Naoto," balasnya. Mereka berdua pun melanjutkan mencari tangga menuju Riverbed dibawah rintik-rintik salju. Saat Souji melirik Naoto, tampak gadis itu sedang membenamkan pipinya kedalam syal coklat tua milik Souji. "Kau kelihatannya kedinginan sekali," Souji khawatir.
"Hmm?" Naoto mendongak. "Ah, i—iya… sedikit," jawabnya pelan sambil kembali membenamkan pipinya.
"Tapi kau tampak gemetaran begitu… kau baik-baik saja?"
Naoto mengeluarkan pipinya dari dalam syal, "Umm… sebenarnya, aku tidak kuat cuaca dingin… apalagi salju seperti ini…" jawabnya menyesal. "Kalau aku kedinginan begini, biasanya langsung… langsung—hatchim!" ia bersin. "Langsung flu…" lanjutnya sambil menutup hidung dan mulutnya, kemudian ia turunkan lagi.
Souji panik, "Ka—kalau begitu sekarang langsung pulang saja… rumahmu kan cukup dekat dari sini. Biar kuantar," ucapnya dengan nada perintah tapi masih terdengar khawatir sambil memegang kedua pundak Naoto.
"Tapi kan senpai…"
"Sudahlah, jangan paksakan dirimu sendiri! Ke Samegawa Riverbed kan bisa kapan saja. Sekarang yang penting kamu jangan sampai demam…" nada suaranya agak naik, lalu menurun lagi menjadi nada khawatir saat mengucapkan kalimat yang terakhir.
Naoto hanya bisa diam tertunduk dan meminta maaf, "Maaf ya senpai… gara-gara aku…"
Pria berambut abu itu menggelengkan kepalanya, "Tak apa… justru kalau kamu sampai demam dan flu gara-gara menemaniku, aku akan sangat merasa bersalah." Lalu ia menggandeng tangan kanan Naoto, "Ayo jalan, aku antar kau ke rumahmu" dan melangkah maju.
"Hufft!" suara menahan tawa pun terdengar. Souji menoleh kearah sumber suara dan melihat gadis bertopi biru itu sedang menahan tawa. "Senpai… huphft… tadi denpai bilang akan mengantarku pulang?"
Souji tampak heran dan membalas, "Ya… lalu apa yang lucu?"
"Huupht! Senpai, apa senpau tau rumahku dimana?" Naoto masih berusaha menahan tawa.
"Uh… umm… yah, berhubung aku baru mengunjungi rumahmu sekali, jadi…" ia tampak yakin. "Aku lupa… hehe… maaf. Kau tunjukkan jalannya" Souji menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah kuduga, ya sudah lagi pula rumahku memang melewati Samegawa Flood Plain ini kok. Kita maju saja terus" Naoto tersenyum sambil menunjuk ke depan dengan tangan kirinya.
"Baiklah." Souji menarik tangan kanan gadis berambut biru tua yang hidungnya memerah itu. Mereka berjalan agak cepat karena melihat keadaan Naoto yang semakin seperti orang sakit. "Kau masih bisa jalan?" nada khawatir terdengar jelas.
Naoto hanya menggangguk pelan.
Tidak jauh dari tempat mereka sekarang, ada sebuah jembatan besar yang menyambung ke sebrang Samegawa. Naoto berkata pelan, "Senpai, rumahku ada di sebrang jembatan…" Setelah mendengar itu, Souji pun belok kanan untuk menyebrangi jembatan tersebut. Salju turun semakin banyak.
Tidak lama kemudian mereka berdua sudah berdiri di depan Shirogane Residence yang besar itu.
Location: In front of Shirogane Residence gate
Souji terpaku melihat Shirogane Residence (baru gerbang depannya doing lho) yang besar itu, "Wow… aku baru ingat lagi kalau rumahmu itu besar…" Sementara Naoto sudah bersandar ke tembok sambil memencet bel dengan tangan kanannya.
Tidak lama kemudian keluarlah pria dengan kaca mata dari dalam Shirogane Residence. Pria itu tampak terkejut melihat keadaan gadis bertopi biru itu, "Naoto-sama! Anda tidak apa-apa?" pria itu tampak khawatir.
Souji memperhatikan pria itu sambil masih memegangi pundak Naoto. Terdengar suara pelan Naoto yang hampir seperti bisikan dari balik syal, "Oh… Yakushiji-san… ya… aku rasa, hanya sedikit kedinginan." Gadis itu pun tersenyum lemah dengan wajahnya yang bertambah merah. Memang, saat ini salju bertiup lebih kencang dari sebelumnya.
Souji mendorong Naoto perlahan ke arah pria berkaca mata di hadapannya, "Yakushiji-san, lama tidak berjumpa. Bisa kau rawat Naoto? Dia benar-benar tidak kuat dingin…" Pancaran dari matanya jelas-jelas pancaran mata khawatir.
Yakushiji mengangguk, "Ya, lama tidak berjumpa Souji-san. Dan serahkan saja Naoto-sama padaku. Aku akan merawatnya," lalu ia berjalan masuk sambil mendorong pelan pundak gadis berambut bitu itu. "Oh iya, apa mau masuk? Di luar dingin," tawarannya pada Souji. Naoto pun berbalik dan menatapnya.
Namun pria yang ditawari itu menggeleng pelan, "Terima kasih atas tawarannya, tapi sepertinya tidak untuk hari ini. Aku harus segera ke rumah dan menyapa paman dan Nanako," ia berhenti sebentar dan menatap Naoto, "Jangan sampai sakit ya. Baiklah, aku permisi," katanya sambil tersenyum, senyuman yang sangat hangat yang merupakan senyuman yang sangat Naoto sukai, dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Naoto hanya diam memperhatikan punggung senpainya yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia hanya menurut saat asisten kakeknya itu menyuruhnya masuk kedalam rumah.
Location: Road to Dojima's house
Souji berjalan agak cepat menuju ke rumah pamannya itu. Ia sudah merasa semakin kedinginan, tentu saja karena syal coklat tuanya ia pinjamkan pada Naoto. Tapi ia tidak keberatan sama sekali, senang malah, karena Naoto adalah gadis yang ia sukai. Tanpa ia sadari wajahnya bertambah merah hanya karena mengingat Naoto.
"Huuft… sebaiknya aku lebih cepat lagi. Sebentar lagi sampai." Souji berusaha menyemangati dirinya sendiri sambil membayangkan betapa hangatnya jika saat ini ia sedang duduk dan diselimuti kotatsu. Ia menambah kecepatan sambil memegangi ranselnya.
Location: Inside Dojima's House – living room –
Di dalam, Nanko sedang duduk dibawah kotatsu, yang dua tahun lalu dibelikan oleh Onii-channya, sambil menonton televisi. Sedangkan Ryotarou, ayah Nanako, sedang duduk di sofa sambil membaca koran.
"Hmm… Nanako, libur musim dingin ini kamu mau kema—" kalimat Ryotarou terpotong karena Nanako member isyarat untuk diam. Ia hanya bias menurut dan melihat apa yang dilakukan anaknya itu.
Nanako tampak serius memperhatikan televisi. Di layar televisi itu sedang menayangkan sebuah iklan, "… everyday is customer appreciation day—" kemudian wajah Nanako berbinar saat mendengar, "Everyday's great at your Junes~" Nanako tampak sangat senang.
Ryoutarou hanya bias terdiam dan terheran-heran melihat kelakuan anaknya itu. "Ternyata ucapanku tidak lebih penting dari slogan Junes di telinga anakku sendiri".
Location: Outside Dojima's House
Pria berambut abu itu sudah berdiri di depan sebuah rumah yang terpampang papan nama keluarga "Dojima" di samping bel. Pria itu segera menekan bel.
"Waw… rumah ini tidak jauh berbeda dengan waktu aku tinggalkan dulu. Rasanya… aku merindukan tempat ini."
Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan anak perempuan yang terasa familiar di telinga Souji. "Ya, tunggu sebentar!"
"Oh, itu pasti suara Nanako…"
GREEK…
Anak kecil yang kira-kira saat ini berusia 8-9 tahun itu mendongak, melihat siapakah tamunya. Saat mata anak tersebut bertemu dengan mata abu dihadapannya, ia hanya bias diam karena terkejut. Bola matanya melebar dan sedetik kemudian anak itu berteriak sambil melompat kegirangan dan memeluk Souji.
"Onii-chan!"
Souji hanya bisa tersenyum sambil mengelus rambut sepupunya itu. "Halo Nanako. Lama tidak bertemu ya."
Nanako masih tetap memeluk Souji, "Onii-chan! Onii-chan! Nanako sangat merindukan Onii-chan!"
Tidak lama kemudian muncullah bapak-bapak yang berambut abu tua dari balik pintu. Ia tidak tampak terkejut dan menyapa keponakannya itu dengan santai, "Oh, Souji! Lama tidak jumpa. Ayo masuk!"
Souji mengangguk dan berjalan masuk sambil tetap menggandeng Nanako yang tidak mau melepaskannya. Bagaikan ada lem yang menempelkan Nanako dengan dirinya.
Location: Inside Dojima's House – living room –
Ia memasuki rumah yang pernah menjadi rumahnya juga sekitar dua tahun lalu. Meski sudah lama, tapi Souji masih ingat denah rumah ini. Sekarang pun tidak jauh berbeda, mungkin hanya gorden yang diganti.
Nanako menarik-narik lengan baju Souji, menyuruhnya duduk dibawah kotatsu. "Ah… ini kan kotatsu yang aku belikan," ucapnya dalam hati. Setelah ia membenamkan kedua kakinya kebawah kotatsu ia berfikir, "Hangat~ Dugaanku tepat seperti saat tadi di jalan." Souji yang sedang berbahagia karena merasa hangat pun dikejutkan dengan pertanyaan pamannya.
"Hey, mau cokelat panas atau teh?" Tanya Ryotarou dari dapur.
"Uh? Eh… teh saja."
Nanako mengangkat tangan kanannya, "Nanako mau cokelat panas~"
Souji awalnya sedang memperhatikan Ryotarou, kemudian ia menoleh kea rah Nanako dan mendapati mata anak itu berbinar-binar penuh antusias. Souji yang duduk di sebelah kanan Nanako pun otomatis tersentak kaget. "Ta—tatapan ini…" ia sedikit merasa ada bad feeling, dan benar saja. Nanako semakin merapatkan tempat duduknya ke tempat Souji. Kemudian…
"Onii-chan okairi! Nanako kange~n banget! Kenapa Onii-chan tidak memberi kabar kalau hari ini akan ke Inaba? Padahal Nanako ingin jemput Onii-chan di stasiun…" gadis kecil berambut coklat keabuan itu segera membombardir Onii-channya yang tampak lelah.
"Uh… ya, itu…" Souji bingung harus menjawab apa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Untungnya setelah itu Rotarou datang dan menaruh secangkir teh dan cokelat panas.
"Nanako, tahan dulu pertanyaan-pertanyaanmy itu," ia tertawa sebentar. "Lihat, Souji kelelahan…" Ryotarou menunjuk kea rah Souji.
"Tapi kan...?"
"Sudahlah Nanako, lagipula sekarang sudah jam 6 sore. Biarkan ia istirahat dulu. Kan besok bisa kau mulai lagi," lalu Ryotarou berpaling menghadap keponakannya. "Kau beristirahat saja. Futonnya masih ada di kamarmu yang dulu. Kau belum lupa kan, yang mana kamarmu?"
Souji mengangguk dan mengelus rambut Nanko, kemudian pergi menuju kamarnya 2 tahun yang lalu. Entah mengapa ia merasa senang kembali berada di kamar itu. Dengan segera ia menyalakan lampu, melempar tasnya ke sofa, menarik futonnya lalu memejamkan matanya.
To be continue…
Author's Note: Terima kasih banyak untuk para senpai yang mau meluangkan waktunya untuk membaca chapter 1 part 2 ini. Kalau digabungin sama yang part 1, panjang ya? XD Oh iya, anggota I.T yang lain, Yosuke, Chie dkk, mulai munculnya dari chapter 2, jadi tunggu ya~ (kayak ada yg nungguin aja) =u=;a Nah, kalau ada chara yg mau complain, disini aja.
Author : "Silakan, yang pertama siapa?" *nyiapin note book kecil dan pulpen*
Ryotarou : "Aku."
Author : "Oh, padahal aku kira chara lain… *sigh* *di deathglare sama Ryotarou* Oke, apa complain kamu?"
Ryotarou : "Kok aku dipanggil bapak-bapak sih? Gak elit banget!"
Author : "Gitu aja pake nanya segala. Ngaca dong, kamu kan memang udah bapak-bapak. Memangnya kamu mau kalau aku ganti jadi emak-emak?" *devil smile*
Ryotrou : *sweatdrop* "Err… gak. Makasih."
Author : "Ohohoho…. Makanya, jangan berani melawan aku!"
Read and review please! And no flame ya, senpai-senpai yang baik X)
