New Year Party of 2014

Source : Shin Megami Tensei Persona 4

Disclaimer : ATLUS own Persona 4.

Author's Note : Maaf lama banget aku update ceritanya *bow* Sibuk banget soalnya aku DX *malah curhat* Kali ini aku upload langsung part 1 dan part 2 nya. Terima kasih banyak untuk senpai semua yang sudah me-Review chapter sebelumnya! Maaf ya banyak typo dan kesalahan-kesalahan lain di chapter sebelumnya. Oke, seperti yang sudah aku janjikan, I.T akan lengkap mulai chapter ini. Selamat membaca~

~ Chapter 2: Back with Friends ~

Part 1

Location: Inside Dojima house - Souji's room-

"Nggh…" pria berambut abu itu terlihat mulai sadar dari tidurnya. Ia masih berbaring di futonnya. Cahaya matahari sudah menembus tirai kamarnya yang berwarna abu, dan tampaknya sinar matahari pagi itu membangunkannya dari tidur.

Souji langsung duduk sambil mendorong selimutnya, berdiri, lalu membuka tirai kamarnya, yang menjadikan kamarnya diterangi oleh cahaya kuning yang hangat. Ia lalu berputar menghadap kalender yang berada di sebelah pintu kamar. "Hmm… tanggal 29 Desember ya… aku hampir lupa," gumamnya pelan. Setelah itu, Souji mengambil jam tangan biru pemberian Naoto pada malam Natal dua tahun lalu. Jam menunjukkan pukul 07.04, dan dibawahnya terdapat tulisan 'Distance: Out of range.' Tanpa ia sadari, bibirnya membentuk seulas senyum lembut.

Jam tangan biru itu ia simpan kembali ke meja. Ia berputar menghadap pintu dan membukanya kemudian turun untuk mencuci muka.

Location: Inside Dojima house –kitchen-

"Ah, Onii-chan sudah bangun? Yay!" teriak Nanako yang sedang menyimpan sarapan di atas meja. Souji hanya senyum dan menganguk, kemudian berjalan ke arah wastafel untuk cuci muka.

Souji bertanya kepada Nanako setelah mematikan kran, "Nanako, ayahmu mana?"

"Ayah sudah berangkat sejak tadi. Pagi sekali…" gadis berkucir dua itu memperhatikan kursi tempatnya akan duduk dengan tatapan sedih. Sebelum Souji sempat bicara, Nanako memotongnya, "Tapi, Nanako sekarang kan sudah besar, ditambah lagi disini ada Onii-chan, jadi Nanako tidak apa-apa kok," dan ia pun tersenyum manis.

"Baiklah. Onii-chan akan menemanimu, tenang saja. Sekarang, ayo sarapan dulu." Maka mereka berdua pun menyantap sarapan yang sudah disiapkan Nanako. Ditengah kegiatan sarapan, mereka melakukan sedikit percakapan.

"Onii-chan, Onii-chan, kenapa datang kesini tanpa memberitahu aku?"

"Hmm? Oh, ya, itu… karena Onii-chan ingin membuat kejuatan untuk Nanako," balas Souji sambil mengelus kepala Nanako.

"Umm! Nanako benar-benar senang Onii-chan kesini!" lalu gadis itu bertanya lagi, "Tapi Onii-chan tidurnya lama sekali. Tidur jam enam, bangun jam tujuh pagi. Pasti kelelahan ya diperjalanan?"

"Uh… ya… begitulah," jawab Souji sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu segera ia rubah topic pembicaraan itu, "Uhh… Nanako, biar Onii-chan saja yang mencuci piring," dan ia pun mengambil piring-piring kotor yang ada di meja.

"Oke~" jawab Nanako riang.

Selama Souji mencuci piring, ia sempat menanyakan apakah Nanako ingin ikut ikut ke Junes nanti siang untuk bertemu Yosuke dkk, yang dijawab dengan gelengan dan Nanako berkata bahwa ia sudah punya janji dengan Tsubasa-kun dan Yue-chan (yang tentu saja Souji tidak kenal siapa anak-anak itu).

Jam 10.00 Nanako sudah pergi keluar untuk bertemu teman-temannya. Souji sudah selesai mandi dan sekarang ia mengancingkan kemeja putihnya.

Sebenarnya tadi malam Souji mengkhawatirkan keaadaan Naoto, akhirnya ia tidur hampir tengah malam. "Rasanya aku juga baru tahu kalau Naoto tidak kuat cuaca dingin… aku tidak kirim email atau meneleponnya karena takut mengganggu istirahatnya," ucapnya dalam hati.

Souji mengambil jam tangan birunya dan melihat '12.00' dan 'Distance: Out of range.' Rencananya, hari ini ia akan muncul ditengah2 Yosuke dkk yang sedang berkumpul di Junes Food Court jam 12 siang ini (Souji mengetahui rencana mereka karena kemarin Naoto mengajak Souji untuk datang) untuk mengejutkan mereka. Sebenarnya, orang yang pertama tahu tibanya Souji di Inaba hanya Naoto dan Ryotarou (Souji memintanya untuk merahasiakan dari Nanako).

"Baiklah, aku berangkat sekarang."

Location: Inside Shirogane residence –Naoto's Room-

Didalam sebuah kamar yang berukuran cukup besar dan dipenuhi warna biru, seorang gadis tampak masih tertidur diselimuti bedcover hangat berwarna biru tua. Naoto masih tertidur sampai seorang pria berkacamata, Yakushiji, masuk kedalam kamar sambil membawa sebuah baskom kecil dan kain purtih kecil.

"Umm… Ya… Yakushiji-san?" Tanya Naoto sambil melirik kea rah pintu kamarnya.

"Naoto-sama, anda sudah bangun?" Yakushiji berjalan menghampiri Naoto, menangkat kompresan dan menyentuh keningnya, "Hanya tinggal sedikit hangat… syukurlah."

Naoto menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, "Uh… apa aku flu?"

"Hampir. Kalau Seta-san tidak segera membawa Anda ke rumah, mungkin sekarang keadaannya lebih parah," lalu Yakushiji melanjutkan, "Sewaktu Naoto-sama tiba di rumah, Anda selalu tertidur sampai saya datang beberapa menit yang lalu."

"Oh… ya…," lalu Naoto berusaha duduk. "Kakek masih belum pulang?"

"Belum. Shirogane-sama bilang, sepertinya ia bisa pulang saat tahun baru nanti." Yang bertanya hanya menangguk.

Lalu Naoto bertanya jam berapa sekarang dan terperanjat ketika mengetahui sekarang sudah pukul 11.30. Yakushiji sudah berusaha melarang Naoto untuk mandi tapi ia tidak peduli, dan ia malah membalasnya dengan berkata kalau ia akan mandi dengan air hangat. Yakushiji menyerah dengan keras kepalanya Naoto dan beranjak keluar kamar sambil kembali membawa baskom kecil dan dua kain putih kecil.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Naoto sudah siap. Ia mengambil topi biru kesayangannya dan berlari kebawah. Ia menolak untuk sarapan dan langsung memakai sepatu birunya dan berlari keluar rumah. Yakushiji hanya bisa diam membatu melihat Naoto yang sangat jarang buru-buru seperti itu. "Padahal saya ingin menanyakan soal syal coklat tua yang ia kenakan kemarin. Itu milik siapa? Seingat saya, Naoto-sama tidak pernah memakai syal itu sebelumnya." Karena Naoto sudah keluar, ia hanya bisa berteriak , "Hati-hati dijalan! Dan jangan lari-lari seperti itu, Anda belum sehat sepenuhnya!"

"Aku terlambat… hosh… hosh…," gumam Naoto pelan sambil berlari.

Location: JUNES –Food Court-

Di salah satu meja di JUNES Food Court, duduklah lima remaja yang sedang berbincang-bincang. "Dude, kemarin cuaca bersalju. Dingin sekali!" ucap pria berambut coklat dengan headphone oranye yang setia mengelilingi lehernya.

"Yah, ini kan masih bulan Desember," tambah gadis berambut hitam panjang dengan bando merah di kepalanya.

"Dingin sekali, aku bahkan sampai membatalkan rencanaku untuk latihan Kung Fu di Samegawa Riverbed!" seru gadis berambut pendek berwarna coklat muda itu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Pria berambut silver muda hanya menjawab acuh tak acuh sambil meminum minuman yang baru dibelinya, "Aku jadi harus seharian membantu ibuku di rumah…"

Disaat mereka berempat sedang membicarakan betapa dinginnya kemarin, seorang gadis berambut merah kecoklatan yang diikat dua itu hanya diam sambil celingukan, sampai terdengar sebuah pertanyaan untuknya, "Hei Rise-chan, ada apa? Dari tadi diam saja."

Gadis bernama Rise itu mengerjapkan matanya dua kali karena terkejut, lalu menjawab, "Oh, kau membuatku terkejut Chie senpai!" tangannya memegangi dadanya, ingin tahu apakah jantungnya masih ada atau sudah jatuh sedetik tadi. "Uh… ada yang lihat Naoto? Dari tadi aku tidak melihatnya."

Chie melirik jam tangannya, "Oh iya, ini sudah jam 12.20," lalu memalingkan wajahnya ke arah pria ber-headphone, "Kau lihat, Yosuke?"

Yosuke menggelengkan kepala, "Yukiko atau Kanji, ada yang tahu?" dan hanya dijawab dengan gelengan kepala.

Mereka berlima sibuk mendiskusikan detektif yang terlambat itu sehingga tidak menyadari bahwa tidak jauh dari mereka berdiri seorang pria berambut abu sedang memperhatikan mereka. "Mereka sibuk sekali. Hmm… kurasa aku akan muncul sekarang saja," ucapnya sambil tersenyum usil dan melangkah ke arah meja teman-temannya.

Souji sudah berdiri di belakang kursi Rise, tapi tidak ada yang menyadari keberadaannya. Tersenyum tipis, lalu Souji menutup kedua mata merah kecoklatan milik sang artis idola dengan telapak tangannya. Tiba-tiba semua anggota I.T terdiam saat kalimat Rise terpotong dan digantikan dengan, "Huh…?" Mereka semua berpaling melihat siapa yang menutup mata Rise. Mata keempat remaja tersebut terbelalak saat melihat sosok 'Leader' mereka.

"Sou—sou!" Yosuke tergagap. Yang lainnya pun sama saja, "Sen—sen!"

Rise yang tidak tahu apa-apa menggerutu kesal, "Mou! Ada apa sih? Siapa yang berani menutup mataku seperti ini?" ia melepaskan tangan itu dari wajahnya dan menoleh ke belakang. "Tidak mungkin kan kalau ini Nao—" kemudian ua hanya bisa menampakkan ekspresi terkejut saat melihat Senpai nya yang satu itu.

"Hai!" ucap Souji sambil melambaikan sedikit tangan kanannya.

Tidak ada yang membalas sapaannya, semuanya diam, sampai Rise mengerjapkan kedua matanya, menggelengkan kepalanya untuk memastikan ini bukan mimpi belaka. Saat ia yakin, dengan segera Rise mengeluarkan tatapan berbinarnya yang imut lalu melompat dan segera memeluk Senpai nya itu, "Kyaaaaaaa! Souji senpai!" Karena pelukan Rise yang terlalu bersemangat, sampai-sampai Souji terjatuh.

"Itte… tte…," Souji merasa kedikit kesakitan. "Sepertinya mereka benar-benar tidak dapat bocoran aku akan ke Inaba ya. Mereka berdua penjaga rahasia yang bagus," ucapnya dalam hati.

Dengan susah payah ia mencoba berdiri, karena Rise masih terus memeluknya dengan sangat erat. Akhirnya Souji bisa berdiri dan mendapati Yosuke, dkk. berdiri diam sambil menatap dirinya. Ia mencoba mengembalikan mereka ke bumi dengan menyapa ulang, "Hai. Sepertinya kalian baik-baik saja ya." Lalu perhatiannya kembali ke gadis berkucir dua yang mulai membuatnya sulit bernafas. Saat Souji berusaha melepaskan diri dari Rise, tiba-tiba seluruh anggota I.T ikut memeluknya dari segala arah.

"Souji-kun!" teriak Yukiko dan Chie bersamaan.

"Senpai!" teriak Kanji, namun ia tidak memeluk Souji, hanya memperhatikan.

Yosuke berdiri di hadapan Souji yang kewalahan karena dipeluk tiga gadis manis sekaligus. Yosuke hanya bisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil geleng-geleng, tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. "Oh, c'mon girls! Tidak bisakah kalian lihat, Leader kita hampir mati kehabisan nafas?" ucapnya yang mulai khawatir melihat keadaan 'Partner' nya itu.

Ketiga gadis itu pun melepaskan pelukan maut mereka dan melihat Souji yang akan siap pingsan apabila tidak segera mendapatkan oksigen.

"Ow… sorry," kata Yukiko.

"Ah, maaf Leader!" Chie lalu mundur beberapa langkah.

Rise tertawa dan melangkah mundur dengan kedua tangan dibelakang, "Haha… gomen senpai~."

"Kami benar-benar merindukanmu senpai. Apa kabar?" tanya Kanji.

"Aku juga. Dan aku baik-baik saja disana, terima kasih," jawabnya sambil tersenyum.

Mereka pun kembali duduk di kursi masing-masing. Souji duduk diantara Yosuke dan Yukiko, dimana seharusnya kursi itu untuk Naoto. Menyadari bahwa kekasihnya tidak ada diantara mereka, ia bertanya.

"Naoto kemana?"

Yosuke menoleh kearahnya, "Partner, kita tadi sedang membicarakan hal itu, sampai kau menutup mata Rise."

"Uhuh! Padahal sekarang sudah lewat setengah jam dari waktu janjian," tambah Rise.

"Padahal seingatku Naoto-kun tidak pernah terlambat seperti ini…," Yukiko ikut menambahkan.

Kanji mencondongkan tubuhnya ke depan, "Justru dia yang paling sering On Time kan?"

Tiba-tiba Souji ingat kejadian kemarin. Naoto kedinginan dan Naoto yang tidak kuat cuaca dingin. Yah, meski cuaca hari ini lebih hangat dan cerah dibandingkan kemarin. Tapi bagaimana kalau ternyata Naoto benar-benar sakit karena menjemputnya kemarin?

Souji menggelengkan kepala untuk menghilangkan fikiran-fikiran negative tersebut. Ia diam sesaat lalu melihat jam tangan biru pemberian Naoto. 'Distance: 20m', Souji terkejut sekaligus senang melihat jarak yang ditampilkan oleh jam tersebut. "Tidak jauh," ucapnya.

"Hmm?" Yosuke melirik jam tangan Souji. "Oh, right. Jam itu bisa menunjukkan jarak antara kau dan Naoto ya." Ia pun tersenyum usil.

"Ah, iya ya. Souji-kun dan Naoto-kun punya jam yang sepasang itu ya." Chie mencondongkan tubuhnya untuk melirik jam tangan Souji, "Enak ya… apalagi itu kan buatan tangan Naoto. Aku yakin kau sangat senang waktu menerima jam itu." Souji hanya bisa tersenyum bahagia.

To be continue…

(to part 2)

Author's Note: Part 1 beres! Silakan baca ke part 2 nya *waves hand* XD