'Aku harus melindunginya! Bagaimanapun caranya, aku harus melindunginya! Aku harus bisa melindunginya! Meski nyawa taruhannya, karena posisi itu telah kusandang!' pikir Taka sambil memeluk Karin yang kini menutup matanya sambil berteriak.

"KYAAAAAAAAAAAAAAA!"

Truk pick up itu semakin mendekati mobil itu dan—

CKIIIIIIIIIIIIIIIT!

BRAAAAK!


An EyeShield 21 FanFiction

Title : Dialogue

Chapter 2 : Illusion

Disclamer : Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki and Yuusuke Murata

Written by : AngelFlash689

Idea by : AngelFlash689

Pairing : YamaKarin, slight TaKarin

Genre : Romance, Tragedy

Rated : T

Warning : OOC, gaje, abal, chara death, ancur, nista, TYPO dan lain sebagainya.

Pesan : Banting hape, komputer, laptop dan barang lainnya yang digunakan untuk membaca fic nista ini. Tombol 'back' masih setia menunggu untuk di-klik.

Don't Like Don't Read!


Seorang gadis berambut krem kecoklatan memandang datar ke arah sebuah jendela ruangan tempatnya berada kini yang terbuka lebar. Tatapannya kosong, seakan-akan tidak memandang apapun yang berada di depan kedua bola mata kremnya. Sedemikian pula dengan tatapannya, pikirannya pun juga menerawang jauh; tidak seperti memikirkan sesuatu. Kosong—seolah-olah tidak ada nyawa dan jiwa di dalam raga gadis itu. Seolah-olah ia hanya boneka hidup saja.

Perban putih membalut kepalanya dan kedua tangannya. Putih kapas dan plester menghiasi rona wajah cantiknya danlengannya. Kakinya terselimuti selimut putih bersih. Terlihat jalinan selubung infus menembus pergelangan tangannya dan terhubung pada kantong infus di atas kepalanya. Sepertinya, ia baru saja mendapatkan kecelakaan yang parah.

Dari balik celah pintu yang terbuka sedikit, terlihat sebuah kristal oniks yang memandang miris gadis berambut krem tadi. Di genggaman kedua tangannya, terlihat sebuah nampan berisikan beberapa mangkuk dan piring makanan—makanan untuk gadis tadi. Ia ingin memberikan makanan itu ke gadis itu, tapi ia terhenti. Ia tahu, makanannya akan segera dingin, namun pemandangan di depannya jauh lebih dingin dan—miris.

Berulang kali, kedua bola matanya seakan membiaskan pemandangan yang sama. Berulang kali dan berulang kali. Tidak ada perbedaan. Semua seperti sebuah film yang diputar terus-menerus. Dan setiap ia melihat potongan film itu diputar lagi, hatinya tersayat, terluka dan sakit. Sakit sekali.

Memberanikan diri, lelaki yang sedari tadi menggenggam erat nampan di balik celah pintu masuk ke dalam ruangan bernuansa putih tempat gadis itu berada. Raut wajahnya seakan dibuat sebaik mungkin—berusaha untuk tersenyum—namun, miris masih tersirat.

"Karin..."

Suara hangat mulai memecah keheningan ruangan itu. Sang gadis masih tetap pada posisinya—tak bergerak satu milimeter pun ketika mendengar suara tersebut. Suara yang memanggil sebuah nama yang sebenarnya adalah nama gadis itu sendiri. Mata cokelat itu masih menatap kosong jendela di hadapannya.

Menghela napas, sang lelaki berambut liar dan berwarna hitam kecoklatan itu segera mendekat sambil masih membawa nampan. Mengambil tempat duduk di samping gadis itu, ia segera meletakkan nampan tersebut di pangkuannya.

"Karin ... aku membawakan sarapan untukmu. Kau makan, ya," ucap lelaki bernama Yamato Takeru itu sambil mengangkat lagi nampannya. Namun, respon yang ia dapat hanyalah kesunyian. Kesunyian dan kesenyapan di pagi yang cerah itu. Ia seperti bicara sendiri tadi.

"Karin ... ayo makan," ajak Yamato lagi. Tapi Karin masih tetap tidak bergeming. Bibirnya masih beku untuk berkata dan lehernya masih kaku untuk sekiranya menoleh. Gadis itu seakan tidak memiliki cahaya kehidupan. Padahal, dulu ia begitu bersinar sebagai seorang Quarter Back Teikoku Gakuen. Tapi, sekarang semuanya seolah lenyap begitu saja.

Yamato menyerah. Kata-kata yang sedari tadi ia ucapkan dibalas oleh kebisuan yang dalam.

Ia meletakkan mangkuk yang sedari tadi dipegangnya kembali ke nampan. Kembali ditatapnya gadis berambut cokelat krem di hadapannya—miris. Ruangan itu kembali disergap keheningan yang menyakitkan.


Flashback

BRAAAAK!

DRAAAK!

Mobil itu sukses menabrak pagar pelindung jalan dan sialnya, membuat mobil itu jatuh meluncur ke sebuah jurang gelap. Gelap, bagaikan tidak berdasar. Gelap; hanya itu yang bisa dirasakan Karin di dalam mobil itu tiga puluh menit setelah suara tubrukan mobil dan pohon serta tanah terdengar.

"Ugh..." gumamnya ketika ia sadar. Sejenak, ia merasakan sakit yang menjalar di punggungnya. Namun, selain rasa sakit, ia juga merasakan kehangatan yang juga menjalar di tubuhnya. Segera saja ia mengerjapkan kedua matanya.

"Ugh ... Taka..." ucapnya memanggil nama suaminya kini. Namun, tiada jawaban. Buram masih mewarnai penglihatannya. Ia pun bergegas mengucek kedua matanya hingga benar-benar jelas. Dan ketika pemandangan di kedua lensa matanya mulai menjernih, yang ia dapati adalah sebuah tux putih.

"T-Taka ...," gumam gadis itu sambil mendongakkan kepalanya ke arah pasangannya. Ia mendapati wajah suaminya yang kini terlihat sedang meringis; menahan sakit dan—melindungi dirinya.

"Taka! Kau tidak apa-apa?" ucap Karin sambil melepaskan pelukan lelaki berambut putih itu dan lalu menggoyangkan tubuh Taka perlahan. "Taka, jawab aku ...! Kumohon ...!" pinta Karin dengan nada lembut namun tegas. Raut wajah khawatir tidak bisa ia sembunyikan di balik wajah cantiknya itu. Keringat dingin mengucur di pelipisnya, sementara jantungnya berdegup tidak karuan.

"A ... aku ... tidak apa- ... apa, Karin...," jawab lelaki berambut perak itu dengan sebuah senyum tipis di bibirnya. Senyum untuk menahan sakit di punggungnya yang menghantam dashboard mobil. "Ugh!" pekik kecil pria itu. Sakit menjalar di punggungnya dan pening sudah menyerang kepalanya yang mengucurkan darah segar.

"Taka!" pekik Karin khawatir. "Darahmu banyak sekali!" pekiknya lagi sambil melihat darah yang menodai rambut perak panjang lelaki itu berikut setelan tuxedo putih dan juga dress putih milik Karin.

"Bertahanlah, Taka! Aku akan segera menutup lukanya!" kata Karin kemudian. Ia pun segera melihat beberapa barang yang berada di jok belakang mobilnya—yang sudah berantakan. Ia pun melepaskan pelukan suaminya dan beranjak ke jok belakang.

"Tunggu sebentar, Taka. Sepertinya aku menyimpan kotak P3K di sini. Aku akan segera menutup lukanya!" ucap Karin sambil mencoba mencari kotak P3K tersebut yang sekarang entah terselip dimana.

"Tidak usah ... Karin. Aku ... tidak—"

"Kau diam saja, Taka. Aku pasti akan menemukannya dan menutup lukamu!" potong Karin sambil terus mencoba mencari kotak P3K tersebut.

"Tapi Karin—ugh!" terdengar Taka mulai merasakan sakit lagi. Sejenak pusing mulai merasuki kepalanya, sementara pandangannya mulai mengabur sejenak dan kesadarannya mulai menghilang. Tidak mungkin! Ia tidak bisa—

"Ah! Aku menemukannya!" pekik Karin riang. Cokelat amber-nya terlihat berbinar melihat kotak berwarna putih dengan tanda tambah merah di tengahnya. "Taka, aku menemukannya! Aku akan menutup luk—"

Grep.

Mendadak, Karin merasakan pelukan hangat menyambutnya. Matanya membelalak; terkejut. Hampir saja kotak P3K di genggamannya terjatuh. Pelukan erat terasa di punggungnya, sementara sebuah beban tiba-tiba menindih pundaknya. Napas berat terasa di lehernya. Sementara ia tidak mampu berkata apa-apa. Lelaki itu memeluknya.

"Ta ... ka..."

Tiada jawaban. Napas berat masih terasa di lehernya. Napas berat yang hangat. Keringat masih mengucur di pelipisnya, sementara perasaan gelisah dan sesak mulai memenuhi hatinya. Firasat buruk.

"Ta ... ka..."

Masih tiada jawaban. Hanya terdengar napas yang semakin berat di lehernya. Sementara pelukan erat masih tidak terlepas.

"Karin..."

"Ya, Taka...?"

"Aku..."

End of Flashback


Lamunan kembali melontarkan Karin ke dunia tempat tubuhnya berada. Ia menoleh, merasakan kekakuan lehernya. Kelopak matanya mengedip sekali. Pandangannya terlihat kosong dan datar. Lalu bibirnya terbuka secelah. Kering dan kaku. Mulutnya mengeluarkan sebuah suara yang penuh kerinduan—

"Taka..."

Matanya menangkap sesosok tubuh yang membaringkan kepalanya di samping tangan kanannya. Rambut keperakan di sisi tangannya itu tergerai,menutupi separuh wajah pemiliknya. Mata sosok tertutup, lelap seperti tertidur.

Perlahan Karin menggerakkan tangan kanannya yang kaku ke arah kepala sosok di sampingnya itu. Diusapnya pelan kepala orang yang teramat disayanginya itu, yang ditakutinya akan meninggalkannya. Sinar matanya melembut dan sebuah senyum terukir di bibirnya yang kering.

Kemudian, digenggamnya tangan besar milik Taka. "Aishiteru," lirih dan pelan kalimat singkat itu meluncur dari bibir pucat Karin.

Tiba-tiba, kelopak mata milik Taka terbuka. Namun, bukanlah jingga yang terlihat, melainkan warna oniks. Karin berkedip sekali, dan sosok itu tiba-tiba berubah wujud menjadi sahabat dekatnya selama ini—Yamato.

"Karin..." desah Yamato.

"Dimana Taka?"

"Taka di—"

Tiba-tiba, pintu kamar tersebut terbuka. Dan kemudian terlihat sebuah sosok dari balik pintu tersebut. Kedua orang di dalam menoleh ke arah pintu yang dibuka itu.


To Be Continued


Terimakasih buat Iin cka you-nii, Lionel Sanchez Afellay, Mitama134666, matsura akimoto, gyucchi, dan dimascommanderhell. Sudah dibalas lewat PM =)

Buat:

five : Bagus? Arigatou! XD. Pertamanya agak nggak yakin mau publish fic ini, tapi maaf ya nggak bisa update kilat. Ini aja udah telat berapa bulan gitu #dibuang. Kami berdua kemaren-kemaren itu lagi sibuk sama urusan masing-masing. Hmm, soal pairing... kasih tau nggak yaa? Liat aja deh nanti! ;) #plak

.

Oke, pertama-tama, kami ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya karena baru update sekarang. Bulan-bulan kemarin kami sibuk dengan berbagai urusan dan sering tidak bertemu atau saling mengontak. Kami juga sedang menderita WB akut pada saat proses pengerjaan fic ini, jadi baru bisa terselesaikan sekarang. Hontou ni gomenasai, minna... m(_ _)m.

Untuk chapter selanjutnya, kami usahakan bisa selesai paling tidak dalam waktu satu bulan, tapi kami tidak janji dengan itu. Itu hanya perkiraan.

Nah, sekarang, bisa tinggalkan beberapa concrit atau ramblingan-gaje-terserah-apapun-itu di kotak review ini?