Everything Mello Can Do, Near Can Do Better

.

.

.

Rate: T

Disclaimer: Tsugumi Ooba, Takeshi Obata

Warning: udah lupa macem2 warning. Yang penting hampir aman. Gitu aja kok repot XD

.

.

Selasa…

Hari kemarin ternyata bukan kiamat. Matt salah memprediksikan. Mungkin insting Matt mulai tumpul dan dia perlu mengasah kepalanya hingga botak dan insting tajamnya akan kembali.

"Enak aja, gue suka rambut gue," kata Matt, yang entah kenapa, kayaknya ngomong sama author.

Seperti biasa, Mello ngelempar tasnya dan langsung pasang tampang nggak enak yang emang dari sananya udah nggak enak.

"Kemarin gue kalah! Sekarang nggak bakal!" teriak Mello, seakan memproklamasikan kemerdekaan untuk dirinya sendiri. "Denger nggak, woy?"

"Boleh juga," kata Near. Dia melempar buku setipis 'Cara Kilat Belajar Judo Dalam Waktu Sedetik' ke arah Mello, tanpa menoleh. "Menangkis itu saja tidak bisa, kau mau menantangku?" tanya Near yang tahu kalau buku itu tepat mendarat di jidat Mello yang mulus.

Mello membanting buku itu ke lantai dengan keras. Near menoleh ke Mello. Mello membalas tatapan Near, melancarkan serangan listrik tak kasat mata lewat matanya dan tiba-tiba guru pun datang.

"Selamat pagi," sapa guru.

"Selamat pagi," kata murid-murid kecewa yang tidak bisa melihat pertandingan live MelloxNear.

"Lho, kok pada lemes? Belom makan?" tanya L. "Saya juga."

"Cepetan mulai, deh," suruh Mello. "Saya kebelet."

"Ke toilet dong, daripada pelajaran nanti terganggu," kata L.

"Kebelet bunuh orang maksudku!"

L melirik Mello dengan sorotan pandanya, dan kemudian memerintahkan murid-murid untuk buka buku, karena L akan menjelaskan. Matematika adalah yang paling gampang menurut Mello, tapi menantang Near dalam Matematika merupakan maut untuk Mello, jadi Mello mengurungkan niatnya.

"Apa kalian sudah baca materi bab ini?" tanya L.

"Belom," jawab murid-murid jujur. Satu-satunya yang nggak jujur adalah Near, karena dia cuma pingin ngikutin arus. Menantang arus itu bahaya, pikir Near.

"Kalian bukan murid yang benar," kata L. "Kalau begitu saya akan menjelaskannya secara panjang lebar."

Belum sepuluh menit kelas berjalan, tiba-tiba kelas langsung duduk manis dan ketiduran. Murid udah pada ngantuk dan nggak terpengaruh sama goncangan dan muncratan dari L. Akhirnya L bertindak.

"Nah, hasilnya ini kita kalikan. Dua kali dua sama dengan tu…"

"…juh," jawab anak sekelas.

"Empat," ralat Mello dan Near berbarengan.

"Jadi yang nggak ngantuk cuma dua orang?" tanya L. Anak-anak sekelas ngeliatin Mello dan Near. Kemudian mikirin apa yang dibilang L tadi. Tiba-tiba mereka ketawa sendiri dengan sadis.

"Ngantuk pun gue tau dua kali dua itu empat," jawab Mello.

"Kamu ngantuk ya, Mihael?" tanya L.

"Nggak pak. Gue suka Matematika soalnya," kata Mello yang menutupi wajahnya dengan buku yang diberdirikan, melindungi wajahnya dari sengatan matahari –sengatan mata L maksudnya.

"Kalo gitu kenapa kamu pakai bahasa gue-elo?" tanya L. Tiba-tiba Mello sadar diri.

Dia berbisik ke Matt. "Gue bilang gitu tadi?" Matt cuma mengedikkan bahu dan siap-siap untuk disuapin cacing kremi sama Mello.

"Kecuali Mello dan Near, silahkan semuanya keliling lapangan tujuh kali. Supaya nggak ngantuk," kata L.

Hampir semuanya protes. Tapi akhirnya mereka pasrah karena nggak mau dikasih nilai E sama L.

"Kamu bisa menjawab dua kali dua, makanya nggak usah lari," kata L pada Mello setelah mereka pada pergi.

Mello kesal. Dia diberi kebaikan hanya karena soal yang anak SD juga tau. "Saya bukan anak SD yang patut dikasih hadiah karena bisa jawab perkalian satu digit! Memangnya saya serendah itu?"

"Kalau begitu berapa 111111 x 111111?" tanya L.

"Eh?" bingung Mello. Dia ngambil kertas untuk orak orek jawaban.

"12345654321," bisik Near. Mello makin bingung.

"Jawabannya 12345654321," kata L. "Tidak usah buru-buru. Sekarang materi kita sin cos tan. Nah, sekarang tan."

L menggambar segitiga di papan dan menjelaskan secara rinci.

"Pak," panggil Mello. "Di kelas ini cuma ada saya dan Near. Bapak taulah, pelajaran ini udah ada di luar kepala kita. Dan selalu berputar-putar sampai saya bosen pak."

"Jadi, kamu mau pelajaran anak kuliahan?" tanya L.

"Boleh juga," kata Near. Mello keringetan. Maksudnya adalah, setidaknya materi kelas 3 SMA, itu sih oke.

"Saya ada soal logika untuk anak-anak Harvard. Kalian tau kan, mahasiswa yang DO dari Harvard saja bisa buat Microsoft, Facebook, dll. Apalagi yang bisa jawab soalnya dengan perfect. Jenius. Jadi…" kata L, menulis di papan. "Oh, nggak. Itu soal untuk dessert aja. Saya sendiri belum yakin sama jawabannya."

Kemudian L nulis-nulis di papan.

"Nah, misalkan ada pemburu nembak beruang di titik ini, abis itu dia tinggalin beruang dan jalan ke selatan sejauh 10 km. Setelah itu dia jalan lagi ke timur sejauh 10 km juga. Dan dia jalan lagi 10 km ke utara, tapi saat itu dia tiba di titik di mana beruangnya masih di sana. Pertanyaannya, apa warna beruang?"

Mello cekakak-cekikik-cekekek-cekokok udah kayak dicekokin formalin. "Mana bisa pak. Logikanya kan kalo jalan ke selatan, terus ke timur, ke utara, pasti nggak bisa sampai di titik awal. Kecuali dia jalannya miring kayak kepiting."

"Bisa kok. Buktinya saya kasih soalnya," kata L.

"Lagipula, kenapa yang ditanya warna beruang?" tanya Mello sweatdrop.

"Kamu nggak bisa? Saya lempar soalnya ke Near," kata L.

"Lempar-lempar, emang lemper. Saya jawab item aja deh pak," kata Mello.

"Kenapa?"

"Karena kayak warna mata bapak," kata Mello. "Nggak tau pak. Lagian iseng banget tuh pemburu jalan sejauh itu."

"Near?"

"Warnanya merah-putih pak," jawab Near polos.

"Hah? Lo kate bendera Indonesia? Polandia? Kenapa nggak Belanda sekalian, tambah biru aja di kakinya."

"Kenapa?" tanya L.

"Karena kalo jalan ke selatan 10 km, ke timur 10 km, dan utara 10 km, tiba-tiba si pemburu kembali ke titik awal, berarti jalur lintasnya akan membentuk segitiga sama sisi. Tentu saja itu tidak akan bisa terjadi jika dia jalan lurus mengikuti mata angin, jika posisinya berada di sekitar garis katulistiwa dan sekitarnya. Dia berada di kutub utara, karena ketika dia berjalan 10 km ke timur, dan berjalan ke utara, dia pasti berjalan menuju ujung kutub utara, bukannya lurus, jadi dia bisa tiba di titik awal. Beruang kutub warnanya putih, karena dia habis ditembak, jadi warnanya merah-putih."

L tepok tangan. "Bagus. Jawaban yang benar dan terperinci. Belajarlah dari Near, Mello."

Mello kesal karena dibegituin. Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! batin Mello sampai puas.

"Kemudian, saya ingin kalian membuat kesimpulan dari premis ini. Semua ikan punya insang. Bagaimana dengan paus? Beberkan secara matematis!" kata L.

"Saya! Saya! Saya!" kata Mello, kayak anak SD yang bakal dapet lollipop.

"Ya, bagaimana?"

"Jadi, jika pernyataan 'semua ikan punya insang' jadi 'p'. Saya buat premis baru bahwa 'paus bukan ikan' adalah 'q'. Jadi kesimpulan dari p dan q, paus tidak punya insang," kata Mello bangga.

"Benar. Kau tidak terjebak ya, dengan paus. Kenapa anak SD bilangnya paus itu ikan. Dia kan mamalia," kata L. "Jelas aja paus sakit hati. Kayak dibilang 'kau itu waria'. Fitnah itu sadis loh."

"Kenapa bilang 'kau'nya liat ke saya pak? Apa maksud bapak tadi?" tanya Mello curiga.

"Nggak ada, lupakan aja," kata L.

Gahahahaha, satu sama, Near! batin Mello lagi.

Tiba-tiba siswa yang disuruh lari tujuh kali lapangan datang, mereka bilang sudah selesai lari dan nyelonong masuk.

"Jadi, berapakah ukuran tujuh kali keliling lapangan itu? Apa kalian mengukurnya?" tanya L.

"Tidak. Pak guru tidak suruh," kata Matt.

"Ulangi lagi," kata L. Dan siswanya pergi sambil mengutuk si panda jahat itu. Kayaknya panda yang ini lebih cocok main di kungfu panda aja. Ternyata L juga menikmati persaingan Near dan Mello. Ha-ha.

"Lagi," kata L. "Kalau matematika sudah biasa. Sekarang pengetahuan umum. Gimana cara orang-orang Yunani kuno menghilangkan rasa nyeri?"

"Dengan belut listrik," kata Near datar, di saat Mello mengangkat tangan untuk menjawab.

"Jelaskan," ujar L.

"Belut listrik di taruh di kepala, atau taruh di tempat nyeri, sampai nyeri pasien reda dengan cara fantastis itu," kata Near. Lagi-lagi Mello menggerutu kesal.

"Sial, gue kan udah angkat tangan," gumam Mello.

L mulai melihat ketidakseimbangan dari kedua rival ini. Near yang logis dan berwawasan luas tentu saja lebih dari Mello. Ada satu cara untuk membuat Near bungkam, mungkin. Kasihan juga Mello.

"Nah,berikutnya, ada teknologi yang diciptakan tahun 1889, dinamakan alat Bowen. Jelaskan alat apa itu," kata L.

Tiba-tiba, muka Near yang pucat dan basi jadi kemerahan.

Mello dengan segera nyari di google. Begitu ketemu, tiba-tiba mukanya ikutan merah.

"Sial, kenapa pertanyaan yang ini sih!" teriak Mello.

"Ini menguji seberapa berani kalian menjawab soal. Near, bagaimana?" tanya L.

"Sa..ya, tidak tahu," kata Near bohong. L berhasil! Dia senyam-senyum geje dan beralih pada Mello.

"Gimana Mello?" tanya L.

"A…aku…"

"Kalau bilang kau tidak tahu, berarti kau lebih parah daripada Near," kata L.

"Aku tahu! Aku akan menjelaskannya," kata Mello. Tiba-tiba dia pingin hidup di Afrika aja, daripada di Amerika dengan orang-orang konyol ini. "Alat Bowen adalah alat yang mencegah cowok mast*r***i," kata Mello.

"Kenapa banyak sensornya?" tanya L menggoda.

"Ini fict harusnya aman untuk bocah pak!" bentak Mello yang keluar kotak.

"Oke, lanjutkan," kata L nahan tawa, ngeliat Mello gugup.

"Alat itu adalah cangkir yang ditaruh di kepala pen*s dan di tempel di rambut sekitar pen*s dengan rantai atau klip. Jika terjadi ereksi, maka rambut-rambut kem*lu*nnya bakal ditarik paksa dengan keras. Dan pasti sakit pak," kata Mello, yang keringatan dan mukanya panas abis.

"Bagus," kata L.

Dua sama! batin Mello.

"Nah, ini dia soal dari Harvard. Universitas ngetop di Amerika, bahkan sedunia," kata L. Ketika dia akan menulis, bel berbunyi dan beberapa siswa masuk ke kelas.

"Wah, wah," kata Near, pura-pura kecewa.

L menaruh kapurnya dan bilang, "Sayang sekali, mungkin minggu depan."

Mello menendang meja dengan kesal setelah L keluar dari kelas.

"Kenapa kau marah, Mello?" tanya Matt.

"Pengen aja!" bentak Mello. Dia kesal dengan skor dua sama itu.

"Mello lagi dapet, mending jangan ditanya-tanya," goda Sayu.

"Diem lo, kangguru Jepang!" bentak Mello, dan pergi ke kantin dengan extra dongkol ala Perancis. Matt ngikutin Mello, takut staff penjaga kantin ditembakin satu-satu kayak nembak dartboard aja. Sayu geleng-geleng, dan Near tetep berekspresi datar, padahal hatinya ketawa liat kejengkelan Mello.

+To Be Continued+

Author minta maaaaaf~ Kok hiatus lama banget, hampir setaun T.T Pingin lanjutin tapi dikejar tugas. Pas liburan udah lupa, udah bosen sama komik, jadi baca novel terus kerjaannya pas libur. Pas masuk, tugas lagi, dan akhirnya bosen sama novel, balik lagi ke komik dan FFn tercinta. Semoga chapter berikutnya nggak usah nunggu setahun ya. Hahaha. Review plis..XD