Mula-mula seperti pembuka fic biasa
Disclaimer: I DON'T OWN GINTAMA (But maybe, Kagura is mine *plak)
"Ah, ternyata cuma kau, Cina" Ucap lelaki shota itu dengan raut wajah datarnya. Sembari memandangi gadis Cina yang sekarang nampak menundukkan kepalanya, "oh ya, danna dan si kacamata mencarimu kemana-mana, keluar dari sini dan pulanglah ke Yorozuya."sambungnya, kali ini dengan nada datar.
Gadis itu masih tetap diam, dengan kepala masih dalam keadaan menunduk.
Sougo hanya menatapnya lurus. Karena lawan bicaranya tidak kunjung menanggapinya, lelaki berambut coklat terang itu memilih untuk meninggalkan gadis itu hingga...
"Aku tak mau pulang."
Sougo tersentak dan kembali memandangi gadis itu lagi dengan tatapan datar, "apa?"
"Aku tak mau pulang ke Yorozuya. Aku minggat."
"Heh?"
"Kalau aku minggat. Papi tak akan membawaku pulang ke Yato!" Sambung gadis alien itu lagi.
Kali ini tatapannya lurus mengarah pada Sougo.
Tatapan mata biru orb miliknya pun beradu dengan tatapan mata merah ruby milik Sougo.
"Pulang? Yato? Ah, pulang ke kampung halaman kah?" Pikir Sougo, tapi ia berusaha untuk tidak membahas hal itu, karena ia merasa ini bukanlah waktu yang tepat.
"Hei, jadi kau bermaksud minggat ke tempat ini, hah?" Tanya Sougo berusaha menyesuaikan keadaan,
"Sebenarnya tidak, tapi karena di tengah perjalan hujan semakin deras, dan kebetulan aku melewati tempat ini, jadi aku memutuskan untuk menetap di sini sementara. Tenang saja aku tak akan merepotkan!" Ucap gadis berambut oranye itu lagi, sembari melepaskan kedua sepatunya dan ngeloyor masuk tanpa seizin Sougo.
Lelaki rambut coklat itu hanya memandanginya yang tengah memasuki ruang TV. Ia pun memutuskan ikut masuk ke ruangan itu, siaga kalau-kalau gadis itu membuat kekacauan.
"Ah, sadis! Ternyata kau menonton drama ini juga ya!" Seru gadis itu sembari melepaskan kedua gulungan rambut ala Cinanya, membiarkan rambut basahnya terurai, dan mengarahkan jari telunjuknya pada TV yang tengah menyala.
"Ah, drama itu, masih belum selesai ya... Tadi aku memang menontonnya, tapi karena suara hujan sialan itu aku jadi tak berminat lagi." Jawab Sougo dengan nada yang tidak terdengar antusias sama sekali.
"Kalau aku suka menonton drama ini karena si pemain prianya keren." Ucap Kagura dengan riangnya.
Mendengar ucapan darinya barusan, Sougo hanya menatap gadis yang sekarang sedang menatap layar TV itu.
"Hoo... Kalau aku menyukai pemain wanitanya karena dia bodoh, gampang sekali dia dibohongi oleh teman-teman prianya." Ucap Sougo datar.
Dilihatnya gadis itu menatapnya.
Lelaki bertampang shota itu hanya ikut menatapnya dengan alisnya yang bertautan. "Apa?"
"Pinjam handuk sekaligus baju ganti, dan sekalian aku pinjam kamar mandi juga!" Jawab gadis berambut oranye tersebut.
"Oy Cina. Katanya kau tak akan merepotkanku."
"Tapi kalau aku tetap dalam keadaan basah seperti ini, tataminya akan ikut basah juga, dan kau akan menjadi lebih kerepotan." Ujar Kagura mengelak.
Sougo terdiam. Nampak ia sedang berpikir sejenak.
"Ikut aku." Ucapnya, sembari berjalan mendahului gadis alien itu dan menunjukkan letak kamar mandi.
"Sana masuk. Akan kucarikan handuk dan baju ganti." Ucap Sougo sembari membuka pintu utama kamar mandi yang terbuat dari kayu, kemudian membiarkan gadis berambut oranye itu masuk. Setelah itu, Sougo pun membukakan pintu kedua kamar mandi yang terbuat dari kaca, yang terdapat ofuro di dalamnya.
"Jangan mengintip ya." Ucap Kagura sambil menatap lurus lelaki yang ada di hadapannya.
"Mana mungkin aku mengintip anak-anak."
"Jadi kau mengataiku anak-anak!"
"Memang."
"Aku ini 15 tahun, SADIS!"
"Tapi tetap saja perawakanmu itu anak-anak."
"GRRR!"
GREK!
Pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca itu digeser oleh Kagura dengan kencangnya di depan wajah lelaki berparas shota itu. Untung saja pintu itu tidak sampai pecah.
Sougo hanya terdiam. Lalu dia pun berkata, "oh ya Cina. Soal handuk dan baju ganti, kau mau pakai milik Kondo-san tidak?"
Gadis itu pun menggeser setengah pintu kamar mandi dari kaca itu lagi, dan membiarkan kepalanya menyembul keluar, agar membuatnya lebih jelas untuk bernegosiasi soal handuk dan baju ganti dengan si sadis itu. Nampak dari leher dan sebelah bahunya yang terlihat gadis itu sudah membuka baju bagian atasnya.
"Aku tak mau memakai benda milik gorila menyerupai manusia atau manusia menyerupai gorila itu!"
"Oh... Kalau begitu kau pakai punyanya Hijikata-san saja." Ucap Sougo sambil hendak berlalu.
"Aku juga tak mau memakai apapun milik Mayora itu!"
"Kalau begitu, Yamazaki."
"Apalagi si Anpan Freak!"
"Hmm... Kamiyama?"
"Tidak. Dia pedo, lihat saja dia di episode 186, dia menarik celanamu!"
"Si tahi lalat di dahi?"
"Ga!"
Setelah sekian banyak nama diajukan akhirnya Sougo berhenti menawari, karena ini hanya akan membuang-buang waktu, dia pun kembali menatap Kagura. "Kalau punyaku?"
"Ti... Eh punyamu?" Kagura tiba-tiba menghentikan ucapannya, nampak dia sedang menimbang-nimbang antara 'ya' atau 'tidak'.
"Baiklah, karena kau lumayan normal kecuali kesadisanmu jadi aku katakan ya, lagipula aku mempunyai sisi sadis juga kan." Ucapnya, dan dengan segera ia menggeser pintu kaca kamar mandi sehingga tertutup rapat kembali.
Sougo pun berjalan meninggalkan tempat itu dengan gontai menuju kamarnya...
Sesampainya di kamar ia pun membuka-buka lemari pakaian miliknya, dan mencari baju lamanya yang kira-kira sesuai dengan ukuran tubuh si Cina, sekaligus mencari sehelai handuk di dalam lemari miliknya tersebut.
Setelah menemukan yang sesuai gadis alien itu minta, lelaki shota itu pun menuju kamar mandi kembali.
"Oy Cina, handuk dan bajunya kutaruh di sini." Ujarnya sembari menaruhnya di dalam keranjang.
"Yoo, trims Sadis!" Sahut gadis itu diliputi dengan suara gemericik air. Sougo hanya memasang wajah poker, dilihatnya gadis itu dari luar pintu kaca kamar mandi, sepasang mata merah ruby miliknya menangkap bentuk siluet tubuh si Cina walau samar-samar.
"Ternyata dia memang anak-anak." Gumamnya kemudian berlalu.
"Ah air panasnya nikmat~" Ucap gadis rambut oranye itu sambil
memakai baju pemberian dari Sadis. Dia pun berjalan menuju dapur karena tiba-tiba saja perutnya merasa lapar, dibukanya kulkas.
Kosong.
Tapi tanpa diperintah, tiba-tiba saja hidung mungil miliknya menangkap sebuah aroma yang lezat.
"Arahnya dari dalam oven." Pikirnya.
TING!
Terdengar bunyi dari oven itu. Kagura pun membukanya, dan dilihatnya dia nasi kare hangat yang tinggal setengah. Karena suara perutnya yang sudah berbunyi dari tadi, tanpa ba-bi-bu lagi ia mengambil nasi kare itu.
"Selamat makan~!"
Dengan satu lahapan, nasi kare itu telah berpindah di dalam perutnya.
Setelah itu, ia pun segera beranjak dan meletakkan piring bekas nasi kare itu ke wastafel, kemudian berjalan ke ruang TV. Didengarnya dia hujan masih belum reda, bahkan bertambah deras, ditambah dengan angin kencang dan suara petir yang mengiringi.
Di tengah jalan ia bertemu dengan si Sadis. Dilihatnya lelaki itu, dia baru menyadari bahwa si sadis dari pertama gadis Cina itu datang ke tempat ini tadi, lelaki tersebut sudah memakai piyama dengan wajah yang agak pucat. Diperhatikannya lagi lelaki itu, wajahnya makin terlihat pucat daripada sebelumnya.
"Jangan-jangan dia..." Pikirnya.
"Cina, kenapa di mulutmu ada sisa nasi?" Tanya lelaki itu tiba-tiba, sehingga membuyarkan pikiran yang ada di dalam kepala Kagura.
"Oh ini, aku tadi makan nasi kare, aku kan lapar."
Sougo tersentak, "nasi kare? Yang dari oven?"
Kagura mengangguk dengan wajah polos miliknya. Sougo hanya menghela nafas dan memasang wajah datarnya.
"Kenapa?" Tanya Kagura sembari memandangi Sougo, disadarinya dia wajah lelaki itu yang makin pucat.
"Bukan urusanmu, Cina rakus." Ucap Sougo dengan kedua matanya yang melirik ke arah lain.
"Aku bukan rakus Sadis! Aku cuma lapar!" Seru Kagura dengan ancang-ancang untuk menendang wajah lelaki di hadapannya tersebut. Tapi ia mengurungkan niatnya karena ia makin sadar, wajah lelaki itu makin terlihat sangat pucat.
"O-oy Sadis, kau... Sakit?"
Mendengar pertanyaan gadis itu barusan, si pangeran Sadis hanya melirikkan kedua matanya yang sekarang nampak kuyu pada gadis yang ada dihadapannya itu.
"Bukan urusanmu, Ci..." Sougo tak menyelesaikan kalimatnya karena tubuhnya keburu jatuh di lantai.
Dia pingsan.
Kedua bola mata Kagura sontak mengecil, dilihatnya dia tubuh seorang Sougo yang kini terbujur lemas.
"O-oy Sadis! Kau benar-benar sakit!" Dihampirinya lelaki itu. Gadis itu pun memegangi dahi Sougo.
Panas.
Sangat panas.
"Sepertinya... Fluku bertambah parah, Cina..." Kata lelaki itu dengan nada lemas.
Menyadari hal itu Kagura langsung beranjak dan menggendong si Sadis di punggung mungil miliknya, dan bergegas menuju kamar milik Okita Sougo itu.
Sesampainya di kamar Sougo, Kagura bergegas meletakkan tubuh lelaki itu di atas futon Sougo yang masih tergelar.
Diselimutinya lelaki itu, dan duduk bersila tepat di sampingnya.
Tiba-tiba sepasang mata biru orbnya menangkap sesuatu yang ada di samping kepala Sougo.
Obat-obatan dan segelas air putih yang masih penuh.
"Kau tidak meminum obatmu?" Tanyanya sembari memandangi Sougo yang setengah tersadar dan nampak masih sangat pucat.
"Tidak. Aku benci benda itu. Jadi aku tak akan mengizinkan mereka masuk ke dalam tubuhku." Jawab Sougo, membuat Kagura terdiam sejenak, "mereka pembohong. Kata orang, mereka akan membuatmu sembuh. Tapi itu bohong. Mereka selalu menjadi konsumsi wajib Aneue tapi Aneue tetap tak bisa sembuh..." Sambung Sougo lagi dengan sepasang mata merah ruby miliknya yang menerawang jauh. Keping-kepingan memorinya bersama Aneue pun bermunculan di benaknya, sejak ia kecil, ketika kedua orang tua mereka masih ada, ketika Aneue menjadi kakak sekaligus orang tuanya, ketika ia berpisah dari Aneue, meninggalkannya sendirian, dan ketika bertemu kembali dengan Aneue, hingga ketika Aneue memberikan senyum terindahnya yang terakhir padanya...
"Ano... Sadis."
Sougo sedikit tersentak karena ucapan gadis yang disampingnya barusan. Dia pun menatapnya.
"Sepertinya kau belum makan, karena karenya sudah tak ada, akan kubuatkan kau sesuatu, jadi aku pinjam dapurnya." Kata gadis itu sembari hendak beranjak.
"Tak usah, nanti masakanmu malah akan meracuniku." Balas Sougo datar.
"Tenang saja, aku kan selalu memperhatikan Gin-chan saat dia memasak untukku!"
"Justru itu yang aku cemaskan, karena kau cuma memperhatikan saja bukannya langsung praktek." Balas Sougo lagi.
"Hei Sadis! Aku kan sudah berjanji untuk tidak merepotkan, jadi aku akan melakukan sesuatu sebisaku untuk membuatmu baikan! Lagipula ini gara-gara kau belum makan sehingga sakitmu bertambah parah seperti ini!"
"Hoi hoi. Aku tak akan terbaring lemas seperti ini jika kau tidak menyikat habis nasi kare yang tinggal setengah itu. Jadi kau harusnya minta maaf padaku." Jawab Sougo dengan cepatnya, hingga membuat Kagura terdiam.
"Ukh... Ma-maaf." Ucap Kagura dengan nada yang terdengar tidak ikhlas.
"Apa? Aku tidak dengar? Lagipula Cina, untuk mendapatkan maaf dari Pangeran Sadis, peraturannya yaitu kau harus menjadi babu dalam setahun~"
Mendengar ucapan Sougo itu sontak membuat gadis Yato itu emosi, "tidak jadi minta maafnya! Terima kasih!" Serunya sembari berlalu menuju dapur.
Melihat tingkah gadis itu yang telah berlalu, Sougo hanya memasang senyum sadis khasnya.
Sougo memandangi semangkuk bubur yang telah ada di depannya kini. Nampak bubur itu seperti magma yang mendidih, kental tapi memiliki warna yang terbilang mengerikan.
Insting terdalam Sougo mengatakan bahwa bubur yang di depannya itu memiliki aura yang menyeramkan.
Menyeramkan, seperti gadis Cina yang ada di sampingnya kini.
"Ayo Sadis, makanlah dan kau pasti akan sehat kembali!" Kata Kagura dengan senyum cerianya.
Sougo hanya menatapnya dengan wajah datar. "Kau mau membunuhku, Cina?"
"Siapa yang mau membunuhmu hei Sadis?" Seru gadis oranye itu dengan tatapan tajamnya, menandakan bahwa ia sedang marah.
"Aku membuatkanmu bubur ini justru agar kau segera sembuh!" Sambungnya lagi.
"Heh Cina, ini bukan bubur, ini magma beracu-" Sougo hampir menyelesaikan ucapannya tapi sayangnya tak terselesaikan, karena Kagura keburu melemparkan mangkuk berisi 'bubur' itu pada wajah Sougo.
"Sudahlah tak usah banyak ceriwis! Makan ini Sadis, sebelum buburnya dingin!"
Seru gadis itu, sambil menekan-nekan mangkuk bubur itu di wajah Sougo. Otomatis bubur mengerikan itu masuk ke dalam mulut lelaki yang tengah sakit itu.
Lelaki itu membuka kedua kelopak matanya dengan perlahan kemudian berusaha memfokuskan pandangannya, dilihatnya dia mangkuk bubur mengerikan yang isinya telah kosong karena habis ditelannya.
"Sepertinya aku masih hidup." Ujarnya sembari meletakkan telapak tangannya di dahinya, demamnya lumayan reda.
Apa karena bubur tadi?
Dicarinya si Cina, dan lelaki shota itu baru menyadari bahwa gadis yang dicarinya itu tepat berada di dekatnya kini.
Nampak gadis itu tengah tertidur...
Selesai juga chapter 2nya. Entah kenapa saya suka dengan pair ini, walau ada Nobume yang cocok juga bareng Souichiro *Sougo.
Tapi tetaplah pair antara LOLI dan SHOTA (baca: Kagura dan Souichiro *Sougo) ini yang paling kusukai.
Special thanks to:
Kao'Ru'vi atas reviewnya yang sangat bermanfaat.
dan Hiru'Na' Fourthok'og atas review, dan kesannya.
Terimakasih juga bagi yang hanya membaca.
Saya akan berusaha melanjutkan fic ini hingga berstatus COMPLETE!
Oleh kerena itu, segala bentuk kesan dan pesan amat berarti bagi saya.
