DISCLAIMER: I DON'T OWN GINTAMA (AGAIN)


"Ooy Cina, bangun." Ucap Sougo dengan suara tanpa nada, alias datar.
Digugahnya gadis berambut oranye yang nampak lelap itu di dekatnya. Walau tidurnya di dekat Sougo bukan berarti Kagura tidur satu futon bersamanya. Gadis itu tengah tidur di luar area futon Sougo alias tidur di tatami kamar lelaki itu. (Sekedar pemberitahuan pada para Souichiro fans di luar sana).
Karena gadis Yato itu tak kunjung bangun, lelaki berambut coklat itu makin mengguncang-guncangkan tubuh gadis itu, kali ini dengan kaki.
Karena tak kunjung bangun juga, diambilnya dia sebuah kaus kaki yang bertuliskan milik Kondo yang berada di dekat lemari miliknya. Entah kenapa kaus kaki milik gorila menyerupai manusia atau manusia menyerupai gorila itu bisa ada di kamar Sougo. Dirasakannya aura dari kaus kaki itu, hanya satu kata yang terlintas di benak Sougo, yaitu "bau." Dari segi warna kaus kaki ini saja sudah menjijikan apalagi kalau baunya. Hidung milik pangeran sadis saja ogah untuk rela menciumi aroma benda menjijikan itu.

Ia mendekatkan kaus kaki itu di dekat hidung mungil Kagura.
Tak ada reaksi.
Sebal.
Didekatkanya lagi kaus kaki itu hingga sedikit menempel di hidung Kagura.
Tetap tak ada reaksi.
Kesal.
Makin ditempelkannya kaus kaki itu di wajah Kagura.
Tak ada reaksi (lagi).
Emosi.
Diguling-gulingkannya Kagura.
Tak ada reaksi.

"Jangan-jangan dia pura-pura mati." Pikir lelaki sadis tersebut.

Didekatkan wajahnya pada salah satu telinga milik gadis alien itu, "Cina, aku tak mau ilermu itu mengenai futon dan tatamiku," bisiknya.
Baru sepersekian detik Sougo membisikan kata-katanya, sebuah serangan kepalan tangan tengah menuju ke arah wajahnya dengan cepatnya.
Mengetahui ada serangan tiba-tiba, Sougo menggerakkan kepalanya ke arah lain agar tak mengenai serangan kepalan tersebut. Serangan kepalan tangan khas si Cina.
Dia sudah bangun.

"Hoi Sadis, aku tak akan mengiler tahu!" Seru Kagura dengan jari telunjuk miliknya yang mengarah pada Sougo. Sougo hanya menyeringai, "terus yang di sekitar bibirmu itu apa hah?"

"Eh, ah ini? I-ini cu-cuma air kok!"

"Air yang dalam arti lebih tepatnya ke arah 'iler'."

"A... Ukh..."

"Tak bisa menjawab, Cina? Ternyata kalau soal berdebat aku lebih unggul ya." Ucap Sougo dengan nada mengejek yang datar.
Mendengar hal itu muncullah background api yang menyala-nyala pada Kagura, menandakan ia sedang marah.
Kagura pun nampak bersiap dengan kuda-kuda hendak menyerang khasnya.
Sementara itu Sougo hanya bersiap mengelak dengan sedikit dibumbui ancang-ancang untuk menyerang gadis alien yang ada di hadapannya itu.
CTARR!
Suara petir yang menggelegar membuat ancang-ancang maupun kuda-kuda kedua remaja itu terhenti. Mendengar suara lumayan mengagetkan tersebut barusan, sontak membuat Sougo berkesimpulan bahwa petir itu pasti sengaja mengganggu duel mereka.

Kriing!
Kali ini suara dering telepon yang mengganggu.
Dengan menahan rasa kesal yang mendalam, Sougo dengan gaya ogah-ogahan menuju tempat dimana telepon keparat itu berada. Diketahuinya si Cina mengikutinya dari belakang, teapi lelaki shota itu tak begitu mempermasalahkan.
Sesampainya di tempat dimana telepon tengah bertalu-talu itu berada, Sougo dengan tak antusiasnya hendak mengangkat telepon tersebut, tapi terhenti karena dering telepon brengsek itu tiba-tiba saja berhenti.

Kesal + Emosi yang meluap = Sosok pangeran sadis keluar.
Dikeluarkannya gunting dari saku piyamanya, yang entah, sejak kapan ia mengantungi gunting itu selama ini. Lelaki itu hendak memotong kabel telepon. Tak peduli pada Kondo dan Hijikata yang akan marah jika mengetahui kabel telepon yang terpotong karena ulahnya tersebut.
Ketika ia tengah ancang-ancang hendak memotong, telepon itu kembali berdering seakan berkata, 'maaf! Aku tidak akan pura-pura mati lagi!'
Melihat tingkah telepon menyebalkan tersebut, Sougo dengan segera mengangkat gagang telepon dengan kesalnya.

"Kediaman Shinsengumi, ada yang tidak bisa saya bantu?"

"Hoi Sougo, kenapa kau berbicara seperti itu?" Terdengar suara seseorang yang sangat dikenali Sougo dari seberang membalas. Suara seorang Date.
'Hijikata-san'.

"Ini suaraku Hijikata-san, jadi suka-suka aku sendiri mau bicara apa."

"Aku tahu itu suaramu, dan kau bebas mengatakan apapun! Tapi jika ada seseorang yang membutuhkan bantuan kita mendengar ucapan kau itu, bisa dianggap polisi tak berperasaan kita!"

"Tapi aku kan memang tak berperasaan, Hijakata-san."

"Aku juga tahu kau tak berperasaan! Tapi bayangkan jika SHOGUN KA YO! Yang menelepon, atau si Matsudaira itu!"

"O..."

"Ah, sudahlah! Oh ya Sougo, kami sepertinya akan pulang telat, kupercayakan markas kita padamu jadi tolong jaga dengan baik."

"Iya... Aku akan selalu menjaga markas, tapi aku tak mengharapkan kau pulang Hijikata-san."

"Cih. Nampaknya kau sudah sembuh! Jangan lupa, jaga baik-baik guci yang kemarin dititipkan Matsudaira itu padaku!" Ucap Hijikata dengan nada kesal khasnya sekaligus mengakhiri pembicaraan di antara mereka.

Sougo meletakkan gagang telepon kembali pada tempatnya.
Kemudian ia berbalik kebelakang, menghadap Kagura yang sedari tadi berada di belakangnya.
"Tadi itu si Mayora ya?" Tanya gadis itu dengan raut wajah tegang pada Sougo yang kini menghadap padanya. Sougo hanya mengiyakan.
Dilihatnya dia raut wajah Kagura yang menunjukkan rasa lega.
'kenapa dia...?'

KRIING!
Lagi-lagi telepon brengsek itu berdering. Seakan tahu bahwa suasana saat ini sedang tenang-tenangnya. Seakan telepon itu juga ingin mengejutkan kedua remaja tersebut.
Dengan emosi max Sougo mengangkat gagang telepon kembali, setelah menempelkan gagang telepon itu pada salah satu telinganya ia berusaha menghilangkan emosinya.

"Shinsegumi. Halo." Ucapnya dengan nada khasnya.

"Ah, Souichiro-kun!" Seru suara dari seberang. Suara yang sangat dikenali Sougo lagi.
Bukan dari seorang Date. Tapi dari dari seorang Usui Kazuyoshi + seorang Hidenori Tabata + seorang Kyon.*

"Ah, danna. Pas sekali, baru saja tadi Hijikata-san menelepon. Kalian memang jodoh." Kata Sougo dengan nada datar.

"Sudah kukatakan, aku tak mencari si Mayora itu! Dan apa hubungannya jika dia baru meneleponmu tadi!"

"Tidak ada. Aku cuma mengikuti arus para fujo di luar sana." Ucap Sougo dengan wajah datar, tanpa sengaja kedua matanya tertuju pada Kagura, dilihatnya dia ekspresi gadis itu yang nampak terkejut.

"Kau kenapa Cina?" Tanya Sougo tanpa suara dengan menonjolkan gerakan bibir pada gadis itu, ia tahu kalau gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu dari tadi.
'Pasti soal umibozu-san...'

Dilihatnya lagi Kagura, tatapan mata biru orbnya memandangi Sougo, sembari memberi tahu dengan gerakan bibir, "katakan pada Gin-chan aku tak ada." Sougo menanggapi perkataan tanpa suara itu dengan raut wajah tanpa ekspresi.

"Ini urusanmu bukan urusanku, Cina." Balas Sougo tanpa suara.

"Kumohon, untuk kali ini saja tolong aku sadis!" Ucap Kagura memohon (tentunya tanpa suara juga) pada lelaki shota di hadapannya itu.

"Oy Souichiro-kun, kau mendengarkanku?" Ucap Gintoki secara tiba-tiba sehingga menghentikan komunikasi gerak bibir mereka.

"Ah iya Danna, aku mendengarkan ada apa?" Jawab Sougo.

"Begini, apa kau benar-benar yakin Kagura tak ada di tempatmu sekarang, atau mungkin kau sempat melihat dia melewati kediaman Shinsengumi kalian, soalnya kami sudah mencarinya di seluruh Kabukicho, kecuali di sekitar tempatmu itu..."

"Danna, secara teori Einstein(?) si Cina itu tak mungkin datang ke kediaman Shinsengumi ini. Yang kudapati malah seekor 'anjing' yang seenaknya masuk dan memakai kamar mandi, lalu dengan seenaknya memakan nasi kareku." Jawab Sougo dengan jelasnya, disadarinya si Cina tengah ber-death glare padanya, seakan berkata, 'KAU MENGATAIKU ANJING? KONOYARO!'

"Begitukah? Tapi entah kenapa aku merasa yakin bahwa Kagura ada di tempatmu sekarang... Baiklah kalau begitu, maaf mengganggu. Selamat mala-" Ucap samurai perak itu. Ia hendak mengakhiri sesi meneleponnya, tapi tertunda karena ucapan Sougo. "Ah Danna, aku yakin si Cina pasti baik-baik saja, secara dia itu monster."
Nampak tak ada balasan sesaat dari Gintoki, tapi tanpa sepengetahuan Sougo, Gintoki tiba-tiba tersenyum mendengar ucapan dari lelaki yang dikenal sebagai rival Kagura itu barusan.

"Ara... Kau berusaha menenangkanku ya Souichiro-kun. Tapi kau benar juga, dia gadis yang kuat. Baiklah, kalau begitu selamat malam."
Ucap Gintoki mengakhiri pembicaraan, Sougo hanya menganggukkan kepalanya kemudian menutup telepon, lalu berjalan menuju kamarnya, diliriknya Kagura yang mengikutinya dengan tatapan masih ber-death glare padanya.

"Oy Sadis, tidak hanya mengataiku anjing, kau juga mengataiku monster!" Seru gadis itu menyusul Sougo dan masuk terlebih dahulu ke kamar lelaki itu kemudian duduk bersila di dekat futon Sougo.

"Oy Cina, itu adalah caraku untuk menolongmu tahu." Balas lelaki Shota itu sambil duduk di atas futon miliknya.

"Memangnya tak ada cara lain?"

"Tak ada. Cuma cara itu yang cocok untukmu."

"SADIS!-"

PETS!
Mendadak keadaan ruangan itu menjadi gelap gulita.
Bukan hanya ruangan itu, seluruh ruangan kediaman Shinsengumi, bahkan bangunan-bangunan di sekitarnya.

"Hee! Mati lampu?" Seru Kagura diliputi rasa panik.

"Jangan-jangan karena petir." Ucap Sougo tanpa bergerak dari tempatnya. Suasana saat ini gelap gulita, diiringi dengan suara hujan yang deras ditemani angin kencang juga petir yang ikut mendampingi hujan dan angin tersebut.
Jika ini adalah fic horor pasti telah menjadi sebuah kesempatan emas bagi para makhluk dunia lain untuk unjuk gigi.

"Hoi Cina, kau masih di sana?" Seru Sougo memecahkan keheningan di antara mereka berdua. Ia berusaha memfokuskan pandanganya berharap bisa melihat sedikit saja walau hanya samar-samar, tapi tetap tak bisa.
Gelap.
Gelap total.

"Ya, aku masih di sini Sadis! Ada apa?" Jawab Kagura sekaligus diiringi juga dengan pertanyaan, terdengar jelas sekali suara Kagura makin menjauh.

"Oy Cina, jangan bergerak seenaknya!"

"Aku tak bergerak seenaknya, aku hanya mencari sesuatu sebagai penerangan!" Jawab Kagura sambil meraba-raba dinding kamar Sougo menggunakan semua inderanya, berharap menemukan pintu kamar lelaki itu dan segera keluar untuk mencari lilin, senter atau apapun itu.

"Tetap saja kau tak boleh bergerak seenaknya, kalau kau mau keluar dari ruangan ini menggunakan semua indera tak jelasmu itu, bisa-bisa kau memecahkan atau menjatuhkan perabotan di sini!"

"Kau ini tak percayaan padaku sekali sih, Sadis! Aku tak akan memecahkan dan menjatuhkan apapu-!"

PRAK!

"O-oy Cina, kenapa kau tiba-tiba menghentikan ucapanmu?" Tanya Sougo, masih berusaha untuk ikut keluar dari kamarnya tersebut, tapi tanpa diketahuinya ia malah makin menjauh dari pintu kamarnya. Sesaat tak ada jawaban dari Kagura, membuat Sougo terpaksa memunculkan tanda tanya di benaknya.

"Hei Cina, jangan bilang kalau kau ditangkap nyamuk alien itu!" Ucap Sougo, kali ini dengan nada yang lebih tinggi. Ngomong-ngomong bukannya tadi terdengar bunyi sesuatu yang terjatuh?

"Aku tak apa Sadis! Tapi…" Jawab Kagura dengan suara langkah kaki miliknya yang terdengar mendekat ke arah lelaki rambut cokelat itu.

"Tapi apa, hah? Jangan bilang kalau kau telah menjatuhkan atau memecahkan sesuatu!" Kini lelaki rambut cokelat itu bertanya, sedikit terlintas perasaan tidak enak pada benaknya.

"…Ehehe~" Jawab gadis itu. Sontak benak Sougo mengatakan kalau gadis itu tengah memasang raut wajah menyengir dengan tambahan ekspresi pura-pura tak bersalah sekarang. Dia yakin itu!

"Yang jatuh itu bentuknya kira-kira seperti apa, heh Cina?" Tanya Sougo, kali ini ia berusaha untuk tidak keburu panik.

"Ng, sepertinya sih bulat, ukurannya lumayan besar, tingginya sepinggangku, dan aku yakin yang kusenggol itu guci yang ada di sudut koridor di luar kamarmu itu…"
Guci yang dititipkan Matsudaira pada Hijikata-san-

"Cina!" Seru Sougo (tapi sepertinya lebih menjurus ke suara yang sengaja ditinggikan nadanya) pada Kagura, siap menyerang gadis itu yang menurut instingnya kalau gadis itu berada di belakangnya sekarang.

GREP! Terasa ia memegang lengan baju si Cina itu, dan mulai membantingnya. Tapi terasa tolakan yang kuat, sangat kuat, khas gadis Yato itu yang juga siap membanting Sougo.

"Oy Sadis! Kenapa kau menyerangku?" Seru Kagura, berusaha mencari-cari kerah piyama Sougo agar lebih memudahkannya untuk membanting lelaki tersebut.

"Karena kau telah membuat masalah!"

"Masalah apa?"

"Kau bilang kau tak akan memecahkan atau menjatuhkan apapun, tapi ujung-ujungnya kau memecahkan atau menjatuhkan sesuatu!"

"Aku kan tak sengaja, hoi Sadis!"

"Tetap saja kau tak bisa dipercaya Ci-" Belum selesai Sougo menyelesaikan ucapannya, badannya keburu jatuh untuk yang kedua kalinya. Tangan lelaki itu yang tengah menggenggam kerah baju Kagura mengakibatkan tubuh gadis tersebut ikut jatuh ke arah yang sama dengan Sougo, alhasil mengakibatkan Kagura dalam posisi menindihi Sougo. Mereka terjatuh di atas futon lelaki tersebut yang masih tergelar.

"Hm, terjatuh di tengah pertarungan! Sepertinya kau menyerah dengan kekuatanku ya, Sadis?" Seru Kagura dengan nada bangga.

Tak ada respon dari Sougo, yang terdengar hanya suara nafas lelaki itu yang tersengal-sengal. Menyadari hal tersebut Kagura terpaksa menghentikan kegembiraanya. "O-oy Sadis kau kenapa?" Ucapnya dengan berusaha mencari dahi Sougo.
Masih agak panas.

"Oh iya kau kan belum sembuh total!" Seru Kagura, yang tanpa diketahuinya ia tengah berseru di depan wajah Sougo yang tanpa diketahuinya lagi lelaki itu nampak dalam keadaan agak pucat.

"Tahu begitu… kau tak perlu berteriak di depan wajahku seperti itu Ci-" Ucap Sougo dengan akhir yang tak terselesaikan, tapi gadis itu sudah mengetahui akhir ucapan dari lelaki itu barusan.
Dia tertidur

"Dia pasti capek…" Gumam gadis berambut oranye itu sembari bergeser ke arah lain dari tubuh Sougo, membiarkan lelaki itu untuk beristirahat. Kini ia tak tahu harus berbuat apa sekarang selain menunggu listrik untuk menyala kembali, yang dirasakannya hanya angin dari luar yang sedikit masuk ke dalam kamar Sougo itu. Sedikit menggigil, ia memilih untuk menghangatkan diri. Ia menarik selimut dari tubuh Sougo, membiarkan selimut itu membungkus tubuh kecilnya tersebut. Tak peduli tubuh Sougo yang tengah terbaring tanpa selimut. Toh, piyama Sougo nampaknya lebih tebal dari pada baju yang dipinjamkan lelaki yang tengah sakit itu yang sekarang tengah dipakai gadis Yato tersebut.


"Sougo, kami pulang! Bagaimana, kau sudah sembuh?" Seru manusia menyerupai gorilla atau gorilla menyerupai manusia itu sembari ngeloyor masuk ke dalam kediaman Shinsengumi mereka.
"Kapten, kami membawakan anpan untukmu!" Seru lelaki yang tengah membawa raket bulu tangkis.
Mereka berdua berlomba-lomba menuju kamar Okita Sougo itu.
Hijikata hanya mengikuti mereka berdua dari belakang dengan langkah santai, tapi ia tiba-tiba terhenti karena ia mendapati Kondo dan Yamazaki tengah tercengang dengan raut wajah shock di depan pintu kamar Sougo.
Mendapati ada keanehan pada diri mereka, Hijikata hanya mendekati mereka dan ikut melihat ke dalam kamar Sougo.

Alhasil ia mendapati suatu pemandangan yang dikatakan hampir mendekati tanda-tanda akhir dunia, Hijikata pun ikut tercengang sehingga mengakibatkan rokok yang sebelumnya berada di mulutnya itu terjatuh.
Bawahannya dan gadis Yorozuya itu tengah tertidur pulas dalam satu futon.

"Tak mungkin..."


Note: * Seorang Usui Kazuyoshi + seorang Hidenori Tabata + seorang Kyon = Sugita Tomokazu

Dimana Sugita Tomokazu adalah seiyuu dari Gintoki, Usui Kazuyoshi (Sket Dance!), Hidenori Tabata (Danshi Koukousei no Nichijou), Kyon (Suzumiya Haruhi no Yuutsu).


Bersambung (again)

Special thanks to: Na Fouthok'og, Shena BlitzRyuseiran, BakaAho atas reviewnya yang bermanfaat dan membuat saya bersemangat. Dan juga atas okikagu fans yang me-review dengan mode anonymous, jadi aku tak bisa membalas rasa terimakasih lewat PM. Jadi lewat di sini saja ya, terima kasih atas kesannya, iya kalau Nobume bareng Sougo, Gintama nggak akan seru. ^^

Dan terima kasih juga atas alertnya :)

Terima kasih juga bagi yang hanya membaca, semoga ficnya tak membosankan.

Sekali lagi, segala kesan dan pesan saya terima dengan tangan terbuka.