DISCLAIMER: I DON'T OWN GINTAMA AGAIN AND AGAIN
Kubuka kedua mataku walau berat. Silau. Listriknya sudah menyala rupanya...
Tunggu, kenapa futon ini terasa sempit? Dan kenapa aku merasakan banyak tatapan mencurigakan yang tengah mengarah padaku?
Ah... rupanya ada Kondo-san, Yamazaki, dan Hijikata-san di depan pintu kamar. Mereka sudah kembali rupanya... Kapan?
Tapi kenapa mereka menatapku seperti aku habis menghamili anak orang?
"Hoi, Sougo." Ucap Hijikata memecahkan keheningan di antara mereka semua sembari menyalakan sebatang rokok baru, kemudian menatap Sougo dengan diiringi helaan nafas, "tak kusangka kau bisa melakukan hal seperti ini." Ucap pria perokok berat itu lagi, diiringi anggukan oleh Kondo dan Yamazaki.
"'Hal seperti ini'? Apa maksudmu Hijikata-san?" Tanya Sougo sembari sedikit beranjak dari futonnya tapi terhenti karena tiba-tiba saja indera peraba miliknya menyentuh sebuah tangan di sampingnya. Jelas tangan itu bukan tangan miliknya, dilihat dari ukurannya saja berbeda. Tangan ini ukurannya lebih kecil, lebih tepatnya mungil. Dan Sougo kenal dengan pemilik tangan mungil tersebut, tak lain dan tak bukan adalah dia.
Sougo hanya memasang wajah poker ketika mendapati Kagura tengah tertidur pulas di sampingnya...
"Sougo, aku tahu kau sudah dewasa tapi belum waktunya kau melakukan hal seperti itu." Kata Kondo berusaha bernada bijak seperti seorang ibu yang menasihati anak lelakinya.
Yang diajak bicara hanya bangkit dari futon tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Ini tidak seperti yang kau lihat, Kondo-san." Ucapnya sembari menggulingkan si Cina menggunakan kakinya, agar gadis yato itu segera keluar dari area futonnya.
"Aw!" Keluh gadis yang digulingkan itu, dahinya terbentur dinding yang berada di samping futon Sougo. "Hoi Sadis! Kau sengaja ya?" Seru gadis itu sembari mengusap-usap dahinya yang malang, kemudian bangkit untuk bersiap menghajar lelaki berambut cokelat terang yang tengah menatapnya dengan wajah yang masih tanpa ekspresi, tapi terhenti karena melihat keadaan sekitar yang sepertinya tidak begitu beres. Gadis itu hanya menautkan kedua alis matanya sembari memandangi si Gorila, Anpan Freak dan si Mayora yang juga tengah memandanginya dengan tatapan yang juga nampak tak beres. Ditengoknya si Sadis yang tengah berdiri di sampingnya, merasa bahwa si Sadis mengetahui sesuatu, Kagura menyenggol lengan Sougo dengan salah satu sikunya.
"O-oy Sadis, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja aku merasakan tatapan yang aneh mengarah pada kita?"
Sougo masih memasang wajah tanpa ekspresinya sembari memandangi wajah bingung gadis Cina yang berada di sampingnya itu. Seakan tak peduli pada tatapan dari Kondo, Yamazaki, dan Hijikata yang tengah mengarah pada mereka berdua, Sougo hanya membaringkan kembali tubuhnya, kemudian menutup separuh wajahnya dengan selimut, "intinya, kita dianggap melakukan 'itu'." Jawab Sougo dengan nada datar, tak memperdulikan reaksi gadis berambut orange yang sekarang nampak mematung karena bingung.
"'Itu'? Apa maksudmu dengan 'itu'? Dan lagi kenapa kata 'itu' di sini dibuat italic dengan tanda kutip satu?"
Lelaki berambut cokelat terang itu hanya menghela nafas panjang kemudian kembali beranjak dari futonnya, sembari bergumam "betapa polosnya."
"Jadi begini Cina bodoh, intinya, Kondo-san, Hijikata-san, dan Yamazaki kini menganggap kita berxxx karena kau dan aku tidur sefuton." Ucap Sougo dengan wajah tanpa ekspresi.
"Oh... Eh!" Jerit gadis itu ketika menyadari hal yang sebenarnya, dibenaknya kini mengatakan tak mungkin. "Tunggu, ini tidak seperti yang kalian lihat! Secara, aku tak akan mungkin dan tak akan pernah melakukan hal 'itu' bersama dia!" Jeritnya lagi kepada 3 Shinsengumi yang ada dihadapannya dengan jari telunjuk mengarah pada Sougo yang sedang menguap karena rasa kantuk yang masih menguasainya.
"Begitu pula denganku Cina, karena aku tak mungkin melakukan hal itu dengan anak-anak."
"Hei! Lagi-lagi kau mengataiku anak-anak!"
"Oy Cina, Memang itu kenyataannya kan."
"Bisakah kau menganggapku sebagai perempuan kebanyakan, Sadaharu saja tak akan mengataiku seperti itu!"
"Oy, jangan menbandingkanku dengan anjing monster milikmu itu, Cina. Lagipula, lihat saja bagian di antara leher dan perutmu itu yang tak ada apa-apanya." Balas Sougo dengan pandangan yang terlihat meremehkan di mata Kagura, sontak membuat gadis alien itu emosi.
"Bisakah kalian berdua berkelahi di luar saja!" Kini si perokok berat yang berbicara setelah sekian lama diam. Kedua remaja yang dalam masa puber(?) itu hanya memalingkan wajah satu sama lain, menghentikan pertengkaran mulut yang hanya membuang-buang tenaga itu.
Si perokok berat itu kini memandangi gadis Yorozuya yang nampak tengah menyilangkan kedua tangannya, "jadi, apa gerangan kau bisa berada di sini?"
"Hanya berteduh untuk sementara. Cuma itu." Jawab gadis itu dengan nada datar mirip dengan Sougo.
"Ya, dan dia mencomot nasi kareku." Sambung Sougo, memasang wajah yang seakan masih tidak ikhlas akan kepergian nasi karenya. Kagura hanya membalasnya dengan memasang tatapan tajam kepada lelaki berparas shota yang berada di sampingnya itu, Hijikata hanya merespon dengan menghembuskan asap rokok yang sedang dikonsumsinya.
Menyadari tidak ada apa-apa di antara si Shota Shinsengumi dan si Loli Yorozuya tersebut, Kondo-san hanya bernafas lega, karena jika mereka berdua itu 'ada apa-apa' kemungkinan besar dia dan para anak buahnya akan mendapatkan damprat dari si pemburu alien yang berasal dari Yato yg terkenal itu.
Yamazaki yang sedari tadi tak mengucapkan sepatah kata pun hanya sibuk mengkonsumsi anpan yang telah dibelinya ketika menjalankan tugas tadi.
Ketika suasana kamar dimana mereka berlima berada saat ini sedang tenang-tenangnya, si tahi lalat di dahi (karena aku lupa namanya jadi kutulis seperti itu) ngeloyor masuk ke kamar itu dengan raut wajah tegang, "gawat komandan!"
Merasa dipanggil, Kondo segera berbalik ke arah anak buahnya itu dengan memasang ekspresi wajah yang mengatakan 'ada apa?'
"Si pemburu dari Yato itu kemari!"
"Dengan tujuan apa dia datang kemari?" Kini si wakil komandan Shinsengumi yang memiliki ekspresi yang sama dengan Date bertanya.
"Katanya, dia datang kemari untuk menjemput anak perempuanya, jika kita tak menyerahkan anak perempuannya, dia akan menghancurkan markas kita-"
"Kagura! Dugaan Papi benar, ternyata kau memang berada di tempat ini!" Tiba-tiba saja seorang pria paruh baya(?) berkumis dan ber-goggle masuk ke dalam kamar Sougo dimana keadaan saat ini tengah tegang-tegangnya. Tak lain dan tak bukan pria itu adalah si pemburu alien yang terkenal dari Yato itu.
Merasa bahwa dirinya tengah dicari, Kagura hanya menyembunyikan dirinya di belakang punggung si Sadis yang tengah berada di sampingnya, walau ia tahu usahanya itu percuma.
"Kagura, kucari kau di Yorozuya dan kau tak ada di sana, ternyata benar dugaanku berikutnya, kau memang berada di sini." Si pemburu alien itu kini mendekat ke arah anak perempuannya yang masih bersembunyi di belakang Sougo.
"Papi mau apa kemari?" Celutuk Kagura yang masih bersembunyi di belakang punggung Sougo, tatapan kedua mata birunya nampak awas memandangi Papinya yang tengah menghampirinya (sekaligus Sougo). Orang tua itu hanya memindahkan goggle yang sedikit berdebu dari kedua matanya ke kepalanya, agar membuatnya jelas untuk melihat anak gadisnya itu.
"Tentu saja hendak membawamu pulang ke Yato sesuai suratku yang terakhir kau terima, kau tak ingat?"
"Hoi Sougo, sedari tadi kau hanya bermalas-malasan di futonmu seperti itu, hari ini giliran kau membelikan kami kue untuk camilan sehabis kerja nanti!" Seru lelaki yang tengah berada di ruang TV dengan suara yang terdengar sangat mengganggu di kedua telinga lelaki berambut cokelat terang yang nampak berbaring di atas futon di ruangan lain lebih tepatnya di kamarnya sendiri dengan kedua tangan tengah menggenggam pedang MP3 miliknya.
Ia pura-pura tak mendengar dengan mengubah posisi tubuhnya ke arah lain, membelakangi pintu kamarnya.
"Hoi, Sougo!" Teriakan kedua terdengar lagi, Sougo tetap tak menggubris, ia malah mengatur musik pedang MP3nya ke volume yang lebih tinggi.
Sepersekian detik teriakan menyuruh itu tak terdengar lagi, Sougo kembali mengecilkan volume suara pedang MP3nya ke volume yang lebih kecil. Baru sepersekian detik juga Sougo selesai mengecilkan volume pedang MP3nya itu, tak berapa lama terdengar langkah kaki berdebum menuju ke arah kamarnya, disusul dengan suara pintu kamarnya yang digeser dengan kencangnya.
"SOUGO!" Pada akhirnya pemilik teriakan menyuruh itu kini berada di dekat lelaki yang masih berkutat pada pedang MP3nya, lelaki itu pun berbalik memandangi pria perokok berat yang kini berada di depan pintu kamarnya dengan tatapan datarnya, "aku masih dalam proses pemulihan dari sakit, Hijikata-san."
"Pemulihan dari sakit itu berapa lama, hah? Kau selalu membuat alasan memulihkan diri selama 6 hari berturut-turut, hampir seminggu kau tahu!"
"Tapi kan aku memang belum sembuh Hijikata-san, lihat warna wajah dan kulitku, masih putih pucat." Balas Sougo, kini ia meletakkan pedang MP3nya agar membuatnya lebih leluasa untuk berdebat dengan wakil komandan Shinsengumi itu.
Hijikata hanya mengkerutkan kulit dahinya membuat matanya jadi makin terlihat sipit(?), dalam hati ia sedikit membenarkan perkataan bawahannya barusan, tapi apa mau dikata, rasa gengsi yang besar membuatnya memilih untuk mencari alasan lain. "Warna kulitmu memang dari dulu sudah sama dengan Shinn Asuka*! Tak usah banyak protes, ganti pakaianmu dan cepat pergi!" Seru Hijikata.
Yang disuruh hanya mendengus kesal dalam hati, karena jika ia menampakkan kekesalannya bukan lagi Okita Sougo namanya.
Lelaki berambut coklat terang itu pun beranjak bangun dan melipat futonnya lalu mengganti piyamanya dengan baju biasa yang sering ia pakai (seperti yang ia pakai di episode 35 dan lainnya), kemudian berjalan keluar kamar dengan ogahan-ogahan seperti biasa.
.
.
.
.
Kini di tengah-tengah pusat perbelanjaan di Kabukichou terlihat sangat rusuh, membuat sekeliling kerusuhan itu menjadi panik. Asal kerusuhan tersebut tak lain dan tak bukan disebabkan oleh pertengkaran mulut dua orang yang terbilang masih kecil…
"Oy Cina, kalau mau ribut jangan disini, ini toko kue nenek langgananku."
"Yang duluan mulai kan kau, Sadis!"
"Siapa suruh kau percaya padaku begitu saja."
*Flashback*
Suasana kota nampak damai dan tentram di mataku, ternyata walau aku tak bertugas hampir selama seminggu, kota ini tetap baik-baik saja…. Tahu begitu, lebih baik dari dulu aku lebih serius untuk bolos bertugas.
Lelaki berambut cokelat terang itu berjalan sembari melihat sekeliling sekaligus memantau, gerakan kedua kakinya mengarah pada salah satu toko dari sederetan toko-toko yang telah dilewatinya. Tak begitu besar dan tak begitu kecil, tapi toko itu lumayan ramai oleh pembeli daripada toko-toko kue yang lain.
Kebetulan saja ketika kapten divisi 1 Shinsengumi itu hendak membeli beberapa kue di toko tersebut, toko itu nampak lenggang, ia bernafas lega karena ia tak perlu lama menunggu untuk mengantre seperti biasanya.
Sougo pun menginjakkan kakinya di toko itu, kemudian menyapa si pemilik toko yang telah dikenalnya sejak ia selalu menjadi pelanggan tetap di toko kue tersebut.
Pemilik toko itu adalah seorang wanita tua yang selalu memasang sebuah senyuman yang selalu merekah di wajahnya.
Sougo menyayangi wanita tua itu, senyumnya yang tulus mengingatkannya akan mendiang kakaknya, Mitsuba. Selain Mitsuba, Sougo sering menunjukkan kemanisannya yang tulus di hadapan wanita tua tersebut
"Nenek, seperti biasa, lima shortcake dan tujuh cheese cake." Ucap Sougo dengan senyum yang terpampang di wajahnya pada wanita tua yang tengah berada di balik meja pelayanan untuk para pelanggannya.
Wanita itu sedikit terkejut dengan kedatangan pelanggannya itu. "Ah, Sougo-kun, sudah lama aku tak melihatmu mampir." Jawab wanita tua itu, "bagaimana keadaanmu? Sepertinya kau sedang tak bertugas." Sembari melihat penampilan anak muda yang di hadapannya tersebut, yang terlihat memakai pakaian biasa, senyumnya yang merekah nampak jelas di wajah wanita tua itu, terlihat menunjukkan bahwa usianya yang berkisar 50-60 tahunan, tapi senyumannya yang bersemangat membuatnya terlihat bahwa semangatnya itu tak terlalu tua seperti usianya.
Lelaki berambutnya coklat terang itu hanya tersenyum dengan kedua matanya yang terpejam, "masih dalam proses pemulihan dari sakit nek, tapi sekarang sudah lumayan baikan."
"Pantas aku melihatmu sedikit pucat hari ini. Kuharap kau tak memaksakan kondisimu, Sougo-kun." Jawab wanita tua itu dengan lembut, sembari memasukkan kue-kue pesanan kapten Shinsengumi itu ke dalam sebuah kotak khusus kue-kue jualannya itu.
Sougo hanya tertawa kecil, "bukan aku yang memaksakan diri nek, tapi atasanku yang memaksakan." Ucapnya dengan nada sedikit mengadu, layaknya seorang anak yang tengah mengadu pada ibunya.
"Oh, Hijikata-kun, dia memang keras tapi hatinya baik. Kuharap kalian tidak bertengkar." Ucap wanita tua itu sambil menutup kotak kue pesanan Sougo dengan rapat, kemudian memberikannya pada anak muda di depannya yang kini nampak memasang ekspresi cemberut yang terkesan manja. Wanita pemilik toko itu hanya tersenyum melihat tingkah anak muda berambut cokelat itu.
"Nenek, aku beli kue strawberry-nya tiga buah~!" Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dari arah pintu masuk toko. Wanita tua yang tengah berbincang-bincang dengan Sougo itu kemudian menyambut hangat kedatangan pelanggannya yang baru datang tersebut dengan senyuman, kemudian mengambil kue-kue yang ada di etalase sesuai dengan pesanan pelanggan yang baru datang itu.
Sougo sontak terdiam ketika ia merasa orang itu, ah… Lebih tepatnya pelanggan yang baru datang itu berdiri di dekatnya. Ia kenal dengan aura pelanggan itu, apalagi dari suaranya yang terkesan cempreng di telinganya. Ia melirik ke arah pelanggan itu, dan pas sekali, pelanggan yang baru datang itu juga melirik ke arah Sougo.
Setelah memberikan wanita tua pemilik toko kue itu dua lembar uang kertas, pelanggan yang baru datang itu kemudian menatap Sougo.
Cina.
Sadis.
"Ah~ Sepertinya kau sudah sembuh ya Sadis?" Ucap Kagura dengan ucapan yang terkesan perhatian tapi tidak dengan nadanya yang terdengar mengejek.
"Dan sepertinya kau sedang senang ya cewek Cina~?" Balas Sougo dengan nada yang sama.
"Tentu, karena Papi telah memberikan uang saku untukku selama 8 hari, kau iri kan Sadis?"
"Ah tentu tidak, secara logika pasti gajiku lebih banyak dari pada uang sakumu itu, Cina." Ucap Sougo dengan nada makin terdengar mengejek, Kagura sedikit tersulut tapi terhenti karena wanita pemilik toko itu tersenyum kepada mereka berdua.
"Aa… Sougo-kun dan Kagura-chan saling kenal?" Ucap wanita tua itu dengan senyumannya.
Melihat reaksi wanita tua pemilik toko yang telah mereka kenal baik itu membuat keduanya sedikit sadar diri akan pertengkaran mereka, Sougo dan Kagura memilih membuang muka satu sama lain agar tak menimbulkan konflik berkepanjangan.
"Ah iya Kagura-chan, kue strawberry-nya kurang satu, tolong tunggu sebentar ya, akan aku ambilkan kue strawberrynya yang masih di dapur." Ucap pemilik toko kue itu di tengah-tengah keheningan antara 2 anak muda itu, kemudian berjalan terburu-buru menuju sebuah pintu yang menuju ke arah dapur.
Sougo dan Kagura hanya terdiam untuk beberapa saat sejak kepergian wanita tua pemilik toko kue dimana mereka tengah berada itu, hingga…
"Ah Cina, untuk membalas buburmu waktu itu dan aku tak mau berhutang budi, nih kukasih satu cheese cake punyaku." Kata Sougo dengan posisi badan membelakangai gadis Yato itu, kemudian berbalik menghadap padanya dengan wajah datar seperti biasa. Kedua mata Kagura nampak berbinar-binar melihat cheese cake pemberian si Sadis itu dengan wajah polos seperti biasanya, tak tahu akan sesuatu di balik semua itu.
*End of Flashback*
"Keparat kau! Sekarang kerongkonganku terasa panas karena cheese cake bertabasco pemberianmu itu!"
"Kau sendiri langsung melahapnya tanpa berpikir kalau cairan merah di atasnya itu adalah tabasco."
"Kupikir itu topping strawberry!"
"Mana ada sejarahnya topping strawberry di atas cheese cake, Cina. Kalau ada pun pasti warna merahnya beda dengan tabasco. Ah sudahlah, lebih baik aku keluar daripada membuat toko nenek menjadi rusak kalau-kalau kau mencari masalah denganku di sini." Ucap Sougo dengan membuang muka sembari menuju ke arah pintu masuk yang tadi ia lewati.
"Yang pertama cari masalah kan kau, Sadis!" Balas Kagura dengan kedua tangan memegangi lehernya.
Banyak orang yang kini tengah berkerumun di sekeliling mereka, penasaran akan ribut-ribut yang tengah terjadi di antara dua anak muda itu. Otomatis membuat toko kue dimana keributan mulut itu terjadi menjadi ramai.
Wanita tua pemilik toko kue yang baru keluar mengambil beberapa kue yang masih hangat dari dapur tampak terkejut dengan keadaan tokonya yang tiba-tiba sangat ramai. Kagura yang masih memegang lehernya karena siksa panas nan pedas akan tabasco buru-buru mengambil kotak kue yang telah diisi oleh 3 kue strawberry dari wanita tua pemilik toko kue itu, dan buru-buru mengucapkan terima kasih dengan suara yang seakan tersiksa, kemudian berlari keluar mengejar si Sadis yang telah mendahuluinya untuk meminta pertanggung jawaban.
Orang-orang yang masih berkerumun di toko kue itu hanya melongo melihat dua anak muda itu yang telah menghilang dari pandangan seakan mereka akan ber-duel di tempat lain.
Wanita tua pemilik toko kue itu hanya tersenyum, "masa muda yang indah." Gumamnya, kemudian menawari orang-orang yang masih berkerumun itu dengan kuenya.
"Ah, lega~" Ucap gadis berpenampilan ala Cina yang tengah lega karena air soda yang dibelinya dari mesin penjual minuman kaleng. Nampak salah satu tangannya tengah memegang minuman kaleng p*psi dan tangannya yang lain memegang kotak kue, dan salah satu kakinya ia letakkan di atas punggung seorang pemuda yang terkapar di atas tanah dekat mesin penjual minuman kaleng. Lebih tepatnya gadis Cina itu tengah MENGINJAK seorang pemuda dengan sebelah kakinya yang baru ia ambil uangnya (secara paksa) untuk sebuah minuman soda kaleng di depan sebuah mesin penjual minuman kaleng.
"Ini perampokan Cina. Kau memanfaatkan kondisi tubuhku yang masih belum pulih untuk menyerangku dari belakang kemudian menginjakku lalu merampas dompetku." Ucap pemuda yang terinjak itu, yang tak lain dan tak bukan dia adalah Sougo.
Kagura hanya terkekeh mendengar ucapan orang yang berada di bawahnya itu, sembari meremas minuman kaleng yang telah habis diminumnya kemudian melemparkan kaleng tersebut ke tempat sampah dengan tepat sasaran (malangnya kau minuman kaleng). "Ini salahmu karena memberikan saus tabasco pada cheese cake yang kumakan. Aku jadi merasakan déjà vu, kan!" * Kemudian menyingkirkan kakinya dari punggung Sougo, kemudian membiarkan lelaki itu berdiri.
Kini mereka berdua tengah di sebuah taman yang biasanya dijadikan Sougo sebagai tempat peristirahatannya ketika bolos bertugas, dan juga sebagai tempat bagi Kagura ketika berjalan-jalan bersama Sadaharu dan sebagai tempat bermain dengan anak-anak Kabukicho seperti Yot-chan dan lainnya.
Sougo hanya menaikkan kedua alis matanya, mungkin karena lelah ia memilih untuk duduk di salah satu bangku di taman dimana mereka tengah berada. Keheningan sesaat tengah menyelimuti mereka berdua, entah karena tak tahu mau membicarakan hal apa atau memang lagi tak mau membicarakan apapun, hingga…
"Ah, selama dua hari kedepan kau kosong nggak?" Pertanyaan yang berasal dari suara imut Kagura membuyarkan kesunyian di antara mereka. Mendengarnya, Sougo hanya mengangkat kedua alisnya, kemudian menatap gadis Cina yang sekarang berada di depannya entah sejak kapan.
"Memangnya ada apa? Mau duel satu lawan satu?"
Mendengar balasan lelaki shota itu, Kagura hanya menatap ke arah lain sambil memegangi dagunya, "karena tiga hari lagi aku sudah tak ada di bumi, oleh karena itu, aku memilih menghabiskan waktu terakhir selama di bumi ini bersama rival abadiku yaitu kau selama dua hari ke depan. Bagaimana? Mau?" Ucapnya dengan pandangan lurus ke arah Sougo yang hanya menatapnya dengan wajah datar.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, Papi memberiku uang saku dan waktu 8 hari untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang yang penting bagiku sebelum aku pulang ke Yato. Aku sudah menghabiskan 4 hari bersama Gin-chan, Shinpachi, Anego, Otose dan Catherin di taman bermain dan di rumah Anego, 2 hari di markas Joi Zura dan Elizabeth, hari ini aku baru pulang dari markas mereka, dan tinggal 2 hari lagi, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama rivalku." Sambung gadis itu lagi dengan suara yang antusias yang menurut Sougo terkesan dipaksa… Karena ingin menangis. Ia bisa membayangkan si Cina yang sedikit lagi berpisah dari Danna, si Kacamata, Anego-nya dan orang-orang yang selalu di sekelilingnya itu.
Sougo kini hanya menghela nafas, ia mengerti rival juga adalah hal yang penting dalam hukumnya dan mungkin juga untuk siapa pun yang mempunyai rival. Sougo hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, "ya… kalau itu memang permintaan terakhirmu dan kalau kau merengek." Ucapnya dengan senyum remeh terpasang di wajahnya.
Kagura kalut, perasaannya yang ingin menangis mengingat Danna, Shinpachi, Anego dan lainnya seketika buyar dan tergantikan rasa emosi.
"Aku tak merengek! Di saat-saat begini masih saja membuat orang emosi!" Serunya sambil melemparkan selembar kertas kecil yang sedikit teremas ke wajah Sougo.
Sougo seketika menangkap kertas tersebut sebelum mengenai wajahnya. "Ah tiket ke kolam renang ya, Cina. Kenapa harus ke kolam renang? Aku kan tak mau melihat dadamu yang rata itu dalam pakaian renang." Ucap Sougo datar, kali ini wajahnya menunjukkan ekspresi meremehkan yang sangat jelas terlukis di wajahnya.
Kagura hanya memasang ancang-ancang untuk meninju wajah bishonen Sougo yang dimatanya terlihat memuakkan. "Cuma tiket ke kolam renang itu yang tersisa, Sadis bodoh!" Serunya dengan amarah, Sougo hanya mengelak dengan santai, entah kenapa dia tiba-tiba menjadi bersemangat padahal dari awal chapter ia sedang tak fit.
Kagura kini tengah mengarahkan tinju keduanya yang ia jamin kali ini tak akan meleset, dan Sougo tengah bersiap mengelak untuk yang kedua kalinya yang ia jamin pasti akan berhasil lagi.
Tapi peninjuan dan pengelakan itu terhenti ketika anak-anak yang biasanya bermain di taman itu (Yot-chan dkk) lewat dan melihat mereka berdua, dan mereka pun berteriak dengan nada bernyanyi.
"Kagura-chan dan si cowok bermuka cantik itu akan bercixxx!"
"Dan mereka duduk di bawah pohon dan berxxxxxx~!"
Kilatan mata kagura dan Sougo sontak tertuju pada mereka, seketika muncul perpaduan antara shota dan loli yang mengerikan.
Ralat.
Perpaduan shota dan loli yang paling mengerikan di seluruh Kabukichou.
Merasakan niat jahat yang memancar kuat dari si Loli Yorozuya dan si Shota Shinsengumi membuat anak-anak yang numpang lewat itu kabur untuk keselamatan hidup mereka. Sembari kabur mereka terus menyanyi sehingga nyanyian mereka tentang Sougo dan Kagura masih jelas terdengar dari kejauhan.
Note: Shinn Asuka adalah salah satu chara berkulit putih pucat dan bermata merah ruby dari Mobile Suit Gundam Seed Destiny yang memiliki seiyuu yang sama dengan Sougo yaitu Suzumura Kenichi.
Pada chapter ini di bagian wanita tua pemilik toko kue itu aku comot dari anime Gintama episode 186, disitu ditunjukkan kelakuan Sougo yang terbilang sangat berbeda dari pada biasanya. Dan pada kata-kata Kagura yang mengalami déjà vu itu sesuai di episode 186 ketika ia memakan kue dari Sougo, dan di fic ini aku membuatnya mengalami hal itu untuk yang kedua kali. (Maafkan aku Kagura)
Maaf atas ke-update-an chapter ini yang lama. Dan terima kasih atas reviewnya. Maaf karena belum membalas review yang masuk lewat PM.
Special thanks for: Na Fourthok'og & BakaAho
Untuk yang mengharapkan ke-romance-an antara loli dan shota ini, maaf karena romance-nya yang belum muncul-muncul juga, karena ada perubahan rencana di tengah-tengah pembuatan fic ini. Sekali lagi maaf, tapi suatu saat nanti akan muncul. Kuusahakan itu! XD
Dan seperti biasa, silahkan sampaikan pesan dan kesan etc melalui review.
