DISCLAIMER: I DON'T OWN GINTAMA
Kagura terbangun, insting liarnya mengatakan bahwa pagi telah datang. Dengan sedikit menggaruk-garuk rambutnya dan sesekali melakukan kegiatan rutinnya, yaitu mengupil.
Ia membuka pintu lemari, yang sebenarnya adalah kamarnya, tanpa semangat.
Di benaknya kini mengatakan bahwa ia pasti bangun terlalu pagi, yang pasti ia yakin si Boss Yorozuya itu juga pasti belum bangun, dan Shinpachi pasti belum datang karena masih dalam perjalanan menuju ke tempat dimana ia dan si Boss Yorozuya itu berada. Ia yakin sekali ia yang bangun paling awal.
Kagura pun berjalan gontai menuju jendela di balik kursi kebesaran Boss Yorozuya. Ia buka kedua matanya yang masih tertutup rapat itu perlahan, dan melihat pemandangan dari jendela tersebut.
Ramai.
Banyak penduduk Kabukichou yang lalu lalang di jam sepagi ini.
Kagura hanya menunjukkan sikap bingung dengan mengupil.
Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.
"Kenapa di jam sepagi ini sudah banyak orang-orang berlalu lalang?"
Saat ia berbalik membelakangi jendela, ia mendapati sesuatu yang janggal di atas meja kebesaran Boss Yorozuya yang hampir selalu tak diletakkan benda-benda apapun kecuali benda-benda wajib seperti telepon, tempat pensil untuk menempatkan permen lolinya, lampu meja dan Jump miliknya itu.
Kali ini, di mejanya tersebut terdapat secarik kertas yang ukurannya tak terlalu besar dan tak terlalu kecil, dengan tulisan tinta hitam yang ditulis dengan kuas.
Ia pun mengambil kertas itu dan membacanya.
Untuk Kagura.
Karena sudah jam 06.30 dan kau tak bangun-bangun juga jadi kami pergi kerumah Otae duluan, kalau kau merasa masih sempat, kau bisa menyusul.
Gin dan Shinpachi.
Gadis Cina itu hanya mengangguk-angguk membaca tulisan pada kertas yang baru ditemukannya tersebut. Tapi tiba-tiba saja kedua bola matanya itu mengecil. Ia menyadari sesuatu…
Ia mengamati tulisan di kertas itu lagi.
Difokuskannya pada kalimat 'sudah jam 06.30 dan kau tak bangun-bangun juga.'
Apakah ia telah tertidur terlalu lama?
"Ah, Kagura-chan! Sudah bangun rupanya." Seru pemuda berkacamata yang nampak baru kembali bersama seorang pria berambut perak, sembari membawa 2 bungkusan di kedua tangannya yang nampaknya berisikan baju-baju.
Dilihatnya gadis kecil itu yang tiba-tiba nampak diam.
Sangat diam.
"Anu… Kagura-chan? Kau kenapa?" Pemuda berkacamata itu pun buru-buru meletakkan barang-barang bawaannya kemudian menghampiri gadis Cina yang tengah diam tersebut, si pria berambut perak juga melakukan hal yang sama.
Kagura hanya menatap pemuda berkacamata dengan pria berambut perak yang kini berada di hadapannya tersebut dengan tatapan meringis, "sekarang jam berapa?" Tanyanya datar dengan wajah yang menunjukkan ekspresi cemas.
"Jam?" Shinpachi menaikkan sebelah alis matanya kemudian melihat jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Jam 10.50, sedikit lagi jam jam 11. Memangnya ada apa Kagura-chan? Ada hal penting ya?" Sambungnya lagi dengan bertanya. Kagura hanya tertawa kecil, bukan karena sesuatu yang lucu tapi karena sesuatu yang ia salah duga.
"Haha… Si Sadis… Aku terlambat 2 jam lebih…" Gumamnya dengan gerakan wajah patah-patah dan ekspresi yang pucat.
-x-
"Oy, Shinpachi." Panggil pria berambut perak dengan tatapan tengah terfokus pada Jump yang ada digenggamannya.
Yang dipanggil hanya menyahut dari dapur, terdengar suara air yang mengalir dengan suara khas dari peralatan makan, pertanda bahwa ia tengah mencuci piring.
"Tadi si Kagura pergi kemana terburu-buru begitu?" Kali ini si pria berambut perak itu berganti pada mode bertanya, dengan tatapan tetap masih ke arah Jump-nya.
Shinpachi yang tadi sangat terfokus pada cucian yang ada di hadapannya, kini berhenti sejenak ketika pria berambut perak tersebut telah selesai bertanya.
"Entahlah Gin-san, tapi tadi kulihat dia pergi dengan membawa baju renangnya, yang ia baru beli kemarin ketika ia membeli kue." Ucap Shinpachi, kini ia memutuskan untuk menghentikan dulu kegiatan mencucinya untuk membahas pembicaraan yang baru timbul tersebut.
Gintoki kini melepaskan tatapan dari Jump-nya, dan berganti menatap Shinpachi yang tengah menghampirinya, nampak raut wajah pria berambut perak itu terkesan panik. "Ja-ja-jangan bilang kalau dia membeli bikini…"
Shinpachi hanya tertawa kecil, "tidak Gin-san, yang kulihat tadi hanya baju renang two piece biasa yang sesuai dengan usianya kok. Style baju renangnya juga tak terlalu beda dengan baju renangnya yang lama*"
Mendengar ucapan pria berkacamata itu barusan, raut wajah Gintoki mendadak menjadi lega. "Oh, sekarang aku ingat, dia pasti pergi ke kolam renang dengan tiket masuk yang dia dapat dari si Umbibozu itu."
"Yang benar Umibozu, Gin-san… Ah, untung pria itu telah pergi keluar sedari tadi malam." Ucap Shinpachi membenarkan dengan helaan nafas panjang.
"Oh ya Shinpachi, soal Kagura lagi… Dia pergi ke kolam sama siapa? Otae?" Si pria berambut perak itu kini bertanya lagi, dengan tatapan kembali pada Jump-nya.
Shinpachi hanya memasang pose berpikir. "Kurasa bukan, soalnya Aneue tadi bilang kalau ia akan sibuk mempersiapkan pekerjaannya hari ini."
"Zura?"
"Tak mungkin Gin-san, karena kemarin Kagura-chan sudah menghabiskan waktu bersama Katsura-san kemarin, masa sekarang dia bermain bersama dengannya lagi."
"Hmm… Kyubei-kun?"
"Sepertinya tidak, nampaknya Kagura-chan tak begitu dekat dengan Kyubei-san."
"Ayumu?"
"Apalagi orang gila itu, Gin-san." Ucap Shinpachi dengan wajah yang tak begitu tahan dengan tebakan asal-asalan dari pria yang ada di hadapannya itu, tapi tiba-tiba saja raut wajah pria berkacamata itu menunjukkan bahwa ia teringat akan sesuatu. "Tapi kalau tak salah, tadi aku mendengarnya menggumamkan kata 'sadis' dan 'gawat' berulang-ulang."
Gintoki kembali terhenti dari Jump-nya ketika pria berkacamata itu mengucapkan kata 'sadis'. Dengan wajah panik level 2nya dan dengan sedikit menelan ludah yang terasa amat pahit, pria berambut perak tersebut menatap Shinpachi. "Ja-ja-jangan bilang dia pergi ke kolam bersama Souichiro-kun…"
.
.
.
.
"Oy Cina, kau jangan menangis begitu." Ucap pria berambut cokelat terang dengan wajah datarnya kepada gadis berambut oranye yang tengah terisak di hadapannya.
Sougo tak bisa berbuat apa-apa selain mengatakan "jangan menangis" dengan tatapan datar yang seakan tak menunjukkan rasa cemas yang setara dengan kata-katanya.
"Aku memang kesal karena kau datang SANGAT terlambat dan seenaknya saja tiba-tiba menyuruhku memenuhi semua ucapanmu." Ucap lelaki itu lagi.
Gadis di hadapannya itu makin terisak, malah kini lebih tepatnya menangis meraung-raung. Nampak ekspresi wajah lelaki berambut cokelat terang itu sedikit menunjukkan ekspresi bingung.
Sementara Sougo (sedikit) bingung menghadapi gadis yang dihadapannya tersebut, sebelah telinganya nampak panas mendengar bisikan dan omongan orang-orang di sekitar mereka berdua yang tengah berlalu-lalang di sekitar gedung kolam renang dalam ruangan, dimana saat ini mereka berdua berada.
"Ibu-ibu lihat deh pemuda itu, membuat gadisnya menangis sampai seperti itu." Bisik seorang wanita tua kepada wanita-wanita tua lainnya, yang nampaknya mereka adalah ibu-ibu arisan tak ada kerjaan di mata Sougo.
Sougo hanya mendesah, tak mengindahkan kumpulan ibu-ibu tersebut.
Beberapa lama kemudian, ibu-ibu arisan tak ada kerjaan itu sekarang telah berlalu setelah berbisik-bisik tentang Sougo selama satu setengah menit, lebih lama daripada lampu lalu lintas yang ada di jalan-jalan raya. Tapi kini, muncul pasangan yang menurut insting Sougo pasti akan membicarakannya juga.
"Lihat yang, cowok itu bikin ceweknya menangis. Untung yayang tak seperti itu~" Ucap seorang cewek kepada pasangannya yang tengah digandenginya.
"Aku kan tak sekejam seperti cowok itu, ayang. Sudahlah, lebih baik kita segera pergi ke mall." Balas pasangannya cewek itu dengan tatapan remeh kepada Sougo.
Belum lama setelah pasangan brengsek di mata Sougo itu pergi, lewatlah dua orang cewek remaja di sekitar dimana Kagura dan Sougo berada.
"Eh eh, lihat gadis yang sedang menangis itu, pasti karena cowok itu yang membuatnya menangis." Kini cewek remaja yang tengah berjalan bersama temannya melirik ke arah Sougo sembari berbisik, tapi bisikannya itu terdengar amat jelas di kuping Sougo.
"Kau benar, padahal cowok itu tampangnya bishie dan shota banget, ternyata hatinya jahat. Eh, kalau tak salah dia kan salah satu anggota Shinsengumi…" Balas cewek remaja yang lain, teman dari cewek remaja pertama, dengan menatap Sougo lurus.
Perasaan Sougo makin tak enak ketika cewek remaja kedua itu menyinggung-nyinggung nama Shinsengumi.
"Ah! Kau benar, aku ingat! Sekarang dia kapten Shinsengumi yang pernah muncul di TV itu, padahal dia polisi tapi membuat gadis malang itu menangis. Polisi tak berperasaan. Siapa sih komandannya?" Balas cewek remaja yang pertama sambil menatap kecut ke arah Sougo.
Panas.
Satu kata itu yang menungkapkan perasaan dalam hati, otak, dan kedua telinga Sougo. Seandainya dia membawa bazooka kesayangannya itu pasti sudah diledakkannya orang-orang keparat tersebut sedari tadi dalam satu ledakan.
Tapi sayang, kini dia hanya membawa sebatang pedang bambu. Bisa saja sih, dia menghajar orang-orang itu satu persatu tapi itu tak praktis, dan hari ini lelaki berambut cokelat terang itu sedang tak mau merasakan yang namanya capek.
Kini dia hanya mendesah pelan dan menatap gadis Cina yang dihadapannya itu yang masih menangis meraung-raung.
Kini ia melakukan cara lain.
Dengan mengusap-usap kepala gadis itu dengan lembut.
"Baiklah aku berjanji, akan kulakukan apapun perintahmu sampai keberangkatanmu." Ucapnya dengan wajah menghadap ke arah lain.
Tangisan gadis itu berhenti, matanya yang merah karena menangis menatap lelaki berambut cokelat terang itu yang masih menghadap ke arah lain.
Mengetahui bahwa gadis Cina yang di ada depannya telah berhenti menangis, Sougo kembali menatap gadis itu untuk meminta maaf (yang terpaksa).
Dan…
Didapatinya dia gadis Cina yang tengah memasang wajah nge-troll kepadanya dengan sebelah tangannya yang menunjukkan sebuah obat tetes mata.
"Keparat kau Cina." Ucap Sougo dengan tatapan tajam ke arah gadis berambut oranye tersebut.
"Habis, kalau aku tidak melakukan ini kau tak akan menuruti kamauanku. Ingat ya, kau sudah janji~" Balas Kagura sambil nyengir.
"Kalau kau membatalkan janjimu itu, aku akan melakukan hal yang sama di depan semua orang agar Shinsengumi-mu itu menjadi rendah di mata masyarakat~" Ucap gadis itu lagi sembari berlari-lari kecil menuju pintu masuk gedung kolam renang dalam ruangan, tak mengindahkan ekpresi Sougo yang menunjukkan rasa penyesalan yang terdalam akan janji yang dibuatnya barusan.
Kolam renang dalam ruangan itu nampak tak terlalu ramai karena kini bukanlah hari libur. Tapi tak begitu masalah bagi Kagura dan Sougo, terutama Kagura karena ia tak harus berdesak-desakan untuk berenang.
Gadis berambut oranye itu tengah berlari-lari kecil menuju ke ruang ganti, tapi terhenti ketika lelaki berambut cokelat terang itu hanya diam menatap bagian penjualan baju renang.
Penasaran, gadis berambut oranye itu menghampiri lelaki tersebut. "Oy Sadis, kenapa kau tak segera menuju ke ruang ganti? Kau tak ikut berenang?"
Sougo tetap mengarahkan pandangannya ke arah penjualan baju renang itu berada, dengan ekspresi datar, "asal kau tahu Cina, aku baru ingat bahwa aku sekarang tak membawa celana renangku…"
-x-
"Ah payah kau, masa seorang gadis harus mengeluarkan uangnya untuk membeli celana renang yang bukan untuknya!" Omel Kagura dengan menghitung-hitung sisa uang yang ada pada dompet mungilnya kepada Sougo yang tengah memandanginya sembari menggenggam celana renang berwarna biru tua.
"Mana kau ke sini tak membawa uang sepeser pun, yang kau bawa malah pedang bambu!" Omel gadis itu lagi.
"Oh, kalau kau tak ikhlas kau boleh berenang dengan memakai celana ini." Balas Sougo dengan ekspresi datar sembari menunjukkan celana renang yang baru dibelikan Kagura.
"Mana mungkin Sadis! Mana mungkin aku berenang dengan bagian bawahku saja yang tertutup!"
"Ah, tenang saja Cina, bagian atasmu kan tak ada apa-apanya dan lagi kamu tidak berkelakuan seperti cewek-cewek kebanyakan, jadi orang-orang pasti tak akan menganggapmu sebagai seorang cewek."
"Persetan dengan celana renang! Lebih baik kau segera masuk ke ruang ganti daripada aku akan membunuhmu di sini, di tempat ini!" Seru Kagura sembari menuju ke ruang ganti khusus wanita dengan langkah berdebum dengan kepala yang nampak berapi-api di mata Sougo.
"Ah Cina, sepertinya kau salah ruang ganti." Ucap Sougo yang membuat gadis itu berhenti melangkah.
"Heh? Apa maksudmu? Di situ sudah jelas kok, ruang ganti khusus wanita."
Sougo memasang senyum mengejek. "Heeh~? Bukannya kita sejenis ya Cina?" Ucap Sougo dengan wajah datar nan polos yang tak berdosa, sembari mengarahkan telunjuknya ke arah bagian tubuh Kagura yang ada di antara leher dan perutnya itu.
Alhasil keributan terjadi di antara mereka berdua dan membuat petugas kolam renang yang berada di sekitar mereka kewalahan.
-x-
Kagura keluar pertama dari ruang ganti, nampak ia sedang melakukan pemanasan sebelum berenang sembari menunggu si Sadis yang masih di dalam ruang ganti.
Setelah melakukan pemanasan dan si Sadis yang tak kunjung keluar juga, gadis berambut oranye itu memilih duduk di tepi kolam dengan kedua kakinya yang ia masukkan ke dalam air kolam.
Si Sadis masih tak kunjung muncul juga, gadis itu pun sekarang memilih bermain-main air dengan kedua kakinya sembari bernyanyi kecil untuk menghilangkan rasa jenuhnya akibat menunggu.
Tak diketahuinya dia bahwa ada 3 pasang mata jahat yang tengah melihatnya dari kejauhan.
"Oy Shinpachi, over." Ucap pria berambut perak dengan walkie talkie yang berada di genggamannya.
"Apa Gin-san, over." Balas pria berkacamata dengan walkie talkie-nya, nampak ia tengah berada tak begitu jauh dari tempat dimana pria berambut perak itu berada.
"Apakah menurutmu tempat ini aman untuk Kagura kita? Over." Balas Gintoki dengan tatapan mata terfokus pada Kagura yang masih bermain-main air dengan kedua kakinya.
"Tak tahu Gin-san, tapi kemungkinan juga banyak pria-pria pedo di tempat ini. Over." Balas Shinpachi lagi.
"APA? MAKSUDMU PEDO BEAR? ATAU SEMACAM LOLICON? Over." Seru Gintoki dengan kerasnya sembari menuju ke arah Shinpachi dengan gaya ala tentara jika tengah bergerak di belakang semak-semak.
"Ssst…! Jangan keras-keras Gin-san nanti Kagura-chan bisa menyadari keberadaan kita. Lagipula itu cuma kemungkinan! Over." Balas Shinpachi dengan suara yang terbilang keras juga sembari menuju ke arah Gintoki dengan gaya yang sama.
"Kau yang bicara terlalu keras, useless megane! Over!"
"Jangan memanggilku 'useless megane'! Aku juga punya nama Gin-san! Lagi pula kau yang bicara paling keras ditambah lagi dengan kalimat yang memakai mode CAPS LOCK! Over."
"Kau mau berdebat hah, useless useless useless mega-" Seru Gintoki pada walkie talkie-nya tapi terhenti ketika mendapati Kagura tengah dihampiri oleh 3 pria berjenggot.
"Shi-Shi-Shinpachi! Over." Seru Gintoki lagi, tergagap dengan ekspresi panik.
"Apa Gin-san? Over." Balas Shinpachi, kini jaraknya dengan pria berambut perak itu telah dekat. Dilihatnya pria berambut perak itu tengah bercucuran keringat yang ia tebak pasti keringat dingin, dengan jari telunjuk mengarah pada kagura yang tengah…
"Dikerubungi pria-pria PEDO! Gin-san kita harus bertindak!" Seru Shinpachi dengan ekspresi yang tak kalah panik.
"Kau benar! Mari kita bertin- URGH!" Gintoki yang tengah berjongkok siap menarik pedang kayunya, tapi nampaknya ia tak bisa menarik pedang tersebut dengan gaya yang keren, karena kepala peraknya keburu terinjak oleh seseorang yang berlari menuju ke arah dimana tadi Gintoki juga hendak menuju ke arah yang sama.
Menuju Kagura.
"Gin-san kau tak apa? Bertahanlah! Benjolmu besar sekali!" Seru Shinpachi sembari mengguncang-guncangkan badan pria berambut perak itu yang nampak tak sadarkan diri karena kepalanya yang telah terinjak seseorang, mungkin karena dirinya berjongkok dengan posisi sangat membungkuk membuatnya gampang terinjak.
Penasaran dengan siapa gerangan yang telah menginjak kepala pria berambut perak yang malang tersebut, Shinpachi lurus memandangi orang tersebut dari belakang, nampak orang itu tengah berlari dengan cepatnya ke arah Kagura dengan sebelah tangannya yang menggenggam setusuk cumi bakar dan sebelah tangannya lagi tengah memegang pedang bambu.
Dari badannya ia masih terbilang amat muda yang nampak seumur dengan Shinpachi yaitu belasan tahun, dengan rambut berwarna cokelat terang…
"Okita-san?"
"Nona kecil ayolah ikut dengan kami." Ucap pria berjenggot dengan kepala botak.
"Kami akan mengajakmu ke tempat yang menyenangkan sekali." Kini pria lainnya yang berkacamata hitam berjenggot yang ikut berbicara.
Kagura hanya memandangi pria-pria itu yang berjumlah 3 orang dengan tatapan polos khasnya, "kata Gin-chan dan Shinpachi aku tak boleh ikut dengan orang asing, karena mereka itu pasti penculik." Ucapnya dengan nada polos. "Lagipula aku bukan anak kaya raya seperti Nagi Sanzenin*." Sambungnya lagi.
"Ti-tidak kami bukan penculik kami hanya penjual ana- Ukh!" Ucapan pria berjenggot dengan kepala botak tersebut terhenti karena kepalanya yang botak dipukul oleh pria bergigi emas yang botak juga.
"Ma-maksud kami, kami hanya penjual mainan anak-anak, mungkin nona kecil tertarik!" Ucap pria bergigi emas nan botak itu dengan tergagap.
"Tapi tetap saja aku tak mau ikut, lagipula aku tak mau pergi dengan meninggalkan dia begitu saja." Jawab Kagura masih dengan wajah polos.
Merasa tak sabar, pria botak dengan gigi emas menarik tangan Kagura untuk segera ikut. "Dia siapa? Sudahlah nona kecil ikut saja!"
Merasa terusik, gadis oranye itu hendak meluncurkan serangan salto dan tendangan ala Yato-nya, tapi terhenti karena ia mendengar suara langkah kaki yang berlari dengan cepat yang semakin terdengar mendekat.
"SOUGO KICK~" Ucap lelaki berambut cokelat terang dengan datar, yang tiba-tiba menerjang dengan hebatnya, dengan salah satu kakinya, dengan cepatnya, dengan tepatnya, mengenai pria botak bergigi emas tersebut. Alhasil membuat pria itu tercebur ke kolam dengan sukses.
"Yang dimaksud 'dia' oleh si Cina ini adalah aku." Ucap Sougo sembari menggigit setusuk cumi bakarnya dengan tatapan datar kepada pria yang tercebur itu. Menyadari masih ada 2 pria lagi di belakangnya Sougo dengan tatapan sadism miliknya menatap kedua pria itu dengan menodongkan pedang bambu dengan sebelah tangannya. "Maju atau kalian mati."
Kedua pria itu hanya berdiri, tak bergerak sedikit pun, karena merasakan aura membunuh yang amat kental dari anak laki-laki yang ada di hadapan mereka tersebut, "ka-kami mundur."
Mendengar itu Sougo hanya memasang ekspresi remeh dengan menaikkan dagunya, "kotae wa kiitenai yo*…"
.
.
.
.
"Oy Shinpachi, over." Ucap Gintoki kepada walkie talkie yang terhubung kepada Shinpachi yang tepat di sebelahnya. Ia tengah melihat dari kejauhan pada ruang ganti pria yang baru saja dimasuki Sougo dengan menarik 3 pria pedo tersebut dengan tali tambang yang entah darimana, nampak kini terdengar jeritan 3 pria itu yang meraung-raung.
"Apa Gin-san, over." Balas Shinpachi pada walkie talkie-nya dengan tatapan pucat ke arah ruang ganti pria tersebut.
"Sepertinya kita tak dibutuhkan di sini, over." Ucap Gintoki sambil mengusap-usap kepalanya yang masih benjol.
Shinpachi hanya terdiam sesaat diiringi dengan helaan nafas panjang, "Ya. Ya, kau benar Gin-san. Over…" Ucapnya menutup pembicaraanya kemudian membopong pria berambut perak itu pulang.
Kagura masih memandangi pintu ruang ganti khusus pria itu dari luar dengan tatapan lugu. Jeritan dari 3 pria tersebut masih jelas terdengar, membuat orang-orang yang berada di depan pintu tersebut pada menyingkir untuk mencari aman demi nyawa mereka. Walau pintu ruang ganti pria itu telah ditutup dengan rapat, tapi tetap saja aura penyiksaan dari dalam ruangan tersebut sangat kental terlihat. Siapa lagi yang mempunyai aura seorang penyiksa yang kental seperti itu kalau bukan si Sadis bernama Okita Sougo.
"Oy Sadis, sudah selesai belum?" Seru Kagura dari luar sembari mengetuk pintu, sontak jeritan dan raungan korban Sougo dari dalam ruangan tersebut terhenti. Mungkin karena lelaki itu tengah menuju ke arah pintu untuk menghampiri gadis Cina tersebut, sehingga aksi penyiksaannya kepada 3 pria tersebut terhenti.
Dan benar saja, lelaki berparas shota itu tak berapa lama kemudian nampak membuka pintu ruang ganti tersebut.
"Ada apa Cina?"
"Sampai kapan kau akan mengurusi mereka, kau hanya membuang-buang waktu di sini."
"Ah iya, aku sampai lupa dengan tujuan awal kita. Karena sudah lama sekali aku tak menyiksa Hijikata-san jadi kulampiaskan pada mereka, sorry Cina." Ucap Sougo kemudian menutup pintu ruang ganti, membiarkan 3 pria bernasib tragis itu di dalam.
Dipandanginya Kagura yang ia baru sadar bahwa gadis itu telah mengenakan pakaian renangnya sedari tadi. Pakaian renang berwana merah seperti warna baju Cina yang sering ia pakai. Dilihatnya lagi gadis itu dari kepala sampai ke ujung kaki.
Bingung dengan tingkah lelaki shota itu, Kagura hanya menaikkan sebelah alis matanya, "ada apa Sadis?"
Sedikit terkejut. "Ah tidak, cuma sedikit berpikir. Lumayan juga kau Cina." Ucapnya kemudian berlari masuk ke kolam, kemudian di susul gadis Cina di belakangnya yang memasang ekspresi bingung, sembari menanyakan maksud dari perkataan si Sadis itu barusan.
"Oy Tosshi, over." Ucap seorang manusia yang menyerupai gorila atau gorila menyerupai manusia pada walkie talkie yang ada di genggamannnya. Sepasang matanya nampak awas dari kejauhan, dari balik mesin penjual minuman kaleng, memandangi dua anak remaja yang nampak tengah tanding renang.
"Apa Kondo-san, over." Balas pria yang jaraknya tak terlalu jauh dari pria yang menyerupai gorila atau gorila menyerupai pria itu, sembari berjalan mengendap-endap ala tentara di medan perang, mendekati si pria gorila tersebut yang tengah terhubung dengan walkie talkienya. Dengan tatapan matanya yang juga awas memandangi dua anak remaja yang kini tengah berebutan pelampung berbentuk bebek untuk dinaiki.
"Apakah menurutmu tempat ini aman untuk Sougo kita? Over." Balas Kondo dengan tatapan mata cemasnya.
"Tak tahu Kondo-san, tapi kemungkinan juga banyak gadis-gadis pedo di tempat ini. Over." Balas Hijikata lagi dengan tatapan tengah teralihkan dengan sekumpulan gadis yang kira-kira berumur 20 tahunan yang tengah memandangi Sougo yang masih berebutan pelampung bebek dengan gadis Cina itu. Tapi nampak gadis Cina itu kalah dari Sougo, dan langsung naik ke tepi kolam kemudian berlalu.
"APA? MAKSUDMU SHOTACON? ATAU SEMACAM PEREMPUAN PENYUKA BRONDONG? Over." Seru Kondo dengan kerasnya pada walkie talkienya. Sontak membuat Hijikata sedikit menutup sebelah telinganya karena suara keras atasannya tersebut.
"Jangan keras-keras Kondo-san. Tapi, coba saja kau lihat gadis-gadis yang berada di arah jam 9 itu. Over." Balasnya lagi.
"Ah kau benar! Sekarang mereka tengah nge-blush melihat ke-bishie-an Sougo kita! Over." Seru Kondo, lupa akan peringatan 'jangan keras-keras' dari Hijikata barusan.
"Ah! Sekarang mereka tengah mendekati Sougo kita! Tosshi bagaimana ini? Over." Seru Kondo lagi dengan nada panik, menggoyang-goyangkan tubuh bawahannya itu yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya.
"Aku juga tak begitu tahu harus bagaimana Kondo-san, lagipula aku dan kau juga tak bisa tiba-tiba muncul dengan gaya heroik melindungi Sougo dari para gadis-gadis itu. Bisa-bisa kita dianggap jeruk makan jeruk. Aku sudah capek dijadikan pair yaoi bersama pria rambut keriting perak itu. Over." Ucap Hijikata dengan gaya yang terkesan curhat pada atasannya tersebut.
"Jadi bagaimana dong Tosshi? Lihat! Gadis-gadis berbikini itu kini sudah mengerubungi Sougo! Over." Seru Kondo sambil menunjuk ke arah dimana Sougo dan gadis-gadis itu berada, di tengah kolam renang.
"Sudahlah, lebih baik aku bertindak, aku tak bisa membiarkan Mitsuba-dono melihat hal ini dari alam san- URGH!" Ucap Kondo dengan tengah berancang-ancang untuk menceburkan diri ke kolam, untuk menyelamatkan bawahannya yang shota tersebut, tapi tak terlaksana karena tubuhnya tiba-tiba telah telah bergerak cepat ke samping.
Lebih tepatnya terlempar ke samping.
Alhasil kepalanya tepat mengenai tiang penyangga gedung dan menimbulkan suara yang cukup terbilang keras.
"Ah maaf Gorila, kau menghalangi jalan sih." Ucap pelaku penganiayaan Kondo tersebut dengan wajah polosnya.
Hijikata hanya terpaku melihat pelaku penyiksaan atasannya itu. Nampak pelaku tersebut adalah seorang gadis berambut oranye yang tengah berdiri di sampingnya, dengan sebelah tangannya yang memegang sesisir pisang yang entah darimana.
Dan dilihatnya gadis itu langsung menceburkan dirinya, lalu berenang menuju ke arah Sougo dan gadis-gadis shotacon itu berada.
"Cina Yorozuya."
"Anu, Sougo-kun umurnya berapa?" Tanya gadis shotacon berambut ikal panjang.
"18. Kenapa?" Jawab Sougo dengan wajah datar sekaligus bertanya.
"Kyaa~ Masih muda ternyata~! Kau ke sini dengan siapa?" Kini gadis berambut pendek lurus dengan dada yang kira-kira ber-cup D bertanya.
"Iya, kau kemari dengan siapa? Jangan bilang kalau kau kemari dengan pacarmu. Lupakan saja dia. Ikut dengan kami saja yuk!" Ucap gadis berambut panjang bergelombang kepada Sougo dengan wajah cemberut yang terkesan cute.
"Ah, tapi aku sudah janji padanya untuk melakukan semua ucapannya, bisa-bisa nama baik dan pangkatku jatuh jika aku meninggalkan dia begitu saja. Lagian dia juga bukan pacarku."
"Ah, sudahlah ikut saja dengan kami, dijamin tak akan menye- Ukh!" Ucap gadis berambut pirang yang hendak menggandeng tangan Sougo, tapi terhenti ketika tiba-tiba saja ada kulit pisang yang mengenai wajahnya.
"Siapa sih yang membuang kulit pisang ke sini?" Serunya sembari mencari biang keladi pembuangan kulit pisang tersebut.
"Aree~ Maaf Nee-san~ Soalnya kalian seperti seekor monyet yang sedang mengerubungi sebuah jagung~ Jadi kukasih kulit pisang, siapa tahu aja kalian mau." Ucap seorang gadis berambut oranye yang tengah duduk di tepi kolam sambil memakan pisang.
"Apa katamu? Anak kecil seperti kau beraninya berkata seperti itu!" Seru gadis berambut ikal dengan mengarahkan telunjuknya pada Kagura.
"Asal Nee-san tahu saja, aku bukan anak-anak." Ucap Kagura kemudian bangkit dari tepi kolam.
Gadis berambut ikal itu makin emosi melihat Kagura yang tengah memandang remeh terhadapnya, gadis berambut ikal itu pun naik ke tepi kolam untuk membuat perhitungan pada gadis berambut oranye tersebut.
Tapi di saat yang bersamaan, Kagura tak sengaja menjatuhkan kulit pisang, dan alhasil kulit pisang tersebut terinjak dan membuat si penginjak yang tak lain dan tak bukan adalah gadis berambut ikal tersebut terpeleset dan tercebur ke dalam kolam kembali. Membuat teman-teman gadis itu panik dan meninggalkan Sougo untuk menyelamatkan gadis berambut ikal tersebut.
Sungguh persahabatan yang indah…
.
.
.
.
"Oy Tosshi, over." Ucap Kondo pada walkie talkie-nya sembari bangkit dengan kepalanya yang nampak telah berhiaskan benjol yang lumayan besar.
"Apa Kondo-san? Over." Balas Hijikata yang tengah berjongkok di samping Kondo yang tengah kesakitan karena benjolnya, sembari memandangi Sougo dan gadis Cina Yorozuya yang tengah tanding renang kembali dari kejauhan.
"Sepertinya kita tak dibutuhkan di sini, over." Ucap Kondo sambil mengusap-usap kepalanya yang masih benjol dengan berjalan tertatih-tatih.
Hijikata hanya terdiam sesaat diiringi dengan hembusan asap rokoknya, "Ya. Ya, kau benar Kondo-san. Over…" Ucapnya menutup pembicaraanya kemudian membopong manusia menyerupai gorila atau gorila menyerupai manusia itu pulang.
.
.
.
.
Suasana di kolam renang sudah agak sepi karena siang telah berganti menjadi sore, membuat sebagian pengunjung kolam memilih untuk segera pulang.
Kagura sendiri nampak terlihat menunggu di sebuah bangku panjang di sekitar kolam renang, ia telah mengganti pakaian renang dengan baju biasanya, bersiap untuk pulang karena ia sudah cukup senang menghabiskan waktu di kolam, membuat kondisinya sekarang lumayan lelah.
Selain duduk beristirahat, ia sedang menunggu Sougo yang sebelumnya baru berganti pakaian, menyuruh kapten Shinsengumi itu dengan gaya ala nona besar untuk membelikannya segelas minuman soda dingin dengan uang dari gadis Cina itu.
Dilihatnya lelaki shota itu tengah berjalan menuju ke arahnya dengan dua gelas soda dingin dengan sedotan pada masing-masing gelas di kedua tangannya.
Ya sesuai janji. Memenuhi semua ucapan gadis itu sampai keberangkatannya.
"Nih," ucap lelaki shota tersebut sembari memberikan Kagura segelas soda dingin dengan wajah tak ikhlas.
"Thanks Sadis~ Kau memang baik~" Ucap Kagura nyengir.
"Ya, tapi terpaksa." Jawab lelaki berambut cokelat terang itu cepat sembari duduk di sebelah Kagura kemudian menyedot minumannya dengan sedotan.
Suasana seketika hening. Kedua remaja itu saling diam. Entah karena tak tahu mau membicarakan apa atau memang sedang tak mau membicarakan apapun. Yang terdengar hanyalah suara saling sedot menyedot minuman yang nampak terdengar susul menyusul.
Sepertinya mereka memilih untuk adu minum paling cepat daripada berbicara untuk saat ini.
Tapi perlombaan adu minum tersebut terhenti hingga lelaki di sebelah gadis Cina itu membuka pembicaraan.
"Oy Cina, aku hampir lupa. Besok kita akan kemana?" Ucap Sougo setelah selesai meminum habis minumannya.
Tak ada respon dari gadis yang ada di sebelahnya itu.
Penasaran karena pertanyaannya tak kunjung di respon juga, akhirnya lelaki berparas shota itu melirikkan matanya pada gadis itu. Nampak butir-butir air bening jatuh dari kedua matanya melalui pipinya dan terjatuh.
Kepalanya tertunduk.
Dia menangis?
Tunggu, ini pasti trik obat tetes mata itu lagi.
Dengan rasa tak akan tertipu lagi dengan trik yang sama, Sougo melihat kedua tangan Kagura, berharap tebakannya benar dan dia bisa melihat obat tetes mata pada salah satu tangan gadis itu.
Tapi nampaknya gadis Cina yang tengah menangis itu tak memegang apa-apa selain gelas minuman yang telah kosong.
Dilihatnya lagi Kagura yang masih menangis dengan tertunduk sesekali diiringi dengan sesenggukan. Membuat Sougo berkeyakinan, kali ini bukan bohongan.
"Kau tahu Sadis…" Ucap gadis itu lirih dengan diiringi sesenggukan. Wajahnya yang merah karena menangis, memandangi Sougo yang masih bingung dengan situasi saat ini.
"… Besok, kita tak bisa bermain lagi… Karena besok pagi... Aku sudah harus berangkat kembali ke Yato."
Tak mungkin.
Butir-butir air mata makin banyak berjatuhan dari pipinya, kedua matanya basah dan menampakkan kesunyian.
Bepikir untuk tidak menjadi seorang sadis untuk saat ini, lelaki itu merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu. Ia senang melihat perempuan menangis, tapi kalau karena masalah yang dialami si gadis alien tersebut ia bingung untuk memilih antara 'senang' atau 'tidak'. Tapi dalam hatinya yang terdalam ia merasakan rasa 'tidak' yang lebih kuat.
Entah ia harus bilang apa. Lelaki itu kehabisan kata-kata.
Takut, ucapannya yang 90% sering mengucapkan kata-kata yang sering tak enak didengar akan menambah buruk keadaan.
Ia memilih mengacak-acak rambutnya karena bingung. Kemudian mendesah dan mendekatkan tubuhnya pada gadis itu, melingkarkan kedua tangannya pada tubuh gadis Cina tersebut yang ukurannya lebih kecil dari tubuhnya.
Berharap, tindakannya tersebut bisa membuat gadis itu menghentikan kesedihannya, membuatnya merasa lebih baik.
Badannya kecil dan nampak lemah.
Lelaki berambut cokelat terang itu tetap memeluk gadis itu, berharap perasaannya bisa sampai pada pada gadis tersebut.
Si Cina merespon dengan menggenggam erat kedua lengan baju si Sadis dan menangis di salah satu pundak si Sadis.
Gadis Cina ini selalu bertingkah seakan bahwa dirinya itu kuat. Padahal dia tetap seorang gadis normal, yang kecil, dan lemah.
Ia akan meninggalkan Danna, si kacamata, Anego-nya dan orang-orang penting baginya di bumi.
Dan akan pergi bersama si pemburu alien itu…
Yang baru kutahu informasinya kemarin malam, bahwa mereka berdua akan pergi untuk menemui orang yang bernama Kamui yang sekarang tengah berada kembali di Yato…
Tak disadarinya lelaki itu, bahwa gadis Cina yang sedari tadi menangis di salah satu pundaknya telah tertidur pulas.
Mungkin karena rasa lelah karena bermain, ditambah pula rasa lelah karena menangis.
Digendongnya gadis Cina yang tengah tertidur itu di punggungnya.
Membawanya menuju ke arah dimana tempat yang bernama Yorozuya berada.
...
.
.
.
.
"Oy Shinpachi." Ucap pria berambut perak sembari mematung melihat lemari yang tertutup rapat, yang dimana di dalamnya ada seorang gadis berambut oranye yang tengah tertidur lelap.
Pria berkacamata yang juga tengah mematung sembari melihat objek yang sama seperti pria rambut perak di sampingnya tersebut menjawab dengan mengangguk.
"Kau tahu, kenapa si Souichiro-kun tadi kemari dengan menggendong Kagura yang dalam keadaan telah tertidur?" Tanya Gintoki, nampak ekspresinya makin lama berubah menjadi panik ketika ia mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi ketika si kapten divisi 1 Shinsengumi itu memencet bel di pintu Yorozuya mereka, dan seenaknya masuk dengan sendirinya, kemudian meletakkan Kagura di kamarnya (yang sebenarnya adalah lemari) lalu pergi tanpa mengatakan apapun.
Shinpachi hanya menggeleng, "tak tahu Gin-san. Aku juga bingung, kenapa mereka kembalinya malam-malam begini…" Ucap Shinpachi sambil melihat jam yang sekarang menunjukkan pukul 20.35.
Mereka berdua tak tahu bahwa perjalanan dari tempat kolam renang menuju Yorozuya dengan berjalan kaki membutuhkan waktu 1 jam lebih.
Gintoki hanya tersenyum pucat. "Oy Shinpachi, apakah kau memikirkan apa yang tengah kupikirkan?" Ucapnya sembari menengok pada pria berkacamata yang berada di sampingnya dengan sedikit gemetar.
Shinpachi juga menengok pada pria rambut perak yang di sampingnya itu dengan gemetar pula. "Sepertinya iya, Gin-san." Ucapnya menutup pembicaraan.
Mereka berdua tetap mematung.
Mulai membayangkan yang tidak-tidak antara si shota Shinsengumi dengan si loli Yorozuya mereka sepanjang malam…
Note: Kata-kata Shinpachi soal style baju renang Kagura yang lama itu sesuai dengan anime Gintama epi 217.
Nagi Sanzenin: chara cewek kaya raya di Hayate no Gotoku! Dan kebetulan seiyuu-nya adalah Kugimiya Rie, sama dengan seiyuu-nya Kagura
Kotae wa kiitenai: mungkin bagi yang penggemar tokusatsu kenal dengan kalimat itu, itu adalah kalimat khas dari Ryuutaros (Kamen Rider Den-O) yang artinya aku tak bisa mendengar jawabanmu.
Chapt ini sudah lama dibuat tapi karena ada gledek yang membuat saya parno, jadinya kagak jadi update deh. Dan setelah fic ini sempat update, 1 hari kemudian keburu hilang lah chapt 5 ini, karena ga sengaja di DELETE oleh salah satu teman saya, bener-bener update-an yang lama kha kha kha~ Maaf
Dan nampaknya Shena BlitzRyuseiran menyadari hilangnya chapt 5 ini *plok XD
Special thanks to: BakaAho, Shena BlitzRyuseiran, si anonim KamuKagu, Na Fourthok'og.
Dan terima kasih juga bagi yang hanya membaca.
Silahkan layangkan pesan, kesan etc lewat review.
