Hayo ^_^

Kembali dengan chapter di cerita gaje ini~

Dan oh ya, ini mungkin ada romance-nya dikit antara

Conan x Ai (Ai-nya tebak aja yang mana :p)


Conan akhirnya pasrah. Dia lalu menggandeng tangan Ai yang lemas.

"Ayo, kita ke sekolah," ajak Conan pada Ai. Ai yang masih takut, mengiakan saja. Mereka berdua berjalan pelan-pelan, Conan tidak peduli mereka telat sekalipun. Dan ketika mereka sampai di sekolah, memang mereka telat. Mereka masuk ke kelas, tapi yang ada bukan Kobayashi-sensei yang ramah, tapi wanita cantik memakai blazer ungu tua.

"Ah, Edogawa-san, dan Haibara-san. Ohayou, lain kali jangan telat," wanita cantik itu tersenyum. Melihat ekspresi Conan, wanita cantik itu sepertinya harus memperkenalkan diri. "Namaku, Sone-Onna. Panggil saja Sone-sensei," wanita itu tersenyum ramah. Conan menelan ludah, lalu mereka berdua segera ke tempat duduk masing-masing. Dia menyipitkan mata, karena guru ini cantik, dan dia khawatir lebih tepatnya, mungkin saja ini Vermouth yang menyamar. Kalau itu benar-benar Vermouth, Haibara Ai akan habis saat itu juga. Mungkin saja dia menunggu waktu.

"Edogawa-san, harap memperhatikan pelajaran," Sone-sensei tersenyum ramah lagi. Conan tersadar dari lamunannya, dan segala lamunan itu buyar.

"Ah, gomen." ucap Conan pelan.

"Lain kali, kalau sudah tahu semuanya, bukan berarti tidak mendengarkan tentang hukum pengurangan ini. Jadi, anak-anak, hukum pengurangan adalah kalau angka yang atas tidak cukup untuk di kurangi, pinjamlah dari yang angka sebelahnya," jelas Sone-sensei, dia benar-benar sabar.

"Eh? Kalau begitu, angka sebelahnya bagaimana? Apa tidak bisa di kembalikkan?" Ekspresi Ayumi menjadi sedih mengetahui hal itu.

"Begini, Yoshida-san. Angka ini hanya meminjam satu. Jadi angka di sebelahnya di kurang satu. Nah, karena sudah di pinjam, jadilah angka 2 ini, menjadi duabelas," sambung Sone-sensei. "Mengerti anak-anak? Sekarang, kalian boleh menyegarkan pikiran kalian atas penjelasan tadi beberapa menit, sebelum keluar agar tidak lupa. Oke?" Sone-sensei memberi kesempatan anak-anak untuk mencatat dan mengingat-ngingat lagi. Ini mungkin terkesan membosankan, tapi betul-betul berguna.

"Hai~" jawab anak-anak.

Sone-sensei adalah guru yang betul-betul cantik. Rambutnya di ikat satu, Matanya yang berwarna abu-abu tua memancar. Kulitnya yang putih mulus—membuat banyak lelaki ingin menyentuhnya. Nadanya juga tegas.

TING TONG

Pelajaran telah berakhir. Murid-murid dengan senang membereskan keperluannya. Ayumi tersenyum cerah pada Mitsuhiko dan Genta, dan tentu saja Conan dan Ai. Sayangnya Ai betul-betul tidak bisa membalas senyum. DIa masih ingat bagaimana dia di siksa melewati mimpi yang terasa asli.

"Haibara-san, Edogawa-san, harap ke ruang guru," perintah Sone-sensei dengan nada yang biasanya. Conan menggigit bibir.

"Oh iya, Haibara dan Conan kenapa telat?" Tanya Genta dengan suara nyaringnya. Conan menoleh, dan dia kembali menampilkan ekspresi anak kecilnya.

"Betsuni," jawabnya, lalu melempar pandangan ke Ai.

"Haibara, ayo kita ke kantor guru." Conan berjalan mendahului Ai. Ai menunduk. Di kantor guru, Sone-sensei menunggu sambil menghirup kopinya.

"Ah, kalian berdua. Kalian telat. Kalau begitu, aku harus memberi hukuman," Sone-sensei tersenyum simpul. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, yaitu tiket ke festival balon.

"Eh?" Conan kaget. Dia tidak menyangka mereka harus ke festival balon.

"Kobayashi-san mengatakan kalau kalian suka sekali jalan-jalan," Lanjut Sone-sensei. "Jadi bagaimana kalau besok kita ke sini? Tentu saja dengan anggota Shounen Tantei yang lain," sambung Sone-sensei.

"Baiklah," ujar Conan. Setidaknya mungkin saja ada kasus nanti, pikirnya. Ai mengangguk.

"Terima kasih," mereka mengucapkan itu lalu menutup pintu. Berjalan melalui lorong, mereka kembali bertemu dengan anggota detektif cilik.

"Oi, besok kita ke festival balon," Conan mengumumkan dengan tidak niat. Sekejap, mereka semua kaget dan senang.

"Hountou ni, Conan-kun? Wah, aku sangat senang!" Ayumi menampilkan wajah berseri-seri, dan dia menatap seluruh orang yang lewat, membuat mereka bertanya-tanya ada apa. Conan menguap, lalu Conan sadar Ai memang butuh istirahat.

"Jaa, kami pulang." Conan tersenyum. Ketiga anggota detektif cilik mengernyit curiga, tapi menepis kemungkinan itu. Conan dan Ai sedang berdua berjalan.

"Haibara, kau yakin akan baik-baik saja? Sudah punya tersangka?" Tanya Conan bertubi-tubi. Ai mengangguk.

"Jigoku Tsushin," jawabnya lemah.

"Eh?"

XXX

Ran benar-benar tidak habis pikir. Conan ingin menginap di rumah Hakase. Alasannya mudah saja; game dan game. Tapi Ran tahu kalau Ai sedang sakit; dia melihat Ai lemas tadi pagi. Mungkin saja Conan mau merawatnya, begitu pikir Ran. Tapi Ran tetap tidak terima kenapa Conan tidak jujur.

"Mou, Conan-kun. Kenapa mau ke rumah hakase?" Selidik Ran.

"Ng, Game—"

"Aku tahu itu bohong!" Ran tersenyum mengerikan. Conan jadi takut.

"Er, baiklah, itu Haibara..." Conan menunduk, wajahnya agak memerah.

"Ah, soukka. Conan-kun sudah punya pacar?" Ran tertawa, karena Conan memerah mukanya. Conan memutar mata, karena entah kenapa dia ingin.

"Oke, sana. Jaga Haibara baik-baik!" Ran melambai. Conan mengangguk pasti. Dia lalu mengambil topi dan berlari ke rumah professor.

Conan segera sampai di rumah Hakase. Ketika dia membuka pintu, Ai sedang memakan chips dan menonton TV. Hakase juga sedang sibuk dengna laptopnya, jadi tidak terlalu memperhatikan kedatangan Conan. Conan segera duduk di sebelah Ai. Mereka berdua mengerling pada jam dinding. Baru jam delapan.

"Aku bosan," keluh Conan, menonton TV tentang acara fashion. Ai mengangkat bahu.

"Ganti channelnya!" Tuntut Conan, matanya mencari-cari remot. Tapi Ai nyengir lebar, sehingga Conan tahu Ai menyembunyikannya.

"Sini!" Conan beranjak dari sofa dan siap menggelitiki Ai, tapi Ai dengan mudahnya berkelit hingga Conan terpeleset bungkusan Chips yang di buang sembarangan di lantai hingga menimpa Ai dengan keras.

"Kudo-kun! Sakit," rintih Ai. Conan benar-benar merasa malu sekarang, sehingga dia berdiri.

"Itu salahmu," katanya angkuh.

"Apa katamu Kudo-kun?" Ai tersenyum mengerikan. Conan merinding.

"Uh—eh...salah...bukan salah siapa-siapa," Conan memutuskan jalan tengah. Dia tidak ingin ribut-ribut dengan Haibara untuk sekarang, yap. Tidak ingin. Mereka sibuk menonton TV, hingga tidak sadar jam sudah hampir menunjukkan angka 12.

Conan segera bersiap, dia mengambil laptop pelan-pelan. Hakase sudah tidur dari tadi, dan Conan sudah memastikannya. Maaf, untuk kali ini professor itu tidak bisa di ajak bekerja sama karena dari awal dia terang-terangan melarang hubungan Ai dengan situs ini, tapi beda kasus. Conan menekan tombol lalu laptop mulai bersinar. Setelah mendapat sinyal, Conan membuka browser lalu mengetik sesuatu di situs pencarian.

Tik.

Tik.

Tik.

Tik.

TIk.

TIk.

TSING!

Akhirnya situs itu bisa di buka. Tepat sekali, terdapat kolom putih dengan background hitam. Tulisannya 'Anata no urami, harashimasu' dalam bahasa Jepang. Conan menggamit tangannya. Dia bertopang dagu, bingung siapa yang dia benci. Ai memperhatikan. Dia benar-benar ingin mengirimkan bajingan Gin, tapi kemungkinan itu tidak bisa. Itu nama samaran. Tapi mungkinkah bisa...? Bagaimana situs ini membalaskan dendamnya? Apakah mereka membunuh kejam seperti organisasi itu? Kalau benar iya, ini sama saja bohong. Mereka sama saja pembunuh. Tapi ini sepertinya beda.

Jemari Conan mulai bergerak, mengetik nama Chris Vineyard, tapi kemudian dia menghapusnya lagi. Dia memejamkan mata, benar-benar bingung. Ai juga tidak tahu dia harus mengirimkan siapa. Tapi kemudian dia memutuskan untuk menuliskan sesuatu. Dia menuliskan Shiho Miyano. Conan mendorong Ai sekuat tenaga hingga Ai terjatuh dan mengaduh pelan. Conan tampak sangat marah dan menghapus nama itu. Dia tidak tahu kenapa, dia merasa marah. Kenapa Ai harus menghilang...? Akankah Ai sadar bahwa dia menuliskan namanya, dengan ini, sudah pasti sekali, kalau dia akan hilang juga? Dia bodoh. Conan terus menuliskan nama, hingga akhirnya dia menuliskan Gin. Dia menekan tombol enter.

"Koko ni iru yo," ucap suara yang tidak beremosi seperti waktu dia bertemu kemarin lalu. Conan kaget, cepat menghalau Ai dengan tangannya. Perempuan yang memakai seragam pelaut berwarna hitam dengan mata semerah darah. Conan benar-benar tidak tahu bahwa dia muncul. Darimana orang ini muncul? Sebagai detektif, dia mulai menyusuri pintu. Terkunci. TIdak mungkin. Bagaimana dengan jendela? Terkunci. Lalu bagaimana orang ini bisa sampai di ruangan yang semuanya terkunci? Ini tidak masuk akal, pasti dia mempunyai trik tersembunyi.

"Uketoranisai," Perempuan cantik berambut panjang itu menyerahkan benda berwarna hitam. Conan mengernyit. Dan Ai tampak ketakutan. Perempuan itu memberi...boneka jerami.


Berhenti di saat yang tidka tepat? Ohoho begitulah X)

Review ya! :)