#

#Our Everlasting Love#

#


.

.

.

Drap! Drap! Drap!

Derap langkah cemas itu menggema keseluruh roka. Memperlihatkan raut wajah yang kian memucat—akibat ketakutan. Helai merah mudanya tersibak melawan arus angin, tak kenal lelah, ia menyusuri roka untuk menemui kekasihnya tercinta.

Denging kalimat yang tadi Suigetsu sampaikan membuatnya jatuh lemas tak berdaya. Sang Kekasih hati jatuh sakit. Ditambah lagi, pemuda itu berontak saat ia diseret kembali menuju kamarnya—setelah menatap langit senja yang kelabu. Meninggalkan tetes-tetes air mata Amaterasu O Mi Kami yang tadi sempat membelai wajahnya yang pucat.

Kian banyak pertanyaan yang berkeliling cemas di benaknya. Membuat seruan Karin tak terdengar, hanya satu kalimat yang membuatnya kembali menangis.

"Sasuke-kun… kumohon bertahanlah…"

Grek!

Fusuma berlukiskan Suzaku itu terbuka kasar, membuat semua orang menatap kearahnya, yang langsung menghambur ke pelukan sang Raven yang terus menatap kosong pada langit-langit.

"Kau tak apa-apa kan, Sasuke-kun?"

Tak ada jawab. Hanya lirikan singkat nan pedih dari-Nya. Jemari kekar itu kian mencengkram erat selimut yang sedari tadi menyelimuti tubuhnya dari angin malam.

"Sasuke-kun! Kumohon jawab pertanyaan ku! Kau tak apa-apa 'kan? Sasuke-kun!"

Pedih. Seluruh jiwanya tak pernah tertuju pada indra yang kini mendengar seruan lirih Sakura. Yang ada hanyalah helaan nafas sendu akan rindunya ia pada langit biru. Tak ingin berpisah pada langit bak permata safir miliknya. Milik Amaterasu O Mi Kami.

"Berhenti berteriak di telinga ku, Sakura."

Sebait kalimat itu ternyata mampu membuat Haruno Sakura terdiam tak percaya pada sosok kekasihnya. Tak ada aura kehangatan yang dulu sering ia rasakan. Siapa sebenarnya yang telah mengubah perangai kasihnya?

"Ke-kenapa Sasuke-kun? Aku khawa—"

"Tinggalkan. Aku. Sendiri."

Untuk yang kesekian kalinya pemuda itu berucap sarkas. Dingin, namun tak ada yang menyadari bila di balik semua itu terdapat sebersit kesedihan, akan rindunya ia pada sang Mentari.

Isak tangis Sakura berhenti untuk sesaat. Emerald miliknya menatap tak percaya pada sang Onyx yang berkata penuh penekanan.

"T-tapi, Sasuke-kun—"

"Kumohon Sakura…" ia berbalik memunggungi sang Tunangan, "Tinggalkan aku sendiri… aku butuh waktu…"

Butuh waktu apa lagi Uchiha Sasuke? Kau terlalu banyak menggunakan waktu, hingga kau sendiri yang panik harus menyikapinya seperti apa. Kau tau waktu yang telah kau gunakan terlalu banyak. Sia-sia belaka kau berkata seperti itu, yang ada hanyalah perasaanmu yang makin tak karuan, karna terus memikirkan gadis yang kau cintai. Siapa ia, dan dimana ia sekarang. Tak ada gunanya kau terus-menerus seperti itu.

"Kenapa? Aku hanya ingin menemanimu!" Gadis itu tetap bersikeras, "Aku tau, kau sekarang butuh pelukan hangat, kau butuh seseorang untuk menenangkanmu, Sasuke-kun! Dan aku ada disini untukmu!"

Ia diam, tetap memunggungi sosok cantik yang kini terisak menahan tangis. Mimik wajahnya sama sekali tak berubah, datar. Menganggap sang Tunangan hanyalah pengganggu yang membuyarkan lamunannya pada sang Terkasih, Amaterasu O Mi Kami.

"Tinggalkan aku, Sakura." Sekali lagi ia ucapkan, "Aku tak membutuhkan mu. Aku hanya butuh ketenangan…"

'Bukan kau yang kuharapkan untuk berada di sisi ku sekarang, Sakura. Aku membutuhkannya yang tak kuketahui siapa.'


White Love, for White Lily

In

Our Everlasting Love

*
Naruto belong to Masashi Kishimoto

Romance, & Hurt/Comfort

Rate; T

This fic belong to Miyako Shirayuki Phantomhive

Kugatsu belong to Kalafina and Yuki Kajiura

Don't Like Don't Read!

Check This Out!


Bagai kertas yang dihempas angin, tubuhnya bergetar tak karuan. Iris safir itu terus saja mengeluarkan air mata, seraya menatap dua bait nama bersanding indah di atas gulungan itu.

さすけ

あまてらす

Jelas ia melihat namanya bersanding dengan nama Sasuke. Sungguh perasaannya kini tak karuan. Antara bahagia, senang, atau bingung dengan apa yang harus ia lakukan?

"Tidak, ini tidak mungkin…" lirihnya kecil, jemari yang menopang gulungan itu sedikit bergetar, ikut merasakan gundahnya ia, "Bohong… tidak mungkin aku… dan Sasuke…"

Aizen menggeleng, begitu pula dengan Tsukiyomi.

"Gulungan milik Izanami-tousama yang diberikan pada Aizen Myo O tidak 'kan pernah berbohong," gadis itu bergumam lirih, "Bila Nee-sama mengatakan hal itu… berarti sama saja dengan—"

"Aku tidak meragukan Tou-sama, Tsukiyomi!"

Hening. Bibir ranum milik Dewi Bulan itu terkatup rapat mendengar sang Kakak membentaknya. Tunggu, ia tak boleh terpancing emosi, hanya karna hal ini.

Helai pirangnnya menggeleng pasrah, "Apa yang harus 'ku lakukan?" bisik suara itu lirih, "Bagaimana caranya?"

Ketiga Dewi cantik itu terdiam. Biarkan isak tangis Amaterasu O Mi Kami menguasai keadaan.

"Hanya ada satu cara…" gumam Aizen lirih, "dan saya yakin, Amaterasu-sama takkan mau mendengarnya…"

Amaterasu menggeleng kecil, seraya mendongak menatap Aizen yang berdiri menghadapanya, "Apa… itu?"

Helaan nafas itu terlihat cemas, sesekali ia menggigiti bibirnya karna tegang. Sebelum ia mengucapkan satu kata yang menghancurkan hati kecil Amaterasu O Mi Kami menjadi serpihan debu yang tertiup angin.

"… Kematian…"

Deg!

"A-apa… aku tidak salah dengar?"

Kedua Dewi itu menunduk sedih, tak ingin balas menatap wajah Amaterasu O Mi Kami yang bersimbah air mata.

"Katakan kalau kalian hanya bercanda… Aizen Myo O? Tsukiyomi?"

Lagi, mereka terdiam saat lontaran pertanyaan tak percaya keluar dari bibir ranum Amaterasu. Keduanya bingung harus berkata apa. Jelas saja mereka tak mungkin memaksa gadis itu untuk membunuh Uchiha Sasuke dengan kedua tangannya.

"Saya tidak bercanda, Amaterasu-sama." Suara lembutnya berkata tegas, "Bila Anda tak ingin melakukan hal itu, terpaksa saya mengutus Shinigami untuk menuntaskannya."

Iris safir Amaterasu terbelalak kaget. Tubuh rapuhnya menegang, dan 'tuk kesekian kalinya ia menangis malam itu.

"Tidak! Kumohon jangan!" jerit kekasih Raven sambil menangis, "A-aku mencintainya… kumohon jangan… Aku tak ingin merebut kebahagiaan orang lain untuk kedua kalinya!"

"Tapi tak ada cari lain untuk menuntaskan masalah ini, Amaterasu-sama! Mengertilah!"

"Sekali tidak, tetap tidak, Konan!"

"Astaga, kumohon mengertilah Amaterasu-sama…" suaranya kembali melembut, "Saya mengerti apa yang Anda rasa—"

"Kalian tak pernah mengerti apa yang ku rasakan!"

Plak!

"Justru kau yang harusnya mengerti Amaterasu!"

Seruan itu menggema diseluruh ruangan. Menyisakan raut wajah terkejut dari Aizen Myo O juga Amaterasu O Mi Kami. Tak menyangka adiknya akan menampar ia sekuat tenaga. Meninggalkan rona merah di pipinya yang putih bersih.

"Berhentilah memikirkan umat mu yang selalu tidak puas dengan kehidupannya itu, Amaterasu! Sekali saja, kumohon sadari betapa kau juga menginginkan kebahagiaan!"

"…"

"Lihat dan balas apa yang telah ku katakan Amaterasu!"

Perlahan helai pirang itu menoleh menatap adiknya yang berusaha menahan tangis.

"Cukup sudah kau korbankan semua kebahagiaan mu demi orang lain, Nee-sama…"

Grep!

"Kumohon… sekali saja… aku ingin melihat senyum bahagia mu bersama pemuda yang kau cintai… dan berhentilah memikirkan orang lain…"

"Aku…"

Gadis berambut putih pucat itu menggeleng pelan, "Ini semua demi kebaikan seluruh pasangan yang ada di dunia…"

Konan mengangguk membenarkan, "Bila ketimpangan ini tak segera terselesaikan… semua nya bisa jadi kacau. Dan tentunya Anda tak ingin ada kekacauan bukan?"

Bagai diterjang oleh angin topan, hatinya gentar. Bingung dengan apa yang harus ia putuskan untuk masa depan semua orang. Kini semua berada di telapak tangannya. Termasuk masa depan sang Kekasih tercinta.

Apa yang harus ia lakukan? Hatinya bergetar lirih dalam sapuan badai yang menggetarkan jiwa. Antara kebahagiannya sendiri, orang lain, atau menuntaskan semua masalah yang kini sedang ia hadapi dengan membunuh pemuda yang ia cintai. Kami-sama… lihatlah jiwa putri kecil mu kini? Hendak jatuh tertimpa angin, bak binatang yang sedang sekarat.

"Untuk kestabilan takdir yang 'tlah terukir, Amaterasu-sama…" Konan menggenggam lembut jemari lentiknya, tersenyum manis, "pikirkan lah semua ini baik-baik. Cerna semua masalah yang sedang Anda hadapi, saya yakin Anda dapat memahaminya…"

Tatapan dari iris safir itu kosong bak ranting yang kehilangan nyawa akibat satu-satunya organ kehidupan yang ia miliki 'tlah tiada.

Yah, memang benar ia kehilangan organ itu… kehilangan penyemangat hidupnya, jantung dari seluruh permasalahan, pemuda yang ia cintai, titik kelemahannya… Uchiha Sasuke.

"Batas waktunya lusa nanti," ia kembali angkat bicara, "bila Anda tak segera bertindak, maka saya yang akan bertindak lebih dulu, sebelum kekacauan ini melebur hingga titik didih.

Tapi saya yakin, Anda dapat menyelesaikannya secara tegas, seperti Izanagi-sama yang merelakan takdir istrinya harus berada di Yomi."

Gadis berambut biru keunguaan itu tersenyum lembut pada Amaterasu yang terdiam, hanyut bersama aliran kenangan yang sebentar lagi kan terwujud bersama kebahagiaannya. Saat sang Raven kembali ke pelukannya.

Namun ia kembali tersentak bila mengingat malam dimana sang Kekasih tercinta meracaukan nama tunangannya. Sungguh, detik itu hatinya terasa hancur berkeping-keping, walau seberkas rasa ragu nan implisit melintas dalam benaknya.

"Aku…"

"Saya yakin Anda

dapat melakukannya."

Tak ada lagi yang bisa ia ucapkan, selain mencerna seluruh kalimat yang mendesak jalur pemikirannya. Gadis berambut pirang keemasan itu hanya mengangguk, tak mengindahkan tatapan berharap dari Aizen Myo O juga Tsukiyomi no Mikoto.

"Aku… mengerti…"

Larut dalam keindahan kasih abadi yang menjanjikan kebahagiaan tak pasti. Semu. Seperti semua orang menganggapnya kini.

Tapi tidak bagi Uchiha Sasuke. Walau otaknya menolak keras jeritan sang Hati kecil, ia tetap mempercayainya. Percaya bila kasih akan cinta yang ia miliki benarlah tumpuan seluruh cahaya, dan umatnya di bumi ini. Amaterasu O Mi Kami.


#
*Our Everlasting Love*
#


Hening malam sama sekali tak membantunya 'tuk terlelap. Pejamkan kelopak Onyx itu berkali-kali, namun tetap saja sebersit bayangan gadis berambut pirang dengan iris bak langit musim panas terus membangunkannya dari tidur. Menenggelamkan semua kesadaran yang ia miliki, terbang menyusuri indahnya kenangan alam bawah sadar.

"Belum tidur, Sasuke-kun?"

Entah untuk yang keberapa kalinya ia menghela nafas untuk malam ini. Sungguh ia muak pada ocehan khawatir Sakura yang tak kunjung pergi dari sisinya. Bersikeras untuk tetap duduk menemani si Jantung Hati.

"…"

Gadis berambut merah muda itu mendesah pelan, tatapan matanya menyiratkan rasa khawatir juga sedih, karna telah kehilangan sosok yang sangat ia cintai.

"Kenapa kau berubah, Sasuke-kun?" bisik gadisnya lirih, "Kau tau aku sangat mencemaskan mu, dan lihat apa yang kau balas untuk semua itu? Kau mendiamkan ku bak patung tak bernyawa! Mana Sasuke-kun yang dulu sangat mencintaiku?"

Tak dapat mengontrol emosinya, Sakura hampir menjerit saat mengatakan hal itu. Tapi ia masih sadar dimana posisinya sekarang. Ia sedang berada di rumah tempat sang Tunangan tinggal, dan tentunya ia tak ingin membangunkan seluruh penjaga bukan?

"…"

Emerald-nya mulai tergenangi air mata, "Apa yang menyebabkan kau berubah perangai terhadapku, Sasuke-kun? Mana dirimu yang selalu ingin bermanja dengan ku? Hiks… Aku merindukan mu yang dulu! Sekarang kau begitu dingin, dan seperti tak pernah mengenalku!"

"Aku memang tak pernah mengenalmu, Haruno Sakura." Ia merasa punggungnya bergetar, "Aku tak pernah mengenal Haruno Sakura yang sekarang. Aku mengenal Haruno Sakura yang tak pernah memaksa ku untuk mencintainya meskipun aku berubah, dan bukan Haruno Sakura yang minta dimanja seperti sekarang."

Bak bumerang yang balik menyerang, ia kehabisan kata-kata. Yah, semenjak Sakura sadar dari tidurnya—setelah meminum ramuan Yuri—ia merasa ada yang berubah dari gadis itu. Terutama sosoknya yang kini lebih bersifat kekanak-kanakan, selalu minta diperhatikan juga ingin bermanja. Ah, mungkin ini salah satu karma untuk Sasuke yang selalu bersikap layaknya Sakura sekarang.

"Ugh…"

"Aku hanya butuh ketenangan, Sakura." Ia mendesis kesal, "Dan apa sulitnya kau pergi dari tempat ini!"

"A-aku hanya ingin menemani mu, Sasuke-kun. Aku ingin menjadi orang pertama yang kau inginkan keberadaannya."

"Tapi jelas bukan kau yang sekarang aku impikan sosoknya, Sakura!"

Pemuda itu berbalik, menatap kesal pada Sakura yang terbelalak kaget mendengar teriakannya.

"Tolong mengertilah keadaanku sekarang…"

Tak banyak bicara, dengan wajah yang bersimbah air mata gadis beriris Emerald itu pergi meninggalkannya sendirian di washitsu pribadinya. Bertemankan remang cahaya lilin yang ditaruh di atas meja kecil. Mengabaikan dinginnya malam yang berhembus dari fusuma yang terbuka lebar.

"Aku menginginkan sosoknya, Sakura…" helai raven itu tertunduk pedih, cengkraman pada selimut semakin erat bak pelampiasan emosi.


Kitto yume no naka de…
Anata no hohoemi ni aeru…
Sotto kisu wo shite yo…
Kieyuku kugatsu no tame ni

Tentu saja ku ingin melihat mu…
Tersenyum manis dalam mimpiku…
Kecup lembut bibirku, 'tuk alasan mengapa kau pergi di malam September itu…

"Aku menginginkan ia yang selalu hati ku jeritkan… bukan kau…"


#
*Our Everlasting Love*
#


"Sudahkah kau memikirkannya, Nee-sama?"

Ucapan sendu dari Tsukiyomi menyadarkannya dari lamunan menatap Yata no Kagami yang kini sedang memantulkan sosok pemuda tercinta.

Tak ada jawaban, bahkan menoleh pun sosok cantik itu tak melakukannya. Diam bak patung menghadap Yata no Kagami yang menampilkan sosok kekasih yang tengah terbaring sakit.

Hatinya cemas, tak jarang ia meneteskan air mata. Memohon pada Ekibiogama tuk mencabut semua penyakit juga penderitaan yang kasihnya rasakan sekarang. Membelai penuh kasih raven yang terpantul dalam lingkup kasihnya.

"Nee-sama?"

"Ya," bibir ranumnya tersenyum lembut, ketika ia lihat seseorang membangunkan kasihnya dari mimpi buruk, "Aku telah memikirkannya semalaman…"

Kini giliran wajah Tsukiyomi yang berseri-seri, "Benarkah? Lalu kapan kau akan melaksanakannya?"

"Malam ini…"

Safir yang sama dengan milik Amaterasu itu terbelalak tak percaya, "Secepat itu?"

Gadis itu mengangguk pelan, "Uhm… aku akan meminta Suzaku, Byakko, Genbu, dan Seiryuu untuk menjaga perbatasan antara Yomi, juga Kahyangan. Aku takut Izanami-sama akan mencampuri masalah ini, sehingga akan muncul masalah baru."

Tsukiyomi mengangguk, lalu berjalan menghampiri sang Nee-sama.

"Aku percaya kau dapat melakukannya melebihi Tou-sama…"


#
*Our Everlasting Love*
#


Tubuhnya yang ramping nampak makin indah dengan balutan furisode biru langit yang serasi dengan iris safirnya. Koshi-himo yang pertama kali melilit pinggang ramping itu, nampak tertutup oleh Date-jime mempercantik Fukuro Obi yang diikat model Fukura Suzume. Di bagian bawah dan atas Obi juga terdapat Obi-age dan Obi-jime—dengan warna yang disesuaikan kimono— yang menahannya agar tidak melorot juga tak berpindah posisi.

Amaterasu O Mi Kami nampak cantik sekaligus anggun kali ini. Helai pirangnya yang biasa di gerai, kini di sanggul kecil ke belakang dengan dihias Hana Kanzashi berbentuk Yuri. Tapi, secantik atau seanggun apapun, tak bisa menyembunyikan raut sedih juga sembabnya safir yang ia miliki.

"Amaterasu-sama?"

Gadis cantik itu menoleh menatap sesosok harimau putih yang kini berjalan menghampirinya. Byakko.

"Ya?"

Layaknya hewan peliharaan, sang Harimau Putih bermanja pada sang Majikan. Mengusapkan wajahnya pada lengan Amaterasu yang berbalut Furisode, mengundang senyum halus dari sang Majikan.

"Anda tak apa?" suara berat meng-interupsi-nya dari lamunan, lalu menggeleng seraya membelai kasih Byakko.

"Aku tidak apa-apa, Byakko…" ucapnya lembut, membuat Byakko mengangguk mengerti.

"Kalau begitu, sebaiknya kita segera pergi, Amaterasu-sama."

Ia mengangguk kecil, lalu berbalik menatap Yata no Kagami yang memantulkan sosoknya saat ini. Cantik sekali.

"Maafkan aku, Sasuke…"


#
*Our Everlasting Love*
#


Malam kembali larut dalam kesedihan. Bersumpah serapah karna telah diperlihatkan tragedi cinta yang tak berujung pada kebahagiaan ini.

Sekali lagi ia terbayang akan wajahnya yang cantik. Wajah siapa lagi kalau bukan wajah seorang Namikaze Naruto, sang Amaterasu O Mi Kami. Menatap langit malam bak merindukan seorang kekasih, yah memang ia merindukannya. Sangat merindukannya.


Urei wo otoshi…
Mienai tsuki ni negai wo kaketa…
Yume no you na koi wo suru no…

Biarkan kesedihan pergi…
Kubuat permohonan pada bulan yang tersembunyi…
'Tuk jatuh cinta seperti dalam mimpiku…


Bulan tak terlihat dari balik awan, meninggalkan berjuta bintang yang kini menemani seorang Uchiha Sasuke dalam heningnya malam. Merasakan betapa rindunya ia pada aroma ini. Aroma lavender yang khas hingga membuatnya tersentak kaget.

"?"

Onyx nya terbelalak kaget begitu tahu seorang gadis berambut pirang, dengan irisnya yang berwarna safir berdiri di hadapannya.

Hening tak ada respon dari satu sama lain. Terdiam menikmati pemandangan nostalgia. Safir dan Onyx itu kembali bertemu. Meninggalkan sejuta rasa rindu yang membekas jelas pada titik-titik visual keduanya. Tak sanggup menahan diri akan kerinduannya, tetes demi tetes kristal bening luruh dari kelopak safir Amaterasu.

"S-sasuke?"

Ia menggumam kecil, bermaksud memanggil namun nyatanya hal itu membuat Sasuke kaget. Tentu saja, memang siapa yang tidak kaget bila seorang gadis cantik tiba-tiba datang kehadapanmu, lalu memanggil namamu tanpa perkenalan.

"Siapa kau? Kenapa kau bisa tau namaku?"

Ia rindu. Sangat merindukan kasihnya ini, hingga kembali menangis dalam senyuman.

"Kau tau aku siapa, Sasuke…"

Entah perasaan apa itu, jujur, ia begitu menginginkan tubuh mungil yang bercahaya itu dalam dekapnya. Memeluk, mengecup keningnya berkali-kali, melampiaskan seluruh rasa rindunya pada sang Amaterasu O Mi Kami. Begitupun sebaliknya.

"Kau… Naruto?"

Grep!

"Ya… hiks… aku Naruto-mu…"

Menangis dalam dekapan hangat Uchiha Sasuke, merupakan mimpi buruk baginya. Setiap kali ia tidur, bayangan akan sosok pemuda yang ia cintai selalu menghantui tiap mimpinya. Sungguh, semua telah terbayar lunas.

Tak pernah ia terbayang 'kan kembali memeluk tubuh tegap di hadapannya ini.

"Kau… benar-benar Naruto?" gadis itu mengangguk kecil di tengkuknya.

"Ya, aku di sini…" mengecup pipi pucat itu lembut, "untukmu…"

Bagai tersengat listrik, tubuhnya tersentak untuk sesaat. Tampilan demi tampilan masa lalunya silih berganti datang, membuatnya meringis kesakitan, hingga Naruto melepas pelukannya, membingkai wajahnya lembut.

"Ugh…"

"Kau tak apa?"

Ia menggeleng, lalu menggenggam jemari lentik yang tadi membingkai wajahnya. Menggiring tangan itu untuk menyentuh dadanya yang bidang. Menatap sorot safir itu dengan tatapan bingung, kesal, juga sedih.

"Siapa kau sebenarnya?" lirih ia berucap, menatap sang Safir sendu, "Kenapa aku selalu memimpikan mu?"

Diam. Ia hanya bisa terdiam dengan air mata yang terus menetes bak kristal di malam hari.

"Kenapa seluruh raga dan jiwaku selalu menjeritkan namamu?" Kami-sama lihat putri kecil mu yang menangis rindu, "Kenapa aku selalu merindukan mu saat menatap langit? Apa yang sebenarnya terjadi?"

"…"

"Jawab aku…" cengkramannya makin erat, "aku… tersiksa dengan semua itu… mengerti?"

Grep!

"Hiks… maafkan aku… hiks…"

"Kumohon jangan menangis…"

"Maafkan aku…"

Lengan kekar itu membalas pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma lavender yang begitu menyiksa batinnya sejak tadi. Mengusap helaian pirang Naruto perlahan, menolak pikirannya untuk bertindak, dan menuruti perkataan hatinya.

"Maaf untuk apa?"

"Maaf, karna telah membuatmu menderita selama ini… hiks…" sungguh ia merindukan sosok pemuda yang mendekapnya ini.

"A-aku… tak mengerti apa yang kau bicarakan…"

Melepas pelukannya perlahan, lalu menatap kekasihnya lembut. Membingkai wajahnya yang tampan dalam kasih, tersenyum hangat.

"Tentu saja kau tak mengerti…" kedua kening mereka bertemu, "Tsukiyomi menghapus semua ingatan mu tentang ku… dan sekarang, aku akan mengembalikannya…"

"?"

"Anata ni aishimasu, ne?"

Tubuhnya yang terbalut kinagashi hitam terasa bergetar akibat letupan-letupan atmosfer yang membuatnya kembali ke kenangan masa lalu. Mendesaknya kuat seperti air yang ingin keluar dari bendungan. Rasanya sesak, dan sakit…

"ARGH!"

Grep!

"Jangan melawannya, Sasuke…" suara itu terdengar sangat lembut, "Sekarang aku ada di sisi mu… kau tak perlu melawannya lagi… biarkan kenangan yang ku ingat mengalir di benak mu…"

"N-naruto…"

Safirnya menangis lagi, seraya tersenyum lembut, "Jangan panik… aku ada di sampingmu, sayang…"

"A-aku…"

Tes… tes… tes…

"Koko ni iru yo, Sasuke…"

"Naruto…"

Kelopak onyx nya perlahan menutup, sebuah senyum tipis terukir samar di wajahnya. Seperti merasakan kebahagiaan yang amat sangat, membebaskan rasa rindunya yang begitu menyiksa. Tertidur lelap dalam pelukan hangat seorang Amaterasu O Mi Kami. Tenang dan damai…

"Oyasumi nasai, atashi no koibito…"

Selamat tidur, kekasih ku…


#
*Our Everlasting Love*
#


Onyx milikku perlahan terbuka, aku mengerjap-ngerjap beberapa kali, hingga pandangan ku kembali normal dan mendapati kekasih hatiku duduk di sampingku.

Ah, bahagianya aku begitu melihat sosok gadis berambut pirang bergelombang, mendekatkan wajahnya ke arahku. Bibir ranumnya mengecup bibirku lembut. Hangat.

"Ohayou, Sasuke…" bisiknya lembut tepat di telinga ku. Rasanya benar-benar senang, seakan semua hal yang terjadi tadi malam hanyalah mimpi belaka. Mimpi yang sangat buruk. Aku benar-benar tak ingin kehilangan-Nya!

Grep!

"Ini bukan mimpi kan?" aku memeluknya erat, "Katakan kalau kejadian tadi malam itu hanyalah mimpi, Naruto…"

Naruto diam. Kasihku ini terdiam, furisode biru langit yang ia kenakan terlihat sangat cocok dengan wajahnya yang berseri kemerahan. Aku mencintainya, ya, sangat.

"Kenapa diam, hn?" ia balas memelukku, membenamkan wajahnya tepat di tengkukku, "Naruto?"

"Sasu… ke…" Naruto menggumam kecil, jemarinya makin erat mencengkram kinagashi hitam yang kukenakan, "Aku… sangat merindukan mu…"

Ini gawat. Apa maksudnya dengan kalimat 'Aku sangat merindukanmu?' A-apa mungkin mimpi yang aku alami tadi malam… adalah nyata? Kenapa perasaan ku sangat tidak enak?

Mimpi dimana aku mendekap erat tubuhnya yang mulai menghilang… dan semua itu? Semua hal saat aku kehilangan ingatan akibat Tsukiyomi, juga… saat-saat aku membentak Sakura? Bertemu kekasih pirangku di malam itu? Menatap langit, karna aku sangat merindukannya…

"Sasuke…" kumohon jangan katakan kalau semua itu bukanlah mimpi, "Ada yang ingin aku katakan padamu…"

Aku hanya bisa diam mendengar kata-katanya. Tak sanggup membalas.

"Ini… tentang… hubungan kita…"

Kutarik nafas dalam-dalam, bersiap mendengar penuturannya, "Apa?"

Pelukan hangatnya makin erat, "Aku…"

"Hn?"

"Aku ingin… hubungan kita… berakhir…"

Deg!


#
*Our Everlasting Love*
#


"Apa maksudmu?"

Suasana di dalam washitsu itu menegang. Sasuke melepas pelukannya dari lengan sang Kasih, mencengkram pundaknya erat, dan sorot Onyx itu menatap sang Safir penuh tanya.

"Kenapa? Aku tak mengerti…"

"Maafkan aku…"

Helaian pirangnya tertunduk lesu, dan tubuh ramping itu mulai gemetar menahan tangis.

"Kenapa, Naruto? Bukankah kau sangat mencintaiku, heh? Katakan apa yang sebenarnya terjadi di sini!"

Naruto mencengkram lengan furisode-nya erat. Sungguh ia berat mengatakan hal ini pada Sasuke, tapi mau bagaimana lagi? Hanya ini yang bisa ia lakukan tanpa membiarkan darah berceceran di atas tatami.

Tes…

"Aku… hanya tak ingin kau terbunuh…" ia terisak, "dan hubungan mu dengan Sakura berakhir… jadi aku ingin kau berhenti mencintaiku, Sasuke… aku tak ingin merebut kebahagiaan kalian untuk yang kedua kalinya!"

Onyx-nya menatap tak percaya pada iris safir Naruto yang kini kembali mengeluarkan air mata.

"Naru—"

"Aku ingin kau selamat dari semua masalah ini!" ia terisak lirih, "Jadi kumohon relakan aku pergi, dan cintai Sakura seperti kau mencintainya du—"

"Masa lalu dan masa kini berbeda, Naruto!" safir sang gadis terbelalak menatap Onyx yang tadi 'tlah membentakya, "Dulu memang aku sangat mencintai Sakura, dan akan melakukan apa saja agar ia tetap hidup!

Tapi kini berbeda, Naruto… Aku sangat mencintaimu, jadi berhentilah memikirkan hubunganku dan Sakura!

Kau berkata seperti itu, berarti kau sendiri yang melanggar pesan mu untukku! Mencintai seorang yang selalu kau agungkan namanya dalam hati! Lihat dan rasakan, siapa yang sebenarnya aku cintai, Naruto! Hanya kau!"

Tangisnya pecah. Mencengkram erat kerah kinagashi hitam yang Sasuke kenakan, menangis histeris dalam pelukan sang Raven.

"Kenapa? Kenapa kau tak bisa mencintai Sakura seperti kau mencintainya dulu?"

"Karna kau telah menggantikan posisinya di hatiku…" tangisnya makin keras, "dan demi Izanagi-sama… katakan apa yang sebenarnya terjadi sampai kau mengatakan hal itu?"

Ia terisak pelan, begitu jemari kekar Sasuke mengusap tetes air mata yang bertengger manis di wajahnya.

"Katakan padaku…"

Masih terisak menahan tangis, lirih ia berucap, "Karena kau telah mengubah takdir mu, Sasuke…"

Keningnya berkerut bingung, "Apa maksudmu?"

Naruto mengusap air mata yang menetes di pipi kirinya, "Kau telah merubah semua takdirmu sendiri, karna kau selalu mengingat ku, mencintai ku, merindukan ku…

Hiks… aku tau ini semua salahku, karna membiarkan mu jatuh cinta padaku… hiks… a-aku—"

"Ini semua bukan salahmu, baka Dobe…"

Safirnya mendongak menatap Raven yang tengah tersenyum tipis, seraya membelai kasih helai pirang keemasan Naruto.

"Lalu, apa hubungannya dengan hubungan kita, hm?"

"Tentu saja ada, bodoh!" ia terisak kecil, "Kalau kau tetap seperti ini, walau ingatan mu berkali-kali di hapus oleh Tsukiyomi, percuma! Karna kekuatan dan pengaruh ingatanku lebih besar dari seluruh Dewi, termasuk Tsukiyomi! Dan satu-satunya cara menyelesaikan semua masalah ini, hanyalah dengan membunuhmu!"

"Kau tau?" safirnya kembali menangis, "Setiap saat aku memohon pada Aizen Myo O agar mengusulkan cara lain untuk masalah ini! Aku sama sekali tak ingin membunuhmu… hiks… aku tak ingin semua orang menderita hanya karna ulahku…"

"…"

"Jadi kumohon, Sasuke… berusalah untuk melupakanku… cintai Sakura… aku tak ingin membuatnya menderita untuk yang ketiga kalinya!"

"…"

"Hiks… kumohon, Sasuke…"

"…"

"Hiks… Sasuke?"

Naruto mendongak menatap onyx Sasuke yang terlihat sedikit kesal. Mungkin karna penuturannya tadi.

"Sudah selesai bicara, heh?"

"Eh?"

Cup

"Bodoh, kalau tak ada cara lain, kenapa kau malah menemuiku?"

Iris bak langit biru miliknya menatap Sasuke bingung, "A-apa?"

Menjauhkan wajahnya, lalu mengecup kening sang Kekasih lembut, "Apa yang kau rencanakan sebenarnya, Dobe?"

"Rencana?"

Kini yang terdengar hanyalah tawa pelan Sasuke, "Cih, sampai sekarang pun kau tetap lelet seperti biasanya!"

Naruto menggembungkan pipinya kesal, "Diamlah! Aku sedang serius Sasuke!"

Bibir tipisnya tersenyum meremehkan, "Kalau begitu jelaskan rencana mu yang sesungguhnya. Kuyakin kau punya rencana sendiri, Naruto."

Helaian pirang keemasannya tertunduk, "Sebelum ini… aku telah memikirkan banyak cara, dan yang terpilih hanya tiga…"

"Hm?"

"Pertama, aku akan meyakinkan mu agar mengakhiri hubungan ini, membuatmu membenciku karna aku telah berkata seperti itu, meninggalkan ku, dan takdir kembali seperti semua, karna kau mencintai Sakura lagi. Tapi rencana ini gagal karna ulahmu!"

"Hn, lalu yang kedua?"

"Kedua, bila keadaannya sama seperti ini, alias kau malah mempermainkan 'ku, dan tidak mendengarkan apa yang aku sampaikan… maka aku akan benar-benar menghapus ingatan kita, lalu menciptakan kembaran mu, dan membunuhnya seperti apa yang Aizen Myo O katakan… Dengan begitu aku berhasil mengelabui mereka… dan penghalang rencana ini adalah pikiran ku dan pikiran Tsukiyomi yang saling terhubung… kau tau apa maksudku bukan?"

Ravennya mengangguk singkat, menggenggam lembut jemari lentik Naruto.

"Dan yang ketiga?"

"Aku akan membunuhmu seperti yang Aizen katakan…" sang Onyx sama sekali tak bergeming, menatap santai sang Pujaan hati yang kini berusaha menahan tangisannya—untuk yang kesekian kali.

"Kenapa harus 'dibunuh'?"

Oh, ayolah ia tak ingin mendengar isakan perih Kekasihnya ini untuk yang keberapa kalinya—dalam sehari.

"Hiks… karna dengan begitu, takdir yang kau ciptakan terpenuhi." Mendongak, menatap sang Raven, "Dan… kau akan abadi bersama ku di Takamagahara…"

"…"

"?"

"…"

"Sasuke?"

Suara lembut itu meng-interupsi-nya dari lamunan, menatap Safir kekasihnya dengan senyum tipis.

"Aku pilih rencana mu yang ketiga."

"…"

"…"

"Kau bercanda…"

"Hei, aku sama sekali tidak bercanda, baka."

"Bohong…"

"Terserah, tapi aku mengatakan apa yang ingin aku katakan. Serius."

Entah hal ini memang salah satu kelemahan Amaterasu saat bersama sang kekasih Raven, otaknya 'sedikit' terlambat bekerja.

"A-apa? J-jadi kau serius, Sasuke?"

Ravennya mengangguk singkat.

"Bodoh! Kalau kau ingin aku membunuhmu, bagaimana dengan Sakura? Kau mau meninggalkannya lagi seperti dulu?"

Tak ada respon, hanya helaan nafas disertai raut wajahnya yang terlihat malas meladeni penolakan 'aneh' dari Naruto.

"Dan aku merasa tak pernah menawarkan mu untuk memilih rencananya!"

Ah, harus ia akui kekasihnya ini sama sekali belum berubah. Tapi itu bagus, dengan begitu ia bisa mengerjainya setiap hari, menggoda, bahkan membuatnya malu seharian. Entah mengapa ia mulai sedikit gila dalam berpikir.

"Sudah selesai?"

Safir itu melotot marah, hingga wajahnya yang putih berhenti mengeras hanya karna satu kecupan manis yang dihadiahkan oleh si Raven. Sasuke mengecup kembali kening Naruto yang sedikit tertutup oleh helai pirangnya. Menyatukan kedua kening mereka, dan onyx Sasuke tertutup sempurna setelah ia menghirup aroma lavender yang menguar kuat dari kekasihnya.

"Sasu—"

"Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu, hm?" bibir ranumnya terkatup rapat, "Apapun akan ku lakukan untuk selalu bersama denganmu, sekalipun nyawa taruhannya."

"…"

"Kau mengatakan jika kau membunuhku, maka takdir yang ku ciptakan terpenuhi seutuhunya. Bukankah itu sebuah keuntungan?"

"T-tapi… dengan begitu aku akan menghancurkan hubungan mu dengan Sakura untuk kedua kalinya. Aku tak ingin, Sasuke."

"Aku mengerti…" ia mendesah berat, "Tapi… bukankah ada pepatah yang mengatakan 'setiap orang pasti memiliki jodohnya sendiri'? Mungkin aku salah satu dari sekian juta manusia yang percaya akan hal itu…"

"… Kenapa?"

"Karena ada kau yang ku cintai, dan aku percaya bahwa kau lah pasangan ku yang sebenarnya."

"…"

"Bukan Sakura, atau orang lain. Kau Amaterasu O Mi Kami…"

Tubuh rampingnya mulai gemetar, "Lalu… Sakura? Bagaimana dengannya?"

"Kau ini pura-pura bodoh, atau apa sih, Naruto?" menggenggam erat jemari lentik sang Kasih, "Pria itu bukan hanya aku saja, masih banyak pria di dunia ini yang lebih pantas untuknya daripada aku. Dan satu lagi, kumohon berhentilah bertanya yang tidak-tidak."

Grep…

Lengan mungilnya memeluk hangat tubuh tegap Sasuke—yang balas memeluknya. Membenamkan seluruh permukaan wajahnya pada tengkuk si pemuda.

"Jangan menangis lagi… aku tak ingin mata mu bengkak hanya karna hal ini."

Mengindahkan perintah dari Kekasihnya, ia menggumam pelan, "Kau yakin… dengan keputusanmu?"

"Hn, tentu saja…" bibir tipisnya menyeringai, "Lagipula aku akan awet muda 'kan?"

"Hahaha, dasar bodoh!"

Sang Onyx tersenyum kecil, sebelum mengecup puncak kepala pirang kekasihnya.

"Aku sangat mencintai mu…"

Ia mendongak lalu tersenyum lembut, "Aku lebih mencintaimu!"

"Ya, ya… Dobe."

"Jangan panggil aku 'Dobe'!"

Mungkin ini keluar dari rencana awalnya. Membuat sang Raven membenci, dan kembali mencintai sang Tunangan—Haruno Sakura. Akan tetapi, setidaknya tragedi kekasih semu ini berakhir bahagia bukan?


#
*Our Everlasting Love*
#


Semilir angin pagi mengantarkan aroma khas bunga sakura pada semua orang. Umumkan bila hari ini benarlah hari yang menyenangkan untuk memulai hidup.

Langit biru nampak indah sekali hari ini. Tak ada awan putih maupun kelabu yang menutupi keindahannya yang bertabur kelopak merah muda sakura. Cantik, dan ini semua membuat seorang Uchiha Sasuke tersenyum puas.

Ya, kemarin ia bertemu kembali dengan sang Pujaan hati, Amaterasu O Mi Kami. Terbayarlah sudah rasa rindunya, walaupun pertemuan malam itu seperti mimpi—memang benar mimpi. Haah… ia benar-benar tak sabar untuk bertemu gadis itu hari ini. Ia sudah siap mental maupun fisik untuk segera di tusuk mati oleh sang Kekasih. Benar-benar gila.

"Sasuke-sama… Anda yakin akan melakukannya?"

Raven itu menoleh, mendapati Shizune yang tengah menatapnya sendu. Oh, rupanya ia telah memberitahu semua rencananya pada sang Tabib Haruno. Termasuk alasan mengapa selama ini ia menatap langit.

"Hn, aku yakin, Shizune."

Sembari tersenyum tipis, ia menatap Shizune yang nampaknya tak rela membiarkan Sasuke pergi untuk selama-lamanya.

"Apa Anda tak memikirkan perasaan Sakura-sama bila Anda meninggalkannya secepat ini?"

Punggung tegapnya bersender pada salah satu tiang penyangga roka. Menutup tirai Onyx miliknya, menikmati hembusan angin yang membelai wajah tampan itu.

"Kurasa tidak akan lama…" kening Shizune berkerut bingung, "Maksudku, tidak lama setelah aku pergi, ia akan segera mendapat pria yang lebih baik daripada aku, Shizune."

"Darimana Anda tau?"

Pemuda tampan itu tersenyum tipis, "Kekasihku…"

Penasaran, ia bertanya lagi pada Sasuke, "Siapa dia sebenarnya?"

"Heh, percuma aku mengatakannya padamu… kau takkan percaya apabila aku mengatakan siapa sebenarnya dia."

Hening kembali menyelimuti keduanya. Angin musim semi memang seperti ini, sejuk dan selalu membuatnya ingin tertidur.

"Shizune…"

"Ya, Sasuke-sama?"

Pemuda itu tersenyum sekilas, "Setelah aku pergi, pastikan Sakura mendapat pria yang lebih dariku, lalu serahkan surat ku untuk seluruh keluarga Uchiha dan Haruno."

Shizune tak berkata apapun, bibirnya diam mendengarkan penuturan sang Uchiha bungsu. Entah bagaimana nanti reaksi semua orang bila mendengar hal ini.

Tapi ia hanya bisa berpasrah, Sasuke telah memilik jalannya sendiri, dan ia hargai itu.

"Berkunjunglah bila Anda merindukan tempat ini."

"Pasti…"


#
*Our Everlasting Love*
#


"Kau yakin dengan keputusan mu, Sasuke?" mengusap lembut Ravennya, "Kau tau resikonya bukan? Kau tak bisa lagi kembali menjadi manusia, dan kehidupan di Takamagahara akan lebih berat karna kau akan menggantikan posisi Susano'O."

Sasuke mengangguk santai, montsuki biru tua yang ia kenaka terlihat mencolok di pagi ini.

"Untuk bersama mu, aku yakin ini pilihan yang tepat."

Naruto menghela nafas berat sebelum memeluk tubuh tegap Sasuke—yang tentu saja lebih besar dan tinggi daripada tubuhnya. Memeluk, seakan tak ada hari esok untuk bertemu, tenggelam dalam lautan kesedihan—yang sebenarnya telah mereka lalui.

"Yon jumon no kekkai: Yuri no hikaru…"

Kini Sasuke tau seberapa kuat kekasihnya ini. Sebuah kekkai raksasa berbentuk Yuri menyelimuti keduanya, membuat 4 hewan penjuru angin yang sedari tadi bersiaga di atas langit, turun dengan anggunnya ke tempat Amaterasu O Mi Kami.

"Sasuke…"

Jelas saja suara lembut kekasihnya itu membuat ia semakin ingin memeluknya erat, dan tidak sabar untuk segera melihat Takamagahara.

"Hn?"

Naruto melepas pelukannya, lalu mendongak menatap sang Onyx kekasih, "Ini akan terasa sakit, jadi—"

"Sudah lakukan saja, aku sudah siap, Naruto."

Mendengar jawaban ketus Sasuke, ia hanya mendesah pelan sebelum memerintahkan keempat hewan penjaga gerbang langit itu untuk menutup paksa Yomi, agar sang Ibu—Izanami—tak ikut campur.

"Kusanagi no Tsurugi."

Nampak sebuah katana bergagang eboni muncul dari telapak tangan Naruto.

Gadis berambut pirang keemasan itu sontak memeluk tubuh Sasuke untuk yang kedua kalinya, mau tak mau dan tentunya dengan senang hati Sasuke membalas pelukannya.

"Aku… sangat mencintaimu…"

Senyum tipis terukir di wajahnya yang tampan, "Lebih dari apapun, Amaterasu O Mi Kami…"

Jleb!

"Ugh…"

"Maafkan aku…"

"Ya… ugh… tak apa…"

Safirnya kembali menangis tertahan saat katana miliknya menembus perut Sasuke, ia masih mendengar deru nafas sang pemuda yang mulai melemah. Dengan cepat ia melepaskan katana itu dari tubuh kekasihnya, mendekap tubuh yang ia selimuti dengan cahaya keabadiannya.

"Kini kau… abadi bersama ku, Uchiha Sasuke…"

Ia kembali menangis, tapi kini dengan senyuman hangat yang menghiasi wajah cantiknya. Perlahan, merebahkan tubuh Sasuke di atas rumput, lalu memejamkan sepasang kelopak safir itu, sebelum berseru;

"Kai no shijin!"

Wush!

Meninggalkan sepasang Onyx Shizune yang menatap sendu juga tak percaya—dari balik pohon Sakura tepi hutan terlarang—pada kedua sosok yang menghilang itu. Amaterasu O Mi Kami, dan Uchiha Sasuke. Wanita itu tersenyum lembut, sebagai tanda perpisahan ia dengan sang Mantan Tunangan Majikannya.

"Semoga Anda berbahagia di sana, Sasuke-sama…"


Omake

Bertahun-tahun 'tlah terlewati, meninggalkan sebercak luka akan kenangan padan mendiang, yang telah meninggalkan dunia demi kekasih semunya.

Kugatsu

September. Bulan yang mempertemukan kedua kekasih ini. Tersembunyi dalam batas kehidupan yang percaya pada sebuah sepasang sayap semu. Kasih abadi.

Terasa indah, pohon-pohon momiji kini menerbangkan sang daun pada angin. Menitipkan sang mantan kasih pada kekasih barunya. Berharap ia kan segera terlupakan, dan berganti menjadi sosok yang baru.

Sepasang Onyx menatap lembut pada sosok cantik di hadapannya. Gadis itu melambaikan tangannya seraya tertawa ceria, seakan tak ada kesedihan yang dulu sempat membuatnya menangis, hingga seluruh alam berkabung untuk kesedihan itu.

"Sasuke, cepat!"

Pemuda itu mengangguk, lalu menoleh, tersenyum singkat pada seorang gadis kecil yang tengah memperhatikan keduanya, dengan tatapan kagum. Bola merah yang ia peluk terjatuh, saat ia berlari menuju pintu coklat rumahnya, menggedor kayu itu hingga sesosok wanita berambut eboni panjang keluar dari sana.

"Ada apa, Aki-chan?" tanyanya lembut, seraya mengelus rambut sepundak sang Putri kecil.

"Kaa-san! Lihat! Di taman momiji ada kakak-kakak yang tampan dan cantik sekali!" seru gadis bernama Aki itu kegirangan, membuat sang Ibu mengerutkan kening, tak mengerti.

"Memangnya siapa mereka, Aki-chan?"

Aki menggeleng tidak tau, lalu tersenyum lebar, "Ayo Kaa-san ikut, Aki! Nanti Kaa-san lihat sendiri!"

Wanita itu hanya bisa berpasrah diri, saat sang anak menariknya menuju taman momiji yang tak jauh dari rumah sederhana mereka. Mengantarkan sang Ibu ke taman itu,

"Lihat, Kaa-san! Mereka serasi bukan? Seperti Yin dan Yang!"

Onyx milik wanita itu sedikit terbelalak saat seorang pemuda tampan melambaikan tangan padanya, sebelum berlari mengejar sang kekasih pirang.

"Sasuke… -sama…"

Iris coklat muda yang sedari tadi memperhatikan pasangan Dewa-Dewi itu mendongak menatap Ibunya bingung.

"Kaa-san… siapa itu Sasuke?" gumamnya kecil, seraya menggoyang-goyangkan lengan sang Ibu.

Wanita berambut eboni itu sedikit tersentak saat pertanyaan sang buah hati membuyarkan lamunannya. Ia menggeleng, sambil tersenyum hangat pada Aki.

"Ne, Aki-chan, mau dengar cerita dari Kaa-san tidak?"

Mendengar kata 'cerita', gadis kecil itu segera mengangguk antusias.

"Mau Kaa-san!" serunya semangat, lalu menatap bingung dengan iris coklat mudanya, "Ne, memangnya cerita apa Kaa-san?"

Sang Ibu tersenyum kecil, sebelum berjongkok mensejajarkan diri dengannya.

"Cerita tentang seorang pemuda tampan, yang jatuh cinta pada seorang Dewi."


Owari no Hajime

#
*Our Everlasting Love*

The End

#


Keterangan:

Roka: Bagian berlantai kayu, yang mirip dengan lorong-lorong.

Suzaku_Penjaga Gerbang Selatan : Burung Suzaku yang merupakan Burung yang Elegan dan Mulia, baik dalam Penampilan dan Perilaku, sangat Selektif dalam apa yang Dimakan dan tempat bertenggernya, dengan bulu-bulu dalam berbagai warna dari oranye kemerahan. Suzaku yang sering dikaitkan dengan mitos Phoenix karena asosiasi mereka dengan api.

Byakko_ Penjaga Gerbang Barat: Macan Putih adalah salah satu dari Empat Simbol dari rasi Cina. Hal ini kadang-kadang disebut Macan Putih Barat, dan dikenal sebagai Byakko di Jepang dan Baekho di Korea. Ini mewakili barat dan musim gugur, dan unsur besi.

Selama Dinasti Han, orang-orang percaya bahwa harimau menjadi raja dari semua binatang. Legenda menceritakan bahwa ketika seorang harimau mencapai 500 tahun, ekornya akan menjadi putih.

Dengan cara ini, harimau putih menjadi 4 Dewa Mata Angin. Konon harimau putih hanya akan muncul ketika kaisar memerintah dengan kebajikan mutlak, atau jika ada perdamaian di seluruh dunia. Karena warna putih dari cina juga mewakili lima unsur barat, harimau putih dengan demikian menjadi wali mitologi barat pada 4 Dewa Mata Angin.

Genbu_ Penjaga Gerbang Utara: Salah satu dari 4 Dewa Mata Angin dan totem binatang Zodiak Cina. Hal ini juga salah satu dari Empat Fantastis hewan dari teori Empat Elemen. Genbu mewakili arah Utara dan berhubungan dengan air.

Disebut "kura-kura-ular", biasanya digambarkan sebagai seorang penyudi sekitar yang melilitkan ular. Wujud ini bisa menjadi mitos asal mengklaim bahwa kura-kura laki-laki sering tak berdaya, menyatukan wanita dengan ular. Kepercayaan ini di balik simbolisme yang kontradiktif binatang suci sejak zaman dahulu karena kembali representasi alam semesta, kadang-kadang tidak bermoral. memiliki unsur air dalam 4 Dewa Mata Angin

Penyu hitam adalah yang terbesar dari astrologi totem binatang karena aturan seperempat utara zodiak yang merupakan bintang kutub, Sumbu dari Langit dan Rasi Bintang yang mengatur Kelahiran, Kematian dan Umur Panjang.

Seiryuu_ Penjaga Gerbang Timur: Di Jepang, Azure Dragon (Seiryuu) adalah salah satu dari 4 Dewa Mata Angin dan dikatakan untuk melindungi kota Kyoto di timur. Barat dilindungi oleh Macan Putih, di sebelah utara dilindungi oleh Black Tortoise, selatan dilindungi oleh Vermilion Bird, dan pusat dilindungi oleh Yellow Dragon.

Di Kyoto terdapat kuil untuk masing-masing roh penjaga. The Azure Dragon ini diwakili dalam Kuil Kiyomizu di timur Kyoto. Sebelum pintu masuk candi terdapat patung naga yang katanya minum dari air terjun di dalam kompleks candi di malam hari.

Oleh karena itu setiap tahun diadakan upacara untuk menyembah naga dari timur. Di Jepang, naga biru adalah salah satu dari empat roh wali kota dan negara bagian yang melindungi kota Kyoto di timur. Barat dilindungi oleh Byakko, Genbu utara dan selatan oleh Suzaku.

Di Kyoto terdapat kuil untuk masing-masing roh penjaga. Kiyomizu Temple adalah naga biru.

Ekibiogama: Dewa penyakit tidak diketahui seperti apa penggambarannya namun ia merupakan dewa yang tidak populer.

Koshi-himo: Sabuk adalah ikat pinggang pertama yang diikatkan di sekeliling pinggang, saat memakai Kimono.

Date-jime: Sabuk kedua yang diikatkan di pinggang, menutupi Koshi-Himo.

Fukuro Obi: Untuk kimono formal (tomesode, furisode, iromuji, tsukesage), dari kain bercorak yang mewah hasil tenunan.

Fukura suzume: Salah satu ikatan Obi yang berbentuk kupu-kupu.

Obi-age: Kain berwarna yang dililitkan di bawah obi supaya obi tidak melorot.

Obi-jime: Tali kecil yang diikat di atas obi supaya letak obi tidak berubah, atau membantu ikatan obi. Tali warna-warni yang berada di tengah Obi, biasanya warna disesuaikan dengan kimono.

Yon jumon no kekkai: Yuri no Hikaru: 4 sisi pelindung: Cahaya Lili.

Kusanagi no Tsurugi:

Kai no Shijin: Terbukalah gerbang ketujuh

Kugatsu: September


Thank's For~

All SafOnyx member~

Silent readers

Reviewer~

Ini yang udah menyemangati Mi selama 5 ngerjain ini fic! Rekor mamen~ #pamer# Ngerjain Cuma dalam waktu 5 hari, dan page sampe 36! XD
Oke, lupakan yang di atas~


Ini dia yang review~ ^^

Puu Kyuukki

Shiho Nakahara

Yuki Phantomic

Queen The Reaper

Hajime Hikaru or Hikaru Kin ^^

XxRuuXx

Tsukiyomi Aori Hatori

DheKyu

A-chan~

Namikaze Naru-chan

Nyuu-cHan94

Kazehaya Tsuki

Zee

Nasumi-chan Uharu

Jim-Li

Imperiale Nazwa-chan


Ung… sebelum minta review, Mi minta maaf kalo chapter ini gaje, dan humor nyelip gag jelas…
Bila ada yang nge-flame atau ada yang inigin di tanyakan, bisa kirim ke PM Mi, ^^
Semoga suka ne?

Be My Reviewer? X3