Title: Touch One Star

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasukexHinataxSasori

Warning : AU, OOC, OOT, crack pair, gaje, abal, miss type, dll.

Pagi masih belum terang benar, ayampun masih belum berkokok, bahkan bulanpun beum menghilang. Hinata sudah menggeliat malas diatas ranjangnya dan menguap lebar-lebar. Dia harus bangun pagi-pagi benar hari ini, meskipun semalam dia tidur sangat larut. Di pagi hari ini dia harus segera bersiap-siap. Ini adalah hari pertamanya untuk menjadi mahasiswa. Hari pertamanya untuk mengikuti menjalani masa orientasi kampus yang wajib diikutinya selama 3 hari.

Semalam, dia dengan dibantu Hanabi, kakaknya, sudah mempersiapkan segala kebutuhan dan perlengkapan yang dia butuhkan untuk hari ini. Tas yang terbuat dari karung gandum, ikat pinggang dari tali rafia, topi dari karton, setumpuk koran bekas, serta pakaian pantas pakai yang akan disumbangkannya ke yayasan sosial terlihat menumpuk disalah satu sudut kamarnya.

Hinata segera mandi, masih banyak yang harus dilakukannya sebelum berangkat menuju kampus barunya, termasuk memasang pita warna-warni di rambut indigo panjangnya. Dia juga harus bergegas, karena sebelum pukul setengah enam pintu gerbang kampus akan ditutup.

Kaa-san yang sudah bangun menyiapkan sarapan untuknya, sedangkan Hanabi bersiap untuk mengantarkannya ke kampus. Hari-hari terakhir ini Hanabi banyak libur, kuliahnya hampir selesai, tinggal menunggu ujian pendadaran dan wisuda saja. Jadi dia punya banyak waktu luang dirumah. Biasanya dia membantu Kaa-san menyelesaikan pesanan jahitan dan mengantarkannya pada pelanggan Kaa-san. Kaa-san memang membuka usaha jahit sejak Tou-san meninggal empat tahun yang lalu, sesekali beliau juga menerima pesanan masakan dari teman-teman dan tetangga dekat. "Lumayan untuk tambahan beli buku," kata Kaa-san ketika itu. Untunglah Hanabi anak yang rajin. Semasa kuliah dia mendapat beasiswa sehingga beban Kaa-san agak berkurang, selain itu juga dia rajin membantu Kaa-san dengan mengajar les disebuah lembaga bimbingan belajar dan menjadi asisten dosen dikampusnya. Untungnya lagi, Hinata berhasil lolos tanpa tes di Perguruan Tinggi Negeri, bahkan jika kelak di semester satu dan dua dia berhasil mendapat IP diatas 3,5, kampusnya akan memberikannya beasiswa penuh.

Usia Hanabi dan Hinata memang terpaut jauh. Dia enam tahun diatas Hinata. Dulu Tou-san mengira Hanabi akan menjadi anak tunggal, tapi ternyata muncul Hinata di kemudian hari. Karena jarak usia itu, Hanabi selalu menjaga Hinata, seperti induk ayam menjaga anaknya. Apalagi setelah Tou-san tak ada lagi di tengah-tengah mereka.

Hari semakin terik, namun acara orientasi hari ini belum juga usai. Mereka harus mengejar kakak-kakak senior untuk mendapatkan tanda tangan. Kepala Hinata mulai pening, hari ini baru tiga tanda tangan yang didapatkannya. Dua diantaranya didapatkan setelah dia menari dan membaca puisi dihadapan mereka, para seniornya. Sedangkan satu tanda tangan didapatkannya dengan cara mudah. Sasuke-senpai namanya, dia adalah kakak kelas angkatan dua tahun di atas Hinata.

Saat pertama kali melihatnya, para mahasiswa baru merasa takut dan segan. Dia tidak banyak bicara, bahkan tersenyumpun tidak. Raut wajahnya dingin, dan tatapan matanya tajam saat menatap mereka, membuat mereka bergidik ketakutan. Terkadang Hinata mendapatinya sedang menatapnya diam-diam. Namun bila Hinata tidak sengaja memergokinya, dialihkannya segera tatapannya. Lalu saat Hinata memberanikan diri meminta tanda tangannya, dia segera membubuhkannya dalam buku notes yang Hinata bawa. Ketika Hinata menatapnya untuk mengucapkan terima kasih, Hinata melihat sekilas senyum tipis bahkan sangat tipis dibibir senpainya itu. Senyuman yang tiba-tiba menghilang, secepat munculnya. Dia memperhatikan wajah Sasuke melembut saat senpainya itu tersenyum.

Hari ini memang hari terakhir masa orientasi. Mereka para kouhai semua berkumpul diaula. Hari terakhir bukan berarti mereka bebas dari hukuman atau bentakkan. Jumlah tanda tangan yang berhasil dikumpulkan mulai dihitung dan yang tidak memenuhi syarat harus dihukum. Hinata yakin dia salah satunya, karena dia memang malas mengejar-ngejar dan mengemis tanda tangan para senpai. Apalagi banyak diantara mereka yang kemudian merasa menjadi orang penting dan mempersulit mereka para kouhai. Hinata pasrah saja.

Dan ternyata benar. Yahiko, ketua I orientasi, dan Konan-sekretarisnya yang 'kejam- memanggilnya dengan lantang, dan menyuruhnya untuk maju kedepan. Hinata berdiri, tak sengaja dilihatnya Sasuke sedang memandanginya dari sudut tempatnya berdiri. Hinata dan dua orang mahasiswa baru lainnya berdiri didepan, menunggu 'perinta' dari Yang Mulia Yahiko dan Konan. Para mahasiswa baru menjuluki mereka sebagai pasangan yang terjahat diminggu ini. Karena mereka berdualah yang sangat rajin dan gencar membentak-bentak dan menjatuhkan hukuman kepada kouhainya. Memang hukuman yang dijatuhkan oleh mereka tidak melewati batas kewajaran dan mereka para kouhai pun tau itu hanyalah main-main saja, namun tak urung mereka dongkol pada keduanya.

Ketika Yahiko, Konan dan beberapa senpai lain mulai berunding, mungin mendiskusikan hukuman apa yang pantas diberikan kepada mereka, Sasuke berjalan mendekati kelompok itu. Tak biasanya dia ikut campur urusan kepanitiaan. Apa yang akan dilakukannya? Tampak dia berbisik-bisik pada mereka, kemudian Hinata melihat para senpai memandanginya. Mereka kembali menunjuk padanya dan berbisik-bisik. Sebentar kemudian Hinata melihat mereka mengangguk-angguk dan tersenyum. Apalagi yang mereka bicarakan? Mereka bertiga mulai tak sabar, namun tetap tak bisa protes. Akhirnya Sasuke meninggalkan kumpulan tersebut. Yahiko kembali kehadapan mereka dan berteriak lantang, "Hari ini tak ada hukuman, kalian bertiga boleh duduk. Hari ini pula orientasi berakhir, kalian boleh pulang. Dan jangan lupa, besok akhir minggu akan ada malam keakraban dikampus,"

Mereka serentak membubarkan diri. Leganya hati Hinata, akhirnya dia bebas. Memang masih ada malam keakraban, namun pada saat itu mereka dan para senpai-yang saat ini bersikap sok galak dan sok penting- statusnya sama sebagai mahasiswa dikampus ini.

Dalam hati Hinata bertanya-tanya, apa yang telah dikatakan Sasuke-senpai pada mereka, sehingga setuju membubarkan pertemuan ini. Tapi sudahlah, yang penting dia bisa pulang cepat. Ketika Hinata sedang mengumpulkan barang-barang bawaanya ke dalam tas, Yahiko mendekatinya. Dia segera bangkit. "Ada apa, senpai?" tanyanya waswas. Hinata melihat sekeliling, tak ada siapa-siapa lagi disana, hanya para senpai panitia-minus Sasuke-yang sedang bercanda disudut ruangan.

Yahiko hanya memandangnya, lalu tersenyum. Aneh rasanya, ini pertama kalinya dia tidak marah-marah tetapi malah tersenyum. "Kamu Hinata, kan?" tanyanya ragu. Hinata makin heran darimana Yahiko tau namanya. Dia baru sadar bawa dia masih memakai papan nama bertuliskan namanya. Dia mengangguk.

"Hai, aku Yahiko," katanya pendek. "Maaf, ya. Selama ini aku sering marah-marah bersama teman-teman yang lain, terutama sama kamu."

Hinata semakin heran, apa-apaan ini? Dengan wajah bingung dia mengangguk.

"Coba jika aku tau dari awal kau adalah sepupunya Sasuke, tidak bakalan kami berani mengerjai kamu."

Hah! Hinata terbelalak kaget. Yahiko masih nyengir jelek didepannya. Dia makin bingung.

"Kami baru tahu tadi jika kamu masih saudaraan dengan Sasuke. Tadinya sih kami tidak percaya. Mana mungkin Sasuke punya saudara secantik dan seimut kamu. Lagipula sepertinya kamu tipe gadis yang sangat periang, berbeda sekali dengan Sasuke. Kalo dia sih, sok cool," lanjutnya panjang-lebar.

Hinata hanya manggut-manggut. Terserah apa katanya, yang penting makhluk satu ini bisa segera lenyap dari pandangannya.

"Oke deh, Hinata. Aku permisi dulu, ya. Jangan lupa besok akhir minggu untuk mengikuti acara malam keakraban, ya?"

Fuuuh, akhirnya pergi juga dia. Tapi, ya ampun. Apa tadi dia bilang? Saudaraan sama Sasuke? Apalagi ini? Apa sih maunya senpai satu itu? Aku baru mengenalnya saja disini? Kok bisa? Aduh, tak tau deh. Yang penting aku sudah lolos dari hukuman itu, beres. Nanti saja, jika aku bertemu dengan 'saudara sepupuku' itu aku akan bilang terima kasih atas usahanya. Bener-bener sukses dan gak sia-sia! Nyatanya Yahiko si senpai killer itu sampai bela-belain nyamperin, pikir Hinata.

Hinata bergegas meninggalkan aula menuju Pos Satpam. Biasanya Hanabi menunggu disana. Ternyata disana tidak ada siapapun. Dia menoleh mencari-cari Hanabi. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, dia baru terlambat sepuluh menit. Mungkin Hanabi masih dijalan. Ditunggunya Hanabi dengan sabar.

Sepuluh menit berikutnya Hanabi masih belum muncul, Hinata mulai tidak sabar. Kampusnya mulai sepi, bahkan Pak Satpam yang tadi menemaninya mengobrol kini tampak mulai sudah terkantuk-kantuk. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya sekilas. Hinata terlonjak kaget. Untunglah ia sempat menutup mulutnya untuk tidak menjerit.

"Hinata? Maaf bikin kamu kaget." Sebuah suara serak dan berat menyapanya.

"Sasuke-senpai?" Hinata menoleh, didapatinya Sasuke berdiri disampingnya. Senyum menghiasi wajahnya. Aah, ternyata makhluk ini bisa juga tersenyum.

"Kamu nunggu jemputan, ya? Nee-chanmu, kan?"

Hinata bingung, dari mana senpainya ini tau kalo nee-channya yang menjemput? Dia mengangguk pelan.

"Tadi nee-chanmu sudah datang, tapi kamu belum juga muncul. Sepertinya dia tergesa-gesa. Kebetulan ada aku disini. Karena dia tahu aku panitia orientasi ini, dia tanya apa aku kenal Hinata, imoutonya. Aku mengiyakan. Lalu Hanabi-benarkan Hanabi namanya- berpesan supaya aku memberitahumu kalo Hana ada acara mendadak sehingga tak bisa menjemputmu. Katanya ada temannya yang baru saja datang dan dia harus segera menemuinya dibandara. Konomaru, atau entahlah siapa namanya," urai Sasuke panjang-lebar.

"Pasti Konohamaru. Dia tunangan Hanabi," jelas Hinata tanpa diminta.

"Mungkin. Aku kurang jelas tadi."

"Thanks, ya, udah memberitahuku." Hinata tersenyum, kemudian mulai menengok ke kiri dan kanan untuk mencari taksi. Sasuke masih berdiri di tempatnya, memperhatikan kesibukkan Hinata. Akhirnya Sasuke memberanikan diri. "Hinata, mau kuantar pulang? Sepertinya hari sudah mulai gelap, lagipula jarang ada taksi lewat sini."

Hinata terperangah mendengar ajakan Sasuke yang begitu mendadak. Dikiranya senpainya ini sudah pergi sesudah menyampaikan pesan dari Hanabi tadi.

"Tidak usah takut, Hinata. Aku tidak sejelek pikiranmu dan mahasiswa baru itu. Percaya deh kepadaku. Lagian kita kan saudara?"

Ooops, perkataan Sasuke mengingatkan Hinata pada kejadian siang tadi saat Yahiko mendatanginya usa acara orientasi. Tak urung pengakuan Sasuke yang mengada-ada itu mebuatnya dongkol sekaligus bertanya-tanya.

"Ngapain kamu ngaku-ngaku kalau kita ini saudaraan sama mereka?" sentak Hinata ketus. Sasuke hanya tersenyum. "Kenapa sih?" desaknya lagi. Hinata makin jengkel. Sudah pulang kesorean, Hanabi kabur meninggalkannya, taksi yang ditunggunya tak kunjung datang, belum lagi masalah Sasuke ini. Alhasil seluruh kekesalannya ditumpahkannya pada Sasuke yang saat ini ada didekatnya.

"Ya ampun, tak usah semarah itu, Hinata. Aku kan hanya berniat untuk menolongmu, maaf jika cara itu membuatmu tak suka."

"Nolongin sih nolongin, tapi tidak usah dengan cara yang macam-macam." Hinata mendekap erat tas yang berada didadanya, wajahnya tampak marah menahan kesal. Dipandanginya Sasuke dengan tatapan menuduh.

"Maaf, Hinata, kalo kamu memang tak suka dengan caraku. Mungkin cara ini memang keterlaluan. Tapi beneran, aku tak tega melihatmu di bentak-bentak oleh mereka, apalagi hanya cuma karena masalah tanda tangan." Sasuke mengusap lehrnya lalu membaur-baurkan rambut belakangnya. Dia tampak gelisah.

"Kamu itu beleum tahu ya jika senior-senior perempuan panitia orientasi itu cemburu melihatmu. Sudah cantik, imut, pintar, baik pula. Mereka itu sirik terhadapmu, Hinata. Apalagi ketika mereka tahu bahwa banyak senior cowok yang kagum berat terhadapmu. Kamu bisa bayangkan jika mereka mendapat kesempatan untuk mengerjaimu tadi. Habisan-habisan, pasti! Mereka itu tidak rela jika kamu mendapat perhatian lebih dari kami, para lelaki. Belum lagi si Konan itu. Dia sudah sewot berat sama kamu hanya gara-gara Yahiko suka memperhatikanmu secara diam-diam," jelas Sasuke panjang lebar.

"Terus terang aku tidak rela jika kamu menjadi bahan bulan-bulanan mereka, Hinata. Sejak awal aku melihat kamu ikutan acara orientasi ini aja aku merasa tak tega. Dijemur tiap saat, disuruh lari untuk mengelilingi lapangan, belum lagi hukuman yang tidak berarti itu. Kamu itu terlalu lembut, terlalu manis untuk melakukan itu semua. Rasanya satu-satunya cara yang ada dibenakku untuk menghindari semua itu hanya mengakui kalo kamu adalah sepupuku, Hinata."

Hinata memandangi Sasuke lama sekali, mencari kebenaran didalam kata-katanya. Lambat laun tatapannya itu berubah, dari menuduh menjadi sedikit tertarik dan percaya perkataan Sasuke, meski belum sepenuhnya. Tatapannya sempat membuat Sasuke rikuh, tapi akhirnya Hinata memalingkan wajahnya disertai dengan rona -mainkannya tali tas dengan jemarinya. "Arigatou, senpai," katanya pelan.

"Sasuke. Panggil saja aku Sasuke! Teman?" Sasuke megulurkan tangan kepada Hinata. Hinata sempat ragu-ragu, namun akhirnya dijabat juga tangan yang terulur didepannya. Tangan lelaki itu terasa kokoh dan kuat dalam genggamannya. Dilepaskannya jabatan tangannya sambil tersenyum. Dia melihat Sasuke tersenyum.

Selama masa orientasi, sepertinya Hinata tidak pernah melihat Sasuke tersneyum. Baru sekarang ini Hinata melihatnya tersenyum lebar. Diperhatikannya wajah dihadapannya ini. Bibirnya tipis dan sangat maskulin. Profilnya yang jantan tampak melembut karena senyuman diwajahnya. Sepasang mata elangnya tampak berbinar-binar seperti ada beribu-ribu bintang didalamnya.

"Bagaimana? Mau tidak pulang bersamaku?" Sasuke begitu berharap Hinata menerima ajakannya. Hinata memandangnya sekilas kemudian tertawa dan mengangguk setuju. Tawa Hinata menghapus kecanggungan diantara keduanya. Disentuhnya lengan Hinata sekilas. "Tunggu disini saja, aku akan mengambil mobil dulu."

Dalam sekejap mata, Sasuke menghilang dari pandangannya.

Didalam mobil, diam-diam dipandanginya Hinata yang duduk tenang disampingnya. Tubuhnya tinggi dan ramping. Mata lavendernya yang ramah dibingkai dengan bulu mata yang lentik. Bibir tipisnya yang berwarna merah jambu selalu menyunggingkan senyum tipis. Rambut indigo panjangnya yang tadi pagi masih dihiasi pita warna-warni, sudah diikat membentuk ekor kuda. Wajahnya yang polos tanpa makeup apapun membuatnya tampak sangat muda dan rapuh, membuat Sasuke merasa sudah sangat tua dan rasanya ingin selalu melindungi Hinata.

Mereka berdua lebih banyak diam, kalaupun bicara yang mereka bahas hanyalah hal-hal yang bersifat umum. Dalam diamnya, sesekali juga Hinata melirik Sasuke. Tubuhnya tegap dibalut tungkai yang panjang. Mata elangnya serius mengamati jalan didepannya. Bibirnya terkatup rapat. Didagunya tampak cambang yang mulai tumbuh tak teratur, yang justru membuatnya semakin mempesona. Otot-otot lengannya yang menonjol membuat tangannya tampak kokoh. Rasanya sosok Sasuke seperti patung yang dipahat sangat sempurna.

Beberapa kali Sasuke menanyakan arah rumah Hinata hingga pada akhirnya tanpa terasa tibalah mereka didepan rumah Hinata. "Mampir dulu, Sasuke-kun?" tawar Hinata.

"Lain kali saja. Sudah malam. Sampai jumpa besok dikampus, Hinata."

"Arigatou Sasuke-kun, untuk tumpangannya." Sasuke tersenyum sekilas sambil melambaikan sebelah tangannya, kemudian mamacu mobilnya meninggalkan Hinata yang masih setia melihatnya hingga mobilnya menghilang ditikungan.

Hinata memasuki rumahnya sambil bersenandung riang. "Tadaima, Kaa-san, masak apa hari ini?" dipeluknya Kaa-san yang sedang berdiri didapur. "Pulang naik apa, nak? Tadi Hanabi dapat telfon mendadak dari Konohamaru, katanya dia harus menjemputnya dibandara."

"Diantar teman. Katanya sih arah rumahnya searah, jadi sekalian lewat," jawab Hinata sedikit berbohong. Dicomotnya sepotong apel yang berada di atas meja makan.

"Sepertinya cakep ya? Kok tidak disuruh mampir dulu, sih?"

Glek. Hinata nyaris tersedak apel yang sedang dikunyahnya. Ditatapnya Kaa-san dengan pandangan curiga. "Kaa-san tau dari mana?" tanyanya.

Kaa-san hanya tersenyum, diteruskannya mengupas kentang. "Maaaaam…?" desak Hinata.

"Tadi ketika kamu datang, Kaa-san sedang diruang tamu. Kaa-san tidak melihat dengan jelas sih. Tapi sepertinya wajahnya lumayan juga kayaknya," goda Kaa-san. Hinata cemberut, dia tahu Kaa-sannya ini sedang menggodanya.

"Besok masih megantarkanmu lagi kan? Kenalkan ya pada Kaa-san."

"Yee… Kaa-san ini, ya tidak akanlah. Inikan hanya numpang. Ngapain dia nganter-nganter segala. Kaa-san ini ada-ada saja." Hinata sewot. "Kaa-san, Hinata mandi dulu, ya. Rasanya gerah sekali, nih."

Hinata bergegas menuju kamarnya dan meninggalkan Kaa-sannya yang masih tersenyum geli melihatnya salah tingkah.

TOS

Malam sudah larut ketika Hanabi mengetuk pintu kamar Hinata. "Hinata, nee-chan bawakan zenzai kesukaanmu, tuh. Ayo cepat keluar!"

Hinata melepas earphone yang menempel ditelinganya. "Nanti saja, sedang tanggung. Cerita sedang seru-serunya, nih."

Bukannya berhenti mengetuk pintu, Hanabi malah menggedor-gedor sambil berteriak, "Cepetan, Hin. Mumpung masih hangat!"

Belum sempat Hinata menjawab, Hanabi sudah menghambur masuk ke kamar. "Nee-chan ini apa-apaan? Tunggu sebentar saja kenapa, sih?" Hinata masih dongkol pada Hanabi karena tadi meninggalkannya dikampus. "Sudah batal menjemputku, nitip-nitip pesan segala, bikin anak orang terlantar, eh, sekarang main nyelonong aja!"

Hanabi tertawa geli melihat tingkah adiknya. "Sebegitu marahnya kah kau terhadapku, imoutoku tersayang? Kan nee-chan sudah kekampusmu tadi, lagian nee-chan juga kan sudah meninggalkan pesan sama si… siapa, Hin, namanya? Sasuke, ya? Nah, tuh dia. Habisnya nee-chan sudah bingung cari-cari kamu tidak ketemu. Kebetulan ada lelaki itu didepan. Waktu nee-chan tanya kenal Hinata tidak, dia bilang jelas kalo dia kenal kamu banget. Ya sudah. Kebetulan, kan?"

"Kebetulan apaan? Siapa bilang aku kenal dengan Sasuke? Aku kenal dia karena dia jadi pendamping di orientasi. Selain itu tidak! Apalagi sampai mengobrol segala." Hinata meneruskan bacaannya, wajahnya cemberut.

Hanabi masih tersenyum disebelahnya, dibelainya rambut indigo panjang Hinata dengan sayang. "Ya kebetulan dong, Hin. Gara-gara nee-chan nitip pesan ke dia. Kalian kan malah jadi saling kenal. Malah kata kaa-san kamu tadi diantar pulang olehnya ya?" Hanabi mulai menggoda Hinata.

"Aduh, sudahlah nee-chan. Nee-chan ini dengan Kaa-san itu sama saja. Sejak tadi selalu saja menggodaku. Tadi sore, sesudah aku dengar pesan dari nee-chan, Hinata nungguin taksi tapi tidak ada yang lewat. Kebetulan ada Sasuke, dia nawarin untuk pulang bersama. Keburu malem, katanya. Yasudah, hanya gitu saja, kok."

"Tapi namanya kan tetap kebetulan, Hin?"

"Nee-chaaaan!" Hinata bangkit dari tempat tidurnya, dikejarnya Hanabi yang berlari keluar. Di luar Hanabi tertawa-tawa geli. Hinata kemudian menyuapkan sesuap zenzai yang dibawa Hanabi. Ditelannya pelan-pelan. Diacuhkannya Hanabi yang masih terkikik menggodanya. Sesudah menyisakan setengah zenzainya, Hinata berbalik kembali kekamar, dia bertekad untuk menyelesaikan bacaannya malam ini juga. Tiba-tiba Hanabi mencekal lengannya. "Heey, tunggu dulu, Hinata sayang. Jangan marah, ya. Nee-chan mau bilang sesuatu, nih. Kau dapet salam, lho." Hanabi merayu Hinata.

"Tuh, kan. Mulai lagi?" Hinata meneruskan langkahnya, tapi Hanabi tidak melepaskan cekalannya.

"Tidak, Hin. Nee-chan serius, nih."

Hinata menunggu. "Siapa? Paling juga Konohamaru, kan?"

"Ngapain Konohamaru nitip salam buatmu segala? Tidak kok, bukan dia. Kamu dapet salam dari Sasori."

"Sasori? Sasori yang mana?" Hinata berusaha mengingat.

"Ya ampun, Hin. Sasori temen kuliah nee-chan waktu itu. Dulu dia juga temen nee-chan waktu SD dan SMA. Masa sih kamu lupa?"

"Oh, Sasori yang itu? Hampir lupa. Habis sepertinya Sasori-nii itu lama banget tidak pernah main kesini."

"Siapa bilang? Dia masih suka main kesini, kok. Hanya saja kamu tidak pernah bertemu. Padahal, jika dia main kesini, dia selalu nanyain kamu loh, Hin."

"Oke, nee-chan. Kalo nee-chan ketemu dia, salam balik ya dariku. Kapan-kapan jangan lupa suruh dia main kerumah. Gantian Hinata yang akan ngerjain dia." Hinata bergegas ke kamarnya.

Sasori. Hinata berusaha mengingat seraut wajah Sasori. Sasori adalah sahabt Hanabi sejak masih SD. Tetapi saat SD kelas, Sasori pindah bersama orang tuanya keluar kota. Hingga saat SMA, Hanabi dan Sasori satu sekolah lagi. Persahabatan mereka kembali terjalin, hingga kuliahpun mereka masih bersama-sama. Konohamaru, tunangan Hanabi, pada awalnya sempat merasa cemburu pada mereka berdua, namun setelah mengenal baik dengan Sasori, mereka jadi teman baik juga.

Hinata mengingat Sasori sebagai sosok yang periang dan kocak menurutnya, Sasori juga selalu menggodanya dan membantunya mengerjakan PR dalam bidang menggambar. Terkadang Sasori juga suka membelikannya eskrim dan cokelat.

Sasori sempat menjadi orang terdekat Hinata setelah Kaa-san dan Hanabi. Sayang, ketika Hinata mulai menginjak bangku SMA, Sasori mulai jarang main kerumah. Sasori memang satu fakultas dengan Hanabi, tapi dia sudah jarang muncul dirumah seperti dulu lagi. Kalaupun datang, dia pasti hanya mampir sebentar.

Hanabi bilang, Sasori sekarang sudah punya pacar. Temari namanya. Mahasiswa seangkatan dengannya tapi beda fakultas. Sejak itu, Hinata jarang mendengar berita dari Sasori. Hanabi juga jarang mebicarakannya. Pada awalnya, Hinata merasa kehilangan Sasori. Bagaimanapun juga ada suatu masa dalam hidupnya dimana Sasori pernah ada didalamnya. Namun, dengan berjalannya waktu, Hinata mulai membiasakan diri.

Dan baru hari inilah Hinata mendengar Hanabi kembali menyebut nama Sasori. Entahlah seperti apa Sasori sekarang. Masihkah dia seperti Sasori yang dulu?

TBC

sasuhina-caem : chapter barunya udah update nih, masih bingungkah?

n : itu cuma prolog kok, coba baca lagi deh chapter ini udah di tambahin nih hehe

sica-lavender : yang kmrn itu baru prolog kok, ini lanjutannya. Ayo silahkan baca dan review lagi ya=))

SuHi-18 : itu baru prolog sih hehe ini lanjutannya. Ayo dibaca:D

uchihyuu nagisa : iya benar sekali, ini silahkan dibaca lagi. Ada tambahannya hehe

Hizuka Miyuki : ini ada cerita tambahannya hehe ayo dibaca dan review juga=))

Zae-hime : bisa juga sih hehe liat aja chap lanjutnya ok;) ini chap dua ada tambahan cerita ayo dibaca dan review juga:D