Title: Touch One Star
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasukexHinataxSasori
Warning : AU, OOC, OOT, crack pair, gaje, abal, miss type, dll.
Hari ini belum ada kuliah dikampus, tapi Hinata harus tetap datang karena ada pengumuman jadwal kuliah, pengisian kartu rencana studi dan pembagian dosen pembimbing.
Hinata datang agak terlambat. Sesampainya dikampus, teman-teman barunya sudah berkumpul diaula. Hinata segera bergegas. Didepan pintu masuk, dilihatnya Sasuke berdiri disana. Dia tampak sedang menunggu seseorang.
Hinata tersenyum padanya, namun Sasuke tidak membalasnya. Dia hanya menatapnya tajam, pandangannya dingin dan menusuk, kemudian memalingkan mukanya. Membuat Hinata menggigil. Mungkin Sasuke tidak melihatnya, Hinata berusaha menghibur diri. Hinata kemudian membaur dengan teman-temannya. Diabaikannya pandangan Sasuke tadi.
Hari belum begitu sore saat acara telah selesai. Hinata berjalan keluar bersama Tenten, teman barunya, mencari angkutan di depan kampus. Ternyata Sasuke sedang berdiri di dekat tempat parkir. Hinata pura-pura tidak melihatnya, dia asik mengobrol dengan Tenten. Dia masih sakit hati karena tingkah Sasuke tadi pagi.
"Hinata! Hinata, tunggu. . . ." Sasuke berteriak memanggilnya. Hinata pura-pura tak mendengar. Setengah berlari ditariknya tangan Tenten agar lebih cepat berjalan. Tenten yang tidak tahu apa-apa sedikit kebingungan, namun Hinata tak menghiraukannya.
"Hinata… Hinata, sebentar. . . ." Sasuke masih terus memanggilnya.
"Hin, kamu dipanggil tuh sama senpai yang diorientas itu," kata Tenten memberi tahu.
"Udah deh, 'Ten. Kita jalan terus aja."
Tiba-tiba sebuah tangan besar mencekal lengan Hinata. Hinata terkejut, begitupun Tenten. Sasuke berdiri disana, tubuhnya yang tinggi besar berusaha menghalangi langkah Hinata. Matanya menatap Hinata tajam, ada kemarahan di dalam mata onyx itu.
"Hinata, tunggu. Bisa bicara sebentar?"
Hinata tidak menjawab. Ditariknya Tenten menjauh. Tetapi Sasuke tidak melepaskan cengkraman tangannya.
Tenten yang kebingungan berusah membujuk Hinata. "Udah deh, Hin. Selesaikan dulu urusanmu. Aku duluan, ya." Dilepaskannya pegangan Hinata dilengannya.
"Maaf, senpai. Saya duluan," pamit Tenten pada Sasuke.
Sasuke hanya mengangguk sekilas. Hinata diam menunggu.
"Gomen, aku selalu bersikap kasar terhadapmu. Kau pasti kesal sekali terhadapku. Maaf juga atas sikapku tadi pagi. Terus terang, aku memang tipe orang seperti itu. Aku tak biasa berbasa-basi dan bersikap manis. Mungkin itu adalah satu-satunya kelemahan yang tak bisa aku lawan. Orang lain bilang aku ini sombong padahal aku merasa biasa-biasa saja. Mungkin aku harus mengubahnya secara pelan-pelan. Maaf ya sudah bikin kamu tersinggung," terang Sasuke panjang lebar.
Hinata menggerakkan tangannya. "Sakit, tolong lepaskan."
Sasuke baru sadar, dia mencengkram lengan Hinata dengan kuat. Perlahan dilepaskannya cekalannya. Hinata mengusap pergelagan tangannya yang memerah. Sasuke merasa bersalah terlah membuat Hinata kesakitan. Dibelainya lengan Hinata dengan lembut. Hinata tidak menyangka bahwa Sasuke akan berbuat seperti itu, dia hanya ternganga heran. Wajah Sasuke yang tadinya bersinar penuh kemarahan mulai melembut, seulas senyum tipispun menghiasi bibirnya.
"Hinata, kau mau kan memaafkanku?" ulang Sasuke.
Hinata mengangguk mengiyakan. Bagaimana Hinata bisa menolak permintaan maaf Sasuke jika tangan Sasuke masih tetap mengusap-usap lengan Hinata dengan lembut? Senyum di wajah Sasuke mulai melebar, mata elangnya pun bersinar ramah.
"Pulang bareng aku saja ya, ayo!" Hinata menengadah untuk melihat wajah Sasuke. Wajah itu menatapya penuh harap, sepertinya Sasuke menyesal sudah menyakitinya. Hinata tak kuasa menolak.
Sesampainya di depan pagar rumah Hinata, Hinata menawari Sasuke untuk mampir terlebih dahulu ke rumahnya dan Sasukepun tidak menolak. "Kaa-san, kenalin ini Sasuke, senior Hinata dikampus. Kemarin sewaktu nee-chan tidak jadi menjemputku, dia juga yang mengantarkan Hinata pulang," terang Hinata kepada Kaa-sannya.
Kaa-san menyambut uluran tangan Sasuke dengan hangat. "Terima kasih sudah mau mengantar Hinata kemarin, maaf kalo dia merepotkan," kata Kaa-san sambil melirik Hinata dengan pandangan yang menggoda.
"Tidak apa-apa. Sekalian jalan."
"Silahkan loh, oba-san tinggal dulu ya." Sambil berlalu Kaa-san sempat mengedipkan mata kepada Hinata. Untung saja malam itu Hanabi pergi bersama Konohamaru, jadi Hinata dapat terbebas dari godaan nee-chan semata wayangnya itu.
Keheningan tercipta diantara keduanya. Tiba-tiba Sasuke berkata, "Hinata, malam keakraban nanti berangkat bersamaku saja ya? Aku jemput kesini saja. Kau belum ada janjikan?" Sasuke bergerak-gerak gelisah dikursinya, menunggu jawaban Hinata.
"Aku belum punya janji dengan siapa-siapa, tetapi aku harus meminta ijin Kaa-san dulu. Acaranya kan hingga larut malam. Biasanya sih Hanabi yang selalu mengantarku. Tapi lihat saja nanti."
"Nanti aku saja yang bilang pada Kaa-sanmu. Sekalian pulangnya juga akan kuantar. Jadi Hanabi juga tak perlu repot-repot untuk menjemputmu." Tawar Sasuke.
Ketika mereka sedang asyik berbincang, bel pintu rumah Hinata berbunyi. "Hinata, tolong lihat, siapa yang datang. Kaa-san sedang tanggung, sayang."
"Tunggu sebentar ya, Sasuke-kun. Aku ke depan dulu."
Hinata bergegas ke depan. Dibukanya kunci pintu dihadapannya. Ketika pintu akhirnya terbuka dan dia sedang sibuk untuk mengambil kunci yang terjatuh, sesosok tubuh menjulang dihadapannya. Dia menengadah dan bangkit perlahan. Seraut wajah yang rasanya pernah dikenalnya. "Sasori-nii? Sasori-nii, kan?" ujar Hinata ragu.
Suara berat yang sangat familiar ditelinganya menjawab, "Konbanwa, Hinata-chan, apa kabarmu? Sudah lama sekali rasanya kita tak pernah bertemu, ya? Kau sudah menjadi mahasiswa kan sekarang? Gimana, senang tidak? Apa masih perlu bantuan untuk pelajaran menggambar?" Sasori tersenyum menggoda. Mata coklatnya seolah ikut tersenyum, membayangi keramahan diwajahnya.
Sasori sebenarnya terkejut karena bertemu Hinata. Rasanya sudah berpuluh-puluh tahun dia tidak pernah melihat Hinata dirumah ini. Baru kemarin saat bertemu Hanabi, dia menitipkan salam untuk Hinata. Entah kenapa, waktu itu saat bertemu dengan Hanabi dia tiba-tiba teringat pada Hinata. Dan saat ini sosok Hinata benar-benar berdiri dihadapannya.
Hinata hanya diam, dia juga masih sangat terkejut. Tak disangkanya dia dapat bertemu dengan Sasori kembali. Pikirannya melayang-layang ke suatu masa. Waktu Tou-san meninggal, Hinata ingat saat itu dia baru saja naik kelas 3 SMP, Sasori juga yang menghibur dan menenangkannya. Sasori adalah satu-satunya lelaki yang dekat dengannya setelah Tou-san.
Sasori pula yang mengambilkan rapor Hinata saat Kaa-san atau Hanabi tak ada waktu, dan dia pula yang mengantarnya mendaftar di SMA. Dan sepertinya itu terakhir kalinya Hinata bertemu dengan Sasori. Mungkin benar kata Hanabi, Sasori sibuk dengan Temari kekasihnya dan tugas-tugas kuliahnya. Meskipun Hinata tinggal bersama Sasori dikota yang sama, namun rasanya dia tak pernah bertemu atau berpapasan dengan Sasori di jalan.
"Hin? Hinata?" Hinata tersentak kaget, dan dalam sekejap semua lamunannya hilang. "Ada Hanabi, gak? Aku ada perlu penting dengannya."
Hinata membuka pintu lebar-lebar, memberi jalan untuk Sasori. Sasori berdiri gelisah, tangannya mengacak-acak rambutnya. Dia tampak bingung. Hinata baru memperhatikan sekarang, Sasori terlihat lelah. Lingkaran hitam sedikit membayang dibawah matanya. Dagunya yang di ingatnya selalu halus dan licin, kini mulai ditumbuhi bulu-bulu halus tak beraturan. Sepertinya sudah beberapa hari dia tak bercukur. Melihat Hinata memperhatikannya, sasori mengelus-elus dagunya. Agaknya dia bisa membaca pikiran Hinata. Dia tersenyum, meskipun Hinata merasakan senyum itu terlalu dipaksakan.
"Tidak usah deh. Nanti saja aku telepon Hanabi. Mungkin saja besok aku bisa bertemu dengannya dikampus."
"Tidak masuk dulu? Tidak mau bertemu dengan Kaa-san?" Hinata masih berusaha menahan Sasori.
"Terima kasih Hin, tapi aku buru-buru. Salam saja ya untuk Kaa-san. Sudah ya, aku pergi dulu. Masuk sana, kau sedang ada tamukan?" belum sempat Hinata menjawab, Sasori sudah berbalik meninggalkannya.
"Siapa, Hin?" tanya Kaa-san dari dalam setelah Hinata masuk ke ruang tamu.
"Sasori-nii. Katanya cari nee-chan, ada urusan sangat penting, tetapi di ajak masuk dia tidak mau. Eh, malah kabur," kata Hinata sambil menghempaskan diri diatas sofa.
Sasuke yang daritadi memperhatikannya hanya tersenyum. Baginya Hinata adalah pribadi yang sangat unik. Terkadang dia tenang, namun dilain waktu berapi-api. Selain itu juga Hinata spontan dan berani. Dia teringat, saat orientasi, tak pernah dilihatnya sekalipun Hinata mengeluh. Semua dijalaninya dengan sepenuh hati. Padahal banyak sekali teman-teman perempuannya yang bertumbangan dan memberikan bermacam-macam alasan. Meskipun sebagai anak bungsu Hinata tetap manja, Hinata tetap berbeda dari mereka. Terus-terang Sasuke kagum terhadap Hinata. Kadang Sasuke selalu tersenyum sendiri saat dia dengan gagah berani mengakui bahwa Hinata adalah saudaranya. Untunglah Hinata bisa memaklumi tindakannya. Coba kalau tidak, entah apa yang akan dilakukan Hinata terhadapnya.
Saat makan malam, Hanabi diantar pulang oleh Konohamaru. Mereka sudah bertunangan setahun yang lalu, dan beberapa bulan lagi mereka akan menikah. Usia keduanya terpaut hampir empat tahun. Hanabi mengenal Konohamaru beberapa tahun yang lalu. Saat out Hanabi sedang mencari sponsor untuk acara bakti sosial dikampus. Kebetulan perusahaan garmen milik Konohamaru dan keluarganya turut ambil andil didalamnya. Setelah berkenalan dan mereka mulai dekat, banyak desas-desus yang mengatakan bahwa Konohamaru adalah seorang playboy, tukang mainin cewek. Pacarnya ada dimana-mana. Namun mereka berdua tidak menggubrisnya, bahkan beberapa bulan setelah berkenalan, mereka bertunangan.
Ketika Hinata mencoba mencari kebenaran tentang desas-desus itu, Hanabi hanya berkomentar pendek. "Terserah apa kata orang. Mungkin itu memang benar, tapi itu semua sudah menjadi masa lalu Konohamaru. Aku tak rela jika orang-orang yang tak tahu apa-apa malah menghancurkan hungungan kita."
Sebagai adik Hanabi, Hinata hanya berharap bahwa apa yang dikatakan nee-channya itu memang benar. Hinata hanya ingin nee-channya itu bahagia dengan yang dipilihnya.
"Nee-chan, tadi Sasori-nii cari nee-chan, katanya penting banget. Sudah telefon nee-chan belum? Saso-nii bilang mau telepon nee-chan saja, habisnya disuruh masuk dan nungguin dulu dia tidak mau," lapor Hinata pada Hanabi. "Sudah tidak pernah kelihatan, eh. . . sekalinya datang dia malah terburu-buru."
"Kau bertemu dengannya, ya? Bilang apa saja dia? Tidak nitip pesan apa-apa untukku?"
"Tidak, tuh. Katanya dia mau bicara sendiri dengan nee-chan. Emangnya ada apaan? Sepertinya ada masalah yang sangat berat sekali?"
"Nanti ya nee-chan ceritakan padamu. Sekarang nee-chan telepon dia dulu, ya." Hanabi bergegas masuk ke kamarnya. Hinata hanya manggut-manggut kebingungan dimeja makan.
Setengah jam kemudian telepon di ruang tengah berdering. Hinata yang menjawab. Suara Sasuke terdengar diseberang. "Konbanwa. Sasuke-kun? Ada apa? Sudah dirumah, ya?"
"Hai, Hinata. Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu saja. Sudah makan malam?"
Hinata mengangguk mengiyakan. Setelah tersadar Sasuke tidak bisa melihat anggukannya, barulah dia menjawab.
"Besok pagi kita pergi ke kampus bersama, ya. Aku jemput kamu. Boleh, tidak?"
"Boleh-boleh saja. Agak siang, ya. Dosen pembimbingku datang siang. Tidak keberatan kan, Sasuke-kun?"
"Ya tidak apa-apa. Lagipula aku pun sudah tidak acara dikampus. Sudah selesai semua tadi pagi."
"Kalau begitu, tidak jadi deh. Kalau kamu mau nganterin aku saja mening tidak usah, nanti malah membuatmu repot."
"Tidak apa-apa. Sekalian aku mengurusi untuk acara malam keakraban besok lusa."
"Apa benar tidak apa-apa? Kalau begitu sih aku mau-mau saja. Lumayan dapat tumpangan gratis." Hinata terkikik diujung sana.
Di ujung yang lain, Sasuke tercekat. Tidak tahu kenapa, rasanya Sasuke rindu sekali pada suara Hinata. Padahal sesorean tadi dia sudah bermain dirumah Hinata.
"Ha`i, Hinata. Sampai jumpa besok pagi. Oyasuminasai." Belum sempat HInata menjawab, terdengar bunyi 'klik' di ujung sana. Sasuke sudah memutus telepon.
Hinata hanya tersenyum kecut, heran dengan tingkah Sasuke yang berubah-ubah. Rasanya aneh, akhir-akhir ini ia mendadak selalu memikirkan Sasuke. Meskipun terkadang dia tidak bisa menebak sikap Sasuke yang sering berubah-ubah. Rasanya Sasuke begitu pendiam dan tertutup. Ada sesuatu yang ditutupinya. Entahlah. Mungkin ini hanya prasangka Hinata saja. Kadang Sasuke begitu lembut, dan perhatian padanya, sedangkan disaat yang lain dia begitu dingin dan tak terjangkau.
"Hinata. . . ngelamunin siapa?" Hanabi tiba-tiba sudah berada didekat Hinata. Hinata tergagap, dalam sekejap buyarlah lamunannya.
"Bukan siapa-siapa, nee. Bagaimana tadi? Kok cepat sekali ngobrolnya sama Saso-nii? Tadi waktu teleponnya bunyi, kirain dari Saso-nii. Tak taunya malah sudah selesai."
Hanabi hanya mengangguk menanggapi ocehan imoutonya. "Nee-chan, jadi cerita kepadaku tidak?"
Hanabi duduk disamping Hinata, wajahnya tampak sedih dan bingung. Hinata meremas tangan nee-channya, menenangkan.
"Besok lusa Sasori berangkat keluar negeri, Hin. Dia minta tolong nee-chan untuk mengurusi surat-surat dari kampus yang belum beres."
"Lho, emangnya ada apa sih? Sepertinya terburu-buru sekali?"
Hanabi menghelas nafas panjang. "Ceritanya panjang, Hin." Hinata mengangguk dan menunggu Hanabi melanjutkan ceritanya dangan sabar.
"Kamu inget Temari kan, Hin? Kekasih Sasori? Kalau tidak salah, dulu nee-chan pernah menceritakannya." Hinata kembali mengangguk.
"Mereka berencana menikah setelah Sasori lulus. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba, empat bulan lalu Sasori diwisuda. Bahkan karena indeks prestasinya diatas rata-rata, Sasori sekaligus mendapat kontrak kerja dari sebuah perusahaan asing yang saat ini sedang berkembang pesat. Lamaran sudah dilakukan, pernikahan mulai disiapkan, bahkan pekerjaan yang menjanjikan sudah ditangan. Apalagi yang kurang? Semuanya sudah begitu sempurna." Hanabi kembali terdiam agak lama.
"Lalu kenapa sekarang Saso-nii justru pergi meninggalkan semuanya?" tanya Hinata.
"Bukan Sasori yang pergi, Hin. Tapi Temari." Hinata semakin bingung.
"Maksud nee-chan, Temari yang keluar negri diantar Saso-nii gitu?" mau tak mau Hanabi tersenyum, diacaknya rambut Hinata dengan sayang.
"Nee-chan lanjutkan dulu ceritanya , ya" Hinata manggut-manggut.
"Beberapa hari sebelum pernikahan, Sasori datang kerumah Temari, fitiing terkahir baju pengantin mereka. Setiba di sana, bukan Temari yang ditemui Sasori, melainkan kedua orangtua Temari. Kaa-sannya Temari sedang menangis tersedu-sedu, sedangkan Tou-sannya tampak menahan amarah. Melihat Sasori, kaa-sannya Temari segera menyodorkan sepucuk amplop putih. Amplop yang sudah lusuh dan basah oleh air mata. Ternyata surat dari Temari. Kamu mau tahu apa isinya?" tanya Hanabi. Hinata mengangguk.
"Surat itu berisi permintaan maaf Temari. Temari kabur dari rumah. Dia membatalkan pernikahan itu. Surat itu juga mengungkapkan pengakuan Temari. Dia bilang, cintanya tak cukup besar untuk menikahi Sasori. Dia tak sanggup menghabiskan sisa hidupnya sebagai istri Sasori. Sasori semakin terguncang setelah mengatahui bahwa Temari melarikan diri dengan atasannya di kantor. Kalo nee-chan gak salah dengar namanya tuan Jiraiya, seorang pria setengah baya beranak dua."
Hinata menyodorkan segelas air untuk Hanabi. "Minum, nee. Biar nee-chan agak tenang."
Hanabi menyesap air itu lalu melanjutkan ceritanya. "Temari meminta agar Sasori tidak mencarinya karena dia sudah merasa bahagia dengan keputusannya. Nee-chan dapat bayangkan betapa hancurnya Sasori saat itu. Kekasihnya membatalkan pernikahan dan melarikan diri dengan pria lain yang sudah mempunyai istri pula. Disisi lain, dia masih harus menghadapi orang tua dan keluarganya, belum lagi memasang pemberitahuan di Koran karena undangan sudah terlanjur tersebar, juga pembatalan di gereja tempat mereka akan menikah. Masih ditambah lagi rasa malu yang menimpa keluarga besarnya."
Hanabi menghela nafas. "Sasori benar-benar kalut, Hin. Jadi jangan heran waktu kamu kemarin ketemu dia tampak seperti orang linglung. Temari memang keterlaluan."
Hinata terkejut mendengar penuturan Hanabi. Dia memang belum pernah bertemu dengan Temari, namun dia merasa bahwa Temari adalah perempuan terjahat yang pernah diketahuinya. Betapa teganya dia melakukan semuanya ini pada Sasori. Sasori yang dikenalnya sebagai sosok yang kocak, periang dan humoris. Sasori yang dulu pernah dianggapnya sebagai kakak lelaki yang tak pernah dimilikinya.
"Sasori memutuskan untuk membatalkan kontrak kerja tersebut. Dia minta agar nee-chan membantu semua persyaratan yang belum dilengkapinya, karena dia harus segera pergi. Salah seorang sahabat ayahnya pernah menawarkan Sasori untuk mengambil gelar Master di Amerika. Dulu Sasori menolaknya mentah-mentah karena hendak menikah. Tetapi sekarang semuanya berubah. Sasori memutuskan untuk berangkat dan tak bisa ditawar-tawar lagi." Hinata melihat mata Hanabi berkaca-kaca.
"Dia ingin melupakan semuanya, Hin. Dia tak mau melihat dan bertemu Temari lagi. Disini terlalu banyak kenangan baginya. Mungkin ini yang terbaik untuk Sasori."
Hinata bangkit dari duduknya, dipeluknya nee-channya sambil berbisik "Hinata yakin, nee, Saso-nii bisa ngatasin semuanya. Nee-chan ingatkan waktu Tou-san meninggal? Dia yang selalu mendukung kita agar tetap tegar dan kuat."
Kaa-san yang tak sengaja menguping pembicaraan kedua putrinya dari dapur, juga merasa prihatin dengan kejadian yang dialami Sasori. Sasori begitu dekat dengan keluarganya, bahkan sudah dianggapnya sebagai sebagian dari keluarga ini. Kebahagiaan Sasori juga adalah kebahagiaannya. Kaa-san mengusap matanya yang mulai berair. "Kami-sama, saya percaya Engkau akan selalu menjaga dia, dimanapun dia berada." Kaa-san turut berdoa dalam hati.
TBC
