Title: Touch One Star

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasukexHinata

Warning : AU, OOC, OOT, crack pair, gaje, abal, miss type, rush dll.

Pagi itu, suasana dirumah sangat sibuk. Hanabi sudah siap semenjak tadi. Dia menunggu Konohamaru yang akan mengantarkannya ke tempat Sasori. Kaa-san sibuk menyiram anggreknya yang ada dihalaman samping. Pagi ini Kaa-san absen didapur. Shizune yang sudah seminggu pulang kedesanya, subuh tadi sudah datang lagi. Tak lupa dibawakannya satu keranjang penuh dango, makanan khas didesanya. "Oleh-oleh untuk nona Hinata," katanya tadi.

"Ya ampun, siapa yang mau menghabiskan makanan sebanyak ini?" kata Hinata tadi. Matanya terbelalak melihat banyaknya oleh-oleh yang dibawa oleh Shizune.

"Aduh, Shizune. Jika membawa oleh-oleh tak perlu sebanyak ini," timpal Kaa-san.

"Iya, lagi pula siapa yang mau menghabiskannya? Disini kan kita hanya berempat," protes Hanabi.

"Aku juga mungkin hanya makan dua apa tiga biji saja, mana nanti aku ada acara di kampus hingga malam. Besokkan sudah tidak enak." Hinata turut memprotes.

"Tidak apa-apa, Non. Dibawa sama Non ke kampus juga tak apa. Habisnya saya hanya bisa membawakan itu dari desa." Jelas Shizune.

"Sudah. Sisanya kamu bawa saja. Sayang juga kan kalau di rumah tidak habis." Akhirnya Kaa-san memutuskan.

"Oh iya. Siang nanti aku akan berangkat dengan Sasuke-kun, ya. Kemarin sudah janjian, sih. Pulangnya juga sekalian akan di antar. Soalnya acaranya hingga larut, Kaa-san. Ada api unggun segala, sih. Kasihan nee-chan jika harus menjemputku nanti malam. Lagipula nee-chan juga punya banyak urusan, kan?" Hinata menjelaskan pada Kaa-san sembari mulutnya mengunyah dango dari Shizune.

"Tidak apa-apa. Nee-chan bisa jemput kamu kok nanti malam. Nee-chan kan bisa minta tolong Konohamaru untuk menemani nee-chan. Minta di jemput jam berapapun kita berangkat." celetuk Hanabi.

"Eng… tidak usah, nee-chan. Nee-can masih harus mengurusi Sasori juga kan? Benar deh, aku bisa ikut Sasuke-kun. Lagi pula kemarin sudah janjian, tidak enak jika membatalkan seenaknya." Kata Hinata bersikeras

"Eumm… Yang sudah janjian. Coba kalau belum janjian dengan Sasuke-kun. Pasti nee-chan dipaksa-paksa untuk mengantar jemput, benar kan Kaa-san?" goda Hanabi

"Tolong jemput Hinata ya nee-chan, nanti aku bersihkan kamar nee-chan. Atau, nee-chan mau pinjam novelku yang terbaru? Ayoolah kumohon sekali ini saja." Hanabi menirukan Hinata saat ia merayu meminta dijemput atau diantar olehnya. "Sekarang sudah ada yang mengantar, lupa ya?"

"Kaa-saaaaaaannn…..! Nee-chan menggodaku terus nih!" teriak Hinata melapor pada Kaa-san.

"Hanabi, Hinata, ada apa sih? Pagi-pagi sudah ribut terus. Hanabi, kau tidak usah menggoda imoutoumu begitu, dan kau juga Hinata tidak usah berteriak-teriak seperti itu," balas Kaa-san tak kalah keras dari teriakan Hinata tadi. Hanabi tertawa terbahak-bahak. Bersamaan dengan itu, terdengar bunyi klakson di luar.

"Kaa-san, aku berangkat dulu ya. Konohamaru sudah datang, nanti keburu terlambat." Hanabi berteriak keras kepada Kaa-san.

"Hati-hati ya, Hana. Jangan pulang terlalu malam. Katakan pada Konohamaru, nanti makan malam disini saja. Kaa-san tunggu." Jawab Kaa-san

"Oke Kaa-san," Hanabi bergegas mengambil tas yang disampirkannya di kursi makan. Dihampirinya adiknya yang tengah asyik membaca Koran. Dikecupnya dahi Hinata dengan penuh kasih sayang. "Nee-chan berangkat dulu ya. Hati-hati, katakan pada Sasuke, jangan ngebut membawa mobilnya. Dia harus menjaga dengan baik imoutou nee-chan satu-satunya ini, harus selamat dan tidak boleh ada yang lecet dan kurang satupun."

Hinata balas mencium pipi Hanabi. "Aku juga sayang nee-chan. Hati-hati ya, salam untuk Konohamaru-nii. Dia juga harus menjaga nee-chan."

Hanabi mengangguk dan berlari keluar rumah karena sepertinya Konohamaru sudah tidak sabar dan membunyikan klakson lagi keras-keras.

Kling…kling…..kling.. bunyi bel seolah menyadarkan Hinata dari buku yang sedang ditekuninya.

"Nona, ada tamu di depan. Katanya sudah berjanji mau menjemput Non. Sekarang sudah saya suruh untuk menunggu di ruang tamu. Malah ditemani Kaa-san mengobrol." Lapor Shizune yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu kamar Hinata yang terbuka.

"Terima kasih, baa-chan." Hinata bangkit, dirapikannya bajunya yang kusut. Sekilas diihatnya bayangannya di cermin meja rias. Dipulasnya bibir mungilnya dengan lipgloss dan disisirnya rambut cepat-cepat.

"Gomenne Sasuke-kun sudah menunggu lama." Katanya diambang pintu ruang tamu.

Sasuke yang sedang berbincang-bincang dengan Kaa-san tampak terkejut. Diperhatikannya Hinata yang saat ini berdiri dihadapannya. Hinata terlihat berbeda. Rambut indigonya yang biasa diikat kuda dibiarkannya terurai. Belum lagi pakaian santai yang dikenakannya. Polo shirt biru muda dipadu jins yang warnanya sudah memudar. Jins yang membalut kaki jenjangnya dengan sangat pas. Kalau saja tidak mengenal Hinata, mungkin dia bisa mengira bahwa Hinata masih bersekolah di junior high school.

Kaa-san yang melirik Sasuke tersenyum lalu terbatuk-batuk kecil. Sasuke tersadar dan salah tingkah "Sudah siap? Jangan lupa membawa jaket." Hinata mengangguk dan menunjukkan ransel disisinya. Sasuke berdiri dan berpamitan kepada Kaa-san. Kaa-san mencium kedua pipi Hinata, kebiasaan yang selalu dilakukannya sejak Hinata masih kecil.

"Hati-hati Hinata, Hati-hati Sasuke." Pesan Kaa-san. Keduanya megangguk hampir bersamaan.

Di dalam mobil, Hinata baru memperhatikan bahwa pakaian yang dikenakan Sasuke hampir serupa dengan yang dikenakannya. Jins dan polo shirt. Hanya saja polo shirt-nya berwarna biru tua. Hinata memperhatikan Sasuke yang tampak begitu menawan. Mungkin jika orang lain mengenakan pakaian yang sama seperti yang dikenakan Sasuke saat ini, takkan semenarik Sasuke ketika mengenakannya. Semua tampak begitu pas, seolah-olah baju itu memang hanya diperuntukan bagi Sasuke seorang.

"Kau melamun, eh? Aku traktir es krim jika kau menceritakan apa yang sedang kau lamunkan." Ujar Sasuke sambil melirik Hinata.

Hinata menoleh pada Sasuke, wajahnya bersemu merah karena malu. Mungkinkah Sasuke dapat membaca pikirannya?

"Oke, es krim dan cupcake, bagaimana?" tawar Sasuke lagi. Hinata tersenyum dan menggelengkan kepala kuat-kuat. Sasuke sedang menggodanya.

Semudah itu percakapan diantara mereka mulai mengalir lancar. "Hinata kau anak terakhir ya? Kaa-sanmu mengatakan bahwa kau sangat dekat dengan Hanabi, padahal usia kalian terpaut jauh?"

Hinata mengangguk mengiyakan. "Dulu nee-chan memang hampir saja menjadi anak tunggal, tapi lalu ada aku. Mungkin dulu nee-chan sudah lama tidak mempunyai teman bermain di rumah. Begitu aku lahir, nee-chan seolah-olah mempunyai mainan baru. Nee-chan, benar-benar selalu menjagaku. Aku juga menjadi sangat tergantung dengannya. Malah dulu ketika aku masih kecil, aku selalu mengekor kemanapun dia pergi."

Sasuke hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Hinata kembali bercerita, "Sebelum ada aku, Kaa-san sempat keguguran dua kali. Baru setelah itu ada aku. Jadi bukan hanya Hanabi yang dekat denganku, tapi juga Kaa-san dan mendiang Tou-san. Bagaimana denganmu Sasuke-kun? Kau sudah tahu banyak tentangku dan keluargaku. Sekarang giliranmu bercerita!" Hinata mencoba membujuk Sasuke.

Dia melirik Sasuke yang berada disebelahnya, sekilas dilihatnya buku-buku jari Sasuke yang mencengkram kemudi kuat-kuat itu memutih. Sepertinya Hinata sempat mendengar Sasuke menggertakkan gigi.

"Tidak ada yang istimewa dalam diriku dan keluargaku Hinata." Ujar Sasuke menjelaskan. Setelah itu dia membisu. Hinata merasa ada yang janggal, namun dia hanya diam.

Keheningan menyelimuti mereka, hanya suara audio yang mengalun lembut di antara mereka. Suasana diantara mereka pun menjadi tidak nyaman. Hinata berdendang kecil mengikuti alunan lagu yang diputar Sasuke.

Sasuke melirik sekilas, diraihnya tangan Hinata dan diremasnya lembut. "Maaf, aku belum siap jika harus menceritakan keluargaku."

Hinata mengangguk maklum. "Eng? Nandemonai, mungkin aku yang terlalu ingin tahu. Gomen ya Sasuke-kun."

Tiba-tiba Sasuke menghentikan mobil yang dikemudikannya. Hinata bertanya-tanya dalam hati dan menoleh ke sekelilingnya. Sasuke tertawa melihat kekhawatiran Hinata. "Kita sudah sampai. Kau pasti melamun lagi." Hinata tersipu malu.

"Arigatou Sasuke-kun. Aku turun terlebih dahulu ya, soalnya teman-temanku sudah berkumpul disana." Hinata melihat teman-temannya yang sudah berkumpul dibawah pohon Sakura di halaman kampus. Di tempat itulah mereka nantinya mengadakan acara api unggun.

"Ya, kita bertemu lagi nanti." Senyum menghiasi wajah Sasuke. Dan Hinata menikmatinya, jarang sekali Sasuke tersenyum.

"Hinata! Keranjang bawaan mu tertinggal." Hinata berbalik dan tersenyum. "Ah ya, hampir saja aku lupa. Arigatou Sasuke-kun."

Sasuke masih memegang keranjang tersebut. "Keranjang ini berisi apa? Berat sekali. Lagipula nanti kita mendapat makan malam." Sasuke bertanya-tanya.

"Oh, ini dango buatan Shizune baa-chan. Terlalu banyak, di rumah juga tidak akan ada yang menghabiskan. Jadi Kaa-san menyuruhku membawanya ke kampus. Agar dangonya di habiskan oleh teman-temanku." Terang Hinata. Sasuke mengangguk tanda mengerti. "Sampai jumpa nanti Sasuke-kun." Hinata mengambil keranjang dan menghambur ke arah teman-temannya.

Sasuke menggelengkan kepalanya. Dikuncinya pintu mobil dan ia pun pergi menemui teman-temannya.

TOS

Hari mulai gelap saat api unggun mulai dinyalakan. Para mahasiswa berkumpul mengelilinginya. Tak ada lagi perbedaan antara senior dan junior, semua membaur menjadi satu. Tak ada lagi ketakutan di wajah para kouhai. Bahkan para senpai yang biasanya tampil sangat kejam pun, hari ini tampak manis dan penuh persahabatan. Hinata duduk diantara teman-temannya, dari tadi ia belum melihat Sasuke lagi. Tadi ia masih berusaha mencari-cari sosok Sasuke diantara teman-teman seniornya, namun karena situasi yang semakin ramai dan riuh-rendah, dia mulai menghentikan pencariannya.

"Kau sudah gila Hinata! Aku tadi melihatmu. Kau berangkat bersama Sasuke-senpai ya?" Kiba, teman seangkatan Hinata bertanya.

"Memangnya kenapa Kiba-kun?" balas Hinata

"Mau-maunya kau diantar dia. Kau tahukan, sewaktu orientasi dia itu sangat pendiam. Apalagi jika kau melihat pandangan matanya, hiiii…. Itu dapat membuatmu beku menjadi es, Hinata-chan. Kami semua segan terhadapnya, Jangankan senyum, bicara saja sepertinya tidak pernah."

"Apa yang dikatakan Kiba-kun benar Hinata-chan. Bisa-bisanya kau diantar olehnya. Tampan sih tampan, tapi kalau seperti itu sih mendingan tidak usah." Timpal Tenten.

"Kalau begitu, seharusnya kau berangkat denganku saja Hinata-chan. Dijamin sepanjang perjalanan full dengan hiburan dan tawa. Dapat kupastikan kau tidak akan terlantar. Masa perempuan secantikmu didiamkan begitu saja." Naruto yang mendengar ucapan itu ikut menimpali.

"Yaaa.. itu kan maumu, baka! Maumu itu sambil menyelam minum air kan? Kita semua tahu kalau kau menyukai Hinata-chan kan? Ayo akui saja!" Tenten membuka topeng Naruto yang menjadi malu sendiri.

"Benar. Aku mendengar sendiri Naruto mengatakan bahwa ia menyukai Hinata-chan dari sejak pertama melihatnya di orientasi. Waktu itu kita satu kelompok kan Hinata-chan? Dan waktu itu sebenarnya Naruto masuk kelompok lain, tapi ia bersikeras ingin sekelompok dengan kita. Mana muka tembok lagi… sampai-sampai dia melapor pada senior supaya bisa masuk ke kelompok kita. Padahal dia dapat hukuman juga kan?" Lee ikut menimpali juga, membuat wajah Naruto semakin merah padam.

"Tapi akhirnya kau bisa sekelompok dengan Hinata-chan juga kan? Tidak sia-sia perjuanganmu Naruto!" ujar Kiba menambahkan. Mereka lalu tertawa berderai-derai. Hinata yang juga merasa sedang dikerjai teman-temannya jadi merasa tidak enak kepada Naruto.

"Sudah, sudah. Kasihan Naruto-kun. Lagi pula kalian terlalu berisik, mungkin ada yang merasa terganggu." Hinata menenangkan teman-temannya.

Naruto menghembuskan nafas lega saat Hinata 'menyelamatkannya dari amukan masa'. Mereka akhirnya diam dan mulai memusatkan perhatian ke api unggun. Acara hampir dimulai. Pertama kali adalah sambutan dari Ketua Umum Orientasi, selanjutnya acara bebas, biasanya berupa spontanitas. Beberapa dosen tampak juga di sini, tapi karena acara ini khusus untuk mahasiswa, maka beliau-beliau ini hanya sebagai tamu kehormatan. Konan yang malam itu bertindak sebagi MC, mampu menghidupkan suasana riang. Tak seperti biasanya, selalu marah-marah. Dia segera memanggil si Ketua Umum untuk memberikan sambutan. Para hadirin bertepuk tangan meriah. Seorang pria maju ke depan dan mengambil pengeras suara dari tangan Konan. Dari tempatnya duduk, Hinata tidak dapat melihat dengan jelas pria tersebut.

Wah, Yahiko-senpai akan pidato lagi, batin Hinata. Pria itu memulai dengan mengucapkan selamat malam untuk semua yang hadir di acara tersebut. Hinata tercekat mendengar suara itu. Bukan, itu bukan suara Yahiko. Dia merasa begitu mengenal suara itu. Suara yang datar dan berat itu seperti suara... Hinata mengdongkakan kepalanya, berusaha melihat dengan lebih jelas sosok yang berdiri di tengah lingkaran yang mengelilingi api unggun.

Benar, itu suara Sasuke! Ketika Hinata melihatnya, tanpa sengaja Sasuke juga sedang memperhatikannya. Sekilas Hinata melihat, mata onyxnya menatapnya lembut. Senyum tipis di bibirnya juga sempat di perhatikan Hinata. Meski hanya sekilas, karena Sasuke kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Hinata baru tahu sekarang, ternyata Sasuke adalah Ketua Umum Orientasi ini. Tadinya ia mengira bahwa Yahikolah sang Ketua Umum. Deg… seketika dia tersadar, pantas saja ketika Sasuke mengaku dia sepupunya, semua panitia langsung percaya. Konan yang biasanya tak kenal takut siapapun juga bagai kerbau dicocok hidung. Bahkan seketika itu pula acara dibubarkan. Ternyata Sasuke adalah penguasa tertinggi dalam masa orientasi ini. Mana berani mereka membantahnya? Hinata tersenyum geli mengingatnya.

Sambuatan yang disampaikan Sasuke tidak berbelit, hanya berisi ucapan terima kasih karena sudah berpartisipasi dalam acara ini, sekaligus permintaan maaf dari para senpai karena sudah menjahili para kouhainya.

Acara kembali dilanjutkan, sekarang acara bebas. Beberapa mahasiswa bernyanyi, menari, sedang beberapa diantaranya membuat api untuk membuat barbeque. Hinata memilih menyendiri, mengamati teman-temannya dari kejauhan. Hawa semakin dingin, dirapatkannya jaket dan di kancingkannya. Meskipun syal tebal sudah melilit lehernya, Hinata masih kedinginan. Mungkin karena dia duduk agak jauh dari api unggun.

"Kau kedinginan?" Hinata tersentak, sebuah suara mengagetkannya. Dia menoleh, Sasuke berdiri menjulang didekatnya.

"Sedikit. Hanya belum terbiasa saja." Jawab Hinata. Tapi badannya berkata lain, saat angin malam berhembus agak kencang, dia menggigil. Sasuke tersenyum, dilepaskannya jaket tebal yang sedang dipakainya dan diselimutkannya pada bahu mungil Hinata. Kemudian dia duduk disamping Hinata. "Sasuke-kun, ti-tidak perlu. Kau bagaimana?" Hinata berusaha menolak.

Sasuke menggelengkan kepalanya dan tersenyum menenangkan Hinata. Keduanya memandangi api unggun yang berkobar. Keheningan menyelimuti mereka, sehingga saat Sasuke menghele nafas, Hinata dapat mendengarnya dengan jelas.

"Hinata, aku anak terakhir dari 2 bersaudara. Keluargaku adalah keluarga bangsawan yang masih memegang teguh tradisi. Bagiku mereka terlalu angkuh dan kolot. Entahlah, mungkin itu karena mereka sudah terbiasa di hormati sejak kecil. Itu yang membuatku tidak cocok tinggal di lingkungan mereka. Saat aku memutuskan kuliah di sini, aku berangkat dan meninggalkan berbagai konflik. Terutama dengan Tou-sanku." Tanpa diminta, Sasuke bercerita. Hinata tidak berusaha memutus pembicaraan itu. Dibiarkannya Sasuke mengungkapkan semuanya. Diliriknya Sasuke yang duduk di sampingnya, Sasuke sedang memainkan sepotong ranting pohon di tangannya. Dia membuat goresan tak beraturan di atas tanah di depannya. Dagunya menempel di atas lututnya. Merasa sedang di perhatikan, Sasuke menoleh. Hinata tersenyum padanya.

"Mereka ingin aku kuliah di jurusan yang mereka inginkan, karena kelak akulah yang harus menjalankan usaha mereka. Keluarga besar kami mempunyai sebuah perusahaan terbesar di kota ini. Bahkan mungkin di seluruh negeri ini. Jangankan memilih jurusan, untuk urusan jodoh pun aku tak bisa memilih sendiri. Mereka sudah menentukan siapa yang pantas menjadi calon istriku kelak."

Sasuke menghentikan ucapannya dan berpaling pada Hinata. "Apakah kau bosan mendengar ceritaku?" Sasuke bertanya pada Hinata.

Hinata menggeleng. "Teruskan Sasuke-kun, aku siap mendengarkan." Jawab Hinata.

"Perempuan pilihan orangtuaku itu jelas sudah memenuhi berbagai macam persyaratan. Bagi mereka, perempuan itu adalah pilihan yang paling sempurna. Seorang perempuan yang namanya pun aku tidak ingin mengetahuinya, apalagi mengenalnya lebih dekat. Tadinya aku berharap Kaa-sanku dapat memahami perasaanku. Tapi ternyata harapanku sia-sia. Posisi Kaa-san sebagai istri tidak memungkinkannya untuk membelaku. Kaa-san begitu takut dan menurut pada Tou-san. Mungkin karena tradisi dalam keluarga kami yang mengatakan bahwa seorang istri tidak mempunyai hak untuk berbicara." Sasuke berhenti sejenak.

"Bagiku itu tidak masuk akal. Di jaman seperti ini keluargaku masih bersikap feudal, ini semua membuatku berontak."

"Lalu, jika kau memberontak. Bagaimana hubunganmu dengan keluargamu Sasuke-kun?"

"Pada awal masa kuliahku, aku sama sekali tidak ingin kembali kerumahku. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku berusaha bekerja paruh waktu. Apapun kulakukan, asalkan masih wajar dan tidak melanggar hukum. Hanya saja dalam setahun belakangan ini, Kaa-san mulai sering menghubungiku, meskipun diam-diam. Begitupula dengan anikiku." Sasuke menjelaskan.

"Sasuke-kun, cobalah untuk memahami keluargamu. Mungkin kalau kau bicarakan masalah ini baik-baik dengan disertai alasan yang masuk akal, mereka dapat menerimanya." Kata Hinata mencoba menasihati Sasuke.

"Mungkin suatu saat akan kucoba. Tapi tidak untuk saat ini. Aku ingin kembali kehadapan Tou-sanku dengan mengantungi gelar sarjana." Sasuke bersikeras. "Aku ingin Tou-sanku tahu bahwa dengan keputusanku ini aku dapat hidup mandiri dan tak lagi bergantung padanya. Aku ingin menunjukan bahwa aku bisa berhasil, meskipun Tou-san selalu tidak setuju dengan segala keputusanku." Sasuke kembali diam.

"Arigatou Hinata, kau sudah mau mendengarkan semua keluhanku." Lanjut Sasuke, disentuhnya lengan Hinata sekilas.

"Hem doita-nee Sasuke-kun." Jawab Hinata sambil tersenyum manis.

Sasuke memperhatikan Hinata dari tempatnya duduk. Kobaran api yang ada di belakang Hinata membuatnya tampak sangat menawan. Perpaduan yang sangat kontras. Api unggun yang menyala-nyala membuat wajah Hinata yang pucat karena kedinginan terlihat bercahaya. Rambut panjang indigonya yang terurai membingkai wajahnya seperti sulur-sulur emas. Sejenak Sasuke terpesona. "Hinata, kau cantik sekali." Kata Sasuke spontan.

Hinata tersipu, dialihkannya perhatiannya pada teman-temannya yang sedang asyik di seberang sana. Sasuke pun ikut memperhatikan.

"Boleh aku mengatakan sesuatu?" Tanya Sasuke. Hinata mengangguk tanpa menoleh, asyik memandangi api unggun di kejauhan. "Mungkin ini terlalu cepat dikatakan. Tapi aku harus mengatakannya, Hinata, Aku menyayangimu." Hinata terkejut mendengar pengakuan Sasuke. Ditatapnya Sasuke tak percaya. Sasuke mengangguk mengiyakan.

"Aku mencintaimu, aku jatuh cinta padamu sejak pertama aku melihatmu. Saat itu kau sedang berada di loket pendaftaran, dan aku belum tahu kau mendaftar di fakultas apa. Aku terus berharap dan berdoa suatu saat aku dapat bertemu lagi denganmu. Ternyata Kami-sama mendengarkan doaku, kita kembali bertemu saat masa orientasi, bahkan kau menjadi adik kelasku." jelas Sasuke.

Hinata kembai teringat pada saat pendaftaran, rasanya ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan. Saat dia ganti memperhatikan, pria itu membuang muka dan bersikap tidak peduli. Berarti benar, dia adalah Sasuke. Makanya sewaktu dia meminta tanda tangan Sasuke, dia merasa pernah melihatnya. Hanya entah dimana.

"Hinata?" Sasuke memanggil Hinata perlahan. Hinata menoleh. Sasuke nampak sedang memperhatikannya, wajahnya dipenuhi keraguan, sekaligus harapan.

"Aku mulai memperhatikanmu, Sasuke-kun. Sejak masa orientasi. Rasanya ada yang berbeda darimu. Kau begitu berbeda dengan senior lain. Meskipun kau begitu pendiam. Dan kau tahukan, kau adalah senpai yang paling di takuti. Tapi aku merasa ada sesuatu, Sasuke-kun. Apalagi saat kau membelaku hanya agar aku terbebas dari hukuman. Terus terang, aku mulai mencurigaimu. Apalagi alasan yang kau berikan waktu itu tidak masuk akal sama sekali." Hinata tersenyum. Senyum yang seketika menghapus semua keraguan di wajah Sasuke. Ternyata Hinata juga menaruh perhatian padanya. Sasuke menghela nafas lega.

"Aku bersungguh-sungguh dengan semua yang ku ucapkan tadi. Will you be my girlfriend Hyuuga Hinata?" Tanya Sasuke sekali lagi untuk memastikan.

Hinata menunduk, wajahnya terasa menghangat. Dia mengangguk, pelan sekali hingga Sasuke hampir tak melihatnya.

Acara belum lagi usai, tapi kerumunan mahasiswa di sekeliling api unggun mulai berkurang. Beberapa sudah pulang, sedangkan yang lain memilih untuk terus mengobrol. Hari sudah semakin larut.

"Hinata, kita pulang sekarang? Sudah larut, tidak enak dengan Kaa-sanmu." Ajak Sasuke. Hinata mengiyakan. Sasuke mengulurkan tangannya membantu Hinata berdiri. Dikibas-kibaskannya bagian belakang jinsnya, berusaha menghilangkan debu dan rumput kering yang menempel di sana. Sasuke menunggu dengan sabar. "Aku akan berpamitan dengan teman-temanku, Hinata. Biar Yahiko dan Tobi yang bertanggung jawab disini."

"Sekalian saja kalau begitu Sasuke-kun, aku juga ingin berpamitan terlebih dahulu kepada teman-temanku." Ujar Hinata. Keduanya berjalan beriringan. Hinata menghampiri Tenten, sedangkan Sasuke berjalan menuju rombongan senior, teman-temannya.

"Tenten-chan, aku pulang duluan ya. Sudah mengantuk. Lagipula, kasihan Kaa-sanku menunggu dirumah. Ah ya, hari senin nanti ada kuliah perdana kan? Kalau aku terlambat, tolong carikan tempat duduk untukku ya."

Tenten yang sedang mengunyah jagung bakar mengangguk. "Heh… heh.. heh.." Mulutnya megap-megap kepanasan. Matanya mengerjap-ngerjap. Bahkan mengeluarkan air mata.

"Tenten-chan, kau kenapa? Ada apa denganmu?" Tanya Hinata bingung.

Tenten mengipasi mulutnya dengan tangan. Bibirnya terbuka sambil meniup-niup. "Shh… pedas sekali Hinata-chahaaan…" kata Tenten tidak begitu jelas.

"Ah, kukira ada apa. Ternyata hanya karena kepedasan. Harusnya kalau kau tidak terbiasa makan makanan pedas ya jangan memaksakan diri. Sudahlah, aku pulang duluan ya. Jaa. Salam untuk teman-teman yang lain." Kata Hinata akhirnya.

"Eh..Hinata-chan tunggu, apa kau tidak mau makan jagung bakar? Setidaknya cobalah dulu, nih." Bujuk Tenten sambil menyodorkan jagung bakar yang tinggal separuh di tangannya. "Wuu.. dijamin kau akan ketagihan Hinata-chan." Bujuknya masih semangat.

"Arigatou ne Tenten-chan, tapi aku tidak terlalu suka pedas. Lebih baik kau habiskan saja."

"Hei, Hinata-chan jangan terburu-buru, kalau kau tidak suka pedas, yang manis juga ada. Ini untukmu, makanlah. Kalau untukmu paling pantas yang manis, karena sama sepertimu, manis." Naruto tiba-tiba muncul diantara mereka dengan cengiran rubah khasnya yang menghiasi wajahnya.

"Tidak usah Naruto-kun, aku sudah kenyang." Tolak Hinata halus.

"Tidak apa-apa Hinata-chan, ayo dicoba sedikit saja. Paling tidak kau sudah mencoba jagung bakar buatanku." Naruto sedikit memaksa.

"Huh, kau ini sangat memaksa baka! Kalau Hinata-chan tidak mau, jagung bakarnya untukku saja. Lumayan untuk mengobati kepedasan. Kau ini benar-benar baka yaa.. membuat jagung bakar untukku yang super pedas.. haaaaaahhh sssssss… Mana? Kemarikan jagung bakarnya!" Tenten berusaha mengambil jagung bakar yang berada di tangan Naruto yang tadi sudah ditawarkan kepada Hinata.

"Eh, enak saja. Kau itu tidak pantas makan yang manis-manis seperti ini. Tidak cocok. Kau itu lebih cocok makan yang pedas-pedas seperti tadi, cocok denganmu yang hobi marah-marah. Belum lagi volume suaramu yang sangat kencang itu, mebuat telingaku sakit saja." Naruto mencoba mempertahankan jagung bakar itu dari jangkauan Tenten.

"Awas kau baka! Mengatai orang seenaknya.!" Tenten mulai berteriak-teriak.

Hinata yang melihat tingkah keduanya tertawa terbahak-bahak. "Sudah-sudah, kalian ini seperti anak kecil saja. Naruto-kun sebaiknya kau berikan saja jagung bakar itu pada Tenten-chan, kasihan dia." Hinata berusaha menengahi.

Naruto mengalah, diulurkannya jagung bakar itu pada Tenten, yang menerimanya dengan raut wajah penuh kemenangan. "Kalau bukan Hinata-chan yang menyuruhku memberikannya, tidak akan pernah aku berikan jagung bakar ini padamu. Meskipun kau meminta memohon-mohon." Naruto kembali menggoda Tenten.

Tenten menjulurkan lidahnya. "Terserah kau mau bilang apa, baka!" balasnya puas.

"Hinata, sudah selesai?" tiba-tiba Sasuke muncul didekat mereka.

Hinata agak terkejut. "Eh.. Ah ya, sudah selesai kok, kau sendiri bagaimana?"

Sasuke mengangguk. "Kita pulang sekarang?" Hinata mengangguk.

"Tenten-chan, Naruto-kun. Aku pulang duluan ya, Jaa.." pamitnya pada kedua temannya. Sasuke mengangguk kepada Tenten dan Naruto. Keduanya masih belum berkata-kata. Tenten masih belum tersadar dari keterkejutannya, apalagi Naruto.

Hinata diantar pulang oleh Sasuke-senpai? Tenten sampai lupa mengunyah jagung yang berada di mulutnya, sementara Naruto masih terbengong. Mungkinkah dia patah hati? Keduanya masih terkejut begitu melihat tangan Sasuke meraih tangan Hinata dan menggandengnya. Bahkan Hinata menyandarkan kepalanya di pundak Sasuke.

Ada apa dengan Hinata dan Sasuke-senpai? Mereka memandangi keduanya hingga berbelok di tempat parkir. Tenten menoleh, melirik Naruto yang berada disebelahnya. Naruto tertunduk, bahunya terkulai lemas.

Tenten tertawa terbahak-bahak, ditepuk-tepuknya pundak Naruto. "Santai saja! Bersainglah, masa kau kalah dengan Sasuke-senpai?" hiburnya. Setelah itu tawanya kembali berderai-derai.

TOS

"Sudah saja Sasuke-kun, tak perlu mengantarku masuk, aku membawa kunci rumah kok, tenang saja." Pinta Hinata pada Sasuke setibanya di depan rumah.

"Tak apa, lagipula aku merasa tidak enak dengan Kaa-sanmu. Setidaknya aku harus pamit." Ujar Sasuke bersikeras

"Benar, tidak apa-apa Sasuke-kun. Lagipula mungkin Kaa-san sudah tertidur. Nanti saja aku sampaikan pada Kaa-san." Tawar Hinata. "Lagipula kau kan harus segera pulang, sudah malam."

"Baiklah kalau begitu. Tapi aku akan menunggu disini sampai kau masuk kedalam rumah ya? Dan yang ini tidak bisa ditawar lagi."

"Baiklah baiklah. Ah ya, Terima kasih banyak Sasuke-kun, untuk segalanya." Ucap Hinata sambil tertunduk, wajahnya bersemu merah.

Sasuke tersenyum hangat, dirapikannya rambut Hinata yang sedikit berantakan dengan jemarinya. Ditariknya Hinata mendekat, diciumnya pelipis Hinata dengan lembut. "Oyasumi, Hime. Sampai jumpa besok." Diciumnya pipi putih Hinata sekilas, lalu dengan berat dilepaskannya pelukannya.

Hinata bergegas membuka pintu mobil dan keluar. Dirogohnya kantung ranselnya mencari kunci. Dia berbalik untuk membuka pintu gerbang, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia kembali menghampiri Sasuke yang menunggunya di dalam mobil. "Sasuke-kun, jaketmu?" katanya sambil berusaha melepaskan jaket yang membungkus tubuh mungilnya. Jaket besar itu seolah-olah membuatnya tenggelam.

Sasuke menggelengkan kepalanya. "Tidak usah sekarang, bawa saja dulu. Besok saja ku ambil." Ujar Sasuke.

Hinata mengurungkan niatnya untuk membuka jaket itu. "Sampai jumpa Sasuke-kun. Hati-hati di jalan. Jaa." Pesan Hinata sebelum meninggalkan Sasuke. Sasuke mengangguk.

Hinata membuka pintu gerbang dengan kunci yang dibawanya. Sebelum menghilang dibalik pintu, dia menoleh pada Sasuke yang setia menunggunya. Dilambaikan tangannya sambil tersenyum. Dia melihat Sasuke mambalas senyumannya dari balik kemudi.

Sambil mengendap-ngendap karena takut membuat Kaa-san terbangun, Hinata berjalan melewati ruang tamu. Sebuah suara 'klik' mengagetkannya. Lampu tiba-tiba menyala.

"Ehm..ehm baru pulang imoutou-chan?" Hanabi berdiri di hadapannya.

"Huh, nee-san mengagetkanku saja." Gerutu Hinata.

Hanabi tertawa. "Kau kaget karena kau sedang melamun kan?" kata Hanabi.

"Enak saja, memangnya siapa yang akan aku lamunkan? Nee-san saja yang tidak ada pekerjaan, untuk apa malam-malam mengagetkan orang?" tukas Hinata jengkel.

Hanabi tidak mempedulikan ucapan Hinata. "Hinata, kau pulang dengan siapa? Tidak diantarkan Sasuke-kun mu itu?"

Belum sempat Hinata menjawab, Hanabi membuka tirai ruang tamu dan mengintip keluar. "Siapa yang berada di luar itu Hinata?" Tanya Hanabi menyelidik.

"Oh, itu Sasuke-kun. Tadi aku diantar pulang olehnya. Tadinya ia ingin bertemu Kaa-san, namun kularang. Karena Kaa-san pasti sudah tertidur. Jadinya dia menungguiku sampai masuk ke dalam. Kalau aku sudah sampai di dalam rumah dengan selamat, setelah itu dia baru pulang." Jelas Hinata pada Hanabi.

Hanabi mengangguk-anggukan kepalanya. "Ah.. setia sekali ya… Hinata…" Hanabi menggodanya lagi.

"Sudahlah nee-san, aku sudah mengantuk." Hinata langsung pergi menuju kamarnya, wajahnya merah padam karena malu.

"Eh..Hinata tunggu, itu yang kau pakai jaketnya siapa? Setahuku kau tak pernah memiliki jaket seperti itu, lagipula jaket itu terlalu besar untukmu." Hanabi yang penasaran bertanya-tanya.

Hinata tidak menggubrisnya, ditutupnya pintu kamarnya rapat-rapat. Sebelum pintu tertutup, Hanabi sempat memperhatikan wajah Hinata yang bersemu merah. Hanabi tersenyum simpul. Dia tahu adiknya sedang jatuh cinta. Jika benar Hinata jatuh cinta pada Sasuke, dia berharap Sasuke tidak akan menyakiti Hinata.

TBC

Kertas Biru : Iya nih hehe gpp kan yah ? DI chap ini keungkap kok.. Ayo review lagiiii~

Demikooo : Ah iya dem, mksh mksh udah mau read hehe

sasuhina-caem : Tadinya sih mau ada adegan sasuhinasaso tapinya bingung-_- Thanks ya reviewnya=))

n : Udah nih

kakiko : Thankies udah mau ngetikkin

uciha athrun : Iya hehe makasih reviewnya

Merry-chan : Iya nih.. Gpp kan aku buat OOC?=))

uchihyuu nagisa : Ada hubungannya kok ntar hehe Makasih reviewnya=)

Animea Lover Ya-ha : Waaaa~ makasih bgt hehe kalo untuk chapter aku blm nentuin nih, bingung bgt-_-

Zoroutecchi : Utiiie~ Thankies reviewnya.. Iya nih tiie OOC, tapi gpp kan yah ?