Nooneul ddeugi jocha shilhussuh
soljighi midgiji anhassuh
majimak he uhjijan insaneun nasulgiman haneega
Tujineun hansooman jaggu baetuh
dooryuhwo gaseumee maejyuh
hanmadi yego ubshi ibyul gunnehneun nul uddugeh miduh
.
Begitu aku membuka mata,
Aku tidak suka itu ...
Sejujurnya ... aku tidak ingin percaya
Karena mengucapkan selamat tinggal selamanya
Hanya membuatmu merasa aneh ...
Aku terengah-engah
Aku takut hatiku telah berhenti
Bagaimana aku bisa percaya padamu,
Bila kamu mengakhiri hubungan kita tanpa peringatan?
(SHINee_LAST GIFT)
Present BY MermutCS
.
.
HARU
.
.
Happy reading Guys!
.
.
Previous chapter
"Berhenti mendekati Taemin karena dia milikku sekarang.", tegas Jonghyun memandang galak. " Dan Minho─ aku tak segan untuk menghajarmu bila kau menyentuh atau berada dalam jarak pandangan Taemin. Camkan itu!", Jonghyun dingin. Dia sudah berdiri tegak dan berbalik pergi.
" Jino- Ayo pergi!", ajaknya. Sekilas Jino memandang Minho kasihan. Membungkuk cepat pada Key dan Onew lalu mengekor hyungnya pergi.
.
.
Dalam mobil Jino mendadak panik plus khawatir. Pasalnya, Jonghyun yang duduk di jok belakang sedang dalam posisi meringkuk dan mengaduh kesakitan. Oh! Ternyata saudara sekaliyan. Luka yang diderita Jonghyun cukup parah. Aplaus for Minho! #digebuk fans Jonghyun.
" Aish, Hyung! You're the best actor. Tadi saja ga kesakitan kayak gitu, tapi sekarang- ckck", Jino menggeleng kepala takjub. " Kita hampir sampai rumah sakit. Tahan sebentar, Hyung!", lanjut Jino sambil menambah kecepatan laju mobil. Jonghyun hanya menggeram pasrah menahan nyeri dan perih sekujur tubuhnya.
Beberapa jam sepulang dari rumah sakit. Jino masuk kamar Jonghyun membawa sebaskom air dingin dan handuk. Mengompres luka di wajah hyungnya agar tidak bengkak besok pagi.
" A-auw, pelan-pelan Jino- Sakit!", rintih Jonghyun. Jino menyeringai evil.
" Salah sendiri. Aku tak habis pikir, kau ini benar-benar bodoh atau sangat idiot sekali hm?", celetuk Jino kurang ajar yang langsung mendapat bonus deathglare Jonghyun.
" YA! Sopan sama yang lebih tua. Ck, kau tak beda dengan keroro itu", sewot Jonghyun sambil merebut handuk di tangan Jino dan mengompres memar wajahnya sendiri. Sesekali dia meringis saat lukanya berdenyut nyeri.
" Tentu beda, hyung. Aku tidak mungkin memukulmu hingga seperti itu.", elak Jino memandang miris tubuh Jonghyun yang babakbelur.
" Cerewet! Diamlah, aku lelah.", lirih Jonghyun. Merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kedua matanya terpejam dengan tangan mengusap belakang kepala.
" Aa..Mm.. H-hyung?", panggil Jino ragu.
" Hm?"
" Apa kau benar berpacaran dengan Taemin?", tanya Jino sangat hati-hati.
.
Hening. Kesunyian menggantung seketika di langit-langit ruangan. Jino menelan ludah. Sepertinya dia menanyakan hal yang tidak tepat. Lama kedua orang ini saling membisu. Menunggu. Merasa hyungnya tak akan menjawab, Jino memutuskan keluar kamar. Saat tangan Jino meraih pegangan pintu.
Suara bass Jonghyun terdengar seperti berbisik, tapi Jino masih dapat mendengar jelas. " Ya, benar. Saat ini aku kekasihnya." Tarikan napas Jonghyun berat.
Jino berbalik antusias. " Benarkah? Lalu~"
" Tidak sekarang Jino. Aku lelah.", potong Jonghyun cepat. Jino merenggut tak suka. Tapi melihat hyungnya menarik selimut dan bergerak memunggungi. Jino mengalah, mungkin Hyungnya butuh waktu.
" Baiklah, hyung. Mianhe, selamat beristirahat!", Jino menutup pintu kamar Jonghyun rapat.
Di apartement Key mengobati luka Minho telaten. Minho diam acuh tak peduli. Onew duduk mengamati. Mengingat mereka belum makan malam. Tangannya meraih telepon dan menghubungi salah satu restoran delivery. Setelah beberapa saat tersambung, Onew memesan makanan untuknya dan Key. Dia menoleh ke arah Minho.
" Kau mau makan apa?", tawar Onew.
Minho menggeleng. " Aku tidak lapar."
" Ani. Kau sudah tidak makan kemarin. Kau juga tidak makan banyak beberapa hari ini. Berniat sakit eoh?", sindir Key setelah selesai membereskan kotak P3K. Minho menghiraukan. Key berdecak kesal.
" Pesan saja makanan yang sama denganmu.", perintah Key dibalas anggukan Onew.
" Makanannya sampai setengah jam lagi.", ucap Onew setelah menutup telepon.
.
Hening. Tak ada yang bersuara lagi setelah itu. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Televisi di ruang tengah dibiarkan menyala. Walau tak ada dari ketiganya yang focus menonton. Setidaknya riuh suara televise menandakan ada kehidupan.
" Minho", suara Key memanggil. Tapi, si empu nama tak merespon. Sibuk tenggelam alam pikir sendiri. Key memandang Onew penuh arti. Sejenak Onew menghela napas panjang menyadari maksud Key. Perlahan Onew mendekati Minho yang duduk di atas karpet. Tangan Onew menepuk bahu Minho agak keras. Membuat Minho tersentak kaget. Key tertawa kecil melihat reaksi Minho bak kucing yang disiram air.
" Aish, hyung!", seru Minho kesal. Onew nyengir kuda.
" Habisnya kamu melamun terus, bikin mood suram.", celetuk Onew tak lupa menjitak sayang kepala Minho.
" YA! Apa mau-mu, hyung?", bentak Minho tak suka. Suasana hatinya buruk. Dia sedang tak ingin bercanda ataupun diganggu. Namun dua manusia dihadapannya malah memaksa menginap di apartementnya.
" Wow─ Peace man!", Dua jari Onew membentuk huruf 'V' di depan muka. Key terkekeh di sofa. Minho mendengus kesal segera berdiri hendak pergi. Namun, lengan Onew sigap mencegahnya.
" Masih berupaya menyangkal diri, Minho-ah?", sindir Onew sarkartis. " Hari ini satu bukti lagi bahwa Taemin jelas meninggalkanmu.", suara Onew datar. Tubuh Minho bergeming. " Ini sudah dua minggu sejak kalian putus. Selama itu pula tak ada komunikasi terjalin."
" SHUT UP!", teriak Minho keras.
" All in vain! Kau hanya menambah pedih di hati mu, Minho!", lanjut Onew tanpa takut.
" DIAM!", Maki Minho marah. " Aku mau ke rumah Taemin."
" Untuk apa? Sadarlah─ rumah itu sudah kosong bahkan sebelum kalian putus."
Minho mengacuhkan Onew dan sibuk mengutak-atik ponsel yang sedari tadi digengamnya.
" Percuma! Nomor itu mati. Mungkin Taemin sengaja menganti nomornya.", Onew tak menyerah menjelaskan. Dengan satu sentakan keras Minho, Onew jatuh tersungkur di atas karpet. Tangan Minho terkepal dan hendak menghajar.
" MINHO─ JANGAN!", Cegah Key cepat. Gerakan Minho terhenti.
" Berhenti menjadi pengecut, Minho! Semua yang dikatakan Onew benar. Jangan siksa dirimu lagi─ Lepaskan Taemin!", tambah Key sendu.
Minho tertegun. Tangannya mengusap bagian belakang kepala, meremas surai hitam dengan jemarinya. Tatapan Minho berubah kosong. Tubuh jangkung itu gemetaran.
" Minho…", tangan Key merengkuh Minho dalam pelukan, berusaha menenangkan. "Sst, uljima Minho…Uljima!", Key membelai punggung Minho sayang.
Tubuh dalam pelukanya terguncang. Air matanya tumpah, melihat Minho yang terpuruk. Onew memalingkan muka, kedua matanya nanar. Entah mengapa hatinya ikut merasa sakit.
Tiba-tiba Minho mendorong tubuh Key. Melepaskan pelukan dan berlari menuju kamarnya. BLAM! Pintu kamar terdengar dibanting.
Key mendesah berat. Onew memeluk tubuh Key dari belakang. Menyandarkan kepalanya diperpotongan leher dan bahu Key. "Dia butuh waktu sendiri." Lalu keduanya tenggelam dalam ciuman panjang.
I don't know why I can't move on
Balgeoreumi ddeoleojijil anha
Geojitmal gata oneul haruga
Gaseum hanjjogi apawa
Neoege ggiwojun banjiga
Nae sone chagapke dorawa
Nae maeumdo gati doryeobadeun
Majimak seonmul- Ibyeoringeol
.
My feet won't move
It feels unreal today
One side of my heart aches
The ring I placed on your finger
Returns to my hand cold
I received my heart back in return
My LAST GIFT
Is this separation…
Taemin berlari kecil menelusuri lorong koridor kelas. Langkah kakinya terburu-buru. Wajah cantik itu agak pucat. Buliran keringat meluncur dari pelipisnya. Taemin menggerutu dalam hati. Dosen perpajakan pagi ini dengan seenaknya menambah jam kuliahnya hingga sore hari.
" Gezz! Tak tahukah beliau, kalau semua materi pajak itu terpental keluar dari otakku?", Taemin mengerucutkan bibir plumnya− imut.
.
Hentakan kakinya berhenti saat mencapai pelataran parkir kampus. Mata hitam jernihnya menangkap sosok namja yang sangat dikenalnya. Namja itu berdiri menyandar pada pintu mobil Volvo putih. Raut muka si namja tampak cemas. Sesekali, matanya menatap waspada arloji swiss di tangan. Taemin segera menghampiri namja tersebut.
" Mianhe, Jonghyun hyung! Menunggu lam─" Mata Taemin mendelik kaget. " Omoo~ hyung, kenapa dengan wajahmu?", pekik Taemin histeris. Jemari tangan Taemin menyentuh pipi Jonghyun yang biru pelan. Wajah cantik itu nampak khawatir dengan mata hitam yang berkaca-kaca.
Jonghyun menutup mata merasakan sentuhan lembut di wajahnya. Dia bisa menebak reaksi berlebihan sosok kekasih di depannya. Bukan─ Dia hanya kekasih pura-pura. Nyut! Dada Jonghyun ngilu, mengingat statusnya.
Jonghyun menghentikan gerak tangan Taemin dan menggengam erat. Hu-h, kau sudah terlanjur egois, Jonghyun. Nikmati saja! Kata Jonghyun pada dirinya sendiri. Tangannya yang satu membuka pintu mobil dan mendorong Taemin segera masuk. Taemin yang bingung tak sempat menolak.
" Kau masih ingat aturannya, hm?", tanya Jonghyun dingin, setelah masuk dalam mobil. Taemin mengangguk kikuk. " Lalu, bisa jelaskan kenapa kau terlambat hingga berjam-jam? Aku hampir mati cemas. Ketika dokter menghubungiku karena kau tak kunjung kembali.", bentak Jonghyun tanpa sadar. " M-mian..", bisik Taemin, kepalanya menunduk takut dan bersalah. Jari-jari lentik itu memainkan ujung kaos.
Jonghyun tersadar dengan nada bicaranya tadi, segera menghadap Taemin. " M-maaf, aku tak bermaksud membentakmu tadi. A-aku hanya khawatir."
Taemin menggeleng pelan. Kepalanya masih tertunduk. " Ani, hyung. Aku yang salah sudah membuatmu cemas. Padahal hyung sudah berbaik hati mau membantuku bersandiwara hingga terluka begitu. A-aku benar-benar tak berguna. Selalu merepotkan, maaf-hiks..", sesal Taemin. Tangisnya pecah begitu saja. Perasaan bersalah dan tak berguna menyeruak begitu saja.
" Taemin-ah…"
" Maaf, gara-gara tubuh lemah dan penyakitan ini, kau jadi repot..hiks.. Cukup, Jonghyun hyung-hiks… Kau tak perlu menjagaku…"
Tangan Jonghyun terulur menyentuh dagu Taemin. Membuat Taemin mendongak menatapnya. Aliran air mata masih setia membasahi pipi cubby itu. Jonghyun memandang intens.
" Aku tak merasa repot. Aku yang ingin menjagamu.", suara Jonghyun terdengar yakin sekaligus lembut.
Jonghyun mendekatkan tubuhnya. Mengeleminasi jarak keduanya. Bibir jonghyun menempel di bibir plum Taemin. Menjilat permukaan bibir manis itu. Mata Taemin terbelalak. Jonghyun menghisap bibir bawah Taemin, lidahnya menelusup masuk saat Taemin melengguh pelan. Mata Taemin terpejam mencoba menikmati. Lelehan air matanya semakin deras. Perasaan bersalah itu lagi, dan diikuti rasa sakit menyelimuti dadanya.
.
BRAAKK! Suara bumper mobil dipukul keras seseorang, membuat ciuman panas itu terhenti. Minho berdiri memandang mereka penuh amarah. Ekspresi wajahnya sangat terluka dan kecewa. Mata elangnya berkaca-kaca.
.
" Apa yang kalian lakukan?", teriak Minho murka. Jonghyun balas tersenyum remeh, sedangkan Taemin menyembunyikan wajahnya di dada Jonghyun takut. Jonghyun melingkarkan tangannya memeluk Taemin bermaksud menenangkan.
" Justru apa yang kau lakukan? Cih, mengganggu!", celetuk Jonghyun keras agar Minho mendengar.
Onew dan Key yang tadi diam menonton dalam mobil. Langsung menyusul Minho, sebelum pemuda patah hati itu bertindak anarkis.
" Minho, sudahlah!", cegah Key menarik lengan Minho menjauh.
" Lepas─ Key!", tolak Minho kasar. Onew segera menyeret paksa tubuh Minho menjauh. Tapi Minho memberontak.
" LEPASKAN! Biarku hajar pemuda brengsek itu!"
.
Plak! Key menampar pipi Minho keras.
.
" BERHENTI BERSIKAP MENYEDIHKAN MINHO! Apa kau buta hah? Lihat ciuman barusan? Taemin bahagia dengan Jonghyun. Kalau kau memang mencintainya, seharusnya kau merelakan dia bahagia dengan orang yang dicintainya. Cinta tak harus memiliki Minho.", jelas Key miris.
Key tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya barusan. Omoo─ Key sendiri sebenarnya tak rela hubungan Minho dan Taemin kandas seperti ini. Mereka hampir bertunangan dan cincin emas itu merupakan bentuk janji mereka. Key memandang sedih menyadari cincin emas itu sudah tak berada di jari manis taemin.
.
Minho berhenti memberontak. Tubuhnya melemas seketika. Ucapan Key barusan menamparnya telak. Bagai jutaan pisau tajam menusuk tubuhnya bersamaan. Sakit. Sakit. Dan Sakit. Tak terlukiskan bagaimana terlukanya perasaan Minho saat kesadaraan pikirnya kembali. Taemin yang sangat dicintainya telah meninggalkannya. Terlebih, Taemin memilih pria lain dan bukan dirinya.
.
Minho meremas surai rambutnya kuat-kuat. Kepalanya pening. TIDAK! Air matanya sudah jatuh. Mata Minho menemukan obyek itu lagi. Taemin yang berpelukan dengan Jonghyun. Kepala Minho menggeleng berulang kali. TIDAK- TAEMINNYA PERGI. SEMUANYA BERAKHIR!
Minho berbalik dan mulai berlari menjauh dari sana. Dia harus pergi. Sejauh dan secepat dia bisa. Tak peduli arah, kemanapun jauh dari sosok orang yang menjadi separuh hidupnya. Sebelum otak sehatnya hilang. Dia tidak ingin kembali kesana dan merebut paksa Taemin.
Membawa pemuda munggil nan cantik itu pergi. Lalu, mengurungnya hingga tak ada seorang pun selain dirinya yang bisa memilikinya. Tak peduli Taemin terluka, suka atau tidak. Hanya Taemin dan dia seorang. Over Posessive eoh?
Minho mengguatkan hatinya. Cintanya tak boleh kalah dengan ego. Taemin bahagia, ingat itu Choi Minho. Walau bukan dirimu, tapi dia bahagia. Minho jatuh terduduk─ tersungkur di atas tanah. Dia berteriak sejadi-jadinya. Menangis pilu. Hati hancur berkeping-keping. Separuh napasnya pergi.
Tengah malam di salah satu rumah sakit ternama korea. Taemin duduk sendiri meringkuk diatas ranjang. Matanya sembab karena tak berhenti menangis. Hidungnya memerah disertai lelehan ingus. Suara tangisnya takkan terdengar keluar karena ruang perawatannya adalah kelas VVIP.
" Mian-Mianhe, Minho hyung…hik..hiks, Jeongmal Mianhe! hiks… Kau harus membenciku..hiks…melupakanku. Kau pantas dapat yang lebih baik dari ku, hyung… Kau harus bahagia Minho hyung, saranghae hiks…", Taemin bicara sendiri.
" Uhuk-uhuk…Aargh!", erang Taemin tiba-tiba. Kepalanya berdenyut-denyut hebat. Tangan munggilnya bergetar memegang kepala. Pelan-pelan dia merebahkan tubuhnya yang mendadak lemas. " Uh.." Pengelihatan Taemin mengabur, bukan karena air mata.
" Ugh- Appo..hyung! hiks.." Taemin mencengkram kuat seprai di ranjangnya. Matanya terpejam. " Sa-sakit Minho..hyung!", rengek Taemin kesakitan. " Huoeek!", Taemin terpaksa mendudukkan tubuhnnya menyamping- walau kepalanya terasa hampir pecah dan memuntahkan seluruh isi perutnya ke lantai kamar. Perasaan mual yang sangat mendera perutnya. Refleks, Taemin menekan tombol darurat pertolongan, tak jauh dari jangkauan tangannya. Memencet tombol itu berulang-ulang berharap ada suster penjaga atau dokter segera menolongnya. Beberapa detik kemudian, dunia Taemin berubah seluruhnya menjadi gelap.
Eonje buteo eokeutnan geonji
Eodi buteo jalmotdeoin geonji
Nae maeumi neoreul nohji anha
Jeongmal kkeutinji
Ibyeoril geol
Nan suibji anha nae insacheoreom
nae maeumi nae mamcheoreom dweijil anha
neol ijeulyeo dajimeul
doghage haebwa yagettji
jal gyeondil su ittge
.
Kemarin saat pikiran mulai salah?
Dimana letak kesalahan itu sebenarnya?
Hatiku tidak bisa membiarkan kau pergi ...
Apakah itu benar-benar berakhir?
Ini tidak mudah bagiku, seperti salam perpisahan
Hatiku tidak akan pantas mengontrol pikiranku
Aku kira aku harus membuat keputusan yang tak tentu untuk melupakanmu
Jadi aku dapat bertahan dengan semua itu
Tubuh Minho merosot jatuh ke lantai kamar mandi. Suasana kamar mandinya berantakan bak kapal pecah. Tak berbeda dengan suasana dalam apartementnya. Pecahan cermin tersebar di lantai. Shower air dibiarkan mengalir. Perlengkapan mandi pun sudah berserakan. Tangan kanannya sobek, bercak darah terciprat kemana-mana. Minho menopang kepalanya frustasi. Bulir-bulir air menetes dari rambutnya yang basah. Tubuhnya menggigil kedinginan, karena seharian di bawah guyuran air shower.
" Taemin… Nae chagiya, waeyo? Saranghae… Minnie! Jeongmal bogoshipo…",
Air mata Minho turun kembali. Entah sudah berapakali dia menangis. Sosoknya yang arogan dan kuat menghilang begitu saja. Hasratnya hidup memudar.
.
.
TBC
Yups! Bersambung dulu yah? Ntar kepanjangan kalo baca,
Keriting ntar mata chingu semua
hehhehe #Plak! ga sopan.
Mianhe.. buat translate lagunya, aku searching mbah google, kalo chap ini mending sambil denger lagunya SHINee- Last Gift
biar dapet feelnya.
.
Berkenan tinggalkan jejak?
MermutCS
