Present by MermutCS

.

.

HARU

.

.

Last Chapter

(backsong Haru-Bigbang)

.

HAPPY READING GUYS!


.

Di Cafetaria kampus

.

" Aku tak bisa terus melihat Minho bertingkah seperti orang yang mau mati. Apa perlu kita kirim dia kembali menyusul orang tuanya di luar negeri?", tanya Key sambil mengerucutkan bibirnya. Onew mendesah berat, lalu menoleh pada namjachigu di sebelahnya. " Aku tidak tak tahu."

" Huh, aku akan membawa dia ke psikiater pulang kuliah nanti. Kau ikut?", tanya Key lagi. Onew menggeleng cepat.

" Aku tak bisa. Ada sesuatu yang harus kukerjakan.", selesai bicara begitu Onew pergi meninggalkan Key sendiri di kafetaria kampus.

" YA! Lee Jinki─", pekik Key marah. Namun bayang Onew sudah menghilang dari pandangannya.

" Dia itu kenapa sih?", Key heran.


.

Jonghyun dan Taemin melangkah bersama menuju gedung tata usaha. Taemin berniat mengajukan cuti semester untuk pengobatan penyakitnya.

" Kau yakin mau melakukan ini?", tanya Jonghyun ragu. Raut muka Jonghyun was-was. Taemin mengangguk yakin. " Kemungkinan berhasil hanya 30persen, Taemin. Entahlah aku tak─"

" Jonghyun Hyung!", sergah Taemin cepat. " Aku akan baik-baik saja. Lagi pula, mengikuti terapi pun tak ada bedanya, kemungkin sembuh juga kecil.", jelas Taemin berusaha menenangkan namja yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.

" Resikonya terlalu besar. Kau bisa saja…", Jonghyun tak meneruskan kalimatnya. Matanya menerawang kedepan.

" Meninggal. Aku tahu itu. Cepat atau lambat semua makhluk hidup akan mati. Hanya berbeda-beda waktunya.", lanjut Taemin santai.

" Tapi tidak begini.", Jonghyun lirih, masih tak setuju dengan keputusan Taemin.

.

" EHEM─ Boleh menganggu sebentar?", sebuah suara menginterupsi pembicaraan Jonghyun dan Taemin. Mata Taemin membulat lebar mengenal siapa yang berdiri dihadapan mereka. Tangan munggilnya mencengkram lengan baju Jonghyun gugup.

" Ada apa, Lee Jinki? Tak lihat kami sibuk? Pergilah!", tolak Jonghyun ketus. Namun, dua orang dihadapannya tak mengubris. Taemin semakin mengeratkan pegangan mendapati pandangan menginterogasi mereka.

" Tidak─ sebelum kita bicara.", bantah Lee Jinki aka Onew keukuh. Jonghyun beranjak berdiri diikuti Taemin.

" Baiklah! Terserah kalian bila tetap ingin bicara, tapi kami harus pergi.", Tangan kanan Jonghyun menggandeng Taemin.

" Tunggu─ Apa yang kalian sembunyikan eoh?" Tangan Onew menahan depan tubuh Jonghyun melangkah lebih jauh.

" Ck, apa maksudmu?" tanya Jonghyun balik dengan tampang gusar. Oh- Jonghyun tidak bodoh. Dia mengerti maksud pertanyaan Onew tadi. Taemin yang berlindung dibalik punggungnya mulai gemetar. Jonghyun berdecih.

" Apa kalian benar berpacaran?", kali ini suara Key terdengar.

" Bukankah sudah dijelaskan kalau─"

" Aku tak mau kau yang menjawab Dino!", sela Key cepat. Jonghyun tersigap. " Kau jelas sekali melindunginya dari sesuatu." Key berusah mengapai tubuh Taemin dibalik punggung Jonghyun. Tentu, Jonghyung menghalanginya.

" Oh ya? Melindungi dari apa?", Jonghyun pura-pura bodoh. Key memutar bola matanya gemas. Jemarinya bergerak memberi isyarat Onew untuk maju. Suasana mendadak semakin tegang dan menekan.

" Mau apa?", tantang Jonghyung melihat Onew hendak menarik Taemin kasar.

" Bukankah ini aneh, Jonghyung? Aktivitas pacaran kalian monoton sekali. Kampus, lalu rumah sakit dan beberapa café sekitarnya. Waktunya pun jarang berubah. Dokter yang kalian temui pun juga sama.", Onew berargumentasi. " Ada apa? Kau tak mungkin sedang sakit kan, Jonghyun? Karna kulihat kau sehat-sehat saja." Onew menatap Jonghyun tajam.

" Bukan urusanmu.", balas Jonghyun dingin. Berusaha bersikap tenang. Padahal dalam hati sudah panic tak karuan. Sial! Jadi dia yang mengikuti aku beberapa hari ini, runtuk Jonghyun dalam hati.

" Taemin, kau tahu obat dari apotek itu untuk siapa?"

" Ha-h? A-ah… i-itu… untuk…" Taemin bingung harus menjawab. Ekor matanya bergerak kanan-kiri gelisah. Wajah cantiknya mulai pucat.

" Bisa minggir sedikit, Jonghyun? Aku tak bisa melihat bahkan mendengar suara Taemin dengan jelas.", pinta Onew sopan. Jonghyun diam mengacuhkan. Malah membalas dengan tatapan tajam.

.

Onew menyeringai melihat aksi protektif Jonghyun. Maka dalam satu tarikan tangan kanannya, Jonghyun sudah berdiri berjingkat karena kerah kaosnya dicengkram kasar. Keduanya saling melempar tatapan mengitimidasi.

" Kalau cara biasa tidak mempan. Mungkin cara kasar bisa?" Tangan Onew bersiap mengepalkan tinju. Taemin yang panic, langsung merengsek maju didepan Jonghyun.

" STOP!", teriakan Taemin memecah ketegangan. " Well, A-aku akan katakan yang sebenarnya pada kalian. Tapi ada syaratnya?" nada bicara Taemin serius dan mengancam.

Onew tersenyum kemenangan. Melepaskan cengkraman pada Jonghyun. " Syarat apa?"

" Jangan ceritakan ini pada Minho apapun yang terjadi!"

Hening. Onew dan Key kaget mendengar syarat Taemin. Kedua saling berpandangan sebentar, lalu menatap Jonghyun seolah minta pertimbangan. Jonghyun hanya mengangguk kecil. Well, sebenarnya dia tahu Onew tak akan sungguh-sungguh memukulnya.

" Oke. Aku janji.", ujar Onew akhirnya.

" Aku juga.", timpal Key.

Lalu Taemin mulai bercerita alasan dia meninggalkan Minho dan penyakitnya. Onew dan key membisu seribu kata. Penjelasan Taemin menjawab semua keganjilan. Jonghyun memalingkan muka tiap kali Taemin menangis.


.

Jonghyun menyodorkan sebungkus rokok pada Onew dan Key. Onew melongok mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Dihisap batang rokok itu dalam-dalam. Jonghyun dan Key melakukan hal yang sama. Mereka bertiga duduk bersama di cafeteria rumah sakit.

" Taemin di mana?", tanya Key pada Jonghyun.

" Istirahat dalam kamar pasien. Besok hari yang berat untuknya.", jawab Jonghyun dengan tatapan menerawang jauh.

" Bagaimana kalau operasi itu gagal? Kemungkinannya hanya 30 persen.", Onew bangkit berdiri. Raut mukanya cemas.

" Aku juga berpikir begitu awalnya. Tapi kau tau apa kata Taemin?"

Onew dan Key memilih diam mendengarkan dengan seksama.

" Bagiku tak masalah hanya 30 persen itu adalah kesempatan untuk aku hidup. Makanya aku akan berjuang. Manusia akan mati bila saatnya tiba.", Jonghyun menutup mata lelah. " Dia jadi lebih tegar."

Onew dan Key terperangah.

" Seharusnya kau mengatakan lebih awal masalah ini. Bukankah kita teman?", Key angkat bicara.

" I'm going to say it, but I haven't choice. Aku tidak tega mengkhianati kepercayaannya hingga dia bertambah susah nantinya."

" Tapi Jonghyun, Minho perlu mengetahui hal ini. Mereka saling mencintai.", saran Key. Hati Jonghyun mencelos. Sakit.

" Benar. Minho harus tahu, bisa saja hal yang tidak diinginkan terjadi.", Onew menimpali setuju.

Jonghyun menghela napas berat. Kepalanya bersadar pada bantalan kursi. " Entahlah, aku tidak ikut campur. Tapi─ aku akan diam, pura-pura tidak tahu."


.

Key melempar ponselnya kesal. Untung, tidak jadi hancur berkeping-keping karena Onew menangkap ponselnya saat kebetulan berdiri di ambang pintu.

" Ponsel Minho mati. Mailbox terus daritadi telepon apartementnya.", gerutu Key.

" Aku tadi juga sempat mencari di beberapa tempat yang sering dia datangi dan bertanya pada teman-temannya, namun hasilnya juga nihil.", Onew melongok arloji di tangan kanannya.

" Dasar BABO! Pergi kemana si Keroro itu?", pekik Key frustasi.

Onew mengedikan bahu tidak tahu. " Jam berapa operasinya?", tanya Onew mengalihkan.

" Jonghyun bilang pukul 10 pagi ini.", balas Key singkat.

" Ayo, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang menyusul Jonghyun. Ini sudah jam 8 pagi. Aku tak ingin Taemin merasa sendirian di sana.", ajak Onew bergegas. Key mengangguk diambil kunci motor lalu meleparkan pada Onew yang sigap menangkap. Tak lupa membawa jaket pink di balik pintu kamar.

" Aku sudah meninggalkan banyak pesan, semoga dia cepat kembali.", harap Key.


.

Minho duduk melamun di depan danau. Udara segar pagi hari diselingi kicauan burung-burung kecil membuat suasana hatinya tentram. Ini tempat favoritnya dulu bersama Taemin. Ketika terakhir kali datang ke sini saat ulang tahun Taemin. Minho memberikan hadiah sepasang cincin emas terukir nama mereka. Senyum Minho miris memandang jemari tangan kirinya. Desah napasnya berat. Memori itu kembali berputar di benaknya.

.

Flashback

" Wah- cantik sekali! Gomawo, Minho Hyung.", seru Taemin senang. Dikenakan cincin itu langsung di jari tengah. Minho juga mengunakannya. Mereka berfoto bersama sambil memamerkan cincin itu.

" Cincin ini berarti komitmen aku yang benar-benar mencintaimu, Minnie. Saranghae! Aku hanya mau menikah sama kamu dan hidup sama kamu sampai tua nanti. Aku janji akan menjadikan mu orang paling bahagia sedunia.", sumpah Minho serius dan mantap. Taemin tersenyum malu. Pipinya merona merah.

" N-ne, aku setuju. Asalkan Minho hyung janji akan setia sampai salah satu dari kita masing-masing tak bernapas kembali?", Taemin mengacungkan kelingking jarinya.

" Aku janji.", Minho mengkaitkan jari kelingkingnya. Keduanya saling tertawa bahagia.

.

Byur! Cepluk! Suara batu-batu kecil dilempar masuk ke dalam danau. Minho kembali tersadar dari lamunan. Minho menatap hamparan air danau yang berkilauan terkena cahaya matahari.

" Aku harus merelakannya bahagia…", aku Minho pasrah.

Tangan Minho merogoh saku celana. Dihidupkan lagi handphone yang dimatikan selama tiga hari ini. Kotak pesannya penuh. Minho mencoba melihat salah satu sms di awal. Pesan dari Key.

.

Taemin akan operasi hari ini pukul 10.00 di rumah sakit pusat Seoul. Kemungkinan berhasil tipis. Kau harus datang.

.

Deg! Jatung Minho serasa copot. Napasnya terhenti. Dengan cepat jari-jari tangannya membuka pesan yang lain. Berharap pesan itu bohong atau palsu. Nihil. Kebanyakan sms berisi sama Taemin sakit dan akan segera di operasi, sisanya bertanya sedang dimana dia. Pikiran Minho mendadak kacau balau. Bingung harus melakukan apa?

Minho memencet tombol call pada Key. Ditunggunya tidak sabar telepon segera diangkat oleh Key.

.

" YA─ Key! Pesanmu bohong kan?"

" MINHO! Kamu dimana?"

.

Teriak mereka berbarengan. Keduanya panik. Key langsung menjelaskan secara singkat apa yang terjadi sebenarnya. Air mata Minho tanpa sadar meleleh. Segera dia bangkit berdiri dan berlari tunggang langgang mencari tumpangan. Dalam hati dia mengutuk diri karena mengunakan angkutan umum untuk pergi ke danau kota.

Minho terus berlari sampai napasnya memburu hebat. Namun, kebanyakan bus atau taxi terjebak macet dijalanan. Minho semakin gelisah dan sangat gundah. Penampilannya sudah acak-acakan. Segunung rasa menyesal langsung menguburnya. Nekat! Minho menghentikan secara paksa pengguna sepeda di jalan dan mengunakannya menuju rumah sakit. Otaknya berpikir keras mengingat jalan-jalan tercepat.


" Aku akan berada di sini sampai kamu sembuh. Jadi, bersemangatlah dan jangan takut!", ucapan Jonghyun membuat Taemin terharu. Tangan Jonghyun membelai lembut kepala Taemin yang mengunakan penutup kepala.

" Kita juga bakal disini menunggu kamu", Key menambahkan.

Onew mengangguk mengiyakan. " Pasti berhasil!" Tangan Onew terkepal menyemangati.

Air mata Taemin perlahan mengalir senang sekaligus sedih. " semuanya terima kasih."

Key mendekap Taemin erat, begitu pula Onew. Jonghyun tidak. Dia hanya menatap sayu mereka saling berpelukan.

" Tuan Lee Taemin, sudah waktunya. Anda sudah siap?", suster datang menjemput Taemin.

" Tentu, suster.", Taemin tersenyum paksa. Meninggalkan ketiga sahabat terbaiknya memasuki ruang operasi.

.

Taemin mengambil napas dalam-dalam. Dipejamkan kedua matanya mengenang wajah tersenyum Minho. Aku senang walau sebentar aku bisa disamping mu. I never regret to love you. Aku harap kau menemukan cinta lain yang lebih indah. Terima kasih dan selamat tinggal.


Minho tiba di rumah sakit dan segera menuju ruang operasi Taemin. Tubuh Minho basah kuyup keringat. Matanya sembab karena menangis dalam perjalanan kemari. Kaki Minho segera menuju lift ke lantai dua rumah sakit. Tak lama pintu lift terbuka dan Minho menemukan sosok Jonghyun yang berdiri menunggu di ujung koridor.

Mata mereka saling bertemu, namun Minho menghiraukan. Ia masih mengingat apa yang dilakukan Jonghyun di belakangnya. Arah mereka berlawan, Jonghyun menghampiri Minho. Tangannya segera mencekal lengan Minho yang hendak melewatinya. Minho berhenti berjalan, ia menatap Jonghyun dingin. Apa lagi maunya ! batin Minho mulai marah. Tiba-tiba Jonghyun mengeluarkan sesuatu dari tangannya. Ia menyerahkan cincin yang dititipkan Taemin pada tangan Minho. Minho menatap Jonghyun bingung. Dia butuh penjelasan konkret.

" Maaf- sudah berbohong. Taemin benar-benar sangat mencintaimu."

Sebaris kalimat singkat Jonghyun yang terucap membuat tubuh Minho langsung roboh. Kakinya lemas. Minho mengusap muka. Bahunya terguncang menahan tangis. Air matanya kembali menetes.

" Minho-ah…"

Minho menggeleng cepat. Dia menguatkan hatinya. Minho harus menemui Taemin dan menyatakan perasaannya sebenarnya. Dia tak keberatan Taemin yang sakit-sakitan berada di sampingnya.

.

Minho kembali melangkah cepat menuju ruang operasi. Key dan Onew sudah berada di sana, menunggu Taemin keluar dari ruang operasi dan berdoa untuk secercah keajaiban agar Taemin bisa sehat kembali. Minho mengedor pintu operasi dan memanggil-manggil nama kekasihnya, Lee Taemin. Terlambat. Minho sangat putus asa. Jejak air mata masih setia mengalir. Tubuhnya terasa lunglai tak bertenaga. Kesedihan yang sangat terpancar jelas dari kedua matanya.

Onew menangkap tubuh Minho yang akan terjatuh ke lantai. Merangkulnya dan mencoba menenangkan.

" Sabar, Minho. Lebih baik kamu tenang dan berdoa untuknya. Semoga operasinya sukses. ", harap Key sambil mengelus punggung Minho pelan.

" Aku terlambat! Benar-benar terlambat. Kenapa harus seperti ini ? Aku benar-benar egois tak pernah memikirkan kemungkinan Taemin sakit. Aku menyesal, aku menyesal tidak bisa mencegahnya pergi dariku. ", oceh Minho kalut.

.

Matanya menatap was-was pintu operasi terbuka. Begitu pula para sahabatnya. Jonghyun memilih menunggu di ujung koridor ruangan. Menenangkan perasaan yang terus cemas.

.

Beberapa jam kemudian lampu ruang operasi mati. Tanda bahwa operasi telah selesai. Minho langsung beranjak berdiri. Para dokter itu keluar dengan wajah sulit diartikan. Semuanya menunggu dokter memberikan jawaban yang menyenangkan mereka.

" Maaf… Operasi gagal. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun semua kehendak berada di tangan-Nya. ", jelas Dokter diplomatis.

.

Semuanya tercengang. Tangis mereka semua pecah. Key menangis dalam pelukan Onew. Jonghyun terduduk lemas dilantai. Minho-lah yang merasa paling kehilangan orang yang dicintainya. Dia memandang kosong. Tak terhitung berapa banyak air matanya mengalir.

" Andwae… TIDAK! Minnie-ku… tak boleh pergi. Shireo…hiks", pekik Minho seperti orang gila. Dia menghampiri tubuh kaku Taemin yang akan dipindah suster di sana. Jemari Minho menelusuri wajah Taemin penuh kasih sayang.

Mata hitam bening itu tertutup selamanya. Senyum menggoda dari bibir plum itu tak akan nampak lagi. Wajah cantik itu kini putih pucat. Tubuh munggil itu membeku. Tak ada lagi gerakan lincah tarian tercipta.

Bibir Minho bergetar, mengecup tiap inci muka cantik nan pucat kekasihnya. Memeluknya erat terakhir kali. Samar-samar, Minho bisa menghirup aroma vanila kekasihnya di antara wangi obat-obatan. Mata Minho terpejam. Bibirnya menempel di telinga Taemin. Napasnya berat. Biasanya, Taemin akan marah bila dia melakukan hal ini. Telinga Taemin begitu sensitive. Tangis Minho semakin pilu, menyadari tak gerakan atau makian untuk dirinya.

" Oh, I cry-cry. You're my all, say goodbye. Oh my love, don't lie. You're my heart, say goodbye… ", senandung Minho lirih mengantar kepergiaan kekasihnya.

.

.

END

.

Akhirnya selesai juga FF HARU ini!

^0^ BANZAI!

.

Jangan timpuk saya karena walau saya bilang ini FF main cast 2MIn tapi moment mereka dikit banget.

Maka dari itu saya berniat membuat SIDE STORY waktu awal ketemu sampe hari janji mereka.

tapi itu juga tergantung banyak Re-view chingu sekaliyan!

.

Makasih yang udah berkenan membaca dan meninggalkan jejak!

LOVE YOU ALL

.

SIGN

MermutCS