Disclamer: Kuroshitsuji belongs to Yana Toboso

Warning: AU, OOC, Shounen-ai, Teacher x Student Relantionship

Based on Starry Sky in Autumn by honeybee


Being Loved By Teachers


Pagi hari yang tampak tenang, Ciel melangkahkan kakinya menuju ruang kesehatan. Dia melihat Claude yang hanya berbaring di ranjang pasien. Ciel hanya menghela nafas, Claude selalu seperti itu jika sedang tidak ada pekerjaan di ruang kesehatan ini. Ia mendekati jendela dan membuka tirainya.

"Hmm, kau datang?" tanya Claude dengan suara pelan.

"Iya. Kemarin anda menyuruh saya untuk membantu kan?" ujar Ciel memastikan. "Dan lagi, anda jangan sering tidur."

"Iya, iya. Berkatmu, tidur indahku sedikit terusak,"

Ciel sedikit tersindir saat Claude mengatakan hal itu, tapi ia hanya bisa diam. Ia melihat Claude yang bangun dari ranjang pasien dan menuju meja kerjanya yang penuh dengan berbagai macam dokumen yang entah apa isinya itu.

"Mr. Fautus, anda akan mulai bekerja kan?" tanya Ciel.

"Aku bekerja sesukaku. Sebenarnya aku malas. Huam~" ujar Claude yang sedikit menguap karena ia masih mengantuk.

"Anda orang dewasa. Seharusnya melakukan tugas dengan baik."

"Tapi aku bukan orang dewasa yang baik,"

"Eh?"

"Ah, bukan apa-apa. Bisa kau buatkan aku teh?"

"Baik."

Ciel mulai membuat teh, ia sering membuatkan Claude teh. Memang teh yang Ciel buat tidak seenak yang diracik oleh para ahli teh, tapi teh buatan Ciel terasa enak tentu saja bagi Ciel. Tapi tidak bagi Claude, Claude selalu mengatakan teh buatan Ciel itu tidak enak rasanya. Meski tidak enak, tapi ia suka meminum teh buatan Ciel itu.

"Ini. Silahkan," ujar Ciel yang menaruh secangkir teh di dekat meja.

"Terima kasih," ujar Claude yang mengambil cangkir teh dan mulai meminumnya. "Hmm, teh yang tidak enak ini akhirnya membuatku benar-benar terbangun."

"Anda selalu bilang seperti itu!" keluh Ciel.

"Ahaha... Maaf Phantomhive,"

Claude kembali meminum tehnya itu, sedangkan Ciel mulai membereskan beberapa dokumen milik Claude. Suasana di ruang kesehatan terasa sepi dan damai. Tapi tidak ketika ruang kesehatan didatangi oleh seseorang yang menjengkelkan bagi Ciel.

"Clau, kau ada?" terdengar suara Sebastian dan ia memperhatikan Claude dan Ciel yang berada di ruang kesehatan, hanya berdua.

"Mr. Michaelis!" seru Ciel.

"Ah, Sebastian. Kenapa kemari? Kau ingin membolos? Dan lagi, berhenti memanggilku dengan nama itu," ujar Claude sedikit kesal.

"Baik, Mr. Fautus. Ah, Ciel kau disini juga?" tanya Sebastian. "Hari ini kau membantu pekerjaan Mr. Michaelis? Pasti capek."

"Ck, orang yang menyebalkan datang," bisik Claude pelan.

"Hmm, melihatmu seperti ini... Kau seperti seorang istri yang melayani suami-nya ya. Aku juga ingin kau seperti itu padaku."

"Apa-apaan itu? Jangan bercanda!" ujar Ciel kesal.

Claude terkejut melihat Ciel yang marah seperti itu. Ia berusaha menenangkan Ciel yang marah dan menegur Sebastian yang iseng karena selalu mengganggu Ciel. Ciel hanya diam dan Sebastian tersenyum tipis.

"Iya, iya. Aku tidak begitu lagi," ujar Sebastian.

"Kalian berdua ini," gumam Claude. "Secepatnya kau pergi, Sebastian. Kau tidak lihat aku sedang sibuk?"

"Ah, aku diusir? Ahaha..."

Ciel hanya diam memperhatikan kedua gurunya itu, tidak lama pintu ruang kesehatan terbuka dan terlihat sosok Charles yang terlihat lelah. Mungkin ia daritadi berlari hanya untuk mencari Sebastian.

"Mr. Michaelis! Ternyata kau ada disini!" seru Charles kesal dan masuk ke ruang kesehatan.

"Ck, bertambah lagi orang yang berisik," keluh Claude.

"Mr. Michaelis ayo ke ruang guru, jangan berada di ruang kesehatan terus. Sudah waktunya anda mengajar kan?" ujar Charles pada Sebastian.

"Ah? Kau tidak ingin istirahat dulu, Mr. Gray?" tanya Sebastian.

"Ah, ide yang bagus... Hei! Aku kemari bukan untuk itu. Ayo pergi!" ujar Charles.

"Ahaha..." tawa Sebastian.

"Charles, sebaiknya kau bawa Sebastian pergi. Aku sedang sibuk," ujar Claude datar.

"Iya. Aku juga sibuk. Sejak kedatangan Mr. Michaelis, pekerjaanku jadi menumpuk." ujar Charles sambil meregangkan kedua tangannya.

"Agar kau santai minum teh ini dulu," Claude menawarkan teh buatan Ciel pada Charles. Dengan senang hati Charles menerimanya dan terkejut karena rasa teh yang tidak enak.

"Apa-apaan teh ini? Tidak enak." ujar Charles.

"Eh? Mr. Gray juga bilang gitu?" ujar Ciel kecewa.

"Itu teh buatannya," tambah Claude.

"Ah, maaf Phantomhive." ujar Charles yang hanya tersenyum.

"Baik, aku pergi." ujar Sebastian yang pergi meninggalkan ruang kesehatan.

"Aku juga," tambah Charles yang mengikuti langkah Sebastian. Sekarang ruang kesehatan kembali sepi.

"Akhirnya sepi juga," ujar Claude.

"Mr. Fautus, saya akan bantu pekerjaan anda." ujar Ciel.

"Terima kasih."


Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu hingga sekarang waktunya pulang sekolah. Tapi Ciel memutuskan untuk tidak pulang dulu, ia ingin berjalan-jalan sebentar di taman sekolah. Di musim gugur seperti ini, ia bisa melihat daun-daun yang berguguran dengan indahnya. Ciel melangkahkan kakinya menuju taman sekolah dan terkejut melihat sosok Sebastian yang ada di sana.

"Ah, Ciel. Kau ingin ke taman juga ya?" tanya Sebastian.

"Mr. Michaelis..." gumam Ciel.

"Boleh aku duduk di sebelahmu?"

Ciel hanya menganggukan kepalanya dan Sebastian duduk di sampingnya. Sebastian memperhatikan Ciel yang duduk di sampingnya dan memperhatikan pepohonan dengan santainya.

"Semuanya tidak berubah ya? Ketika aku sekolah disini juga, semuanya masih sama." ujar Sebastian tiba-tiba hingga Ciel menoleh kepadanya.

"Jadi anda dulu sekolah disini juga? Anda suka sekolah ini?" tanya Ciel.

"Aku tidak membencinya."

"Eh?"

Sebastian hanya terdiam, begitu juga dengan Ciel. Suasana sore hari ini terasa menyejukkan apalagi dengan angin sore yang berhembus dengan lembut. Sebastian menoleh ke arah Ciel dan tersenyum.

"Kau tidak pulang?" tanya Sebastian.

"Ah? Sebentar lagi. Hmm, anda baik-baik saja?" tanya Ciel.

"Eh?"

"Ah tidak ada apa-apa..."

Mereka berdua kembali terdiam, Sebastian bangun dari bangku taman itu dan menatap Ciel. Ciel hanya diam dan menatap Sebastian. Pandangan mata mereka bertemu, merah dan biru. Warna yang kontras sekali.

"Kau ingin lebih mengenal aku ya? Boleh kok," ujar Sebastian sambil tersenyum. "Besok kau harus ke sekolah dengan senyum manismu itu ya?"

"Cih, apa-apaan ucapanmu itu!" ujar Ciel kesal.

"Reaksimu itu lucu ya? Baik, sampai jumpa besok." Sebastian meninggalkan Ciel sendiri di taman itu. Tidak lama Ciel juga meninggalkan taman. Ia langsung pulang menuju rumahnya untuk beristirahat.


Jam pelajaran sudah dimulai, kebetulan yang mengajarnya adalah Sebastian. Setelah Sebastian selesai memberikan materi, Charles masuk ke kelasnya dan akan menyampaikan sesuatu karena ia berdiri di hadapan murid-murid.

"Baik, apa kalian semua tahu bahwa sebentar lagi kita akan mengadakan festival sekolah?" ujar Charles semangat. "Kita akan membuat kelas kita lebih meriah lagi."

Para murid terlihat antusias mendengar ucapan Charles. Festival sekolah termasuk momen yang dinanti-nanti para murid. Tentu saja selain tidak ada kegiatan belajar, mereka bisa berkreasi sesuai kreativitas masing-masing. Alois melirik ke arah Ciel yang terlihat seperti malas mendengarkan.

"Apa ada yang memiliki saran apa yang harus kelas kita lakukan?" tanya Charles.

Semua kelas sibuk memikirkannya, sehingga suasana terkesan ramai. Sebastian mencuri-curi kesempatan melirik ke arah Ciel dan ia tersenyum saat pandangan matanya dengan Ciel bertemu. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di benak Sebastian.

"Bagaimana kalau cosplay?" usul Sebastian.

"Ah, ide bagus." ujar salah seorang murid, diikuti murid lainnya.

"Jadi semua murid sepakat?" tanya Charles dan diiringi anggukan para murid. "Baik, kalian semua bisa mempersiapkannya kan? Kami juga akan membantu."

"Tentu saja aku akan berpartisipasi." tambah Sebastian.

Setelah selesai membahas acara festival yang akan diadakan sekolah, Charles dan Sebastian meninggalkan kelas itu. Sedangkan para murid sudah mulai bersiap memikirkan beberapa ide lain yang akan ditambahkan.

.

.

.

Jam istirahat tiba, Ciel menolak ajakan Alois untuk makan siang bersama dan memilih ke ruang kesehatan sejenak untuk bertemu dengan Claude. Tapi, sayangnya Claude tidak ada di tempat. Ciel menghela napas saja.

"Selalu seperti itu. Mr. Fautus pergi entah kemana." gumam Ciel.

Baru saja ia ingin membuka pintu dan keluar ia melihat Sebastian yang akan masuk. Sebastian berdiri didepan pintu, sengaja menghalangi langkah Ciel agar tidak bisa keluar.

"Ah, Ciel. Kamu mau kemana?" tanya Sebastian.

"Bukan urusanmu kan?" ujar Ciel sedikit ketus.

"Ah, jangan seperti itu ya?" Sebastian memperhatikan sosok Ciel yang menurutnya sangat manis. Ia mendekati Ciel dan sedikit memojokkannya di dekat pintu. Ciel kesal karena Sebastian selalu memperlakukannya seperti ini. Tapi ia malu juga melihat wajah tampan Sebastian dari jarak yang dekat.

"Lepaskan aku." ujar Ciel.

"Hmm, aku tidak dengar." Sebastian mendekatkan wajahnya pada Ciel, hendak menciumnya. Tapi niatnya batal karena Claude yang menghalangi mereka.

"Hentikan perbuatanmu, Sebastian." ujar Claude dingin.

"Ah, Mr. Fautus." ujar Sebastian sedikit cuek. "Baik, aku berhenti."

Ciel merasa jantungnya berdetak kencang saat Sebastian akan meciumnya. Untung saja Claude datang tepat waktu, tanpa basa-basi lagi Ciel langsung meninggalkan mereka berdua. Claude menatap tajam ke arah Sebastian.

"Jangan kau ganggu Phantomhive sampai seperti itu." ujar Claude.

"Ahaha... Kenapa? Kau tidak menyadari daya tariknya sih. Baik, aku pergi dulu." ujar Sebastian dengan langkah santai meninggalkan Claude sendiri.


Pagi sudah tiba, Ciel bergegas menuju sekolahnya. Di perjalanan ia melihat sosok Sebastian dari kejauhan yang juga berjalan. Ciel mengerti kenapa banyak gadis yang menyukai Sebastian, karena pemuda itu tampan. Sedari tadi Ciel melihat mata para gadis melirik ke arah Sebastian.

'Ah, tidak ada hubungannya denganku.' batin Ciel yang langsung melanjutkannya perjalannya dengan wajah sedikit memerah.

Ia malu sekali bisa memiliki pikiran seperti ini. Tapi, Ciel merasa ada yang aneh dari Sebastian. Di balik sikapnya yang terkesan suka menggoda itu, saat ia dan Sebastian mengobrol di taman waktu itu ia tahu Sebastian menyembunyikan sesuatu.

Ciel yang sudah sampai di sekolah langsung menuju ruang kesehatan, ia melihat Claude sedang duduk santai sambil sesekali melirik dokumennya. Mengetahui ada orang lain, Claude menoleh dan tersenyum pada Ciel.

"Kebetulan sekali kau datang, Phantomhive," ujar Claude. "Kamu mau membantuku?"

"Iya." jawab Ciel yang mulai membereskan beberapa peralatan obat-obatan di kotak obat.

Suasana terasa hening sekali, tidak ada yang memulai percakapan. Setelah Ciel membereskan pekerjaannya, ia melirik ke arah Claude dan mendekatinya.

"Mr. Fautus, mmm... Mr. Michaelis itu orang yang seperti apa?" tanya Ciel.

Tiba-tiba ia merasa penasaran tentang Sebastian. Ia malu menanyakan hal itu kepada Claude, terbukti dari wajahnya yang sedikit memerah. Claude menatapnya dan tampak berpikir.

"Dia itu orang yang gampang putus asa. Mungkin kau melihat ia bersikap baik-baik saja, tapi itu semua demi menyembunyikan luka di hatinya." ujar Claude.

"Luka?"

"Ah, kurasa aku tidak harus mengatakannya. Sebentar lagi bel masuk kan? Kembalilah ke kelasmu."

"Baiklah..."

Ciel meninggalkan Claude dengan sejumlah pertanyaan yang ada di benaknya. Sebenarnya Sebastian itu siapa? Menyembunyikan luka dengan menggoda orang lain? Terlalu banyak misteri mengenai dirinya.

.

.

.

Menjelang festival beberapa guru mengerti akan kesibukan murid-murid yang sedang menyiapkan kelas masing-masing. Kegiatan belajar-mengajar berlangsung sebentar dan semua murid sibuk menyiapkan berbagai macam perlengkapan yang mereka butuhkan. Begitu juga dengan Ciel, ia turut serta membantu teman-temannya itu.

"Ah, pitanya sudah habis," ujar salah satu murid perempuan. "Siapa yang bisa membelinya sebentar."

"Aku saja," ujar Ciel. "Kebetulan aku juga ingin membeli perlengkapan lain."

"Ah terima kasih, Phantomhive."

Ciel segera keluar dari kelasnya dan bergegas keluar sekolah untuk membeli beberapa perlengkapan. Di luar sekolah ia melihat sosok seorang gadis yang sedang berdiri di depan gerbang sekolahnya. Gadis itu menatap Ciel dan mendekatinya.

"Hei, apakah kamu murid sekolah ini? tanya gadis itu.

"Iya." jawab Ciel.

"Aku mencari Sebastian Michaelis. Apa kau mengenalnya?"

Ciel langsung terdiam, gadis ini mencari Sebastian? Ia menatap gadis itu, apakah ia adalah kekasih guru itu? Ciel menggangguk pelan menjawab pertanyaan gadis itu. Gadis itu menghela napas lega.

"Bisa tolong kau panggilkan dia? Aku ada perlu dengannya." pintanya.

"Baiklah." Ciel kembali ke sekolahnya dan mencari Sebastian.

Sepertinya tidak butuh waktu lama, Ciel sudah menemukan Sebastian yang sedang berjalan ke arahnya. Ciel langsung mendekati Sebastian dan menatap pemuda itu.

"Ada yang mencarimu, Mr. Michaelis." ujar Ciel langsung.

"Eh? Bukan kamu yang mencariku?" ujar Sebastian.

"Tentu saja bukan. Seorang gadis menunggumu diluar, katanya ingin membicarakan hal penting. Ayo, saya antar."

Mendengar hal itu, Sebastian hanya terdiam. Ia tidak lagi bercanda dan langsung pergi keluar menemui gadis itu. Ciel mengikutinya karena ia akan menunjukkan kepada Sebastian dimana gadis itu menunggu Sebastian.

Tidalk butuh waktu lama, Sebastian dan Ciel telah sampai di depan gerbang sekolah. Sosok gadis berambut kecoklatan itu sedang menunggu Sebastian, begitu melihat Sebastian wajahnya berubah cerah tapi tidak dengan Sebastian.

"Kamu lagi? Kamu masih belum menyerah ya?" gumam Sebastian meremehkan. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Sebastian! Aku ingin menemuimu." ujar gadis itu.

"Lupakan saja. Aku tidak ingin bertemu lagi," Sebastian melirik ke arah Ciel. "Ayo kita kembali ke kelas."

"Bukannya kau menyukaiku?" tanya gadis itu lagi.

Langkah Sebastian terhenti mendengar ucapan gadis itu, Ciel merasa ada yang tidak beres dengan keduanya. Ia melirik Sebastian dan gadis itu secara bergantian. Sebastian menatap gadis itu lagi dan tersenyum meremehkan.

"Aku memang menyukaimu. Tapi, aku tidak serius saat mengatakannya." ujar Sebastian enteng dan gadis itu terdiam.

"Apa itu benar?" tanya gadis itu.

"Tentu. Kau kira aku akan menyukaimu ya? Jangan konyol!"

Ciel terdiam mendengar ucapan Sebastian terhadap gadis itu. Bisa-bisanya mengatakan suka tapi ternyata itu semua hanyalah dusta. Ciel hampir tidak percaya saat mendengar Sebastian bilang hal segampang itu terhadap gadis itu.

'Jujur saja, pertama kali aku melihat Mr. Michaelis, ia terlihat seperti bukan orang yang baik.' batin Ciel yakin.

"Kau menyebalkan! Bagaimana kau bisa bicara semudah itu setelah kau berpacaran denganku? Lalu menghilang tanpa jejak!" jerit gadis itu.

"Mungkin ucapanmu benar. Aku tidak bisa mencintai siapapun lagi. " ujar Sebastian lirih.

Ciel memperhatikan mata Sebastian, terlihat sorot kesedihan di mata itu. Apa yang terjadi? Ciel sendiri tidak mengerti akan sikap guru yang satu ini. Sebastian terlalu misterius untuknya.

"Cinta dan suka? Itu hal yang tidak penting. Bagiku cinta adalah permainan, asalkan aku bisa puas setelah bermain itu cukup." ujar Sebastian lagi.

"Dasar bodoh!" gadis itu berlari meninggalkan Sebastian dan Ciel sambil menangis.

Ciel memperhatikan gurunya itu, kasar sekali dalam memperlakukan seorang gadis. Bukannya ia suka menggoda gadis-gadis? Ciel merasa ia juga sebagai korban yang suka digoda oleh Sebastian.

"Ah, merepotkan saja. Maaf ya Ciel, kau sampai melihat kejadian seperti itu." ujar sebastian.

"Tidak apa," gumam Ciel. "Hmm, apa anda tidak menyesal membuat gadis itu menangis?"

"Menyesal? Untuk apa?

Ciel terkejut mendengar ucapan Sebastian itu. Dengan entengnya ia tidak merasa bersalah ketika membuat seorang gadis menangis sampai seperti itu. Ciel tidak mengerti apa yang sebenarnya Sebastian pikirkan.

"Hal seperti itu merepotkan jika harus disesali. Menurutku, semua orang baik gadis atau pemuda sepertimu sekalipun tidak masalah untuk dijadikan pacarku."ujar Sebastian enteng.

Lagi-lagi Ciel terdiam mendengarnya. Jahat sekali pemikiran Sebastian yang mengetengkan perasaan orang yang mencintainya. Bagi Sebastain, cinta hanyalah sebuah permainan. Jika ia sudah bosan, ia akan mencampakkan para gadis yang bersama dengannya.

"Kalau begitu, untuk apa kau menyatakan kata "suka" itu kepada gadis itu?" tanya Ciel sedikit menahan emosinya.

"Karena para gadis itu lemah. Mereka mengira ketika aku mengatakan kata-kata "suka", maka aku memiliki perasaan itu kepada mereka. Konyol sekali."

"Kau kejam!"

Sebastain tersenyum dengan pandangan yang sedikit tidak bisa diartikan, ia menatap ke arah Ciel dan menyentuh dagu Ciel. Wajah Ciel terasa panas, ingin sekali rasanya ia menghajar Sebastian karena telah mempermainkan perasaan orang lain.

"Apa kau ingin mencobanya juga, Ciel Phantomhive?" tanya Sebastian.

Ciel tidak bisa menahan emosinya, apalagi ketika Sebastian dengan seenaknya memeluknya. Ia merasa Sebastian sudah kelewat batas. Ia kesal sekali dan terdengar suara tamparan yang cukup keras. Iya, Ciel menampar Sebastian.

"Ck, sakitnya. Kamu berlebihan sekali, tidak berperasaan kepadaku." ujar Sebastian lagi.

"Itu bukan apa-apa. Kau kejam sekali, Mr. Michaelis.," sindir Ciel. "Orang yang tidak memiliki perasaan itu adalah kau!"

"Baik, baik. Berhentilah menatapku dengan mata yang berkilat marah seperti itu."

Ciel terdiam saja mendengar ucapan Sebastian itu, ia sama sekali tidak memperdulikan ucapan Sebastian dan masih menatap tajam ke arah Sebastian.

"Ah~ para gadis susah dimengerti. Kau pun bersikap seperti mereka." ujar Sebastian.

Lagi-lagi Ciel terdiam, tidak dihiraukannya ucapan Sebastian itu. Ia langsung saja pergi meninggalkan Sebastian untuk membeli beberapa perlengkapan yang dibutuhkan kelasnya. Tidak peduli saat Sebastian memanggil namanya.

'Untuk apa aku peduli?' batin Ciel.

TBC

A/N: Akhirnya update juga...^^

Update chapter ini dan kedepan masih bercerita tentang Sebastian.

Ada yang bisa menebak sikap Sebastian ini mirip siapa jika dilihat dari charater dari Starry Sky? Hehe...

Ditunggu reviewnya...^^