Summary: Inilah yang akan terjadi bila (1.) Sandaime gugur dalam serangan Kyuubi (2.) Umino Iruka terlambat menyadari keberadaan Uzumaki Naruto, (2.) Naruto menerima kegagalannya di akademi Konoha, dan (3.) dia memutuskan untuk membenci Shinobi... seri NARUTO yang diutak-atik. HA!
Warns: AU, Mature, Dark themes...
WHAT if...? Inverse!
NARUTO and characters all belong to Kishimoto Masashi
2. Ingatan Yang Sangat Berharga Baginya
Aku akan melampaui kesombonganmu, aku akan melampaui kemampuan klan Uchiha, lalu aku akan membuat klanmu mengakuiku,
tapi sebelum itu aku akan membuatmu mengakuiku. Karena itulah aku akan jadi rivalmu, teme...
Kisah seorang shinobi dari klan Uchiha dengan nama Sasuke, anak dari Fugaku dan Mikoto serta adik laki-laki dari Itachi sebenarnya adalah kisah yang membosankan. Uchiha Sasuke tak perlu jadi jenius karena dia sudah punya Itachi untuk itu. Meraih posisi tertinggi di pasukan Jounin? Hampir seluruh anggotanya memiliki titel 'elit'. Nyaris tak ada yang akan memperhatikan kalau dia berusaha sekeras apapun, bukankah semua Uchiha itu 'hebat'?
Tak ada kisah heroik yang bisa diceritakan dari seorang Sasuke karena dia adalah shinobi, dan shinobi wajib melakukan hal-hal hebat dalam hidupnya. Kisahnya adalah salah satu dari ribuan kisah yang identik; lahir dari keluarga hebat, melakukan hal-hal hebat yang dilakukan keluarga hebatnya, menikah dengan partner yang sesuai lalu memiliki keturunan yang baik, dan meninggal dengan membawa nama keluarga 'hebat'nya. Sasuke hampir yakin dia akan diingat sebagai 'adik laki-laki Itachi' atau paling beruntung mungkin 'salah satu Jounin elit Konoha dari klan Uchiha'. Dia mengakui takdirnya, dan dia sangat siap menjalani hidupnya. Dengan alasan itulah Sasuke berhenti berusaha bahkan jauh sebelum Itachi memperoleh jabatan sebagai ketua tim ANBU. Tapi pada selang waktu itu dia juga belajar apa jadinya kalau memilih menjadi seorang yang menerima takdir.
Uzumaki Naruto, adalah orang yang mengajarinya tentang hal ini.
Karena itulah aku takkan pernah kalah darimu,
yang mengkhawatirkan hal-hal remeh, teme...
Sasuke mengamati wajah tidur Naruto dari balik topeng ANBU-nya. Ini malam ketiga-nya bertugas jaga. Dia memang sudah diberitahu mengenai hal ini, tapi dia tetap tidak percaya kalau Uzumaki Naruto sudah benar-benar berubah. Apa yang terjadi dengan 'aku tak akan menarik kata-kataku karena itu jalan ninjaku'? atau 'suatu hari nanti aku akan jadi Hokage, lalu seluruh Konoha akan mengakui keberadaanku'?
Jadi, dia hanya bisa membual saja? Padahal selama ini Sasuke sudah berusaha karena sudah terpengaruh olehnya...
Sasuke lulus akademi dan menjadi gennin setahun lebih cepat dari teman-teman seangkatannya. Dia menolak ikut tim gennin reguler dan memohon (benar-benar memohon)pada ayahnya untuk keluar Konoha dan bergabung dengan aliansi Otogakure sebagai wakil Konoha. Sasuke adalah satu-satunya gennin yang lulus kualifikasi. Tiga tahun kemudian dia mendapat porsi misi level atas dari Konoha, lalu sekarang direkomendasikan menjadi tim ANBU Konoha yang berada langsung di bawah Hokage; para Tokubetsu Jounin. Itachi menjadi ketua tim ANBU reguler di usia 13 tahun, tapi Sasuke jadi Tokubetsu Jounin di bawah komando Hokage pada usia 17 tahun. Dengan ini dia berhasil melampaui kakaknya; bahkan dikenal sebagai 'Taka' di berbagai misi penting, bukan 'Uchiha'.
Kisahnya yang 'sedikit' berbeda dengan kisah yang dia ramalkan sendiri ini, sedikit banyak dan secara tak langsung, adalah berkat jinchuuriki Kyuubi yang terbaring di depannya. Orang pertama yang mengakuinya sebagai sesama shinobi Konoha yang sejajar. Orang yang membuatnya tak ingin menyerah pada takdir. Rivalnya (walau Sasuke tak pernah mau mengakui hal itu). Tapi orang itu, saat ini, tak bisa dikenali lagi.
"Apa yang kaulakukan dengan komporku?"
"Apa yang kulakukan dengan...? Oh, menggunakannya selain untuk memasak air."
Naruto memberi pandangan benci pada ANBU dengan topeng elang tersebut, tapi dia kurang beruntung karena saat itu perutnya memilih untuk melakukan pengkhianatan. Merah seluruh wajah hingga leher, Naruto menghentakkan kaki ke arah lemari penyimpanannya hanya untuk menemukan stok ramen-cup yang telah habis.
"Kau boleh ikut makan."
"Ramen! Apa maksudmu 'boleh'? Ini dapurku, yang sudah kau buat berantakan!"
"Dengar," Taka berkata tanpa mengalihkan pandangan dari penggorengan di depannya, "Aku harus makan tapi juga harus mengawasimu tahu... dan tempat ini sudah kotor sejak awal. Ngomong-ngomong," Taka menambahkan saat Naruto memakai kausnya dan membuka pintu, "Hari ini festival Bon. Semua toko tutup. Aku sudah beli bahan makanan tadi malam, jadi—"
Naruto mengumpat dan membanting pintu keras-keras. Gumaman Taka yang menyusul kemudian bisa terdengar jelas, walau dilatarbelakangi desis minyak yang berasal dari penggorengan.
"Keras kepala... Kenapa hanya sifat-sifat jeleknya saja yang nggak berubah?"
Sasuke...
kau, curang.
Taka mengawasi ekspresi Naruto yang keheranan; dia mencoba untuk tidak mendengus. Apa yang membuat Naruto memiliki ekspresi seperti itu? Apa yang sudah terjadi selama lima tahun ini? Dia tahu mengenai Jinchuuriki dan bagaimana mereka diperlakukan. Tapi dia tak pernah menyangka Naruto akan berubah hanya karena itu. Dia tahu, sangat tahu... Atau mungkin dia memang tidak tahu apa-apa.
"Thanks, Kak...!"
"Oh, baik sekali Kau 'nak... Menma galak, kadang-kadang. Apa Kau yakin tak apa? Pipimu berdarah lho."
Naruto mengusap pipi kanannya dan menemukan sedikit darah dari telapak tangan yang di gunakan untuk mengusap. Dia tak peduli karena nanti lukanya akan menutup sendiri. Mengabaikan pertanyaan itu, dia malah berkata, "Menma?" dan menatap kucing abu-abu di pelukan anak perempuan yang memberinya pandangan berbinar.
Nenek bungkuk di samping anak itu mengangguk, "Apa Kau juga mau lihat parade?"
Naruto menggeleng.
"Oh. Kenapa? Punya hal penting yang harus dikerjakan?"
"...tak ada."
"Kalau begitu Kau bisa ikut denganku dan cucuku ini. Kami biasa lihat dari bukit sana," wanita tua itu menunjuk arah sembarang, "...dan bekal ini terlalu banyak untuk dua orang dan satu kucing."
Naruto menatap sekilas pada bungkusan kain di dekat kaki si nenek, lalu menatap si pemilik kaki, lalu pada si kucing yang masih meronta. Untuk kucing yang kelihatannya tak terawat itu, dia memiliki nama yang bagus.
"Ayo, 'nak..."
"Maaf, Nek. Ehm...terima kasih sebelumnya, tapi aku harus menolaknya."
"Kenapa?" mata sipit si nenek menatapnya ingin tahu, "Menolak ajakan seseorang itu tidak sopan, anak muda."
"Bukan..."
"Lalu?"
"Nenek bisa kena masalah kalau ada yang melihat nenek bersama—"
"Kalau sudah begitu apa boleh buat 'kan? Yang kulakukan hanya mengajak seorang pemuda untuk makan bersama cucuku."
Dari tempat persembunyiannya, Taka bisa melihat wajah Naruto yang tampak kebingungan. Dia hampir tak bisa menahan dengusannya hanya karena melihat rangkaian parodi 'siapa saja selamatkan aku dari situasi ini' di wajah Naruto padahal cuma diajak makan oleh nenek dan cucunya. Apa tak ada orang yang pernah mengajaknya makan bersama?
Beberapa kalimat bujukan kemudian, Naruto akhirnya dan ikut melangkah bersama para pengajaknya. Taka ber-hn puas. Serahkan pada bunshin, henge no jutsu, lalu sedikit sugesti dan trik untuk membuat Naruto mau memakan hasil masakannya. Dia menatap bungkusan bekalnya sendiri selama beberapa saat, membukanya dan bergumam, "Ittadakimasu," sebelum memasukkan potongan telur goreng ke dalam mulut. Dia bergumam lagi setelah menelan kunyahannya, "...terlalu asin."
"Ternyata Kau bisa senyum juga, eh?"
Taka mendapat tatapan geram berkat komentarnya itu. Tapi dia tidak menyesal.
"Aku lebih suka ANBU yang satunya lagi. Dia lebih pendiam dan tak mau ikut campur urusan orang."
"Sayang sekali. Padahal aku suka padamu."
Naruto memberinya pandangan geram sekali lagi, tapi Taka bisa melihat telinga pemuda itu memerah. Dia mencoba untuk tidak terbahak.
"Jauh-jauh dariku, homo!"
"Hn, aku bisa diberi peringatan Hokage-sama kalau melakukan itu Uzumaki. Laki-laki itu bisa sangat kejam pada pengkhianat."
"Ya, teme. Aku malah ingin itu terjadi!"
Taka mengabaikannya. Dia memegang dagunya, diam selama beberapa saat, lalu berkata keras dan jelas, "Oh, aku tahu. Kau gugup ya? Padahal aku hanya main-main. Mana mungkin aku suka pada orang yang memanggilku 'teme'—"
Naruto menutup pintunya dengan hentakan keras, meninggalkan Taka yang masih bergeming di atas pagar pembatas.
Sasuke... kau, curang.
Kau masih bisa merubah takdirmu, karena, tidak sama sepertiku,
kau bukan orang gagal.
A/N:
Jadi... 'Taka' itu Sasuke...! ^_^ ! Dan 'Yamato'... adalah Yamato (dia dipilih karena memiliki gen Hokage pertama yang bisa mengendalikan Kyuubi, very much like the original's).
Soal judul 'Ingatan Yang Sangat Berharga Baginya' itu sebenarnya adalah kalimat-kalimat italic yang diucapkan Naruto. Yaa... Sasuke mau berusaha melampaui Itachi juga gara-gara Naruto 'kan? (again, very much like the original's...).
Kalimat italic yang terakhir memang kalimat yang diucapkan Naruto untuk Neji (hahahaa, random sekali!), tapi bukankah judul fiction ini 'WHAT If?' jadi anggap kalimat itu muncul lebih awal—dan ditujukan untuk Sasuke!
Bear with my words... karena spesialisasi author ngeyel ini hanya di detail dan karakter, jadi kalimat yang digunakan SANGAT bertele-tele. Ada yang bilang 'kalimatmu itu penuh arogansi! nggak cocok buat bercerita! Cocoknya buat tulisan ilmiah!' (-_-;;). Tapi Saya nggak bisa merubahnya, kalaupun bisa nanti bukan 'shinseina'.
