Warns: AU, Mature, Dark themes...
WHAT if...? Inverse!
NARUTO and characters all belong to Kishimoto Masashi (Darn!)
3. Maaf
Memang kenapa kalau hidup untuk diri sendiri, Sensei? Tak ada seorangpun yang berhak mengatur hidupku, termasuk orangtuaku…
... seumpama mereka masih hidup sekalipun!
Umino Iruka memang hanya chunnin yang melakukan misinya untuk bidang akademik, jadi dia tidak memiliki wewenang untuk ikut campur masalah internal. Masalah Jinchuuriki ini, dan keluhan beberapa rekannya mengenai peraturan Hokage yang cenderung mengarah pada keabsolutan —bukanlah hal yang perlu dia cemaskan. Dia mungkin akan terus berprinsip seperti itu kalau saja tidak mendapat kunjungan kejutan dari mantan muridnya dari Akademi Konoha; Uchiha Sasuke.
Iruka sudah mempersilahkan Sasuke duduk di sofa, membuatkan kopi dan menyediakan camilan darurat, tapi tamunya ini tidak segera melepas topeng ANBU yang dia kenakan padahal sudah mengenalkan diri di depan pintu masuk tadi sebagai, 'Aku kesini bukan atas perintah Hokage. Iruka-sensei, ingat Uchiha Sasuke?'
Iruka membatin, bagaimana dia bisa lupa? Sasuke adalah Uchiha pertama yang dia didik. Murid berprestasi yang membuatnya memperoleh pujian.
"Ada yang bisa kubantu, Sasuke?"
Iruka memang telah mendengar bahwa Sasuke ini diangkat menjadi Tokubetsu Jounin. Peringkat yang lebih tinggi dari dirinya sendiri—murid yang sudah melebihi gurunya hanya dalam waktu kurang dari lima tahun.
Sasuke tidak segera membalas pertanyaan itu karena dia melepas topeng ANBU-nya lebih dulu.
"Sensei adalah guru yang paling akrab dengan Naruto selama di akademi," Sasuke menatap lurus-lurus pada chuunin di depannya itu, "Aku minta bantuan."
Iruka mengernyit. Dia merasa tahu arah pembicaraan mereka.
"Buat si bodoh itu sadar kalau dia jadi brengsek."
Iruka mengerjap, "Ya?"
"Bantu aku mengembalikan perangai Naruto, seperti dulu. Seperti saat dia menyeringai seperti orang bodoh ketika salah tiap membentuk segel bunshin. Seperti saat dia meneriakkan cita-cita absurdnya pada semua orang. Seperti saat dia menantangku duel shuriken walau tahu tak akan bisa menang."
Sasuke tampak sangat serius saat mengatakan hal itu. Iruka hanya bisa membuka dan menutup mulutnya lagi, terpana sekaligus kecewa.
Kecewa pada dirinya sendiri karena dia terlalu cepat menyerah pada Naruto.
"Bagaimana aku bisa membantumu?" Iruka berkata pada akhirnya, dengan suara rendah. Merasa malu pada dirinya sendiri.
Sasuke berkata tegas, "Bukan aku yang harus dibantu, tapi Naruto."
Iruka mengulang kalimatnya lagi, "Bagaimana aku bisa membantu —kalian?"
Sasuke kelihatannya akan menyangkal lagi, tapi dia memutuskan kalau hal itu tak lagi penting.
"Karena itulah aku datang kesini..."
Iruka memaksakan diri untuk tidak tersenyum. Sasuke mungkin akan lebih menghargainya yang tidak tersenyum. Lebih dari itu, senyuman Naruto adalah hal yang akan mereka hargai. Mungkin dalam waktu dekat ini...
Tolong jangan mendekatiku hanya karena kasihan
hal itu sangat menggangguku.
"Aku punya alibi dari kemarin lusa hingga hari ini, Kau bisa tanya setan pohon disana kalau nggak percaya."
Naruto menatap Iruka melalui celah pintu apartemennya sambil menunjuk arah tertentu dengan dagunya. Iruka menoleh ke arah yang ditunjuk dan menemukan Sasuke dengan setelan ANBU tengah bicara dengan rekan ANBU yang lain –beberapa detik yang lalu dia tak melihat mereka.
"Aku kemari bukan untuk menanyakan alibimu, Naruto."
"Lalu apa?" Naruto menyahut kasar dan menambahkan dengan nada keji, "Mengajakku makan malam?"
"Ya."
Naruto nyaris tergelincir dari daun pintunya sendiri namun bisa cepat menguasai diri, "Kau kurang beruntung, Sensei. Aku sudah punya janji dengan ramen cup."
"Kau bisa bawa ramen cup mu itu ke Ichiraku."
Hening selama beberapa saat. Iruka bisa mendengar telapak tangan Naruto beradu dengan daun pintu di seberang.
"Haah. Hal terbodoh yang pernah Kau sampaikan padaku... nomor dua setelah insiden bunshin waktu itu."
Iruka menyamarkan tawanya dengan dehem singkat, "Ehh, insiden bunshin... ya, itu memang bodoh sekali. Uhm, ingatanku agak samar...bagaimana kalau Kau cerita masalah itu sementara kita menunggu Ichiraku membuatkan pesanan?"
Kali ini Naruto menatapnya curiga, "Hei, Sensei... Kau bukan henge atau sejenisnya 'kan? Genjutsu? Atau... kena ninjutsu?"
"Aku hanyalah mantan pengajar yang ingin ngobrol santai dengan mantan muridnya mengenai masa lalu. Akhir-akhir ini aku kena virus simpatik...," saat Naruto memberinya pandangan kosong, Iruka menambahkan, "Kau bisa bilang aku jadi agak sensitif seperti perempuan. Kau selalu bilang begitu padaku... dulu."
"Eehh, oke."
Iruka bisa melihat sudut bibir Naruto berkedut, bersikeras menahan tawa.
"Jadi? Ichiraku? Aku yang bayar."
Naruto ragu sejenak. Pada akhirnya dia mengangguk.
Iruka tersenyum puas, "Tapi tolong jangan bawa ramen cup ya... Teuchi-san bisa murka."
Sensei... bolehkah aku terus berpikir positif
walau tak ada yang memberiku alasan untuk melakukannya?
