Mulai hari ini, Hinata menyamar menjadi manusia dengan menggunakan kekuatan malaikatnya dan pergi ke sekolah bersama dengan Naruto. Semuanya berjalan lancar. Hinata diterima di sekolah yang sama dengan Naruto dengan cara yang sama pula. Hinata tak perlu membayar uang sekolah sepeser pun karena ia mendapat beasiswa sebagai anak yatim. Tentu saja semua itu adalah hasil karangannya dan Naruto.

Entah beruntung atau memang takdir, Hinata ditempatkan di kelas yang sama dengan Naruto. Seperti yang pemuda bersurai blonde itu katakan, kelas ini memang menyenangkan. Semua anaknya ramah, mulai dari yang perempuan sampai yang laki-laki.

Bahkan laki-laki berwajah datar seperti Sasori yang bersurai merah dan Uchiha Sasuke yang bersurai raven pun sebenarnya orang yang baik. Mereka berdua sering membantu Hinata jika sang malaikat –yang menyamar sebagai manusia—sedang kesulitan.

Kebetulan juga, Hinata sebangku dengan sang Uchiha berwajah datar. Itu sebabnya Hinata tahu, bahwa dibalik topeng datarnya, sebenarnya Sasuke adalah orang yang baik. Sangat baik malah. Ia selalu bersedia mengajari Hinata pelajaran-pelajaran kelas sepuluh saat Hinata tidak mengerti. Dan lagi, ia tidak pernah marah atau pun mengeluh meskipun Hinata sering sekali memintanya mengajari Hinata ini dan itu. Ia juga sudah menjadi sahabat baik Naruto.

Berada di kelas yang sama dengan Naruto, membuat Hinata akhirnya bisa melihat bagaimana sebenarnya rupa seorang Haruno Sakura yang dulu dikatakan cantik oleh Naruto. Dan memang benar. Sakura memang cantik. Hinata sendiri langsung mengakuinya begitu mereka bertukar sapa untuk pertama kalinya. Sakura juga ramah.

Tidak heran jika hampir semua kaum Adam di kelas mereka menyukai seorang Haruno Sakura. Hanya saja sayangnya, Sakura sudah menyukai seseorang, hingga akhirnya ia menolak semua kaum Adam yang menyatakan perasaan padanya.

Namun, anehnya, teman sebangku Hinata yang seorang kaum Adam ternyata sama sekali tak tunduk akan kecantikan seorang Haruno Sakura. Malaikat bersurai indigo itu mengetahuinya dari hasil percakapan –penggosipan sebenarnya—dengan kaum Hawa di kelasnya dan hasil menanyakannya langsung pada yang bersangkutan.

Aneh. Satu kata itulah yang terlintas di kepala Hinata saat pertama kali ia mendengarnya sendiri dari bibir tipis sang Uchiha. Tapi sang malaikat tak begitu peduli, toh itu bukan urusannya.

Hinata mulai berpikir bahwasanya mungkin pilihannya untuk ikut masuk ke sekolah ini adalah pilihan yang tepat. Di sini ia mendapatkan banyak sekali teman meskipun ia pemalu. Akhirnya untuk sekali ini, Hinata bisa merasakan hidup normal dengan dikelilingi banyak teman dan tanpa cemoohan atau sindiran-sindiran tajam menghujam hati.

Hinata senang bisa ikut bersekolah di sini meski ia tak sejenis dengan mereka. Meski ia bukan manusia. Karena di sini ia merasakan kehangatan, bersama dengan mereka membuat Hinata senang, bersama dengan mereka membuat Hinata merasa inilah rumah sesungguhnya. Bersama dengan orang-orang ini... ia merasa di sinilah tempat dimana seharusnya ia berada.

Hinata sekarang merasa kalau hidupnya lengkap sudah. Ia sudah tak ingin meminta apa-apa lagi. Ini semua sudah cukup baginya. Dikelilingi banyak teman dan sahabat, berada di antara orang-orang yang baik, dan bisa selalu berada di dekat Naruto, orang yang sangat disayanginya. Apa lagi yang bisa ia harapkan?

Namun sayangnya, Hinata terlalu cepat senang. Ya. Terlalu cepat senang...


.

.

Naruto © Kishimoto Masashi

This fic belongs to :: Arthur no Suzuka Aneue & Asuna no Riisuka

Warning: AU, OOC, CACAT TINGKAT DEWA*caps jebol*, sedikit SasuHina, aneh, kalimat bertele-tele, susah dimengerti, plus fic ini adalah fic yang sangat gaje binti/bin aneh, yah pokoknya segala ketidak-sempurnaan sebuah fic ada deh disini... Silakan tekan tombol 'back' kalau tidak berkenan membaca. Kalo bisa sih jangan nge-flame ya~

Fic collab (entah ini bisa dibilang collab atau nggak) Ri dan sahabat Ri. Kalo jelek, maaf ya

P. S : semua bahan yang ada dalam sini sumbernya macem-macem, dan fic ini sedikit banyak menyangkut tentang dewa-dewi Yunani (yang sedikit kami modif) dan sedikit menoel(?) tentang dewa-dewa di Jepang, jadi buat yang kurang ngerti atau kurang kenal sama nama-nama dewa/dewi yang ada disini, silahkan kunjungi mbah Google atau mbah Wikped. Betulkan kami kalau ada yang salah yo

DON'T LIKE? DON'T READ! Gampang kan?

.

.


Pada awalnya semua baik-baik saja. Semuanya berjalan sesuai yang diinginkan oleh Hinata. Sama sekali tak ada yang menyimpang dari keinginannya. Meski hari-harinya berjalan dengan biasa dan monoton, tapi Hinata tetap menyukainya.

Setiap hari selama tiga tahun belakangan ini ia melakukan hal yang sama setiap harinya. Datang ke apartemen Naruto pagi-pagi buta, Menyiapkan segala keperluannya dan Naruto, pergi ke sekolah bersama dengan sang remaja bersurai blonde, sampai di sekolah, bertemu dengan teman-teman, belajar bersama, makan siang bersama, tertawa dan menangis bersama teman-teman, lalu pulang kembali ke apartemen yang disewa Naruto pada sore harinya dan setelah mengerjakan pekerjaan rumah bersama dan sebelum Naruto pergi bekerja, Hinata akan pulang ke Gunung Olimpus.

Monoton bukan? Tapi Hinata menikmatinya dan tak pernah sekali pun merasakan yang namanya bosan selama tiga tahun yang terasa begitu singkat ini. Sampai akhirnya, beberapa bulan sebelum ujian kelulusan, Hinata mendengar rumor yang mengatakan bahwa Naruto selama hampir tiga tahun terakhir ini menyukai Haruno Sakura, sahabatnya sendiri, dan sudah menyatakan perasaannya berkali-kali meski akhirnya selalu sama. Ditolak.

Awalnya Hinata merasa baik-baik saja dengan hal itu karena yang ia tahu hanyalah Naruto suka kepada Sakura. Menurut malaikat polos itu, 'suka' yang dimiliki Naruto untuk Sakura adalah perasaan suka sebagai teman. Tidak lebih.

"Hei, Hinata, kau... tidak terluka saat mendengar kabar Naruto menyatakan perasaannya pada Sakura untuk yang ke-delapan kalinya?" tanya salah satu temannya yang bernama Shion. Sebelah alis gadis manis yang wajahnya identik dengan Hinata itu terangkat. Setelah menanyakan hal itu, Shion kembali menyeruput susu kotaknya.

Kini, Hinata dan para kaum Hawa –kecuali Sakura—di kelasnya tengah menikmati makan siang di tempat favorit mereka. Atap sekolah.

"Eh? Kenapa aku harus terluka?" tanya Hinata dengan wajah bingungnya. Membuat teman-temannya gemas sekaligus kesal dengan kepolosan gadis bersurai indigo ini.

"Kau menyukai –tidak—kau mencintai Naruto bukan?" tanya salah seorang teman Hinata yang bercepol dua, Tenten, seraya mengacungkan sumpit di tangannya ke arah Hinata. Sang gadis ber-iris lavender hanya bisa mengangguk sembari menggigit roti melon yang diberikan oleh Konan secara gratis padanya tadi. "Kalau begitu, kau seharusnya terluka. Atau jangan-jangan kau tidak tahu arti kata 'suka' ya?"

Hinata menggeleng pelan, masih dengan wajahnya yang terlihat begitu polos. Teman-temannya serentak memijat pangkal hidung mereka. Bingung dengan kepolosan seorang Hinata yang bisa dibilang keterlaluan.

"Hinata, kalau ada yang mengatakan Naruto menyukai Sakura. Itu artinya... Naruto menyukai Sakura. Bukan sebagai teman, tapi lebih. Bahkan sepertinya perasaan yang dirasakan oleh Naruto bukan lagi suka, tapi cinta. Itu sebabnya, Naruto rela menyatakan perasaannya berkali-kali pada gadis itu meski selalu ditolak," jelas Konan yang duduk tepat di samping kiri Hinata disambut oleh anggukan tanda setuju oleh teman-temannya yang lain. Tangan kanan gadis bersurai biru keunguan itu menepuk bahu Hinata pelan.

Di saat itulah Hinata terhenyak. Kaget akan penjelasan yang diberikan oleh Konan sampai-sampai roti melonnya terjatuh ke lantai. Mencintai? Naruto mencintai Sakura? Benarkah... begitu?

Kontan saja, ekspresi Hinata berubah. Dari sebelumnya begitu santai menjadi tegang dan tak percaya. "Benarkah begitu?" tanya Hinata. Pertanyaan yang ia lontarkan sebenarnya hanya untuk mencari bukti bahwa kata-kata Konan tadi hanyalah sebuah dusta belaka. Meski pada akhirnya harapannya tersebut runtuh begitu saja ketika matanya menangkap gerakan naik turun kepala teman-temannya.

Tubuh Hinata langsung terasa lemas. Hatinya sakit. Bahkan rasanya lebih sakit daripada saat ia mendapatkan cemoohan tajam dari para dewa dan dewi di Gunung Olimpus. Sakit... Sakit sekali. Hatinya terasa seperti dihujam jutaan belati tajam dan diremas sekencang-kencangnya di saat yang bersamaan.

Ini... sungguh menyakitkan. Mungkinkah ini yang para manusia sebut sebagai patah hati? Ternyata sesakit ini ya rasanya. Sekarang Hinata mengerti kenapa teman-temannya bisa menangis semalaman saat mereka berpisah dengan kekasih-kekasih mereka terdahulu.

Di saat itu pula rasanya Hinata ingin sekali menangis sekencang-kencangnya meski Hinata sendiri tidak tahu kenapa. Tapi malaikat manis itu berusaha menahannya sekuat tenaga. Ia tidak ingin menangis di sini. Tidak di hadapan teman-temannya. Bibir bawahnya ia gigit sekuat tenaga guna menahan tangisannya yang dapat meledak kapan saja sampai membuat teman-temannya khawatir akan keadaannya.


~o0o~


Naruto berdiri di belakang Sakura yang kini tengah berdiri membelakanginya. Gadis bersurai merah muda tersebut menyandarkan tubuhnya pada pagar yang terbuat dari kawat setinggi dada di hadapannya. Mata hijaunya yang indah memandangi ratusan anak-anak di bawah sana yang sedang tertawa gembira karena hari ini adalah hari kelulusan mereka. Kontras sekali dengannya yang kini justru sedang berekspresi datar.

Kedua telapak tangan Naruto terkepal erat di kedua sisi tubuhnya. Kenapa? Kenapa ia selalu ditolak oleh gadis di hadapannya ini? Dan kenapa pula gadis ini tak pernah memberinya sebuah alasan yang jelas? Ia sungguh tidak masalah jika Sakura menolaknya, hanya saja... ia ingin tahu, alasan dibalik kata 'tidak bisa' dan 'maaf' yang selalu gadis di hadapannya lontarkan padanya.

"Kenapa, Sakura-chan? Kenapa?" tanya Naruto sekali lagi dengan nada yang sarat akan keputus-asaan dan menuntut di saat yang bersamaan. "Kau sudah janji bahwa kau akan mengatakan alasannya padaku setelah kita lulus, 'kan? Sekarang kita sudah lulus, apalagi yang kau tunggu?"

Tanpa membalikkan badannya untuk menghadap pemuda blonde di belakangnya, Sakura menghela napas panjang dan dalam. Kenapa pemuda itu begitu keras kepala? Kenapa pemuda ini begitu gigih, bodoh, dan tidak peka di saat yang bersamaan? Tanpa Sakura jelaskan pun seharusnya pemuda itu sudah tahu jawabannya.

"Kukira kau akan mengetahuinya cepat atau lambat. Tapi ternyata tidak ya. Kau sungguh sangat tidak peka, Naruto." sekali lagi, Sakura menghela napas dalam. Kali ini ia membalikkan badannya dan menatap pemuda bersurai blonde itu. Ia menatapnya tepat di mata. Hijau bertemu biru safir.

"Aku menyukai orang lain. Sahabatmu sendiri, Uchiha Sasuke. Lagipula aku tidak bisa menerimamu karena –sudah jelas sekali bukan?—Hinata-chan mencintaimu, Naruto. Sangat."

Jawaban yang dilontarkan Sakura sungguh menusuk hati Naruto. Rasanya seperti baru saja ada sebuah paku berukuran sangat besar yang sengaja ditancapkan pada hatinya. Mata biru safirnya melebar seketika itu juga. Tubuhnya terasa begitu kaku.

Bahkan ia tak bisa bergerak untuk menahan Sakura saat sang gadis bersurai merah muda berjalan melewatinya begitu saja, memasuki satu-satunya pintu di atap sekolah ini, dan turun ke bawah, bergabung bersama teman-temannya yang lain. Ikut menyemarakkan hari dimana akhirnya mereka akan meninggalkan sekolah ini.

Angin berhembus dengan kencang. Meniup helaian rambut pirang milik Naruto. Sang pemuda sendiri masih berdiri mematung di tengah-tengah atap sekolah. Ia masih tidak memercayai semua ini, kalau ternyata alasan dibalik semua penolakan Sakura selama ini adalah karena Uchiha Sasuke yang bahkan tak pernah terlihat tertarik akan apa pun dan... Hinata? Ternyata salah satu penghalang terbesarnya untuk mendapatkan Sakura adalah Hinata? HINATA?

Sepersekian detik setelahnya, perasaan benci muncul dalam hati kecil Naruto. Perasaan benci yang ditujukan untuk sang malaikat bersurai indigo. Kini, untuk pertama kalinya, Naruto sungguh-sungguh berharap ia tak bertemu dengan Hinata tiga belas tahun yang lalu. Bahkan ia sungguh-sungguh berharap seharusnya Hinata tidak usah lahir saja ke dunia ini.

Kebencian membutakan matanya. Menghalangi akal sehatnya...

Di saat yang bersamaan, pintu atap terbuka untuk kedua kalinya. Menampakkan sesosok gadis bersurai indigo yang tengah berusaha mengatur napasnya. Peluh mengaliri pelipisnya yang putih. Lavendernya menatap Naruto dengan tatapan sedih dan terluka. Meski sudah beberapa bulan berlalu, tapi hati gadis itu masih sakit karena sang pemuda lebih memilih Sakura daripada dirinya, tapi ia berusaha terlihat tegar di hadapan pemuda ini. Ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja...

"Naruto-kun, kau kemana saja? Aku sudah mencarimu sejak tadi." bohong. Itu semua hanyalah sebuah dusta belaka yang dikarang oleh sang gadis. Karena sejak awal ia tahu, bahwasanya sang pemuda blonde sejak tadi berada di sini, di atap sekolah, bersama dengan pujaan hatinya, Haruno Sakura.

"Kenapa kau datang kemari, Hinata?" tanya Naruto dengan suara yang terdengar sangat dingin, tapi ia tak kunjung berbalik untuk menghadap ke arah sang gadis. Sang gadis berjengit kaget mendengar nada suaranya yang sangat tak biasa. Tanpa alasan yang jelas, Hinata mulai merasa takut. Orang di hadapannya ini... tidak seperti seorang Uzumaki Naruto yang selama ini ia kenal. Siapa... sebenarnya orang di hadapannya ini?

"Kau tidak seharusnya mencariku. Pulang sana!" seru Naruto. Membuat tubuh Hinata kembali berjengit. Tanpa sang gadis sadari, tubuhnya mulai gemetar karena ketakutan. Naruto yang ini terasa begitu lain...

Akhirnya, pemuda bersurai blonde itu membalikkan badan. Hanya untuk menunjukkan wajahnya yang diselimuti aura kemarahan pada sang gadis. Sekarang Hinata justru semakin ketakutan.

Kenapa Naruto yang ini begitu menakutkan? Kenapa ia penuh dengan aura mengerikan? Kemana perginya aura hangat yang biasanya selalu mengelilingi pemuda dengan senyum secerah mentari pagi itu? Kemana?

"Kau tahu? Seharusnya kau tidak usah datang ke desaku tiga belas tahun yang lalu! Dengan begitu, aku tidak perlu bertemu denganmu dan mengalami semua ini! Tidak, bahkan seharusnya kau tidak usah lahir saja ke dunia ini! Sejak kedatanganmu, kehidupanku menjadi sulit! Lebih sulit daripada sebelumnya! Aku muak melihat wajahmu! Sekarang enyahlah dari hadapanku dan jangan pernah kembali!" teriak Naruto sekencang yang ia bisa pada Hinata. Menghiraukan ekspresi Hinata yang bercampur antara takut dan ingin menangis.

Pemuda bersurai blonde itu mengabaikan segala fakta yang ada. Fakta bahwa sekarang ini wajah Hinata sudah memerah karena berusaha menahan tangis. Fakta bahwa mata lavender yang selalu memandangnya dengan tatapan lembut itu kini tengah tergenangi oleh air mata. Fakta bahwa ia telah membentak dan mengusir seseorang yang sudah menemaninya melewati suka dan duka selama hampir satu setengah dekade.

Kacang lupa akan kulitnya. Mungkin itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kelakuan Naruto pada Hinata sekarang ini...

"Ba-baiklah kalau memang itu keinginan Naruto-kun. Aku... aku akan pergi," kata Hinata dengan suara parau. Air mata semakin memenuhi kelopak matanya dan siap jatuh kapan saja. Hinata segera berbalik dan berlari memasuki pintu atap sebelum air matanya benar-benar jatuh di hadapan Naruto. Meninggalkan pemuda itu sendirian di atas sana.

Gadis itu bersiap berlari kembali setelah membanting pintu atap. Namun sayangnya, niatnya harus terhambat karena sang pemuda Uchiha kini tengah berdiri di depannya dengan ekspresi bingung. Ia hanya berjarak dua anak tangga dari dirinya.

Untuk sesaat, otak Hinata lumpuh, tak tahu harus melakukan apa selain menatap Sasuke dengan pandangan sedih dan terluka. Tak dapat dipungkiri lagi, Sasuke dapat melihat dengan jelas iris lavender Hinata yang sudah tergenangi air mata. Bahkan setetes air mata sudah menjadi anak sungai di pipinya yang putih pucat.

"Hinata?" pertanyaan Sasuke menyadarkan Hinata dari kebekuannya. "Kau dari mana? Dan kenapa kau—hei!" gadis bersurai indigo itu berlari sekuat tenaga menghindari sang Uchiha yang masih dipenuhi tanda tanya.

Ada apa dengan Hinata? Kenapa dia menangis seperti itu? Hinata... menangis... untuk pertama kalinya... Siapa yang berani melakukan ini padanya? Siapa?

Akhirnya dengan mengikuti naluri sendiri, Sasuke menapaki tangga menuju atap, memutar kenop pintu atap, dan membukanya. Terlihatlah di ujung sana, seorang pemuda bersurai blonde yang tengah menumpukan kedua tangan pada pagar kawat setinggi dada di hadapannya. Itu dia, pasti dia yang sudah membuat Hinata menangis seperti tadi. Sasuke menatap pemuda itu dengan tatapan kesal.

Pemuda ini... sungguh keterlaluan...


~o0o~


Hinata berlari tak tentu arah. Ia membiarkan kakinya membawanya lari kemana saja. Kemana saja. Asal bukan ke tempat dimana Naruto berada sekarang ini...

Hinata menyeka hidungnya yang berair. Air matanya tak henti-hentinya berjatuhan layaknya bom yang dijatuhkan oleh para tentara dalam perang dunia pertama maupun kedua. Semua perasaan sedih, kesal, dan terluka yang selama beberapa bulan terakhir ini selalu ia tahan, kini meledak sudah dalam bentuk sebuah tangisan memilukan.

Jika dulu hatinya terasa sakit seperti dihujam jutaan belati, maka kini hatinya telah hancur berkeping-keping. Menjadi partikel-partikel yang mungkin hanya sebesar sebuah atom. Rasanya lebih sakit daripada saat ia tahu bahwa Naruto mencintai Sakura.

Naruto membencinya. 'Membencinya'. Itulah salah satu hal yang paling tak ingin Hinata lihat dan alami. Hinata sungguh tak ingin hal itu terjadi. Sama halnya dengan kematian Naruto. Hinata sama sekali tak ingin keduanya sampai terjadi. Ia berdoa setiap hari agar kedua hal tersebut tak pernah tertuang ke dalam realita meski ia tahu bahwa salah satu dari kedua hal tersebut sangat mustahil untuk ia minta.

Tapi kenapa justru Tuhan, atau Dewa, atau siapa pun itu justru mengabulkan salah satu hal pahit itu? Tidak adil! Ini semua tidak adil! Kenapa Hinata harus menerima semua ini? Keinginannya hanya satu! Satu saja! Bisa bersama Naruto –yang tak membencinya—selamanya. Itu saja! Apa itu berat sekali untuk dikabulkan olehNya?

Tapi, jika dipikir-pikir kembali, maka semuanya terasa jelas. Mungkin memang sudah sejak awal Naruto tak menyukai kedatangannya. Lihat saja cara pemuda ber-iris safir itu memanggil namanya. Dari hari ke hari, waktu ke waktu, panggilannya berubah. Dari yang menunjukkan rasa sayang ke yang biasa saja dan tak menunjukkan rasa sayang apa pun. Dari Hinata-oneechan dan Hinata-chan menjadi Hinata saja... Berbeda dengan Sakura yang justru sebaliknya.

Sikap Naruto padanya juga lambat laun berubah. Dari sangat baik, sangat sayang, dan sangat manja padanya kini justru tak lagi baik, tak lagi terlihat menyayanginya, dan justru perlahan-lahan menjauhinya. Lagi-lagi, jauh berbeda dengan Sakura yang justru sebaliknya...

Kenapa Hinata tak pernah menyadarinya? Kenapa ia justru baru menyadarinya sekarang?

Tanpa Hinata sadari, ia sudah berlari menuju apartemen yang selama tiga tahun ini Naruto sewa. Hinata memasuki apartemen dengan kunci cadangan yang dulu Naruto berikan padanya. Gadis bersurai indigo itu hanya bisa terdiam seraya memandangi kunci dan seluruh isi apartemen tersebut dengan tatapan sedih dan senyuman pahit saat teringat kembali akan semua kenangan yang telah ia alami.

Kenangan tentang ia yang menjalani hidup berdua dengan Naruto. Hanya berdua dengannya. Melewati hari yang sulit maupun mudah dengan senyuman dan saling melengkapi satu sama lain.

Kenangan yang di satu sisi terasa manis tapi di sisi lain juga terasa pahit. Tapi sekeras apa pun Hinata menolak untuk mengingatnya, kenangan itu tetap terputar kembali selayaknya film dalam otaknya. Mengingat semuanya membuat Hinata ingin menangis kembali.

Hinata berjalan menuju ruang tengah. Menghampiri sebuah sofa berwarna hijau tua yang sudah lusuh dan jelek. Bahkan seharusnya sudah diganti. Di sinilah tempat dimana ia biasanya bertukar cerita dengan Naruto dengan ditemani secangkir teh hangat dan acara humor di televisi tua yang berdiri kokoh di hadapan sofa.

Di sini pula ia mengikat sebuah janji yang hanya diketahui oleh ia dan Naruto...

Hinata mengelus kulit sofa itu perlahan sembari memejamkan mata. Seakan mencoba untuk meresapi setiap sentuhan yang ia rasakan sekaligus menahan air mata yang terus mendesak untuk keluar. Gadis itu sudah memutuskan... untuk pulang ke Gunung Olimpus. Dan tak akan pernah lagi mengunjungi bumi ini.

Agar ia bisa menjauh dari Naruto yang kini telah membencinya. Agar Naruto bisa bahagia... Meski tanpa ia di sampingnya...

"Hei, Hinata! Kemana saja kau ini?" suara seorang lelaki mengagetkan Hinata. Membuatnya menoleh ke arah datangnya suara. Di belakangnya telah berdiri kakak sepupunya, Neji, yang tengah menyilangkan tangan di depan dada. Kedua sayap putihnya masih membentang cukup lebar. Sebuah tanda bahwa ia baru saja muncul di apartemen ini. Ekspresinya menyiratkan sekali kalau ia kesal.

"Olimpus gempar! Hari ini adalah hari dimana kelima planet telah berada di satu garis lurus. Hari dimana 'mereka' bangkit, Hinata! Zeus, Hades*, dan Poseidon* berusaha berperang melawan mereka tapi Zeus tak cukup kuat tanpa seluruh kekuatannya. Kami membutuhkanmu! Kau harus segera kembali ke Olimpus dan mengembalikan kekuatan Zeus yang ada padamu. Cepat! Jika kita tidak cepat dan ketiga dewa itu kalah, maka dunia ini akan berakhir!"


~o0o~


"Kau keterlaluan sekali, Dobe! Tak tahukah kau kalau kau baru saja membuat Hinata menangis? Mungkin kau sudah tahu akan hal ini, tapi aku tak peduli, aku akan tetap mengingatkanmu. Kau. Telah. Membuat. Gadis. Sebaik. Hinata. Menangis."

Tanpa diingatkan olehnya pun, Naruto sudah tahu. Hinata orang yang baik. Orang yang sabar. Dan hebatnya lagi, ia sudah membuat gadis baik nan sabar itu menangis. Ia sungguh keterlaluan. Ia tega melakukannya pada orang yang sudah menemaninya melewati saat-saat suka dan duka bersama selama hampir satu setengah dekade terakhir...

"Apa yang sudah kau lakukan padanya? Apa! Kau pasti membentaknya, 'kan? Kau pasti mengatakan hal-hal busuk dan tak tahu diri itu padanya, kan?"

Itu benar. Itu sungguh sangat benar. Saat Sasuke mengatakan itu padanya, rasanya ia ingin sekali mengangguk, tapi ia tak kuasa. Lehernya terlalu kaku untuk itu. Ia hanya bisa mendengarkan kata-kata tajam dari Sasuke...

"Bukankah kau sendiri yang bercerita padaku kalau Hinata telah menemanimu selama tiga belas tahun terakhir? Kau... kau benar-benar manusia tak tahu diuntung, Dobe."

Ya. Itu benar. Naruto tahu jelas akan hal itu. Tapi sungguh, saat itu ia dibutakan oleh kebencian dan kemarahan. Emosi itu telah melumpuhkan kelima indra sekaligus otaknya. Membuatnya sama sekali tak bisa berpikir dengan jernih.

Ia menyesal. Sungguh. Ia amat sangat menyesal sekarang karena sudah membentak gadis itu sedemikian rupa, mengusirnya, dan membuatnya menangis seperti tadi...

Karena itulah, ia berada di sini sekarang. Berlari di jalanan kota Tokyo yang ramai menuju tempat-tempat yang mungkin dikunjungi Hinata. Menelepon semua teman-teman perempuannya dengan telepon umum dan menanyakan pada mereka satu per satu dimana Hinata berada sekarang ini meski pada akhirnya semua usahanya hanya menghasilkan nol besar.

Tak ada yang tahu dimana Hinata berada. Benar-benar tak ada. Jika dipikir-pikir, ialah orang yang paling dekat dengan malaikat bersurai indigo itu. Jika ia sendiri tak tahu, bagaimana mungkin orang lain bisa tahu?

Pemuda bersurai blonde itu meremas rambut pirangnya frustrasi. Ia tak bisa menemukan Hinata di mana pun. Meski ia sudah mencari ke seluruh tempat yang mungkin didatangi Hinata. Sial. Sebenarnya, kemana perginya malaikat bersurai indigo itu? Dan lagi, ia merasakan firasat buruk sejak tadi. Sebenarnya ada apa ini?

Kini, harapan terakhirnya hanyalah apartemennya. Hinata pasti bisa masuk ke sana dengan menggunakan kunci cadangan yang pernah ia berikan. Masih ada harapan. Masih ada harapan untuknya. Meski harapan itu hanya setipis sehelai rambut. Semoga Hinata benar-benar ada di sana.

Naruto terus berlari membelah keramaian kota Tokyo. Menghiraukan segala rasa lelah dan pegal yang ia rasakan karena terus berlari selama beberapa saat terakhir. Peluh mengaliri pelipisnya sebelum akhirnya jatuh melalui dagu. Wajahnya mengekspresikan rasa cemas yang mendalam.

Oh, Tuhan, jangan sampai firasat buruknya menjadi kenyataan dan akhirnya hanya membuahkan penyesalan tanpa akhir untuknya...


~o0o~


Seorang pemuda blonde berkacamata rimless berjalan dengan gontai keluar dari pekarangan Universitas Tokyo. Pemuda itu sama sekali tak kelihatan bersemangat untuk pulang ke rumah dan mengistirahatkan tubuhnya yang memang sudah lelah akibat tugas-tugas kuliah yang menumpuk.

Sesungguhnya ia tak pernah ingin pulang lagi setelah gadis bersurai indigo itu menghilang tanpa jejak dan tanpa memberitahunya sama sekali. Karena setiap kali ia kembali ke rumah itu. Kenangan-kenangan yang telah mereka alami selalu terputar kembali di otaknya bagaikan film. Membuat hatinya sakit tak terperi...

Pemuda bersurai blonde yang bernama lengkap Uzumaki Naruto tersebut menghela napas panjang dan dalam. Tangan kanannya yang berkulit kecokelatan mengacak rambut pirangnya yang memang sudah berantakan. Tatapan iris safirnya bertambah sayu ketika ia kembali teringat akan gadis itu.

Sial. Sial. Sial. Hanya itu yang bisa ia gumamkan selain kata-kata penyesalan dan sumpah serapah saat ia mengingat kembali gadis manis itu. Hinata. Kemana ia pergi? Apa ia benar-benar kembali ke Gunung Olimpus tempat dimana seharusnya malaikat seperti dirinya berada?

Apa Hinata benar-benar akan meninggalkannya selamanya? Ah, mengingat bahwa gadis itu pergi sambil menangis saja sudah membuat hatinya serasa dihujam ribuan paku. Apalagi kalau ia memikirkan gadis itu sungguh-sungguh akan pergi selamanya dari sisinya.

Naruto memejamkan mata dan kembali mengingat saat-saat ia bersama dengan gadis itu. Saat-saat yang begitu membahagiakan tapi di saat yang bersamaan terasa begitu singkat. Jika bisa, ia ingin sekali kembali ke masa lalu dan menarik kembali semua ucapannya di hari terakhir ia bertemu dengan Hinata. Agar ia tak perlu menanggung derita dan penyesalan tanpa akhir seperti ini...

"Dengarkan aku dulu, aku ini makhluk yang istimewa. Sebut saja aku sebagai malaikat, bawahan para dewa. Dan aku, hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang istimewa pula. Orang-orang yang disebut 'anak indigo'. Dan kau adalah salah satu dari orang-orang istimewa tersebut. Jadi jangan anggap dirimu aneh."

"Kakek Jiraiya bilang, manusia dengan iris biru safir dan rambut blonde itu... biasanya memiliki darah yang sama dengan orang-orang dari ras Anglo-Saxon, kalau aku tidak salah mengingat. Dan kata Kakek Jiraiya lagi, Naruto-kun, orang-orang dengan ras Anglo-Saxon tersebut sekarang ada yang sudah tinggal di Jepang, lebih tepatnya tinggal di Tokyo. Kakek Jiraiya dan aku sendiri menyarankan, kalau Naruto-kun tidak mau dikucilkan lagi, ada baiknya kalau Naruto-kun pindah ke Tokyo. Tentu saja tidak sekarang, karena Naruto-kun, 'kan, bisa dibilang masih belum bisa menghidupi diri sendiri. Lagipula kalau di kota, kau bisa lebih sukses. Kata orang, sukses di kota sangatlah mudah. Yah, tapi tentu saja setelah sukses nanti, kau bisa kembali lagi ke desa."

"Tapi aku ingin kau tahu, bahwa... kemana pun Naruto-kun pergi, aku akan mengikuti Naruto-kun."

"Begitukah? Hmm, kalau Naruto-kun bilang begitu, maka dia pasti cantik. Baguslah kalau teman-teman Naruto-kun ramah. Sekarang Naruto-kun bisa punya banyak teman ya."

"E-eh? Tapi aku—"

"Naruto-kun, kau kemana saja? Aku sudah mencarimu sejak tadi."

"Ba-baiklah kalau memang itu keinginan Naruto-kun. Aku... aku akan pergi."

Naruto tersenyum kecut. Sial. Ia sungguh tak ingin kalimat terakhir itu kembali terngiang di telinganya. Kata-kata yang Hinata ucapkan dengan suara parau menahan tangis...

Ah, apa yang sudah ia lakukan dulu? Pasti Hinata sangat sedih setelah mendengar kata-kata sekejam itu meluncur keluar dari bibir tipisnya. Penyesalan kembali memenuhi rongga hatinya. Menyesakkan dadanya...

Oh, tidak. Kini air mata sudah mulai memenuhi kelopak matanya dan siap untuk jatuh kapan saja. Sial. Sial.

Kenapa Hinata harus pergi? Pergi meninggalkan dirinya dengan cara seperti ini? Dan tanpa ada kabar pula selama empat tahun terakhir. Tak tahukah ia kalau sang pemuda merasa sangat menyesal dan ingin sekali mengucapkan kata maaf itu padanya? Tak tahukah ia kalau kini Naruto sudah sangat merindukannya? Amat sangat merindukannya sampai-sampai pemuda itu merasa begitu sesak dan hampa...

Kemana... Kemana perginya dirimu, Hinata?

Bahkan mungkin, karena rasa rindu itu sudah terlalu mendesak hatinya, ia bisa mendengar suara lembut Hinata memanggil namanya. Hanya saja kali ini terdengar lain. Kali ini tak ada '-kun' yang biasanya mengekor di belakang namanya.

"Naruto."

"Hei, Naruto."

Tunggu. Sekarang suara lembut Hinata perlahan-lahan berubah menjadi sebuah suara laki-laki dewasa. Aah, sepertinya otaknya mulai kacau karena terlalu banyak tak tidur untuk mengerjakan tugas kuliahnya yang benar-benar menumpuk.

"Hoi, Naruto. Pendengaranmu sudah mulai jelek ya?"

Spontan, Naruto membuka matanya dan menoleh ke belakang, ke arah datangnya suara. Dan di sanalah seorang pria berusia dua puluh tiga tahun berdiri. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Ekspresinya jelas menggambarkan bahwa pria itu kesal.

Hyuuga Neji. Salah satu seniornya di universitas yang sudah Naruto kenal baik.

"Aku memanggilmu sejak tadi, dan kau sama sekali tidak merespon. Ya ampun, kau kira waktuku hanya kugunakan untuk bicara denganmu?" Neji mulai berbicara panjang lebar di hadapan Naruto yang justru memandangnya dengan pandangan tidak mengerti. Tidak biasanya seniornya ini mencarinya seperti ini karena mereka memang berbeda jurusan.

"Aah, ada apa? Tumben kau mencariku..." kata Naruto dengan nada sedikit malas seraya kembali mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan dengan tangan kanan. Tatapan yang diberikan iris biru safirnya masih sama. Tatapan bingung. Tangan kirinya menaikkan kacamata rimless yang ia pakai.

"Lebih baik kita membicarakannya di rumahmu. Ini penting." Neji segera berjalan melewati Naruto dengan langkah panjang-panjang. Agak kaget dengan jawaban dan reaksi Neji yang sungguh tak ia perkirakan sebelumnya. Dengan sedikit kewalahan, pemuda bersurai blonde itu berlari untuk menyamakan langkah mereka berdua.


~o0o~


Bunyi khas pintu terbuka terdengar begitu Naruto memutar kunci di tangannya dua kali. Dengan segera, pemuda itu memutar kenop pintu dan mendorongnya. Setelah menyilakan tamunya masuk, Naruto menutup pintu, melepaskan sepatunya, dan berjalan masuk menuju dapur sedangkan tamunya berjalan menuju ruang tengah.

Neji sudah cukup sering mampir ke rumah Naruto hingga ia cukup hafal letak ruangan dalam apartemen kecil tersebut. Tanpa sungkan dan tanpa permisi, Neji menjatuhkan dirinya begitu saja di atas sofa kecil berwarna hijau tua yang ada di ruang tengah.

Tak perlu menunggu lama, Naruto muncul dengan secangkir teh manis di tangannya. Dengan malas, pemuda itu meletakkan cangkir tersebut di atas meja kecil di hadapan Neji.

"Maaf, aku hanya punya ini." Naruto segera mendudukkan diri di atas sofa panjang yang ada tepat di hadapan televisi di ruangan itu.

"Tidak masalah." dan dengan itu, Neji menyesap cairan dalam cangkir dengan anggun. Mata lavendernya yang identik dengan milik Hinata terpejam. Mencoba untuk menikmati setiap sensasi yang menyerang kerongkongannya.

Setelah puas menyesap teh manis itu, Neji kembali menampakkan keindahan matanya pada dunia. Tak menghiraukan tatapan sedih pemuda blonde yang duduk tak terlalu jauh darinya saat pemuda itu menatap mata lavender Neji. "Jadi... ada perlu apa kau datang kemari?"

Neji kembali meletakkan cangkir di tangannya ke atas alas cangkir yang ada di atas meja. Matanya melirik iris biru safir Naruto. Lavender bertemu safir. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu tentang Hinata padamu..."

Alis pirang Naruto berkerut dalam. Jelas sekali kalau ia sedang bingung sekarang. Seingat pemuda itu, ia tak pernah menceritakan Hinata pada Neji dan Neji bukanlah kakak kelasnya semasa di SMA, SMP, maupun di Sekolah Dasar. Jadi, bagaimana ia bisa tahu?

"Aah, bagaimana kau bisa tahu tentang Hinata? Aku, 'kan, tidak pernah memberitahumu tentangnya dan kita tak pernah satu se—" Naruto tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena tiba-tiba saja Neji sudah berada di hadapannya dalam sekejap. Sepasang sayap putih bersih membentang di punggungnya. Tanpa bicara sepatah kata pun, Neji menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya pada dahi cokelat pemuda bersurai blonde itu. Dan dalam satu kedipan mata, sang pemuda bersurai pirang kehilangan kesadarannya.


~o0o~


"Olimpus gempar! Hari ini adalah hari dimana kelima planet telah berada di satu garis lurus. Hari dimana 'mereka' bangkit, Hinata! Zeus, Hades*, dan Poseidon* berusaha berperang melawan mereka tapi Zeus tak cukup kuat tanpa seluruh kekuatannya. Kami membutuhkanmu! Kau harus segera kembali ke Olimpus dan mengembalikan kekuatan Zeus yang ada padamu. Cepat! Jika kita tidak cepat dan ketiga dewa itu kalah, maka dunia ini akan berakhir!" jelas Neji dengan raut wajah panik bercampur dengan kesal.

Iris lavender Hinata melebar. Benarkah... itu? Dunia ini akan segera berakhir jika pihak dewa kalah berperang?

Tidak! Tidak Boleh! Ketiga dewa terkuat itu tak boleh kalah dari para Titan* sialan itu! Tidak sekarang, tidak selama Naruto-kun-nya masih bernapas di dunia ini...

Hinata akan melindunginya. Melindungi Naruto dengan segenap jiwa dan raganya. Kematian seorang Uzumaki Naruto adalah hal terakhir yang ingin ia lihat. Tidak masalah jika ia harus menggantikan Naruto mati asalkan pemuda itu tetap hidup dan tetap bisa mengecap manisnya kehidupan ini.

Mata lavendernya yang selalu melayangkan pandangan lembut, kini tengah memancarkan rasa determinasi yang kuat. Tekadnya untuk melindungi sudah bulat.

"Kalau begitu, ayo cepat kita pulang!"

=o0o=

"Sial. Berapa kali pun dicoba, kekuatanku tetap tidak bisa kuambil kembali. Hinata, kalau begini, maka... kau harus ikut berperang melawan Titan bersama kami. Maafkan aku. Tapi tidak ada cara lain," kata Jiraiya sang Zeus seraya menepuk bahu Hinata pelan. Wajahnya menyiratkan kesedihan, penyesalan, dan memohon yang sangat jelas.

"Tidak masalah! Selama dunia ini selamat, aku bersedia mengorbankan nyawaku!" seru Hinata tanpa ragu. Matanya menyalak galak. Membuat sang Zeus mengernyitkan dahi karena keheranan. Kedua dewa terkuat yang berada di sampingnya pun melakukan hal yang sama.

Ya. Asalkan Naruto-kun-nya tetap bisa bernapas dan hidup dengan leluasa di bumi sana, maka ia rela...

"Baiklah kalau begitu. Sekarang bersiaplah. Pakai baju perang terbaikmu. Angkat dagu dan sejatamu. Kita akan berperang segera." Orochimaru sang Hades bertitah. Hinata menganggukkan kepalanya dan dalam sekejap, ia sudah terbang, melesat ke rumahnya. Mempersiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan untuk menghadapi perang ini.

Perang yang menurut Hinata akan memakan waktu lama. Sangat lama malah. Hati kecilnya sebenarnya enggan untuk pergi ke medan perang dan meninggalkan Naruto sendirian. Apalagi kecil kemungkinan ia bisa bertahan setelah perang ini. Tapi apa daya, ia harus melakukannya. Lagipula pemuda itu sudah membencinya. Tak ada gunanya lagi ia berada di dekat pemuda itu.

Lebih baik ia mati karena melindunginya daripada terus hidup di dekat pemuda itu tapi menderita karena kebenciannya...

=o0o=

Tubuh kurus Hinata tergolek begitu saja di atas ranjang berseprai putih. Tubuh kurus itu terbalutkan gaun sederhana berwarna putih serta selimut putih setinggi dada. Tatapan iris lavendernya yang biasanya menyinarkan kelembutan, kini terlihat sayu dan menyedihkan.

Sejak peperangan melawan para Titan sialan itu, kekuatan Hinata terkuras habis hingga bangkit dari tempat tidur pun Hinata tak sanggup. Yang bisa dilakukan olehnya kini hanyalah beberapa gerakan kecil saja. Itu pun ia lakukan dengan susah payah.

Tapi bagi gadis itu, hilangnya seluruh kekuatannya bukanlah masalah besar, selama dunia ini masih bisa ia selamatkan. Dan untungnya, peperangan itu berhasil dimenangkan oleh mereka, pihak dewa. Pada akhirnya Zeus dan kedua saudaranya, Hades dan Poseidon berhasil memusnahkan semua Titan sialan itu dari muka bumi ini. Untuk selamanya.

Dan dengan begini, Naruto-kun-nya dapat hidup bahagia hingga akhir hayatnya...

Gadis bersurai indigo yang dulu selalu terlihat ceria meski banyak hujatan melayang ke arahnya itu kini justru terlihat menyedihkan. Keceriaan itu tak pernah lagi muncul di wajahnya. Tergantikan oleh awan mendung yang tak kunjung sirna dari wajahnya meski ia tersenyum sekali pun.

Neji memandangi sepupunya itu dari samping tempat tidur sepupunya dengan tatapan sedih. Kenapa gadis ini bisa begitu baik? Kenapa gadis ini rela mengorbankan seluruh kekuatannya hanya untuk seorang pemuda bernama Uzumaki Naruto yang selalu ia kunjungi setiap harinya? Dan lagi, meski pemuda itu sendiri kini telah membencinya?

Betapa hati gadis ini begitu mulia...

Jangan kira pemuda berambut cokelat panjang itu tak tahu kalau selama ini sepupunya terus turun ke bumi setiap harinya demi mengunjungi Naruto-kun-nya yang busuk itu. Jangan pula kira dirinya tak tahu siapa Uzumaki Naruto itu.

Meski selama ini ia tampak cuek dan sama sekali tak menyayangi Hinata, tapi sesungguhnya, ia sangat peduli dengan sepupunya satu ini. Selama ini, secara diam-diam, ia selalu turun ke bumi mengikuti adik sepupunya, mengikutinya hingga ke desa bahkan ketika sepupunya dan pemuda busuk itu pergi ke Tokyo pun tetap ia ikuti. Singkat kata, Neji bagaikan bayangan Hinata yang selalu mengikutinya kemana pun Hinata pergi.

Sebenarnya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat pemuda sialan tak tahu diuntung satu itu membentak, menghina, dan mengusir sepupunya. Ia melihat semuanya, melihat ketika akhirnya bulir-bulir air mata berjatuhan dengan derasnya dari pipi putih pucat sepupunya.

Dan kalimat pertama yang ia ucapkan di apartemen Naruto hari itu sebenarnya hanyalah sandiwara murahan belaka. Karena ia tahu kemana sepupunya itu pergi. Selalu tahu...

"Ne, Neji-nii," panggil Hinata dengan suaranya yang tak lagi lembut tapi justru lemah. Menyadarkan Neji dari lamunannya. Pemuda itu segera mengalihkan pandangannya pada Hinata. Kedua tangannya menggenggam tangan kanan Hinata erat.

"Ada apa? Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?" tanya Neji lembut. Tidak biasanya, begitulah pikir Hinata. Tapi gadis berusia tujuh belas abad itu senang karena kini kakak sepupunya itu jadi lebih perhatian dan baik padanya.

Hinata mengangguk lemah. "Kurasa begitu. Bisakah Nii-san membantuku?" tanyanya. Kurva menghiasi wajahnya yang terlihat pucat dan tak bertenaga. Senyumnya terlihat begitu menyedihkan. Tanpa berpikir panjang, Neji menganggukkan kepalanya dengan keyakinan penuh. Jika itu bagi Hinata, maka tak ada yang tak akan dikabulkannya.

"Aku... aku benar-benar merasa hidupku sudah berada di ujung tanduk, Nii-san. Bahkan aku sudah bisa mencium bau menyengat dari kematian itu sendiri. Tidak. Aku bahkan sudah dapat melihat tangan-tangan kematian tengah mencoba meraihku saat ini..." katanya lirih. Tersirat kesedihan dan kepedihan mendalam dalam lavendernya.

Tidak! Tidak boleh! Ini tidak boleh sampai terjadi! Hinata kecilnya tak boleh mati! Tidak sekarang! Tidak sebelum para penghuni Olimpus mengelu-elukannya dan menyambutnya dengan baik sebagai pahlawan perang. Tidak sebelum seluruh penduduk Olimpus dan ia sendiri meminta maaf atas kelakuan buruk mereka selama ini padanya. Tidak, tidak, tidak!

Neji menggelengkan kepalanya keras-keras. Genggamannya pada tangan kanan Hinata mengerat. "Kau tidak boleh berkata seperti itu! Kau tidak boleh mati sekarang! Tidak dalam keadaan seperti ini!"

Kata-kata Neji dibalas oleh senyuman keibuan Hinata. "Nii-san, kematian tidak akan pernah bisa dihindari. Apa Nii-san sudah melupakan hal itu?" tanya Hinata dengan lembut dan lirih. Sesaat kemudian ia mendengus ketika melihat kakak sepupunya memalingkan wajah darinya dan mendesis kesal.

"Itu sebabnya. Bisakah Nii-san menyampaikan pesanku padanya? Pesan terakhir dariku untuknya..." ucap Hinata dengan bibirnya yang kering dan pecah-pecah. Tanpa Hinata sebutkan namanya, Neji sudah tahu siapa orang yang gadis itu maksudkan. Pada akhirnya Neji mencoba untuk mengesampingkan ego dan mengabulkan permintaan gadis itu meski ia pribadi amat sangat benci pada pemuda tak tahu diuntung satu itu. Walau bagaimana pun, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabulkan apa pun permintaan adik sepupunya itu bukan?

Pemuda bersurai cokelat panjang itu menganggukkan kepalanya. Membawa sebuah senyum cerah di wajah Hinata. Tangan kanan kurus gadis itu menggenggam balik tangan Neji. Dengan semangat, Hinata berkata, "Terima kasih banyak, Nii-san. Kalau begitu, tolong katakan padanya. Maaf karena tak bisa menepati janji kami. Dan, meski... meski Naruto-kun sudah membentakku, mengusirku, dan membenciku sekali pun... Aku... Aku... Aku akan tetap mencintainya. Sepenuh hatiku..."


~o0o~


Bulir-bulir air mata sudah jatuh dengan derasnya menuruni pipi kecokelatan Naruto ketika pemuda itu kembali membuka mata biru safirnya. Pemuda itu menangis. Ya. Menangis. Setelah melihat semua yang telah Hinata lakukan untuknya tanpa sepengetahuannya. Terima kasih untuk seorang Neji yang sudah menunjukkan semua itu padanya.

Neji sendiri kini tengah berdiri di hadapan pemuda bersurai blonde itu dengan tangan menyilang di depan dada. Tatapan penuh kebencian ia layangkan terang-terangan pada pemuda blonde yang kini tengah duduk di sofa di hadapannya. "Kau sudah puas sekarang? Dia begitu baik padamu tapi kau justru memperlakukannya dengan begitu jahat. Air susu dibalas dengan air tuba. Mungkin itu peribahasa yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang telah kau lakukan padanya..."

Naruto hanya menundukkan kepalanya dalam diam. Tak berani mengatakan apa-apa lagi. Air mata masih berjatuhan dari kelopak matanya. Dengan tangan kanan, ia menyeka hidungnya. "Sekarang dimana dia? Bagaimana keadaannya? Bisakah kau membujuknya untuk kembali padaku?" tanya Naruto. Menghiraukan segala kata-kata Neji barusan.

Tanpa Naruto ketahui, tatapan benci Neji telah berubah menjadi tatapan pilu. Wajahnya terlihat seperti berusaha menahan tangis. "Tidak bisa. Aku tidak bisa membujuknya..."

Pemuda bersurai blonde itu mendongak seketika. "Kenapa tidak bisa? Bukankah kau sepupunya? Bukankah kau juga malaikat sama sepertinya?" tanya Naruto dengan nada sangat memohon dan putus asa di saat yang bersamaan. Kedua tangannya menarik ujung kemeja putih yang Neji pakai.

Pemuda bersurai cokelat panjang itu menepis kedua tangan Naruto. Ia memalingkan wajahnya. Berusaha untuk tak mempertemukan iris lavendernya dengan iris biru safir yang terlihat menyedihkan itu. Dengan suara parau menahan tangis, ia berkata, "Bagaimana mungkin aku bisa membujuknya kalau bibir tipisnya kini sudah dibungkam oleh tangan-tangan kematian?"

Rangkaian kata sederhana itu sukses membungkam Naruto. Membekukan seluruh sarafnya hingga ia tak bisa bergerak sama sekali. Kedua iris biru safirnya membelalak lebar.

Seseorang, siapa pun itu, tolong katakan padanya bahwa ini semua hanya kebohongan belaka...


~o0o~


Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahunan tengah berjongkok di depan sebuah gundukan tanah kering dengan ranting kayu yang tertancap secara vertikal di pinggir sebuah danau yang dikelilingi hutan pinus. Kedua tangan kecokelatan milik pria itu ia katupkan di depan dada. Kedua matanya ia pejamkan dengan erat.

Sebelum bibirnya sempat membuka dan menceritakan kesedihannya, kedua matanya telah lebih dahulu bercerita. Tetes-tetes air mata membasahi gundukan tanah itu. Heningnya danau terpecah oleh suara sesenggukan sang pria.

"Hinata-chan, kenapa kau meninggalkanku dengan cara seperti ini? Ini terlalu menyakitkan bagiku, kau tahu?" katanya di sela-sela tangisnya. Bagi beberapa orang, berbicara pada sebuah gundukan tanah adalah perbuatan yang gila. Tapi pria bernama lengkap Uzumaki Naruto itu sama sekali tak peduli. Yang terpenting adalah ia bisa menceritakan segala keluh kesahnya pada sebuah gundukan tanah yang ia buat sendiri dan ia anggap sebagai tempat dimana jasad malaikat bernama Hinata bersemayam.

Meski jasad sang gadis bersurai indigo sama sekali tak ada di dalamnya. Karena, seperti yang sudah dijelaskan oleh Neji, ketika seorang malaikat mati, maka jasadnya akan ikut menghilang. Dengan cara seperti abu atau asap yang ditiup angin.

Naruto menyeka kedua ujung matanya. "Kau rela mati demi aku? Agar aku bahagia? Heh, apanya yang bahagia? Setelah kau pergi, aku justru baru sadar, bahwa kebahagiaanku sebenarnya adalah selalu berada di sisimu. Kenapa kau malah pergi? Kau justru membuatku menderita, Hinata-chan!" serunya di akhir kalimat. Berteriak sendiri di tengah-tengah sunyinya pinggir danau tempatnya berada.

Punggung tangannya kembali menyeka ujung matanya yang basah juga hidungnya yang berair. "Aah, lupakan saja yang tadi itu. Aku mulai meracau tidak jelas lagi." ia terkekeh pelan. "Kau tahu kita sedang berada dimana, Hinata-chan?" iris biru safirnya memerhatikan sekelilingnya. Ia berusaha mengembangkan sebuah kurva di wajahnya meski hatinya terasa sakit dan matanya masih basah oleh air mata.

"Ini tempat dimana kau membuatku terharu untuk pertama kalinya. Di sini kita mengikat tali persahabatan kita, Hinata-chan. Ini... di desaku. Desa Konoha..." tatapannya berubah sayu kembali. Biru safirnya menyiratkan kesedihan mendalam. "Aku sudah sukses, Hinata-chan. Dan aku sudah menepati janjiku pada diriku sendiri dan juga pada desa ini. Sekarang kau pasti bangga padaku, 'kan?"

Pria itu menepuk dadanya dengan bangga. Keceriaan kembali menghiasi wajahnya. Tapi tak lama. Karena sesaat kemudian, awan mendung telah kembali menggelayut di wajahnya yang berkulit cokelat. "Tapi... ada satu janji yang tak pernah bisa kutepati. Janji denganmu, Hinata-chan... Janji untuk melewatkan malam Halloween dan malam Natal bersama, kau ingat?"

Senyuman pilu menggantung di wajahnya. Air mata nyaris kembali jatuh dari mata biru safirnya, tapi segera ia tahan sekuat tenaga. "Tapi, Hinata-chan, aku sudah tidak kesepian lagi sekarang. Semuanya mau menerima perbedaanku setelah aku membangun dan memajukan desa ini dengan tanganku sendiri. Oh ya, aku sekarang sudah menjadi direktur sebuah perusahaan ternama yang sudah memajukan berbagai kota besar. Aku hebat, 'kan, Hinata-chan?"

"Kau lihat? Aku bahkan mengunjungimu dengan jas, Hinata-chan! Dan, oh, satu lagi. Sekarang, aku sudah tak kesepian lagi setiap hari Halloween dan Natal, karena banyak sekali orang yang mengunjungiku di malam itu. Rumahku selalu terasa ramai tapi hatiku tetap hampa. Selama kau tidak ada, di sini selalu terasa kosong, Hinata-chan," ucapnya sembari menunjuk dadanya sendiri. Tempat di mana jantung –atau dalam konteks ini, ia anggap sebagai tempat dimana hatinya—berada.

"Naruto-jisan, kau dimana? Naruto-jisan? Semua orang di kantor mencarimu. Jangan suka seenaknya meninggalkan pekerjaan!" suara seorang pemuda memasuki pendengaran Naruto. Pria bersurai blonde itu segera menoleh ke asal suara. Aah, ternyata waktunya di sini sudah habis. Sayang sekali. Meski, ia masih punya banyak hal untuk diceritakan pada Hinata, tapi kesibukannya tak mengizinkannya untuk melakukan itu.

"Tunggu sebentar, Konohamaru! Aku akan segera menyusul! Dan jangan panggil aku ji-san, aku belum setua itu!" teriak Naruto. Dengan segera, ia kembali memalingkan wajahnya pada gundukan tanah kosong di hadapannya. "Baiklah, Hinata-chan. Aku harus segera pergi. Kesibukan menjemputku. Aah, dan satu lagi sebelum aku pergi." Kedua pipi kecokelatan Naruto diwarnai semburat merah muda. Iris biru safirnya bergerak liar. Tampak sekali kalau ia gugup.

"Aku... Aku...A- Aku... ternyata mencintaimu, Hinata-chan. Maaf karena baru menyadarinya sekarang. Maaf karena sudah membuatmu menunggu begitu lama. Dan... aku tahu aku selalu mengatakan ini setiap kali aku mengunjungimu tapi... aku sungguh-sungguh minta maaf atas semua hal buruk yang telah kulakukan. Aku sungguh menyesal... Dan kuharap kau ada di sini bersamaku sekarang, Hinata-chan. Aku merindukanmu. Sangat..." ucap Naruto sebelum mengakhiri kunjungannya. Lagi-lagi air matanya menetes. Sial. Ia benci terlihat cengeng seperti ini. Apalagi jika sedang berhadapan dengan Hinata-nya.

Sial. Kenapa air mata ini tak mau berhenti menetes? Kenapa? Kenapa? Kenapa ia selalu terlambat untuk menyadari sesuatu hingga pada akhirnya ia harus menyesal? Kenapa? Kenapa Hinata harus meninggalkannya? Tak tahukah ia kalau Naruto begitu menderita tanpanya? Tak tahukah ia betapa sakit hati pria bersurai blonde ini ketika mengetahui kematian telah memisahkan mereka?

Tak Tahukah? Tak tahukah Hinata bahwa Naruto begitu merindukannya sampai dada pria itu terasa begitu sesak karenanya? Sampai sekarang pun, masih berat rasanya bagi pria itu untuk merelakan kepergian gadis manis itu...

"Kenapa, Hinata-chan? Kenapa? Kenapa kau meninggalkanku sendirian di sini?" tanya Naruto tak kepada siapa-siapa. Karena memang di sana tidak ada siapa-siapa. Punggung tangannya terus berusaha menyeka kedua sisi matanya hingga kering.

Pria itu masih terus berusaha untuk menata emosinya dan berhenti menangis saat tiba-tiba saja ia merasa ada beban bertambah di punggungnya, seperti ada yang menyandarkan tubuh padanya, dan sepasang tangan ramping berwarna putih pucat mengalung di lehernya. Ia merasa ada yang tengah memeluknya dari belakang.

'Aku di sini, Naruto-kun. Selalu di sini. Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Selamanya. Karena itu, berhentilah menangis. Tersenyumlah, Naruto-kun, demi aku...'

Naruto terkesiap ketika mendengar suara itu persis di samping telinganya. Refleks, ia langsung menoleh ke belakang. Tapi ia tak menemukan siapa pun di sana. Hanya ada pepohonan pinus yang saling bergesekan karena tertiup angin. Untuk sesaat, Naruto hanya bisa terdiam sebelum akhirnya ia tersenyum cerah.

Sampai kapan pun, Naruto tak akan pernah melupakan suara itu. Suara yang sudah menemaninya selama tiga belas tahun. Suara yang selalu memanggilnya dengan nada yang lembut. Suara milik seorang malaikat berparas manis bersurai indigo bernama Hinata. Seorang malaikat yang sangat ia cintai dan mencintainya.

'Hinata-chan...'

Aah, ternyata gadis itu berusaha menepati janjinya. Janji untuk selalu bersama dengannya. Meski maut memisahkan mereka. Meski mereka sudah berbeda dunia. Meski mereka terpisah semakin jauh.

Kini, Naruto merasa lebih baik entah kenapa. Mendengar suara Hinata kembali bagaikan obat ampuh baginya. Pria bersurai blonde itu kini merasa bisa melayangkan senyum cerahnya kembali dan bukannya senyuman palsu seperti yang selalu ia berikan setelah kematian gadis manis itu. Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun terakhir, ia memasang senyuman cerahnya sebelum akhirnya ia berjalan kembali menuju desa. Meninggalkan gundukan tanah kosong itu bersama figur sesosok gadis bergaun putih sepanjang lutut bersurai indigo tak kasat mata yang kini tengah tersenyum lembut ke arahnya...


"Hinata-chan, kenapa kau selalu tak datang setiap malam Halloween dan Natal? Bisakah untuk tahun-tahun ke depannya kau menemaniku melewati malam-malam itu? Di sini?" tanya Naruto dengan wajah penuh harap dari balik sofa hijau tua yang sudah jelek dan lusuh. Ia menoleh pada Hinata di belakangnya yang kini tengah bersiap-siap untuk pulang kembali ke Gunung Olimpus.

"E-eh, Umm, aduh, bagaimana menjelaskannya ya? Ini... rumit. Meskipun aku mengatakan alasannya, mungkin Naruto-kun tak akan mengerti. Tapi, tahun ini, kuusahakan untuk datang dan menemanimu." Hinata tersenyum lembut pada remaja bersurai blonde itu.

Ia agak bingung menjelaskan alasan kenapa ia tak bisa datang mengunjunginya pada dua hari istimewa itu. Tak mungkin ia berkata bahwa pada dua hari itu segel para Titan melemah dan makhluk sialan itu bisa menyerang Olimpus kapan saja bukan? Pada akhirnya Naruto tak akan mengerti...

"Aku benar-benar kesepian karena kau tak datang setiap tahunnya di hari itu, Hinata-chan. Janji ya kau akan datang tahun ini?"

Hinata tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ya. Aku janji."


El Fin


Ketika sebuah ikatan terbentuk, maka ikatan itu akan bertahan selamanya di dalam hati dan tak akan pernah lenyap, hancur, maupun terputus karena dimakan waktu. Bahkan ikatan itu masih akan ada meski sang pemegang ikatan telah terpisah jauh karena perbedaan dunia...


Glossary for this chap::

Hades= Dewa yang mengatur dunia bawah, atau mengatur neraka, dikatakan sebagai saudara Zeus dan Poseidon.

Poseidon= Dewa laut, dalam mitologi Romawi, lebih dikenal dengan nama Neptunus. Bersaudara dengan Zeus dan Hades.

Titan= para penguasa bumi sebelum para dewa-dewi ada. Mereka terlibat perang besar dengan para dewa-dewi Olimpus yang disebut Titanomakhia. Pada perang ini, para Titan kalah dan dibuang ke Tartaros. (Source: Wikipedia)

dalam cerita ini, kami lebih ngambil mitologi yang versi film 'Hercules'-nya Disney. Di situ para Titan disegel 'kan? (yang suka nonton film Disney Insya Allah tahu) dan di film itu juga, para Titan-nya terlepas dari segel pas kelima planet berjejer dalam satu garis. Peristiwa planet berjejer itu kalo nggak salah terjadi sekitar 20 ribu tahun sekali. Lama ya? ^^

Yah, akhirnya selesailah fic collab ini, yang bikin glossary-nya (lagi-lagi) si Arthur a. k. a Suzuka, sahabat Ri, bukan Ri oke? Makanya agak gimana gitu... ^^ #woi

Balasan Review :

namikaze nakato : Ehehe, makasih buat review-nya ya~ iya nih, si Arthur a. k. a Suzuka itu gaya nulisnya gitu, jadi yah, begitulah. Kalo buat chapter 2, kayaknya udah nggak bisa (baca: males) dirombak lagi, soalnya udah lama selesai. Nanti kalo collab lagi diusahakan diperbanyak :)

suka snsd : Salam kenal juga! Ahaha, iya nih, masih middle sih, jadinya gitu deh. Nanti kalo collab lagi, akan diusahakan diperbaiki. Thanks for review the previous chap :D

Syeren : Makasih :D nggak tau deh, angst-nya bakal ngena apa nggak. Ahaha, terserah pendapatnya reader deh. Di chapter ini dijelasin kok, selamat baca :D

ika chan : ini udah update, makasih review-nya ya :)

Han Yessie3424 : makasih review-nya~ ini udah update :D ada kok :)

Kuro Tenma : nggak kok, dia masih pulang ke Olimpus. Tapi jadi pulang pergi ke apartemen Naru. Gak apa-apa kok, kami gak keberatan. Ini udah update, salam kenal juga ya :D

Himetaou Ai : belum, di chapter ini baru ada, entah ngena apa nggak angst-nya *pundung* pertanyaannya dijawab di atas ya. Selamat baca~ ini udah update, makasih review-nya ya :3

dan kami berdua ngucapin terima kasih yang sedalam-dalamnya, sebesar-besarnya buat yang udah baca, review, fav, atau pun alert. Thank you so much, guys :D

Pokoknya, Ri sama Arthur atau Suzuka atau terserah reader mau manggil apa, minta review-nya ya...

Salam NHL:

Asuna no Riisuka

Arthur no Suzuka Aneue