~Be A Good Princess~
~Genre: Romance, Drama~
~Pair: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~
~Disclaimer: Tite Kubo~
Dua roti cokelat sudah berada di tanganku sekarang. Sayangnya bel istirahat pertama sudah berbunyi, sehingga kami harus kembali ke kelas masing-masing. Aku bisa melihat geng perempuan itu. Tidak diragukan lagi kalau para laki-laki akan melihat mereka sampai terpesona. Begitu juga dengan... Kaien. Bodoh sekali dia melihat para gadis itu seakan mereka akan menjadi calon tunangannya di masa depan, setelah ia bosan padaku dan mencampakkanku begitu saja. Hello, calon tunanganmu di sini, Kaien. Aku tepat berdiri di sini beberapa meter darimu, dan bahkan kau tidak menyadari keberadaanku. Aku hanya bisa mendengus kesal.
Guru di kelasku keluar setelah ia memberi tugas pada kami. Dan tanpa hitungan detik, murid-murid langsung berbicara semau mereka. Kelihatannya prinsip mereka semua sama dengan apa yang kupikirkan sekarang, 'mengobrol di saat tidak ada guru'. Dan itu sudah pasti. Aku membuka buku matematika untuk mengerjakan tugas yang sudah guru itu berikan pada kami. Tetapi setelah aku melihat soalnya, aku tidak yakin apakah aku akan mampu mendapat nilai lebih bagus dari Kaien atau tidak.
"Kenapa? Mabuk melihat soal-soalnya?" Ichigo membuyarkan lamunanku. Ia mencoba menghinaku dengan nada jahilnya. Aku tidak bisa menahannya lagi—aku tersenyum, hampir setengah tertawa. "Inilah dunia SMA, Rukia. Kau harus terbiasa melihat soalnya. Bukan, bukan terbiasa, kau sudah harus bisa mengerjakannya. Sendiri."
"Oh ya? Seingatku aku mabuk hanya pada saat minum anggur. Bukan saat melihat soal matematika seperti ini," aku mengetukkan jari di hadapan soal-soal mengerikan itu. Aku harap bisa sedikit mencontek jawaban Ichigo dengan mengobrol, dan sedikit mengganti topik pembicaraan yang mengarah ke sana.
"Kalau begitu, coba kerjakan dan buat aku terkejut," ujar Ichigo, menantangku sambil sesekali tersenyum menyeringai. Dan itu membuat wajahku panas. Sifat tidak mau kalahku kembali keluar, aku langsung membuka buku dan mengeluarkan alat tulis. Pura-pura membaca soal itu sedikit lama, dan aku harap Ichigo mempunyai sifat tidak sabar, supaya aku bisa selamat tanpa harus mengerjakan soal-soal ini.
"Bagaimana? Butuh bantuan?" tanya Ichigo sambil tertawa.
"Sebentar... beri aku waktu sebentar saja."
Aku kembali memutar otak, memikirkan bagaimana hasil akhir dari soal ini. Dan akan kubuat Ichigo merasa lebih dari sekedar terkejut.
"Selesai," Ichigo menutup soal yang sedang aku kerjakan dengan telapak tangannya yang besar. Aku langsung menggeram padanya.
"Oh! Aku baru saja akan menyelesaikannya, lihat!" aku memperlihatkan lembar kerjaku yang sudah setengah penuh dengan coretan di sana sini. Kuharap Ichigo bisa terkejut. Tapi raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkannya.
"Akan? Lihat, aku sudah menyelesaikannya," kata Ichigo tersenyum penuh kemenangan. Kulihat kertas miliknya sungguh rapi. Coretan tidak banyak, sedikit malah. Kelihatannya ia bahkan lebih jenius dari Kaien. Semua perhitungan sudah ada di luar kepalanya. Dan aku berhasil dibuat terkejut olehnya.
"Ke—kenapa kau bisa secepat ini? Kau pasti menggunakan trik atau semacamnya, ya? Tidak ada manusia yang bisa menyelesaikan soal secepat ini," aku menukas. Memperhatikan tulisan-tulisan tangan Ichigo yang tertera di kertas itu.
"Ada," ujar Ichigo, mengambil kertasnya kembali dari tanganku. "Aku tidak menggunakan trik atau semacamnya, ini hanyalah masalah rajin belajar atau tidak."
"Rajin belajar? Oh, aku harap itu tidak harus dialami olehku. Ini, ini sangat menyebalkan," aku melipat kedua tanganku di depan dada. Memalingkan wajah menghadap tembok di samping kiriku.
"Tentu saja itu dialami semua orang, Rukia. Bahkan oleh kakekmu sendiri. Itu adalah salahmu kenapa tidak mau sekolah dari dulu. Jika umur semakin tua, pelajaran yang akan diterima pun semakin sulit. Kau harus mengerti itu," Ichigo mengerjakan kembali soal yang kedua.
"Oke, oke, sekarang maukah kau mengajariku? Selagi tidak ada guru di sini."
"Memangnya aku gurumu?" tanya Ichigo dengan nada tidak menyenangkan. "Kau seharusnya lebih mendengarkan guru daripada murid lain."
"Kenapa? Kau tidak suka? Guru itu pintar dan kupikir kau hampir menyamainya. Oh, oh, aku mengerti. Berarti kau tidak mau kupanggil murid jenius? Jadi, kau harus kupanggil apa, ya?" aku terus berkata sambil memutar bola mata ke langit-langit kelas, dan menempelkan jari telunjukku ke dagu. "Oke, kau kupanggil—" dengan cepat Ichigo langsung membungkam mulutku dengan tangannya.
"Panggil aku Ichigo, dan sekarang perhatikanlah jika kau ingin mendapat nilai bagus," cetusnya sedikit gusar. Aku tertawa geli melihat tampangnya. Terlihat dari wajahnya kalau ia tidak suka atau sama sekali tidak pernah diejek. Atau mungkin ia hanya ingin menjaga imejnya.
(*)(*)(*)
Saat bel istirahat kedua berbunyi, aku langsung keluar dari kelas lagi. Mencari tempat enak untuk memakan dua roti ini. Sayangnya, karena perut lapar ini, semua penjelasan yang sudah diterangi mati-matian oleh Ichigo tidak masuk semua ke otakku. Aku cukup kasihan padanya, walaupun sebenarnya aku sudah tidak bisa menyembunyikan senyumku saat melihatnya menjelaskan seperti seorang guru les privat. Tapi, kelihatannya ia tidak senang jika kupanggil 'guru'. Ada apa memang? Apakah dengan sebutan 'guru' itu membuatnya terlihat tua? Mungkin aku nanti akan mentraktirnya sesuatu supaya itu membuatnya merasa baikan.
Aku memasuki sebuah lapangan luas, penuh dengan pohon-pohon rimbun, dan sinar matahari yang menyengat para murid yang sedang bermain basket di sana. Whoa, ini tempat yang sangat bagus, pikirku. Aku langsung berjalan ke sebuah kursi kayu, tepatnya di bawah pohon rimbun. Aku sudah tidak sabar membayangi diriku duduk di sana sambil menyantap roti-roti ini.
"Hai, Rukia," seseorang menyapaku saat aku baru menggigit kecil roti bulat ini.
"Kaien," aku mendongakkan kepala untuk melihat siapa orang tinggi yang menghalangi sinar matahari seperti gerhana. "Duduklah, masih banyak tempat untukmu," aku menggeser bokong, menyisakan beberapa tempat yang pasti muat untuk ia duduki.
"Thanks. Bagaimana sekolah di hari pertamamu ini, ngomong-ngomong?" ia membuka pertanyaan, tapi aku menunjuk mulutku yang sedang penuh dengan roti. Kaien mengangguk mengerti, aku langsung cepat-cepat mengunyah, supaya bisa menjawab pertanyaannya.
"Uhm... cukup," aku mengelap cokelat yang melumuri sudut bibirku dengan punggung lengan. "Yeah, maksudku, cukup menyenangkan, ya tentu."
"Cukup menyenangkan," Kaien mengulangi. "Kau tentu tidak lupa dengan perkataanku, kan?"
Aku menekuk sebelah alis, membiarkan Kaien mengambil roti milikku dan melahapnya. Aku melihat bagaimana ia melakukan tingkah 'mengelap sisa makanan yang tertinggal di bibirnya dengan serbet'.
"Oh, maaf," aku tertawa ke arahnya. "Aku lupa membawa serbet. Dan kukira aku tidak akan makan makanan yang penuh dengan... cokelat," aku menatap rotiku yang tinggal setengah. Kaien kemudian melemparkan serbet putih miliknya padaku.
"Bawalah ini. Jika nanti kau makan sampai lahap, gunakanlah serbet. Dan jangan menggunakan tangan atau lengan, itu yang kukatakan, bukan?" ujarnya sambil tersenyum ke arahku.
"Yeah, well thanks," setelah Kaien memberi salam perpisahan dengan menepuk-nepuk kepalaku, ia beranjak berdiri dan berniat akan pergi saat aku memanggilnya kembali.
"Kau tidak mau menemaniku di sini? Ayolah, sesekali menemani calon tunanganmu di bawah pohon rimbun, menikmati roti isi cokelat ini, dan, dan," perkataanku terpotong saat Kaien mendekatkan wajahnya padaku.
"Maaf, Rukia. Ada sesuatu yang harus kulakukan. Tenang saja, kita mempunyai banyak waktu berdua saat di rumah, oke? Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik," setelah menyelesaikan perkataannya, Kaien melenggang pergi dari lapangan, meninggalkanku sendiri bersama roti coklat ini. Dan juga beberapa anak basket.
"Kau selalu saja begitu."
(*)(*)(*)
"Bagaimana? Punya acara malam ini?"
Aku memasukkan buku serta seluruh alat tulisku ke dalam tas. "Kenapa? Mau mengajakku kencan, makan malam, atau sebagainya?"
"Well," Ichigo menukas, sambil menggaruk belakang lehernya. "Kita anggap saja ini sebagai reuni. Kau tahu, kita sudah bertahun-tahun tidak bertemu, bukankah reuni akan sangat menyenangkan?"
"Menyenangkan, ya?" aku berjalan mendahuluinya. "Baiklah, di mana?"
"Berikan saja nomor ponselmu dan aku akan memberitahu alamatnya."
"Uhm, sebenarnya," aku sedikit mendeham. Aku ingin mengatakan pada Ichigo kalau aku tidak mempunyai ponsel, tetapi aku malah berbohong. "Kau tahu, bagi seorang putri kerajaan, aku tidak memerlukan ponsel," aku mengibas-ngibaskan tangan ke depan. Ichigo sedikit menekuk alisnya pertanda bingung. "Oh, bilang saja kau tidak tahu cara memakainya."
Aku mengedikkan bahu. "Ini aku berikan nomor rumah saja."
Aku menulis beberapa nomor di tangannya. "Oke, jam berapa?" aku memasukkan pulpen favoritku ke saku rok.
"Nanti aku beri tahu. Kau pulanglah, Kaien pasti akan khawatir mencarimu ke mana-mana," ujar Ichigo mengangkat tasnya dan diselempangkan di bahu. Aku bisa melihat nomor rumahku yang terukir di tangan kirinya.
Aku keluar dari kelas saat para murid sudah pulang ke rumahnya. Iya, sebagian. Sebelum pulang, aku memutuskan untuk mengecek lokerku. Entah apa yang harus aku cek ke sana, tapi aku merasa saja kalau ini harus dilakukan.
"Apa yang kulakukan?" aku bertanya pada diriku sendiri saat melihat bayanganku di cermin kecil berbentuk persegi yang kupasang di sudut loker. "Oh, bagus," ucapku sarkastis. "Sekarang aku sudah gila karena berbicara pada bayangan sendiri. Tepatnya, diriku sendiri," aku menarik dengan kasar kunci lokerku. Lalu, berjalan memutuskan untuk pulang ke rumah. Tapi, di koridor aku melihat geng perempuan itu lagi. Mereka tertawa begitu kencang, sampai-sampai aku merasa langit bisa runtuh karena tawanya. Mereka terlihat menyebalkan di mataku. Aku rasa aku harus memberinya sedikit pelajaran.
Aku lewat di samping mereka. Gadis yang bernama Riruka itu sedang lahap memakan donat yang berhiaskan gula putih di atasnya. Aku sedikit melirik dari atas bahunya. Saat donat itu masuk ke mulut, aku dengan sengaja menabrakkan lenganku ke bahunya. Tanpa hitungan detik, aku langsung berlari, bisa kudengar para gadis itu berteriak-teriak marah, memanggil-manggilku dengan sebutan 'pendek', tapi aku tidak menghiraukannya.
Mereka tidak akan menemukanku di sini, mereka tidak akan menemukanku di sini, aku terus mengucapkan kata-kata itu di dalam benakku. Kamar mandi laki-laki adalah tempat yang paling aman untuk bersembunyi. Aku yakin tidak akan ada lagi murid laki-laki yang akan masuk ke dalam toilet. Sekolah ini sudah sepi. Aku mengintip dari pintu, mereka tidak ada di sana. Aman, aku menghembuskan napas lega. Aku kemudian keluar dengan perlahan, mencoba untuk tidak membuat suara apa pun saat aku berjalan.
"Well, well, well," sebuah nada suara yang panjang dan tidak mengenakkan, menggema di telingaku. Mereka ada di sana, melihatku yang sedang mencoba untuk kabur ini.
"Manis sekali bukan, kalau ternyata cewek pendek yang menyebalkan ini adalah putri kerajaan Kuchiki," Riruka berbicara pada teman-temannya. "Iya, kan, Kuchiki Rukia?" tanyanya sambil menunjukkan pulpen favoritku yang terdapat label namaku di situ. Ternyata pulpenku jatuh dan aku tidak menyadarinya.
"Oh, ya," aku berusaha untuk tetap tegar dan tidak ketakutan. "Memangnya kenapa? Kau iri?"
Riruka kemudian membuat suara tawa mengejek. Lalu tiba-tiba berjalan ke arahku dengan kecepatan yang tidak wajar. "Oh, jadi kau merasa dirimu lebih cantik dan lebih kaya dariku? Mari kita buktikan," Riruka langsung menjambak kasar rambut hitamku. Aku tidak bisa melawan, kalian lihat saja ada berapa orang yang memaksaku masuk ke dalam kamar mandi wanita. Tiga, oke, ditambah oleh Riruka sendiri, menjadi empat orang. Ah, bukankah geng ini berjumlah lima? Ke mana satu orang lagi?
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Riruka bertanya pada teman-temannya yang mengelilingiku. Aku berdiri di tengah-tengah mereka sambil memasang tatapan tajam.
"Oh, lihat si kecil ini, dia memasang tatapan menyeramkan. Ah, aku takut, aku takut," seorang cewek berbicara dengan nada yang dibuat-buat olehnya sendiri. Dan itu membuatku jijik.
"Oke, hentikan itu, Haineko. Bagaimana jika kita suguhkan ia air minum? Bukankah itu akan sangat menarik?" usul yang lain.
Aku tidak mengerti apa yang ia maksud dengan 'suguhkan air minum'. Apakah ini berarti mereka akan mentraktirku air minum, atau apa? Tapi, aku keliru. Mereka bukan akan membelikanku air minum, tetapi menyeretku ke sebuah wastafel. Air di kran menyala dengan deras.
"Hei, hei, mau apa kalian?" tanyaku sambil berusaha melepaskan tangan mereka yang mengait di lenganku.
Riruka tersenyum penuh kemenangan. "Pernahkah kau menonton film Titanic?"
"Oh, tentu sudah. Orang bodoh mana yang belum pernah menontonnya. Apa aku menyinggungmu?"
"Tentu tidak," ia menjawab dengan senyum manis. "Kau pasti melihat, kan bagaimana orang-orang tenggelam di sana bersama dengan kapal yang mewah itu?"
Aku langsung mendapatkan petunjuknya. Pupilku melebar. "Oh, aku tahu apa maksudmu. Jangan berani-beraninya berbuat seperti itu padaku."
"Lihatlah, putri kecil kita ketakutan," perempuan itu tertawa keras. "Nah, sekarang, mari kita lihat reaksimu saat wajahmu ditenggelamkan di sini!"
Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi sekarang. Yang kutahu hanyalah, kepalaku didorong dengan kencang oleh perempuan itu, ke dalam wastafel yang sudah penuh dengan air. Aku berusaha menahan napas sekuat-kuatnya. Aku memberontak dengan cara menendang-nendang lemari di bawah wastafel itu dengan kakiku.
"Hentikan, Riruka," aku samar-samar mendengar sebuah suara perempuan dari arah pintu. Dan suara itu menyelamatkanku. Kepalaku kembali ditarik keluar oleh mereka. Mataku masih sangat sakit untuk dibuka, aku berusaha mengeringkan rambutku dengan seragam.
"Kalau kau tidak suka, lebih baik jangan mengganggu, Hinamori."
"Jika kita ketahuan melukai putri kerajaan, resikonya akan sangat besar. Kau tidak mengerti, ya, Riruka?"
Aku masih duduk di lantai keramik kamar mandi. Sambil sesekali batuk karena kemasukan air. Sayup-sayup aku mendengar pertengkaran para gadis modern dance itu. Aku tidak tahu apakah ada seseorang yang sedang membelaku atau apa, tetapi aku benar-benar berterima kasih padanya.
"Sudah, lebih baik kita pergi saja dari sini. Oh, iya, ucapkan terima kasihku pada pulpen ini, karena ia sangat membantu," kata Riruka sarkastis, sambil melempar pulpen favoritku ke lantai. Tutupnya retak. Bagus sekali, inilah akibatnya jika mempunyai pulpen favorit.
Aku berkaca di cermin. Rambut hitamku basah dan sekarang semakin terlihat mengilap karena air. Aku sesekali mengelap rambutku dengan seragam. Yeah, oke, skor sama untuk kami. Aku masih berkaca cukup lama di cermin, sampai kemudian datang seseorang ke dalam kamar mandi ini.
"Rukia? Apa yang—kenapa badanmu basah kuyup?" tanya Orihime yang baru masuk. Ia menatapku kaget, dari atas sampai ke ujung sepatu.
"Oh, hai, Orihime," aku menyapa. "Badan siapa yang basah kuyup? Bukankah hanya kepalaku?" aku bertanya balik sambil menggelengkan kepala. Air berceceran di sana-sini.
"Kau kenapa, Rukia?" tanya Orihime khawatir. Ia menghampiriku dengan saputangan miliknya. Memberikan saputangan itu padaku, dan melihatku mengelap wajahku yang masih basah.
"Tidak apa-apa. Lagipula, kenapa kau masih ada di sini?"
"Aku ada tugas piket, dan aku harus membersihkan kelas dan segala macam," jawab Orihime. "Ceritakan yang sebenarnya padaku, Rukia. Apa yang kau lakukan?"
"Yah, beberapa anak menjahiliku dengan pistol air mereka. Dan, yah, kau tahu selanjutnya, aku... aku basah kuyup," jawabku tergagap-gagap. Kebohongan ini membuat tenggorokanku serak, aku segera menelan ludah cepat-cepat.
Orihime menatapku dengan tatapan tidak percaya, ia tahu aku berbohong. "Oh, Rukia. Di mana-mana tidak ada sekolah yang mengizinkan muridnya membawa pistol air."
"Benarkah? Kalau begitu kita ubah sekolah ini menjadi pantai umum," ucapku setengah tertawa. Kuharap Orihime bisa ikut terbawa suasana, tetapi tidak ada gelak tawa atau semacamnya yang keluar dari mulutnya.
"Tolong jangan berbohong, Rukia. Aku mohon, ini juga demi kebaikanmu. Tenang, aku tidak akan membocorkannya pada siapa pun. Aku sahabatmu sekarang," Orihime terus memaksaku mengatakan yang sebenarnya. Ia memegang kedua pundakku yang basah.
"Oke, aku mengganggu geng cewek itu, dan mereka menenggelamkan kepalaku di wastafel," aku mengangkat kedua alis. "Itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaanmu?"
Orihime tiba-tiba menggelengkan kepalanya, seperti orang frustasi. "Rukia, kau seharusnya tidak mengganggu mereka. Memangnya apa yang mereka lakukan sampai kau mengganggunya?"
"Oh, maaf Orihime, itu HARUS. Entahlah, tapi mereka membuatku kesal saja, mereka hanya mengganggu pemandangan. Dan cara berbicara mereka sungguh membuatku muak. Oh, ya, kau merasa lebih cantik dariku? Oh, ya, kau merasa lebih cantik dariku?" aku menirukan gaya suara mereka dengan mulut yang sedikit dimajukan. Orihime tersenyum miris.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang."
Aku membuat tanda penolakan dengan cara menggelengkan kepala dan berkata, "tidak perlu. Terima kasih. Tenang saja, mereka tidak akan bisa melukaiku lagi."
Orihime awalnya terlihat ragu untuk sementara. Sifatnya yang baik dan lugu berhasil membuatku ingin menjadi temannya. Dan mungkin ia AKAN menjadi sahabatku yang paling baik di sekolah ini. Aku membuka pintu rumah yang besar dan menjulang tinggi. Para pelayan, baik perempuan maupun laki-laki, menyambutku di ruang tamu. Aku langsung berjalan ke kamarku setelah melempar tasku sembarangan ke atas sofa.
Sebelum berhasil menyelamatkan diri dengan masuk ke kamar, Kaien berdeham, dan itu berhasil membuatku terlonjak kaget.
"Apa?" tanyaku ketus.
Kaien menunjuk Kakek dengan pupil hitamnya, ia sedang duduk di sofa. "Oh," ujarku. "Kek, aku pulang."
"Rukia," Kakekku memanggil. "Kaien akan mengajarimu untuk memasak hari ini. Dan—"
"Apa? Masak? Kakek, aku—apa aku tidak salah dengar?" tanyaku sambil memperhatikan wajah Kakek, lalu berpaling ke Kaien yang sedang berdiri dengan sopan di belakangnya, lalu kembali ke Kakek.
"Tidak. Perempuan harus bisa memasak, Rukia. Kau tidak selamanya harus dilayani, kan?"
"Tidak," jawabku mantap, tetapi Kaien langsung memberi tatapan melotot ke arahku. "Maksudku, iya."
"Bagus," Kakek tersenyum. "Kaien, tolong bimbing Rukia. Dan aku harap ia sudah bisa memasak sendiri nanti."
"Baik," jawab Kaien. Aku langsung pergi dari hadapan mereka berdua, membanting pintu kamarku cukup keras, dan langsung merebahkan tubuhku ke atas ranjang. Apa-apaan sebenarnya yang dipikirkan Kakek? Sudah menyuruhku untuk sekolah, sekarang harus belajar memasak. Lalu, nanti apa? Menata rambutku sampai bergelombang? Belajar tarian waltz? Ini gila.
"Rukia," Kaien memanggil, membuka pintu dengan perlahan. Aku langsung cepat-cepat membalikkan tubuh, menutup mata, berpura-pura untuk tidur. Dapat kurasakan langkah kakinya yang menuju ke tempat tidurku. Tiba-tiba semua suara yang ada di sini berhenti, kecuali hembusan napasku sendiri. Apakah ia mengetahui kalau aku sudah tertidur dan ia keluar dari sini?
"Rukia," panggil Kaien lagi dengan nada menggoda, dan kemudian bisa kurasakan jari-jarinya menggelitik leherku. Aku tidak bisa menahannya lagi, aku langsung tertawa kencang sambil menepis tangannya. "Kau berencana untuk menipuku? Tapi, tidak akan ada manusia yang bisa tidur secepat itu, kau tahu."
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya keras. "Mau apa kau ke sini?" tanyaku ketus, sambil melipat tangan di depan dada.
"Mengajarimu memasak," jawabnya santai.
"Nanti saja," aku membungkam wajahku sendiri di bantal. "Aku sedang tidak mood."
Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Kaien lagi. Tapi aku memang sudah benar-benar lelah, dan tidak mau melakukan apa-apa selain tidur di sini. Keheningan melanda ruangan ini untuk sesaat. Benakku berpacu untuk melihat apakah ia sudah keluar dari sini atau belum. Tapi, ternyata ia malah menjentikkan jarinya, dan tiba-tiba para pelayan muncul dari dalam kamarku.
"A—apa yang kalian lakukan di sini?" tanyaku sambil melempar-lempar bantal ke mereka.
"Yang Mulia yang menyuruh kami untuk diam di sini jika Anda melakukan hal yang aneh-aneh."
"Oh ya! Kalau begitu katakan pada Yang Mulia kalian untuk jangan pernah mengutip aku lagi!"
Tiba-tiba semuanya diam, memandangku dengan berbagai macam variasi, begitu juga Kaien. Ia menaikkan kedua alisnya, bibirnya hampir menyunggingkan tawa. Aku langsung bertanya, "apa? Kenapa mereka melihatku seperti itu?"
"Yang Mulia itu adalah kakekmu, Rukia," seru Kaien.
"Begitukah?" aku langsung diam membeku. Mencari-cari bantal untuk aku remas. "Sejak kapan kakek mendapatkan gelar itu?"
"Empat puluh tiga tahun yang lalu."
"Oh," aku menunduk, aku yakin sekarang rona merah sudah ada di pipiku karena malu. Tiba-tiba Kaien menyuruh para pelayan itu untuk mengambilkanku baju ganti.
"Hei! Sudah kubilang aku tidak mau melakukannya sekarang!"
"Itu adalah perintah Yang Mulia," kata Kaien sambil melenggang pergi dari kamarku.
~TO BE CONTINUED~
Review reply:
Pertama dari nenk rukiakate, iya, ini story baru tapi maaf kalo baru di-update sekarang T.T. Yap, makasih Reviewnya ya~! ^^
Kedua dari BlackRed, iya nih bro =.= tapi baru sempet di-update sekarang. Ehm, lima belas kalo gak salah *lho? Iya, Ichigo itu temen masa kecilnya. Yap, makasih Reviewnya ya~! ^^
Ketiga dari Wakamiya Hikaru, huehehe, maaf baru Shizu lanjutkan sekarang XD. Makasih Reviewnya ya~! ^^
Terakhir dari ChappyBerry Lover, waah, gak apa-apa kok :D Maafkan Shizu baru update sekarang, ehehe. Sip, makasih Reviewnya ya~! ^^
*Narik napas, hembuskan pelan*
Yosh para Readers, maafkan saia apabila baru update sekarang *emang ada yg nungguin?* Sebenernya agak ragu juga buat nge-publish fic ini, tapi gak enak kalo fic-nya terus2an nunggak :)
Makasih bagi yg udah memberikan Review di chapter sebelumnya, Shizu sangat menghargai itu T.T Dan semoga untuk chapter kali ini gak terlalu mengecewakan ya. Maaf kalo banyak kesalahan, dari alur gak jelas, typo, dan sebagainya.
Mohon Reviewnya :D dan sampai berjumpa di chapter selanjutnya~!
