~Be A Good Princess~

~Genre: Romance, Drama~

~Pair: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Aku sedang beristirahat di balkon. Pelajaran masak memasak sudah selesai sejak dua jam yang lalu. Aku menghembuskan napas berat setiap kali melihat burung merpati beterbangan mengitari balkon tanpa atap ini. Katanya burung merpati itu adalah hewan yang sangat setia pada pasangannya, bahkan bisa saja mengorbankan apa saja, termasuk nyawa sekalipun. Ha, lagipula kenapa aku malah membahas tentang burung merpati. Kalaupun ada laki-laki yang mempunyai jiwa seperti merpati—setia dan akan mengorbankan apa pun—itu bukan tipeku.

"Putri Rukia," panggil seseorang dari belakang. Aku segera menoleh untuk bertatapan wajah dengan Yoruichi, pelayan yang akrab denganku.

"Hai, Yoruichi. Sedang apa kau berkeliaran di sini? Bukankah harus menyiapkan untuk makan malam nanti?" tanyaku, tapi aku baru teringat kalau nanti malam akan ada acara reuni dengan Ichigo. Jadi, mungkin tidak bisa makan bersama Kaien dan Kakek.

"Semua sudah selesai," jawabnya sambil tersenyum. "Tuan Kaien dan Putri Rukia, kan yang menyelesaikannya."

"Eh? Benarkah?" aku kembali menerawang ke depan. "Setahuku tadi aku hanya melihat Kaien mengaduk-aduk makanannya, dan aku hanya mencicipinya, lalu pergi dari sana."

"Pergi?" tanya Yoruichi setengah tertawa.

"Yeah, aku tidak mau memasak, itu hanya membuatku semakin malas. Lagipula, apakah kau tidak merasa bosan? Setiap hari harus di dapur, membuat makanan untuk orang lain, sementara dirimu sendiri kelaparan."

"Itu sudah suatu kewajiban untuk pelayan, Putri Rukia."

Aku memandang Yoruichi dengan bosan, itulah yang setiap kali dikatakan oleh para pelayan jika aku mempunyai pertanyaan yang sama dan kulontarkan pada mereka. Kami sama-sama diam, menikmati pemandangan langit sore yang sedikit terlihat dari atas balkon ini, dan membiarkan kulitku disapu oleh angin dingin yang lembut.

Aku memandang jam tangan yang terlingkar di pergelangan tangan Yoruichi. "Oh, sudah jam empat sore, baiklah aku pergi dulu."

"Mau ke mana, Putri Rukia?"

"Uh... sekedar jalan-jalan, mungkin. Yah, kau pasti tahu apa yang dibutuhkan oleh anak sekolah sepertiku. Cuci mata di luar, dan sebagainya," aku mengangkat tangan kanan. Meninggalkan Yoruichi sendirian di balkon.

(*)(*)(*)

Kebetulan saat aku masuk ke kamar, telepon berbunyi. Aku segera meraihnya dengan cepat, dalam hati berharap itu adalah Ichigo yang menelepon. Dan ternyata memang benar, suara bass-nya menyeruak ke telingaku. Aku menyambutnya lebih dulu dengan kata, "Halo."

"Rukia? Ini—"

"Iya, ini aku, bodoh."

Bisa kudengar ia menghela napas berat di seberang sana. "Kau berbicara pada siapa?"

Aku tahu Ichigo sedang berusaha mengalihkan pembicaraan, karena ia memang tidak mau diejek. Aku tertawa. "Kau. Memangnya siapa lagi yang sedang berbicara denganku?"

"Kukira orang lain. Atau mungkin anjing pelacakmu yang tidak sengaja menghabiskan makan siangmu," giliran Ichigo yang berhasil menyindirku.

"Oke, anak pintar, ada perlu apa?" aku berusaha basa-basi sedikit, walaupun sebenarnya aku tahu pembicaraan via telepon ini akan mengarah pada suatu alamat restoran. Dan perkiraanku sekali lagi benar. Ichigo memberitahu ia akan bertemu denganku di sebuah kafe.

"Oke, Waverly Street 42," aku mengulangi. "Jam lima sore."

"Apakah waktu satu jam cukup untukmu berdandan?" tanya Ichigo. Dan bisa kubayangkan ia sedang tersenyum jahil sekarang.

"Ketahuilah, Ichigo, aku tidak perlu berdandan. Lagipula itu seharusnya pertanyaanku. Hebat juga, ya kau bisa membaca pikiranku," aku memujinya. Aku ingin melihat reaksinya, apakah ia akan menjadi besar kepala kalau kupuji atau biasa saja?

"Baiklah." Ada sedikit jeda di percakapan kami. Aku menunggu perkataan selanjutnya dari Ichigo, karena sekarang tidak ada yang ingin kukatakan lagi padanya. Aku melilitkan jari telunjukku di kabel telepon.

"Jadi," aku tersentak saat Ichigo mengagetkanku dengan suara bass-nya. Jariku langsung lepas dari lilitan kabel. "Masih alergi dengan bunga mawar?"

Aku menjawab sedikit tergagap-gagap, "Bagaimana kau tahu? Maksudku, kau mempunyai catatan tentang diriku?"

Ichigo tertawa di seberang sana. "Ingatanku tidak seburuk yang kau kira, Rukia."

Aku cepat-cepat menyelesaikannya, "Baiklah, sampai bertemu nanti." Aku langsung menutup telepon dengan pelan. Bagus, sekarang hanya tinggal membuat alasan yang masuk akal pada Kakek. Satu jam kupakai untuk memikirkan alasan, bukan untuk berdandan. Yeah, lagipula aku memang tidak perlu berdandan.

"Aku pergi dulu," kataku sambil berjalan keluar dari pintu rumah. Kaien tidak ada di mana-mana sekarang, hanya ada Kakek di ruang tamu, mungkin ia sedang beristirahat di kamarnya. Aku memakai sepatuku yang biasa kupakai saat pergi ke sekolah. Aku tidak suka dengan gaya pakaian yang benar-benar seperti ratu. Rok panjang hingga mata kaki, korset yang dipasang di pinggang, dan make up yang berlebihan, sehingga membuatmu terlihat seperti boneka Barbie.

(*)(*)(*)

"Kukira kau akan marah padaku di telepon karena tidak menyukai jenis kafe di tengah jalan seperti ini," Ichigo memilihkan tempat duduk di luar ruangan, kelihatannya ia lebih suka keramaian lalu lalang mobil daripada di dalam.

"Ha," aku sedikit tertawa. "Ternyata ingatanmu memang seburuk yang kukira."

Ichigo membawakan dua mocha untuk kami, dan—entah dari mana—sepiring biskuit.

"Perempuan di counter itu memberiku biskuit-biskuit ini dengan gratis. Dia bilang ini baru saja matang." Mataku memperhatikan ke dalam ruangan, menangkap sosoknya. Perempuan manis, yang menurut perkiraanku masih berumur 20 tahun. Dan dapat kulihat dari caranya 'memberikan biskuit pada Ichigo dengan gratis', bahwa ia menyukai tipikal cowok seperti Ichigo.

Aku merobek bungkusan gula dengan kasar, sehingga beberapa isinya tumpah ke atas meja.

"Jadi," Ichigo memulai pembicaraan saat ia mendudukkan dirinya sendiri di depanku. "Bagaimana menurutmu sekolah barumu ini?"

Aku menyeruput mocha dinginku sesaat, sambil memandanginya memasukkan biskuit itu ke mulutnya. "Lumayan," aku menjauhkan bibirku dari sedotan. "Beberapa hal aku lebih senang di kelas, daripada di luar kelas."

"Maksudmu?"

"Begitulah, saat-saat di kelas lebih menyenangkan daripada di luar. Daripada saat istirahat, atau pulang sekolah," saat mengucapkan itu, aku kembali teringat dengan kejadian tadi siang yang menimpahku. Aku cepat-cepat mengenyahkannya kembali.

Ichigo terlihat bingung. "Oh, jadi kau lebih senang duduk denganku daripada berdua dengan calon tunanganmu di rumah?" ia tersenyum jahil lagi, menggodaku dengan tatapan matanya.

"Kau salah menafsirkan, anak bodoh. Maksudku beberapa anak senang sekali menjahiliku, mungkin karena aku anak baru, atau mungkin karena mereka iri jika posisi mereka direnggut olehku."

"Siapa?"

"Geng perempuan modern dance, kami berkenalan dengan cara yang tidak normal."

"Geng perempuan? Oh, maksudmu Queentrix?"

"Huh? Queen Tricks?"

"Bukan triks, tapi trix," Ichigo membetulkan. "Queentrix."

"Iya, lalu, kau kenal? Aku tidak tahu apa nama geng mereka, dan lagipula aku juga tidak mau mengetahuinya. Namanya saja sudah susah seperti itu, pantas saja Orihime tidak memberitahu padaku," aku kembali menyesap mocha.

"Tidak, aku tidak mengenalnya, hanya mengetahuinya. Mereka memang populer dengan gaya berdansanya yang wow."

"Wow?" aku bertanya. "Saat mulutmu membentuk kata-kata wow, kupikir sedotan ini akan muat jika kumasukkan. Memangnya tarian mereka sampai... apa? Membuat orang bergairah?" aku mengambil satu biskuit.

"Tanyalah pada cowok yang setiap minggu berlangganan majalah playboy. Dan kau akan mengetahuinya," ujar Ichigo memasukkan biskuit ke dalam mocha miliknya, lalu menggigitnya setengah.

"Oke, kupikir kau juga salah satunya," aku menaikkan kedua alisku. Matanya sedikit mengiris tajam, aku cepat-cepat tertawa. Kami dilanda keheningan, sementara mobil-mobil di jalan raya terus melaju tanpa mengurangi kecepatan mereka sama sekali. Aku memperhatikan bintik-bintik cinnamon di mocha milik Ichigo, daritadi ia tidak menyentuh mocha miliknya, tetapi asyik memakan biskuit-biskuit gratis itu, dan sesekali mencelupkannya ke dalam mocha. Karena mocha milikku sudah habis, aku memutuskan untuk merokok.

Tapi, saat rokokku diapit di kedua jariku, Ichigo segera mengambilnya. "Hei," seruku.

"Tidak kukira kau mau mati dengan cara menghisap... barang ini," ia memperhatikan rokok itu dengan tatapan sulit dijelaskan. Seolah sedang melihat sebuah bakteri yang sulit digolongkan apa jenisnya, bahkan oleh profesor sekalipun.

"Apakah sesulit itu bagimu mengucapkan kata rokok?" tanyaku dengan nada jahil, berusaha menyinggungnya. Ichigo memperhatikanku dengan mata amber-nya, lalu menekan ujung rokok yang sudah terbakar itu ke sebuah asbak keramik yang berada di meja kami.

"Sejak kapan kau jadi suka mengotori paru-parumu?" tanya Ichigo dengan tampang sedikit jijik ke arahku, ia menggosok-gosok tangannya ke baju yang dipakainya.

"Baru beberapa hari yang lalu," aku memperhatikan puntung rokok yang sudah padam. "Aku melakukan ini hanya pada saat aku sedang stres, atau semacamnya."

"Oh, begitu. Jadi, jika nanti tugas-tugas sekolah membuatmu frustasi atau apa, kau akan menyerahkannya dengan cara merokok? Dan akan membuat kakekmu menangis tersedu-sedu saat melihatmu mati lebih cepat darinya?"

Aku mengedikkan bahu, "Mungkin itu yang akan kulakukan."

Ichigo memberiku tatapan seolah ia bisa membaca apa yang sedang terjadi padaku. Atau itu memang kebetulan saja. "Kenapa? Kau sedang ada masalah sekarang?"

Tidak menjawab pertanyaan Ichigo, aku mengambil mocha miliknya, dan kuminum sedikit.

"Aku anggap itu sebagai 'iya'. Kenapa, Rukia? Ceritakanlah padaku jika kau mengalami masalah."

"Sifatmu sama seperti Orihime, ya," aku mentertawainya. "Tapi tidak apa-apa. Itu berarti kau mempunyai sifat perhatian pada orang lain yang kau... sayangi." Entah kenapa tiba-tiba kata-kata itu terlontar dari mulutku. Aku cepat-cepat menambahkan, "Iya, masalah sekolah, kau tahu."

Ichigo memandangiku antusias, meminum sedikit mocha miliknya, lalu berkata, "Ceritakanlah. Mungkin aku bisa membantumu."

"Jadi begini, aku—entah kenapa—tidak menyukai para Queen Tricks itu—"

"Queentrix," Ichigo membetulkan lagi.

"Iya, itu, mereka terlihat seperti... entahlah, mengejek Orihime dengan mengatakan kalau dia adalah perempuan konyol dan semacamnya. Dan perkataan yang terlontar dari mulut mereka membuatku kesal, dan di situlah malapetaka terjadi padaku."

"Oh, begitu? Tepatnya malapetaka apa yang mereka berikan padamu, Rukia?"

Aku mengedikkan bahu, "Bukan malapetaka seperti banjir, angin topan, ataupun tsunami. Tapi... um, tenggelam?"

Ichigo mengernyitkan alisnya, badannya yang daritadi dicondongkan ke depan, sekarang sedikit mundur dan bersandar di kursinya. "Apa maksudmu tenggelam? Dan lagipula, kenapa wajahmu terlihat seperti KAU yang sedang bertanya padaku?"

"Aku tidak tahu dari mana harus mulai," ucapku dengan gigi mengertak.

"Pikirkanlah sesukamu. Aku sedang mempunyai banyak waktu sekarang. Jadi, kau tidak perlu khawatir kalau langit akan berubah menjadi gelap, dan aku nanti akan dimarahi jika pulang hingga larut malam."

Aku menghembuskan napas berat dan malas. "Oke, oke. Jadi, saat pulang sekolah aku melihat mereka di koridor. Dan aku merasa kesal setiap kali melihat mereka, tertawa-tawa, bercanda-canda dengan level obrolan mereka yang tinggi, dan sebagainya. Lalu, saat berjalan melewati mereka, aku dengan sengaja menubrukkan lenganku ke bahu, uhm... Dokugamine Riruka. Mereka langsung marah, dan—"

"Kenapa kau sengaja melakukannya, bodoh? Kau tahu kekesalanmu tidak akan menghilang begitu saja kalau kau sudah puas menubrukkan badan berapa kali pun pada mereka," Ichigo memotong, sambil menekuk alisnya, pertanda tidak suka dengan caraku melakukan hal ini.

"Dengarkan ceritaku sampai selesai," aku berseru. "Jadi setelah itu mereka mengejarku, dan saat aku berusaha kabur setelah bersembunyi di toilet pria, mereka menemukanku."

"Ouch," Ichigo menunjukkan ekspresi seperti kesakitan di wajahnya.

"Yeah, ouch. Lalu, mereka menyeretku ke toilet wanita, dan—di sini kita menggunakan kata menenggelamkan yang berarti kepalaku dimasukkan secara paksa ke dalam wastafel. Selesai," kataku ringan. Tetapi tampang Ichigo sama sekali tidak meringankan bebanku, ia malah semakin menekuk kedua alisnya ke bawah, membuatku merasa ngeri melihat wajahnya.

"Mereka memasukkan kepalamu ke dalam wastafel yang penuh dengan air, begitu? Fantastik sekali," Ichigo berbicara dengan nada sarkasme.

"Yeah, jadi?"

"Jadi," ia menukas. "Itu adalah perbuatan bodoh yang pernah kudengar."

"Lalu?" aku menaikkan kedua alis. "Memangnya perbuatan bodoh apa lagi yang pernah kau dengar selain yang satu ini?"

"Dengar, Rukia," ia mengabaikan pertanyaanku. "Jika kau membenci mereka, jangan mencari masalah dengan cara seperti itu. Abaikanlah. Mereka tidak melakukan apa-apa padamu, kan?"

"Oh, well, memang tidak. Tetapi mereka mengejek sahabatku."

Ichigo diam saat perkataanku selesai. "Inoue maksudmu?"

"Iya. Kau kenal dengannya juga? Kupikir ia anak yang kurang pergaulan atau semacamnya, sehingga ia tidak terlalu populer di antara teman sekelasnya."

"Dia temanku saat masih kecil. Tapi, yang jadi permasalahan bukan itu sekarang. Inoue memang anak yang lugu dan terlalu konyol jika boleh kubilang begitu."

"Oh ya, kau memang mengatakannya," ucapku memalingkan mata dari wajahnya.

"Sebenarnya, dia juga mantan anggota Queentrix itu."

Perkataan Ichigo nyaris membuatku menghantam kaki kursi dengan sepatuku. "Bagaimana bisa? Jadi... jadi selama ini aku berteman dengan salah satu anggota, tepatnya, mantan anggota geng perempuan menyebalkan itu?" aku mengangkat tangan kananku ke atas. Beberapa orang di meja tetangga melihat ke meja kami karena suaraku yang terlalu menggelegar.

"Jangan katakan 'selama ini', kau berteman dengannya baru... beberapa jam yang lalu, bukan?"

Aku memandangnya gusar. "Oh, terserah apa katamu, anak pintar. Tapi, bagaimana ceritanya Orihime yang baik dan cantik itu bisa menjadi anggota geng perempuan menyebalkan seperti iblis itu?"

"Jangan tanya padaku," Ichigo mengaduk-aduk mocha-nya dengan sedotan. "Tanyalah pada orangnya. Aku mengetahuinya berkat gossip yang tersebar."

Oh, bagus. Sekarang teman masa kecilku yang satu ini, yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dan dipertemukan kembali secara tidak sengaja di sebuah sekolah, tepatnya satu meja dua kursi, berubah menjadi seorang tukang gossip. "Jadi, mereka hanya kudiamkan begitu saja jika aku sedang kesal?"

"Tendang bantalmu, itu akan sedikit berguna," jawab Ichigo santai.

Aku berdecak kesal, sambil setengah tertawa juga. "Baiklah tukang gossip, terima kasih atas nasehatnya."

"Baguslah, dengan begitu kau tidak perlu ditenangkan oleh rokok. Lain kali cerita saja padaku jika ada sesuatu yang membuatmu gundah gulana. Aku akan membantumu sebisaku."

"Baiklah," sahutku.

(*)(*)(*)

Kami sedang berdiri di trotoar, tepatnya sedikit mundur agar tidak terkena risiko saling adu tubruk oleh orang yang berjalan di sekitar sini. Aku sedang menunggu taksi, dan beberapa kali menolak tawaran Ichigo yang ingin mengantarku pulang. Tapi, sebelum pulang juga, ada sesuatu yang membuatku teringat kembali. Sebuah pertanyaan dariku yang sampai sekarang belum Ichigo jawab. Jadi, sebelum aku lupa, lebih baik kutanyakan sekarang.

"Kenapa kau tidak menyukai Kaien?" aku bahkan tidak berbasa-basi dulu padanya seperti di telepon tadi. Ichigo diam untuk sementara, kelihatannya pertanyaanku terlalu mendadak, sehingga aku harus mengulanginya lagi.

"Yang kau bilang padaku di kelas—"

"Aku tahu," sikapnya yang terbiasa memotong pembicaraan orang lain membuatku sedikit kesal. "Itu karena... sifatnya terhadap cewek lain."

"Maksudmu?"

"Mungkin boleh kukatakan di sini, kalau dia terlihat seperti seorang cowok yang... uhm, playboy," jawab Ichigo, terlihat ragu untuk mengatakannya, mungkin ia takut melukai perasaanku atau apa, tapi aku malah mentertawainya.

"Oh, jadi 'cewek lain' yang kau maksud itu adalah 'aku'. Dan kau mengatakan kalau Kaien itu bersifat playboy? Lucu sekali."

"Jangan tersinggung, Rukia. Mungkin kau tidak mengetahuinya karena kau tidak pernah melihat apa yang ia lakukan selama kau belum bersekolah. Dia memang kebetulan bersekolah di sini, sama sepertiku, sepertimu sekarang, dan terkadang aku melihatnya sedang bersama cewek lain."

"Oh, ya? Kau sedang melihatnya bersama cewek lain? Itu hal yang wajar bukan, sebagai murid sekolah yang giat belajar. Kecuali jika kau menambahkan kata berduaan," sahutku menatap ke jalan raya.

"Memang itu yang akan kukatakan."

Aku langsung tersentak. Bisa kurasakan mataku melebar sekarang. Aku sedikit mengepal tanganku erat-erat, darah berdesir kencang di kepalaku. "Kau tidak sedang bercanda, kan?"

Ichigo menatapku dengan tatapan sendu dari atas bahunya. Kelihatannya berusaha menjaga nada suaranya agar tidak menyakitiku, dan aku benar-benar tidak bisa tertawa sekarang.

"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sakit hati atau apa, tetapi memang inilah kenyataan yang biasa kulihat saat di sekolah. Dan, dan, aku memberitahu padamu karena kau yang memaksaku. Sebagai sahabatmu pun aku tidak akan berbohong, terutama—" Ichigo menggantung kalimat akhirnya saat aku memandangnya dengan tatapan memaksa.

"Apa? Terutama apa?" tanyaku tidak sabar.

"Tidak, tidak," ia menggelengkan kepalanya. "Lupakan soal itu. Jadi, mau kuantar pulang? Aku tidak mau mendengar berita kau tiba-tiba mengalami kecelakaan karena sudah mendengar hal seperti ini," Ichigo tersenyum ke arahku. Senyum paksa miliknya yang berhasil membuatku luluh, dan merasa akan tenggelam ke dasar aspal ini jika terus-menerus melihat wajahnya. Aku akan menerima tawaran Ichigo yang sudah kelima kalinya ini. Sekarang kami berdua pun masuk ke dalam taksi dengan lampunya yang sudah bersinar terang di tengah kegelapan malam yang sebentar lagi akan menyelimuti kota ini.

~TO BE CONTINUED~


Review reply:

First from hirumaakarikurosakikuchizaki, Hehe, terima kasih :) Oh maksudnya Rukia pengen jadi temennya Orihime, dia gak bakal jadi musuh Rukia kok. Mereka baik2 aja :D. Yup tentu saja, terima kasih banyak atas Reviewnya~! ^^

Kedua dari Ray Kousen7, Yup2, salam kenal juga Ray :D. Oh, sebenernya itu pikiran dari saia sendiri, kalo misalnya Rukia terkenal banget sampe di sekolah2nya juga, nanti dia gak bisa ngapa2in donk, ehehe *maap alesannya gaje*. Huehehe, makasih banyak yaa, padahal masih perlu banyak latihan nih. Yup2, Ginrei jadi kakeknya Rukia :D. Ya, ini udah diupdate, maaf kalo lama T.T. Makasih Reviewnya~! ^^

Ketiga dari ChappyBerry Lover, Oh, nggak kok. Orihime baik sama Rukia, begitu juga kebalikannya :D. Ehem2, Kaien ya? Fufufu *ketawa licik* Makasih Reviewnya ya, dan ini udah diupdate~! ^^

Keempat dari BlackRed, Hoo, ini juga baru sekarang gue lanjutin =.=, bener2 lupa saia. Ada Riruka, Senna, Haineko, Hinamori dan, aduh satu lagi gue lupaa, aaaah! *Teriak histeris*, yah gak penting deh (?). Maap kalo updatenya lama T.T, makasih Reviewnya yaa~! ^^

Last from Diarza, Yap, salam kenal juga ^^. Ah ya, udah disebutin di atas tuh *nunjuk ke atas* :D tapi maap saia lupa satu lagi karena udah lama gak baca cerita ini lagi. Huehehe, kalo gitu, kita ajarin bareng2 yuuk! *ajakan sesat*. Makasih banyak Reviewnya yaa~! ^^

Hoo *menghembuskan napas* akhirnya bisa update juga setelah sekian lama. Baru inget masih ada satu cerita yg nunggak selain Medium, jadinya cepet2 update deh daripada lupa alurnya :D. Aduh, maap banget yaa baru sekarang updatenya, saia aja sampe lupa siapa aja gangnya Riruka, soalnya ada yang nanya, hihihi ^^.

Shizu gak banyak cingcong lagi, please Review :D dan makasih untuk semuanya. Sampai berjumpa di chapter selanjutnya~!