~Be A Good Princess~

~Genre: Romance, Drama~

~Pair: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Aku menginjakkan kaki di rumah, dan melempar mantelku sembarangan ke atas sofa di ruang tamu. Terlihat Yoruichi sedang membersihkan piring-piring kotor di ruang makan, dan aku yakin Kakek dan Kaien baru saja selesai makan malam. Aku menghampiri wanita berkulit cokelat itu, dan menegurnya.

"Yoruichi, di mana kakek dan Kaien? Biasanya mereka berada di ruang tamu," kataku, menunjuk ruang tamu dengan ibu jari. Yoruichi menganggukkan kepalanya, lalu mengantarku ke halaman belakang. Tempat yang paling enak dan nyaman untuk menghabiskan waktu sebelum tidur yaitu di taman. Aku dulu suka bermain petak umpat bersama Kakek di sini, hampir setiap hari. Dan sekarang, jelas terlihat kekanak-kanakkan sekali. Kaien terlihat sedang mengobrolkan sesuatu yang penting dengan Kakek, wajahnya lurus menghadap ke mata Kakek yang sedang duduk di salah satu bangku dan di sampingnya terdapat tanaman anggrek bulan kesukaannya. Aku melihat reaksi Kakek—tersenyum di sini, tertawa di sana—dan kutarik kembali kata-kataku barusan, kelihatannya ini bukan obrolan yang penting.

"Kakek," aku menyapa, melihat wajah Kakek, "sedang apa kalian berdua di sini malam-malam begini?"

"Dan sedang apa kau di luar sana tadi? Kencan dengan pacar barumu?" Kaien menyembur, terlihat sedikit kekesalan di wajah tampannya.

"Kaien," Kakekku menegur, suaranya dalam dan megah. "Sekali-sekali kakek juga butuh udara malam yang sejuk, bukan?" ia berpaling ke arahku.

"Yeah, tapi, tidak takut masuk angin?" tanyaku lagi, berusaha mengabaikan tatapan dan gerak-gerik dari Kaien. Karena ucapan Ichigo tadi sore masih terngiang-ngiang di kepalaku.

"Dan kenapa kau tidak memakai mantelmu? Justru aku khawatir kau yang akan masuk angin nanti."

"Kakek selalu saja begitu," aku menghembuskan napas pelan, "mengabaikan pertanyaan orang lain, dan tidak akan pernah memberi jawaban masuk akal pada pertanyaanku."

Kakek tersenyum, wajahnya sedikit diselimuti kegelapan malam, tetapi masih sedikit terlihat karena cahaya dari lampu-lampu kecil yang berdiri tegak di sekitar taman ini. Aku memandangi kunang-kunang yang mulai datang menyerbu ke taman. Beberapa hinggap di rumput dan sisanya di kolam.

"Rukia, kenapa kau tidak memberi tahu Kaien kalau kau pergi tadi sore?"

Aku tersentak, jari-jariku mengencang pada daun bunga yang tumbuh di dekat kakiku. "Aku... aku tidak mau mengganggu Kaien. Karena kupikir tadi ia sedang tidur, atau istirahat karena lelah."

"Alasan yang lemah, Rukia. Coba lagi," tukas Kaien, masih terdengar sebal dari nada bicaranya.

Sial. "Aku... tidak bisa."

Kakek terlihat bingung untuk sejenak, kulihat kepalanya menatap ke arah kami yang berada di sisi kanan dan kirinya. "Kenapa pembicaraan kalian menjadi dingin seperti ini?"

"Oke, setidaknya Kakek bisa bertanya pada udaranya," aku berusaha melucu, tapi tidak ada yang tertawa di antara kami bertiga. Dan aku juga sudah tahu dari awal, bakatku bukanlah melucu.

"Tanyalah padanya yang sudah seenaknya berkencan dengan orang lain tanpa memberitahu calon tunangannya terlebih dahulu." Kaien memalingkan wajah, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Oh, ya? Bagaimana denganmu yang sudah seenaknya berduaan dengan cewek lain tanpa memberitahu calon tunangannya terlebih dahulu?

"Aku bukan berkencan. Ini hanyalah reuni, oke? Dengan teman lamaku. Itu hal yang wajar, kan?" aku membantah, suaraku cukup keras sehingga membuat kunang-kunang itu terbang ke sana kemari. Kakek menggerak-gerakkan jari tangannya yang keriput di kursi kayu yang ia duduki.

"Kaien, aku tahu kau mungkin sangat menyayangi Rukia, dan tidak mau ia pergi tanpa memberitahumu lebih dahulu, apalagi berdua dengan teman laki-lakinya—"

Sial, Kakek semakin merusak semuanya.

"—tapi kurasa Rukia benar. Ia hanya reuni dengan kawan lamanya, tidak berkencan. Jadi, jangan berkata seperti itu padanya, Rukia masih belum tahu apa-apa."

"Oh, ya? Siapa yang mengatakan aku belum tahu apa-apa? Aku hampir tahu semuanya, bahkan tentang—" aku segera menghentikan perkataanku. Bahkan tentang Kaien yang berduaan dengan cewek lain akan terdengar konyol di sini. Mereka berdua sama-sama melempar pandangan penuh tanda tanya ke arahku.

"Bahkan tentang apa, Rukia?" desak Kakek. Aku cepat-cepat memikirkan kata-kata selanjutnya yang pas dan tidak melenceng dari topik pembicaraan sekarang. Kuharap wajahku tidak menunjukkan kegelisahan. "Bahkan tentang belajar menjadi putri yang baik," aku tersenyum paksa. Dan kulihat, tiba-tiba mata Kakek sedikit berbinar, ia tersenyum senang menampakkan sederet gigi putihnya.

"Kaien, kau yakin Rukia sudah cukup normal untuk menjadi putri?"

Apa yang dimaksud Kakek dengan 'cukup normal'? Ia kira sikapku 'lebih dari normal'? Dan setelah kupikir baik-baik, mendengus bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan sekarang. Aku berpura-pura tersenyum lebih lebar, meyakinkan Kakek kalau aku benar-benar NIAT mengatakan itu—padahal sama sekali tidak. Kaien melihat senyum di wajahku, ia kemudian menyahut, "Iya, kelihatannya begitu. Tata bicaranya sekarang terlihat lebih sopan dari yang dulu."

Oh, seandainya Kakek memiliki penglihatan yang buruk, aku akan menendang betis Kaien dengan kakiku. Se-ka-rang.

"Bagus kalau begitu!" jawab Kakek antusias, ia berdiri dari kursinya, dan menepuk bahu kami berdua. "Dua hari lagi aku akan mengadakan pesta di sini, dan Rukia, kau sudah harus bisa menari, karena kau yang harus pertama tampil."

Jantungku langsung mencelos. Rahangku melorot ke bawah, dan kurasa kakiku sudah tidak bisa menopang tubuhku lagi. "Apa? Memangnya pesta untuk apa? Dan, lagi pula untuk apa aku yang harus tampil pertama? Kenapa tidak menyewa magician atau atraksi sirkus lainnya?" tanyaku bertubi-tubi. Kaien juga terlihat kaget untuk sementara, tapi reaksi di wajahnya datar dan biasa.

"Pesta penyambutan untukmu karena sudah bisa menjadi putri yang baik. Dan tentu saja, seluruh temanmu di sekolah akan aku undang."

Ingin sekali aku mengatakan, Apakah Kakek sudah gila! Memangnya jika ada putri yang sudah bisa menjalankan kewajibannya dengan baik, harus benar-benar dimeriahkan secara umum seperti ini? Tapi aku tidak mau terkena risiko tidur selama enam hari di penjara bawah tanah, dan porsi makanan yang sedikit, jadi aku urungkan niat itu. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah memasang tatapan kesal, berharap ada seseorang yang bisa membantah kata-kata Kakek barusan yang berhasil membuat mood-ku turun dengan drastis. Dan satu-satunya harapanku hanyalah Kaien. Ayolah, kumohon bantah semua perkataan Kakek, dan jika tidak berhasil, bangunkan saja aku dari mimpi buruk ini.

"Baiklah," kata-kata yang terlontar dari Kaien membuatku ingin membunuhnya. Apakah ada lagi yang lebih parah dari ini? Seharusnya aku tadi tidak mengatakan sudah mengetahui tentang menjadi putri yang baik, dan sekarang akibatnya aku hanya bisa meraung di kamar sendirian.

(*)(*)(*)

"Miss Kuchiki? Kenapa kau terlihat seperti kurang tidur? Dan hari ini kau telat dua puluh menit."

"Maafkan aku, Mrs. Unohana," aku menguap lebar, dan sesekali menggosok mataku yang berat. "Aku telat. Macet. Sekali. Sangat. Di jalan tadi," aku meracau, membuat seluruh murid di kelasku menekuk sebelah alisnya, memaksa mereka untuk memutar otak menyusun kalimatku. Dan raut di wajah Mrs. Unohana pun tidak beda jauh dari mereka.

"Baiklah," ia menaikkan kedua alisnya sambil mengedikkan bahu. "Kau boleh duduk sekarang."

"Thanks."

Aku berjalan dengan lunglai ke mejaku yang berada di paling pojok, dan sekali tidak sengaja menabrak satu murid yang sedang serius menumpuk-numpukkan bukunya seperti piramid, dan meraung kesal saat bukunya jatuh semua karena tidak sengaja kusenggol. Aku juga menabrak Ichigo secara tidak sengaja dengan tasku, dan langsung membenamkan kepalaku di atas meja. Sama sekali tidak mengeluarkan alat tulis, atau pun buku dari tasku, yang kupikirkan sekarang hanyalah tidur.

"Rukia?" Ichigo bertanya, memanggil, dan menggoyang-goyangkan bahuku, dan aku yakin ia sudah melakukan semua itu lebih dari satu kali. Aku memegang kepalaku, dan sontak gerakan 3 in 1 Ichigo berhenti saat itu juga.

"Maaf, Ichigo. Tolong jangan ganggu aku dulu?" aku berkata dengan suara parau, seharusnya tadi aku minum seteguk atau dua teguk air sebelum suaraku dipakai habis untuk berbicara dengan Mrs. Unohana. Kulihat ia sama sekali tidak menyentuhku, atau memanggil-manggil namaku lagi. Mataku sangat berat sekali hari ini. Dan kata-kata Mrs. Unohana memang benar, aku tidak tidur semalam tadi. Sayangnya karena sifat Kakek itu orang yang tidak pernah mau bolos sekolah di saat keadaan apa pun, dilampiaskan kepada cucunya sendiri, kepadaku. Dan akhirnya, nasibku harus berakhir sial seperti ini.

"Rukia." Bisa kudengar Ichigo sekarang memanggil lagi, sekedar bisikan yang mengganggu mimpiku. Aku menjawab dengan enggan, tapi tetap memejamkan mataku dengan wajah yang menghadap ke tembok. Ia memanggil namaku lagi dengan sedikit keras sekarang, aku langsung mengernyitkan alis. Karena kesabaranku habis, aku langsung bangun dan menatap matanya. Wajahnya sehat dan segar, berbeda jauh dengan wajahku yang lesu dan mataku yang merah.

"Apa?" tanyaku dengan nada kesal. Wajah Ichigo seperti menampakkan raut penyesalan karena sudah membangunkanku, tapi ia menunjuk ke depan pintu kelas. Orihime mengangkat tangan kanannya, kelihatannya ia ingin bertemu denganku.

"Maaf Rukia, aku memaksamu untuk bangun, karena ini sudah waktunya untuk istirahat," ia memanggil dari luar. Istirahat? Berarti aku sudah tidur selama dua jam kurang dua puluh menit? Hebat sekali, aku sudah ketinggalan beberapa mata pelajaran, dan kelihatannya aku harus meminjam punya Ichigo nanti.

Aku bangkit berdiri dari kursiku, meninggalkan Ichigo sendirian di kursi yang juga sedang sibuk berkutat di bukunya. Aku menghampiri Orihime, tetapi pikiranku masih melayang jauh ke sana, entah omonganku masih berantakan atau tidak.

"Rukia, kenapa kamu tidur selama pelajaran?" tanyanya, sambil memukul pelan bahuku.

"Yeah, uhm... aku tidak tidur malam tadi, jadi," sulit sekali berbicara dalam keadaan setengah mengantuk begini, "seperti yang kau lihat, aku ketiduran di kelas."

Orihime mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu ia menarik lenganku. Kami berjalan menuju kantin untuk membeli beberapa makanan.

"Memangnya semalam kamu melakukan apa? Menonton film horor? Bermain lempar tangkap dengan peliharaanmu?" Kami sekarang berada di meja kantin. Ia menunggu jawabanku dengan sabar sambil melahap kecil cream puff-nya. Aku membuka plastik roti dengan kasar, lalu sedikit menggosok mataku sehingga rasa kantuk bisa sedikit terhapus.

"Pertama," aku melahap roti cokelat kesukaanku, "aku tidak menyukai film horor, aku hanya mengoleksi novelnya. Kedua, aku tidak mempunyai peliharaan apa-apa di rumah," aku menelan roti itu sekaligus, sehingga membuat tenggorokanku sakit.

"Oke, aku kehabisan option di sini. Jadi, mau kau memberitahuku kenapa kau tidak tidur semalam?"

Aku menceritakan semua yang terjadi padaku malam tadi. Orihime mendengarkan dengan sangat antusias, seperti seorang anak yang sedang mendengarkan cerita dongeng sebelum tidur. Lalu saat ia mendengar aku harus bisa berdansa, matanya sedikit melebar, tapi tidak terlalu terlihat jelas kalau ia mengalami masalah dengan kata 'berdansa'.

"Kau sudah mengerti sampai di sini?"

"Oh, ya tentu," ia mengangguk mantap. Keheningan melanda kami untuk sesaat, aku memang tidak pandai bercerita, tetapi aku pandai meminta.

"Lalu..."

"Lalu?" Orihime memberi dorongan.

"Maukah kau menolongku? Semacam mengajariku berdansa atau berdandan?" Bagus, aku berhasil mengalihkan topik kali ini. Sekarang giliranku untuk menunggu ia berbicara. Aku menenggak sedikit susu cokelatku dan berpura-pura melihat ke arah yang berlawanan. Ia lalu membuka mulutnya.

"Baiklah, Rukia. Waktu saat pulang sekolah di ruang musik akan terdengar bagus," ujarnya dengan senyum manis. Aku langsung senang, seraya mengucapkan terima kasih seperti yang sudah diajarkan Kakek. Kami melanjutkan tawa canda kami, tanpa ada pertanyaan aneh dari Orihime tentang bagaimana aku mengetahui ia bisa berdansa atau berdandan, dan sebagainya. Itu karena teman-tukang-gosipku yang membawa keberuntungan. Tiba-tiba raut wajah Orihime langsung berubah saat melihat ke belakang, tepatnya ke atas bahuku. Aku penasaran apa yang dilihatnya sampai-sampai raut wajahnya berubah drastis begitu. Saat aku menengok, mayonnaise, salad, dan jus alpukat mendarat dengan indah di atas kepalaku, juga ke bahu. Murid-murid yang beruntung melihat kejadian ini langsung menatap ke mejaku dan Orihime dengan mulut menganga, dan mata melotot kaget. Aku hanya bisa mengerutkan alis sambil membuka mulutku membentuk huruf 'aw'.

"Ups, maafkan aku, nampan ini tidak sengaja tergelincir dari tanganku. Lagi pula aku juga tidak menyukai salad, dan sulit mencari tempat sampah terdekat di sekitar sini. Dan betapa beruntungnya aku, karena di sini ada satu. Praktis sekali, bukan?" suara sopran-cempreng milik seorang cewek menyeruak ke telingaku, ia tertawa-tawa kencang bersama teman-temannya. Itu Riruka, pemimpin geng... aku sudah tahu aku pasti akan salah menyebutkannya lagi. Ia menumpahkan makan siangnya dengan sengaja, dan mengira aku ini adalah tempat sampah terdekat, manis sekali. Setelah melenggang pergi dan meninggalkanku dengan tawa mengejeknya, murid-murid di sekitar mulai berbisik-bisik.

"Rukia, ma-maafkan aku tidak memberitahu kalau ada seseorang di belakangmu. I-ini biar kuambilkan tissue," kata Orihime sedikit panik, membalik-balik badannya ke meja depan dan samping untuk mencari kotak tissue. Karena kupikir stok tissue di meja kami sudah habis.

"Tidak perlu. Aku akan ke kamar mandi," aku langsung beranjak dari kursiku, dan sedikit berlari menuju kamar mandi wanita. Aku harus cepat sampai ke sana, sebelum jus alpukat dan mayonnaise ini menjadi lengket di rambutku. Saat di koridor menuju kamar mandi, aku melihat Kaien bersama tiga orang perempuan mengelilinginya. Aku tidak kenal perempuan-perempuan itu, dan aku berpikir mereka di kelas dua belas. Aku langsung menundukkan kepalaku, sambil sesekali menyapukan tangan ke bahuku, membuang salad yang masih hinggap di situ.

"Ouch, malang sekali kelihatannya gadis itu habis terkena perang makanan di kantin," kudengar Kaien berkomentar saat aku lewat di sampingnya, suaranya memang tidak terlalu keras untuk menyindir seseorang, tapi tertangkap oleh telingaku. Perempuan itu terkikik-kikik geli mendengar suara Kaien yang dibuat-buat. Baguslah jika ia tidak menyadari ini adalah aku.

"Rukia!" Orihime berteriak memanggil namaku dari belakang, kelihatannya ia mengejarku sampai ke sini. Aku tidak membuang-buang waktu untuk membalasnya, langsung saja aku masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana, beberapa gadis melihatku dengan tatapan aneh, kaget, dan bingung bercampur menjadi satu. Aku menghiraukan pandangan mereka, dan cepat-cepat mencari wastafel yang sedang tidak digunakan. Kebetulan wastafel yang sedang kupakai itu meninggalkan banyak kenangan buruk.

"Ini tissuenya." Orihime menyodorkan tiga helai tissue di tangannya. Aku menatapnya bingung. "Orihime, apakah seperti ini caramu untuk mengeringkan rambut? Dengan tissue?" tanyaku. Ia tersentak sedikit, lalu sadar dengan barang yang ada di tangannya itu. Ia terkekeh pelan, lalu kembali menyodorkanku sebuah sapu tangan berwarna hijau susu.

"Ia semakin membuatku kesal," gumamku, mengelap sisi kanan rambutku, dan kemudian sisi kirinya. Orihime tiba-tiba menukas, "Iya, aku tahu. Riruka memang sering membuat orang kesal. Tapi, sebenarnya sifatnya baik, kok."

"Apa?" tanyaku bingung. Sebenarnya bukan itu yang sedang kubicarakan. 'Ia' di sini adalah 'Kaien', bukan Riruka. Orihime selalu salah mengartikan. Aku tertawa pelan lalu menepuk-nepuk bahunya.

"Hei, bukan dia yang sedang kubicarakan tadi. Tapi... seseorang," kataku. Lagi pula, apakah pendengaran Orihime setajam itu? Ia juga tertawa renyah saat kuingatkan, tetapi langsung diam saat merasa ada yang aneh dengan omonganku.

"Siapa seseorang itu?" pertanyaan yang mudah kutebak daritadi. Ia PASTI akan menanyakan itu. Sama seperti saat aku pertama kali bertemu dengannya. Aku menarik napas dan menahannya supaya tubuhku tidak bergetar. Saat Orihime memanggilku lagi, perkataanku tercampur antara apa dengan huh.

"Phua!" jantungku berdetak kencang karena menahan napas selama beberapa detik. Orihime menatapku bingung.

"Phua? Apakah namanya benar-benar itu? Karena kupikir, orangtuanya seharusnya memberi nama yang lebih bagus daripada campuran empat huruf itu."

"Bukan begitu," aku menarik napas panjang-panjang. "Seseorang di sini adalah... uhm, kelihatannya akan lebih baik diceritakan saat nanti di ruang musik saja, bagaimana?"

"Yakin tidak mau diceritakan sekarang? Jika tidak menceritakannya kau nanti akan sakit, lho."

Aku menahan tawa sambil memukul udara dengan tanganku. "Kau bercanda, kan Orihime? Mana mungkin hanya dengan tidak menceritakannya aku akan sakit. Kau terlalu banyak bermimpi."

Aku dan Orihime lalu keluar dari kamar mandi, sesudah rambutku kering. Sayangnya bau mayonnaise masih menguar di seragamku. Semoga siapa saja yang berada di kelas nanti, mempunyai indra penciuman yang buruk, sehingga tidak mengira aku ini adalah taco busuk. Aku kembali berkutat dengan buku-buku saat bel masuk sudah berbunyi berkali-kali. Aku memperhatikan pandangan teman-teman di kelasku. Tidak ada yang memandangku aneh, seperti sedang melihat kucing berkaki enam, atau jerapah berkepala tiga. Kecuali Ichigo. Ia benar-benar memandangku seperti itu.

"Kau melakukan apa saja saat istirahat tadi? Mandi dengan saus—"

"Jangan katakan," aku menghalangi wajahnya dengan telapak tanganku. "Jangan katakan. Jika kau sudah tahu, jangan dilanjutkan, oke?"

Ichigo semakin menatapku aneh. Ia memperhatikanku dari atas kepala sampai ke pinggang. Terutama saat matanya berhenti di bahuku. Aku langsung merasa risih saat ditatap seperti itu. Aku mengambil buku, berniat untuk memukul kepalanya dengan benda itu. Tapi refleks tangannya langsung menggenggam pergelangan tangan milikku, dan otomatis kami saling bertatapan.

"Siapa yang melakukannya?" Seolah sudah bisa membaca kejadian tadi siang yang menimpahku, ia bertanya.

"Seperti yang kau tahu," aku melepas paksa tangannya dari pergelangan tanganku, dan sedikit mengusap-usapnya. "Riruka dan gengnya."

"Bukan itu maksudku," ia memutar badannya menghadap ke buku. "Siapa yang memulainya duluan?"

"Tidak perlu kujawab dua kali, bukan."

Ichigo mengangkat kedua alisnya, mulutnya membentuk menjadi satu garis seperti huruf 'U' terbalik. Kami kemudian diam, tidak memulai obrolan apa-apa saat guru sudah memasuki kelas. Ichigo sibuk mendengarkan omongan guru dengan serius, sedangkan pikiranku tidak ada di dalam kelas. Aku sama sekali tidak memikirkan apa-apa, seakan pikiranku kosong sudah tersedot ke dunia lain. Seperti kerjaan guru biasanya, memberi tugas, lalu dirinya sendiri memanfaatkan waktu pelajaran untuk ia gunakan sebagai waktu istirahat.

"Ichigo, tolong kerjakan milikku. Aku sedang malas untuk berpikir," aku menyuruhnya seenakku. Ia langsung menatapku dengan geram, alisnya bertautan menjadi satu. Ia mendengus kesal, lalu mengangkat tangannya sebagai bukti pembelaan terhadap dirinya kalau ia tidak mau melakukan apa yang kuinginkan.

"Maaf Tuan Putri. Untuk kali ini saja permintaanmu tidak dipenuhi. Silakan pecat aku, aku tidak keberatan." Ichigo menirukan gaya seorang pelayan dengan nada bicaranya yang dibuat-buat, sambil mengangkat kedua tangannya setengah ke udara seperti sedang bersumpah akan sesuatu. Aku meninju lengannya pelan, dan mendapatkan sedikit hiburan hanya dengan duduk bersamanya. Entah kenapa aku merasa lebih nyaman saat berada di dekatnya. Aku juga merasa lebih bebas untuk menceritakan pengalamanku—dari yang paling memalukan sampai yang baru-baru ini terjadi—kepadanya. Berbeda jauh saat dengan Kaien. Hubunganku dengannya malah terasa kaku. Seperti ada tembok yang selalu menghalangi kami berdua.

Pelajaran terus berlanjut, semakin lama mataku semakin dibuat pusing oleh tulisan-tulisan di papan tulis putih itu. Apakah ini dunia SMA? Itu pertanyaanku yang memang sudah dijawab Ichigo waktu itu. Dan aku sudah harus bisa mengerjakannya sendiri? Oh, tolong siapa saja percepat waktunya, sehingga aku bisa menikmati waktu istirahat yang kedua lagi. Aku tidak tahu apakah aku akan sanggup atau tidak. Apalagi duniaku lebih berat daripada dunia sekolah. Aku harus belajar bersikap sopan setiap hari, sementara teman-temanku yang lain bisa berbuat semau mereka, tidak ada larangan apa pun. Tetapi untungnya bagiku aku bisa meminta apa saja yang kuminta, asal itu bukan barang yang aneh-aneh.

(*)(*)(*)

"Baiklah, aku pulang dulu," kataku cepat-cepat pada Ichigo. Ia masih membereskan bukunya, dan menatapku bingung.

"Kenapa terburu-buru seperti itu? Aku tidak mengajakmu untuk keluar lagi hari ini."

"Bukan itu, bodoh. Aku ada janji bertemu dengan Orihime."

"Janji apa?"

Aku sebenarnya malu untuk mengatakan kalau aku mulai belajar berdansa padanya. Dan aku membohonginya lagi, "Urusan perempuan." Dengan tambahan senyum nakal di bibirku. Wajah Ichigo langsung memerah, ia memandang sekelilingnya dengan resah, aku sebenarnya tidak bisa menahan tawa lagi, dan tawaku meledak di dalam hati. Aku bisa membaca apa yang sedang dipikirkannya. Pasti hal aneh yang tidak cocok untuk anak kecil yang masih dibawah umur.

Aku langsung terburu-buru berlari menuju ruang musik, kelasku bubar yang paling terakhir dan aku yakin Orihime sudah menungguku di sana sekarang. Aku tidak mau membuang-buang waktu lagi. Karena ini adalah kesempatan sekali seumur hidupku, di mana seorang sahabat mau direpotkan hanya untuk mengajari berdansa atau pun cara berdandan.

"Whoa, kenapa terburu-buru sekali, Rukia? Kau ingin ke mana?" Tiba-tiba sebuah tangan besar menghalangiku dari samping kiri. Kaien bertanya dengan nada biasa, tetapi wajahnya tersenyum saat melihatku. Aku membalas senyum ramahnya. Sekedar beberapa detik, lalu kembali datar lagi. Ada sesuatu yang masih mengganjal hatiku karena kejadian tadi malam. Tetapi saat melihat senyum Kaien, kupikir ia sudah melupakannya.

"Mau ke ruang musik. Kau tahu, jika ingin menjadi seorang putri yang baik, harus bisa berlatih musik juga, kan?" aku membohonginya. Kupikir rasa gelisah yang berhasil kututupi dan seulas senyum paksa bisa membuat semua ini lancar, tetapi ia melihatku dengan tatapan agak meragukan.

"Tumben sekali? Biasanya kau akan langsung pulang, dan tidur di rumah. Bukan begitu?"

"Yeah, tapi, aku juga perlu beberapa melodi yang bisa membuat hati serta pikiranku nyaman. Setelah belajar, belajar, dan terus belajar selama berjam-jam di kelas tadi. Aku juga butuh refreshing tentunya," aku memegang tangannya, dan menurunkannya ke bawah. Lalu, aku menegakkan tubuhku dan mengangkat tas selempangku ke atas. Kaien masih menatapku, tapi kemudian ia berkata, "Baiklah nanti aku akan menyusulmu di sana. Aku ingin melihat sejauh apa kau bisa memainkan alat musik."

Oh tidaaaaak!

~TO BE CONTINUED~


Review reply:

First from aya, Hehe, terima kasih sudah menyukai fic ini :D, yosh, ini sudah diupdate, maaf kalo lama. Makasih Reviewnya yaa~! ^^

Kedua dari Piyocco, Hehehe, gak apa2 kok ^^, iya nih, saia selalu lama update cerita, padahal lagi liburan *ditendang ke sekolah lagi* Ahaha, iya, untuk memperkuat karakterisasi aja *sotoy banget* Ehm, untuk itu rahasia~ Akan saia sempet2in kalo suasananya lagi cocok XD. Makasih Reviewnya yaa~! ^^

Ketiga dari BlackRed, Ahaha, itu nama geng kakak kelas gue pas masih kelas tujuh, mereka juga semacam MD2 gitu, bukan McD ya *gelepok!* Sip, makasih Reviewnya yaa~! ^^

Keempat dari Rizuki Aquafanz, Ehem2 untuk jawaban itu, Rukia suka sama Kaien, tapi untuk Ichigo, akan ada di chapter2 depan, baca terus yaa :D. Makasih Reviewnya~! ^^

Kelima dari nenk rukiakate, Aduh, gak apa2 kok nenk, jangan menyalahkan diri sendiri *cielah* Hahah iya, sekali-kali aja buat putri yang keliatan sangar kayak preman *dicekek Rukia* Sip, makasih Reviewnya yaa~! ^^

Last from Ray Kousen7, Oh iya, tentang itu... Gaya penulisan saia emang agak, ehm, gimana ya, saia juga jelasinnya susah, ehehe *plaak!* Karena saia sering baca novel terjemahan dan menurut saia itu bahasanya keren2, jadi deh dipake di sini, maaf ya kalo sulit dimengerti m(_ _)m. Yap, ini udah diupdate, makasih banyak Reviewnya yaa~! ^^

Halo, semuanya. Hmm, udah berapa lama ya saia gak update lagi, ehehe, semoga gak ada yg lupa sama alurnya yaa ^^a. Padahal di rumah lagi liburan untuk menunggu kelulusan UN, tapi selalu gak sempet buat ngetik fic, hadeuh2. Makasih banyak untuk teman2 yg udah mau memberikan Review, dibaca aja saia udah hepi, hehehe.

Yosh, sampai berjumpa di chapter selanjutnya :D