~Be A Good Princess~

~Genre: Romance, Drama~

~Pair: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Aku terus mencoba untuk menghalangi Kaien, supaya ia benar-benar membatalkan niatnya. Ia tidak menanggapiku, melainkan terus menatapku dengan raut bingung dan berkata, "Aku akan ke sana." Aku tidak punya pilihan apa-apa lagi selain berjalan di depannya dengan gerakan tangan ke atas ke bawah juga sambil memohon.

"Kenapa kau begitu gelisah kalau aku akan datang ke sana? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?" tanyanya sambil mengangkat satu alis.

"Ah, tidak, tidak, tidak. Tentu saja kau boleh ke sana, ya tentu. Hanya saja..." Alisku saling bertautan memikirkan lanjutan kalimatnya. Aku tidak mempunyai banyak waktu. Tolong siapa saja berikan aku alasan yang masuk akal! "Aku malu jika ada yang melihat saat sedang bermain musik."

Kaien jelas memberiku tatapan berbeda. Mulutnya hampir menyunggingkan senyum-setengah-mengejek. Aku benar-benar malu sekarang mengakui kalau aku tidak bisa bermain musik kalau diperhatikan, padahal sebenarnya tidak sama sekali. Ia tiba-tiba menepuk-nepuk pundakku, seakan memberiku sebuah selamat karena sudah lulus dari SMA tanpa belajar.

"Alasanmu sudah bagus dan meningkat dari yang kemarin. Tapi, kau tidak akan bisa membohongiku," ia mengedikkan bahunya, lalu mencoba untuk pergi lagi dariku. Tetapi, sebisa mungkin aku tetap menjaganya.

"Kau tidak punya kerjaan lain selain menghalangiku, ya Rukia?" Kaien menatapku dengan raut yang sedikit kesal. Aku terlihat seperti seorang anak kecil yang menantang ayahnya. Sambil berkacak pinggang dan menekuk satu alis ke bawah, aku berkata padanya.

"Tidak perlu memperhatikanku terus, kan? Aku bukan anak kecil lagi, kau tahu."

"Yeah, memangnya siapa yang mengatakan kalau kau itu anak kecil?" tanya Kaien balas menatapku. "Aku hanya mengatakan ingin melihat sejauh apa kau bisa bergelut dengan alat-alat musik itu. Kalau kau tidak bisa, aku akan membantumu."

Aku membuka mulut ingin mengeluarkan kata-kata. Tetapi, semuanya tercekat di tenggorokanku mengingat alasan yang biasa kupakai mempunyai level rendah di mata Kaien. Aku sekarang menyerah. Tidak ada lagi yang bisa kukatakan untuk mengelabuinya. Ia kemudian tersenyum penuh kemenangan. Lalu, pergi tanpa mengucapkan apa-apa padaku.

(*)(*)(*)

"Maaf Orihime, sudah membuatmu menunggu lama," kataku sambil berlari masuk, melihat Orihime yang sudah beberapa kali mengecek ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia berdiri di atas panggung, tempat di mana keyboard, biola, dan bermacam-macam alat musik ditaruh di sana.

"Jangan berlari-lari, kau bisa jatuh," ia memperingatkan sambil tersenyum manis, lalu meluncur turun dari atas panggung. Aku memperhatikan ruang musik yang luas ini. Karena tidak melihat ada tempat untuk menaruh tas, aku melemparnya sembarangan.

"Jadi, apa yang ingin kaupelajari? Break dance, salto, salsa, tango, waltz, flamenco?" Orihime hampir menyebutkan semua tarian yang tidak aku ketahui—kecuali satu—dan aku yakin ia mahir melakukan semua itu. Sesuai yang Ichigo bilang tentang ada sesuatu antara Orihime dengan geng cewek itu, tidak heran modern dance dihilangkan dari daftar pilihannya.

"Oke, oke, kau bisa berhenti, Orihime," aku menyela dan saat itu juga ia berhenti berbicara. "Mungkin, kita bisa mulai dari waltz saja. Kupikir itu yang paling mudah," ujarku sambil tersenyum paksa. Terngiang-ngiang kembali ucapan Kakek yang menyuruhku untuk bisa belajar menari. Yang benar saja!

Ia lalu menghampiriku, menjelaskan bagaimana cara memegang tangan, juga posisi kaki yang benar saat dimajukan atau dimundurkan. Aku benar-benar kerepotan. Menjaga tubuh agar tetap tegak, dan menghindari untuk tidak menginjak kaki Orihime. Tapi, ini lebih baik. Aku tidak akan bisa membayangkan akan semerah apa wajahku nanti saat berlatih dengan Kaien. Tidak mudah melakukan tarian seperti ini. Setidaknya aku bisa istirahat saat mendengar bunyi—buk—menghantam pintu.

"Suara apa itu?" tanya Orihime memandang ke arah pintu cokelat dari kayu. Kami lalu menghampirinya. Saat kubuka, ternyata sebuah bola oranye menggelinding pelan mengelilingi lantai keramik.

"Bola siapa ini?" saat aku ingin mengambilnya, bola itu sudah digenggam oleh jari-jari panjang milik seseorang. Aku menatapnya bingung.

"Ichigo?"

Cowok berperawakan tinggi dan mempunyai mata amber itu segera menegakkan tubuhnya saat namanya dipanggil olehku. Ia terbata-bata. Entah ingin mengatakan sesuatu atau apa.

"Sedang apa kau di sini? Bukankah kau sudah seharusnya pulang?" tanyaku, memperhatikannya dari wajah sampai ke sepatu olahraganya. Betisnya yang mengencang terlihat jelas saat ia memakai celana pendek itu. Aku menelan ludah pelan.

"Seharusnya? Jangan berkata sok tahu begitu, Rukia. Aku ada pelajaran basket sekarang." Ia memutar-mutar bola basket itu di atas jari telunjuknya, sambil menatapku remeh. Aku membulatkan mulutku, lalu menarik Orihime kembali ke ruang musik.

"Apakah ini yang kausebut dengan 'urusan perempuan'?" tanya Ichigo, mengintip ke dalam ruang musik. Orihime memberitahu—tepatnya membocorkan—pada Ichigo kalau kami sedang berlatih dansa untuk perayaan penyambutanku lusa. Aku hanya bisa memberengut gusar mengetahui kebohonganku sudah terbongkar. Ichigo lalu masuk ke dalam setelah ia melemparkan bola itu ke temannya yang datang menyusul.

"Apa? Jadi, kau tidak bisa menari?" Nada bicara Ichigo seolah meremehkanku. Ia memandangi langit-langit ruang musik yang dihiasi dengan beberapa lampu besar.

"Memangnya kau sendiri bisa? Aku tidak percaya," aku mencemoohnya sambil menggosok-gosok sepatuku ke dinding. Akibatnya dinding itu menjadi kotor hitam. Aku cepat-cepat menjauhinya.

"Kurosaki juga mahir berdansa, lho," Orihime tiba-tiba mencerocos. Kulihat Ichigo langsung mencoba untuk menyela, tetapi aktingnya yang panik itu malah memperlihatkan kalau ia benar-benar mahir berdansa. Aku tersenyum jahil ke arahnya yang sudah diam kaku.

"Benar begitu, Ichigo? Kau bisa berdansa?" Aku berkacak pinggang, menunggu dengan tidak sabar saat Ichigo berusaha mengganti topik pembicaraan. "Nah, nah, jangan mengganti subjek."

"Oke. Lalu, memangnya kenapa kalau aku bisa berdansa? Kau iri?" Ichigo malah semakin menantangku. Orihime tidak berbuat apa-apa selain mencoba untuk menghentikan kami berdua. Aku lalu menjauhi wajahnya sambil menghembuskan napas. Aku mengusir Ichigo dari sini dengan lembut, dan mencoba untuk berfokus lagi dengan pelajaran tari-menari ini.

"Kenapa kau masih di sini?" tanyaku geram, melihat Ichigo malah duduk bersila memperhatikanku dan Orihime yang sudah mau memulai. Ia menggelengkan kepalanya, meninggalkan penuh pertanyaan di otakku.

"Tidak ada salahnya kalau Kurosaki melihat, kan? Siapa tahu ia bisa menilai sejauh mana kau bisa menari sekarang," Orihime berujar. Ia meminta persetujuan dari Ichigo yang dijawab dengan anggukkan kepala yang mantap dari cowok itu. Aku mendengus.

(*)(*)(*)

"Kau salah," tegur Ichigo, kembali dengan handuk biru muda yang melingkar di lehernya. Ia sudah mengganti baju olahraganya dengan seragam biasa. Seluruh otot di lengan dan kakinya yang membuatku tidak bisa lepas melihatnya sekarang tertutupi. Aku sedikit kecewa. Jarang sekali ada cowok yang mau memperlihatkan bentuk tubuhnya di depan temannya sendiri.

"Lalu, bagaimana?" tanyaku, melepas posisi dari Orihime. Ia juga terlihat bingung melihat komentar Ichigo yang mengatakan kalau aku salah. Padahal sekiranya aku hampir benar semua, kok.

"Seharusnya seperti ini," ia menggenggam tanganku. Tubuhnya yang tinggi maju dengan mendadak, sehingga memaksaku secara langsung untuk mundur agar tidak bertabrakan. Ia melangkahkan kakinya dengan gemulai, sementara aku masih kaku.

"Ouch." Tiba-tiba ia berkomentar.

"Apa? Kau menyindirku karena gerakanku masih kaku? Aku tahu kau memang sudah mahir, tetapi—"

"Bukan itu, bodoh." Ichigo menggerakkan pupilnya ke bawah, sehingga mataku melihat apa yang terjadi sehingga ia sedikit kesakitan. Aku menginjak kakinya. Wajahku semakin memanas karena Orihime menambahkan dengan tawaan geli.

"Ouh, maaf." Aku mengangkat kakiku. Raut wajah Ichigo tidak terlalu memasang tampang kesakitan, karena memang aku tidak menginjaknya keras-keras. Toh, aku tidak sengaja.

"Well, setidaknya kau bisa melihat ke mana kakimu akan melangkah," katanya dengan nada sedikit merendah, kesal.

Ketidakadilan dari kata-kata itu menampar wajahku. Aku meremas erat tangannya, "Oke, setidaknya kau bisa menjauh saat kakiku akan melangkah."

Ichigo menaikkan sudut bibirnya. Ia langsung menarikku semakin mendekat kepadanya. Lantai berdecit-decit membuat irama saat sepatuku dan Ichigo saling bergerak. Dengan cepat aku bisa belajar memahami gerak gemulai Ichigo. Mungkin itu yang disebut dengan insting?

Selesai. Semua tarian tanpa iringan lagu ini selesai dengan aku dan Ichigo yang saling menatap satu sama lain. Wajahnya begitu sendu saat melihat mataku dalam-dalam, dan tanpa sadar aku juga balas menatapnya. Tangan kami masih saling membungkus, sementara tangan kanan Ichigo dilingkarkan di pinggangku. Kalau Orihime tidak bertepuk tangan dengan heboh, aku mungkin sudah melakukan hal bodoh yang seharusnya tidak dilakukan ketika berada dekat dengan laki-laki. Ia tidak punya kerjaan apa-apa selain memperhatikan tarian kami. Kasihan sekali, seharusnya aku menolak saat Ichigo menawarkan.

"Ini hebat sekali! Rukia, kau sudah bisa menari!" teriaknya girang. Kalimat 'kau sudah bisa menari' seakan mengatakan kalau aku divonis tidak bisa menggerakkan kaki dan tanganku untuk menari. Aku tersenyum geli padanya.

"Yeah, itu hanya kebetulan mungkin," kataku mengedikkan bahu. Jika tidak melepas paksa, darah tidak akan mengalir ke tanganku karena masih dalam genggaman Ichigo. Orihime menghampiri kami sambil bersenandung kecil.

"Oh, ya. Memangnya pesta penyambutan apa, ngomong-ngomong?" tanya Ichigo, meneguk beberapa air putih dari botol air minum yang ia bawa di tas selempangnya. Orihime juga menatapku dengan pertanyaan yang sama.

"Uhm... pesta penyambutan untukku karena sudah menjadi putri yang baik," aku mengucapkan dengan hati-hati. Kulirik Orihime dengan mata abu-abunya yang membulat sempurna, juga mulut Ichigo yang menyemburkan seluruh air itu dengan indah ke atas lantai.

"Karena—apa?" tanya Ichigo cepat, sehingga kata-katanya berantakan. Orihime bingung mendengar aksen Ichigo yang tiba-tiba berubah, tetapi aku menyukainya.

"Aksen Amerika, bukan begitu, Ichigo?" tanyaku dengan seringaian yang membuatnya merona merah sebelum aku menjawab pertanyaan mendadaknya. "Kuulangi, pesta penyambutan untukku karena sudah menjadi putri yang baik."

Karena raut wajah mereka berdua masih meragukan, aku terpaksa menceritakan dari awal kenapa aku harus 'belajar menjadi putri yang baik'. Terutama untuk Orihime yang belum lama mengenalku. Aku yakin tidak memerlukan pengulangan dua kali untuk Ichigo, karena ia memang sudah mengetahui kebenarannya dari sejak kami kecil.

"Sudah kubilang ini bukan sesuatu yang pantas untuk dirayakan secara umum," ujarku gusar. Orihime mengiyakan, sementara Ichigo antusias mendengarkan ceritaku. Kemudian ia memberi opini. "Kenapa kau tidak menolaknya saja?"

Kutarik kembali kata-kataku, ini bukan opini, melainkan pertanyaan anak kecil.

"Aku sudah mencobanya," ucapku dengan gigi saling gemertak. "Tetapi, dengan sifat keras kepala kakek, semua yang kukatakan padanya akan sia-sia. Berlatih ini, berlatih itu, dan segalanya!" aku melayangkan kedua tanganku ke udara, membentuk sebuah lingkaran besar. Kami berbincang-bincang, dengan aku yang mencoba untuk mengalihkan ke topik yang lain. Apa pun aku mau, asal tidak yang satu ini.

"Siapa yang akan diundang? Kerabat kakekmu saja?"

"Pertanyaan bagus, Ichigo. Seluruh temanku akan diundang," ucapku muram. Kulihat Ichigo seperti memasang tatapan enggan, seakan diundang ke istanaku itu seperti masuk ke dalam penjara dengan berbagai macam perangkap jika kau berani melarikan diri dari sana. Sementara Orihime, aku tidak tahu bagaimana menjelaskan raut wajahnya. Antara senang atau malas, itu saja.

"Se-seluruh temanmu," Ichigo membuat lingkaran kecil dengan jari telunjuknya yang diputar-putar searah jarum jam. "Diundang? Ma-maksudku, bukankah itu terlalu... banyak?"

"Iya. Lagi pula, kenapa tidak teman-teman terdekatmu saja? Lalu, sisanya seluruh keluargamu," Orihime mengiyakan.

"Tidak tahu," ucapku frustasi. Aku mengambil tas dan hendak keluar dari sini. Orihime dan Ichigo mengikutiku dari belakang. Pintu ruang musik ditutup setelah seluruh lampu dimatikan.

"Datang saja, mau kan? Tidak ada perayaan aneh-aneh seperti melemparkan kue ke wajah temanmu, atau memukul-mukul boneka yang di dalamnya berisi permen. Ini hanya upaya untuk...," aku saling mencengkeramkan tanganku, terlihat seperti ingin mencekik orang, "membohongi kakekku, kau tahu."

Orihime melayangkan jari-jarinya ke leher, sementara Ichigo menukas, "Well, karena itu adalah perintah kakekmu—Yang Mulia—maka, aku dengan senang hati akan datang ke sana."

Dari caranya mengatakan 'Yang Mulia', mengingatkanku pada seseorang yang kelihatannya hampir kulupakan. "Baiklah, anggap saja ini sebagai acara 'main ke rumah teman', atau 'mengerjakan tugas kelompok'. Jangan merasa terbebani, oke?"

"Oh, sebenarnya aku tidak menganggapnya seperti itu, dan aku juga tidak merasa terbebani," kata Ichigo tersenyum simpul. Orihime juga mengangguk senang. Bagus, dengan begitu aku tidak perlu menabung rasa bersalahku karena sudah memaksa mereka datang ke pesta—tidak penting—ini. Kami berjalan pulang ke rumah, karena arah rumahku dengan Ichigo sama, jadi kami harus berpisah dengan Orihime di tengah jalan. Tidak ada perasaan apa-apa yang memenuhi rongga dadaku saat ini. Tetapi, saat aku memasuki taksi, aku baru ingat siapa orang yang hampir kulupakan itu.

Dan bahkan sampai saat ini, Kaien tidak kunjung datang.

(*)(*)(*)

"Rukia, apa kamu melihat kacamata kakek?"

"Uh... bukankah Kakek tidak menggunakan kacamata?" aku bertanya balik pada Kakek yang sedang membuka tutup lemari kacanya. Seingatku, Kakek tidak mempunyai ingatan yang buruk sampai-sampai ia lupa di mana terakhir kali meninggalkan kacamatanya. Aku juga mengintip apa yang sedang dilakukan Kakek, dari membuka-buka lemari, sampai menunduk di bawah meja dengan perkiraan, siapa tahu kacamatanya terselip di bawah meja. Tetapi, tidak ada apa-apa di sana.

"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Yoruichi, membawa beberapa tumpuk koran di kedua tangan panjangnya yang bewarna cokelat. Aku memberitahu padanya, kalau Kakek kehilangan kacamata kesayangannya yang biasa ia pakai saat membaca tulisan-tulisan kecil di koran.

Saat Yoruichi membantu Kakek mencarikan kacamata itu, aku bertanya, "Oh iya. Di mana Kaien, ngomong-ngomong?"

"Kau bertanya pada siapa, Rukia?" tanya Kakek masih sibuk membelakangiku. Aku mengerutkan alis.

"Pada siapa saja yang mengetahui di mana Kaien berada." Aku berkacak pinggang. Karena tidak ada jawaban dari kedua orang yang tengah sibuk mencari 'kacamata berharga' Kakek, aku meninggalkan mereka, dan memutuskan untuk mencari di taman belakang.

Tidak ada siapa-siapa di sana, kecuali makhluk hidup yang tidak bisa kuajak bicara. Tentu saja, sampai sekarang belum ada tes uji coba dari laboratorium yang menyatakan ada manusia yang bisa berkomunikasi pada tumbuh-tumbuhan atau pada hewan-hewan kecil. Aku hanya merenung diam, entah harus melakukan apa selain duduk di bangku dan menghirup udara segar.

Di mana si bodoh itu? Saat sedang dicari malah tidak ada. Tetapi, di saat tidak membutuhkan malah muncul dengan tiba-tiba. Dasar orang awam. Aku menempelkan punggung tanganku di dahi, menghembuskan napas keras seperti orang frustasi. Saat membuka mata sedikit, aku melihat Kaien dari jauh sedang berbicara di ponselnya, di sebuah gua yang terbuat dari batu yang melengkung. Aku menyipitkan mata untuk melihat dengan lebih jelas.

Kurasa, tidak sopan menghampiri orang yang sedang berbicara di ponselnya. Jadi, kutunggu saja di sini. Apakah ia akan menyapaku atau tidak, itu urusan lain. Aku kembali mendongakkan kepala ke atas, dan menutup mata dengan punggung tangan.

(*)(*)(*)

Merasa bosan, aku berbaring di atas tempat tidur, dan mencoba untuk menyalakan TV dengan remote. Tidak ada kerjaan apa-apa yang harus kulakukan saat ini. Walaupun sebelum masuk ke kamar aku memeriksa seluruh sudut ruangan ini terlebih dahulu, jika tiba-tiba di saat yang tidak tepat para pelayan berhamburan keluar dari tempat tersembunyi, dan kupikir itu amat tidak lucu.

"Apakah seperti ini caramu membereskan baju?"

Kaien masuk tanpa mengetuk pintu. Aku mendiamkannya sambil tetap mengganti saluran TV dan mencari yang lebih menarik. Merasa didiamkan, ia berjalan ke tempat tidurku dan duduk di tepinya.

"Bagaimana denganmu yang tidak mengetuk pintu terlebih dahulu? Aku pikir kau sudah tahu itu sebelum mengajarkanku," ujarku, melirik Kaien yang sedang menaikkan kedua alisnya sambil menarik sudut bibirnya ke atas, dan melirik tumpukan baju yang menurutku 'sudah rapi'.

"Oke, salahku," ia berbaring di sampingku. "Bagaimana jika sekarang kuajarkan cara membereskan baju-baju?"

Aku langsung duduk dengan tegak. Mengabaikan volume suara yang cukup keras dari TV yang kusetel ini. "Sekarang?" tanyaku dengan nada meninggi.

"Iya, memangnya kapan lagi?"

"Selagi aku masih hidup?"

Kaien merubah roman wajahnya sesaat dan sedikit memajukan mulutnya, cemberut. "Ayo, daripada tugasmu bertambah semakin berat nanti."

"Tunggu—aku tidak," kata-kataku terpotong saat Kaien melemparkan seragamku. Sayangnya aku bukanlah receiver yang jago, sehingga seragam itu mendarat dengan indah di wajahku. Aku menariknya kasar, berharap dalam hati semoga seragam itu robek, supaya aku tidak perlu repot-repot pergi ke sekolah lagi.

Aku menumpukkan seragamku ke atas lemari dan menutupnya pelan. Kaien sedang merapikan beberapa perabotan yang berdiri dengan indah di atas meja belajarku. Saat membalikkan badan, aku hendak memanggil namanya, tetapi kulihat ia serius sekali berkutat di acara membersihkan perabotan antik itu dengan tangannya. Jari-jarinya yang panjang menelusuri garis badan seekor phoenix yang diukir di perabotan itu. Aku bingung melihatnya bertingkah aneh seperti ini. Apakah baru kali ini ia melihat perabotan?

"Kaien. Aku sudah selesai," aku memanggilnya sambil sedikit berdeham. Tubuhnya sedikit terkejut saat kupanggil. Ia lalu berbalik menghadapku dan memberiku senyuman khasnya. Kenapa kau berpikir bisa mengelabuiku dengan senyum itu?

"Oh iya." Kaien menepuk tangannya. Kami hening untuk sesaat. Tidak ada yang memulai pembicaraan duluan, kecuali seekor burung gereja yang mengetuk-ngetuk jendela kamarku dengan paruh kecilnya.

"Well, apa yang akan kita lakukan lagi hari ini?" aku menggaruk siku, mengedarkan pandangan ke lantai keramik berwarna abu-abu dengan bintik-bintik hitam seperti biskuit yang dihancurkan menjadi bubuk.

"Bagaimana kalau latihan menari? Nanti kita harus tampil pertama."

"Kita? Kau dan aku?" aku bertanya dengan tidak yakin. Berharap ia tertawa dan mengatakan 'bercanda'. Tapi yang kuharapkan tidak menjadi kenyataan. Kaien mengangguk pelan, merapikan kerah kemejanya untuk sesaat dan memperhatikanku yang masih memasang raut wajah—seperti—kesakitan.

"Yeah, itu yang diinginkan kakekmu, bukan?" Kaien mengangguk sambil menghampiriku yang masih membeku diam di tempat. Seolah ada tentakel yang menahan kakiku untuk tidak pergi dari sini.

"Aku... aku sudah bisa," aku menggaruk belakang leherku dengan tidak yakin. "Maksudku, sekedar berlatih dengan teman tadi."

Kaien mengangkat kedua alisnya. "Baiklah, mau memperlihatkan padaku sudah sejauh apa kau bisa menari?"

Aku berpikir ini bukan ide yang bagus. Sebenarnya bisa saja aku mengelak, langsung kabur dari sini, dan meminta Orihime untuk mengajarkanku sekali lagi. Tapi, kelihatannya itu hanya akan semakin memperburuk masalah. Jadi, aku mengikutinya dari belakang, mengabaikan Kakek yang terus meributkan kacamatanya yang sudah hilang, dan terus berjalan sampai ke balkon. Aku ingin menanyakan alasan kenapa ia tidak jadi datang ke ruang musik tadi, tapi kuurungkan niatku karena ucapan Ichigo yang tiba-tiba melintas di pikiranku begitu saja.

Kaien pasti akan khawatir mencarimu ke mana-mana.

Seingatku, Kaien tidak pernah mengkhawatirkanku akhir-akhir ini.

~TO BE CONTINUED~


Review reply:

First from Owwie Owl, Huehehe, yosh bercuap-cuap rianya bisa di pm atau sms, tapi sekali lagi, saia belum beli pulsa, hueee *gak penting, abaikan* Oda-san udah saia sebut di fic saia yg vampir itu, kok :D. Yosh, ini sudah di-update, makasih Reviewnya~! ^^

Kedua dari D-N-D Mozaik, Ehehe ^^a, yah begitulah. Ho'oh, sengaja nih *dikemplang panci* Yosh, ini sudah di-update, makasih banyak Reviewnya yaa~! ^^

Ketiga dari ayaaa, Hehe, gak apa2 kok. Dibaca aja saia udah terlanjur terbang ke langit *apa2an nih?* Nah, ini scene IchiRuki udah ada—menurut Shizu ^^a, tapi maaf kalo masih belum memuaskan T.T. Yosh, makasih Reviewnya~! ^^

Keempat dari Piyocco, Ehehe, iya masih datar banget kayak tembok. Tapi Inoue baik kok di sini, dia bakal jadi temen Rukia ampe the endnya juga. Yap, ini sudah di-update, makasih banyak Reviewnya~! ^^

Kelima dari Diarza, Yak gak apa2 kok :D. Makasih Reviewnya~! ^^

Keenam dari BlackRed, Jiakakak, Review lagi dia. Yowis, teu nanaon, yg penting gue bisa ketemu lu lagi XD. Haduh2, kenapa ente ke Bogor cuma sehari doang? Maen lagi laah *maksa*, ehehe. Pestanya liat di chapter selanjutnya ya. Makasih Reviewnya~! ^^

Ketujuh dari AkiHisa Pyon, Yup, salam kenal juga :D. Yap, begitulah, karena dia putri yang males *gak ada hubungannya!* Waah, terima kasih sekali udah mau di-fave, dengan senang hati ^^. Ya, ini udah di-update, makasih banyak~! ^^

Last from Ray Kousen7, Iyap begitulah, Kaien akan menjadi sangat misterius di sini. Ehehe, di sini dia bisa dansa kok, banyak malah *plaak*. Yup, setting saia ambil di Inggris :D. Ini sudah di-update, makasih banyak Reviewnya~! ^^

Whoa, baru kali ini saia dapet banyak Review, seneng banget ^^a. Makasih banyak ya sekali lagi buat Readers sekalian, sudah berkenan memberikan Review. Dan dari Review2 yg saia liat, kayaknya kebanyakan pada speechless yaa? =.=a. Duh, maaf sekali, cerita ini belum bisa membuat 'woow' karena belum nyampe konflik. Yang sabar dulu yaa, tapi saia juga gak bisa menjanjikan konfliknya bakal seru *pundung*

Ya, segitu aja dari Shizu. Terima kasih sekali lagi dan please Review :)