~Be A Good Princess~

~Genre: Romance, Drama~

~Pair: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Tanpa basa-basi lagi aku membanting tubuhku ke sofa. Besok. Iya, besok adalah hari paling buruk untukku. Dan hari itu terus terbayang-bayang, seakan mereka adalah utusan para setan yang bertugas untuk membuatku gila. Mungkin mereka berhasil, tapi untuk suatu alasan mereka tidak.

Katakan saja, aku sedang membutuhkan sesuatu yang menyegarkan di sini. Jadi, mungkin aku akan merogoh saku celana dan mengambil bungkusan kecil berbentuk persegi panjang, lalu mulai membakar rokok kecil berwarna putih itu. Merokok di dalam ruangan mungkin jauh lebih baik daripada di luar. Bisa saja beberapa orang lewat dan melihat, dan yang paling buruknya mereka akan memberitahu kepada Kakek tentang ini. Aku tidak bisa membayangkannya dan lebih baik tidak usah dibayangkan lebih jauh.

Aku mengadahkan kepala ke atas, langit-langit yang berwarna biru muda itu menjumpai penglihatanku. Saat menari dengan Kaien tadi, entah kenapa malah wajah Ichigo yang terbayang. Aku tidak bisa menghilangkannya. Semakin aku gugup semakin aku merasa kalau itu adalah Ichigo, bukan Kaien. Entah itu karena akhir-akhir ini aku dekat dengannya, atau karena rokok ini yang membuatku berhayal. Aku menghembuskan asap abu-abu itu. Keduanya aku tidak tahu.

"Putri Rukia." Suara perempuan yang khas itu mendesak masuk ke dalam telingaku. Karenanya, asap yang seharusnya kuhamburkan keluar malah tertelan ke dalam tenggorokan. Tidak ada air atau asbak untuk mematikan rokok ini, jadi dengan sigap aku menyembunyikannya di belakang punggungku. "Kenapa sendirian saja?" Yoruichi bertanya padaku. Lega rasanya ia tidak melihat benda apa yang kuselipkan di antara dua jariku ini.

"Oh, Yoruichi," aku berkata dengan gugup, tapi cepat-cepat aku mengubahnya. "Yeah, seperti yang kau lihat, aku memang sendirian. Itu karena, tidak ada yang menemaniku." Bagus, satu kalimat konyol keluar begitu saja dari mulutku.

Wanita bertubuh tinggi dan langsing itu tersenyum dan berjalan menghampiriku. Aku menggeser badan untuk menyisakan tempat untuk ia duduki.

"Kenapa tidak meminta Tuan Kaien untuk menemanimu?"

"Kaien," aku menyembur setengah tertawa. "Kaupikir ia mau menemaniku kalau hari sudah sore seperti ini? Ia pasti lebih memilih diam di kamarnya daripada menemani calon tunangannya di sini."

Yoruichi mengangguk masih tersenyum. Ia menatap ke depan, seolah kata-kata yang akan ia ucapkan selanjutnya tertera di sana.

"Apa Anda berpikir kalau Tuan Kaien akhir-akhir ini sedikit berubah? Sejak Anda masuk sekolah," tanya Yoruichi, posisi duduk tegaknya malah semakin membuatku tidak nyaman menahan rokok ini tetap berada di belakangku.

Aku menyahut, "Kau baru mengetahuinya sekarang? Kupikir hanya aku saja yang menyadari ada sedikit yang berubah dari Kaien. Ia jadi jarang bersamaku."

Yoruichi mengangguk lagi. "Tapi, jangan sampai kakek Anda kecewa karena kalian kurang dekat sekarang. Yang Mulia sangat mengharapkan Tuan Kaien menjadi suamimu nanti."

"Aku pun tidak tahu kenapa kakek begitu keras kepala dengan hubungan kami. Padahal...," aku berhenti berbicara. Padahal masih banyak cowok di luar sana yang lebih mengerti tentangku. Termasuk Ichigo. Tapi, itu tidak akan mungkin. Kakek sudah menetapkannya, dan itu tidak akan bisa dibantah lagi, sekalipun aku adalah cucunya. Sudahlah, tidak ada gunanya juga memikirkan Ichigo.

"Walaupun Tuan Kaien jarang bersama denganmu, saya yakin ia masih menyayangi Anda. Itu terlihat dari bagaimana caranya beliau mengajarimu."

Aku menghela napas pelan dan letih. Kamu hanya tidak tahu bagaimana sifat asli Kaien.

"Jadi, jangan biarkan ikatan kalian berdua padam begitu saja. Saya yakin, kalau kalian berdua menjaganya dengan merasa tidak terbebani, semua akan baik-baik saja," katanya dengan begitu manis. Tapi itu sama sekali tidak bisa membuatku tersenyum senang, aku hanya memberinya senyum paksa. Walaupun begitu, aku masih menghargai setiap perkataannya. Pelayan yang paling dekat denganku hanyalah dia. Yoruichi seorang. Tetapi, aku tidak pernah menyangka kalau menghabiskan waktu dengannya merupakan hal yang benar-benar menyenangkan.

Saat ia pergi, meninggalkanku sendirian kembali di ruang tamu besar ini, aku mengeluarkan tangan dari belakang punggungku. Aku menatap telapak tanganku dengan bingung.

Rokok itu sudah padam.

(*)(*)(*)

Kelihatannya aku benar-benar memerlukan air untuk membasuh wajahku. Lihat apa yang sudah mereka lakukan kepadaku! Wajah—yang menurutku—sudah cukup tanpa riasan apa pun, sekarang terlihat mengerikan dengan itu semua. Bulu mata tebal mempagari mataku. Rambut hitam yang biasanya terurai sebahu, sekarang disanggul sehingga bahuku yang putih terekspos dengan sempurna. Ini. Benar-benar. Kacau.

"Hello. Boleh aku masuk, Rukia?"

Kaien mengintip dari pintu kamarku. Aku yang sedang berdiri, menatap pantulan diriku di cermin, mengangguk untuk mempersilakan ia masuk. Aku tidak akan merasa semalu ini jika tidak memakai seluruh dandanan memuakkan yang mereka pasangkan terhadapku. Ini pertama kalinya mereka membuatku terlihat seperti orang konyol selain penjagaan ketat di kamar itu.

"Kelihatannya ada yang kurang, hmm." Kaien berdiri di sampingku. Aku melihat dirinya yang juga sudah ditata dengan rapi. Memakai kemeja hitam yang terlihat senada dengan warna rambutnya. Jari telunjuknya ditaruh di dagu, sementara aku terus melihatnya di cermin.

"Kau membutuhkan lipstik ini."

"Kenapa wanita selalu memakai benda sialan ini. Itu tidak perlu," ujarku dengan ketus. Kaien tertawa geli melihat tingkahku. "Apakah tidak ada gaun yang lebih menyiksa daripada yang satu ini?" tanyaku sambil merentangkan rok gaun berwarna merah muda yang terlihat begitu lebar di kedua kakiku. Apakah mereka menganggap ini adalah pesta di era Victoria?

"Tidak juga. Kau terlihat cocok di gaun ini." Kaien memperhatikan lututku. Aku hanya bisa mendengus kesal.

"Kau bercanda. Ini berat," aku menggerutu sambil melipat kedua tangan di depan dada. Aku memalingkan kepalaku ke arah cermin lagi. Entah kenapa, sesuatu membayang di kepalaku, yang mengingatkanku akan seorang pengantin wanita. Ia tertawa lagi.

"Kapan-kapan kau harus makan lebih banyak Rukia. Gaun itu memang lebih besar daripada orangnya," Kaien menggodaku. Itu tidak membuatku malu atau apa, tetapi lebih kepada ingin melemparnya dengan sepatuku. Dan ngomong-ngomong, berapa senti tinggi sepatu ber-hakku ini? Pikiran modern mereka terlalu jauh melampauiku.

"Dua jam lagi pesta akan dimulai. Kau tidak mau keluar untuk menemui teman-temanmu? Aku yakin mereka sudah datang dan menunggu sang pemeran utamanya," ucap Kaien sambil menunjuk ke arah pintu kamarku dengan ibu jarinya.

"Dan menerima segala komentar mereka tentang gaun anehku ini? Kurasa tidak. Aku lebih baik diam di sini hingga pesta benar-benar dimulai. Aku tidak akan keluar," kataku tetap berpegang teguh dengan apa yang kukatakan.

"Kau yakin?" tanya Kaien lagi. Aku mengangguk mantap.

Dan akhirnya, dengan ceklikan lembut di kenop pintu, aku kembali sendirian lagi. Memang bisa kurasakan alunan musik klasik di taman bergema di dadaku. Dan bisa saja teman-temanku sudah datang. Mereka mungkin sedang menikmati pudding, agar-agar, cupcake, atau apalah. Tetapi, aku benar-benar harus terbiasa dengan penampilanku yang 'baru' ini. Tenang saja, pesta ini tidak akan bertahan lama.

Lalu, beberapa menit sebelum pesta dimulai, aku mencoba untuk keluar dari kamar dengan cara mengendap-endap. Ruang tamu saja sudah ramai, bagaimana dengan balkon? Lama-lama rumah ini bisa saja menjadi lautan manusia. Tidak ada kemungkinan mereka tidak akan melihatku dengan penampilan mencolok ini. Sekalian saja adakan acara prom di rumahku.

"Hai, Rukia!" seseorang memanggilku dengan heboh. Itu Orihime. Yeah, berkatnya semua mata melihat ke arahku. Senyum mengembang di wajah mereka. Aku tidak mungkin bisa menahan senyumku lama-lama untuk membalas mereka satu persatu. Aku ketahuan.

"Hai, Orihime," aku balas menyapa dengan lemas. Tidak kuduga ia akan datang, aku berterima kasih sekali sahabatku satu-satunya ingin datang ke sini, dan menemani sahabatnya saat nanti dipermalukan di atas panggung, menari dengan calon tunangannya dengan gerakan kaku dan wajah merona merah. Aku benar-benar tidak menantikan saat-saat itu.

"Kau benar-benar datang."

"Tentu saja! Aku sudah tidak sabar melihatmu nanti di atas sana."

Benar, kan. Dunia sudah terbalik.

"Yeah, mungkin akan kelihatan menarik, dengan gaun ini," ucapku sambil menarik-narik gaunku lagi, berharap ia menyusut. Tapi, kelihatannya itu tidak menimbulkan efek apa-apa. Orihime malah terlihat lebih sederhana. Itu yang kuinginkan! Ia tidak memakai gaun, ia lebih memilih untuk memakai shirt berwarna putih dengan renda di kerah dan pinggangnya. Lalu rok pendek selututnya yang berwarna hitam, mengilap saat ia berjalan di bawah lampu. Melihatnya saja bisa membuatku pingsan di sini.

"Kau terlihat manis sekali, Orihime. Baju itu cocok untukmu. Aku sebenarnya tidak ingin memakai gaun terusan seperti ini. Aku ingin memakai baju yang berpasangan seperti itu."

Orihime terlihat malu saat kupuji. Senyumnya begitu lebar dan terlihat senang. Mungkin ia berharap laki-laki yang memujinya seperti itu, bukan sahabat aneh seperti aku ini. Ngomong-ngomong, apakah Orihime sudah mempunyai pacar?

"Seharusnya itu kata-kataku. Seorang putri sudah selayaknya memakai gaun indah ini. Kau tahu kalau gaun ini sudah sangat langka, karena hanya dipakai oleh kerajaan. Seperti zaman Victoria dan Eropa." Orihime memainkan pita hitam yang melingkar di roknya. Aku senang di saat seperti ini masih ada yang bisa menghibur hatiku. Dengan begini, aku bisa menambahkan rasa percaya diriku satu level lagi.

Akhirnya, pesta ini benar-benar dimulai—entah ini pantas disebut pesta atau apa. Aku sama sekali tidak merasa kalau waktu itu berjalan cepat sekali. Orihime lebih memilih untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan, daripada mengobrol dan mengambil segala jenis makanan ringan yang sudah dihidangkan. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa pesta yang seharusnya kecil-kecilan ini lebih terkesan ke acara pernikahan yang begitu mewahnya. Lega karena saat berada di atas panggung aku tidak melihat para gadis modern dance itu. Aku yakin mereka menerima undangannya, tetapi aku akan senang sekali jika mereka mengacuhkannya dan menganggap kalau itu hanyalah pesta biasa.

Kakek berpidato—atau mungkin lebih tepatnya kusebut dengan berbasa-basi—sebelum acara ini dimulai. Perutku bergemuruh tiada henti. Aku merasa bisa muntah kapan saja aku mau jika tidak ada yang melihat seramai ini. Putri yang baik? Jangan harap status itu akan bertahan lama padaku. Begitu semua ini selesai, aku akan membuang sandangan Putri Yang Baik itu menjadi Kuchiki Rukia Yang Membosankan Seperti Biasa. Yeah, kedengarannya unik.

Tenang saja, semua akan berjalan dengan baik jika kau tidak gugup.

Kaien muncul dari pintu belakang. Ke mana saja kau daritadi? Ia maju untuk menemaniku di atas panggung ini. Sorotan lampu mempermainkan mataku yang sudah lelah. Tenang saja. Aku hanya perlu menarik napas dengan pelan dan menghembuskannya. Lakukan saja itu berulang-ulang dan kau akan baik-baik saja.

Kaien lalu menyambut uluran tanganku. Aku tidak bisa bersikap setenang ini jika semua mata melihat kepadaku. Menelan ludah saja sudah susah payah, apalagi harus bergerak. Oke, musik sudah mengalun. Perlahan tapi pasti kami mulai berdansa. Aku mencoba untuk mengalihkan pandangan ke mana saja, asalkan tidak menatap wajah Kaien. Kakiku benar-benar tegang, rasanya ingin cepat-cepat selesai dan bisa berlari keluar taman untuk menghirup udara segar. Semuanya tidak berjalan sesuai dengan rencana.

"Kapan musiknya akan selesai? Ini membuatku gila," bisikku tajam kepada Kaien. Pria berambut hitam itu melirik kepadaku. Sedikit menampakkan senyum konyol.

"Aku tidak tahu. Kenapa kau tidak tanyakan saja kepadanya?"

"Kau pikir aku mau melakukannya?"

"Kenapa tidak? Kau selalu berani menantang, bukan?"

Aku kurang menyukai saat-saat seperti ini. Kenapa tiba-tiba gaya bicara Kaien menjadi berubah? Apa karena pesta aneh ini? Kalau iya aku bisa memakluminya, karena aku pun merasa seperti itu. Tapi, ini terlalu aneh untuk terkesan menyebalkan. Atau mungkin karena ia yang harus tampil bersamaku? Ini benar-benar momen yang paling tidak kusukai dari antara momen-momen buruk lainnya.

(*)(*)(*)

Akhirnya lagu itu berhenti, kami sama-sama menatap ke depan. Menerima beribu tepuk tangan dari para penonton, aku hanya bisa tersenyum geli dan sedikit mengangkat rok gaunku. Kakek begitu menyambut cucunya dengan meriah. Kuharap aku bisa sedikit mendapatkan perlindungan di sini. Begitu pula dengan Orihime yang berlari menghampiriku.

"Hati-hati," aku memperingatkan sambil tersenyum manis. "Lantainya licin, nanti kau bisa jatuh."

Orihime membalas senyumku sambil memeluk sahabat satu-satunya ini dengan begitu erat. Aku hampir tidak bisa membayangkan kalau nanti perpisahan kami akan serupa seperti ini. Degup jantungku yang awalnya terasa seperti memporak-porandakan dadaku, sedikit tenang sekarang.

"Apakah kau tidak melihat kalau kau begitu hebat di atas sana?" Orihime menunjuk kepada panggung yang mulai diisi oleh berbagai atraksi yang lainnya. Tentu saja untuk menghibur para tamu di sini. Aku menggeleng sambil tetap tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa malu yang setengah mati kutahan agar tidak meledak begitu saja.

"Kaupikir aku mempunyai tubuh ganda, sehingga bisa melihat diriku yang satu lagi menari dengan bodohnya di atas sana," ujarku sambil sedikit menghentak-hentakkan sepatu ber-hak ini ke lantai. Cukup keras jika kau menginginkan ia patah.

"Tidak. Tapi serius, Rukia. Kau benar-benar keren di sana."

"Kuharap tidak ada yang merekamnya." Aku memberikan cengiran lebarku kepada gadis ini. Rambut senjanya yang biasa diurai sekarang dikuncir satu. Jepitan biru yang berbentuk seperti bunga es diselipkan di pelipisnya. Aku hampir tidak bisa membedakan mana Orihime dan mana putri yang sebenarnya yang seharusnya tinggal di sini.

Aku memutuskan untuk menenangkan diri di luar. "Apakah Ichigo tidak datang?"

Orihime terlihat bingung untuk sementara. Mengedarkan pandangannya ke taman luas yang sudah dihias ini. "Uhm... aku juga tidak tahu."

"Hei!" Baru dibicarakan, cowok itu tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang. Suaranya terlihat senang. "Mencariku?"

Orihime membalikkan tubuhnya. "Rukia, itu Kurosaki," ia menunjuk Ichigo yang sudah berpakaian rapi seperti Kaien. Aku memasang tampang yeah, aku sudah mengetahuinya. Aku kemudian berkata, "Apakah ada cara yang lebih baik untuk menyapa daripada mengagetkanku dari belakang?"

Ichigo menggaruk belakang lehernya sambil setengah tertawa renyah. "Ini pesta. Kejutan adalah sapaan nomor satu."

Orihime terkekeh pelan. "Belajar darimana, Kurosaki?"

Ia mengedikkan bahunya. Aku hanya menyilangkan kedua lenganku di dada. "Oh, aku sudah kehilangan semangat untuk kejutan. Sebanyak apa pun kau memberikan kejutan, aku tidak akan kaget."

"Orihime! Ada yang ingin berbicara denganmu!" Seseorang tiba-tiba berseru dari belakang kami. Kelihatannya gadis itu juga mengenal Orihime, ia mengangkat tangannya untuk mengisyaratkan agar ia datang ke sana. Gadis bertubuh cukup tinggi ini lalu menghampirinya. Ia meninggalkanku berdua dengan Ichigo. Setidaknya masih ada beberapa orang di sini.

"Kau baru datang sekarang?" tanyaku, membuka pembicaraan. Aku memilih duduk di sebuah bangku kayu, dengan alunan musik klasik yang tidak terlalu heboh.

"Sebenarnya tidak. Aku bahkan melihatmu berdansa di panggung."

Hancur sudah, aku mengumpat dalam hati. Tenang saja, tidak perlu dipirkan. Itu sudah berlalu. Setidaknya ia tidak melihatku dari dekat kalau wajahku benar-benar merona merah. Ichigo tetap berdiri, menatapku yang sedang duduk meregangkan kedua kaki mungilku yang dibalut oleh rok yang panjang. "Ada apa?" tanyaku dengan was-was, tatapan Ichigo menjadi aneh sekali.

"Lagu masih diputar, mau berdansa denganku?"

Aku memainkan jari-jariku di bangku kayu ini. Saat melihat Ichigo mengulurkan tangannya dan sudut bibirnya ditarik ke belakang, membentuk senyuman mengajak yang hangat, aku menyambutnya dengan anggukan kecil. Ini seperti saat pertama kali kami belajar menari. Ichigo dengan hati-hati mengalungkan tangannya di pinggangku dan aku melihat tangan besarnya mulai menggenggam tangan milikku. Kali ini aku tidak merasa gugup, aku berani menatap matanya dalam-dalam, tidak seperti saat menatap Kaien. Walaupun belajar bersamanya menyenangkan, tetapi bersama Ichigo lebih membuat hatiku tenang.

"Aku merindukanmu, Rukia," kata Ichigo hangat sambil mencium puncuk kepalaku dan merasakan senyumnya melebar di sana. Ya, sudah sebelas tahun kami tidak bertemu, Ichigo dan aku pun tidak saling mengirim surat atau semacamnya. Jelas kalau sahabatku dari kecil ini sangat merindukanku. Aku tertawa sebagai responnya.

"Kau tidak akan pernah mengira kita akan bertemu lagi dengan cara yang unik, kan? Kau datang telat, dan menemukanku duduk di sebelah tempat dudukmu. Aku mengacuhkanmu dengan terus mengatakan kalau kau bukan siapa-siapa. Untung saja warna rambutmu yang unik itu tidak diubah, mungkin aku tidak akan pernah mengenalimu lagi."

"Ingatanmu memang buruk sekali, Rukia. Tidak mungkin, kan, kau melupakan nama Ichigo Kurosaki ini?"

"Kecuali yang satu itu." Kami berdua tertawa sambil saling berputar. Lagu yang lembut itu mendukung suasana kami yang begitu tenang. Aku merasa waktu seperti tidak berjalan. Sama seperti Ichigo, aku menyandarkan kepalaku di dadanya yang hangat. Jantungnya berdetak seperti sebuah melodi yang membuat punggungku hangat. Aku terlalu malu untuk memberitahu betapa senang aku bisa melihatnya lagi.

"Kau cantik sekali hari ini, Rukia." Sesuatu bergejolak di dalam benakku setelah ia mengucapkan kalimat singkat namun penuh perasaan itu. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi ini benar-benar sebuah kejutan untukku.

"Thanks. Kupikir aku akan mendengar kalimat itu dari Kaien. Tapi, kau yang pertama mengucapkannya." Aku sebaik-baiknya berusaha untuk tetap bersikap tenang. Gelapnya malam masih bisa menyelamatkanku agar tidak membiarkan Ichigo melihat rona merah yang pasti sekarang sudah menyebar di pipiku. Aku tidak tersipu malu. Yang benar saja. Itu hanya dilakukan oleh sepasang kekasih. Tersipu malu dengan bahagia itu beda sekali.

"Hei, aku serius, Rukia," kata Ichigo, dan bisa kubayangkan ia menahan tawa sekarang.

"Yeah, tentu saja. Memangnya siapa yang menganggapmu sedang melucu? Aku hanya tidak percaya kalau kau akan mengucapkan itu. Kaien bahkan tidak mengatakannya," tukasku. Kami terus berdansa dengan tenang dan tidak heboh seperti yang lainnya, sampai aku melihat seseorang yang kukenal dari kejauhan. Ia terlihat mencurigakan. Mataku sedikit menyipit untuk melihatnya lebih jelas. Tidak mungkin, itu Kaien.

"Apa yang ia lakukan di sana?" gumamku pelan. Ichigo tiba-tiba berhenti mendekapku, ia menjauhkan tubuhnya dan menatapku dengan lekat. Tatapan mata yang khawatir. Kami berhenti saat itu juga.

"Barusan kau bilang apa?"

"Yang di sana itu Kaien. Benar, kan?" aku menunjuk ke sana. Pria mencurigakan itu berbicara kepada seseorang. Ichigo pun melihat ke arah yang kutunjuk dengan jariku. Ia tiba-tiba menarik lenganku. Kami berlari ke arahnya.

"Kau ini kenapa, sih? Tiba-tiba—"

Ia menaruh telunjuk di bibirnya, pertanda untuk menyuruhku diam. Kami mengintip dari balik pilar besar. Terdapat kereta kuda di sana, beberapa orang, dan beberapa perabotan saling diangkut di atas gerobak kereta itu. Aku mengenalnya. Perabotan berlukiskan gambar burung phoenix di sisinya. Itu perabotan yang berada di kamarku.

"Apa yang mereka lakukan?" bisik Ichigo sambil mencoba melirik mereka.

"Jangan bilang kalau mereka mencoba untuk mencuri dari rumah kakek. Dan Kaien pun bersangkutan dengannya." Aku mencoba berdiri lebih tinggi lagi. Mengintip dari balik punggung Ichigo. Kereta itu tiba-tiba berjalan.

"Hei! Me-mereka harus segera dihentikan!" Aku berlari dari balik pilar itu. Terdengar Ichigo berteriak memanggil namaku. Ini benar-benar keterlaluan, tidak akan kubiarkan Kaien mencuri seluruh benda dari rumah Kakek. Tapi, ia benar-benar ada di sana. Kaien benar-benar berdiri di antara dengan mereka, dan ia melihatku.

"Apa yang kaulakukan di sini?" tanyanya. Wajahnya terlihat serius dan tidak ceria seperti tadi. Aku balas menatapnya.

"Jelaskan padaku kenapa benda-benda itu ada di sana! Apakah kau mencurinya?"

"Oh," ia menyipitkan matanya padaku. "Mencuri sungguh kata-kata yang pedas, Rukia. Bagaimana menurutmu?" ia menantangku dengan senyum liciknya. Aku mengepalkan tanganku erat-erat. Tidak peduli dengan orang-orang yang menatap kami dengan bingung, hanya jangan sampai Kaien melarikan diri dari sini.

"Kau benar-benar keterlaluan!" Aku menampar pipinya saat itu juga. Ia terlihat syok dengan apa yang barusan kulakukan. Aku sedikit menggeram, berharap ia segera menjelaskan semua ini. Tapi, Ichigo tiba-tiba datang menghampiri.

"Apa yang kauinginkan, Kaien? Aku sudah tahu dari sejak mengenalmu di sekolah. Kau tidaklah sebaik yang orang-orang kira."

Kulihat pria itu kembali tersenyum lagi. Aku tidak terkejut kalau Ichigo sudah mengetahui sifat aslinya. Itu hanya karena aku terlalu rapuh, dengan mudahnya terjebak ke dalam perangkapnya.

"Kau tidak melihat? Jika menjual barang-barang ini, berapa banyak uang yang akan kau dapatkan," ia melirik dengan tajam kepada Ichigo. Matanya seperti ular di semak-semak yang kapan saja bisa keluar dan menancapkan taring kepada mangsanya. "Ini hanyalah sandiwara. Mencoba mendekatkan diri dengan Yang Mulia Kuchiki, setelah ia percaya kepadaku, aku akan mengambil seluruh hartanya. Mereka akan berpikir aku adalah orang baik yang bisa membimbing cucunya menjadi ratu yang bijaksana kelak. Tapi, pikiran mereka begitu naif, sampai-sampai tidak sadar kalau mereka sudah ikut terbawa permainan ini."

"Jadi... selama ini," aku mengertakkan gigi gerahamku. "Kenapa kau berpikir seperti itu? Kupikir kita akan baik-baik saja, sampai kakek bisa senang melihat kita memulai hidup baru. Tapi, kenapa kau membohongi kami semua?" tanyaku dengan nada yang pasrah. Kaget, syok, dan rasa tidak percaya bercampur menjadi satu di dalam hatiku. Ichigo mencengkeram pergelangan tanganku. Ia seolah mengisyaratkan untuk mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan tenang.

"Rukia, kau hanyalah anak-anak, mudah dibohongi dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kakekmu sudah menyerah untuk mengajarimu agar bisa menjadi ratu yang nanti akan menggantikannya. Kau sudah selesai."

Aku membelalakkan mata saat itu juga. Ada sesuatu di nada bicaranya yang sedikit menusuk hatiku. Aku memang tidak bisa melakukan apa-apa, anak manja yang hanya bisa bergantung pada orang lain. Beberapa helai rambutku sudah jatuh dari sanggulnya, aku benar-benar terlihat berantakan. Aku tidak bisa menatap wajahnya, seolah-olah ada tali yang menarik kepalaku untuk tetap tertunduk. Terkadang api yang ganas bisa saja mengalahkan air yang tenang dan tidak tahu apa-apa.

Keadaan menjadi benar-benar menyeramkan saat Kakek keluar dan melihat kami bertiga. Aku tidak menyadari kalau daritadi musik sudah berhenti mengalun. Para tamu melihat kami dengan terkejutnya, begitu juga Orihime. Wajahku benar-benar panas, aku merasa ingin menangis saat ini. Karena ketahuan, Kaien pun segera kabur dari sana bersama teman-temannya. Mereka pergi membawa benda-benda itu.

(*)(*)(*)

Aku menceritakan semuanya kepada Kakek. Tentu saja ia terkejut bercampur marah. Aku menarik keluar sanggul yang menata rambutku, seluruh riasan wajah luntur saat air mataku membanjirinya seperti sungai kecil. Pesta ini benar-benar kacau, tidak ada yang berani bergerak setelah mengetahui ada seseorang yang sudah 'merampok' rumah ini dari dulu. Kenapa aku tidak pernah menyadarinya? Gerak-geriknya memang agak mencurigakan akhir-akhir ini. Aku tidak terkejut kalau ternyata ia berhasil membohongiku. Toh, semua yang dikatakannya memang benar.

"Aku akan segera menyusulnya." Ichigo menggenggam bahuku sambil berbisik. Aku mengangkat kepala untuk melihat wajahnya. Kakek masih duduk di sampingku. Wajahnya tidak terlalu kelihatan menunjukkan emosi, tetapi aku bisa tahu dari detak jantungnya yang begitu cepat.

"Kenapa? Para pengawal kakek bisa mengejarnya," ujarku pelan, sambil menggenggam lengan bajunya yang sudah diganti dengan kaus hitam berlengan panjang. Ia menekuk satu kakinya sehingga tinggi kami sejajar. Raut wajahnya seakan mengatakan kalau ia bersalah akan sesuatu. "Ini bukan salahmu, Ichigo. Tidak ada yang bersalah di sini, itu hanyalah kecurangan," aku menundukkan wajahku.

"Kurosaki Ichigo," Kakek tiba-tiba memanggil dengan suara yang berat. Ia mendongakkan kepala. "Jangan mempersulit dirimu. Dia tidak melakukan apa-apa padamu, bukan?"

Ichigo terlihat gugup untuk berbicara. "Uh, iya, memang tidak. Lagi pula saya yang lebih mengenalnya di sekolah maupun di luar sekolah. Jadi, akan lebih baik jika saya saja yang mengejarnya sebelum ia pergi terlalu jauh."

Aku langsung berdiri. "Kalau begitu biarkan aku ikut," sergahku sambil menatap wajah Kakek dengan sendu. "Tolong, jangan melarangku, Kek."

Kakek awalnya tidak mengizinkan. Para pelayan tidak bisa membantahnya, mereka tidak punya kuasa yang cukup. Aku tetap memaksakan diriku dengan berkata kalau aku akan baik-baik saja. Ichigo bahkan tidak terlalu setuju untuk ide ini. Ia mengkhawatirkanku. Aku pribadi pun bingung darimana keberanian untuk maju ke arena pertempuran seperti ini bisa muncul. Hampir setiap hari aku hanya merasa sok seperti putri yang sombong, kenyataannya dicaci maki sekalipun aku bisa runtuh.

"Masalah ini melibatkan diriku, tentu aku harus ikut ke sana," aku menatap mata amber Ichigo dengan mantap. "Tolong jangan biarkan aku hanya duduk dan menangis di sini sendirian. Aku juga harus melakukan sesuatu."

Setelah mereka mencerna baik-baik perkataanku, akhirnya Kakek mengizinkan. Kami pergi dengan kuda yang berada di dalam gudang. Orihime masih berdiri di sana, ia belum pulang seperti tamu-tamu yang lainnya. Kejadian yang paling langka, dan mungkin sebentar lagi akan menyebar ke publik. Aku meminta Orihime untuk segera pulang, hari sudah sangat larut. Ia hanya bisa tersenyum miris, berharap dirinya sendiri bisa membantu. Aku membalas raut wajahnya, mencoba mengatakan, tidak, jangan merepotkan dirimu sendiri. Mungkin akan banyak yang ragu denganku, mereka tidak yakin apa yang bisa dilakukan calon putri gagal seperti aku ini.

Tapi aku akan mencobanya untuk membuat perubahan yang besar.

~TO BE CONTINUED~


Review reply:

Pertama dari HwangChan, Iya, nanti boleh digampar setelah pesan2 berikut *beneran digampar* Yup, ini sudah di-update, makasih yaa udah nungguin~! ^^

Kedua dari D-N-D Mozaik, Wah kayaknya ini gak update kilat ya =.=a oh well, yg penting di-update yaa, hihihi XD. Iya, ini udah nyampe party and konflik sekaligus, maaf kalo konfliknya cuma gitu2 doang. Makasih Reviewnya yaa~! ^^

Ketiga dari BlackRed, Iyoo, ini juga ada lagi kok, saia sudah berusaha sebaik2nya supaya keliatan mesra, tapi kayaknya tetep aneh *garuk pala* Makasih Reviewnya~! Review lagi lhoo! XD

Keempat dari yuchan, Huehe, salam kenal juga Yuchan ^^, panggil Shizu aja, biar lebih prenly (?). Wah gitu ya? Saia kira yang kayak gini udah pasaran di Pasar Minggu, huehehe. Sip, saia akan berusaha untuk itu, oke Rukia? *ngelirik Rukia* Makasih Reviewnya yaa~! ^^

Kelima dari ayaa, Yup, ini udah di-update dan scene IchiRuki saia tambahin dikit ^^a. Mudah2an gak kurang ya, karena cuma itu yang saia bisa buat. Makasih banyak Reviewnya~! ^^

Keenam dari Ray Kousen7, Huahaha *ketawa nista* di sini doang looh bisanya ^^a. Iya, saia emang paling lelet dalam masalah alur, sehingga mengulur-ulur terus dan pemunculan masalahnya baru nyampe di sini =.=a. Sip, ini udah di-update, makasih Reviewnya yaa~! ^^

Last from Diarza, Di sini udah ada kok ^^a, maap menunggumu sampai keburu bosan duluan *nabok diri sendiri*. Yup, ini sudah di-update. Makasih Reviewnya yaa~! ^^

Nah, akhirnya—yang Readers tunggu-tunggu—kita sampai di pemunculan masalah! Ehm, saia gak bisa menjanjikan konfliknya bakal seru dan panjang untuk next chapter. Karena saia bukan orang yang hebat membuat konflik menjadi meriah, jadi mungkin agak mengecewakan dan gitu2 aja ^^a, di next chapter looh. Jadi I've warned you before yaah. Jangan marah2 ke saia T.T apalagi sampe ngasih ulekan sambel.

Ehm, apa lagi ya? Saia rasa cukup itu aja. Maaf jika ada kesalahan di cerita barusan, seenak jidat saia ngancurin imej semua karakternya =.=a *besok langsung ngaku dosa*. Yosh, terima kasih sekali lagi buat yg udah berkenan Review, see you guys on next chapter~!