~Be A Good Princess~

~Genre: Romance, Drama~

~Pair: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


"Lalu, apa yang kau rencanakan? Menendang bokongnya dan menyeretnya ke kantor polisi?"

Ichigo mengerutkan alisnya seperti terkejut atas omonganku barusan. Beruntung dia mempunyai kendali yang bagus dalam mengendarai kuda, kalau tidak Ichigo pasti akan jatuh dari atas punggung kudanya dengan raut mengerikan seperti itu. Aku membiarkan batu kecil jatuh dari tanganku sekarang tanpa bisa dilihat oleh Ichigo. Ini kulakukan supaya pengawal Kakek mengetahui keberadaan kami sekarang dengan mengikuti batu-batu itu.

"Kita tidak akan melakukannya dengan kekerasan," tukasnya, menatap ke depan dengan wajah serius. "Kita hanya berbicara baik-baik."

Aku mengernyit. "Seperti itukah sesama laki-laki menyelesaikan masalah? Jika dipikir baik-baik itu mudah sekali."

Karena aku sering menonton film action yang biasanya mempunyai peran utama laki-laki, menyelesaikan-masalah-dengan-perkelahian itu benar-benar merasuk di otakku. Mereka pasti akan memukul wajah lawannya hingga tak berbentuk lagi, menendang musuhnya sampai terkapar tidak bernyawa, dan sebagainya. Jangan tanya kenapa aku menyukai film-film kekerasan seperti itu, masih lebih baik daripada menonton film drama yang tidak ada habisnya. Aku langsung menghela napas dengan kasar, mengingat kalau sebenarnya hidupku sebagai putri begitu mirip dengan film-film drama.

"Tidak lebih rumit daripada perempuan, bukan?"

"Mereka sama saja." Aku menatap ke depan juga kalau tidak mau kudaku menabrak tiang lampu. "Saling menjambak rambut, mencakar wajah, berteriak-teriak dengan suara nyaring yang bisa membuat telinga menjadi tuli, dan semacamnya," aku mengedikkan bahuku. Karena aku tidak pernah terlibat perkelahian dengan sesama jenis, jadi aku jelas mengakui kalau itu sangat menyebalkan.

Ichigo mencondongkan tubuhnya ke depan dan menyipitkan matanya saat melihat siluet kereta kuda besar yang sama seperti milik Kaien. Atau paling tidak aku harap itu memang mereka. Ichigo membelalakkan mata lalu memukul tali kekang kudanya untuk berlari lebih cepat. Aku menjatuhkan satu batu lagi, kali ini agak besar. Aku harap pengawal Kakek bisa datang tepat pada waktunya.

"Aku sudah mendapatkan mereka, Rukia. Ayo kita ikuti."

"Seharusnya kau mengatakan, 'ayo kita kejar dan hentikan'," aku membetulkan sambil memutar bola mataku pelan. "Kau terlalu baik hati."

Ichigo menghembuskan napas dengan tegang dan pasrah. "Yeah, yeah, terserah apa kata putri kecil kita saja."

Kami langsung berpacu lebih cepat untuk mengejar kereta milik Kaien yang berada di depan. Mereka yang kelihatannya menyadari saat dikejar, langsung memberhentikan keretanya di sebuah gudang. Mungkin mereka sengaja menarik kami ke gudang tua ini. Aku dan Ichigo segera turun dari kuda dan mengejar mereka. Kaien tidak terlihat seperti ingin melarikan diri lebih jauh lagi, mereka terpojok.

Aku terkejut saat melihat anak buah Kaien mengeluarkan senjata api dan berbagai benda yang tajam. Tetapi Kaien sendiri tidak memegang apa-apa.

"Whoa—hei, santai saja," seru Ichigo sambil mengangkat kedua tangannya ke atas saat ada satu orang yang menodongkan pisau kecil ke lehernya. "Aku datang ke sini tidak bermaksud untuk memulai kekerasan dengan kalian. Kami hanya ingin berbicara baik-baik denganmu, Kaien."

"Seharusnya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi di sini, Kurosaki. Kau ingin mengatakan kalau kau datang dalam damai? Jangan naif."

"Hei, jaga mulutmu, Kaien. Kau yang seharusnya sadar dengan perbuatan rendahanmu ini," aku langsung menyambar. Menatap dengan tajam satu persatu anak buah Kaien yang dipersenjatai alat-alat berbahaya. Kami kalah jumlah. "Kenapa kau tidak menyerah saja dan segera selesaikan masalah ini sekarang?"

"Kau ingin mengatakan kalau kau sedang kekurangan uang untuk keluargamu? Lalu, kemudian mencuri semua barang-barang dari kerajaan dan menjualnya? Hei, Kaien, sadarlah dengan jabatanmu sekarang. Kau bukan pria rendahan, kau mempunyai kharisma seorang pangeran yang dihormati."

Ichigo sangat bagus sekali memuji orang, bahkan orang yang dibenci sekalipun. Pria seperti dia tidak pantas mendapat gelar pangeran. Ia sudah menodai statusnya sendiri dengan 'mencuri' secara diam-diam. Walaupun aku tidak sepenuhnya paham dengan sesuatu seperti wibawa, tanggung jawab, dan semacamnya, tapi aku juga tahu kalau perbuatan ini sangat melanggar aturan. Aku yang tidak berpengalaman sama sekali tidak pernah melakukan perbuatan mencuri dari orang lain, apalagi mencuri barang milik keluarga sendiri. Beda halnya dengan Kaien yang sudah melakukan itu.

"Ichigo benar. Tapi, aku tidak akan pernah mengakuimu lagi. Pengkhianat," aku mengumpat diam-diam, tapi ajaibnya Kaien masih bisa mendengar.

"Oh, dari awal kau memang sudah menginginkan Kurosaki, bukan? Aku, bukanlah pria yang pantas untukmu, Rukia."

Pintar sekali dia memancing emosiku keluar. "Karena dari awal kau sudah bersalah! Aku—"

Ichigo menggenggam bahuku dengan kencang. "Jangan berteriak, Kaien tepat berada di depanmu."

Pria berambut hitam itu tersenyum licik. Bukan lagi senyum ramah yang biasanya dia berikan. "Dengarkanlah calon tunanganmu baik-baik. Dia bahkan lebih berwibawa darimu, Putri Rukia."

Sekarang aku hanya menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tidak terpancing oleh provokasinya. "Apakah... kau tidak pernah menyesal?"

"Menyesal? Tentu saja. Aku menyesal karena tidak bisa menjual mereka. Kakekmu bisa membeli barang-barang ini dengan sekali jentikkan jari, sementara rakyatmu di luar sana kesusahan hanya untuk makan sehari-hari saja."

"Apa maksudmu?"

Kata-kata Kaien seolah mengatakan kalau dia ingin menolong orang-orang itu. Kalau ia berniat menjual perabotan ini untuk menolong orang-orang susah maka aku patut memuji kebaikan hatinya. Tetapi, semua harapan itu lenyap bersamaan dengan ledakan tawa dari mulut Kaien.

"Maksudku, kau relakan saja barang-barang ini kami jual. Toh, kalian bisa membelinya lagi."

Ugh, pikiranku naif sekali tadi. "Mana mungkin aku merelakan barang-barang ini jatuh ke tangan yang salah. Kau berbicara seolah itu perkara yang mudah, seperti membalikkan telapak tangan dan mengerjapkan mata untuk membangunkanmu dari mimpi buruk."

"Hentikanlah, Kaien. Kalau kau memang menginginkan kekayaan, kau seharusnya berusaha. Bukannya mengambil milik orang lain dan seenaknya saja kau jual."

"Itu kata-kata untuk orang yang hanya bisa berharap. Pembicaraan ini membuatku muak, lebih baik aku keluar. Jangan biarkan mereka bergerak satu senti pun," ancam Kaien, memerintah anak buahnya untuk menjaga kami berdua tetap berdiri di tempat. Aku hampir tergesa-gesa untuk menghentikannya lagi, tetapi Ichigo melarangku. Aku hanya bisa berharap dalam hati agar bantuan segera datang. Karena jika dua di antara kami, tidak akan bisa menghentikan sepuluh orang yang membawa senjata tajam. Saat mereka membelakangiku dan Ichigo, aku mengangkat tanganku, memasukkan kedua jari kelinking di antara bibirku dan langsung bersiul dengan kencang.

Kudaku yang berada di depan gudang langsung meringkik dan berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Kaien dan anak buahnya terlihat kaget, dan mereka semua berpencar seperti semut yang keluar dari sarangnya. Begitu juga dengan kuda Ichigo, ia berlari-lari dengan liar seperti banteng yang akan menabrak kerumunan penonton.

"Mereka di sini!"

Aku mendengar seruan seseorang dari luar gudang. Aku langsung menarik lengan Ichigo dan melihat para pengawal Kakek sudah sampai di sini sesuai dengan yang kami rencanakan. Anak-anak buah Kaien terlihat ketakutan karena sudah dikepung, termasuk Kaien sendiri. Dia berdiri di tengah-tengah anak buahnya.

"Rukia, kau... yang memanggil mereka? Tapi, bagaimana caranya?"

"Seorang putri harus bersikap cerdik dalam setiap keadaan yang melandanya. Aku membuat jejak dengan menjatuhkan batu-batu kecil yang bisa diikuti oleh para pengawal. Lalu setelah sampai, aku akan bersiul kencang sebagai tanda untuk memberitahu kalau kita berada di sini."

"Whoa," nada bicara Ichigo menjadi takjub. "Bagaimana kau bisa tahu kalau para pengawal ini sudah sampai?"

"Waktu yang memberitahuku," jawabku singkat sambil tersenyum menyeringai. Ichigo tersenyum lebar dan menepuk-nepuk pundakku dengan puas. Kaien yang tidak bisa mencari jalan keluar lagi, terpaksa ditangkap oleh para pengawal. Tangan mereka diikat dengan tali kecil.

"Terima kasih banyak atas bantuannya, Izuru. Kalian bisa diajak kerja sama dengan baik."

Pengawal berambut pirang itu mengangguk dan menarik tali kekang kudanya yang berwarna hitam. Dia adalah pemimpin dari para pengawal setia Kakek. Walaupun wajahnya terlihat seperti orang yang murung, tapi Izuru Kira mempunyai rasa tanggung jawab yang begitu tinggi. Benar-benar tidak cocok dengan penampilannya dari luar. Saat melirik Kaien yang berjalan mengikuti pengawal, aku memberikannya senyum licik penuh kemenangan.

"Sampai bertemu di penjara," ujarku santai sambil melambaikan tangan. Sebelum naik ke atas kuda masing-masing, Ichigo memujiku dengan senyum lebar, "Kejutan yang kau buat ini sangat meriah, Rukia. Ingat kalau kita masih dalam suasana pesta sekarang." Lalu setelah itu dia memacu kudanya dan aku mengikuti dari belakang.

Aku tidak berkata sia-sia tentang perubahan besar itu, karena aku sudah membuatnya jadi kenyataan.

(*)(*)(*)

Sehari setelahnya, Kakek terkejut melihatku sedang sibuk menyirami tanaman. Aku sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku baru menyadari kalau melakukan hal seperti ini ternyata sangat menyenangkan dibandingkan tidur dan menonton TV sampai malam. Aku bisa mengenal nama-nama bunga cantik yang Kakek pelihara, dan tukang kebun kami memberitahunya dengan baik. Dengan kedua tangan yang disilangkan di belakang seperti profesor, Kakek menghampiri kami.

"Senang sekali melihatmu berada di sini, Rukia. Kupikir aku akan menemukanmu di dapur dan sedang mencuri biskuit."

"Ha, lucu sekali leluconmu, Kek. Bunga-bunga ini kehausan dan perlu dirawat dengan lebih baik lagi. Kakek juga jangan hanya duduk di kursi dan membaca koran, kunjungilah mereka sesekali."

Kakek tersenyum dan mengusap kepalaku pelan. Para pelayan tidak pernah terkejut jika melihat kami berbicara, karena memang seperti inilah gaya kami berbicara. Formal dan sopan itu bukan tipeku, tapi rasanya itu harus kugunakan nanti jika aku menjadi putri yang sebenarnya. Setelah itu, aku masuk ke ruang tengah dan mendapati Yoruichi sedang menyusun koran-koran yang sering dibaca Kakek. Aku menghampirinya lalu menepuk pundaknya. Dia terlihat agak terkejut.

"Putri Rukia," ucapnya terbata-bata.

"Butuh bantuan? Kebetulan aku juga sedang tidak ada kerjaan apa-apa sekarang."

Yoruichi sedikit ragu, tapi saat tanganku mengambil setengah dari tumpukan koran itu, kami membereskannya bersama-sama. Hampir semua pelayan yang aku temui, dan kutawarkan bantuan untuk mengurus segala ini-dan-itu, mereka semua terkejut. Aku juga menyadari karena aku sering bermalas-malasan di kamar dan merokok. Oh, oke, kebiasaan buruk itu sudah hilang berhari-hari yang lalu, dan aku sangat berterima kasih kepada Ichigo waktu itu. Semenjak perkara Kaien mencuri dan semacamnya itu, aku tersadar akan sesuatu. Sesuatu seperti yang dikatakan Ichigo, kau seharusnya berusaha. Dan itu membuat otakku terus berpikir keras. Jika ingin mendapatkan sesuatu, kita harus berusaha, yeah, bagus juga. Aku yang Dulu pasti akan mengabaikan semua pelayan yang sedang bekerja, tapi Aku yang Sekarang merasa mereka patut dibantu. Karena bagaimanapun, derajatku dengan mereka tidaklah berbeda. Aku seharusnya memulai dari nol seperti mereka, tapi takdir berkata lain, dan aku senang dengan perubahan ini. Aku merasa jadi lebih ramai dari biasanya.

Yoruichi tiba-tiba menoleh ke arah pintu yang berbunyi belnya. Ia berdiri dengan anggun, khas seorang pelayan yang terlatih selama bertahun-tahun, lalu berjalan ke arah pintu dan meninggalkanku dengan koran-koran ini. Kelihatannya aku harus menumpuk yang baru di atas, dan yang sudah lama kuberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Kakek tidak akan terganggu dengan keputusan seperti itu, karena ia sudah membacanya berkali-kali. Kalau ia benar-benar orang yang pintar, aku ingin menantangnya untuk mendeklamasikan berita dari koran-koran itu satu persatu.

"Putri Rukia, ada tamu untuk Anda," ujar Yoruichi dari kejauhan. Aku berdiri dan merapikan rok selututku yang kusut. Aku berjalan ke pintu dan Yoruichi membiarkanku berdua dengan tamu ini di ambang pintu. Ia tidak menunjukkan dirinya dari balik pintu itu.

"Hei, Rukia," sapa tamu tak diundang tersebut sebelum aku sempat melontarkan namanya. Itu Ichigo. Dan dia benar-benar berdiri di sana.

"O-oh, Ichigo. Apa yang kaulakukan di sini? Maksudku, kau benar-benar datang ke sini dengan mudahnya tanpa pertanyaan dari pengawal di depan gerbang?"

Ichigo terlihat berpikir sejenak. Aku ragu ia mengendap-endap dari halaman belakang. "Mungkin mereka berpikir aku adalah orang baik-baik, jadi mereka membiarkanku lewat, dan di sinilah aku sekarang."

Nada humorisnya itu tidak pernah hilang di keadaan apa pun, dan dia berhasil membuatku sedikit tertawa. "Masuklah, jangan berdiri di sana saja," aku membuat langkahku berjalan ke samping, tapi Ichigo cepat-cepat menggeleng. "Ada apa?"

"Kau ingat kalau besok ada pentas seni di sekolah, dan, dan," kata-kata Ichigo seperti tercekat dan ditelan kembali ke tenggorokannya, "Inoue meminta bantuanmu."

"Orihime meminta bantuanku? Ada apa memangnya?"

"Ikutlah denganku, ia sudah menunggumu di luar."

Aku kembali masuk dan mengganti baju formal seadanya. Sambil mengambil cardigan, aku berkata kepada Kakek bahwa aku akan keluar sebentar saja hari ini. Ternyata benar, Orihime sudah menunggu di sana sambil menendang kerikil kecil. Aku menusuk pinggang Ichigo dengan siku dan ia mundur beberapa senti sambil meringis.

"Kenapa kau tidak mengajaknya masuk ke dalam juga? Tega sekali meninggalkan seorang wanita di sini," sergahku tajam dan ia mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai bukti pembelaan saat Orihime mengatakan, "Rukia, aku yang meminta Kurosaki untuk masuk ke sana saja sendiri. Karena rasanya repot kalau aku ikut."

Aku menghela napas dengan kata-katanya yang begitu merendah. "Siapa yang mengatakan keadaan akan menjadi repot kalau kau ikut, Orihime? Oh, ayolah, kita teman sekarang, kan?" tanyaku sambil merangkul pundaknya, dan aku bisa mendengar Ichigo mendengus di belakang. Ia mengangkat bahunya dalam kedikan kecil saat aku menatapnya tajam.

(*)(*)(*)

"Jadi, kau ingin meminta bantuan apa, Orihime? Kalau untuk berdansa atau semacamnya, kelihatannya aku tidak bisa membantumu. Kau malah yang mengajariku."

Kami berdua duduk di bangku taman yang akhirnya menjadi tempat pilihan kami yang terakhir setelah berkeliling untuk mencari tempat yang nyaman. Orihime memainkan jari-jarinya dalam kegugupan sementara Ichigo asyik melempari batu ke dalam kolam kecil di depan kami. Batu-batu itu melompat di atas air sebelum ia benar-benar tenggelam ke dasarnya.

"Kurosaki sudah mengatakan padaku kalau kau tahu aku termasuk kelompok dance Riruka," ia memutar bola matanya dengan gugup, kemudian matanya melompat ke punggung Ichigo. Laki-laki itu mengerang saat batu yang dilemparnya tidak memantul-mantul di atas air seperti yang diharapkannya. Ia mencoba lagi. "Well, aku keluar dari sana karena ada sedikit masalah dengan Riruka."

"Cewek itu memang terlihat seperti orang yang selalu berbuat masalah. Boleh kutahu kenapa kalian bisa diam seperti orang yang tidak saling kenal?"

"Iya, kami... pernah bercekcok, dan itu sama sekali bukan hal yang bagus. Itu karena aku telat datang untuk latihan bersama-sama, dan saat pentas, aku mengacaukan semua gerakannya," kata Orihime dengan muram, kemudian mulutnya terbuka untuk menambahkan dengan ragu-ragu, "dan irama yang kubuat membuat mereka menjadi lebih marah."

Aku hanya bisa mengapit bibirku melihat wajahnya menunduk malu. Orihime hanya telat dan 'sedikit' mengacaukan dansa mereka, bukan berarti ia harus dikucilkan seperti itu dan memperlakukannya seperti budak saat aku pertama kali berkenalan dengannya. Tidak heran kalau tingkah Riruka dan kawannya membuatku selalu kesal dan mengertakkan gigi geraham. Besok, sesuai dengan yang Ichigo katakan, ada pentas di sekolah, dan aku bisa menebak geng modern dance itu terpilih untuk meramaikan panggung. Aku sekarang tahu apa yang Orihime minta dariku. Dia ingin aku untuk membuatnya kembali bersama teman-teman dance-nya.

"Riruka sudah menganggapku sebagai adiknya. Kami sudah kenal dari kecil dan selalu bermain bersama waktu itu," Orihime mulai bercerita. "Aku melihat ia mempunyai kemampuan menari yang bagus, maka aku mengusulkan untuk membuat grup dansa yang mungkin bisa sangat berguna untuk mengisi acara pentas yang biasanya diadakan di sekolah. Riruka setuju dengan itu, dan kami mulai mengumpulkan teman-teman—"

"Oh, percayalah padaku, Dokugamine tidak sebaik yang kaukira sekarang, Inoue," sela Ichigo yang ternyata menguping pembicaraan kami sambil melempar-lempar batu di telapak tangannya. "Aku tahu ini pasti sulit, apalagi retakan persahabatan yang sudah tidak jarang lagi terjadi membuatnya semakin rumit. Aku juga begitu dengan Renji dulu," ia memutar tubuhnya dan melempar batu itu sekuat tenaga. Aku tidak tahu siapa Renji ini dan apa masalahnya dulu, tapi aku bisa tahu itu cukup berat dari cara ia melempar batu itu dan ia menukik dengan tajam di air.

"Bicara saja tidak akan menyelesaikan masalah, Ichigo," tukasku dengan suara pelan, berharap ia bisa mendengarnya dari sana. Ia mengedikkan bahu dan mengambil batu lagi. Aku tidak pernah mempunyai orang dekat yang bisa kupanggil 'sahabat'. Ternyata risikonya besar juga apalagi kalau sudah bercekcok dan tidak berbicara lagi seperti orang yang tidak saling kenal. "Aku akan membantumu sebisaku, Orihime. Besok dan kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu," kataku akhirnya, menenteramkan hatinya. Walaupun aku masih tidak bisa terima dengan kejadian beberapa hari yang lalu di kamar mandi perempuan.

"Terima kasih, Rukia. Aku harap Riruka masih sama seperti yang dulu. Tidak berbicara dengannya membuatku selalu bertanya-tanya bagaimana keadaannya, apa yang dia suka sekarang, dan apakah dia masih menganggapku temannya."

Oke, pentas seni itu besok dan sepertinya Orihime tidak ingin ketinggalan peran juga. Aku mengedikkan kedua alisku kepada Ichigo saat dia memutar tubuhnya dan menatap kami berdua.

"Baiklah." Aku berdiri dari bangku dan Ichigo menghampiri kami. "Ayo kita ke sekolah."

(*)(*)(*)

Aula ternyata sudah dihias sedikit demi sedikit walaupun pentas dimulai esok tengah hari. Beberapa panitia dari teman-teman kelasku ada di sana, juga panggung besar di tengah-tengah aula. Aku mungkin semacam menelan ludah atau apa, tetapi tujuan kami datang ke sini untuk mencari grup cewek itu dan cerita selesai.

"Mungkin mereka tidak datang," tukas Orihime pasrah. Aku mendecakkan lidahku dan menggelengkan kepala.

"Kenapa?" tanya Ichigo dengan bingung, dia menatapku dengan tatapan mata polos yang malah terlihat seperti anak kecil. Aku tertawa terbahak-bahak dan memukul punggungnya sampai ia tersedak. "Hei!" serunya marah, mengedikkan bahunya seperti menggeliat dan menjauh dariku.

"Orihime, tidak bagus kalau kau cepat menyerah begitu. Mereka pasti ada di sini, karena aku yakin Riruka bukan cewek yang ingin melewatkan sebuah acara pentas seni dengan membolos latihan. Ayo, mereka pasti ada di ruang musik atau mungkin kamar kecil," kataku sambil melongos duluan, tapi Ichigo langsung menarik kerah bajuku.

"Whoa, whoa, tahan dulu di sana. Memangnya kau punya rencana apa untuk berbicara baik-baik? Kita tidak mungkin membawa kuda dan batu ke sini."

"Memangnya ada apa? Mereka utusan iblis? Mereka mempunyai bom di tubuhnya? Aku, Riruka, kau dan siapa saja di muka bumi ini sederajat. Menyelesaikan masalah tanpa berkelahi fisik adalah cara terbaik di sini, dan aku ingin kau"—jariku tepat menunjuk batang hidungnya—"ikut dengan kami."

Aku tersenyum penuh kemenangan dan melihat wajah Ichigo mulai kusut. Dia seperti melontarkan pertanyaan kenapa aku? di wajahnya. Orihime tidak melakukan sesuatu seperti menghela napas atau melerai kami, tapi dia diam di sana sambil memainkan jari-jarinya dalam kegugupan. Aku menarik pergelangan tangan Orihime dan meninggalkan Ichigo berkomat-kamit di belakang sendirian.

"Hei, sedang apa kalian di sini?"

Suara keibu-ibuan menggema di koridor lantai satu. Kami bertiga menoleh ke belakang asal suara tersebut dan mendapati Mrs. Unohana berdiri di sana. Ia mengenakan kaus kemeja berwarna merah muda dengan garis-garis putih yang konsisten jaraknya. Guru Inggris tersebut menghampiri ketiga muridnya ini yang lebih terlihat seperti pencopet.

"Kami ingin menemui Riruka dan teman berlatihnya. Apa mereka ada di sini? Atau baru datang, mungkin?" Ichigo menjabat tangan guru itu sebelum melontarkan pertanyaannya. Aku mengintip ke beberapa kelas dari luar jendelanya sementara suara Ichigo dan Mrs. Unohana berdengung lewat begitu saja dari telingaku. "Terima kasih, Mrs.," sahut Ichigo setelah mereka selesai dan ia mengatakan "gudang olahraga" tanpa suara kepada kami. Orihime mengangguk dan berjalan dengan terburu-buru menuju gudang olahraga.

"Untuk apa mereka berlatih di sana?" tanyaku saat Ichigo berjalan di samping dan Orihime di depan kami. "Apakah ruang musik sedang dipakai atau semacamnya?"

Ichigo hanya mengedikkan bahunya saat kutanya. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya di depan kamar kecil pria. "Aku ke toilet sebentar. Kalian duluan saja, aku akan menyusul."

Akhirnya aku berjalan beriringan dengan Orihime. Di saat seperti ini juga aku harus memikirkan bagaimana cara terbaik untuk berbicara dengan mereka. Di balik kenyataan aku tidak hebat ngomong, mungkin aku hanya bisa mengancam. Tapi status sebagai seorang putri tidak boleh disalahgunakan di sekolah, di sini aku sama dengan mereka.

"Oh," seru Orihime tiba-tiba, seperti dia teringat akan sesuatu. Aku berhenti di depan dan menoleh ke arahnya. "Ada fakta lucu tentang Kurosaki. Dia baru membahasnya tadi saat dalam perjalanan ke rumahmu."

"Apa? Dia akhirnya mengaku kalau rambutnya itu dicat?"

"Bukan." Orihime menggeleng kepalanya dengan heboh. Roman wajahnya tampak senang dan berbunga-bunga, seolah-olah ia sudah melupakan masalah dengan grupnya. "Dia menyukaimu, Rukia. Mungkin karena malu untuk memberitahunya atau apa, dia menceritakannya padaku. Sebenarnya ini rahasia, dan dia ingin memberitahu pada waktu yang tepat olehnya sendiri. Saat mendengar Kaien Shiba adalah calon tunanganmu, kau bisa melihat sendiri bagaimana wajahnya sangat sedih, tetapi di balik itu ia mendukungmu."

"Oh, lupakan soal Kaien. Dia sekarang hanya kenangan di atas buku catatanku," aku mengibaskan tangan dengan angkuh di depan wajah. "Ceritakan lagi tentang Ichigo. Aku bisa membayangkan wajahnya memanas sekarang."

Kami berdua terkikik-kikik, sayangnya pembicaraan singkat itu sudah membawa langkah kami ke depan pintu gudang olahraga. Waktu masih kecil, Ichigo dan aku sering menghabiskan waktu di taman, melempar-lempar batu ke dalam danau seperti yang dilakukannya tadi. Rahasia terbesarku yang tidak diketahui siapa pun; aku ingin Ichigo menjadi calon tunanganku. Sayangnya Kakek tidak mengenal Ichigo terlalu baik. Dia bertemu dengan Kaien saat kami pindah, dan entah bagaimana Kakek sudah menetapkan Kaien sebagai calonku. Kami tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu, dan aku bisa melupakan rasa kasmaranku pada Ichigo. Sebelas tahun sudah berlalu—seperti yang bisa kalian lihat—dia tidak berubah sejak pertama kali bertemu.

Aku lebih dari senang mengetahui apa yang ia rasakan sama seperti yang kurasakan.

Pintu gudang dibuka, dan tidak dalam gerakan pelan seperti di film-film horor. Sesuai yang dikatakan, lima orang itu berdiri di sana dengan Riruka—Ketua Queentrix. CD player juga tidak ketinggalan, dan baju mereka yang pantas digambarkan dengan kata sensual. Mungkin itu juga termasuk salah satu daya tarik dari modern dance. Riruka menoleh saat mendengar pintu yang terbuka dan angis berembus masuk. Lagu yang akan dipentaskan berhenti saat itu juga, dan kami diam seperti sedang memainkan permainan kejar-tangkap.

"Oh, katakan padaku kau datang ke sini bukan untuk menghancurkan pentasnya lagi," seseorang berseru dari belakang tubuh Riruka. Gadis berambut magenta itu membuat langkahnya ke samping, dan kami bisa melihat mata berwarna madu itu mengiris tajam. Gadis yang kurang lebih tingginya sepantar denganku menyibakkan kunciran rambutnya.

"Senna," gumam seseorang di antara lima orang tersebut. "Mungkin Orihime datang ke sini untuk maksud lain."

"Ya, dia benar." Aku menunjuk kepada gadis yang berambut hitam kecokelatan. Samar-samar aku mengingat wajahnya, dia perempuan yang waktu itu menyelamatkanku dari amukan Riruka. "Orihime ingin kembali ke grup dansa kalian. Queentrix mungkin akan lebih meriah dengan enam orang."

Para perempuan di atas standar itu mulai berbisik-bisik. Terdengar seperti, 'Gadis Kuchiki ini adalah ratu kelak. Kita harus menurutinya.' Jangan bercanda. Aku datang ke sini bukan untuk mendengar bisikan seperti itu. "Jadi atau tidak?" tanyaku.

Riruka semacam memainkan alisnya. Pertama dia melirik kepada teman-temannya, ada beberapa dari mereka yang tampak bingung, tapi ada juga raut yang tak terbaca. "Kita lihat. Lalu—"

"Jangan bicara." Aku melambaikan tangan di atas. "Aku hanya ingin menyampaikan pesan saja. Dan, ngomong-ngomong, semoga berhasil!" seruku sambil tersenyum dan membanting pintu gudang. Aku tidak tahu kalau berbicara dengan mereka begitu mudahnya. Sambil menempelkan telinga ke pintu, aku bisa mendengar suara Riruka yang berbicara, sayangnya seperti teredam di dalam air. Aku merasakan derap langkah kaki dari kejauhan, dan saat menoleh Ichigo melambaikan tangannya.

"Oh, apa aku telat?"

"Tidak, tapi kelihatannya mereka sudah menerima Orihime. Pentasnya pasti akan meriah dengan enam orang, aku meyakinkan mereka begitu."

Ichigo mengangguk, mengingat kelihatannya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kami memutuskan untuk berjalan mengelilingi sekitar aula sekolah, berhubung kami masih bisa menikmatinya. Sementara kami berbincang-bincang sambil melihat dekor di aula tersebut, aku mendengar suara cowok yang memanggil Ichigo. Kami berdua menoleh dan mendapati tiga cowok di sana.

"Hei," sapa yang berambut merah kecokelatan. Dia tersenyum lebar kepada Ichigo dan dibalas olehnya. Aku merasa seperti sedang menguping pembicaraan. "Kebetulan kau datang, kita ada konser malam ini dan besok juga."

"Konser?" tanyaku sambil menaikkan satu alis.

"Ah, merupakan suatu kehormatan untuk bertemu denganmu, Putri," si Rambut Merah menundukkan setengah badannya dan aku mengerucutkan mulut. "Tolong jangan seperti itu, uhm..."

"Ashido," kata si Rambut Merah dengan ceria. Aku melihat yang lain juga tersenyum. "Jadi tentang konser itu, kami akan mengadakannya di sebuah kelab kecil."

"Akan jauh lebih mudah untuk mendapatkan uang jika kau menghibur orang lebih dulu," sahut Ichigo dan dia mengedikkan alisnya saat aku menatap.

"Jadi, kau seorang musisi?" aku menyimpulkan.

"Kurang lebih begitu, tapi bukan seperti kelompok musik terkenal. Dan kami juga akan perform untuk pentas besok."

Aku mengangguk untuk kesekian kalinya. Ichigo tampak menggebu-gebu tentang konser itu, dan aku bahkan tidak mengetahui dia sudah mencari uang sendiri dengan bernyanyi di kelab malam hari atau apalah. Ketiga cowok itu pergi dari kami dengan lambaian singkat.

"Kenapa kau tidak menceritakan padaku kalau kau menjadi musisi berantakan atau semacamnya?" tanyaku diselingi tawa renyah. Ichigo mengerutkan alisnya sambil memutar bola mata.

"Well, aku harus memanfaatkan baik-baik apa yang Tuhan berikan. Lagi pula aku juga ingin melihat sejauh apa kelompok kami sudah berkembang." Ichigo berdeham dan memegang kulit lehernya. Tidak kusangka teman-temanku mempunyai peran yang keren untuk memeriahkan panggung. Sementara tidak ada yang bisa dilakukan olehku sendiri selain menonton mereka dari bangku. Baiklah, jika memaksa, aku bisa memasukkan perkara Kaien ke dalam daftar—dan serius, itu sama sekali tidak membantu.

Ayolah, Rukia, aku mengingatkan diriku sendiri. Jangan pasang wajah muram seperti itu dan tunjukkanlah apa yang sudah kau pelajari selama ini.

"Kau masih menunggu Orihime? Karena aku sudah harus pulang untuk mempersiapkan semuanya," kata Ichigo sambil mengalihkan mata dari aula ke jam tangan hitam yang melingkar di pergelangannya. Aku menggigit bibir bawah sambil berpikir terlalu banyak antara 'ya' atau 'tidak'.

"Aku akan menunggu. Dan ngomong-ngomong, kita bisa berbicara besok setengah hari penuh sebelum pentas dimulai."

"Bagus," seru Ichigo tampak senang. Dia merogoh sakunya sebentar, seolah-olah mengecek apakah dia membawa alamat kelabnya atau apa. Sambil menarik kembali tangannya, dia menghampiriku dan menarik kepalaku ke pelukannya. Dan tentu saja, membentur kepala ke tempat tidur akan lebih ringan daripada membentur dada bidangnya. Aku meringis.

"Auw, apa yang kaulakukan?" sergahku, refleks mengangkat tangan untuk mengusap bagian yang sakit. Tapi sebagian hatiku melompat-lompat senang saat mencium aroma tubuhnya begitu dekat. Jantungku juga tidak kalah kaget dan berdetak dengan kencang di sana.

"Salam perpisahan!" kata Ichigo girang dan mencium puncuk kepalaku sambil tersenyum. Dengan singkat. Ayolah, kau pasti bercanda. Bagian hatiku yang lain menginginkannya lebih lama. "Aku akan membuatkan kejutan untukmu besok. Nah, selagi menunggu, bagaimana kalau kau belajar dari buku panduan menjadi putri yang baik saja?"

Aku tidak bisa menahan tawa dan memukul perutnya agar menjauh dariku. "Hentikan," kataku dan aku sungguh-sungguh tidak bisa menahan malu sekarang. "Nah, yah, kalau begitu aku memegang janji itu. Buat aku terkesan."

"Tentu saja," jawab Ichigo singkat dan dia melambaikan tangannya untuk berlari pulang menuju ke rumah.

Aku merasa seperti rambutku menari-nari dengan liar, detakan jantung yang terasa berat seperti mendengar detik jam Big Ben, dan darah yang mengalir deras menuju pipiku. Aku mungkin akan melayang-layang di udara karena barusan aku menyangka Ichigo akan menciumku. Mungkin butuh beberapa hari untuk sampai ke sana. Tapi, untuk hari ini saja seluruh impianku sudah terkabul.

To Be Continued


Reply Review:

Rizuki Aquafanz, Huehehe, gak apa2 kok :D. Yup, nyerempet-nyerempet ke sana deeh *gak jelasnya kumat* Nah, di sini Rukia udah bilang sendiri kalau dari dulu dia emang udah suka sama Ichigo XD. Yah, ini sudah di-update, makasih Reviewnya ^^

Naruzhea AiChi, Yah, ide itu terlintas saat saya buat fic ini XD. Makasih Reviewnya ^^

HwangChan, Saya jadi pengen ikut2an ngegampar XD. Yah, saya sudah berusaha keras memunculkan scene IchiRuki di sini, maaf kalo kurang mesra yaa ^^a. Makasih Reviewnya ^^

D-N-D Mozaik, Hoo, dia cukup berwibawa juga kok, sayangnya material membutakan matanya *cielah* Huhuhu, iya saya tau kalo konfliknya emang kurang greget T.T, saya udah wanti-wanti loh di chapter sebelumnya kalo chapter ini gak akan terlalu seru. Karena saya terbiasa pake sudut pandang orang pertama jadinya gini deh, huehehe *digeplak*. Soalnya temen saya bilang kalo saya pake sudut pandang orang ketiga, deskripsinya kurang dan lebih banyak percakapannya *tuh kayak di atas XD*, tapi ternyata di sini sama juga =.=a. Hehe, iya gak apa2 kok, feel free buat kasih saran :) Makasih Reviewnya ^^

BlackRed, Hoo iya, makasih banget yaa ^^. Udah gue kembangin sih beberapa, moga2 gak terkesan datar =.=a. Makasih sekali lagi ^^.

Ray Kousen7, Yah, gak rendahan juga kok, huehehe XD. Udah dipuji kan sama Ichigo kalo dia itu berkharisma seperti pangeran? XD. Nah, yah, bukan sederhana lagi, ini di bawah standaaarr! *kesamber gledek* Makasih Reviewnya ^^

AkiHisa Pyon, Yup, kurang lebih begitu XD. Nggak kok, di sini kita menyelesaikannya baik-baik secara gentleman *cielah*. Makasih Reviewnya ^^ *P.S: Jangan manggil Senpai yaa :D, ini fic masih banyak kekurangan lhoo*

Diarza, Huhuhu T.T iya saya tau konfliknya emang gak seru. Nah, dia sekarang udah ditendang ke penjara kok XD. Makasih Reviewnya ^^

Huoo, gak menyangka ngetik ini bakal jadi 14 page ditambah pojok curhatan ini =.=a. Oh iya, pertama-tama saya pengen bilang, bukannya saya gak mengindahkan Review dari teman-teman yang mengatakan kalau 'sudut pandang mending diganti', tapi saya udah terlanjur buat setengah ficnya dengan pov Rukia sebelum teman-teman me-Review ^^a. Dan ini sebagai pengingat aja, saya bukan tipe Author yang suka ganti pov di tengah-tengah cerita. Maaf ya sekali lagi, saya TIDAK mengabaikan Review teman-teman, justru saya sangat MENGHARGAI setiap saran termasuk sumbangan ide dari temen saya yang satu itu.

Ya, BlackRed, temen-yg-paling-seneng-gue-grecokin itu menyumbang idenya saat scene Ichigo dan Rukia ngejar Kaien pake kereta kuda. Nah, awalnya saya pengen buat seperti di film Night at the Museum (ada yg tau ketika scene kereta kuda musuhnya itu diberentiin dan dia nyusruk ke salju?) Ya, tepat sekali, saya ingin membuat suasananya kurang lebih seperti itu. Walaupun cuma nyumbang ide di sana (yg pada akhirnya diganti menjadi suasana Hansel and Gretel—memberikan jejak dengan batu) saya udah makasih, makasih, makasih banget XD. Jangan merasa gak enak untuk memberi saran sama saya loh :) kita di sini sama2 belajar kan? Hehehe ^^. *But not flame, of course*

Ya, akhir kata, saya janji akan mengubah chapter selanjutnya dengan normal pov. Saya dari awal udah ngerasa pasti fic dengan sudut pandang pertama bakal terasa boring, well, tebakan saya benar XD *ditimpuk batu* Maaf juga jika update lama, cukup menguras otak menyelesaikan satu fic ini saja =.=a. Makasih banyak sekali lagi buat yg udah RnR, sampai jumpa di chapter selanjutnya~!