Halo semuanya! Nah, sesuai janji di chapter sebelumnya, saya ubah chapter ini menjadi normal PoV. Ya, selamat membaca~!
~Be A Good Princess~
~Genre: Romance, Drama~
~Pair: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~
~Disclaimer: Tite Kubo~
Rukia membuka pintu rumahnya dengan tenang. Biasanya sehabis pulang sekolah suasana hati Rukia tidak melambung-lambung seperti sekarang ini. Dia akan membuka pintu rumahnya dengan terlalu bertenaga, mengucapkan "aku pulang" dengan singkat kepada kakeknya sebelum menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur dan menyalakan TV. Ya, mungkin karena Ichigo yang sudah mengubah suasana hatinya dari normal menjadi terlalu bersemangat untuk pentas esok.
Kejutan apa yang akan diberikannya kali ini? pikir Rukia di balkon rumahnya. Kalau itu semacam memukul punggungku dengan gitar akustiknya atau apa, aku tidak menganggap itu lucu.
Rukia menyelipkan kelima jarinya ke rambut dan menyisirnya ke belakang. Dia juga bisa terbebas dari belenggu teror Queentrix dan Orihime. Sebenarnya tidak sejahat itu, hanya saja Rukia merasa grup dansa itu terlalu mengganggu hubungan pertemanannya dengan Orihime. Dan kabar baiknya gadis berambut karamel itu bisa mendapatkan perannya di atas panggung pentas.
"Sejak kapan kamu sudah pulang, Rukia?"
Gadis berambut hitam itu menengok ke asal suara. Kakeknya yang terlihat berwibawa itu sudah berdiri beberapa meter darinya. Rukia tersenyum dan menghampiri sang kakek sekaligus raja di kotanya ini. "Yah, sayang sekali sekarang aku tidak memberi peringatan apa-apa jika pulang ke rumah. Ngomong-ngomong, Kakek ingat tidak dengan cowok yang bernama Ichigo Kurosaki? Yang rambutnya oranye, dan aku sering bermain dengannya dulu waktu masih kecil," kata Rukia antusias sambil membuat rambutnya naik ke atas. Dan dia menambahkan lagi dengan tawa. "Yang kemarin membantuku menjerumuskan Kaien ke penjara. Jangan bilang Kakek sudah lupa dalam waktu lebih dari 24 jam saja."
Rukia ragu jika ingatan seorang kakek-kakek yang sudah berumur puluhan tahun masih kuat. Tapi, hei, dia kan seorang Kuchiki. Dan seorang Kuchiki mempunyai daya ingat yang tajam. "Oh," serunya dengan kering. "Pemuda itu, ya. Memang ada apa, Rukia?"
Mungkin ini saat yang bagus untuk membelokkan topiknya. "Bagaimana menurut Kakek?"
"Well, aku bisa menanyakan pertanyaan yang sama kepadamu," balas sang kakek sambil tersenyum. Kulit-kulitnya yang sudah keriput tertarik ke belakang. Rukia menghela napas sambil menerawang dari balkonnya lagi. Mengapa dia bisa lupa kalau bertanya pada kakeknya itu sia-sia saja.
"Ichigo. Dia baik, sebagai tambahan wajahnya juga tampan. Dan Kakek juga harus tahu," Rukia pura-pura melakukan gerakan berbisik kepada kakeknya seolah-olah ini adalah rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun. Ginrei hanya merundukkan kepalanya agar bisa mendengar suara sang cucu. "Kalau dia lebih baik dari Kaien. Dia bukan pria congkak yang merasa uang adalah segalanya, dan dia bahkan selalu mengisi waktu luangnya untuk kegiatan yang positif. Kakek tahu, kan, semacam olahraga basket, mendengarkan lagu, dan menyanyi."
Ginrei mengangguk saat mendengar cerita Rukia yang begitu menggebu-gebu tentang orang yang bernama Ichigo Kurosaki ini. Sang kakek juga tahu kalau pemuda itu mempunyai jiwa yang lebih dewasa. Dia bisa melihatnya tempo hari. Menolongnya juga keluarganya padahal dia bukan siapa-siapa. Bukan orang yang setara dengan Kaien. Bukan orang yang mempunyai keahlian khusus.
Tapi dialah pemuda yang diinginkan Rukia.
"Kakek harus mengenalnya lebih baik," ujar cucunya, menyelesaikan cerita. "Lagi pula, aku juga mendapat banyak pelajaran yang baik darinya."
"Begitukah?" tanya kakeknya. Matanya yang sudah terlihat lelah itu berbinar-binar kembali. Mungkin cucunya yang keras kepala ini bisa menjadi ratu yang hebat kelak di kemudian hari. "Senang sekali mendengar berita baik itu, Rukia. Jadi, sekarang aku tidak perlu repot-repot membereskan bajumu lagi, kan."
Rukia menggeleng. Rona merah yang ceria menghiasi pipinya. "Tentu saja. Karena Ichigo-lah yang sudah mengubah jalan hidupku."
(*)(*)(*)
Satu jam sebelum pentas dimulai Rukia menghabiskan waktunya di taman. Dia memetik kelopak bunga satu persatu dan melemparnya dengan bosan. Walau begitu, dia sedang menunggu seseorang sekarang.
"Kau terlambat," sambar Rukia sambil menopang dagunya dan melempar tangkai bunga yang sudah habis itu kepada orang di depannya. Orang yang baru datang itu menangkapnya dengan mudah seolah-olah dia memang sudah tahu akan dilempar tangkai itu oleh gadis yang sudah menunggunya dengan wajah bosan. Ichigo hanya tersenyum konyol sambil menggaruk belakang rambutnya, dan Rukia menaikkan satu alisnya.
"Maaf membuatmu menunggu kalau begitu," katanya sekilas, menghampiri Rukia yang mengulurkan tangan padanya, dan dia menariknya turun. Gadis itu tersenyum menantang sebelum merapikan ujung roknya yang berwarna lavender. "Baiklah, kau siap?" tanya Ichigo dengan terlalu semangat. Ya, karena saat ini mereka berdua berjanji bertemu sebelum pentas dimulai. Rukia tersenyum dan melingkarkan lengannya di siku Ichigo yang terbuka. "Kapan saja."
(*)(*)(*)
"Bagaimana dengan latihannya?" tanya Rukia setelah dia mendudukkan dirinya sendiri di sebuah kafe favorit Ichigo yang berada di pinggir jalan itu. Dan lagi-lagi, tempat duduk yang mereka ambil tepat di luar kafe. Ichigo menunggu sambil menyeruput kopinya yang masih mengepul panas, meniupnya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Rukia yang polos.
"Apa?" tanya Rukia sambil mengambil biscotti di atas piring porselen berwarna putih salju. "Ada sesuatu di wajahku?" Ichigo menggeleng sambil menahan bibirnya agar tidak tersenyum, dan meletakkan cangkir kopinya dengan perlahan. Hampir tidak menimbulkan suara.
"Tidak ada," jawabnya. "Latihannya lumayan. Kau tahu, aku hanya tinggal menyanyi saja. Tidak memerlukan talenta khusus untuk memetik gitar atau memukul drum. Dan kemarin kelabnya cukup ramai, mereka seperti beruang yang haus bir."
Rukia terkekeh dan menyandarkan punggung mungilnya di kursi berwarna cokelat susu. "Itu bagus. Dengan begitu kalian mungkin bisa terkenal."
"Bukan itu tujuan kami membuat kelompok musik," sahut Ichigo. Memainkan jari-jarinya yang panjang di cangkirnya. Matanya berputar melihat mobil-mobil yang cukup banyak hari ini. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Inoue dan gadis itu?"
"Aku tidak tahu," jawab Rukia, mengangkat bahunya dalam kedikan kecil. Dia menyeruput milkshake stroberinya dengan mulut yang mengerucut. "Paling tidak hari ini kita bisa melihatnya, tapi kelihatannya mereka baik-baik saja." Dia memutar kepalanya ke samping, melihat beberapa orang yang seakan terpana dengan putri raja Kuchiki sedang berada di kafe tengah jalan. Rukia tidak pernah dikerumuni oleh orang-orang yang menyebut dirinya penggemar atau wartawan—fakta bahwa dia lebih sering menghabisi satu hari di dalam rumah. Lagi pula setiap bertemu dengan orang-orang, mereka tidak pernah membungkuk hormat atau segala tata-krama yang membuat Rukia pusing. Mereka hanya melemparkan senyum ramah, dan bagi seorang calon ratu yang satu ini, itu sama sekali bukan masalah.
Ngomong-ngomong, berita tentang Kaien—calon tunangan Rukia—yang sudah dijebloskan ke dalam penjara itu menyebar luas. Sebenarnya sang kakek sudah mengatakan kalau itu hanya perampokan 'kecil-kecilan', tetapi mereka tetap bersikeras mencari kejadian sebenarnya.
Dan, melihat Rukia bersama seorang pria tidak dikenal di media massa membuat mereka menjadi sorotan menarik.
"Nah, yah, untung mereka tidak membawa kamera," kata Ichigo, menempelkan kedua sikunya di atas meja, dan menopang dagunya sendiri. Pandangannya lurus dengan apa yang sedang Rukia lihat sekarang. "Manusia punya hobi menarik dengan kata 'gosip' dan 'sebarkan'."
Rukia terkekeh lagi, tapi tidak memindahkan pandangannya dari orang-orang di seberang yang mulai memudar. Namun mereka terus datang silih berganti. "Bagaimana menurutmu?" tanya Rukia. Untuk sesaat dia memberi balas senyum ramah kepada orang-orang yang nanti juga akan menjadi calon rakyatnya.
"Apanya?" tanya Ichigo, memutar bola mata lalu meneguk kopinya hingga tinggal setengah di dalam cangkir. Dia memutar-mutar cangkir itu seperti bola ping pong. "Kau bisa memberikan mereka tanda tanganmu, atau foto bersama, dan sesuatu macam itu," katanya sedikit melucu, tapi alhasil hanya mendapat tatapan tajam dari Rukia. "Hei, bukankah itu yang dilakukan supermodel? Ayolah, aku bukan orang satu-satunya di sini yang pernah menonton TV."
"Aku belum menjadi ratu," balas Rukia pada akhirnya. Matanya yang bulat dan cerah itu memindai setiap orang yang ditemukannya, berharap dia bisa mengingat wajah itu saat nanti dia akan menampakkan diri di atas balkon. "Mungkin butuh beberapa tahun lagi sampai aku siap."
"Kau sudah siap menurutku," kata Ichigo, memberikan cengiran yang tidak terlalu lebar, namun mampu membuat wajah Rukia memanas. Dia menunduk untuk pura-pura merapikan rambut hitamnya. "Hanya perlu latihan, dan belajar."
"Kau terlihat seperti seorang penceramah bagiku."
"Ooh, rupanya putri kecil kita ini tidak pernah diceramahi," ucap Ichigo dengan nada menggoda. Rukia bergidik sambil mencoba melempar sesuatu yang ada di atas meja, sayangnya terlalu berbahaya dan besar. Lalu, apa? Melempar tempat asbak kepada pria ini? Atau menancapkan garpu di kepalanya? "Bercanda," katanya cepat-cepat sebelum putri di depannya ini benar-benar menjadi seorang maniak. "Terlalu cepat seratus tahun bagiku untuk menjadi penasihatmu kurasa."
"Well, aku tidak perlu siapa-siapa untuk menjadi penasihatku suatu hari nanti."
"Dan aku yakin kau membutuhkan pasangan hidup suatu hari nanti."
Rukia berhenti bernapas saat itu juga. Tidak dirasa obrolan mereka cukup keras sehingga mengundang beberapa kepala melihat ke mejanya. Sementara otaknya masih mencoba mencerna, matanya mulai melirik ke wajah Ichigo yang tanpa dosa. Dia mengucapkannya begitu saja, semudah itu, di depan banyak orang, yang bisa saja mendengar dan menyebarluaskannya.
Bukan maksud Rukia tidak ingin kehidupan pribadinya terus dikejar-kejar.
Tetapi pernyataan spontan itu cukup membuatnya beku.
"Maksudku, jangan salah paham dengan yang barusan kukatakan," sela Ichigo cepat-cepat, melihat Rukia yang melotot. Dia tampak seperti baru terkena serangan jantung. "Kau 'kan tidak harus."
Ichigo merasa bersalah dengan tutur katanya. Rukia adalah sahabatnya dari kecil, jadi dia pasti tahu kata-kata tabu apa saja yang harus dihindari. Apalagi Rukia baru mengalami pergolakan emosi dan batin dari calon tunangannya sendiri. Gadis itu diam untuk waktu yang terasa selamanya, sementara Ichigo menjentikkan jarinya di depan wajah Rukia.
Dia terlonjak seperti ada yang menyetrumnya.
"Oh," kata Rukia tidak jelas.
"Oh?" ulang Ichigo. "Katakan padaku kalau aku salah, tapi tolong jangan membuatku penasaran setengah mati begini."
"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa," gumam Rukia, tapi lebih terlihat berbicara kepada dirinya sendiri. Dia tersenyum, dan untuk sedetik Ichigo merasa lega karena Rukia sudah kembali normal. "Mungkin di sini ada yang mau menjadi calonku," ucap Rukia sambil bergaya seperti mencari-cari sesuatu yang hilang. Dan dia hanya kembali duduk sebelum orang-orang melihatnya sebagai pasien penyakit jiwa.
"Siapa?" tanya Ichigo bingung, dan dengan polosnya menengok ke belakang. Berpikir-pikir mungkin 'calon' yang dibicarakan Rukia akan mendadak muncul dari tikungan trotoar, melambai-lambai ke mejanya dan langsung memeluk Rukia. Tapi Ichigo mengenyahkan pikiran itu dan beralih kepada gadis yang masih tersenyum lebar di seberangnya. Dia menanti jawabannya dengan sangat sabar.
"Mari kita lihaaat," ucap Rukia dengan perlahan sambil menyeringai kepada Ichigo. Dia sekali lagi menyeruput stroberinya hingga gelas tersebut kering, dan melanjutkan, "Cowok yang selalu menganggap pesta adalah sebuah kejutan, dan katakan saja dia pun mahir dalam berdansa dan bernyanyi. Siapa pun tahu jika dia mempunyai grup musik dan menjelajahi setiap kelab malam untuk mendapatkan uang."
"Oh, Rukia!" sambar Ichigo sambil membelalakkan matanya dan tertawa ringan. Rukia jadi terlihat seperti pembawa acara dengan menyebutkan ciri-ciri orang tersebut dan membawanya menuju panggung. Gadis itu hanya tertawa melihat wajah Ichigo yang merah padam. Tampaknya dia bukan marah, tetapi malu. Dia memukul meja sekali sebelum menyelesaikan tawanya yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa-siapa.
"Nah, bercandanya sudah cukup," ujar Ichigo, memalingkan wajahnya ke trotoar.
"Aku tidak bercanda," timpal Rukia, masih terkekeh-kekeh. "Serius. Kau pasti tahu siapa cowok itu."
"Itu dia!" tebak Ichigo dengan heboh, menggebrak meja seperti yang dilakukan Rukia, hanya saja lebih keras. Dia menunjuk-nunjuk wajah gadis itu dan mereka tertawa-tawa bersama kemudian. Mampu mengundang beberapa orang melihat ke mejanya serempak, wajah-wajah bingung itu hanya mengerutkan alis. "Dasar gadis nakal!"
"Ya, aku tahu!" seru Rukia, untuk sesaat lengan mereka saling bersenggolan, tapi tidak ada yang menyadarinya. Rukia tidak sadar kalau sebenarnya dia sudah mengeluarkan sosok asli sifatnya di kerumunan orang-orang. Biasanya mereka melihat Rukia adalah putri yang pendiam, dan dengan wajah acuh tak acuh. Tapi sekarang dia tampak seperti perempuan remaja yang sangat menikmati hidupnya.
Siapa laki-laki itu?
Wajah Rukia terlihat ceria sekali saat bersamanya. Ya, laki-laki yang sedang tertawa di seberang mejanya. Rambutnya begitu mencolok, berwarna oranye. Mungkin dicat. Tapi, sang putri sama sekali tidak terganggu. Lalu, apa yang terjadi dengan calon tunangannya itu? Ada kabar yang mengatakan dia sudah masuk penjara karena ada 'masalah'.
Mereka terlihat cocok. Tentu saja. Siapa yang pernah membuat putri kecil itu tertawa terbahak-bahak?
"Jika mendengar lelucon dari gadis cantik yang bisa membuatku jatuh hati, maka aku akan mengorbankan waktuku terus seperti ini."
Apa yang barusan dikatakannya? Suaranya tidak kentara, tetapi orang-orang mungkin bisa mendengar. Rukia menghentikan tawanya, karena melihat senyum yang tipis di wajah Ichigo. Ada sesuatu di nada bicaranya, yang membuat darah Rukia mengalir lebih deras, penuh antisipasi. Dan membuat matanya tidak bisa beralih ke mana-mana. Tatapan seperti ini yang diinginkannya sejak dulu. Mengintip dari balik jendela, mendapatkan sosok pemuda ini selalu bersimbah peluh saat sedang bermain basket. Tapi mereka tidak pernah mengunci pandangannya satu sama lain.
Dan sekarang, Ichigo sedang menggenggam kedua tangan Rukia di atas meja. Gadis itu hanya menelan ludah dan berusaha untuk tidak membiarkan darah mengumpul di wajahnya.
"Apakah menurutmu ini pelarian? Pelarianku atas Kaien?"
Genggaman Ichigo semakin mengerat, dan dia berkedip sekali. "Tentu saja tidak. Aku menerimamu apa adanya, dan kita baik-baik saja," katanya dengan lembut. "Aku tidak pernah mengharapkan agar kau dan Kaien berpisah. Selama kau bahagia, aku akan melakukan apa saja." Ichigo menatap tangan Rukia yang dibungkus oleh kedua tangannya. Untuk beberapa detik mereka diam seperti itu, tidak ada yang menyahut.
"Kalau begitu, aku tidak akan membiarkanmu berkorban. Jika aku bahagia, maka kau juga harus."
"Kuterima," ujar Ichigo, membuka tangannya, tetapi membiarkan satu tangan Rukia tetap dalam genggamannya. Dia membawa tangan mungil yang putih itu ke bibirnya dan mengecupnya pelan. Jantung Rukia serasa melompat keluar. Memang hanya Ichigo yang mampu membuat hatinya seperti ditembak ratusan bedil. Bahkan Kaien tidak pernah melakukan hal yang menurutnya romantis. Ini mendatangkan gambaran-gambaran tentang seorang pangeran yang menyelamatkan sang putri pujaan hatinya dari lantai tertinggi di suatu menara, membebaskannya dari belenggu kutukan, atau apalah, dan mereka berciuman setelah itu.
Gambaran itu mampu membuat Rukia tersedak, dan tubuhnya menjadi panas dingin.
Apakah Ichigo merasakannya? Dia hanya tersenyum setelah mengecup punggung tangan putri Kuchiki itu. Orang-orang bisa melihat betapa beruntungnya dia untuk dekat bahkan mencium tangannya.
"Aku tidak akan melakukannya jika aku jadi kau, Ichigo Kurosaki," geram Rukia dari balik gigi yang terkatup, matanya melirik ke setiap meja yang diisi orang-orang yang sedang 'menonton'. Walau begitu, dia masih tersenyum dan menerima sambutan hangat itu apa adanya. "Tapi aku senang kau menerimanya," lanjut Rukia sambil menarik kembali kedua tangannya ke pangkuan.
"Tentu saja, mana mungkin aku menolak gadis cantik ini," kata Ichigo dengan mata yang dikedipkan.
"Cukup sampai di situ rayuan gombalnya." Rukia meleletkan lidah kepada Ichigo, sementara pemuda itu hanya terkekeh. Begitu senang hatinya bisa mendapatkan Rukia. Gadis ini berbeda dari yang lain. Bukan harta ataupun jabatan yang diinginkan Ichigo, tetapi rasa tulus mencintainya.
Dia original dan hanya ada satu di dunia.
"Jika kau tidak keberatan, kita sudah harus berada di sekolah sekarang. Pentas sebentar lagi akan dimulai, dan aku yakin kau tidak mau ketinggalan acara panggungmu," ucap Rukia, melirik jam tangannya. Tinggal lima belas menit lagi untuk sampai di sekolah. Ichigo menepuk-nepuk bajunya, dan beranjak berdiri, diikuti oleh Rukia di belakangnya.
Serta orang-orang yang masih melihat.
(*)(*)(*)
"Rukia! Kalian telat!" seru seseorang sambil melambai heboh ke arah Ichigo dan Rukia yang berlari terengah-engah ke sekolah mereka. Aula tempat pentas akan diselenggarakan sudah ramai sekali. Murid-murid memakai baju formal yang bagus, kecuali mereka yang akan tampil di atas panggung—terlihat mengenakan baju yang berbeda dari yang lain. Ichigo menepuk-nepuk bahu Rukia untuk mengatakan dia harus pergi ke belakang panggung, berkumpul bersama kelompok musiknya. Gadis itu hanya mengangguk sambil menarik napas yang panjang, membiarkan paru-parunya terisi udara yang baru.
Rukia mendesah kagum saat melihat wajah Orihime yang ditata sedemikian rupa. Rambutnya yang biasa digerai sekarang disanggul dan menyisakan beberapa helai rambut untuk membingkai wajah bulatnya. Tak ketinggalan dengan lipgloss warna pink yang tidak terlalu mencolok. Tidak heran mengapa banyak laki-laki yang terus melirik kepadanya. Dan Rukia bingung kenapa harus mengusir Orihime dalam kelompok dansa itu padahal dia bisa sangat berguna untuk memperindah pemandangan.
"Whoa... ini sesuatu," ujar Rukia pelan. Orihime hanya tersenyum, dan membungkuk terima kasih. "Bagaimana, kalian sudah menyelesaikan latihan itu? Jangan buat aku kecewa."
"Riruka sebenarnya santai saja, tetapi Senna kurang senang kurasa. Wajahnya murung ketika kemarin kami menggunakan gudang olahraga untuk latihan. Yah, menurutku sudah cukup."
Rukia mengibaskan tangannya di depan wajah. "Jangan pikirkan dia. Yang penting latihan kalian sukses. Ngomong-ngomong, ke mana teman-temanmu itu? Bukankah kalian sudah harus tampil?"
"Kami mendapat bagian terakhir. Karena susunan acaranya bukan hanya modern dance saja."
Rukia mengangguk mengerti, dan lengannya tiba-tiba ditarik oleh Orihime untuk mencari tempat duduk yang nyaman.
"Paling depan? Tidak kurasa," ujar Rukia saat Orihime menunjuk deretan kursi berwarna putih yang dekat dengan panggung. Rukia tidak terlalu segan untuk mendapatkan dirinya duduk di tempat paling depan dan menerima tatapan dari orang yang sedang memenuhi panggung tersebut. Dia lebih suka memenuhi kursi yang belakang—tentu saja agar tidak dilihat orang banyak. Kebetulan permintaan Rukia segera terpenuhi. Ada beberapa bangku kosong dan tempatnya pun tidak terlalu jauh di belakang. Giliran Rukia menarik lengan Orihime, dan segera menempati dua kursi itu.
"Nah, ini nyaman," kata Rukia menggeser badannya sedikit ke belakang.
Beberapa menit kemudian dua orang teman Rukia dan Orihime maju ke atas panggung, mereka yang kelihatannya akan membawakan pentas ini. Seluruh siswa menjadi hening saat keramaian mulai berlangsung di atas panggung. Menyanyi, membaca puisi, juga tidak lupa tarian-tarian modern.
"Apakah itu termasuk dalam daftar juga?" bisik Rukia saat mereka sedang menikmati drama Romeo dan Juliet. Murid-murid yang pentas itu tampak menghayati perannya masing-masing. Bahkan jika harus diam sebagai pohonnya. Orihime mengangguk, tetapi rasanya terlalu cepat.
"Aku gugup sekali," katanya. "Sebentar lagi giliran kami untuk maju." Orihime mulai bergerak gelisah di kursinya. Melirik-lirik ke belakang, dan bertanya-tanya apakah dia sudah harus berkumpul di belakang panggung bersama teman-temannya. Rukia mengerutkan alisnya dan melihat ke belakang panggung kalau mereka belum ada di sana.
"Coba saja kau periksa," usul Rukia, memanjangkan lehernya untuk melihat lebih tinggi lagi. Drama itu membuat murid mengobrol masing-masing, dan lebih kepada mengantuk daripada memperhatikannya. Tentu saja, siapa yang sudah tidak asing dengan jalan cerita Romeo dan Juliet? Cerita itu ditampilkan dalam gaya dan setting yang berbeda. Shakespeare membuat banyak orang terinspirasi. "Ayo, aku temani." Rukia tahu Orihime bukan orang yang berinisiatif untuk melakukan sesuatu. Dia seperti harus diberi umpan terlebih dahulu baru akan bergerak.
"Ta-tapi, Rukia..."
"Hei, di sana kalian rupanya!"
Baru saja Rukia beranjak dari kursinya bersama Orihime, seseorang memanggilnya dari belakang. Kedua gadis itu sama-sama menoleh, dan mendapati Hinamori yang memakai baju yang sama dengan Orihime. Dia sendiri di sana, dan rasanya aneh tanpa empat temannya. "Momo." Gadis berambut oranye tua panjang itu berlari pelan kepadanya, diikuti oleh Rukia. "Apa kita sudah harus berkumpul?"
"Ya, aku datang untuk menjemputmu," balasnya, dan sedetik kemudian dia sadar dengan kehadiran Rukia di belakang gadis itu. "Oh, hai Rukia," sapanya ramah, dengan senyum simpul di bibirnya. Rukia membalas dengan anggukan singkat. "Senang sekali kau bisa datang untuk melihat kami."
"Tentu saja. Aku sudah berjanji untuk membantu Orihime, dan sekarang aku menagihnya untuk menari di atas panggung."
Pipi Orihime menjadi cerah, dia tersenyum lebar. "Nah, tenang saja, Rukia. Kami akan melakukan yang terbaik."
Rasa benci Rukia pada geng Queentrix ini sudah sedikit memudar dengan dua gadis yang ternyata sangat ramah padanya. Mungkin seharusnya Rukia tidak menilai buruk kelompok dansa ini. Mengingat gadis berambut hitam kecokelatan yang dipanggil Momo itu pernah menyelamatkannya dari amukan seorang maniak. "Baiklah. Lebih baik sekarang kalian berkumpul sebelum terlambat."
Mereka berdua mengangguk lalu pergi. Sebelum kursi yang ditinggalkan Rukia ditempati oleh orang lain, dia segera memutar arahnya untuk kembali ke kursi penonton. Drama membosankan itu rupanya sudah selesai, Rukia tidak perlu melewati adegan tertidur di kursi lalu dibangunkan dengan menyedihkan oleh siswa yang lain. Karena aula tertutup ini tidak mempunyai lampu disko yang berwarna-warni, jadi lagu dengan aliran gothic sekalipun tidak tampak menyeramkan. Kelihatannya itu yang akan dibawakan oleh grup dansa modern Queentrix.
Rukia memberi semangat dari kursinya saat mata Orihime terpaku ke wajahnya. Dia hanya memberikan senyum getir yang tidak mengatakan kalau dirinya sedang baik-baik saja. Gugup karena sudah lama tidak tampil di atas panggung dengan banyak penonton? Mungkin. Itu bisa menjadi salah satu alasan kenapa Orihime tampak tegang berada di atas sana walaupun dia tidak sendirian.
Lagu dari CD-player sudah berdentum. Para siswa mengeluarkan suara oooh yang penuh dengan nada kagum dan kursi-kursi yang berderit hening saat itu juga. Yang Rukia tahu, Queentrix adalah grup dansa yang sangat terkenal di sekolahnya ini. Tidak ada yang pernah bisa menandingi enam gadis yang sedang menari di sana. Hasilnya sangat bagus, lebih daripada 'lumayan' yang dikatakan Orihime.
Baru kali ini Rukia bisa diam di tempatnya dan menonton tarian yang mengundang tepuk tangan heboh dari para murid. Riruka berdiri paling depan, membentuk huruf V yang tidak terlalu berhimpitan, dan membungkuk bersama teman-temannya setelah lagu selesai berputar. Jika dibandingkan dengan tarian-tarian modern dari luar negeri, mereka memang tidak ada apa-apanya. Namun kekompakan itu yang membuat grup ini diberi sambutan meriah. Rukia bahkan ikut bertepuk tangan dari kursinya.
"Itu tadi keren! Kau tahu, semacam bum, lalu jeder! Aku benar-benar tidak bisa berhenti terpesona melihat kalian di sana. Maaf saja, karena baru kali ini aku melihat Queentrix-mu itu tampil." Rukia terus berseru dengan mata berbinar-binar. Sekarang nama Queentrix sudah masuk ke dalam daftar grup musik favoritnya. Orihime hanya menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. Dia bisa merasakan ketegangan itu memudar dengan Rukia di sampingnya.
"Thanks! Ya, aku hampir lupa dengan gerakannya selang beberapa detik tadi. Tapi untung sekali, aku masih bisa menyelesaikannya tanpa harus membuat tariannya jadi memalukan." Rukia menubrukan gelas Orihime yang berisi air putih. Dia menarik napas yang panjang lalu menghembuskannya. "Ini semua berkatmu, Rukia!"
"Jangan bercanda. Kalau kau tidak meminta, kita hanya akan menjadi penonton dungu di sini." Rukia tertawa, menyandarkan punggungnya yang juga menjadi tenang setelah tarian sahabatnya sukses. "Sekarang aku hanya menunggu kejutan dari Ichigo."
"Kejutan?" Orihime melepas ikat rambutnya, membiarkan setiap helainya kembali tergerai seperti biasa. Lalu ikut bersandar ke punggung kursinya. "Bukankah dia juga menyumbangkan acara?"
"Justru karena itu," timpal Rukia. Baru saja dibicarakan, pembawa acara memanggil nama Ichigo Kurosaki ke atas panggung, diikuti tiga teman lainnya. Pemuda berambut nyentrik itu disambut teriakan yang nyaring dari beberapa gadis dan anak-anak cowok. Rukia hampir terpana melihat betapa kerennya pemuda yang selama ini selalu berkutat dengan buku, melempar basket ke dalam keranjang, dan senang mengerutkan alisnya tanpa sengaja. Memang rasanya aneh melihat teman priamu mempunyai kepribadian yang berbeda saat mereka berada di tempat umum. Padahal tadi dia tampak biasa saja.
Apakah ini termasuk harga jual Ichigo jika bernyanyi di depan orang-orang?
Rukia mencoba sekuat tenaga untuk menahan tawanya saat memikirkan itu. Membayangkan Ichigo memakai gel pengeras rambut, riasan wajah yang berlebihan, dan baju compang-camping serba hitam yang sekarang sedang model, membuatnya bergidik di kursi. Rukia tidak bisa untuk tidak tertawa lagi, padahal di kenyataan Ichigo tidaklah 'seculun' itu.
Jika Rukia tidak mengundang perhatian dengan tawa gelinya, pastilah Ichigo tidak perlu mengerutkan alis lagi.
"Ada apa?" tanya Orihime bingung, "Sebentar lagi akan dimulai. Aku yakin kau tidak ingin melewatinya."
Rukia menarik napas panjang lalu menenangkan dirinya sendiri. Wajahnya merah padam. "Aku baik-baik saja. Kau ingat dengan murid bernama Ikkaku Madarame di lab Kimia waktu itu? Bagaimana tawa membahana saat celananya robek ketika ingin duduk kembali ke kursinya. Dan robekannya panjang." Rukia terkikik-kikik lagi, walaupun sebenarnya bukan itu yang sedang dia tertawakan. Orihime memasang wajah berpikir, lalu ikut tertawa juga. "Ya, ya, kau benar. Tapi, kenapa kau tiba-tiba berpikir ke sana?"
"Entah." Rukia mengedikkan bahunya dan melihat ke depan, tepat saat Ichigo dan teman-temannya sudah memulai aksi panggungnya. Tak disangka kalau dia juga memiliki suara yang jernih. "Nah, yah, kita nikmati dulu saja acara ini."
Orihime menyenggol lengan Rukia dengan lengannya. "Aku tahu kau tidak akan mau diganggu," ucapnya dengan senyum jahil. Rukia membelalak dan tiba-tiba dia teringat saat Ichigo mencium punggung tangannya. Sekarang wajahnya bukan merah padam karena menahan tawa, melainkan malu. "Dia tampaknya senang."
Rukia mengangguk sambil menatap wajah Ichigo yang jauh di sana. "Iya, dia benar-benar senang."
Setelah menampilkan beberapa lagu, Ichigo berteriak dengan mikrofon di depan mulutnya. "Aku ingin meminta sukarelawan—perempuan—untuk maju ke depan dan menemaniku bernyanyi untuknya." Murid-murid, khususnya putri, langsung berbisik-bisik kepada teman sebelahnya. Ichigo menatap wajah demi wajah dan memaku tatapannya di mata violet Rukia.
Gadis itu membelalak. Walaupun jauhnya berbaris-baris kursi, tapi Rukia masih bisa melihat pemuda itu menyeringai ke arahnya. Orihime bahkan bisa melihat kalau bahu Rukia tegang.
"Baiklah, bisa kita panggil sekarang? Aku minta Rukia Kuchiki untuk maju ke depan!"
Semua penonton serempak memutar tubuh ke belakang mereka, mendapati putri Kuchiki itu sedang membeku di kursinya. Para siswa bersorak-sorak, dan aula ini makin gempar dibuatnya.
"Kau pasti bercanda."
To Be Continued
Reply Review:
Diarza, Kalo kalap nanti malah jadi ribut XD. Ya, di sini udah kok, huehehe. Makasih Reviewnya!
Prabz SukebeTechnika, Yosh, salam kenal juga. Terserah mau panggil saya apa aja XD. Yup, di sini juga udah ada scene IchiRuki—walaupun saya yakin belom greget =.= Yaah, mau gimana lagi ya, huehehe. Yang pasti sih, Rukia udah sadar sedikit demi sedikit untuk mengubah sikap premannya jadi putri XD *dilindes* Gak kok, dia cuma jadi vocalist aja di sini, huehehe. Makasih Reviewnya!
Naruzhea AiChi, Yup, di sini juga ada, huehehe XD. Makasih Reviewnya!
BlackRed, Semua saran juga bakal gw terimaa XD. Makasih Reviewnya yaa!
Ray Kousen7, Huehehe, justru karena itu saya buat Orihime ceplos2, supaya cepet selesai XD. *digaplok* Ya, ini udah di-update, makasih Reviewnya!
Rizuki Aquafanz, Holala juga! Iya, huehehe, saya sampe botak mikirin ide untuk chapter yg satu ini XD. Makanya saya percepat alurnya, gak taunya bakal jadi ngawur apa malah melambat =.= Hehe, makasih Reviewnya!
Mizuna Kuchiki Raira, Yosh, gak apa2 kok XD. Sip, maaf kalo updatenya lama, hehe. Makasih Reviewnya!
AkiHisa Pyon, Yup, panggil apa aja boleh kok :D Ya di sini ada kok, hihihi *gilanya kambuh* walaupun bukan bibir XD. Ya, ini udah update. Makasih Reviewnya!
Hadoh! Akhirnya update juga. Saya yang ngetiknya aja ampe kesel sendiri gara2 lama selesai—maklum, ide untuk chapter kali ini cukup menguras tenaga, apalagi Readers-nya yak? Padahal tinggal masukkin scene IchiRuki yang udah kebentuk di otak tapi rasanya susah banget =.= Jadi mohon dimaafkan kalau ada kata-kata yang ngawur, atau malah makin bertele2 alurnya *nangis kejer sambil nubruk tembok*
Ya, tapi berkat Review dari teman2 sekalian membuat saya kembali niat untuk lanjutin fic ini. Biasanya kalo udah dapet ide baru, fic yg lama suka terbengkalai—termasuk fic yg satu ini, yg hampir saya lupakan. *Lari ngejar2 truk semen*
Ini juga saya ngetiknya buru2 sebelum masuk sekolah kembali, *sigh*
Oh iya, bocoran untuk lagu yg akan dinyanyikan Ichigo untuk Rukia tercintanya XD, yaitu 'Telling the World' yang ditulis dan dipublikasikan oleh Taio Cruz. Entah kenapa lagu itu cocok menurut saya, huehehe.
Yosh, terima kasih sekali lagi buat yg udah RnR. Ketemu lagi di next chap yaa!
